Home Blog Page 105

Berpetualang Rasa ke Negeri Kangguru

0

Selama 10 hari, 14 – 24 Maret 2002, enam wartawan dari pelbagai negara mendapat undangan Australian Tourist Commission untuk program Epicurean Experiences Theme Tour, merasakan kelezatan makanan dan minuman terbaik di restoran-restoran terkemuka di Brisbane (Queensland), Canberra (Australian Capital Territory), dan Melbourne (Victoria). Mereka adalah Diego Bigongiari (Argentina), Anneli Dierks (Jerman), Sarenda Eloff-Voster (Afrika Selatan), Eta Kroon (Swedia), Tamara Rubanowski (Selandia Baru), dan Burhan Abe (Majalah ME – Indonesia). Berikut catatan pengalamannya.

Australia mempunyai banyak sisi. Berbagai tema bisa dijual sebagai komoditi wisata. Menjajal makanan enak, dan mencicipi wine terbaik merupakan pengalaman yang mempunyai kesan tersendiri.

Undangan ke Australia dari ATC (Australian Tourist Commission) memang bukan yang pertama bagi Majalah ME. Tapi kali ini dengan tema Epicurean Experiences – Food & Wine Theme Tour, tetap saja menarik perhatian. Yang terbayang adalah tur ke pelbagai tempat sambil mencicipi makanan dan minuman yang paling enak di wilayah tersebut. Maklum, Epicurean sendiri berarti “the enjoyment of good food and drink”. “Habis dari tur, berat badan pasti naik beberapa kilo,” komentar Yovita Poerwadi dari ATC Jakarta.

Sambil mengantongi jadwal acara yang sudah tersusun rapi saya sudah membayangkan hal-hal yang menyenangkan, termasuk soal mencicipi makanan dan merasakan nikmatnya anggur Australia. Saya hitung, ada sekitar 18 restoran – yang pastinya kelas satu, atau memiliki keistimewaan tertentu – yang harus kami kunjungi, belum termasuk makan siang dan acara wine tasting di vineyard (perkebunan anggur) dan winery (pembuatan wine).

Rabu 13 Maret jam 20.05, pesawat Qantas Airways dengan nomer penerbangan QF 042 membawa saya ke Sydney. Sekitar tujuh jam perjalanan terasa menyenangkan dan jauh dari membosankan. Sampai di bandara internasional Sydney jam menunjukkan pukul 06.45 waktu setempat – terdapat perbedaan lima jam dengan Jakarta.

Saya kagum melihat sarana di bandara yang begitu modern dan berfasilitas lengkap. Informasi apa pun rasanya tersedia, bahkan ada fasilitas warnet yang bisa dipakai sepuasnya tanpa beaya sepeser pun – untuk penerbangan domestik harus pakai koin 2 dolar Australia untuk setiap pemakaian 20 menit.

Fasilitas itu saya gunakan untuk berkirim email ke beberapa rekan, termasuk ke contact persons yang mengatur perjalanan ini, sambil menunggu jadwal penerbangan berikutnya ke Brisbane pada pukul 13.10.

Di Sydney saya mempunyai jadwal wawancara dengan Paul Curtis, Qantas Chef Executive di Qantas Flight Catering Limited (QFCL) Building yang lokasinya tak jauh dari bandara – hanya 10 menit dengan taksi. Saya menggali informasi seputar Snap Fresh, program baru yang diluncurkan Qantas pada Februari lalu.

Wineries and Vineyard

0

Australia dikenal sebagai salah satu negara penting yang menghasilkan buah anggur dan minuman anggur (wine). Beruntung kami mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Sunshine Coast, salah satu wilayah penting di Queensland yang memproduksi wine, sekitar 112 km dari Brisbane. Wilayah pantai sekaligus pegunungan dengan iklim yang sejuk, sangat cocok bagi tumbuhnya tanaman anggur. Ada 10 perkebunan anggur sekaligus tempat produksi wine. Kami mengunjungi Settlers Rise Vineyard & Winery yang berlokasi di Montville.

Perkebunan dan pembuatan anggur ini dikelola seperti perusahaan keluarga. Pemiliknya adalah Peter Scudamore-Smith, ahli wine yang pandai mencampur berbagai jenis anggur sehingga bisa menghasilkan blended wines premium. Sebelum mendirikan perusahaan sendiri dan malang melintang di dunia wine selama 23 tahun, Peter adalah seorang Bachelor of Wine Science dan juga Master of Wine pada Institute of Masters of Wine di Inggris.

Agenda kami hari itu adalah mencicipi wine seperti yang dilakukan para sommelier (ahli wine). Sebelumnya kami juga disuruh mencicipi aneka keju dari Coolabine Farmstead Goat Cheeses, cracker, serta kopi organik yang juga produksi Montville. Untuk acara wine testing sendiri, kami dipandu oleh Heidi Bracko, Manajer Settlers Rise yang juga istri Peter.

Sebanyak 9 jenis wine telah disiapkan, mulai dari yang ringan (sparkling wine, white wine, sweet wine) hingga yang berat (red wine). Tidak seperti cara minum biasa, karena hanya sedikit saja wine yang kami cicipi setelah dicium terlebih dahulu aroma melalui bibir gelasnya. Sedikit dikumur-kumur lalu dibuang ke tempat yang telah disediakan.

Ini memang pengalaman unik. Rupanya wine tasting juga dijual sebagai paket wisata di wilayah ini, dengan harga 10 hingga 15 dolar Australia per kepala, tergantung dari jenis tur serta sedikit banyaknya jenis wine yang dicicipi.

Yang baru pertama kali mencoba mungkin tidak bisa membedakan rasa antara satu wine dengan wine yang lain. Tapi yang sudah terbiasa akan bisa menikmati wine yang masing-masing memiliki rasa dan aroma yang unik itu. Misalnya Verdelho, jenis white wine tahun 2001 mempunyai aroma seperti pisang.

Sedangkan jenis merah Lake Baroon Cabernet/Merlot tahun 2000 terasa lebih pekat dengan rasa yang rada sepet. Yang terkesan dengan jenis wine tertentu bisa membelinya, dengan harga antara 11,5 hingga 26,50 dolar Australia per botol.

Selain wine di pegunungan, wilayah ini lautnya juga terkenal sebagai penghasil ikan, mulai dari salmon hingga baramundi. Kami berkesempatan mencoba menimati “seafood extragavanza” untuk makan siang di salah satu restoran terkenal, Terrace Seafood Restaurant.

Pilihan yang sangat tepat karena restoran yang berlokasi di tepi pantai sekaligus pegunungan ini sering memperoleh berbagai penghargaan, mulai dari The Best Torism Restaurant in Queensland & Sunshine Coast Award (1998, 1999, dan 2000), hingga The Best Torism Restaurant in Australia Award (2000).

Pilihan entre-nya bermacam-macam, mulai dari salad, sup tom yum, hingga fresh oyster (tiram segar). Yang terakhir ini disajikan dalam piring besar, sementara tiramnya ditaruh dalam rangka yang berbentuk seperti miniatur tangga memutar. Untuk menu utamanya saya memilih The Terrace Platters, yang terdiri dari Moreton Bay bugs (sejenis udang), prawns (udang besar), kepiting, cumi, dan oyster, dimasak dengan santan dan cabai, disajikan dengan buah-buahan tropis. Hmm… (Burhan Abe)

ME 2002

Noosa Cuisine

0

Perjalanan selanjutnya adalah ke Noosa, kawasan pantai di Sunshine Coast dan menginap di The Sebel Resort Noosa. Pantai selalu menarik perhatian orang Australia. Menjadi area untuk berjemur atau sekadar menikmati hangatnya matahari, yang merupakan kemewahan tersendiri bagi penduduk yang berdiam di wilayah empat musim.

Itu sebabnya Noosa yang beriklim subtropis menjadi sangat hidup. Padanannya mungkin Kuta di Bali, tapi dalam versi yang lain, lebih tertata rapi. Pembangunan secara modern di wilayah ini dimulai sejak 1940. Dan kini, kota dengan 40.000 penduduk ini berkembang pesat, berbagai tempat pelesiran didirikan, hotel-hotel mewah bermunculan.

Resto dan kafe juga berkembang pesat di Noosa. Masing-masing tidak hanya unik, tapi juga stylish. Lebih dari 200 fine dining restaurant, belum termasuk fast food outlet. Ada yang berlokasi di tepi pantai, di tebing, juga di pinggir sungai. Jenis makanannya terdiri dari daging-dagingan hingga seafood, dimasak ala makanan Barat.

Belakangan bahan makanan organik menjadi tren dengan pengaruh masakan ala Asia dan Mediteranean. Yang menarik, “rahasia dapur” masing-masing resto itu sering dipublikasikan dalam koran lokal, juga diterbitkan dalam bentuk buku. Di antaranya adalah Noosa – The Cook Book (1999) yang memuat lebih dari 30 resep resto ternama di kawasan Noosa. Dengan berbagai keunikannya, pantas saja kalau Jane Robinson, Marketing Co-Ordinator Tourism Noosa Limited, menyebut Noosa sebagai salah satu melting pot yang penting di Australia.

Di Noosa kami berkesempatan menikmati makan malam di dua restoran ternama. Ricky Ricardo’s dan Berardo’s Restaurant. Resto yang pertama berlokasi di tepi sungai. Ricky yang pernah memenangkan American Express Award 2001 dan Best Sunshine Coast Restaurant itu menyajikan makanan ala Mediteranean.

Sementara Berardo’s dengan pemilik yang juga sekaligus chef David Rayner menyuguhkan sajian khas Australia, mewakili salah satu gaya Noosa Cuisine. Meski masuk melalui pintu kecil di tengah-tengah keramaian Noosa, di dalamnya ternyata lega. Dengan dekorasi etnik-modern yang serba putih, serta alunan piano, suasana menjadi romantis. Selama makan kami ditemani langsung oleh David yang kelahiran Inggris sambil menjelaskan satu per satu makanan yang datang ke meja kami. Makanan pembukanya terdiri dari tiga jenis, yakni sepotong ikan tuna yang dimasak ala sashimi, dada burung, dan kemudian salad yang terdiri dari tomat dan sayur-sayuran organik.

Menu utama banyak pilihan, dan saya memilih lobster yang dimasak dengan white wine, chili, basil dan vanila. Pilihan teman-teman yang lain beraneka, tapi semuanya memuji kelezatannya, dan saya mengamininya. Restoran yang masuk “the big five” di Noosa itu mengklaim makanan yang disajikan hampir 95% terbebas dari bahan kimia. Oleh koran lokal, The Courier Mail, Berardo’s juga dipuji sebagai resto yang mempunyai makanan yang enak, suasana yang mengasyikkan, serta mempunyai wine list yang sempurna.

Ke Noosa kurang lengkap kalau tidak mengetahui rahasia makanannya. Maka, kami pun pergi Villa Alba House of Sunshine untuk ikut cooking class – salah satu item yang dijual sebagai daya tarik pariwisata. Vila tersebut terletak di Noosa Valley, dekorasinya bergaya Eropa modern yang dipengaruhi gaya Bali, mempunyai kolam renang, serta berhalaman luas dengan pemandangan kebun dan pepohonan besar.

Selain para wartawan ada beberapa ibu yang ikut bergabung. Pemandu kursus tersebut sekaligus pemilik vila adalah sepasang suami istri, Sebastian dan Fiona Falzon. Dari namanya mereka memang berasal dari Italia. Siang itu kami membuat makanan Italia, terdiri dari agnello (seperti gule kambing dengan kentang), tortellini (pastel kecil yang berisi daging), serta Italian Easter.

Fiona yang pengacara tapi mempunyai hobi memasak itu menerangkan resep sambil mempraktekannya. Para peserta tidak hanya menyimak, tapi juga ikut membantu. Acara masak-memasak memakan waktu sekitar dua jam, kemudian diakhiri dengan makan siang bersama dari hasil masakan tersebut. Tidak lupa, selama makan berlangsung tersedia berbagai wine Australia. (Burhan Abe)

ME 2002

Daging Kangguru

0

Kembali ke kota Brisbane acaranya juga tak jauh dari makan dan minum. Ada restoran fine dining yang kami coba. Pier Nine Seafood dan River Canteen. Yang pertama, seperti namanya, kami mencoba berbagai jenis seafood. Sementara di River Canteen kami berkesempatan mencicipi daging Kangguru.

Kedua restoran ini berlokasi di tepi sungai Sungai Brisbane, yang menjadi arus transportasi penting selain jalan raya. Pada hari-hari tertentu di sungai tersebut biasanya ada berbagai atraksi, misalnya kayaking, yang hari itu diperlombakan. Taman di sekeliling sungai itu, South Bank Parkland, benar-benar dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, dari BBQ, berolah raga bersama keluarga, hingga sekadar duduk-duduk bersantai. Sambil bersepeda ria kami menikmati suasana sekeliling sungai tersebut.

Brisbane Powerhouse terdapat di tepi sungai ini pula, yang disebut sebagai New Farm. Inilah gedung teater atau tepatnya pusat kesenian, yang selalu menampilkan berbagai acara kesenian, mulai dari drama hingga pameran lukisan Bentuknya sangat artistik, menyisakan beberapa ornamen gedung lama yang dibangun sejak tahun 1926, tapi mempunyai fasilitas yang sangat modern. Di dalam serta di luar Powerhouse terdapat kafe. Kebetulan kami mampir ke salah satunya Watt, Modern Dining Restaurant yang berlokasi di tepi sungai.

Pada kesempatan yang lain kami mengunjugi pabrik roti Jocelyn’s Provisions dan pembuat kopi Merlo Fresh Expresso yang berlokasi di tengah-tengah kota. Sebenarnya bukan pabrik, tapi lebih tepat disebut home industry. Meski industri rumahan, produk mereka ternyata sangat dikenal seantero Australia, bahkan Jocelyn’s yang membuat bread, cakes dan tart, masuk dalam salah satu coffee table book yang berisi profil para jawara pembuat roti Australia dan New Zaeland.

Sementara di Black Pearl Epicure, masih di Brisbane, kami mempelajari tentang good food & good drink, yang dipandu langsung oleh sang maestro. Kami memperoleh pengetahauan baru tentang wine, cara mengenali makanan berkualitas, mulai dari keju, garam, ikan salmon, termasuk telurnya, caviar, serta olive oil (minyak zaitun). Bahan-bahan tersebutlah yang sering menjadi campuran makanan Barat. (Burhan Abe)

ME 2002

Sejarah Australia di Canberra

0

“Petulangan rasa” di Canberra tidak kalah serunya. Ibu kota negara yang mempunyai hutan dan dataran tinggi (571 meter dari permukaan laut) itu terlihat sangat lengang. Maklum, penduduknya hanya 314.000 jiwa – 60 persen di antaranya pegawai negeri. Karena ibu kota, di sini terdapat 70 kedutaan besar dari berbagai negara.

Kota yang dirancang oleh arsitek asal Amerika, Walter Burley Griffin pada 1911 itu mempunyai pemandangan yang sangat asri. Beberapa gedung tua menjadi objek wisata tersendiri, antara lain National Gallery yang menampilkan lebih dari 110 artefak dan Old Parliament House yang dibangun pada 1927.

Saya sendiri terkesan dengan National Museum of Australia. Museum yang dibuka Maret 2001 dan menelan biaya 155 juta dolar Australia ini mempunyai bangunan yang sangat funky. Meski yang dipamerkan adalah benda-benda kuno, tapi pengemasannya sangat modern. Memasuki museum seperti membaca sejarah Australia. Di pintu gerbang kita terlebih dulu dipersilakan duduk di ruang teater. Tidak seperti bioskop biasa, karena layarnya tidak tunggal dan bisa dinaikturunkan, sesuai dengan efek yang ingin dicapai. Tempat duduknya pun bisa berputar, seolah-olah ingin mempertunjukkan kecanggihan multimedia tiga dimensi yang sedang ngetren belakangan ini.

Di ruang museum pun merupakan rekreasi tersendiri. Gambar-gambar pahlawan, misalnya, tidak sekadar diam, tapi ada tombol-tombol komputer interaktif untuk mengekplorasi informasi lebih jauh.

Lalu, bagaimana dengan rekreasi makanannya? Ternyata ada 300 restoran di Canberra. Kami kebetulan mengunjungi tiga restoran yang direkomendasikan, yakni Axis yang terletak di museum dan dioperasikan oleh Hyatt Hotel, tempat kami menginap, Anise Restaurant yang menyajikan makanan Australia dengan sentuhan Mediteranean dan Asia, serta Aubergine yang sangat cozy.

Photo by Anton Mislawsky on Unsplash

Canberra juga dikenal sebagai penghasil wine, tak kurang dari 24 perkebunan anggur dan industri wine yang terdapat di sini. Kami mengunjungi salah satunya, Lark Hill Winery. Pemiliknya adalah Dr David Carpenter, yang mengelola winery ini secara personal dengan beberapa tenaga kerja. Meski kelas rumahan, toh banyak penghargaan yang diberikan kepada merek wine ini. (Burhan Abe)

ME 2002

Makan Siang Terpanjang

0

Melbourne adalah kota terakhir yang kami kunjungi dalam program ini. Dengan penduduk 3 juta juta jiwa, kota tersibuk kedua di Australia setelah Sydney ini konon merupakan salah satu kota yang paling baik dihuni di dunia. Kota yang dibangun sejak 1835 ini mirip dengan kota-kota besar lainnya di Eropa, campuran antara modern dan klasik. Anda tidak akan bosan menyusuri jalanan melewati bangunan-bangunan kuno maupun mal-mal mewah.

Hari pertama, setelah check in Grand Hyatt Melbourne, kami lewatkan dengan makan siang di Pearl Restaurant yang berlokasi di Chuch Street, Richmond. Restoran ini berkonsep minimalis, tapi makanannya sangat variatif. Dalam Good Food Guide 2002 terbitan The Edge Melbourne, resto yang juga menjual pearl yang ditaruh dalam show case ini dipuji sebagai pendatang baru terbaik.

Sehabis makan dan mengobrol, kami tak sabar mengikuti tur yang diberi tajuk “Chocolate Indulgence Walk” – melihat dan menikmati coklat dari dekat. Saya tidak menyangka kalau tur tersebut ternyata hanya berjalan-jalan di kawasan pertokoan.

Dengan dipandu oleh Suzie Wharton dari Talkabout Tours kami menyusuri kawasan kawasan CBD (Central Business District) Melbourne, rutenya dimulai dari es krim dari Chairmaine’s Ice Cream di Southgate, kemudian pembuat gulali di Toko Suga, pembuat coklat tertua Haigh’s Chocolat, dan berakhir di The Pancake Parlour sambil menikmati panekuk yang lezat.

Yang surprise justru di akhir acara, sambil minum teh di Hanzelmann’s di sisi Hotel Grand Hyatt, Suzie yang berusia setengah baya itu menunjukkan kelasnya sebagai ahli coklat. Ia merencanakan akan menyusun buku dengan kemasan mewah yang berjudul “A Chocoholic Guide to Melbourne”.

Restoran fine dining yang kami jajal di Melbourne adalah Circa, Ezard di Adhelpi Hotel, dan Flower Drum – restoran Cina di China Town. Restoran yang disebut terakhir inilah yang bisa menebus kerinduan saya akan nasi dan makanan Asia, setelah hampir dua minggu selalu ketemu dengan makanan Barat.

Warga Melbourne adalah pemuja makanan dan wine, maka pada setiap jamuan makan selalu tersedia wine. Uniknya, ada beberapa restoran yang mengizinkan tamunya untuk membawa wine sendiri dari rumah, sehingga tidak harus membeli dari restoran, cukup membayar biaya service saja. Restoran seperti ini biasanya mencantumkan BYO (bring your own) di outlet dan di daftar menunya, selain kata “licensed” (mempunyai izin menjual minuman beralkohol, termasuk wine).

Perkebunan anggur dan pembuatan wine di Melbourne tergolong lebih modern, paling tidak dibandingkan dengan tempat serupa di Brisbane dan Canberra. Kami mengunjungi dua winery, Yering Station dan Domain Chandon. Keduanya berlokasi di dataran tinggi Yarra Valley, jaraknya sekitar 1,5 jam perjalanan dengan mobil dari kota Melbourne.

Yering Station berdiri sejak 1838, dan sekarang menjelma menjadi winery modern. Selain terdapat restoran dengan pemadangan pegunungan yang indah, mereka menjual paket wisata testing wine. Mirip dengan Domaine Chandon yang sebetulnya spesialisasinya pada French Champagne atau sparkling wine. Tapi pada saat itu kami berkesempatan mencicipi berbagai wine yang anggurnya dipanen dari tempat tersebut dengan bermacam-macam varietas, mulai dari Chardonnay, Pinot, Noir, Cabernet hingga Shiraz.

Yarra Valley sebenarnya tidak hanya wine-nya yang terkenal, keju terbaik juga dihasilkan dari tempat ini. Kami mengunjungi Yarra Valley Dairy menikmati aneka keju buatan tangan serta secangkir cappucino yang hangat di tengah-tengah peternakan sapi. Santai di sebelah kandang sapi, bo! Suasana seperti ini rasanya hanya bisa dinikmati oleh orang-orang bule saja, yang setiap hari makan keju tanpa tahu tempat pembuatannya dari dekat.

Snap Fresh from Qantas

0

Di tengah kompetisi yang makin ketat, maskapai-maskapai penerbangan saling meningkatkan pelayanannya. Tak terkecuali Qantas Airways, perusahaan penerbangan kedua tertua di dunia yang melayani 134 tujuan penerbangan di 37 negara yang tersebar di Afrika, Asia, Eropa, Amerika, Kepulauan Pasifik, dan Australia. Sejak 6 Februari 2002, perusahaan penerbangan asal Australia dengan maskot binatang kangguru itu memperkenalkan program Snap Fresh. Inilah fasilitas pertama layanan sajian hidangan sentralisasi untuk industri dirgantara.

Snap Fresh sepenuhnya dimiliki oleh Qantas dan akan menghasilkan berbagai konsep menu baru yang akan dihidangkan pada para penumpang rute domestik dan internasional. Menurut Chairman Qantas Ms Margaret Jackson, fasilitas Snap Fresh di Crestmead, Brisbane, merupakan salah satu pusat produksi sajian hidangan makanan termodern di dunia dan merupakan bagian dari tren internasional dalam industri jasa boga dalam memberikan kualitas terbaik dan konsistensi.

Kemajuan teknologi canggih telah membantu mempertahankan kualitas sambil berusaha terus memenuhi permintaan layanan jasa boga dalam penerbangan hingga ribuan hidangan setiap harinya. “Snap Fresh adalah kombinasi antara gairah dan sains,” tandasnya.

Photo by Josh Withers on Unsplash

Sebagian besar hidangan yang diproduksi di Snap Fresh disajikan untuk Qantas, meski kelak tidak tertutup untuk mitra maskapai penerbangan lainnya, termasuk industri lain seperti hotel, kesehatan dan pertambangan.

Snap Fresh memang bukan hal baru, telah dimulai di Eropa beberapa waktu yang lalu. Perbedaan utama antara hidangan kabin tradisional dan hidangan Snap Fresh adalah makanan setelah dimasak, langsung dibekukan, bukan didinginkan. “Sajian dan tampilan hidangan kami tampak seperti hidangan di restoran sebelum dan sesudah dibekukan dengan ‘cepat’, karena kami menggunakan produk segar,” tambah Paul Curtis, Qantas Chef Executive di Sydney.

Boleh dibilang bandara di Sydney merupakan bandara tersibuk bagi Qantas. Sementara untuk urusan makanan ternyata tidaklah sederhana. Dengan 260 penerbangan setiap minggunya, Qantas (Sydney) yang siaga 24 jam itu harus menyajikan hidangan sekitar 110.000 – 155.000 per minggu kepada para penumpangnya. Memerlukan biaya sekitar US$ 27,5 juta per tahun.

Semua itu dikonsentrasikan dari Qantas Flight Catering Limited (QFCL) Building yang luas totalnya sekitar 19.300 meter persegi yang mempekerjakan 764 karyawan – yang terdiri dari staf administrasi, food production, catering operation, store, dan lain-lain. Mereka menyiapkan berbagai jenis hidangan, mulai dari yang umum hingga yang khusus, misalnya hidangan untuk vegetarian, makanan anak-anak, makanan bayi, makanan untuk penderita diabetes, makanan Hindu, termasuk makanan halal untuk Muslim. (Burhan Abe)

ME 2002

Fidel Castro versus Demi Moore

0

Produk gaya hidup itu bernama cerutu. Bukan sekadar gulungan tembakau, tapi ada citra dan gengsi pengisapnya. Cerutu kini tidak hanya monopoli pria, tapi wanita pun ikut menikmatinya. Dengan emas coklat itu, kata orang, wanita terlihat lebih seksi. Hmm! (Burhan Abe)

“Women & Cigar”. Tema itulah yang diusung pada acara pesta yang berlangsung di Zen Bar & Lounge, Jakarta Jumat, 30 Juli lalu. Venue yang terletak di Menara Thamrin, Gedung Parkir lantai 8 itu tak ayal kebanjiran pengunjung, acara unik tersebut berhasil mengundang rasa penasaran para partygoers Ibu Kota.

Jam menunjukkan pukul 23.00. Keriaan pun makin seru. Para penari seksi bergoyang di bar berbentuk U yang dijadikan panggung. Iringan musiknya yang biasanya techno, kali ini digabungkan dengan petikan gitar live yang kental dengan nuansa Latin, sesuai dengan asal cerutu. Di panggung itu pula, pada sesi berikutnya, para peragawati berlenggak-lenggok bak di catwalk, mengenakan berbagai busana, mulai dari busana malam yang anggun hingga bikini yang seksi. Tidak lupa, di salah satu adegan, di mulut mereka terselip cerutu. Wow!

Lalu, apa hubungan antara wanita dan cerutu? “Penggemar cerutu di Jakarta tidak banyak, dan hampir semuanya pria. Kami ingin mensosialisasikan bahwa perempuan pun layak mengonsumsi cerutu,” tutur Yadie Dayana, Operations Manager PT Gemilang Cahaya Utama (GCU), distributor sejumlah merek cerutu asal Dominika, sponsor utama acara malam itu.

PT GCU sahamnya dimiliki oleh Java Match Factory, perusahaan patungan antara pengusaha domestik yang berkedudukan di Surabaya (60%) dan perusahaan global Swedish Match (40%) – manufaktur dan distributor cerutu premium di dunia. Pada 2001 mereka membuka cigar outlet pertamanya di Asia, yang diberi nama Club Macanudo, tepatnya di Hotel Shangri-La, Jakarta. Kini, gerai yang menyediakan 200-an merek cerutu itu tidak hanya terdapat di hotel tersebut, tapi sudah tersebar di 27 tempat lainnya di Jakarta, satu di antaranya di The Peak, Bandung.

Club Macanudo memang bukan klub untuk cigar society yang pertama, karena beberapa tahun sebelumnya, yakni tahun 1997 sudah ada klub serupa, namanya Lacasa del Habano, yang berpusat Hotel Mandarin Jakarta, yang primadonanya adalah cerutu-cerutu eks Kuba. Sebutlah Cohiba, Montecristo, Partagas, Hoyo de Monterrey, Romeo Y Julieta, H Upmann, Puch, Sancho Panza, Trinidad, Vegas Robaina, dan Bolivar.

Cerutu memang lahir di Kuba dan “ditemukan” Columbus pada tahun 1492, tapi kini produsennya ada di beberapa negara, serta penggemarnya sudah merebak ke seluruh dunia. Di Indonesia, menurut Yadie, saat ini penjualan premium cigars – kebanyakan eks negara-negara Karibia (Dominika, Kuba, Jamaika, Brasilia, Nikaragua, Honduras, dan lain-lain) – baru 7.000 batang (terbesar dari Club Macanudo, 2.500 batang) per bulan. Nilainya sekitar Rp 500 juta.

Tidak besar memang. Jangankan dengan AS yang penjualan cerutunya terbesar di dunia, dibandingkan dengan negara sesama Asia saja, sebutlah Hong Kong, Indonesia belum ada apa-apanya. Di negara kepulauan itu satu gerai mampu membukukan penjualan sekitar 3.500 dolar AS (setara dengan Rp 30 juta) setiap bulannya. Padahal setiap hotel berbintang lima di sana pasti mempunyai cigar outlet.

Memang, menjual cerutu tidak seperti menawarkan barang komoditi biasa, tapi menjual gaya hidup.Cerutu bukan sekadar gulungan tembakau tapi ada citra dan gengsi di sana. Menikmati cerutu barangkali mirip dengan mengapresiasi wine, cognac, liquor, champagne, dan sejenisnya. Lebih jauh, seperti yang dikatakan pemikir budaya pop David Chaney, produk gaya hidup seperti Porsche, jins, juga cerutu, adalah semacam artefak budaya material yang mempresentasikan identitas sosial pemakainya.

Secara faktual cerutu memang disukai tokoh-tokoh dunia yang kharismatis, sebutlah PM Inggris pada Perang Dunia II, Winston Churchill, pemimpin revolusi Amerika Latin Che Guevara, tokoh legendaris AS John F. Kennedy, gembong mafioso Don Corleone, bintang Hollywood Bill Cosby, Tom Selleck, hingga penyanyi seriosa Luciano Pavaroti.

Lembar Sejarah Cerutu Indonesia

0

Cerutu tidak monopoli Kuba, atau negara-negara Karibia. Indonesia ternyata juga salah satu produsen cerutu yang patut diperhitungkan. Setidaknya, bahan baku tembakaunya telah memasok kebutuhan cerutu dunia.

Pada pra kemerdekaan RI, cigar culture ditularkan oleh Belanda. Kebiasaan mereka bercerutu dari negeri asalnya tidak bisa dihentikan ketika mereka berada di Indonesia. Mereka tidak hanya membawa cerutu dari Eropa dan negera-negara Amerika Latin, mereka juga membudidayakan tembakau di Indonesia, terutama di Deli (Sumatera Utara) dan Besuki (Jawa Timur), yang sampai kini dikenal sebagai tembakau berkualitas tinggi.

Selain mempunyai kebun-kebun tembakau, pada saat itu di Indonesia juga berdiri beberapa pabrik cerutu (dan industri rokok, tentu saja). Kini, boleh dikatakan hanya industri rokok yang masih bertahan, bahkan beberapa di antaranya meraksasa dan menyumbang cukai sangat besar untuk negara, seperti Djarum, Gudang Garam, Dji Sam Soe, dan lain-lain. Tapi sayangnya, industri cerutu yang survive agaknya bisa dihitung dengan jari, di antaranya yang diproduksi PD Tarumartani, perusahaan milik keluarga Kraton Yogyakarta. Sementara merek cerutu yang diproduksi indutsri rokok besar adalah Wismilak dan Dos Hermanos.

Hanya saja, dua merek yang disebut terakhir bukan berasal dari tradisi lama, tapi dilahirkan setelah melihat peluang pasar yang besar di industri cerutu. PT Djarum, misalnya, menciptakan produk cerutunya pada Mei 1977, setelah sebelumnya sempat melakukan serangkaian riset mendalam di Honduras dan Amerika Serikat. Produk perdananya adalah cerutu long filler dengan standar internasional.

Kualitas dan kestabilan rasa cerutu Indonesia ini ternyata tidak kalah dibandingkan dengan premium cigars yang lain. Itu sebabnya, gulungan tembakau asal Kudus ini berhasil diterima di mancangera, seperti Belanda, Belgia, Jerman, Singapura, dan beberapa negara lainnya. Nama Dos Hermanos sendiri sebenarnya baru dipakai pada September 1999 untuk pasar Indonesia. Namun demikian produk ini juga disukai para turis asing, bahkan sering dibawa ke manca negara sebagai cindera mata asal Indonesia.

So pasti, Dos Hermanos – yang masuk dalam rating bergengsi dari majalah Cigar Afficionado, juga Wismilak, adalah cerutu made in Indonesia, yang ikut meramaikan pasar cerutu dunia. (Burhan Abe)

Majalah SWA, 02 September 2004

Tips dan Ritual

0

Menikmati cerutu membutuhkan waktu sekitar 30 menit hingga satu jam. Utuk itu diperlukan suasana yang nyaman, dengan ritual tersendiri. Menikmati sendirian di ruang tertentu sambil mendengarkan musik, misalnya, memang tidak dilarang, tapi tidak direkomendasi.

Seperti wine, pera penggemar cerutu biasanya memuaskan hobinya dengan berkumpul di suatu tempat bersama-sama. Bisa di klub khusus atau di restoran mewah. Tidak jarang disertai makan malam dalam acara yang disebut sebagai cigar dinner. Atau dalam pesta seru yang belakangan ini sering diadakan di kafe-kafe di Jakarta.

Mengapresiasi cerutu bisa dilakukan sambil mengobrol dan membahas topik-topik tertentu secara santai. Bisa topik ekonomi dan bisnis, atau topik ringan sehari-hari, tapi bisa juga soal politik, tergantung siapa yag terlibat di dalam acara dan obrolan tersebut.

Tidak ada aturan khusus untuk bercerutu ria. Namun ada beberapa hal yang harus diketahui oleh cerutuwan dan cerutuwati pemula. Misalnya, ketika memilih cerutu yang bagus, seorang ahli biasanya meremas-remas lembut dekat telinganya. Kualitas cerutu konon bisa dideteksi dari suara yang dihasilkannya. Setelah acara pemilihan, barulah ujung cerutu digunting dengan cutter khusus. Sementara untuk menyalakannya pun tidak boleh sembarangan. Ada yang memakai kayu cedar, tapi ada juga yang memakai lighter khusus, supaya aromanya tidak bercampur dengan aroma yang lain.

Mengisapnya pun ada seninya, tidak boleh sampai habis. Bahkan kalau masih panjang, bisa disimpan kembali dan diisap ketika ada kesempatan lain. Agar cerutu dalam kondisi yang tetap prima, sebaiknya peyimpanan dilakukan di humidor, kotak khusus untuk cerutu. Suhu ruangan tidak boleh lebih dari 18 derajat Celsius dengan kelembaban 70-75 persen.

Seperti rokok, asap cerutu juga bisa membahayakan paru-paru. Nikotinnya merusak kesehatan. Hanya saja, tingkat bahayanya lebih ringan ketimbang rokok. Maklum, cara mengisap cerutu tidak sampai mendalam, asapnya hanya dikulum di sekitar mulut, kemudian dikeluarkan secara perlahan-lahan. Agaknya dengan cara inilah nikotin bisa direduksi. Untuk bisa mendapatkan kenikmatan yang lebih mendalam, beberapa orang suka memasangkannya dengan minuman, misalnya wine – hanya saja penggemar wine tidak sependapat, karena aroma wine akan dikalahkan cerutu –, cognac, whiskey, atau cappucino. Yang terakhir ini sering dilakukan oleh Addie MS. (Buhan Abe)  

Majalah SWA, 02 September 2004