Di tengah budaya “yang penting menang”, apakah kejujuran dan integritas masih punya tempat? Atau justru menjadi kemewahan yang perlahan ditinggalkan?
Ada satu pertanyaan yang mungkin membuat banyak orang tua terdiam. “Kalau orang dewasa saja banyak yang curang dan tetap berhasil, kenapa aku harus jujur?”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di baliknya tersimpan kegelisahan yang jauh lebih besar: bagaimana mempertahankan nilai-nilai baik ketika dunia seolah memberi penghargaan kepada mereka yang bermain di luar aturan?
PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital
Anak-anak memang belajar dari nasihat. Tetapi, mereka jauh lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Mereka melihat bagaimana media sosial dipenuhi pertengkaran tanpa empati. Mereka menyaksikan tokoh publik saling menyerang, kebijakan berubah mengikuti kepentingan, hingga kasus-kasus yang membuat keadilan terasa abu-abu. Tak heran jika generasi muda mulai mempertanyakan satu hal mendasar: apakah menjadi orang baik masih relevan?
Pertanyaan yang sama diam-diam juga muncul di dunia kerja. Banyak perusahaan memasang slogan tentang integritas, kolaborasi, dan profesionalisme di setiap sudut kantor. Nilai-nilai itu hadir dalam presentasi, town hall meeting, bahkan tercetak indah di dinding ruang rapat.
Namun kenyataan tak selalu sejalan. Tidak sedikit karyawan yang melihat promosi lebih cepat datang kepada mereka yang pandai membangun kedekatan dengan atasan dibanding mereka yang bekerja konsisten. Kritik dianggap ancaman, bukan masukan. Orang yang berani berbeda justru dicap tidak loyal.
Dalam situasi seperti itu, muncul pertanyaan yang pelan-pelan menggerus semangat. “Kalau sistemnya seperti ini, untuk apa saya bekerja sebaik mungkin?”
Dari Redaksi ke Algoritma: Pertempuran Bisnis Media di Era Digital
Budaya kerja yang disfungsional tidak selalu hadir dalam bentuk konflik besar. Sering kali ia datang secara halus.
Mulai dari gosip yang lebih cepat menyebar daripada informasi resmi. Kebiasaan saling menyalahkan ketika target tidak tercapai. Kritik yang kehilangan empati. Hingga praktik kecil yang lama-lama dianggap “biasa saja”.
Di sinilah bahayanya.
Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

