Home Blog Page 80

Digital Extras

0

MAJALAH digital interaktif, meski tergolong baru, ternyata cepat menarik perhatian. Berbagai studi menunjukkan bahwa platform baru ini mempunyai berbagai kelebihan, baik dari sisi pembaca maupun pengiklan, jika dibandingkan dengan media yang lain. Setidaknya itulah kesimpulan yang diperoleh Josh Gordon, pendiri Smarter Media Sales, dalam sebuah survei yang bertajuk The Case of Advertising in Interactive Digital Magazines.  

Survei ini melibatkan 5.612 kuesioner yang diambil dari pelanggan majalah-majalah digital: Grand, HipCompass Escapes, HorseLink, Outside Go!, PopSci Genius Guide, Premier Guitar, VIVmag, dan Winding Road. Sponsor survei ini adalah Nxtbook Media and VIVmag dari kelompok publisher Zinio.   Menurut survei tersebut, 70 persen pembaca tidak merasa terganggu dengan adanya iklan yang muncul di majalah digital interaktif ketimbang di website. Selebihnya, 30 persen masih menerima gangguan iklan display di website.  

Jika website menghasilkan lebih banyak impressions, maka edisi digital memberikan pembaca sebuah pengalaman yang menarik. Julian Lloyd Evans, managing director periklanan Dennis Publishing (juga publisher majalah online Monkey) menuturkan bahwa secara rata-rata, majalah interaktif dilihat pembaca sekitar 20-30 menit, sementara iklan di website dilirik pembaca tak lebih dari 8-9 menit.  

Sebanyak 71 persen responden mengatakan bahwa iklan di edisi digital mempunyai tingkat gangguan yang lebih sedikit ketimbang di website – bahkan 79 persen mengatakan iklan di media digital lebih kredibel.  

 Lebih rinci tentang iklan display di majalah digital jika dibandingkan dengan iklan banner di website, sebagian besar mengatakan: sedikit gangguan (71%), mudah dibaca (80%), lebih otoritatif (78%), lebih kredibel (79%), lebih dipercaya (79%), lebih menarik (82%), dan lebih informatif (81%).  

Survei tersebut juga mendapatkan bahwa responden iklan di majalah digital lebih menarik dan helpful dibanding di media elektronik yang lain, yakni: majalah digital (63,2%), televisi (53,8%), radio (34,8%), email (22,4%), email newsletters (20,6%), website banner ads (16,4%), website pop-up ads (2,3%), dan ponsel (1,9%).  

Menurut survei tersebut, 82 persen responden mengatakan bahwa lebih menarik membaca di majalah digital ketimbang di halaman website dengan konten yang sama. Secara keseluruhan, pembaca memilih majalah digital di atas website, karena bisa mengeksplorasi digital extras, seperti video, foto yang lebih banyak, slide shows, audio, dan flash animation. Bagaimana dengan Anda? (Burhan Abe)

Rasa Restaurant

0

International Cuisine and Authentic Asian Specialties

InterContinental Jakarta MidPlaza is delighted to unveil its new restaurant following the completion of an aesthetic refurbishment project. This was carried out over the course of several months to minimize guest disturbance. The newly renamed Rasa, which means taste in the Indonesian language, replaces Java as the hotel’s all-day dining restaurant. It is a contemporary space featuring elaborate columns and artistic wall panels in a refreshing interpretation of local design. Stylish seating options extend out to a terraced environment with relaxing views over the swimming pool.  

Mr. Rommy Ardian, the owner of Kalandara Design Studio is the architect responsible for designing Rasa Restaurant’s decor. With a modern, simple, clean and luxury concept, the restaurant is influenced by traditional Javanese touches seen in the lattice panel, in which Javanese Batik patterns are adopted as well as from carvings incorporated in the columns which are taken from Indonesian traditional architecture.   Most of the material used in the restaurant is from Sungkai wood. The large reception table is crafted and designed using recycled wood while inside the family sized long wooden table features custom glass color bullets enhancing its overall design.  

Rasa incorporates an open-plan kitchen with live cooking stations for a greater interaction between guests and our team of creative chefs. An island kitchen, as central focus point of the restaurant, was created using white marble elements.  

As the Executive Chef for InterContinental Jakarta Midplaza, Chef Gary Palm has gone above and beyond by creating a menu that is focused on using only fresh ingredients which are prepared a la minute by his talented culinary staff. Among his favorites, Chef Gary and his team recommend Rasa duck tacos, Lontong kari ayam, Sanma with garlic bulbs, red chilli and corriander, BBQ wagyu beef InterContinental and last but not least a warm triple chocolate brownie.  

Rasa restaurant is defined by its daily buffet of international cuisine and authentic Asian specialties displayed with a modern twist. There is a distinct emphasis on market-fresh ingredients, seasonal delicacies and themed dining events in accordance to the holiday calendar. The menu has anticipated the various culinary preferences from its International guests with dishes cooked to order from a hot wok, open grill and tandoor oven. A Japanese counter prepares sushi, sashimi and other bite-sized luxuries. Local cuisine is highlighted with favourite dishes from around the Indonesian archipelago.  

Buffet selections are rotated on a regular basis and on any given day guests can expect food items from the West as well as India, China, South East Asia and beyond. High-end meats and seafood choices include wagyu beef, lamb chops, veal, red snapper, salmon, seabass and more. All this is complemented by separate stations for fresh juices, appetizers, soups, homebaked breads, croissants along with a separate salad as well as dessert bars. The knowledgeable service staff guides the guests through the buffet and assists the guests with their choices.  

In addition to Rasa, the Pool Bar has also been given a brand new look and this laid-back outdoor area comes to life as a family-friendly extension of Rasa restaurant hosting a lavish BBQ, part of Rasa’s famous dinners as well as Sunday brunch. Guests are welcome to come and join a fun party ambience by the pool with summer-inspired cocktails and upbeat lounge music. Appetites are satisfied with a high quality selection of assorted meats and seafood specialties grilled to perfection accompanied by simple salads and sweet treats.  

A special international pool menu was created among which both the InterContinental club sandwich as well as 10.5 oz Dallas Wagyu beef burger are favorites and not to be missed.   The Pool Bar also provides an alternative spot for nightly events during the week and is the perfect setting for informal corporate gatherings of a social kind. Meeting delegates can unwind in comfort at the end of the business day over casual drinks and a BBQ by the pool.  

“This refurbishment represents an exciting new era at InterContinental Jakarta MidPlaza and elevates our range of culinary services. Rasa has adopted a market-fresh approach to all-day dining with an impressive selection of dishes that transcend cultural boundaries. And families will certainly enjoy their weekends now more than ever at the Pool Bar. The hotel proudly caters to the needs of everyone from in-house guests and apartment residents to business executives, city socialites and parents with children,” says General Manager, Mr. Hendrik Eising.

Idul Fitri 1434 H

0

To err is human. To forgive, divine. – Alexander Pope.

Itulah salah satu brodcast yang masuk ke BlackBerry saya sehubungan dengan datangnya Idul Fitri 1434 H. Sangat indah dan puitis.  

Memang, menjelang Lebaran dan beberapa hari sesudahnya tentu, banyak BBM ucapan Idul Fitri disertai dengan permohonan maaf lahir dan batin. Tak sedikit  yang puitis, tapi banyak juga yang lucu. Baik kreasi sendiri maupun copas (copy & paste) dari orang lain.  

Tapi apa pun, sungguh sangat menyenangkan bisa terkoneksi dengan sanak, saudara, teman, atau kolega via mobile technology. Beranjangsana dan bersilaturahmi memang tidak selalu bertemu langsung secara fisik. Keberadaan ponsel dan komputer – terutama via media sosial, justru semakin memperkuat konektivitas antar manusia tanpa ada halangan jarak dan waktu.  

Tapi yang jelas, bagi umat Islam di Indonesia, Idul Fitri adalah hari raya utama, momen penting setahun sekali untuk berkumpul kembali bersama keluarga dan saling bermaaf-maafan.

Momen Idul Fitri, hanya di Indonesia, sering ditandai dengan adanya mudik, pulang ke kampung halaman setelah bekerja setahun penuh di Jakarta dan kota-kota besar lainnya.

Budaya mudik rakyat Indonesia boleh jadi mirip dengan yang terjadi pada orang-orang Amerika menjelang Thanks Giving Day. Semua orang merasakan dorongan kuat untuk bertemu keluarga mereka masing-masing. Dalam suasana keakraban dan kekeluargaan itu hikmah Idul Fitri (juga Thanks Giving Day) dapat dirasakan secara mendalam.  

Idul Fitri, demikian isi ceramah para kyai, identik dengan kebahagiaan dan kemenangan, karena telah menunaikan ibadah puasa sebulan penuh. Dinamakan Idul Fitri, karena manusia pada hari ini kembali ke fithrah, laksana seorang bayi yang baru keluar dari rahim yang tidak mempunyai salah dan dosa.

Dan, momen Idul Fitri ini akan sempurna tatkala terhapusnya dosa manusia kepada Sang Khalik diikuti dengan terhapusnya dosa kita kepada sesama manusia, yakni dengan jalan memohon maaf dan memaafkan orang lain.  

Selamat Idul Fitri 1434 H. Minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin. (Burhan Abe)

Potensi Iklan Digital

0

PERTUMBUHAN media digital makin mengesankan. Setelah mayoritas pembaca media cetak beralih ke online dan digital, kini giliran kue iklannya di sektor ini yang mulai membesar. Sejumlah analis menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan dan agen-agen periklanan mulai banyak yang melirik ke media digital. Bahkan perusahaan komunikasi global Zenith Optimedia, memaparkan bahwa pertumbuhan global untuk iklan di media internet dalam kurun waktu 2012-2015 diprediksi akan melaju paling signifikan.  

Dengan kontribusi lebih dari US$ 46 juta tahun ini, media internet telah menjadi penyumbang terbesar dalam pertumbuhan belanja iklan global, melesat di atas pertumbuhan iklan televisi (US$ 25,2 juta), koran (US$ 6,4 juta), media luar-ruang (US$ 5,5 juta), majalah (US$ 3 juta), dan radio (US$ 2,6 juta).  

Bagaimana dengan Indonesia? Belum ada angka khusus untuk iklan di media internet dalam riset tersebut, tapi secara umum Indonesia potensi periklanannya akan bertumbuh secara signifikan. Kontribusi pertumbuhan belanja iklan Indonesia pada kurun waktu 2012 hingga 2015 diprediksi menduduki peringkat keempat di dunia atau sekitar US$ 4,1 juta – di bawah AS (US$ 21,1 juta), Tiongkok (US$ 13 juta), Argentina (US$ 4,8 juta), dan Rusia (US$3 ,28 juta).    

Yang jelas, menurut praktisi komunikasi Indira Abidin, Manager Direktur Fortune PR, sektor digital sudah mulai mendapat perhatian penting, bahkan pertumbuhan iklannya masih akan terus meroket hingga 2015 mendatang.  

Ini bisa dipahami, mengiklan di internet jauh lebih akurat, karena dapat melacak kebiasaan para pengguna internet. Sementara para pengiklan mengakui, media digital sangat efektif untuk membangun brand dan mempengaruhi konsumen dalam pembelian produk.  

Indira juga memperkirakan, mobile advertising, iklan internet yang dikirim ke smartphone dan tablet, akan tumbuh lima kali lipat lebih cepat dibandingkan iklan internet melalui desktop/laptop. “Kami memperkirakan iklan mobile akan tumbuh 67 persen pada 2013, dan tumbuh rata-rata 51 persen pada 2012-2015,” tukasnya.  

Lonjakan iklan mobile ini didorong oleh meningkatnya penjualan smartphone dan tablet. Pengeluaran global untuk iklan mobile mencapai US$ 8,6 miliar pada 2012 atau sekitar 9,8 persen dari total belanja iklan internet dan 1,8 persen belanja iklan semua media.  

Pada 2015, diperkirakan belanja iklan di ponsel dan tablet  mencapai US$ 29,4 miliar atau menjadi 21,9 persen belanja iklan internet dan 6,1 persen total belanja iklan. “Sebaliknya, kami memperkirakan iklan internet desktop hanya tumbuh 10 persen per tahun,” ujar peraih Certificate of Excellence untuk kategori Social Education & Philanthropy: Corporate Social Responsibility (CSR) Campaign of the Year itu.  

Yup! Berbagai riset menyebutkan, investasi digital, tidak bisa tidak, harus dikuasai, digali dan dikembangkan. Sebab di masa-masa yang akan datang, media inilah yang akan terus naik daun dan menjadi ‘nyawa’ bagi periklanan dunia dan Indonesia. (Burhan Abe)

Digital Interactive Magazine

0

Cover bertajuk #lastprintissue, Newsweek pada Desember 2012 mengakhiri edisi cetaknya untuk beralih ke edisi digital. Edisi cetak Newsweek yang pernah mencapai tiras 3 juta eksemplar perlahan-lahan mulai mengecil sehingga tak mampu lagi untuk menopang biaya produksi. Berhentinya edisi cetak dari media yang bermarkas di Manhattan, New York dan telah berumur lebih dari 80 tahun ini menambah daftar panjang print media yang tumbang di daratan Amerika karena pertumbuhan dan peralihan pembaca online.  

Para kampiun media di Indonesia, sudah cukup lama mewaspadai kecenderungan seperti ini dan menyiapkan langkah peralihan dari print ke digital (online). Rata-rata media massa mainstream saat ini telah mempunyai situs berita online dan juga menerbitkan publikasi cetaknya dalam bentuk digital. Surat kabar harian kini rata-rata sudah mempunyai versi e-paper yang bisa diakses gratis maupun dengan cara berlangganan.  

Detik.com salah satu pelopor media online di Indonesia yang kini diambil alih oleh kelompok Trans Corp, bergerak lebih cepat ketimbang yang lainnya. Detik.com telah menerbitkan dua majalah yang murni dipublikasikan dalam versi digital. Yang pertama adalah Majalah Detik yang lahir 15 Desember 2011 dan tak sampai satu tahun kemudian terbit MALE (Mata Lelaki) pada 2 November 2012.  

Saya sendiri sempat men-download dan membaca Majalah Detik beberapa edisi, namun karena isinya tak jauh berbeda dengan berita-berita online lainnya maka kebiasaan men-download-nya tak saya teruskan lagi. Dan secara tak sengaja ketika menyambangi detik.com saya melihat cover majalah Mata Lelaki yang ternyata sudah terbit 12 edisi. Segera saya download dalam versi PDF di komputer saya.  

Halaman demi halaman majalah yang diklaim oleh penerbitnya sebagai Digital Interactive Media itu saya lahap, namun dalam versi pdf ternyata kurang maksimal, link videonya misalnya tidak bisa diputar. Kemungkinan karena sofware yang ada di PC saya tidak kompatibel. Oleh karenanya dua edisi terakhir saya download melalui applikasi MALE yang saya pasang di Galaxy Note 10.1. Dan dengan hasil download-an MALE terasa digdaya dibaca dengan ezPDF Readers Pro. Semua navigasi yang ada di user guide bisa digunakan secara maksimal.  

Tak rugi rasanya membaca MALE di tengah minimnya majalah laki-laki dewasa yang beredar di tanah air. MALE mengisi ceruk yang selama ini mungkin hanya diisi oleh Matra (almarhum, pen) dan FHM yang terbit dalam edisi cetak dan berharga puluhan ribu rupiah. Saya sendiri sudah cukup lama tak lagi membeli majalah laki-laki dewasa lantaran tak selalu tersedia di lapak-lapak. Namun kini menjadi mudah dengan hadirnya MALE, cukup sekali sentuh andai jaringan tidak lelet tak sampai 5 menit lembar demi lembar segera bisa saya nikmati.  

Dan yang penting meski gratisan, apa yang disajikan dalam MALE bukanlah bahan kacangan. Entah bagaimana mereka bisa memberikan layanan gratis dengan isi yang memuaskan, saya tak memikirkan hal itu karena memang bukan urusan saya. Urusan saya sebagai konsumen media adalah berharap akan lahirnya media-media kategori Digital Interactive Magazine (Newspaper) yang syukur-syukur bisa ikut-ikutan gratis.      

Kenapa kok saya ngarep gratis tapi bermutu? Fakta sekarang ini media-media mainstream dikuasai oleh kelompok besar yang melakukan konvergensi dalam penerbitannya. Dengan cengkeraman pengaruhnya maka kelompok media-media besar ini mampu meraup pendapatan dari iklan. Mereka ini bisa sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali melakukan reportase atau pembuatan program maka hasilnya bisa disiarkan, dipublikasikan dalam berbagai saluran media. Jadi kalau ongkos produksi dan keuntungan sudah bisa dipenuhi kenapa pula mesti mengutip ‘recehan’ dari konsumen medianya.  

Perubahan memang tidak selalu menghasilkan dampak baik terutama terhadap media-media yang mapan dan tak mampu menyesuaikan diri dengan jaman. Tanda-tanda kematian media cetak di Indonesia mungkin masih jauh, namun dengan semakin bertumbuhnya pemakai smartphone, manusia-manusia online masa kepunahan media cetak pasti akan tiba.

Maka apa yang dilakukan oleh detik.com dengan majalah detik dan MALE patut dijadikan batu penjuru yang layak untuk diikuti sebagai langkah antisipasi jika ingin terus bertahan dalam belantara layanan informasi. (Yustinus Sapto Hardjanto)  

Pondok Wiraguna, 11 Februari 2012

Cyber Crime

0

KEJAHATAN mengintai di mana-mana, tidak hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia maya (bukan “dunia lain”), orang menyebut cybercrime.   

Kemajuan teknologi digital tak pelak mengundang pula keberadaan orang atau sekelompok orang untuk melakukan tindak kejahatan. Mereka tentunya dengan memanfaatkan kelemahan atau celah pada sistem untuk digunakan sesuai dengan keinginan mereka.   

Cerita tentang mereka bisa kita di film-film Hollywood. Hadir tokoh dengan keahlian dan pengetahuan tinggi mengoperasikan komputer yang dengan mudahnya mengacak-acak sistem milik targetnya. Hanya saja, pemaparan di film tentu berbeda dengan fakta di dunia nyata. Si pengacak sistem tadi – ada yang menyebutnya hacker, menampilkan kesan negatif, padahal yang sesungguhnya banyak yang sebaliknya.  

Hacker, menurut definisi umum, adalah seseorang (atau kelompok orang) yang memiliki kemampuan yang tinggi di dunia komputer. Dia memiliki tugas untuk mempelajari, menganalisis, dan jika diinginkan dapat pula membuat dan memodifikasi perangkat lunak dan keras pada komputer dari program komputer hingga sistem pertahanan. Mereka memiliki lima tingkatan berdasarkan kemampuannya, mulai dari yang terendah Lamer, Screipt kiddie, Developed Kiddie, Semi Elite, hingga yang paling tinggi Elite.   

Layaknya profesi lainnya, hacker memiliki kode etik saat menjalankan tugasnya, seperti yang ditulis oleh Steven Levy dalam Hackers: Heroes of Computer Revolution. Lalu mengapa kasus cybercrime besar banyak menyalahkan hacker?

Tak bisa disangkal bahwa yang melakukan cybercrime, beberapa di antaranya memiliki kriteria atau ciri yang sama dengan ilmu yang dimiliki hacker.   

Sebenarnya harus diluruskan bahwa hacker yang menggunakan ilmunya untuk kejahatan disebut dengan cracker. Hacker berusaha keras untk membangun sebuah sistem yang lebih baik. Sedangkan cracker menjadi sebuah kontradiksi yang bertugas mencari kelemahan kemudian menimba keuntungan dari aktivitasnya.   

Tapi begitulah, setiap kemajuan teknologi selalu diikuti oleh sisi gelapnya. Uang memang menjadi motivasi besar dalam setiap tindakan kejahatan. Berbagai kasus yang dilakukan oleh cracker menimbulkan masalah besar. Sebagai negara berkembang, Indonesia tidak luput dari sasaran cracker. Sistem keamanan yang dimiliki organisasi atau perusahaan yang ada di Indonesia menjadi lahan basah untuk para cracker melakukan aksinya. (MALE 38)

A Cup of Joe

0

KOPI tak ayal adalah minuman paling populer di dunia. Bukan hanya rasanya, tapi venue dan ambience ikut mempengaruhi kenikmatan secangkir kopi.  

Minuman berasal dari biji hitam itu memang menjadi candu bagi banyak orang, bahkan juga orang-orang besar dunia. Presiden RI pertama Soekarno pun salah satu contohnya. Dan asal tahu saja bahwa revolusi Perancis, menurut filsuf Voltaire, lahir dari a cup of joe atau secangkir kopi.   

Sejarah kopi memang panjang. Di Indonesia, warung-warung kopi tradisional – yang di kota-kota besar menjelma menjadi coffee shop, adalah meeting point, tempat bertemunya orang-orang sambil mengobrol sana-sini, mulai dari gosip artis hingga politik negara. Di zaman kiwari coffee shop juga berfungsi sebagai tempat hang out, juga online dengan fasilitas wi fi. Minuman seharga Rp 40.000 bisa untuk bekerja berlama-lama, sindir sebuah iklan operator ponsel.  

Starbucks boleh dibilang coffee shop dengan cabang terbanyak di Indonesia, disusul dengan Coffee Bean & Tea Leaf. Merek-merek asing ini juga mendorong tumbunya pemain kopi lokal, yang bermain di warung kopi lokal.  

Menurut Muhammad Abgari dari Anomali Cafe, kopi Indonesia sangat diminati oleh bangsa lainnya. Selain Indonesia juga menjadi negara penghasil dan penikmat kopi terbesar di dunia. “Orang Jepang dan Korea merupakan salah satu penikmat setia kopi Toraja dan Mandailing,” jelas anggota Speciality Coffee Association of Amerika itu.  

Yup, ternyata ternyata kopi bukan hanya sekadar minuman, ada banyak perbincangan di dalamnya.

Sundara – Tribute to the Glowing Sun

0

Introducing Sundara, the new beachfront restaurant at Jimbaran Bay. The name is the Sanskrit word for “beautiful” and pays tribute to the glowing sun that warms this Indian Ocean hotspot.  

Immediately positioned as one of Bali’s top dining destinations, Sundara, opened February 4, 2013, offers the perfect mix of five-star flair and relaxed beach-club vibe. With its direct beachfront location and panoramic views of Jimbaran Bay, Sundara provides a sexy and sophisticated hideaway – all day from lunch until late night.  

Helmed by Executive Chef Greg Bunt and the restaurant’s General Manager Lehfeldt, Sundara is a highly social meeting place, attracting stylish crowd from well beyond Four Seasons. The mood feels modern yet relaxing, cutting edge yet natural. Ensuring a warm and welcoming atmosphere, there’s a constant emphasis on service, promising a relaxed and friendly attitude with sophisticated polish.  

Designed by Koichi Yasuhiro from Tokyo’s renowned Design Studio SPIN, the beachfront Sundara features 29,437 square feet (2,923 square meters) on two levels, including a variety of indoor and outdoor settings. Two soaring Balinese-style pavilions create a distinctive roofline, while inside, the décor combines Bali’s unique artistic heritage with an ambience of relaxed luxury. The focus is always on views of the beach and the wide curve of Jimbaran Bay.  

The ground level features two main spaces: the big-windowed Sundara Bar and the open-air Sundara Patio, adjoining an open-concept kitchen and featuring a gorgeous al fresco dining area with umbrella-shaded tables. Right in front, on a lower deck, there’s a row of day beds for lounging by the Infinity Edge, just steps above the sand. Next to the day beds lie a row of beach sun lounges for resort guests.  

The upper level features the open-air Sundara Mezzanine Bar and the spectacular Sundara Restaurant set beneath a lofty thatched ceiling. This upper floor may also be used as a private function venue for up to 68 guests. The space may be partitioned into three smaller sections – becoming two private dining rooms for up to 14 guests each, and a larger central room for 40.  

Cuisine Executive Chef Greg Bunt’s eclectic international menu at Sundara presents innovative and classic flavours, celebrating seasonal produce from the island. This bold beach restaurant provides a complete experience from lunch until late night, inviting guests to come and graze away the day.  

Lunch. The outdoor dining space at Sundara is perfect for a casual lunch. Choices include the wood-fired pizza selection, the signature burger list, sushi or salads, such as the exotic Vietnamese mangosteen salad. A variety of Indonesian specialties and noodle dishes include local favorites, such as satays, bakso and nasi goreng.  

Afternoon. Guests may reserve a day bed at the Infinity Edge and bring their swimsuits for cocktails and snacking on casual cuisine that’s designed for sharing. Later, the bar is a lively spot for margaritas and music by the resident DJs. On the mezzanine level, the lounge is a more relaxing venue for pre-dinner drinks, while watching the sun set over beautiful Jimbaran Bay.  

Dinner. In the evening, Sundara transforms into one of Bali’s most sophisticated dining experiences, focusing on steak and seafood. Start with selections from the charcuterie kitchen, sampling the Spanish cured ham (Jamón Ibérico), duck, pork and pistachio terrine. For the main course, select from the imported prime cuts of grain-fed or Wagyu beef, or a whole baked snapper, served with spicy local sambals. To finish, there’s a wonderful international cheese selection and decadent beachside desserts.  

Late Nite. After dark, the beachside mood at Sundara becomes candlelit and sexy with a variety of cocktail and wine selections.  

Cocktails & Wine Sundara Bar is proud to feature cocktails designed by one of the world’s leading cocktail authorities, mixologist Javier de lasMuelas – owner of Barcelona’s Dry Martini, recognized as one of world’s most influential bars.  

Using the freshest ingredients in tune with the latest trends, Javier de lasMuelas has crafted a selection of classic favorites as well as innovative one-of-a-kind creations. The signature cocktails that will feature are Smoked Berries, a fruity and smoky cocktail which bursts with sweet and sour flavours and is perfect for a sunset experience. Another signature cocktail which is an evolution to the gin tonic, is the light and refreshing Jim-Let Fox-Trot.

Giving a unique touch, spirits have appealing ingredients and are interesting in their preparation.     Sundara’s wine list features an exciting and diverse international collection of still and sparkling wines, selected to perfectly match the cuisine served. With a perfect balance of old and new world wines, eleven select wines are available by the glass, while premium wines are conserved in state-of-the-art “Le Verre de Vin”. The wine list is presented on electronic tablets, making it fully interactive and informational.  

Private Dining Two private dining rooms are available for up to 14 guests each. The entire restaurant may be booked for up to 283 guests.  

Hours Lunch: 11:30 a.m. – 3:00 p.m. Dinner: 6:00 – 11:00 p.m. Cocktails: 11:00 a.m. – 1:00 a.m. Swim Time: 8:00 a.m. – 6:00 p.m.  

Sundara Four Seasons Resort Bali at Jimbaran Kuta Selatan, Bali 80361, Telephone: (62 361) 708333 Facsimile: (62 361) 701022

Pasar Pria

Majalah MALE sudah menembus 10 juta downloaders, setelah 30-an edisi. Tapi tetap saja ada yang mempertanyakan, masih menarikkah pasar pria?  

Memang, pengunjung pusat-pusat perbelanjaan di kota-kota besar masih didominasi wanita, misalnya. Tapi bukan berarti para pria tidak melakukan gaya hidup yang serupa. Di tengah bertumbuhnya kelas menengah, makin banyak pria yang peduli dengan penampilan – mereka bahkan berani mengeluarkan biaya tinggi demi memenuhi kebutuhan tersebut. Gejala ini secara global sudah teramati sedikitnya sejak dua dekade yang lalu. Tahun 1994, penulis Inggris, Mark Simpson, menyebut mereka sebagai kaum metroseksual.  

Kaum metroseksual tumbuh di kota-kota besar. Mereka pada umumnya adalah kalangan pekerja kelas menengah-atas dan termasuk kategori A dalam strata sosial ekonomi. Menurut Hermawan Kartajaya, dalam bukunya Metrosexual in Venus (2004), mereka adalah pasar yang potensial, karena gemar berbelanja dan dapat mempengaruhi ribuan pria lainnya yang ingin tampil menawan namun tidak tahu bagaimana caranya.  

Menurut penelitian MarkPlus & Co, pria metroseksual adalah proactive consumers atau prosumer, tertarik kepada hal-hal yang otentik dan cenderung mencoba hal-hal baru. Mereka juga membantu menciptakan word of mouth dan memiliki kemampuan untuk membuat orang lain tertarik mencoba produk yang mereka gunakan.

Bacaan Menarik: Membangun Mesin Uang di Era AI 

Analisis yang lebih baru dikemukakan oleh  Maya Carolina Watono, Managing Director Dwi Sapta Group, dalam majalah MIX, awal Mei 2013. Menurut Maya, di tengah bertumbuhnya kelas menengah, ternyata segmen pria terhitung cukup seksi untuk digarap. 

Saat ini kelas menengah menjadi pasar yang sangat menggiurkan di Indonesia, karena memang tumbuh secara signifikan. Tahun 2012, GDP Indonesia mencapai 6,5%, sama dengan pertumbuhan ekonomi di Asia Pasifik. Kontribusi tertinggi adalah domestic consumption, sekitar 54,6%. Sisanya, 32% investasi, 9% government expenditure, dan 1,4% net export.  

Yang menarik, menurut data Nielsen, fast moving consumer goods menjadi kategori paling seksi – terutama produk-produk toiletris dan kosmetik, food & beverages.  

Produsen atau pemasar yang jeli yang hendak menyasar pria adalah yang tahu habit pria. Menurut Maya, yang juga penulis buku IMC That Sells (2011), pria sudah saat ini sangat peduli dengan penampilan. Tidak mengherankan banyak produk seperti sabun, sampo, hingga pembersih wajah, meluncurkan varian khusus pria. Selain untuk urusan penampilan, mereka pun rela merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan hobi mereka, mulai dari perawatan sepeda hingga modifikasi kendaraan bermotor. Sementara itu, social life mereka pun lebih condong ke teknologi, antara lain lewat laptop, ponsel, smartphone, tablet, dan lain-lain.  

Photo by Maxx Gong on Unsplash

Jadi, setelah konsumen (media) ramai-ramai beralih ke platform digital – yang sudah diperkuat dengan data, kini giliran produsen  yang seharusnya menggarap lebih serius pasar pria di platform yang sama pula. (Burhan Abe, MALE Magazine)  

Moeka Djakarta

0

Moeka Djakarta is a photographic exposition of Jakarta as seen through the eyes of three young men: Nicholas Hilman, Nicholas Raditya Santoso, and William Tan.  

Nicholas Hilman, Nicholas Raditya Santoso, William Tan

Driven by passion for their work and for their city, what began as little more than a school Personal Project assignment quickly outgrew its origins to become a photographical testament of Jakarta in both the past and present tense.  

Aiming neither to praise nor to criticize, Moeka Djakarta seeks only to portray Jakarta exactly as it is seen in everyday life by its many inhabitants. From the lowly slums to the skyscraping office complexes, from the dank landfills to the glamorous malls, from ancient Dutch buildings to modern contemporary architecture, Moeka Djakarta is meant to depict the true essence of the city of Jakarta, an essence which in our belief is often unacknowledged by the public.  

In this sense, Moeka Djakarta is truly unprecedented in scope, goal, and execution. In scope, because the photographs contained within it portray nearly every niche of life that is found in Jakarta. In goal, because this photographical depiction of this nation’s capital is meant solely to present a clear picture of the city’s current condition, without being mired in political or social agendas. In execution, because it was accomplished not by professional photographers and artists, but by three talented, dedicated and hardworking teenagers, who aim to dispel the notion that such level of artistic expression is limited only to adults.  

Our story

It all began with a tenth Grade project, where each student was required to complete a yearlong project as our final assessment. We had the opportunity to create anything we pleased without any barriers, and thus, the possibilities were endless. Coincidently, we are all photography and design enthusiasts, and with that, we decided to unite our interests and develop it into a photo book.  

However, what started as a school project became a pursuit of a greater dream. We wanted to take this project to a different level. It occurred to us that very few coffeetable books were ever published about Jakarta in its current state. Lengthy texts and lifeless photos are the common form of expressing the true face of our beloved city.  

Jakarta is the melting pot of Indonesia, where the diverse cultures in Indonesia coalesce, and it is this idea we wanted to capture and embody in a meticulous highend coffee-table book.  

Yet, the fuel of our motivation did not end there. Our ultimate vision in creating this photo book is to set a prime example that would drive the youth of Indonesia to strive for higher dreams. Many teenagers choose to rather spend time not being productive and nonchalantly hang out at malls instead.

We believe they are detrimental to Indonesia’s future, which is why one way of moving our country forward is to motivate and broaden the horizons of these teenagers. Learning rudimentary skills at school simply would not suffice. We wanted to prove to them that they could achieve so much more with the time and resources they have. We young people are capable!   And we certainly did not fall short of that vision.