Suatu pagi di ruang redaksi, rapat tak lagi dimulai dengan pertanyaan klasik: “Apa yang penting bagi publik hari ini?” Melainkan: “Apa yang berpotensi naik di timeline?” Pergeseran kecil dalam pertanyaan itu, sejatinya, menggambarkan perubahan besar dalam lanskap media. Di titik inilah Dari Redaksi ke Algoritma: Mengapa Media Kehilangan Kuasa di Era Digital karya Burhan Abe mengambil posisinya.
Buku ini tidak berdiri sebagai elegi atas jurnalisme yang dianggap meredup. Ia lebih menyerupai peta medan perang—tenang, sistematis, dan berbasis pengalaman lapangan. Burhan Abe, yang lama berkecimpung dalam dunia media dan komunikasi, memotret bagaimana kuasa redaksi perlahan berpindah ke sistem distribusi berbasis platform. Jika dahulu halaman depan surat kabar menentukan agenda publik, kini algoritma platform digitallah yang mengatur apa yang muncul di layar gawai.

Dengan pendekatan hibrida—menggabungkan studi kasus Indonesia dan dinamika global—buku ini mengurai perubahan model bisnis media secara jernih. Perpindahan belanja iklan ke raksasa teknologi, perubahan perilaku konsumsi berita yang serba cepat, hingga ketergantungan pada trafik sebagai mata uang utama, dibedah tanpa nada menggurui. Di tangan penulis, isu yang kompleks itu dihadirkan dalam narasi yang mengalir, lengkap dengan contoh konkret dan refleksi strategis.
Yang menarik, buku ini tidak berhenti pada diagnosis. Ada upaya menawarkan jalan keluar melalui gagasan diversifikasi pendapatan, penguatan komunitas, hingga pengelolaan teknologi—termasuk kecerdasan artifisial—secara lebih strategis. Media, dalam pandangan Burhan Abe, tidak sedang menuju kepunahan. Yang berubah adalah pusat kendali dan pola permainan bisnisnya.
Sebagai bacaan, buku ini relevan bukan hanya bagi pengelola media, melainkan juga bagi pelaku bisnis, akademisi, dan pembaca umum yang ingin memahami mengapa wajah pemberitaan hari ini terasa berbeda dari satu dekade lalu. Dalam gaya yang lugas dan argumentatif, Dari Redaksi ke Algoritma mengajak pembaca melihat realitas industri media secara apa adanya—bahwa di era platform, kuasa tidak lagi berada sepenuhnya di tangan redaksi.
Pertanyaannya kemudian: apakah media akan terus menjadi pemain, atau sekadar menjadi konten bagi pemain lain? Buku ini tidak memberi jawaban instan, tetapi menyediakan kerangka berpikir untuk menentukannya. (Vesta T. Gerung)
Untuk mendapatkan bukunya, unduh di SINI.

