Home Blog Page 81

Rhenald Kasali: Camera Branding

0

Rhenald Kasali kembali meluncurkan buku, kali ini berjudul “Camera Branding: Cameragenic vs. Auragenic”.  

Sekarang adalah peradaban kamera, di mana setiap orang memiliki kamera (termasuk kamera ponsel) dan membentuk brand-nya. Lewat bukunya, Rhenald Kasali, founder Rumah Perubahan, dengan jeli mengangkat fenomena ini.  

Buku ini merupakan kajian terhadap perilaku selebriti, baik di panggung hiburan bisnis, maupun politik dan birokrasi dalam peradaban kamera ini.

Kajian terhadap sekitar 1.200 berita televisi (news, infotaiment, dan bisnis) ini dipadukan dengan respons publik di social media dalam 5 tahun terakhir (2007-2013) dengan mengamati secara langsung perilaku konsumen (pemirsa, pengosumsi) dan tokoh-tokoh publik (gubernur, politisi, birokrat, CEO, dan artis).  

Beberapa poin menarik dari buku ini adalah:  

  1. Dari Cameragenic menjadi Auragenic. Timbul kesadaran bahwa penampilan fisik sudah bukan lagi hal yang menentukan pilihan. Resonansi sosial melalu “interactivity” antara netizen memunculkan apa yang disebut dalam buku ini sebagai “auragenic” itu
  2. Auragenic tak dapat “dibaca” kalau sebuah brand terdiam atau terkontrol of script yang tak bisa diajak berkomunikasi. Social TV meyakinkan khalayak berinteraksi dengan brand (old brand, struggle brand, ataupun future brand). Reaksi-reaksi sesaat memunculkan aura yang ditangkap melalui panca indera khalayak.
  3. Di depan kamera tak ada gesture dan content yang jujur kecuali candid/hidden camera. Bahasa camera Cinta Laura, keaktoran para politisi, atau penampilan fisik selebriti – semua tidak genuine. Sehingga timbul kerinduan terhadap authentics, autentisitas atau sesuatu yang genuine, jujur, prososial atau bahkan altuism.
  4. Jokowi – Ahok adalah simbol authentics yang dirindukan masyarakat  karena memiliki auragenic yang kuat dan geneuine.
  5. Brand-brand tua dalam bisnis dengan cepat memanggil momentum. Coca cola dengan  tall vending machine – 2 cokes for oneadalah contoh penerapan Camera Branding.
  6. Camera Branding dapat digunakan untuk brand rejuvenite (peremajaan brand-brand tua) dengan menghidupkan aura brand, dan dapat mempercepat kelahiran brand-brand UKM tanpa biaya besar (seperti Dian Pelangi, Trijapreneur, dan lain-lain).
  7. Camera Banding melahirkan kekuatan bagi pejuang-pejuang sosial dalam karya-karya perubahan sosial (seperti pada ketokohan Haji Idin-Sanggrabuana dan Masril Koto – Komunitas Bank Tani).
  8. Camera Branding dapat membentuk perilaku “evil” dengan membandingkan tokoh-tokoh dan perilaku kontroversial (violence, mutilasi, korupsi, petualang-petualang wirausaha, dan seterusnya.)
  9. Tetapi Camera Branding dapat mentransformasi perilaku-perilaku buruk tersebut menjadi perilaku prososial dengan memunculkan (baca: mem-branding-kan heroism). Camera Branding Effect ini misalnya terjadi pada Een Sukaesih yang lumpuh seluruh badannya namun menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk mengajar. Ia menerima Liputan 6 Award, lalu diterima presiden di Istana, dan menjadi pembicara di social media. (Banality of Heroism as counterpoint to the Banality of Evil. Ordinary people do heroic deeds).
  10. Camera Branding akan menjadi fenomena penting dalam marketing, social transformation, politik, pembentukan karakter dan bisnis di era baru Indonesia.

Sebagai media massa yang paling berpengaruh, televisi tentu menjadi suatu ‘fasilitas’ yang kemudian dimanfaatkan oleh banyak orang, termasuk yang berkepentingan. Melalui daya pengaruhnya yang kuat, pemirsa televisi tentu akan langsung mengetahui siapakah tokoh utama televisi pada situasi tertentu. (*)

Alamat Palsu

0

KESASAR ke alamat palsu bukan monopoli Ayu Ting Ting saja, di dunia internet bayak sekali link yang ngaco. Majalah MALE, misalnya, yang belum genap setahun terbit di ranah majalah digital Indonesia, sudah banyak pemalsunya.  

Namun, seperti pepatah bilang, semakin tinggi pohon menjulang – MALE sudah diunduh seidikitnya 400.000 orang per edisi, bahkan beberapa edisi tertentu sudah tembus 600.000 downloaders –, semakin kencang angin menerpa. Artinya, semakin tinggi ada di suatu kedudukan, semakin banyak rintangannya.  

Banyak pihak, yang pastinya dengan sengaja, telah membajak konten MALE secara tidak bertanggung jawab. Baik itu dari sisi konten (teks, foto, dan video), yang kemudian ditaruh di web yang seolah-olah situs resmi MALE, blog, dan media sosial. Para pembajak tersebut membuat akun abal-abal di Twitter, yang mampu menggaet banyak follower, juga Facebook yang di fun page-nya bisa menarik orang me-like secara signifikan.    

Yang lebih mengerikan, selain memasang foto hasil bajakan, mereka juga memasukkan foto-foto vulgar yang bukan punya MALE, dan mereka menaruh logo MALE di halaman tersebut. Alhasil, banyak orang yang berasumsi bahwa foto-foto syur itu merupakan produksi dari MALE.  

Tentu, semua itu sangat merugikan MALE sebagai publisher. Tak terkecuali dengan stakeholders secara lebih luas, baik pembaca, pengiklan, maupun nara sumber, yang tentu akan resisten terhadap majalah ini. Di kalangan model dan artis juga ada kesalahpahaman, mereka beranggapan kalau tampil MALE harus vulgar.  

Kami tidak menutup mata bahwa di dunia online hal seperti ini memang lumrah. Tapi publisher MALE sendiri tentu melakukan tindakan preventif, dengan melaporkan ke pada “yang berwajib” di dunia online, seperti pengelola Google, Facebook, Twitter, dan lain sebagainya. Selain itu, juga tidak segan-segan memperkarakan para pembajak itu ke ranah hukum.  

Agar tidak salah alamat, inilah homepage resmi MALE: http://male.detik.com, Facebook: MALE Magazine, dan Twitter @MaleMagazine. (Burhan Abe)

Anantara: A Destination Experience

0

In the dynamic climate of today’s world, traveling to remote places for relaxation and rejuvenation has become an indulgence – if not necessity – shared by many. It’s not an easy task, however, to find a destination that will not only transport you away from the hectic pace of everyday life but captivate your senses and restore your spirit. And this was the inspiration for creating Anantara Resorts.  

‘Anantara’ is derived from the Sanskrit word meaning “borderless water”, and the resorts encapsulate the excitement of discovery and exploration that comes with entering new territory. Anantara Resorts offer an experience to guests unlike any other, one that couples serenity with exoticism and state-of-the-art convenience with indigenous charm. An experience that celebrates the destination – in all its natural beauty and cultural allure.

Creating a “destination experience” is at the core of the Anantara philosophy and one that the brand takes seriously. Anantara strives to go beyond guest’s expectations, not simply to meet them. The Anantara team is passionate about constantly anticipating and assessing every component of the resort experience in order to ensure that the guests are inspired and also – most importantly – entirely at ease.  

This value is reflected in Anantara’s commitment to harmoniously blend with the local environment, whether that be in the verdant mountains of the Golden Triangle, the pristine beaches of Samui Island or the majestic seaside air of Hua Hin. Each of the resorts in these settings has been designed by renowned landscape expert Bill Bensley, who has the rare ability to capture the individual soul and culture of every locale in which he works.  

All Anantara resorts offer peerless, unobtrusive service, spa pampering and a range of adventure activities associated with the location. For example, at Anantara Resort Golden Triangle, guests can interact with elephants that have been rescued from the city streets and even learn how to “drive” an elephant like the local caregivers! This experience is in the heart of Thailand’s northern hill-tribe country; where the countries of Myanmar, Laos and Thailand converge. Such an exotic encounter could not be experienced anywhere else.  

One of the Anantara family’s more recent additions is in the exquisite Maldives. Positioned on a 5-acre plot in the South Male Atoll, Anantara Resort Maldives is an unspoiled haven for relaxation. The resort features 68 beachfront villas, 2 deluxe beachfront pool villas, 38 deluxe over water suites and 2 deluxe over-water pool suites all set around a natural, private lagoon.  

The resort was designed by talented Maldivian architect Mohamed Shafeeg and interior designer John Lightbody of Abacus fame. It is a design where the contemporary seamlessly blends with the natural surrounds. Every detail has been meticulously thought through, from the glass viewing panel in the bathroom to the i-Pod docking stations – stocked with songs for every mood – to the exclusive wine cellar for two.  

Sheraton’s 24-Hour Toast Around the World

0

Sheraton Bali Kuta Resort memperkenalkan program Sunset Gatherings, yang memberikan pengalaman unik kepada tamunya untuk berkuliner ria sambil menikmati sunset di pantai Kuta yang dramatik. Yang juga menarik, makanan yang tersaji, canapés, dibarengi dengan minuman wine, yang merupakan wine premium standar Sheraton yang juga disajikan di seluruh dunia.   

Untuk mengawali program ini, Sheraton Bali Kuta Resort, menggelar acara yang disebut acara yang disebut sebagai “Toast Around the World” 24 jam, yang berlangsung 17.00-19.00 WIT, yang diselingi dengan live music, 15 Mei 2013.  

Acara ini dimulai di Asia dengan mengambil tempat di Sheraton Hong Kong Hotel & Towers dan Sheraton Shanghai Pudong Hotel. Perayaan diteruskan secara virtual, mulai Sheraton Bali Kuta Resort, Royal Orchid Sheraton Hotel & Towers, Bangkok; Sheraton Bangalore Hotel at Brigade Gateway di seluruh dunia hingga The Sheraton New York Times Square, serta berakhir di The Sheraton Waikiki.  

Yang diundang di acara ini adalah para tamu hotel serta para undangan, sekaligus menandai sosialiasi platform baru di dunia maya yang disebut Social Hour, yakni Sheraton.com/socialhour, di mana mereka dapat menelusuri atau pun men-share informasi yang berkaitan dengan topik tersebut dengan menggunakan #SheratonToast.   

“Kami terus mencari cara untuk memberikan pengalaman baru kepada para tamu, berikut interaksi sosialnya. Kami bangga dan percaya Social Hour menjadi program yang menarik, baik bagi tamu bisnis maupun leisure,” kata Vincent Ong, Asia Pacific Senior Brand Director, Sheraton, Westin, Aloft, Four Points by Sheraton and Element.

Sheraton Bali Kuta Resort Unveils Spectacular Design Details

0

New Beachfront Resort Redefines the Kuta Experience and Delights Guests with Exceptional Architecture and Interior Design

Sheraton Bali Kuta Resort, a new beachfront resort that opened on December 1, is pleased to unveil the details of its contemporary and Balinese inspired design. The new resort, which has already transformed the Kuta experience, sits on a total area of 5.2 hectares of development and is located directly in the heart of Kuta beach, one of world’s most renowned surfing destinations.

The resort offers an exclusive retreat, featuring spacious open-air terraces, lush gardens of local flowers, and an outdoor rooftop pool with unrivalled panoramic views of the ocean. Showcasing architecture by the distinguished firm of Enviro Tec, Sheraton Bali Kuta Resort is destined to become an architectural landmark while setting new standards for approachable luxury and extraordinary service in Bali.  

“We are pleased to welcome guests to experience memorable stays at Sheraton Bali Kuta Resort, the new gateway to all that Bali has to offer,” said Dario Orsini, general manager. “From the Balinese-inspired architecture to the exquisite interiors and remarkable service, Sheraton Bali Kuta Resort is designed to exceed expectations and create new benchmarks for hospitality, design, and culinary offerings in the region.”  

Constructed by the renowned architecture firm Enviro Tec, Sheraton Bali Kuta Resort is inspired by the design of Bali’s beautiful rice paddy fields. The resort’s open-air concept and elevated position on the island provide amazing ocean and beach views, presenting guests with breathtaking sights of Kuta. Enviro Tec has designed many signature projects over the past two decades, which have brought forth fresh and evocative ideas that test the canons of architectural representation.

Additionally, the firm explores responsible design and construction for the creation of an optimal built environment, which is showcased at Sheraton Bali Kuta Resort with the use of recycled wood and water.  

The resort’s breathtaking interiors were primarily designed by FBEye, an exemplary interior design firm based in Singapore boasting a diverse portfolio of luxurious hotels, unique destination resorts, celebrity restaurants, signature spas, grand private residences and mega yachts and feedships.  FBEye has worked with leading developers and operators in hospitality such as Starwood Hotels and Resorts, Intercontinental Hotels Group, Shangri-La Hotels and Resorts and Four Seasons Hotels and Resorts.  

A2j, a well-known interior design firm led by Adelinah Chandra Rahardja and specializing in hospitality, restaurant, residential, office, and retail design, also contributed to Sheraton Bali Kuta Resort’s design. Some of the firm’s noteworthy projects include Ibis Balikpapan, Thai Alley at Pacific Place Jakarta, Untitled at JW Marriott Jakarta, Veranda Walk at Ciputra World Surabaya, and The Via and The Vue Apartments. 

A2j drew inspiration for the design of Sheraton Bali Kuta Resort from the famous and beautiful Kuta Beach and the incredible sunset views seen from the resort.  A resort unlike any other in the region, its design incorporates traditional Balinese pattern and details to enhance the ambiance and reflect the destination.  

Toast Around the World

Dear Mr Burhan Abe (Blogger and Chief Editor of MALE Magazine),  

Warmest Greetings from Starwood Bali Resorts Collection!    

On behalf of Starwood Hotels & Resorts Worldwide, Inc. (NYSE:HOT), we would like to invite you or your team to share a beautiful sunset of Kuta beach with at the newly opened Sheraton Bali Kuta Resort. The media familiarization trip will take place from Tuesday – Thursday, 14 – 16 May 2013.  

Embark on a three-day-two night journey with Sheraton Bali Kuta Resort from surfing on Bali’s well known gentle waves, to experiencing the newly opened beachwalk lifestyle center or walk along Kuta’s nightlife attraction, as well as exclusive invite to join us on 15 May for a Social Hour “Toast Around the World” to celebrate the program’s global roll-out to nearly 400 hotels.  

Kuta – a former fishing village with a long broad Indian Ocean beach-front, Kuta was originally discovered by tourists as a surfing paradise. Kuta is also the unofficial downtown of Bali, with endless nightlife activities and bars or restaurants along the area remains active even past midnight.  

Join us at the world’s best gathering spot and share the New Kuta Experience through your discovery of surf, shop and sip. Enclosed with this letter is an invitation to TOAST AROUND THE WORLD. Your flights and accommodation inclusive of meals will be sponsored by Starwood, while the final itinerary will follow upon your confirmation.  

Looking forward to your favorable confirmation of participation and we hope to see you soon!  

Angga Adhitya Syailendra, Assistant Manager, Public Relations & Partnership Sheraton Bali Kuta Resort – Bali Resorts Collection

Digital Life: Do or Die!

0

DIGITALISASI, tak pelak lagi, telah mewarnai kehidupan sehari-hari kita. Koneksi internet kini sudah sudah menjadi kebutuhan primer. Fasilitas komunikasi antar personal dapat dilakukan dengan berbagai cara dan dengan biaya yang jauh lebih murah di era sebelumnya tentunya. Digital Life: Do or Die! Itulah topik yang ditulis MALE dalam Male Zone edisi 28.

Internet semula adalah komunikasi nirkabel yang dikembangkan pada tahun 1950-an. Penelitian ini merupakan awal pemikiran mengenai bagaimana sebuah pesan dapat terkirim dari sebuah komputer ke komputer lain. Tadinya menggunakan jaringan ARPANet, kemudian pada 1980-an standarisasi tentang Internet Protocol Suite (TCP/IP) diperkenalkan.  

Tahun 1995, internet berkembang menjadi salah satu layanan komersial. Seperti virus, internet kemudian berpengaruh terhadap industri-industri yang berkaitan dengan teknologi digital. Mulai dari industri telekomunikasi, musik, hingga media.  

Di industri media, gebrakan paling mengejutkan adalah ketika media internasional seperti Newsweek menghentikan edisi cetaknya dan berganti sepenuhnya ke digital akhir 2012. Yup, mengubah platform cetak menjadi digital adalah sebuah keniscayaan.

Banyak media cetak yang memutuskan untuk berubah menjadi digital, sementara yang mencoba bertahan di platform lama kini biasanya dalam posisi yang sulit – oplah yang terus merosot, sementara banyak biro iklan yang mulai mengalihkan dananya ke digital.  

Media digital adalah media masa kini yang mengiringi lahirnya PC tablet. Josh Gordon, dalam ‘The Case For Advertising in Interactive Digital Media’, menyebutkan ada dua jenis media digital.

Pertama, media yang hanya mengalami perubahan bentuk dari media cetak menjadi digital dengan konten yang sama. Kedua, media digital interaktif seperti majalah yang sedang Anda baca saat ini. Perbedaan akan sangat kentara terlihat pada format, platform, jenis iklan, layout serta masih banyak yang lainnya.  

Kalau membeli edisi cetak kita harus ke toko buku atau lapak, kalau media digital cukup browsing saja, ada beberapa news stand yang ada di tablet. Sebut saja Newsstand, Zinio, Kindle, Press Reader, Barnes & Noble, dan lain-lain.

Sementara di Indonesia ada Wayang Force dan Scoop, serta beberapa publisher besar yang mempunyai lapak digitalnya sendiri. Saat ini tidak hanya Apple melalui iPad, atau Android melalui tablet yang lain, tapi operating system seperti Windows 8 pun telah menyediakan fitur untuk pencarian majalah digital yang telah terklasifikasikan sesuai dengan jenis medianya.  

Memang, media digital, terutama yang interaktif, di Indonesia termasuk spesies baru. Tapi perubahan platform ini merupakan tsunami, yang gelombangnya terasa ke seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu, digital interactive magazine MALE hadir untuk menjadi bagian dari masa depan media digital di Indonesia. (Burhan Abe)  

Luxury Products in Digital Format

0

SEBUAH perusahaan global yang memegang merek-merek ternama saat ini sedang melakukan penelitian untuk luxury products di Indonesia. Kebetulan saya menjadi salah satu responden yang mereka wawancarai. Mereka ingin tahu, benarkah pembaca di Indonesia mulai bergeser dari medium cetak ke online atau digital – yang tentu berkaitan erat dengan strategi mereka dalam mengiklankan produknya kelak.  

Yup, di negara-negara maju, beriklan secara online telah menjadi tren saat ini. Kecenderungan itu hanya menunggu waktu untuk sampai ke negara-negara berkembang, sebutlah Indonesia. Apalagi berbagai fakta menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia semakin meningkat, dua per tiga penduduk Indonesia sudah online. Tren iklan online atau digital pun otomatis ikut terkerek naik.  

Yang tidak bisa disangkal, arus digital saat ini semakin deras. Artinya, ada pergeseran pola baca dari cetak ke digital, yang ujung-ujungnya juga mengubah peta perduitannya. Sangat mungkin para pemasang iklan mulai mulai memindahkan bujetnya dari cetak ke online.  

Jika dikaitkan dengan survei di atas, saya berpendapat bahwa beralihnya media cetak ke onlineatau digital adalah sebuah keniscayaan. Sebab, untuk mencari informasi seputar brand atau luxury products pun sekarang sudah banyak dilakukan secara online. Selain searching via internet, mengonsumsi media dalam format digital menjadi pilihan yang menyenangkan saat ini.  

Artikel “Non-News is Good News” di The Economist mengulas bagaimana industri media sedang mengalami transformasi. Para penerbit sekarang seperti sedang menghadapi badai yang siap meratakan bisnis mereka. Bukan hanya kecenderungan portal news yang berubah menjadi majalah – paling tidak portal besar harus mulai menyediakan artikel-artikel non news –,  tapi di era digital memungkinkan muncul pemain-pemain baru dalam jumlah yang lebih banyak, tidak hanya penerbit besar saja.  

Kembali ke tren digital, setelah surat kabar tergusur oleh online, majalah cetak pun siap-siap berakhir di tablet. Di tablet, seperti yang bisa Anda lihat di MALE, majalah dalam format digital bisa lebih interaktif. Artikel dan luxury products  tidak hanya tampil dalam bentuk tulisan dan foto (seperti dalam format  konvensional), tapi juga memungkinkan adanya penambahan video dan interactive toolslainnya dalam berbagai kreativitas.  (Burhan Abe)

Digital Lifestyle

0

TULISAN saya “Tsunami Digital” di Editor’s Note MALE edisi 17, membuat penasaran seorang teman dengan melakukan riset kecil-kecilan. Hasilnya, penjualan beberapa produk majalah yang katanya laris-manis di beberapa lapak di lokasi strategis Jakarta ternyata rata-rata 5-8 eksemplar per edisi.  

Data yang lebih mengejutkan datang dari seorang teman yang lain, salah seorang petinggi sebuah penerbitan majalah cetak yang cukup populer. Dibanding dengan masa jaya-jayanya, katanya, pendapatan dari oplah saat ini sudah terpangkas tinggal 20 persen.  

Fakta di atas mungkin saja tidak mewakili sepenuhnya apa yang sedang terjadi di media penerbitan cetak saat ini. Tapi yang tidak bisa dimungkiri, digitalisasi bidang penerbitan sudah tidak terbendung lagi.  

Era digital ditandai dengan adanya peralihan dari industri tradisional ke industri digital. Teknologi tinggi seperti komputer memiliki pengaruh dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Hadirnya komputer ke dalam kehidupan sehari-hari, membuat kita bisa mengakses informasi secara online dengan mudah, cepat, dan murah.  

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia mengungkapkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia tahun 2012 tercatat 63 juta orang atau 24,23 persen dari total populasi negara ini. Tahun ini, angka tersebut diprediksi naik sekitar 30 persen menjadi 82 juta pengguna dan terus tumbuh menjadi 107 juta pada 2014 dan 139 juta atau 50 persen total populasi pada 2015.  

Setelah era komputer – baik desktop maupun laptop, ponsel dan tablet PC agaknya ikut meramaikan gaya hidup digital. Tablet, misalnya, pemakaiannya tidak sekadar untuk berinternet ria, melainkan sudah dioptimalkan sebagai penunjang gaya hidup. Perubahan ini tak lepas dari fungsi tablet sendiri yang memberikan kemudahan dan kenyamanan, baik dari sisi teknologi, fitur, maupun dukungan aplikasi. Mulai dari game, komik, buku online, hingga majalah digital seperti MALE.  

Populasi tablet di Indonesia hingga akhir 2012 sudah menembus 1 juta pengguna. Memang masih kecil dibanding Amerika Serikat yang sudah mencapai 28 juta pemakai. Namun, seorang pengamat memperkirakan, penggunaan tablet secara global akan tumbuh 30 persen. Hal ini didukung oleh perkembangan mobile broadband, 3G dan WiFi, yang bisa memacu pertumbuhan tablet sebesar 80 persen hingga 2016. Bahkan Teguh Prasetya, penggagas Indonesian Cloud Forum bahkan yakin, “Jumlah tablet di Indonesia bakal melampaui perangkat smartphone.”  

Teknologi memang membawa babak baru bagi peradaban manusia. Daya jangkaunya yang luas membuat interaksi manusia dalam dimensi ruang dan waktu semakin tak terbatas. Perubahan gaya hidup manusia dari waktu ke waktu memang sebuah keniscayaan – tak terkecuali di era dunia yang semakin digital. (Burhan Abe)

Kong’s Cuisine dari Qufu, The Home of Confucius

0

PECINTA kuliner Cina pasti tidak adan melewatkan kesempatan ini. Shangri-La Hotel, Jakarta menawarkan hidangan khas Qufu yang terkenal dengan sebutan Kong Family Cuisine, 19 – 25 Maret 2013 di Shang Palace. Dengan gaya yang unik, hidangan-hidangan dari keluarga Kong menampilkan presentasi yang kreatif dari bahan makanan yang dikombinasikan dengan mahir yang mengekspresikan empat elemen penting dalam seni memasak Cina: warna, aroma, rasa dan tekstur.  

Shangri-La Hotels and Resorts menampilkan Kong Family Cuisine di enam hotel pada Januari hingga Maret untuk merayakan pembukaan Shangri-La Hotel, Qufu di bulan Maret. Qufu, yang berlokasi di propinsi Shandong di daratan Cina, merupakan tempat kelahiran filsuf ternama Cina yaitu Confucius.

Filosofi dari Confucius telah tersebar dari waktu ke waktu, dan melalui keturunannya, keluarga Kong, hidangan khas Qufu juga berkembang. Hidangan yang merupakan kombinasi dari metode Lu di daerah Shandong dan hidangan Su dari Cina Selatan disiapkan dengan perhatian ekstra terhadap bahan, penampilan, rasa dan bentuk.   

Menu dari Kong Family Cuisine di Shangri-La Hotel, Jakarta akan menampilkan 25 menu à la carte termasuk serangkaian hidangan yang disajikan dingin dan hangat, sup dan hidangan pencuci mulut. Set menu banquet tersedia dengan pilihan enam, delapan atau sepuluh orang dalam satu meja.

Untuk menyiapkan hidangan-hidangan istimewa ini, lima chef dari Lu dan tim penyaji dari Shangri-La Hotel, Qufu akan datang ke Jakarta sebelum pembukaan hotel.   

Menu Kong Family Cuisine mencakup tradisi dengan beragam masakan seperti Kong Mansion’s “Six Art” Cold Appetisers (spiced beef shanks; sea whelk jelly salad; scallops and lettuce salad; jelly fish salad; spiced duck tongues; and baby celery with sesame and olive oil), Lu Wall’s Hidden Collection (prawn roll wrapped in crispy vermicelli) dan hidangan-hidangan yang diberi nama dengan penuh harapan, seperti Wisdom Frees Perplexity (braised pork ribs stuffed with spring onion stalk) dan Confucius “Four Supreme Bowls” – Fortune, Prosperity, Longevity and Happiness (braised chicken, braised fish, braised pork and meat roll of minced chicken breast and prawns wrapped with seaweed).  

Shangri-La Hotel, Qufu akan dibuka pada awal tahun 2013 di kota kelahiran Confucius yang penuh sejarah dan budaya. Hotel ini memiliki lokasi yang dekat dengan Temple of Confucius – sebuah warisan budaya dunia yang telah diakui oleh UNESCO – yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki dan juga stasiun kereta dengan kecepatan tinggi Qufu yang dapat dicapai dengan 20 menit berkendara.   

Kamar hotel memiliki pemandangan yang menghadap ke taman yang memiliki gaya Cina tradisional dan juga menghadap ke kota tua. Shangri-La Hotel, Qufu memiliki kamar dengan ukuran terbesar di kota tersebut.

Untuk pilihan kuliner dan hiburan, Shangri-La Hotel, Qufu memiliki Café Kong yang menghidangkan hidangan internasional, Shang Palace yang menyajikan hidangan otentik khas Canton dan hidangan keluarga Kong, the Lobby Lounge dan juga sebuah bar.

Properti yang luas ini juga memiliki spa, kolam renang, fasilitas kebugaran dan juga menawarkan area meeting terbesar di kota, termasuk sebuah Grand Ballroom yang tidak memiliki pilar seluas 1,600 meter persegi dan sebuah Confucius Cultural Centre.  

Untuk menikmati hidangan Kong Family Cuisine dari Qufu di Shangri-La Hotel, Jakarta silahkan hubungi (62 21) 2939 9562 atau akses di www.platinumclubjakarta.com.