Di sinilah gaya William Wongso terasa paling khas. Ia tidak berusaha mengubah identitas sebuah makanan. Sebaliknya, ia mengajak orang melihat kembali warisan kuliner Indonesia melalui perspektif yang baru.
Menu lain seperti Rendang Beef Cheek maupun Garang Asam Salmon juga lahir dari pendekatan serupa. Resep-resep tradisional tetap menjadi fondasi, sementara teknik memasak modern memperkaya pengalaman tanpa menghilangkan jiwanya.



Selama puluhan tahun, William Wongso kerap mengingatkan bahwa makanan adalah bahasa budaya. Ia percaya, memahami sebuah hidangan berarti memahami masyarakat yang menciptakannya: bagaimana mereka bertahan hidup, apa yang mereka tanam, apa yang mereka rayakan, bahkan bagaimana mereka memandang alam.
“Jika ingin memahami sebuah budaya, mulailah dari makanannya,” ujar William Wongso. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menjadi benang merah dari seluruh perjalanan hidupnya.
Lewat buku Flavors of Indonesia, berbagai festival kuliner internasional, hingga perannya sebagai duta gastronomi Indonesia, ia terus memperkenalkan bahwa kekayaan terbesar Nusantara bukan hanya jumlah pulaunya, melainkan keberagaman rasa yang lahir di masing-masing wilayah.
Karena itulah, pertemuan langsung dengan William Wongso menjadi bagian yang tak kalah penting dibandingkan menu yang tersaji.
Para tamu bukan hanya menikmati makan malam, tetapi juga mendengar cerita tentang asal-usul sebuah resep, mengapa suatu daerah menggunakan rempah tertentu, atau bagaimana sebuah masakan berubah mengikuti perjalanan sejarah masyarakatnya.



General Manager The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place, Sumit Joshi, menyebut kolaborasi ini sebagai kesempatan langka menghadirkan sosok yang telah mendedikasikan hidupnya untuk gastronomi Indonesia.
Di balik kemewahan ruang makan hotel berbintang itu, percakapan tentang makanan menjadi jauh lebih personal. Bukan sekadar soal rasa yang lezat, tetapi tentang memori, tradisi, dan identitas yang ikut tersaji bersama setiap hidangan.

