Serangan Tak Menunggu Perusahaan Siap
Pertanyaan itu menjadi semakin relevan karena AI tidak bekerja di ruang hampa. Sistem AI bertumpu pada jaringan, server, perangkat pengguna, aplikasi, data, identitas digital, dan berbagai infrastruktur lain. Ketika salah satu bagian terganggu, sistem yang berada di atasnya ikut terancam.
Ancaman siber pun tidak menunggu perusahaan selesai menyusun kebijakan. Badan Siber dan Sandi Negara mendeteksi sekitar 5,2 miliar anomali lalu lintas internet sepanjang 2025. Sekitar 93,78 persen di antaranya berkaitan dengan malware yang berpotensi berkembang menjadi ransomware.
The Luxury of Space: Perjalanan Mewah Menjelajah Indonesia
Jika angka itu dirata-ratakan, terdapat sekitar 185 potensi serangan setiap detik. Angka tersebut memperlihatkan bahwa ancaman siber bukan lagi kejadian luar biasa yang muncul sesekali. Ia menjadi bagian dari lingkungan tempat perusahaan beroperasi.
Ransomware, misalnya, tidak hanya persoalan data yang dicuri atau sistem yang terkunci. Ketika sistem produksi berhenti, layanan pelanggan terganggu, transaksi gagal, atau karyawan tidak dapat bekerja, serangan siber berubah menjadi persoalan bisnis. Karena itu, ukuran keberhasilan keamanan teknologi tidak cukup berhenti pada pertanyaan apakah serangan berhasil dicegah.

Jakarta Unfiltered: Panduan Jitu Menaklukkan Jakarta
Pertanyaan berikutnya adalah: berapa lama perusahaan mampu bertahan ketika pertahanan itu ditembus? Di sinilah konsep cyber resilience menjadi penting. Perusahaan dituntut bukan hanya mencegah serangan, tetapi juga mendeteksi gangguan, meresponsnya, menjaga layanan penting tetap berjalan, dan memulihkan sistem secepat mungkin.
Masalah AI Bukan Cuma Soal Algoritma
Ada persoalan lain yang sering tertinggal dalam pembicaraan tentang AI: siapa yang bertanggung jawab? Sebuah sistem dapat menghasilkan rekomendasi dalam hitungan detik. Tetapi kecepatan bukan jaminan bahwa hasilnya benar. Data yang digunakan bisa keliru. Model dapat menghasilkan keputusan yang bias. Sistem dapat memberikan keluaran yang tidak sesuai konteks.
Ketika keputusan tersebut mempengaruhi pelanggan, karyawan, kredit, transaksi, atau proses bisnis lainnya, persoalannya bukan lagi sekadar kesalahan teknologi. Ada tanggung jawab perusahaan di sana.
Slow Burn: Cerutu dalam Ritme Hidup Modern

