Luigis Enters a New Era—Without Losing Its Soul

Pizza tetap menjadi bintang utama. Adonan difermentasi secara alami selama 24 jam sebelum dipanggang di oven Acunto khas Napoli, menghasilkan tekstur yang ringan dengan karakter autentik.

Selain pilihan klasik seperti Queen Marg dan Pepperoni, menu terbaru menghadirkan eksplorasi rasa yang lebih berani, mulai dari smoked pancetta dengan nanas, roasted pork belly, lemon potatoes hingga rosemary. Sementara itu, kreasi favorit seperti Franks n Fries tetap dipertahankan sebagai comfort food dengan sentuhan playful yang menjadi ciri khas restoran ini.

Bikin E-Course Berbasis AI: Script, Voice Over, dan Materi Dibantu AI, Siap Jual

Namun pengalaman di Luigis tidak berhenti pada pizza.

Grandpa’s Meatballs dengan sugo tomat yang dimasak perlahan, Baked Rigatoni berlapis mozzarella dan ragu, hingga Chopped Cheese Sub yang terinspirasi dari sandwich legendaris New York memperlihatkan bagaimana tradisi kuliner Italia-Amerika diterjemahkan dengan pendekatan yang santai namun penuh karakter. Untuk pilihan yang lebih ringan, Tuna Crudo dan Dory Scaloppini menawarkan keseimbangan rasa yang menyegarkan.

Seluruh hidangan dirancang dengan filosofi yang sederhana: makanan dibuat untuk dibagikan, dinikmati bersama, dan menjadi alasan orang-orang bertahan sedikit lebih lama di meja makan.

PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital

Pendekatan serupa juga terlihat di balik bar. Di bawah kurasi Luca Marcolin, mantan bartender Zuma Dubai, program minuman menghadirkan koktail yang bersih dan mudah dinikmati, craft beer dingin, natural wine, hingga minuman kalengan favorit. Tanpa presentasi yang berlebihan, setiap gelas hadir sebagai pendamping alami bagi suasana yang selalu terasa hidup.

Transformasi Luigis juga menyentuh desain interiornya. Identitas visual yang lebih segar berpadu dengan area pizzeria yang kini menghadap jalan, lantai bermotif kotak-kotak yang ikonis, serta booth yang lebih nyaman untuk menciptakan pengalaman bersantap yang lebih intim.

Di luar ruangan, taman rindang yang selama ini menjadi lokasi pertandingan bocce tetap dipertahankan. Di sinilah banyak sore bergulir santai, ditemani bir dingin, musik dari The Smiths, The Clash, hingga Kim Wilde, dan percakapan yang sering kali berlangsung lebih lama daripada rencana semula.

Dari Redaksi ke Algoritma: Pertempuran Bisnis Media di Era Digital

Related Stories

spot_img

Discover

Sebuah Sanctuary di Tengah Jakarta

Wajah Baru JimBARan Lounge AYANA Midplaza Merayakan Ketenangan dan Warisan Kuliner Nusantara Di kota yang...

Tantangan Berikutnya bagi Dunia Usaha Indonesia

Membuktikan Nilai AI bagi Bisnis Adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia terus meningkat. Namun,...

Saat Trisara Mengajarkan Arti Kemewahan yang Sesungguhnya

Phuket yang Tak Banyak Orang Kenal Di tengah tren slow travel yang semakin digemari...

Seni Memberi yang Tak Pernah Kehilangan Makna

Fairmont Jakarta Mengangkat Tradisi Mooncake Menjadi Simbol Kemewahan yang Penuh Cerita Di tengah dunia yang...

Belajar Adil

Ketika Kepemimpinan Dimulai dari Keputusan yang Tak Akan Memuaskan Semua Orang Di dunia yang semakin...

Pengalaman Golf Kini Tak Lagi Berakhir di Hole ke-18

Riverside Golf Club memperbarui fasilitas locker room dengan sentuhan desain elegan, teknologi modern, dan...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here