Ada cara sederhana untuk mengenal sebuah negeri. Bukan dengan membuka atlas atau membaca buku sejarah, melainkan dengan duduk di meja makan.
Di atas sepiring hidangan, sebuah bangsa menyimpan banyak hal: jejak perdagangan rempah, pengaruh para pendatang, hasil bumi yang berbeda-beda, hingga kebiasaan keluarga yang diwariskan tanpa pernah ditulis. Makanan menjadi arsip yang hidup. Dan sedikit orang yang menghabiskan hidupnya untuk membaca arsip itu sedalam William Wongso.
Jauh sebelum istilah food tourism atau wisata gastronomi menjadi bagian dari percakapan publik, William Wongso sudah berkelana dari satu pulau ke pulau lain. Ia singgah di pasar tradisional, berbincang dengan pedagang rempah, mengikuti nelayan pulang melaut, hingga belajar dari para ibu yang memasak tanpa pernah menakar bumbu. Baginya, resep bukan sekadar daftar bahan, melainkan kisah yang lahir dari ruang hidup sebuah masyarakat.
Perjalanan panjang itulah yang kini diterjemahkan menjadi The Archipelago Table by William Wongso, pengalaman bersantap yang hanya berlangsung selama dua hari, 1-2 Agustus 2026, di PA.SO.LA Restaurant, The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place.
Namun, acara ini sesungguhnya bukan tentang makan malam. Ia lebih menyerupai perjalanan kecil melintasi Nusantara, tanpa harus meninggalkan Jakarta.



Di dapur PA.SO.LA, William Wongso berkolaborasi dengan Executive Chef Willmer Colmenares dan tim kuliner The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place. Bersama-sama mereka menyusun menu yang tidak hanya mengangkat cita rasa Indonesia, tetapi juga memperlihatkan bagaimana tradisi dapat berbicara dengan bahasa kuliner masa kini.
Salah satu sajian yang mencuri perhatian adalah Tuna Gohu in Pani Puri.
Sekilas tampil modern. Namun ketika ditelusuri, hidangan ini berakar pada Gohu Ikan, sajian khas Maluku Utara yang selama ini dikenal sebagai salah satu “ceviche” Nusantara. Ikan segar yang biasa hadir sederhana kemudian ditempatkan dalam cangkang pani puri yang renyah, mempertemukan dua tradisi kuliner berbeda dalam satu gigitan.

