Ini penting, terutama di era ketika kita cenderung menuntut pekerjaan untuk memenuhi semuanya sekaligus: identitas, pendapatan, kebahagiaan, gengsi, dan makna hidup. Padahal tidak semua orang harus menemukan seluruh makna hidupnya dari karier. Ada orang yang bekerja dengan baik, tetapi ikigainya justru ada pada membesarkan anak, merawat orang tua, melukis di akhir pekan, mengajar komunitas, atau menanam sayur di halaman rumah. Itu bukan bentuk ikigai yang lebih kecil. Itu hanya bentuk yang berbeda.
Karena itu, menemukan ikigai bukan berarti menemukan hidup yang serba ideal. Ikigai juga bukan jaminan bahwa kita akan menyukai setiap aspek dari pekerjaan atau kehidupan kita. Yang ditawarkan ikigai bukan kesempurnaan, melainkan ketahanan batin—kemampuan untuk menerima bagian-bagian yang tidak nyaman karena kita tahu mengapa kita tetap memilih menjalaninya.
The AI Edge: Cara Tetap Relevan di Era Mesin Pintar
Ikigai membantu seseorang bertahan bukan dengan cara mematikan rasa lelah, melainkan dengan memberi konteks pada rasa lelah itu. Kita tetap bisa lelah, kecewa, atau bosan, tetapi tidak sepenuhnya kehilangan arah.
Pertanyaan yang perlu diajukan pada diri sendiri
Ikigai tidak bisa diberikan oleh atasan, pasangan, atau buku motivasi. Ia lahir dari proses refleksi yang jujur. Bukan pertanyaan besar seperti “apa tujuan hidup saya?”, tetapi pertanyaan yang lebih konkret dan lebih dekat:
- Aktivitas apa yang membuat saya lupa waktu ketika melakukannya?
- Hal apa yang membuat saya ingin menjadi lebih baik, bukan karena takut gagal, tetapi karena saya sungguh peduli?
- Dalam momen seperti apa saya merasa paling berguna?
- Apa yang tetap ingin saya lakukan, bahkan ketika tidak ada tepuk tangan atau validasi?
- Siapa yang sesungguhnya menerima manfaat dari apa yang saya kerjakan?
Wajib Baca: Membangun Mesin Uang di Era AI
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak selalu menghasilkan jawaban instan. Namun justru dari sanalah ikigai bertumbuh: bukan sebagai penemuan sekali jadi, melainkan sebagai pemahaman yang diperdalam sedikit demi sedikit.
Ketika ikigai menjadi urusan organisasi, bukan hanya urusan pribadi
Menariknya, ikigai tidak berhenti pada level individu. Di dunia kerja, ia juga merupakan isu kepemimpinan. Sebab orang tidak bekerja dalam ruang hampa. Mereka bekerja di dalam sistem, budaya, struktur, dan relasi yang bisa memperkuat atau justru mematikan rasa makna.
Peneliti Jonathan Westover menyebut pertemuan antara makna personal dan tujuan organisasi ini sebagai ikigai kolektif—situasi ketika seseorang merasa bahwa apa yang penting baginya juga punya tempat di dalam misi yang lebih besar. Pada titik itu, pekerjaan tidak lagi sekadar daftar tugas, melainkan bagian dari shared quest: perjalanan bersama yang lebih besar dari angka target semata.
Cuan dari ChatGPT: Mesin Duit Baru Jaman Now

