Home Blog Page 24

Gaya Hidup Laut Tropis di Titik Paling Dinamis Canggu

Matahari belum sepenuhnya tenggelam ketika langit di atas Canggu berubah jingga keemasan. Di bibir pantai Echo yang selalu sibuk dengan selancar dan suara ombak, berdiri sebuah tempat baru yang tidak hanya menjanjikan suasana, tapi juga menawarkan cara hidup: Beach House, bagian dari kawasan Regent Bali Canggu, yang membuka pintunya bagi siapa pun yang ingin menikmati laut—tanpa kehilangan sentuhan elegansi.

Tempat ini bukan sekadar restoran atau bar pinggir pantai. Ia adalah panggung yang disiapkan untuk perayaan waktu senggang, tempat di mana siang dan malam bertukar peran dalam keheningan estetis. Bukan pula sekadar destinasi baru untuk wisatawan Canggu yang tak pernah habis, tapi lebih mirip pernyataan sikap tentang bagaimana hidup seharusnya dijalani—dengan kaki telanjang di pasir, dan koktail di tangan.

Dapur Tropis dan Laut Nusantara

Beach House memulai narasi kulinernya dari laut. Setiap menu mengedepankan bahan-bahan lokal, khususnya hasil laut dan rempah tropis, yang diolah menjadi hidangan kontemporer berkelas. Tuna Tataki, misalnya, dibakar sebentar dan disajikan dengan saus tiram yang ringan. Di sisi lain, Lobster Roll tampil sederhana namun kaya rasa—menyatukan daging lobster segar dengan sayuran renyah dan rempah aromatik.

Ada juga Spicy Shrimp dengan sentuhan mayo pedas dan tobiko, yang menciptakan keseimbangan antara rasa gurih dan pedas dalam sekali suap. Tapi daya tarik sebenarnya mungkin justru ada di pengalaman BBQ pesisir, di mana ikan tangkapan segar dari Lombok—seperti kakap merah atau seabream—dipanggang terbuka, langsung di pinggir laut.

Bagi mereka yang mencari menu tinggi protein, tersedia Wagyu Striploin lengkap dengan saus chimichurri buatan rumah. Sementara untuk pengunjung yang lebih peduli lingkungan, ada sajian kembang kol panggang zero-waste yang disajikan bersama kuskus dan purée kembang kol—mewakili komitmen mereka terhadap keberlanjutan.

Paskah Penuh Makna di Tepi Samudra

Umana Bali menghadirkan perayaan Paskah dalam balutan kehangatan keluarga, kelezatan kuliner, dan ketenangan batin

Menggantung anggun di atas tebing kapur Ungasan, Umana Bali, LXR Hotels & Resorts bukan hanya destinasi liburan; ia adalah sebuah tempat perlindungan. Di sini, filosofi kuno Tri Hita Karana—harmoni antara alam, manusia, dan spiritualitas—dihidupkan dalam wujud pengalaman personal yang menyentuh.

Dan saat Paskah tiba, Umana mengundang para tamunya untuk kembali merayakan, tidak hanya dengan telur warna-warni atau makanan manis, tetapi dengan momen-momen yang menyatukan tubuh, jiwa, dan kebersamaan.

Pada tanggal 18 hingga 20 April, resor ini berubah menjadi panggung perayaan yang penuh kehangatan, ritme yang tenang, dan kenangan yang bertahan lama. Di antara hembusan angin laut dan panorama cakrawala yang tak terputus, Paskah di Umana dirayakan sebagai sebuah ritus pengingat—akan pentingnya meresapi waktu dan mengisi ruang batin.

Warna-warni Ceria untuk Si Kecil

Perayaan dimulai dengan canda dan tawa anak-anak di Kids Club, yang disulap menjadi galeri kecil penuh kreativitas lewat kegiatan “Egg-stra Colorful Easter” pada 19 April. Telur-telur menjadi kanvas mungil bagi imajinasi yang tak terbatas. Keesokan harinya, dalam “Egg-citing Easter Hunt”, mereka diajak menjelajahi taman hijau resort untuk menemukan kejutan dan harta karun kecil.

Di Uma Beach House, anak-anak adalah tamu utama dalam acara “Easter for the Little VIP.” Mereka bebas bermain air, membuat kerajinan dari tanah liat, dan membawa pulang celengan kelinci sebagai pengingat akan hari yang menyenangkan—sebuah pengalaman yang membalut permainan dengan kenangan.

Keseimbangan Diri di Tengah Alam

Bagi mereka yang mencari ketenangan dan pembaruan, Lohma Spa menghadirkan serangkaian perawatan yang dirancang khusus untuk Paskah. Mulai dari “Easter Detox Ritual”—serangkaian eksfoliasi, balutan pelembap, dan pijat pemulih selama 90 menit—hingga “Parent–Child Easter Bliss”, yang mempertemukan orang tua dan anak dalam pengalaman spa paralel yang menghangatkan hati.

Untuk pengalaman yang lebih mendalam, tamu dapat mencoba “Easter Hydrotherapy Renewal Circuit,” perjalanan sensorik melewati ruang uap, sauna, dan kolam hidroterapi, yang ideal untuk kelompok kecil hingga enam orang.

Dua Malam, Dua Dapur, Satu Visi: Membakar Batas Rasa

YUKI Group dan Serai dari Melbourne Siap Guncang Bali Lewat Kolaborasi Kuliner yang Tak Main-Main

Kalau kamu pikir dunia kuliner Bali udah mentok di smoothie bowl dan panggang-panggangan, pikir lagi. Mei ini, pulau dewata bakal jadi medan pertempuran rasa—di mana api, teknik, dan ego kuliner bertemu dalam dua malam yang nggak cuma menggoda lidah, tapi juga menggugah rasa penasaran.

Di satu sisi: Ross Magnaye, chef berdarah Filipina-Australia yang restorannya, Serai, dinobatkan sebagai Restoran Terbaik di Melbourne 2024 versi Time Out. Di sisi lain: YUKI Group, otak di balik restoran ikonik YUKI dan Meimei di Bali. Kolaborasi ini? Dua malam makan malam, dua lokasi, satu misi: menabrak pakem, merayakan akar Asia, dan bikin lo ketagihan datang lagi.

Meimei, 1 Mei: Asap, Arang, dan Rasa Asia Tenggara

Malam pertama digelar di Meimei Canggu, rumah bagi barbeque Asia Tenggara yang tajam, liar, dan hangat. Di dapur: Chef Ross dan Chef Yudha Permana memadukan gaya berani khas Serai dengan pendekatan elegan YUKI.

Hasilnya: menu pilihan khusus chef yang dibakar dengan teknik kayu bakar, wine pairing yang disusun cermat, dan koktail racikan Windu Tenaya yang pas jadi pelengkap malam. Jangan datang tanpa rasa penasaran. Jangan pulang sebelum habis dessert.

The Britannic Explorer: Perpaduan Mewah Kuliner dan Petualangan di Atas Rel

0

Menjelang peluncurannya pada Juli 2025, The Britannic Explorer, A Belmond Train memperkenalkan pengalaman kuliner eksklusif yang dikurasi oleh koki ternama Simon Rogan dan dipimpin oleh Executive Head Chef yang baru diangkat, Sven-Hanson Britt.

Kereta sleeper mewah pertama yang beroperasi di Inggris dan Wales ini menjanjikan lebih dari sekadar perjalanan—ia menghadirkan pengalaman gastronomi yang merayakan kekayaan hasil bumi dan warisan kuliner Britania.

Filosofi Farm-to-Table di Atas Rel

Sebagai pelopor gerakan farm-to-fork di Inggris, Simon Rogan menciptakan menu yang merayakan bahan musiman dan berkelanjutan dari berbagai wilayah yang dilalui kereta. Mulai dari teh sore, makan siang, hingga makan malam, setiap menu disesuaikan dengan kekayaan lokal setempat.

Kereta ini akan menempuh tiga rute utama: Cornwall, Lake District, dan Wales, masing-masing menawarkan pengalaman kuliner berbeda. Di dalam dua gerbong makan yang diberi nama Malva dan Samphire, para tamu akan menikmati sajian otentik yang disiapkan dengan cermat oleh Chef Sven dan timnya.

Menu Penuh Inovasi dan Rasa

Menu yang ditawarkan benar-benar mencerminkan lanskap dan cita rasa regional. Sarapan menampilkan biji-bijian lokal organik dan regeneratif, seperti fermented barley crumpets dengan sumsum tulang sapi panggang dan keju cheddar tua, hingga pikelets dari biji flax dan buah-buahan kebun panggang.

Bacaan Menarik: Kopi 4.0, Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Hidangan khas Inggris seperti belut asap Lincolnshire di atas roti gandum hitam dan crop-rotation porridge dengan jamur liar dan brassica musiman juga masuk dalam daftar. Chef Simon menyatakan bahwa kerjasama dengan Sven—yang berbagi filosofi dan keahlian dalam bahan lokal—merupakan kombinasi ideal.

Petualangan Rasa di Setiap Rute

  • Rute Wales menyajikan makan siang ala piknik dengan rarebit and leek tart yang klasik.
  • Rute Cornwall menghadirkan barbekyu khas pantai yang menyajikan hasil laut lokal seperti asparagus desa Roche, kerang St Austell, cumi tangkapan jig, dan ikan red mullet Cornwall.
  • Makanan penutup seperti Cornish summer berries dengan krim chamomile dan meadowsweet menutup pengalaman kuliner dengan manis.

BUZO Hadirkan Malam Kuliner yang Istimewa: Perpaduan Jepang–Italia dalam Suasana Tropis Bali

Di tengah deretan restoran trendi dan butik bergaya di Seminyak, BUZO muncul sebagai destinasi kuliner yang menghadirkan sesuatu yang benar-benar berbeda—perpaduan berani antara cita rasa Jepang dan Italia yang diracik dengan sentuhan kontemporer. Mengusung konsep Italian-Japanese fusion dining, BUZO tidak hanya menawarkan makanan yang lezat, tetapi juga menciptakan suasana makan malam yang hidup, sosial, dan penuh kejutan.

Berlokasi di pusat Seminyak—kawasan yang dikenal sebagai jantung gaya hidup modern Bali—BUZO menjadi tempat berkumpul yang ideal bagi para pencinta kuliner, wisatawan, dan warga lokal yang mencari pengalaman makan malam yang tidak biasa.

Dikenal dengan suasananya yang vibrant namun tetap santai, Seminyak adalah tempat di mana budaya Bali berpadu dengan pengaruh global—dan BUZO menangkap esensi tersebut secara sempurna dalam setiap detail ruang, menu, dan program mingguan mereka.

Di bawah arahan kreatif Chef Will Meyrick, nama yang tak asing di dunia kuliner Asia Tenggara, BUZO menciptakan menu yang memadukan teknik kuliner Italia seperti pasta segar dan pizza panggang kayu dengan filosofi dan cita rasa khas Jepang—dari penggunaan miso, shoyu, yuzu, hingga teknik fermentasi dan plating yang mengutamakan harmoni.

Hasilnya adalah hidangan yang kompleks namun tetap menyenangkan untuk dinikmati, menciptakan pengalaman kuliner yang menggugah rasa sekaligus membangkitkan rasa ingin tahu.

Untuk semakin memperkaya pengalaman tersebut, BUZO kini menghadirkan dua program makan malam mingguan yang dikurasi dengan cermat:

The Tokyo Pasta Club – Setiap Hari Selasa

Selasa malam di BUZO kini menjadi ajang eksplorasi rasa lewat The Tokyo Pasta Club. Di sini, para tamu disuguhkan pasta buatan tangan yang dimasak dengan bahan dan teknik khas Jepang. Bayangkan spaghetti al dente yang disajikan dengan creamy miso, udon carbonara, atau fettuccine dengan topping nori panggang dan shichimi togarashi.

Memimpin dengan Nilai: Kepemimpinan Spiritual di Tengah Dunia yang Bergejolak

0
Oleh: Eileen Rachman & Linawaty Mustopoh

Di era di mana transformasi digital dan disrupsi telah menjadi mantra wajib di ruang-ruang rapat, satu hal yang kerap luput dari perhatian justru adalah hal yang paling esensial: kemanusiaan. Saat data, algoritma, dan efisiensi menjadi ukuran utama kesuksesan, tidak sedikit pemimpin yang terjebak dalam logika untung-rugi semata. Di tengah arus deras ini, hadirnya kepemimpinan spiritual bak oasis—memberikan arah, makna, dan keseimbangan yang kian langka di dunia bisnis modern.

Beyond Religion: Memaknai Ulang Spiritualitas dalam Kepemimpinan

Kepemimpinan spiritual sering disalahartikan sebagai sesuatu yang bersifat religius. Padahal esensinya jauh lebih luas. Ini bukan soal dogma, melainkan soal nilai. Tentang bagaimana seorang pemimpin memandang peran dan tanggung jawabnya terhadap tim, organisasi, dan masyarakat secara utuh.

Nilai-nilai seperti integritas, empati, kejujuran, dan kesederhanaan menjadi fondasi yang membentuk keputusan-keputusan strategis. Pemimpin spiritual tidak sekadar mengarahkan organisasi untuk bertumbuh, tetapi juga memastikan bahwa pertumbuhan itu terjadi dengan cara yang bermartabat dan membawa manfaat lebih luas.

Kepemimpinan yang Berakar, Bukan Sekadar Bergerak

Dalam pusaran volatilitas—ekonomi yang tidak stabil, kebijakan yang berubah cepat, dan ekspektasi pasar yang kian menuntut—kepemimpinan spiritual menjadi jangkar yang menstabilkan. Ia memberi ruang bagi pemimpin untuk berhenti sejenak, merenung, dan memastikan bahwa arah yang diambil bukan hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga selaras dengan nilai-nilai luhur yang diyakini.

Gus Dur adalah contoh klasik dari pemimpin yang menjadikan spiritualitas sebagai inti dari cara memimpinnya. Dengan gaya yang sering kali tak terduga, ia justru menyampaikan pesan-pesan toleransi, kesederhanaan, dan pengabdian secara konsisten. Kebijakan-kebijakan inklusif yang ia terapkan tak hanya menyentuh aspek administratif, tetapi menyentuh hati banyak orang.

Di ranah bisnis, Nurhayati Subakat dari Paragon Technology & Innovation memperlihatkan bahwa nilai spiritual dapat menjadi kekuatan luar biasa dalam menghadapi krisis. Ketika perusahaannya terbakar habis, ia tidak hanya bangkit—ia bangkit dengan keyakinan, empati, dan semangat berbagi yang justru memperkuat budaya perusahaannya.

Mengelola Bisnis dengan Jiwa

Kepemimpinan spiritual bukan tentang kelembutan tanpa arah. Sebaliknya, ini adalah tentang ketegasan yang berlandaskan pada kebijaksanaan. Tentang mengambil keputusan yang berani, tapi tetap menjunjung nilai moral. Tentang keberanian untuk berkata “tidak” pada jalan pintas, dan memilih jalan yang mungkin lebih panjang, namun membawa hasil yang berkelanjutan.

Pemimpin spiritual tidak hanya memikirkan pertumbuhan bisnis, tapi juga pertumbuhan manusia di dalamnya. Mereka menciptakan lingkungan kerja yang menghargai keunikan individu, menumbuhkan kepercayaan, dan membuka ruang untuk dialog yang jujur.

Membawa Makna ke Dalam Boardroom

Saat ini, kita menyaksikan pergeseran paradigma kepemimpinan. Dari yang transaksional menjadi transformatif. Dari yang berorientasi hasil, menjadi berorientasi makna. Dan kepemimpinan spiritual adalah jembatan antara keduanya.

Ta’akana Labuan Bajo: Ketika Dapur, Minuman, dan Laut Flores Menyatu dalam Kemewahan

0

Bayangkan sebuah malam di Labuan Bajo. Angin laut menerpa ringan, musik ambient mengalun lembut, dan di hadapan Anda: sepiring wagyu tsukune berbalut foie gras, disandingkan dengan segelas whisky pandan bersuhu sempurna. Ini bukan imajinasi. Ini kenyataan yang ditawarkan oleh Ta’aktana, a Luxury Collection Resort & Spa, lewat Taba Tastemakers Circle Volume 1—sebuah kolaborasi dua chef beda aliran dalam satu dapur penuh ambisi.

Ketika Dua Tangan Besar Bertemu di Satu Dapur

Edisi perdana Taba Tastemakers Circle berlangsung pada 18–19 April 2025, dan menghadirkan kolaborasi Chef William Rusli dari Akira Back—restoran papan atas yang langganan daftar “Best Restaurants & Bars in Asia”—dan Chef Imam Dharmawan, Japanese Sous Chef dari dapur internal Ta’aktana.

Rusli adalah alumni dapur Joël Robuchon, restoran tiga bintang Michelin yang mengajarkan pentingnya presisi dan ketepatan rasa. Imam, di sisi lain, mewakili kekuatan teknik Jepang yang tenang namun eksplosif di atas piring. Gabungan keduanya? Satu kata: brutal elegan.

Menu yang disajikan malam itu tak hanya bermain aman di comfort zone Asia Timur. Ini adalah eksplorasi penuh karakter—Korea dan Jepang diolah dengan gaya modern, menggunakan bahan laut terbaik dari perairan Indonesia Timur. Setiap hidangan disusun seperti partitur musik; penuh tempo, tekstur, dan transisi.

Pairing Serius untuk Pecinta Minuman Cerdas

Bicara tentang dining mewah tidak lengkap tanpa menyentuh sisi minumannya. Di balik bar, ada Voo Fahman, Corporate Beverage Adhya Group, dan Ocul Waedi, Bar Captain TA’AKTANA—dua peracik rasa yang tak hanya mengejar efek buzz, tapi cerita dalam gelas.

Chef William Rusli dan Chef Imam Dharmawan,

Beberapa pasangan menu dan koktail yang standout:

  • Tsukune Wagyu + Bajo Mist Reverie: Minuman berbasis Tenjaku Whisky dengan pandan, sereh, dan jahe. Rasanya seperti pelukan hangat di malam hujan.
  • Ta’aktana Roll + Fiery Essence: Vodka, hibiscus Flores, orange, dan berry. Pedas-manis-fruity yang cocok sebagai “starter punch”.
  • Fish of the Day + Yuzu Sayawaka: Gabungan gin, yuzu sake, midori, lime, vanilla, dan egg white. Light, clean, dan sangat Jepang.
  • Wagyu Ribeye + Fake Americano: Lupakan Americano biasa. Ini versi dengan Plantation 3 Stars Rum, Campari, strawberry clarified, dan sentuhan lactic. Smooth, confident, and a little dangerous.

Dari French Riviera ke Phu Quoc: Misi Rasa Chef Olivier Elzer di Pink Pearl

Di sebuah vila bergaya kolonial berbalut merah muda cerah di tepi pantai Khem, Phu Quoc, Vietnam, sejarah kuliner baru sedang ditulis. Restoran Pink Pearl, permata tersembunyi di dalam JW Marriott Phu Quoc Emerald Bay Resort & Spa, kini menjadi panggung baru bagi salah satu maestro kuliner paling dihormati di dunia: Chef Olivier Elzer.

Dengan 27 bintang Michelin di pundaknya, Chef Olivier datang bukan hanya untuk menyajikan makanan lezat—ia datang untuk memperkenalkan sebuah filosofi rasa, warisan, dan keanggunan yang terinspirasi dari pantai selatan Perancis. Dan ya, semua itu diracik dengan cita rasa lokal dan semangat eksplorasi tropis yang memikat.

Bukan Sekadar Chef, Tapi Pendongeng Rasa

Chef Olivier bukan nama baru di dunia gastronomi. Ia telah menjelajah dari dapur Pierre Gagnaire dan Joel Robuchon di Eropa, hingga menjadi sosok penting di restoran ternama di Hong Kong, Makau, dan Taipei. Namun, di balik deretan prestasi dan bintang Michelin, Olivier tetap seorang seniman rasa yang menjunjung kesederhanaan dan keaslian.

“Saya belajar dari French Riviera bahwa rasa terbaik lahir dari kesegaran, dari musim, dari tanah dan laut tempat kita berpijak,” ujarnya sambil menyiapkan satu dari sekian banyak menu barunya di Pink Pearl.

Resto Bersejarah yang Jadi Teater Rasa

Pink Pearl bukan sekadar tempat makan, melainkan pengalaman multisensori. Dirancang oleh arsitek kenamaan Bill Bensley, restoran ini menyerupai rumah megah milik Madame Pearl Collins, tokoh fiksi dengan gaya hidup mewah ala tahun 1920-an. Interiornya bergaya vintage glamor, penuh detail emas, lampu gantung kristal, dan lukisan klasik yang seolah hidup kembali.

Hanya ada 36 kursi di ruang utama, lima ruang makan privat, dan sebuah ruang wine tasting kecil. Dari jendela besar, laut Phu Quoc menghampar tenang, menciptakan latar yang sempurna untuk sebuah perjalanan kuliner.

Menu yang Bercerita

Dengan sentuhan khas Mediterania dan teknik Perancis yang presisi, menu racikan Chef Olivier terasa seperti surat cinta untuk dua dunia. Ada gurita panggang dengan hummus dan delima, bonito bakar dengan endive dan keju comté, dan Bohémienne khas Provence dari tomat dan terong yang dipanggang perlahan—masakan rumahan yang ditingkatkan jadi karya seni.

Tidak hanya itu, Pink Pearl juga memperkenalkan hidangan berbagi untuk suasana yang lebih kasual dan sosial, serta brunch hari Minggu yang mulai menjadi pembicaraan hangat di kalangan jet-set Vietnam.

Campania dalam Warna dan Rasa: Menyusuri Pesisir Italia Bersama Belmond & Apartamento

0
Oleh Burhan Abe

Di sepanjang pesisir Campania yang berkelok dan penuh warna, antara gemuruh laut Mediterania dan keharuman lemon Amalfi, tersembunyi kisah yang bukan hanya soal tempat, tetapi rasa, warna, dan warisan. Kisah itulah yang kini dibingkai dalam karya baru nan indah: Campania: Recipes & Wanderings Across Italy’s Polychromatic Coast, buku masak sekaligus perjalanan visual hasil kolaborasi Belmond dan Apartamento.

Diluncurkan April 2025 bertepatan dengan Milan Design Week, buku ini bukan hanya volume ketiga dari seri “Recipes & Wanderings” (setelah Liguria dan Penang), tapi juga sebuah surat cinta untuk Campania—tanah dengan cita rasa paling ikonik Italia.

Lebih dari Sebuah Buku Masak

Dengan gaya editorial khas Apartamento yang intim dan eksperimental, Campania adalah pengalaman menyeluruh. Ia mengajak pembaca untuk berjalan kaki menyusuri pasar lokal, duduk di dapur kuno, mencicipi mozzarella buatan tangan, dan menghirup aroma pizza yang dipanggang dalam oven batu tua di jantung Ravello.

Lea Colombo, fotografer visioner asal Cape Town, memberikan nyawa visual dengan gaya teknicolor yang berani dan emosional. Dalam lensanya, Campania tidak hanya terlihat—ia terasa. Langit biru, tomat merah cerah, minyak zaitun keemasan, dan tekstur pasta buatan tangan menjelma jadi kanvas rasa yang hidup.

Resep yang Punya Cerita

Buku ini memuat 21 resep klasik, termasuk hidangan dari dapur Caruso, A Belmond Hotel, yang dulunya merupakan istana abad ke-11 di puncak tertinggi Amalfi Coast. Dari spaghetti lemon & caper, Caprese salad, hingga Caruso gimlet, tiap resep diceritakan dengan asal-usul bahan, teknik pengolahan, dan semangat lokal yang kuat.

Trump, Tarif, dan Trauma Ekonomi Indonesia

0

Tak ada yang benar-benar siap menghadapi perang dagang—apalagi jika dipicu dari Gedung Putih. Ketika Donald Trump kembali menghidupkan agenda proteksionismenya, dunia terguncang. Indonesia, seperti banyak negara lain, masuk daftar korban tarif impor AS sebesar 32 persen.

Sepintas terlihat seperti isu luar negeri, tapi dampaknya terasa hingga ke kantong para buruh pabrik alas kaki di Brebes dan pekerja pabrik otomotif di Karawang.

Kebijakan ini memukul sektor ekspor Indonesia di titik-titik rawan. Industri alas kaki, tekstil, dan otomotif—tulang punggung ekspor nonmigas dan penyerap tenaga kerja jutaan orang—terdampak langsung. Ekspor alas kaki yang selama ini mengisi 15 persen pasar AS, diperkirakan turun hingga 20 persen pada kuartal II tahun ini.

Sementara sektor otomotif menghadapi risiko resesi mikro. Turunnya permintaan bisa membuat seperempat tenaga kerja sektor ini kehilangan pekerjaan.

Namun masalah tidak berhenti di sana. Efek domino dari perang dagang AS–China juga menghantam sektor komoditas Indonesia. Ketika ekonomi China melambat, permintaan terhadap batu bara, sawit, dan nikel ikut menurun.

Harga batu bara anjlok dari USD 150 menjadi USD 90 per ton. Semua itu berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan turun ke titik terendah sejak pandemi: 4,2 persen.

Ini bukan semata urusan ekspor-impor. Ini soal ketahanan ekonomi nasional. Ketergantungan kita pada pasar luar negeri dan bahan baku impor memperlihatkan betapa rapuhnya struktur ekonomi kita di tengah gejolak global. Rasio impor bahan baku industri yang mencapai 48 persen, misalnya, membuka peluang terjadinya inflasi bahan baku yang bisa menyengat seluruh rantai pasok.

Dalam situasi seperti ini, pemerintah tak boleh sekadar reaktif. Perlu langkah strategis yang tidak berhenti pada diplomasi dagang. Diversifikasi pasar ekspor harus menjadi prioritas. Keberhasilan ekspor kopi ke Ethiopia bisa direplikasi ke pasar Afrika dan Timur Tengah.

Hilirisasi industri, terutama nikel dan bauksit, tak boleh hanya jadi jargon politik. Dan UMKM eksportir harus diberi insentif fiskal dan logistik, agar mereka tidak terbenam sebelum sempat tumbuh.