Bukan Anak IT? Bagus. Justru Itu Keunggulan Anda.

Ada mitos yang terlalu lama kita pelihara: dunia digital adalah wilayah eksklusif para programmer, coder, dan manusia berkacamata dengan tiga layar monitor. Sementara yang lain? Cukup jadi penonton. Mahir Digital Tanpa Jadi Anak IT karya Burhan Abe hadir untuk membongkar mitos itu — tanpa pidato heroik, tanpa jargon teknis yang bikin kepala berasap.

Buku ini tidak terdengar seperti manual teknologi. Ia lebih mirip percakapan serius di sebuah kafe tentang bagaimana uang hari ini berpindah tempat: dari offline ke online, dari fisik ke digital, dari yang paham sistem ke yang berani mencoba.

Burhan Abe menulis dengan satu posisi yang jelas: digital bukan bakat. Digital adalah keterampilan. Dan keterampilan, seperti otot, bisa dilatih.

Alih-alih menjual mimpi “rebahan jadi sultan”, buku ini menawarkan sesuatu yang lebih menarik — kontrol. Kontrol atas skill, kontrol atas positioning, kontrol atas harga diri profesional di ruang digital.

Strukturnya disiplin. Dari membangun fondasi literasi digital, memilih model penghasilan (jasa, affiliate, produk digital), hingga mendapatkan klien pertama dan menciptakan sistem yang bisa direplikasi. Tidak bombastis. Tidak naif. Justru itu yang membuatnya terasa kredibel.

Yang paling relevan? Buku ini berbicara kepada kelas produktif: profesional yang ingin side income, pelaku UMKM yang ingin naik level, hingga individu yang lelah jadi konsumen algoritma dan ingin jadi pemainnya.

Secara gaya, Burhan tidak mencoba menjadi motivator. Ia lebih seperti strategist — tenang, langsung, dan sesekali menampar halus pembaca yang terlalu lama bersembunyi di balik label “gaptek”.

Ada satu pesan yang terasa konsisten: di era ini, tidak mahir digital bukan lagi soal pilihan, melainkan risiko. Mahir Digital Tanpa Jadi Anak IT bukan buku tentang teknologi. Ini buku tentang relevansi. Tentang bagaimana tetap punya posisi tawar di dunia yang terus bergerak cepat.

Dan mungkin, di tengah segala distraksi layar yang kita konsumsi setiap hari, ini adalah bacaan yang justru mengajarkan bagaimana menggunakan layar itu untuk menghasilkan, bukan sekadar menghabiskan waktu. (Ayen G. Manus)

Unduh/beli bukunya di sini ya:https://lynk.id/burhanabe/w8231xn1plpq

Related Stories

spot_img

Discover

Dinner at 100: Akira Back Is Back in Jakarta

Ada banyak cara menikmati Jakarta. Namun, jika Anda sudah sampai di lantai 100, turun...

Melampau Birunya Laut, Menyusuri Pesona Manado

Di Likupang, laut, lanskap vulkanik, dan warisan Minahasa bertemu dalam sebuah pengalaman perjalanan baru Pagi...

Mooncake, Elevated

JW Marriott Hotel Jakarta Membawa Tradisi Mid-Autumn ke Level Berikutnya Tujuh koleksi mooncake, dari klasik...

Liburan ke Bali Makin Beruntung dengan Nakula Rewards

Pesan vila langsung, dapatkan lebih banyak keuntungan hingga 15 persen. Plus, ada sarapan, airport...

Riserva: Steak, Ritual, dan Seni Menikmati Malam di Ubud

Fine dining steakhouse terbaru di Ubud ini tidak sekadar menyajikan daging premium. Riserva merancang...

The City Bites

Saat Semangat New York Menemukan Panggungnya di Jakarta Comfort food, cocktail playful, dan cita rasa...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here