Home Blog Page 81

#MALE2ndAnniv

0

Tepat 2 November 2014 MALE memperingati tahun kedua hari kelahirannya. Sejak published pertama hingga edisi ke 56 ini, majalah digital interaktif ini hadir ke pembacanya melalui tiga platform sekaligus, dalam format digital interaktif yang bisa dinikmati melalui iPad dan tablet (dan belakangan phablet, bahkan mobile) yang berbasis Android, serta dalam format PDF via desktop (PC dan laptop), serta ponsel.  

Perjalanan majalah digital interaktif cukup menggembirakan. Bukan saja secara kreatif media ini semakin matang, seiring dengan perkembangan teknologi. Tapi juga, pembacanya makin meluas, serta banyak perusahaan (baca: pengiklan) sudah mulai memandang medium ini sebagai platform masa depan. Mengapa digital?  

Karena digital membawa fleksibilitas yang jauh melebihi kemampuan media kertas, dengan kapasitas distribusi yang tak terbatas. Majalah cetak bisa direplikasi secara digital, bahkan dapat diperkaya dengan, video, suara, dan tautan web, yang unik dan interaktif.  

Memang tak terbendung, digitalisasi sudah merambah ke seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dalam dunia penerbitan. Perlahan tapi pasti, proses digitalisasi media terus berlangsung. Cerita tutupnya majalah konvensional (cetak) bukan hal baru, sementara lahirnya majalah-majalah digital adalah sebuah keniscayaan.  

Di AS, seperti dituturkan dalam artikel di Econtentmag.com, yang ditulis oleh Keith Loria, Alliance for Audited Media melaporkan bahwa pada semester pertama 2014 industri media digital menunjukkan sinyal perkembangan yang positif.  

Sementara itu, seperti dilansir dari AdAge.com, PricewaterhouseCoopers melalui Global Entertainment and Media Outlook memperkirakan nilai iklan di media digital akan menanjak tahun ini. Besarnya sekitar 22,4 persen atau US$ 3,9 miliar, dan akan mencapai US$ 7,6 miliar pada 2018. Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di media cetak (baca: MALE Zone).  

Di Indonesia, kita baru saja menyaksikan tutupnya 9 majalah cetak dari kelompok penerbitan besar, yang selain mismatch, tentu berkaitan dengan perkembangan teknologi digital yang menggusur cetak, serta bergesernya pasar.  

Memang, tidak mudah mengubah kebiasaan dari cetak menjadi digital. Dalam masa transisi, media digital adakalanya mengalami fase stagnan. Dalam hal ini, biasanya beberapa orang dengan data yang sangat minim akan langsung menjatuhkan vonis di dunia digital pun tidak ada masa depan. Benarkah?  

Yang jelas, fakta yang tidak bisa dimungkiri adalah, berbagai macam kecanggihan teknologi dimiliki tablet komputer yang dipakai sebagai media. Marcus Rich, kepala publisher majalah terbesar di Kerajaan Inggris, percaya, dengan meningkatkan inovasi, seperti programmatic advertising dan kecerdasan penggunaan software untuk memberi ruang iklan digital secara lebih efisien, kesempatan akan berkembang lebih baik. Untuk memenuhi kebutuhan itu, workflow yang digunakan pun tentunya berbeda dengan budaya media cetak.  

Well, whether you like it or not, the digital era has arrived. MALE di usia dua tahun memang relatif muda, masih kategori “balita”. Sebagai digital interactive product, genre baru dalam media, masih banyak yang harus dipelajari dan dikembangkan. Ya, dari waktu ke waktu, MALE terus melakukan terobosan dan inovasi. Kami percaya, bahwa kreativitas adalah langkah awal untuk menjadi besar.

Sumber: Editor’s Note by Burhan Abe (Editor in Chief) MALE 106 #MALE2ndAnniv

BART, Bar @ The Rooftop, Artotel Jakarta – Thamrin

0

This world is but a canvas to our imagination.

Indonesia’s lauded new hotel group, Artotel Indonesia, will open a rooftop bar at its Thamrin property Oct. 17. In the jammed crazed capital with its high-rises and notorious traffic, Bart offers an air of luxury, a seventh floor rooftop sanctuary mixing lively atmosphere, hospitality and panoramic views of the leafy residential district of Menteng and the glass and marble corridor of Jalan Thamrin and beyond.  

“Seven floors above street level is distance enough to forget about the snarl of traffic below,” said hotel general manager, Daniel Sunu Prasetyo. “The clubby and industrial fashioned interior is a refuge for the weary office manager, a casual perch to enjoy a sip and a bite with friends and coworkers and appreciate the stillness that elevation provides.”  

The owners had BART in the planning since the hotel opened in October, 2013, a concept that mixes modern art and accommodation positioned as stylish boutique, a property that is considered mid-range affordable boutique with a central location that attracts a balance of international tourists and local business people.  

“We planned to open the hotel first and focus on the essentials of comfortable accommodation, hospitality and art events while running almost a consistent 90% occupancy since opening,” said Artotel Indonesia CEO, Erastus Radjimin. “’Bar at the rooftop or, BART, was a project we put on hold until our first year anniversary was behind us and that time is now.”

As part of its anniversary celebration on Oct. 17, BART will be the press venue for seven Indonesian artists and their “Art for Everyone” exhibition held at the hotel’s Mezzanine gallery through to Dec. 1 2014.    

BART features an eight-person VIP room with AC although general manager Daniel Sunu Prasetyo says the overhead fans and rooftop breeze make for a comfortable setting and with plenty of cover for up to 100 people in the event of rain.  

Editor in chief of Jakarta-based Destinasian magazine, Chris Hill says: “Rooftop bars are increasing in popularity as people come to appreciate the vertical respite they offer from life at ground level, not to mention views that are intoxicating in their own right. From Singapore’s Sands Skypark to New York City’s Ink48 and Aer at the Four Seasons Hotel Mumbai, having a drink high in the sky is just more fun.”  

About Artotel Jakarta – Thamrin

Artotel is a play on the words “art” and “hotel”. Art refers to the contemporary art-influenced design of the lobby, public areas and hotel rooms. These designs are created by local artists as part of Artotel’s efforts to directly support and promote Indonesian contemporary art.  

“Art isn’t just a decorative accent here, but is rather part of a totality that delivers a distinctive experience for guests. Along with its artistic emphasis, Artotel is committed to providing quality accommodation in terms of service as well as product, such as the ”Art Bedding Collection” which is designed to pamper guests, and the exclusive Artotel Amenities in each studio room. This Art concept has inspired Artotel’s preparations for the design concept, character, and all applications and functionality, down to preparing our business activities as a whole,” said Christine Radjimin – Chairman Artotel Indonesia.

“The lobby of Artotel Jakarta-Thamrin isn’t just a lobby as it is in a typical hotel, but also functions as a Rotation Gallery, creating an atmosphere and experiences that change monthly for guests.”

Just as art pieces are never exactly alike, each Artotel Indonesia property exhibits different designs and signature colors, such as purple for Artotel Jakarta-Thamrin and orange for Artotel Surabaya. Apart from colors, every Artotel property is also assigned a distinctive ART quotation which reflects the unique characteristics, personality and concept of that Artotel. Going forward, Artotel Indonesia will expand to other properties in Indonesia such as Artotel Bandung (2015) and Artotel Bali-Sanur (2015), each with different hotel concepts of course.  

As an art inspired design hotel, Artotel targets smart travellers looking for strategically located accommodations with quality facilities in which they can experience the unique “ARTmosphere” at an affordable price.  

”…..usually art hotels in this world just have a vacant room hung with many paintings (or artwork) and call themselves art hotel. At Artotel, we don’t just hang up paintings (or any artwork), rather we integrate the art itself as part of the overall hotel concept and design. We hope that our hotel guests will have a lasting experience and impressions while staying at Artotel, from the check-in to the check out process. At Artotel, we believe and are committed to our core values namely Creativity, Artistic, Simple and Efficient,” said Erastus Radjimin – CEO Artotel Indonesia.  

Artotel Thamrin has 107 Studios (rooms), 1 Restaurant & Bar under the brand RoCA (Restaurant of Contemporary ART), 2 meeting rooms with capacity for 10 – 200 pax, an Art Gallery, Business Center and a Roof Top Bar.

About Artotel Indonesia

Artotel Indonesia is a Hotel Management company that focuses on hotels with art inspired design, led by young business professionals with experience in property, the hotel industry, design & branding, sales and marketing.

Artotel Indonesia has two properties in operation in 2013, namely Artotel Surabaya  opened on July 7, 2012 and Artotel Jakarta-Thamrin which launched on 17 October 2013. Going forward, Artotel Indonesia will expand to other cities such as Artotel Bandung (2015) and Artotel Bali-Sanur (2015), each showcasing a unique hotel concept.  

Making money is art, and working is art, and good business is the best art.

BALI, Popularitasnya Melebihi Indonesia

0

BALI cukup populer di dunia, bahkan kadang-kadang melebihi Indonesia. Berbagai julukan diberikan kepadanya, Conde Nast Traveller Rusia tahun 2013, misalnya, memilih Bali sebagai pulau terindah di dunia. Majalah travel terkemuka tersebut memang rutin menyelenggarakan kegiatan readers choice award untuk mengetahui berbagai kategori wisata dan sarana pendukung yang disukai oleh masyarakat Rusia.  

Untuk meraih penghargaan tersebut, Bali harus bersaing bersama nominator lain, yakni Phuket, Maladewa, Mauritius, dan Yunani. Meskipun saat ini banyak pilihan pulau-pulau cantik untuk berwisata, pesona keindahan Pulau Bali tetap menjadi pilihan utama para turis dunia.  

Tapi popularitas Bali bukan lantaran alamnya saja, tapi juga sisi lain, yang tidak diungkap di siaran resmi tentang wisata Bali. Kalau Anda sempat menyaksikan film dokumentasi Cowboys in Paradise, terungkap cerita tentang cinta kilat yang marak di Pulau Dewata tersebut. Para pria hadir dengan “profesi lain”, yakni memberi perhatian istimewa kepada wisatawan yang kesepian.

Tawaran berkencan tidak hanya datang dari si pria. Wisatawan wanita pun seakan tidak mau kalah mencari sensasi yang sama, dengan memburu pasangan sesaat seiring dengan nikmatnya suasana Bali yang indah. Wanita Jepang tercatat paling agresif.  

Dari berbagai alasan kunjungan turis Jepang, tidak sedikit yang mencari pria lokal untuk melampiaskan energi berlibur yang berlebih. Namun, konon ada perbedaan antara turis Jepang dan turis lain, khususnya yang berasal dari AS, Eropa, serta Australia, yang lebih ekspresif mengungkapkan keinginannya.  

Meski berbeda, mereka sepakat sisi eksotis pria lokallah yang menarik perhatian. Pria lokal di sini bukan berarti pria Indonesia, tapi lebih merujuk pada pria asli Bali. Ia tak tahu alasan wanita Negeri Sakura memilih pria lokal. Tapi bisa jadi fisik dan aktivitas yang dekat dengan pantai menjadi pesona tersendiri, yang berbeda dengan pria Asia Timur pada umumnya.  

Photo by Briana Tozour on Unsplash

Dikutip dari situs Tribunnews, Yukio Murakami, penulis lepas Jepang, mengungkapkan di media mingguan Nikkan Gendai (edisi 11 Mei 2010, halaman 5), sebagian besar wanita Jepang yang berkunjung ke Bali memiliki tujuan lain, yakni mencari pria Bali yang memiliki profesi lain itu.  

Pada 2005, mulai banyak turis wanita Jepang yang berkunjung ke Bali untuk berlibur. Di Pulau Dewata mereka mengisi liburan dengan belajar surfing, relaksasi pijat, yang menuju aksi utama, bahkan tidak sedikit yang kawin kontrak selama tinggal di Bali.  

Mendapat perhatian turis wanita Jepang tak semudah mendapat perhatian turis wanita negara lain. Hal ini membuat muncikari harus bergerak lebih halus dan mengerahkan banyak siasat untuk menawarkan jasanya.   Sifat wanita Jepang cenderung pemalu dan pasif. Diperlukan keahlian berkomunikasi tanpa memaksakan kehendak, meskipun sebenarnya tujuannya sudah diketahui bersama. Biasanya topik pembuka seputar daerah wisata di Bali, spot liburan menarik, aktivitas yang dapat dilakukan, dan akhirnya tujuan utama, yakni mendapat pelukan hangat.  

Bagi wanita Jepang, pria lokal cenderung tahu bagaimana harus bersikap. Pria lokal yang memang “bekerja” sebagai penjual kehangatan akan mendekati turis yang terlihat menginginkan “servis” tapi malu mengungkapkannya.  

Perbedaan karakter turis Jepang dengan turis lainnya, menurut seorang pengajar surfing, sebutlah Andre, memang menjadi bahan pertimbangan. Sebab, kata dia, turis Jepang tergolong pribadi yang royal mengeluarkan uang untuk mendapatkan apa yang diinginkan.  

Sifat dermawan wanita Negeri Sakura menjadikan pria penjual kasih sayang setuju melakukan kawin kontrak. Bahkan ada yang meneruskannya dalam lembaga pernikahan yang sesungguhnya dan membangun rumah tangga. Namun, jika hanya untuk menjadi “teman dekat”, reputasi turis wanita asal Jepang cukup dikenal.  

Bila dicermati, demand yang datang kebanyakan dari turis wanita yang ingin menikmati “hidangan” lokal khas Bali. Andre mengungkapkan hubungan profesional antara pelatih dan murid pun memiliki potensi membentuk ikatan yang lebih istimewa.  

Menurut dia, tidak sedikit turis asing yang ingin menikmati tawaran lain, yang seolah menjadi kebutuhan yang wajar sebagai manusia. Belum lagi suasana Bali yang mendukung bagi turis asing, baik yang datang sendirian maupun bersama teman-teman wanitanya yang ingin merasakan pengalaman berbeda.  

Tidak sulit, tapi tak terlalu mudah pula mencarinya. Andre menjelaskan, kawasan wisata ternama memiliki banyak individu yang siap membantu. Adapun jalur untuk mendapatkannya bisa beragam.   Ada turis wanita yang membangun keakraban terlebih dulu, mencari langsung, dan ada pula yang menggunakan jasa muncikari untuk mendapatkannya. Beda jalan, tapi tujuan mereka satu, yakni mendapat teman tidur selama berlibur. Namun Andre juga tidak memungkiri ada kisah turis wanita yang menjalin hubungan dengan pria lokal berlandaskan rasa sayang dan ketulusan hingga ke jenjang pernikahan. What happens in Bali stays in Bali!

Sumber: MALE Zone, MALE 104

Luxury Wedding

0

The Ritz-Carlton Crafts Picture Perfect Memories as Largest Luxury Wedding Atelier in Asia Pacific

Wedding planners at The Ritz-Carlton are redefining the art of the wedding atelier by curating artisanal luxury wedding shows fuelling the dreams of couples looking for an intimate affair or a lavish dream wedding that would rival royalty.  

In Asia-Pacific alone, The Ritz-Carlton creates more than 2,000 luxury weddings each year, making The Ritz-Carlton the largest luxury wedding atelier and host in the region. Each wedding is elegantly choreographed in opulent detail with handpicked artisans, resulting in picture perfect memories. Some senior wedding planners alone have orchestrated over 500 weddings each.  

These real weddings from around the world can now be seen in the first Chinese edition of The Ritz-Carlton Weddings magazine which was launched this month. Romantic weddings featured include the Princess Bride, the story of a Chinese couple who created their very own Royal Wedding at The Ritz-Carlton, Tianjin, which recreated an enchanted forest in the hotel’s ballroom and a horse and carriage ride around the old city quarter. Extraordinary destination weddings include underwater weddings in Phulay Bay, a Ritz-Carlton Reserve in Krabi, Thailand while venues with dramatic skylines of Hong Kong and Shanghai have also been created for couples looking for a white wedding in the sky.  

 “Creating milestone moments and transforming dreams into reality have always been the hallmarks of a Ritz-Carlton dream wedding,” said Michelle Caporicci, Regional Vice President – Sales and Marketing in Asia Pacific. “Many couples look for themes that fit their personalities while balancing the needs of their respective families, which our wedding planners help them to navigate. The wedding fairs we create in each of our hotels are the first step to help them imagine their dreams.”  

“The Ritz-Carlton Wedding Magazine has always been a way for couples and their families to showcase the latest trends and ideas. Having a Chinese edition for the first time is a major step in showcasing international and regional trends in language,” she added.  

Curating wedding shows with the right luxury artisans and partners and sharing stories of some of our couples is one way to inspire brides and their families. On ritzcarlton.com, couples can use a wedding planning checklist to dream about every detail, and then a wedding specialist flawlessly brings the event together. From the creation of invitations and favors to florists, talented couturiers, photographers, lingerie and jewelers, The Ritz-Carlton Wedding Fairs bring these dreams to life in a dramatically staged themed showcases that put couples in their wedding.  

“Bringing weddings to life through shows and the wedding magazine displays the creativity of our ladies and gentlemen and the artisans who work with us and showcases the unforgettable memories we help to create,” she said.

Kretek

0

KRETEK adalah produk yang merepresentasikan tradisi masyarakat pribumi Indonesia. Tak ubahnya rendang, pempek, atau gudeg, kretek juga dipandang sebagai simbol tradisi dan jati diri bangsa. Pengertian rokok kretek, menurut Wikipedia, adalah rokok yang menggunakan tembakau asli yang dikeringkan, dipadukan dengan saus cengkeh dan saat dihisap terdengar bunyi kretek-kretek.  

Mark Hanusz, dalam “Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes”, menyebut rokok kretek, yang dibungkus daun jagung, merupakan salah satu simbol pergerakan nasional. Kretek bahkan mengalami kejayaan nyaris serupa dengan yang dialami cengkeh di Kepulauan Maluku pada abad pertengahan.  

Orang memahami kretek sebatas sigaret yang tidak menggunakan filter. Tapi sesungguhnya, yang membedakan kretek dengan jenis sigaret lain adalah kandungan cengkeh dan unsur herba alamiah lain di dalamnya. Sementara rokok putih (jenis rokok konvensional yang berasal dari Barat) hanya mengandung tembakau, kretek merupakan produk hasil racikan tembakau dengan cacahan cengkeh dan tambahan saus.  

Dalam sebatang kretek terkandung belasan, bahkan lebih dari 30, jenis tembakau yang berasal dari seluruh pelosok Indonesia. Sedangkan dalam sebatang rokok putih hanya mengandung paling banyak tiga jenis tembakau (dikenal dengan American Blend, yang terdiri atas campuran tembakau Virginia, Burley, dan Oriental—biasanya jenis Turkish).  

Agak memprihatinkan belakangan ini industri kretek mengalami kemunduran. Banyak pabrik rokok terkenal mengurangi jumlah karyawan mereka, bahkan sejumlah pabrik rokok kecil sudah sejak 2009 tak berproduksi.   Syukurlah, presiden dan wakil presiden Joko Widodo – Jusuf Kalla, sebelum terpilih, sudah menaruh perhatian kepada nasib industri kretek di Tanah Air. “Mempertahankan industri hasil tembakau, terutama rokok kretek itu penting,” ujar Nurson Wahid, salah satu anggota tim sukses mereka.  

Apalagi, lanjut dia, industri hasil tembakau saat ini sedang menghadapi berbagai ancaman dari sisi regulasi dan persaingan. Regulasi paling pokok, yakni peraturan pemerintah dan paling gawat adalah Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau konvensi pengendalian tembakau.  

Saus Kretek, Ramuan Rahasia

Rasa dalam kretek terbentuk karena ramuan saus yang dijaga kerahasiaannya turun-temurun. Setidaknya ada dua alasan utama mengapa saus menjadi penting buat kretek. Pertama, saus mencirikan karakter rasa dan merek rokok. Saus ditambahkan untuk memperkuat rasa racikan berbagai jenis tembakau di dalamnya, sekaligus sebagai bumbu penyedap, yang mencirikan keunikan setiap kretek.  

Kedua, sebagian besar tembakau kering tak langsung “siap saji” karena tingginya kandungan kadar alkohol. Karena itu, saus dalam hal ini berperan menetralisasi rasa tembakau yang masih kasar, sekaligus menjaga dan menstabilkan konsistensi rasanya.  

Seperti diungkapkan Mark Hanusz, terdapat sekurang-kurangnya 50-100 rasa berbeda dalam saus kretek. Saus dalam kretek mencirikan selera dan kepekaan masyarakat, yakni kegemaran menambahkan perasa dalam sajian. Kegemaran khusus ini sesungguhnya tecermin pula dalam tradisi mengunyah sirih pinang.  

Pada masa awal perkembangan industri kretek, bahan yang digunakan meracik saus terdiri atas esens buah-buahan lokal yang mudah didapat, seperti pisang, nangka, dan kayu manis. Kerahasiaan ramuan saus pada setiap merek kretek dijaga betul, dan untuk melacak bahan penyusun saus bukanlah pekerjaan mudah. Rahasia ini hanya diketahui oleh pemilik perusahaan kretek dan peramu senior di perusahaan itu.  

Dalam selinting kretek terkandung identitas bangsa, yakni kretek bukan sekadar barang konsumsi, tapi juga harus dijaga dan dilestarikan. Seperti dikutip dari laman Komunitaskretek.or.id, banyak upacara adat di berbagai daerah Nusantara yang menggunakan kretek, bersama kopi hitam kental, sebagai seserahan atau sesajen yang diperuntukkan bagi “roh” atau “nenek moyang” sebagai tanda penghormatan teramat tinggi.  

Di Madura, kisah mengenai kretek tak hanya berputar di wilayah kebudayaan, bahkan juga ekonomi. Konon, bunga yang dipakai di kepala seorang putri yang amat cantik, Potre Koneng, jatuh di sepetak lahan. Lahan itu yang sampai sekarang menghasilkan tembakau berkualitas luar biasa. Orang-orang Madura mengenalnya dengan sebutan tembakau Campalok.  

Untuk ukuran komoditas pertanian, tembakau Campalok mencapai harga yang fantastis, sekitar Rp 1 juta per kilogram. Barangkali hanya biji dan bubuk Kopi Luwak yang bisa menyaingi harganya.  

Sumber: MALE Zone by R. Anandita & Paksi Suryo Raharjo, MALE 103

Mobile Advertising

0

AWAL Oktober ini kita dihebohkan oleh rumor tutupnya sejumlah majalah cetak dari kelompok penerbitan besar, dan agaknya itu tanpa bantahan. Tsunami digital memang nyata adanya, kita menyaksikan sendiri proses the end of the print media, cepat atau lambat. Sandyakala media cetak sedang berlangsung, dan perkembangan teknologi memang tidak mengenal kompromi. Beberapa penerbit sudah beralih ke digital, beberapa yang lain mungkin baru memulainya.

Di Indonesia nyaris semua majalah cetak mempunyai versi digitalnya, meski masih banyak yang salah kaprah, teknologinya belum “interaktif”, tidak sesuai dengan platform-nya.  

Ada yang berpendapat, dengan bandwith internet yang masih lelet, sebagian besar masyarakat Indonesia belum bisa menerima media digital. Tapi, perkembangan teknologi sesungguhnya tidak mengenal kompromi – diterima atau tidak, itu urusan lain. Penerbit yang tidak segera go digital, niscaya akan “ketinggalan kereta”.  

Itu sebabnya langkah Kompas Gramedia, misalnya, yang berinvestasi ke Apps Foundry Pte, Ltd, perusahaan yang mengembangkan aplikasi mobile e-reader Scoop, sebesar 3 juta dollar Singapura atau sekitar Rp 23,5 miliar, beberapa waktu yang lalu, cukup masuk akal.  

Kompas Gramedia merupakan perusahaan penerbit multimedia terbesar di Indonesia dengan bisnis yang terus berkembang di media cetak, radio, televisi, dan media digital. Perusahaan ini menangkap potensi dan peluang bisnis di tengah tren konsumsi media digital yang terus meningkat, dengan berinvestasi di Apps Foundry.  

Menurut pendiri sekaligus CEO Apps Foundry, Willson Cuaca, perusahaannya yang didirikan pada 2010 kini memiliki 30 karyawan di Singapura dan Indonesia. Kantor pusat dan divisi penjualan berada di Singapura, sementara divisi pemasaran, desain, dan pengembang aplikasinya berbasis di Jakarta.

Scoop merupakan produk unggulan Apps Foundry yang tersedia untuk perangkat iOS, Android, dan Windows Phone. Aplikasi e-reader sekaligus toko buku online ini memungkinkan pengguna mengunduh berbagai konten digital, mulai dari majalah, surat kabar, sampai buku.  

Scoop sejauh ini telah menjadi pemain besar yang menyediakan layanan e-publishing dan e-reader di Indonesia. Setiap tahunnya Scoop menawarkan 1,8 juta e-publishingdari seluruh dunia. Sebanyak 90 persen pengguna berasal dari Indonesia dengan 80 persen pendapatan dari perangkat iOS.

Aplikasi Scoop telah diunduh lebih dari 650.000 perangkat mobile dan memiliki 210.000 pengguna aktif.   Bagi Scoop saat ini penjualan konten digital, mulai dari majalah, surat kabar, sampai buku – yang dalam bahasa media cetak disebut oplah –, merupakan pendapatan utama. Tapi sesungguhnya ada pendapatan yang lebih menarik, yakni  berasal dari iklan. Iklan?  

Yup, iklan mobilemengacu kepada iklan pada perangkat mobile, yang terdiri dari ponsel dan tablet, atau phablet. Meski pengkategoriannya cuma sub bagian dari iklan online, sesungguhnya potensinya sangat besar dengan populasi, mengutip sebuah laporan internasional,  lebih dari 7 miliar perangkat mobile di seluruh dunia.  

Pretty Boys? I’ll Pass

0

You know a local actress has made it when she appears on the cover of an overseas magazine. Singaporean Pamelyn Chee drew eyeballs this week with a sexy cover photo shoot in Indonesian lifestyle magazine MALE. In an eight-page spread in the weekly, the 31-year-old poses in revealing outfits that show off her curves.  

The cover shoot is part of recent promotional activities for Chee’s HBO Asia mini-series Grace, which will premiere on HBO (StarHub TV Channel 601) on Oct 17 at 10pm. In the four-part horror series, she plays a man’s (Russell Wong) mistress.  

Although Chee had to pose in lingerie for the five-hour photo shoot at Conrad Centennial Hotel in Singapore, she did not feel body-conscious. The candid actress told The New Paper over the phone: “It is whatever it is. If the photos turn out bad, there is always Photoshop. It’s part and parcel of my job of being an actress, I cannot shy away from my body.”  

Chee recalls happy moments from the photo shoot, saying: “The Indonesians love techno, so they played loud techno music during the photo shoot and that made everyone more relaxed. The whole place felt like a disco.”  

This is the first time MALE has put a Singaporean on its cover. In October last year, DJ Tenashar became the first Singaporean to be featured on the cover of Playboy Thailand.  

MALE’s editor-in-chief Burhan Abe said: “Pamelyn is like a new magnet in the entertainment industry in Asia and Male had the privilege to feature her – with her sexy body and cool story.”  

In the magazine, Chee talked about living her dream of being an actress and wanting to act in productions in Indonesia. She also said: “I always like men who are not good-looking and who don’t talk too much.”  

Citing actor Benicio Del Toro as her idea of an attractive man, she added: “Good-looking men are nice to look at but there’s not enough dimension. After a while, it gets boring.”

Mr Burhan added: “Indonesians know Singapore well. I think they want to know more about the entertainment industry in Singapore, so as a Singaporean actress, Pamelyn has a market in Indonesia.”  

And it seems like Chee is set on drawing more attention in the region soon with new projects on hand. The busy actress is wrapping up filming for local director Kelvin Tong’s new English-language horror movie The Faith Of Anna Waters.  

When not filming in Asia, Chee spends her time in the US, shuttling between New York City and Los Angeles and exploring work opportunities in Hollywood. She has been flying solo in the past year after she did not renew her contract with her former agency FLY Entertainment, choosing to take on projects as and when they come.  

She said: “I want to expand my work in the region – China, Indonesia and Malaysia. “Work is everywhere. It is good to explore because with each project, I become a better actor and I gain more experience.” ([email protected])  

Source: http://women.asiaone.com/women/people/pretty-boys-ill-pass

Presiden Jokowi Resmikan Pasaraya Tribute to Batik 2014

0

Pasar Klewer Pindah ke (Pasaraya Blok M) Jakarta

Presiden Terpilih Republik Indonesia, Joko Widodo meresmikan acara Tribute to Batik 2014 yang digelar oleh Pasaraya untuk menyambut Hari Batik Nasional, Kamis, 2 Oktober di Pasaraya Blok M, Jakarta Selatan. Pasar Klewer Pindah ke Jakarta di Pasaraya menjadi tema utama dalam rangkaian acara istimewa yang diselenggarakan oleh Pasaraya sebagai bentuk penghargaan tertinggi untuk karya seni batik Indonesia yang kini telah mendunia.  

Presiden terpilih Republik Indonesia Joko Widodo dalam pidato peresmian perhelatan Pasaraya Tribute to Baik menyampaikan, “Batik adalah sebuah produk industri kreatif indonesia berbasis budaya. Dengan itu diharapkan semuanya bergerak, terutama  industri industri kecil yang lain seperti tenun ikat, sarung goyor, industri bordir, dll. Tetapi memang membutuhkan sentuhan – sentuhan berbagai pihak misalnya perancang, untuk memajukan usaha-usaha kecil atau mikro agar bisa dibawa ke tingkat yang lebih atas. Jika negara hadir disini, saya yakin kita akan mempunyai usaha-usaha kecil atau mikro yang akan tumbuh dengan pesatnya. Saya sangat menghargai apa yang telah dilakukan pak Abdul Latif sebagai Pemimpin Usaha Pasaraya selama ini.”  

Lebih jauh, Jokowi begitu optimis akan kemampuan usaha-usaha kecil di Indonesia yang mempunyai kualitas akan bertumbuhan di masa depan. Jokowi mengharapkan para duta besar di Indonesia tidak lagi hanya melakukan diplomasi politik melainkan mulai mampu melakukan diplomasi dagang, sehingga bisa memperkenalkan, menjual, dan memasarkan produk-produk Usaha Kecil dan Menengah yang ada di desa-desa di Indonesia, sehingga mereka terdorong untuk dapat menghasilkan barang-barang yang berkualitas baik.  

Sementara itu, Medina Latief Harjani, President Director Pasaraya menyampaikan, “Pak Jokowi berkenan hadir dan meresmikan Pasar Klewer di Pasaraya, acara Tribute to Batik menyambut Hari Batik Nasional 2014. Gagasan Pak Jokowi untuk mengembangkan industri kreatif memiliki visi yang begitu tajam dalam konsep dan pengejawantahan ekonomi kerakyatan dan industri kreatif.  Hal ini diyakini akan membuat industri batik akan lebih cepat berkembang.”

Lebih jauh disampaikan, Pasaraya sebagai institusi usaha pertama dan terbesar saat ini telah menginjak usia ke-41 tahun terus mengembangkan usaha barang-barang kerajinan dan industri kecil dari seluruh kepulauan nusantara. 

Pasaraya secara sungguh-sungguh terus mengembangkan usaha industri kecil dan kerajinan sebagai hasil budaya bangsa yang sekarang berkembang menjadi industri kreatif dengan konsep pembinaan berkelanjutan bersama para pengusaha kecil dari seluruh kepulauan di Nusantara.  

Pasar Klewer Solo Pindah ke Jakarta di Pasaraya jadi tema spesial dalam gelaran Pasaraya Tribute to Baik kali ini. Selain dipilih khusus untuk menyambut dan memeriahkan Hari Batik Nasional, tema ini juga menjadi bentuk cerminan kesetiaan penuh Pasaraya yang senapas dengan semboyan ‘Pride of Indonesia’, untuk tanpa henti mencintai, mendukung dan menghargai batik Indonesia yang bernilai seni tinggi. Batik, sebagai bagian dari karya seni dan budaya Indonesia adalah jiwa dari Pasaraya. Medina Latief yakin bahwa peran dan kiprah Pasaraya selama 41 tahun beroperasi telah memberikan sumbangsih penting bagi kemajuan dunia batik Indonesia. Adalah kita bangsa Indonesia yang harus menjadi bagian garda depan pecinta, pemakai dan pemasar produk-produk karya seni budaya sendiri.  

Pasaraya Tribute to Batik 2014 yang bertema Pasar Klewer ini tidak hanya menghadirkan ragam koleksi batik terbaik dari kalangan industri kreatif batik Solo, namun juga dari Yogyakarta, Cirebon, Pekalongan dan Pesisir yang berjumlah lebih dari 80 pedagang batik. Koleksi batik ini juga dapat ditemui di Pusat Batik di venue Batik Nagara, Kendedes, Kampoeng Batik, Radja Batik, Kabaya Kabaya dan Rumainda di Pasaraya Blok M lantai 2 sejak tanggal 27 September hingga 2 November 2014. Selain itu, empat perancang busana terkemuka Indonesia; Chossy Latu, Carmanita, Didit Maulana dan Rinda Salmun ikut memamerkan sejumlah karyanya yang khusus dikreasikan menyambut gelaran spesial ini. Penawaran istimewa diskon harga hingga 50% juga ditawarkan hingga akhir bulan Oktober 2014.  

Perhelatan Pasar Klewer Pindah ke Jakarta di Pasaraya ini juga menghadirkan Semarak Kuliner Kota Batik di Dapuraya Pasaraya lantai lower ground. Festival kuliner ini memberikan kesempatan bagus bagi masyarakat luas untuk menikmati berbagai sajian makanan dan minuman nikmat dari berbagai kota sentra batik seperti Empal Gentong, Reska Cirebon, Tahu Gejrot, Tip Top – Cirebon, Serabi Solo, Wong Solo – Solo, Tempe Mendoan, Angkringan – solo, Lumpia Semarang, Reska –  Semarang, Bakpia Pia, Pathok – Yogya, Burung Dara, Terang Bulan – Yogya, Nasi Jamblang, Ibu Surip – Cirebon, Nasi Lengko, Cirebon – Cirebon, Sate Kere, Cambut Ramba, Tengkleng, Timlo Solo – Ibu Diah – Solo, Mie Kadin – Yogya, Iga Bakar, Sate Kikil, Sate Bebek – Mbah Lamin – Semarang, Nasi Liwet, Gudeg – Yu’ Jimah – Yogya, Tape Bakar Kinca Durian, Tape Bakar Keju Coklat, Tape Bakar Kacang Coklat – Mang Dadang – Cirebon dan Selat Solo, Pecel Nasi, Es Paya, Es Ketan Hitam – Iga Marwani – Solo.

Salmon and Tofu Promotion @ The Sultan Hotel Jakarta

0

Good Health with a Good Food

This October, The Sultan Hotel & Residence Jakarta presents a healthy and different irresistible Salmon dishes in incredible flavours. Fresh 180 gram pan-fried salmon will be plated with cream mustard sauce complemented with boiled potato, asparagus and fresh mix salad. Served by our dedicated culinary team from the heart, this scrumptious Sultan’s Salmon you can taste with only IDR 190,000++ per portion at Lagoon Cafe.

Another healthy yet tempting meal we can offer you is Tofu. Known as bean curd, tofu is a food made by coagulating soy milk and then pressing the resulting curds into soft white blocks. Because we know that one piece of tofu will never be enough, we let you experience the soft bite of it with delicious filling selections, from vegetable, salmon, chicken to beef.        

Not just that, we could provide you various kinds of tofu, such as silken tofu, egg tofu and Tahu Bandung; well-cooked based on guest request: steam or fried. Our Tofu Sensation in October will bring your taste buds back at Lagoon Lounge with only IDR 105,000++ per portion.  

Don’t forget we still have selections of beverages to accompany your dining experience. Dessert Breeze, along with the name, this cocktail will be cooling down the heat. It’s a flawless mix of vodka, ginger ale, fresh pineapple juice and wedge lime with only IDR 105,000++ per glass. Choice of mocktail is Surya Kencana, with only IDR 65,000++ per glass you can taste the combination of fresh papaya, yoghurt, fresh orange juice and honey.  

Fun fact for wine lover, a glass of sweet wine can activate the gustative softly prior to the meal as well as providing an enjoyable feeling after. Take a sip of Vina Ventisquero Quelat Gran Reserva Sauvignon Blanc 2011 & Vina Ventisquero Quelat Gran Reserva Cabernet Sauvignon 2009 at our Lagoon Lounge with only IDR 165.000,++ per bottle, and IDR 135.000,++ per glass.  

For further information (021) 5789 1171 and Lagoon Lounge (021) 5789 1170 or email [email protected].  

Spirits

0

Come join us for an exclusive tasting of the world’s most awarded single malt Scotch.

Itu salah satu ajakan dari Glenfiddich, salah satu merek wiski yang cukup menggoda beberapa waktu yang lalu. Tidak hanya itu, acara dinner party dengan beberapa media secara terbatas itu dipandu langsung oleh Matthew Fergusson-Stewart, sang brand ambassador.

Glenfiddich, meski mempunyai cerita panjang di negeri asalnya, tapi merupakan pendatang baru di industri wiski, juga spirits, di Indonesia. Ada beberapa merek wiski yang lebih populer di sini, di antaranya Chivas Regal dan Jack Daniel. Bahkan dua nama ini belakangan sering mengadakan pesta untuk menyosialisasikan produknya.  

Dalam salah satu event-nya, dalam rangka memperkenalkan seri 25 Years Old, di Jakarta, Bandung dan Surabaya, misalnya, Chivas Regal memasang tema Luxurious Legend. Menurut Regional Mentoring Manager Asia Pasific Chivas Brothers Pernod Ricard Darren Hosie, Chivas Regal 25 Year Old Original merupakan perpaduan langka dan eksklusif dari Scotch whisky terbaik, hanya tersedia sebagai edisi sangat terbatas dalam bentuk botol yang memiliki nomor sendiri.  

Jack Daniel juga punya alasan tersendiri untuk mengklaim minumannya sebagai yang terbaik. Tokoh di balik produk ini ini bukan sekadar master blender atau pencampur minuman yang terbuat dari corn, rye, dan barley, tapi betul-betul pembuat wiski dengan meraciknya sendiri.  

Yang membedakan distilasi Jack Daniel’s dengan penyulingan yang lain adalah adanya proses yang disebut dengan charcoal mellowing, yaitu menggunakan arang. Minuman beralkohol yang sudah jadi diteteskan ke arang tersebut, kemudian dimatangkan lagi dalam barel kayu ek.  

“Proses itu tidak dilakukan oleh bourbon whiskey—ada dua jenis: Kentucky whiskey dan Tennessee whiskey. Jack Daniel’s disebut sebagai Tennessee whiskey, dan proses distilasinya berbeda dengan minuman lain,” Agus Budiono, National Account Manager Brown-Forman, menjelaskan.  

“Proses charcoal mellowing itu juga untuk smoothness dan Jack Daniel selalu menggunakan barel baru untuk proses pematangan wiski. Barel tersebut pun diproduksi sendiri,” tambah Irene Inonu, Marketing Manager Brown-Forman, perusahaan asal Amerika yang bergerak di bidang spirits dan wine, salah satunya JD, pada perayaan 164 tahun Jack Daniel’s di Exodus Club, pertengahan September 2014.  

Tidak seperti Scotch whiskey, JD tidak mencantumkan usia di botol kemasannya. Mengapa? “Sebab, umur tidak menandakan mature, dan tingkat kedewasaan Jack Daniel’s didapat dari barel, karena kami selalu menggunakan barel baru. Maka Jack Daniel’s tidak pernah mencantumkan tahun di botol kemasan. Karena kami percaya, wiski Jack Daniel’s akan matang, walaupun berada di dalam barel,” ucap Vincent Pantow, General Manager Brown-Forman.