Home Blog Page 79

Bulgogi Brothers Masuk Jakarta

0

Lebih dari sekadar memenuhi hasrat untuk kuliner Korea, Chaswood Resources menciptakan berbagai perbedaan dalam industri kuliner melalui karyawan, makanan, dan nilai-nilai mereka.
Barbecue Beefy Bibimbab Bulgogi
Dengan dibukanya Bulgogi Brothers di Jakarta, Indonesia, warga Jakarta memiliki tempat baru untuk mengekspresikan hasrat mereka akan makanan lezat. Chaswood Resources menghadirkan Bulgogi Brothers yang berasal dari Korea Selatan sebagai sebuah restoran Korea otentik kontemporer yang akan menggugah selera dan sensasi kuliner warga Jakarta. Lebih dari sekadar makanan, Chaswood Resources juga mencoba menciptakan dampak dalam industri kuliner melalui nilai-nilai dan peluang berbeda yang diciptakan bagi karyawannya.
Berlokasi di LOTTE Shopping Avenue, Bulgogi Brother’s mengkhususkan diri dalam BBQ berkualitas baik sehingga para tamu akan merasakan cita rasa yang sama dengan Bulgogi Brothers di Korea dan di seluruh dunia. Nama restoran mewakili “Bulgogi”, salah satu hidangan khas terpopuler di dunia dari Korea dan “Brothers”, yang mewakili para tamu, berkumpul bersama dan bersenang-senang menikmati makanan lezat dan berkualitas. Bulgogi Brothers selalu memastikan unsur-unsur makanan selaras dan baik untuk kesehatan dalam menjaga kualitasnya. Di antara 40 pilihan lezat dalam menu terdapat hidangan khas mereka, Unyang-style Bulgogi; irisan daging sapi berbumbu dengan bentuk hati, Gangyang-style Bulgogi; bulgogi khas dari selatan, serta Seoul-style Bulgogi; Korean hot-pot dengan daging sapi yang direndam dengan jus apel dan pir.
Haemun Pajeon Bulgogi
Ashraf Sinclair, Co-Owner dari Chaswood Resources, mengatakan, “Berbicara tentang restoran, kami percaya bahwa seharusnya tamu tidak hanya datang untuk menikmati makanan, namun juga hubungan emosional dengan kami, melalui tim kami, selagi menikmati waktu berkualitas bersama teman–teman dan orang terdekat. Kami ingin menciptakan hubungan dengan para tamu dengan memberikan mereka pengalaman terbaik dan nilai-nilai kami di Bulgogi Brothers,”
“Kami, di Chaswood Resources, percaya pada pentingnya kualitas makanan dengan berinvestasi pada karyawan dan teknologi kami. Bisnis kami melampaui tidak hanya tentang membuka restoran baru, kami mencoba untuk menciptakan dampak yang lebih besar untuk lingkungan yang dimulai dari para karyawan kami. Kami ingin menciptakan lebih banyak kesempatan kerja, mengembangkan lebih banyak bakat, dan fokus pada pertumbuhan mereka,” tambah Ashraf.
Unyang Style & Ganyang Style Bulgogi
“Seiring dengan segmen industri restoran Korea yang telah memanas selama beberapa tahun terakhir, hadirnya restoran Bulgogi Brothers pertama di Jakarta akan memberikan penduduk lokal dan para wisatawan kesempatan untuk menikmati daging barbeque Korea otentik yang disajikan dalam restoran dengan pengaturan yang nyaman,” kata Chandra Supandi, Chief Operating Officer dari Chaswood Resources International.
Restoran Bulgogi Brothers yang baru dibuka di LOTTE Shopping Avenue memiliki kapasitas tempat duduk 100 orang dengan tiap meja yang dilengkapi dengan kompor induksi yang disesuaikan di atas meja. Dalam rangka mempertahankan esensi merek dan kualitas serta ciri khas makanan, semua anggota tim termasuk manajemen sudah terlatih di Korea dan juga di restoran pada minggu sebelum pembukaan untuk memastikan semua standar yang diperlukan terpenuhi.
Ashraf Sinclair, Bunga Cutra Lestari, Chandra Supandi
 
Tentang Bulgogi Brothers
Bulgogi Brothers adalah sebuah restoran khas korea berkonsep kasual dikelola oleh ET&Zeus Co., perusahaan yang didirikan oleh Intae Jung dan Chaiwoo Yi. Restoran Bulgogi Brothers pertama kali dibuka di Gangnam, selatan Seoul, Korea pada tahun 2006. Sejak berdiri, retoran Korea ini telah memperoleh status populer dengan lebih dari 40 restoran tersebar termasuk  salah satunya di Kanada dan tiga di Filipina. Pada April 2012, Bulgogi Brothers dianugerahi penghargaan bergengsi National Brands Award untuk Restoran Korea Terbaik tahun 2012. Penghargaan ini diaudit oleh Kementerian Pangan, Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Korea. Nama restoran mewakili “Bulgogi”, salah satu hidangan khas terpopuler di dunia dari Korea dan “Brothers”, yang mewakili para tamu, berkumpul bersama dan bersenang-senang menikmati makanan berkualitas. “Brothers” juga mengaccu pada dua pendiri restoran, yang merupakan ahli dalam bidang pelayanan makanan dan telah berteman baik sejak lama.
Tentang ChasWood Resources
ChasWood Resources adalah operator multi-konsep dan multi-format terbesar di industri makanan dan minuman di wilayahnya, yang telah secara konsisten memberi warna baru dalam industry dan menunjukkan keahliannya dalam memperluas pangsa pasar, menerima berbagai penghargaan dan mewujudkan nilai-nilai bagi para pemegang saham mereka. Dalam tujuh tahun terakhir, selain memegang hak waralaba untuk TGI Fridays, WATAMI Japanese Casual Restaurant dan Bulgogi Brothers Korean BBQ Restaurant, ChasWood juga merupakan operator untuk Italiannies, The Apartment, Malones Irish Restaurant & Bar, Teh Tarik Place, Teh Tarik Place, Baci Italian Café and Laundry. Sejak January 2013, ChasWood Resources telah mengoperasikan 11 merek termasuk di antaranya 4 waralaba internasional, 52 restoran, cafe, bar dan lounge dengan lebih dari 1200 karyawan dan melayani hampir 5 juta tamu setiap tahunnya di Singapura, Thailand, Indonesia dan Malaysia.
Informasi lebih lanjut mengenai ChasWood Resources: www.chaswood.com

Showbiz

0

There’s no business like showbiz! Ungkapan tersebut sangat populer di industri hiburan. Boleh saja orang jago bisnis, tapi di bidang showbiz persoalannya tidak sederhana, tapi lebih complicated, sekaligus challenging dari sudut pandang optimistis.  

Dalam industri hiburan, sebenarnya banyak buku yang bisa dijadikan rujukan, meski pada kenyataannya antara teori dan fakta tidak selalu sama dan sebangun. Bahkan untuk dunia hiburan di Indonesia sendiri ada tantangan yang lebih spesifik, seperti yang ditulis di Male Zone, MALE edisi 52.   Dunia hiburan memang menarik dipelajari dan diselami. Menurut beberapa orang yang terjun di industri ini, sebutlah Luthfi Don Fatboz, Candil, atau G-Pluck, tertarik pada dunia tersebut ketika dulu sering mengurusi hal-hal manajerial untuk band yang dimanajerinya.

“Karena banyak sekali hal baru yang bisa dipelajari, dari perencanaan merilis hingga launching sebuah album. Kita dituntut berpikir kompleks,” ujar salah seorang dari mereka.  

Yang lain mengatakan bahwa tidak gampang menyatukan visi dan misi antara artis dan manajer. Meski begitu, dengan berkomunikasi, semua masalah bisa diselesaikan. Yup, dalam pekerjaan apa pun, masalah pasti ada, dan justru di situlah seninya menjadi seorang manajer seorang artis atau band. “Kenyamanan bekerja antara artis dan manajer itu yang menjadi dasarnya,” tambah Dynie, yang telah menangani T2 sejak pertama kali muncul. (MALE 51)

SHOPDECA, Toko Online Curated Pertama di Indonesia

0

Bringing Design 2 The People

SHOPDECA.COM adalah perusahaan start-up (yang diluncurkan Juni 2013),  resmi memperlihatkan koleksi produk terbaru mereka dan memperkenalkan beberapa desainer Indonesia yang bekerja di balik merek merek lokal yang selama ini menjadi rekan kerja di online store tersebut, 10 Oktober 2013.  

Pemilihan tempat untuk acara media gathering di The Ping Pong Lounge, Jakarta sangat sesuai karena menggambarkan cara pemikiran dari pendiri online store ini yang senantiasa “mengumpan” ide-ide di antara anggota tim, para desainer dan para partner untuk selalu mendapatkan visi-visi segar dan terbaru.  

Visi dari SHOPDECA.com adalah mengedepankan desain untuk masyarakat selain itu juga membentuk komunitas yang fokus/mencintai desain tanpa terpengaruh oleh harga. Untuk itu SHOPDECA.com menyediakan pilihan produk-produk dimana setiap produk yang dihadirkan adalah yang terbaik karena telah mengalami proses seleksi oleh tim dan dengan harga yang terjangkau untuk masyarakat luas. Pada akhirnya, SHOPDECA.com akan menjadi tujuan onlineshopping utama dari para pencinta curated desain di Indonesia  

Produk yang tersedia di SHOPDECA.com sekarang ini terdiri dari desainer lokal dan internasional, semua menyandang satu kesamaan; produk dengan kualitas terbaik dan desain yang unik. “Dengan banyaknya situs yang berusaha menjual segala produk ke semua orang, kami hadir dengan pendekatan baru dengan menjadi online store pertama di Indonesia yang menyediakan produk curated. Para kurator dan tim buyer kami tidak segan-segan bertemu dengan para supplier, desainer dan pemilik merek untuk memilih sendiri (handpicked) koleksi terbaik mereka,” kata Andreas Thamrin, pendiri SHOPDECA.com.  

Pada saat ini SHOPDECA.com mempunyai koleksi lebih dari 50 merek dan lebih dari 1500 jenis barang (SKU). Herschel, Kite Design, Olenka, Cheap Monday, Nixon, Bellroy, What About Yves, Out of Print, Some are Thieves, Cut & Paste adalah beberapa contoh merek yang tersedia. Mayoritas merek masih merek internasional, namun beberapa bulan ke depan, beberapa merek lokal terpilih akan tersedia. Pada akhirnya, diharapkan tidak ada lagi batas penyebutan merek internasional ataupun lokal namun fokusnya akan lebih di tekankan pada desain yang terbaik.  

Julie De Cuyper, mitra pendiri dari SHOPDECA.com menyatakan, “Saya sangat kagum pada bakat kreatif dari desainer lokal dan saya yakin akan ada permintaan dari pasar internasional untuk merek-merek dari Indonesia. SHOPDECA.com dapat membantu para desainer lokal ini untuk mencapai pasar internasional dan bahkan menjadi merek dunia. Sebelum akhir tahun, kami akan menyediakan fasilitas pengiriman barang ke luar negeri, hal ini akan semakin memperlebar kesempatan para desainer, dari Indonesia maupun luar, untuk semakin mudah dikenal dan di dapatkan produknya.”  

Baru-baru ini Indonesia di nyatakan sebagai negara dengan pertumbuhan pasar e-commerce yang tertinggi di dunia. Jumlah masyarakat kelas menengah ke atas diperkirakan akan bertambah dua kali lipat pada tahun 2020 di tambah lagi dengan masyarakat Indonesia yang sangat terhubung dengan teknologi digital. Hal-hal ini yang menguatkan alasan SHOPDECA.com, sebagai curated online store pertama di Indonesia, untuk berani menyasar pada ceruk pasar yang terpilih (niche) yang belum tersentuh secara umum.  

SHOPDECA.com menyasar pasar dengan konsumen pada usia 25-40 tahun yang menyukai berbelanja produk berkualitas dan juga unik. Para anggota komunitas ini menyebut dirinya, design enthusiastic, pencinta traveling, trendsetting dan berbelanja online untuk mencari produk yang unik yang sesuai dengan kepribadian mereka masing-masing.  

BlackBerry

0

KALAU dulu orang tukar menukar nomer ponsel, sekarang bukan hal yang aneh kalau ditambah, “Bagi nomer pinnya, dong!” Yup, apalagi kalau bukan nomer pin BlackBerry, smartphone paling populer di Indonesia. BlackBerry memang bukan sekadar ponsel pintar, lebih dari itu merupakan status sosial. Produk asal Kanada ini memiliki momentum yang tepat saat hadir di pasaran pertengahan 2000. Ketika pasar ponsel banyak didominasi oleh merek Nokia, Samsung, dan Sony Ericsson, ponsel keluaran Research In Motion (RIM) ini melesat cepat ke garis depan.

Di Indonesia penggunanya tidak hanya memanfaatkan fungsi, lebih dari itu merupakan prestise kelas sosial tertentu. Indonesia bahkan dikenal sebagai sebagai pengguna BlackBerry tertinggi di dunia, survei yang dilakukan Symantec menjelaskan bahwa 32 persen pengguna datang dari kalangan karyawan perusahaan.

BlackBerry yang hadir dengan layanan push e-mail berbasis wireless pertama memang populer di kalangan profesional untuk mendukung pekerjaannya. Hal yang sama juga berlaku untuk fitur lainnya, BlackBerry Messenger (BBM) – sebagai layanan interaksi komunikasi yang lebih praktis antar pengguna perangkat tersebut.

BlackBerry memang tidak melenggang sendirian. Rival beratnya adalah iPhone, yang mengunggulkan layar sentuh sebagai cara pengoperasiannya. Dengan kehadiran fitur yang lebih menarik, iPhone menjadi perangkat favorit bagi penikmat teknologi komunikasi. Dalam waktu bersamaan, nama baru mulai terdengar: Android. Sistem operasi (OS) ciptaan Google itu pertama kali diperkenalkan oleh HTC dalam produk HTC Dream-nya, yang kemudian merebak ke ponsel-ponsel merek lain.

Saat BlackBerry memfokuskan diri pada keunggulan komunikasinya, ponsel Android dan iPhone mempertegas bahwa smartphone tidak hanya untuk berkomunikasi, tapi menyediakan sisi hiburan, seperti game serta musik.

Kehadiran kedua lawan besar tersebut bukan tanpa perlawanan dari pihak RIM. BlackBerry seri terbaru tetap dirilis dengan berbagai pembaruan, namun tidak terlalu berhasil, bahkan kemudian mencapai titik terbawah pada kuartal II 2013, RIM menyatakan rugi hingga US$ 965 juta. Penjualan produknya turun hingga 45 persen menjadi US$ 1,6 miliar dibanding kuartal yang sama tahun lalu. Salah satu faktor penyebab adalah tidak lakunya BlackBerry Z10 – yang diklaim menjadi pesaing berat Android dan iOS.

Memang, masih terlalu dini menyimpulkan nasib BlackBerry di dunia smartphone. Apalagi setelah beberapa waktu lalu BlackBerry – yang konon sedang diincar Fairfax Financial Holdings Limited, yang sebelumnya memiliki 10 persen saham BlackBerry, untuk mengambil alih perusahaan secara keseluruhan – memperkenalkan produk terbarunya yang menyasar penikmat phone tablet (phablet), yang tengah menjadi tren dalam industri ponsel (MALE Zone).

MALE Edisi 50, 2013

Sip, Savor & Shop @ Sheraton Bali Kuta Resort’s Market Brunch @ Feast

0

Sheraton Bali Kuta Resort redefines Sunday Brunch with the launch of a first of its kind open-air market brunch concept

Sunday Brunch is getting a fresh makeover at Sheraton Bali Kuta Resort with the introduction of Market Brunch at Feast, with the theme of Sip, Savor and Shop that will transform traditional brunch with an open-air market of delicious fare, handmade crafts and services from local farmers, artisans and vendors.

Located alongside Kuta’s famed Beachwalk, Market Brunch at Feast is the ideal occasion for families and community to gather before enjoying a day in Kuta. Feast Market Brunch will feature endless array of culinary journey and serving and an option of Duval Leroy Brut Champagne, fine wines or home crafted fruit and tea inspired beverages.  

“We’re delighted to re-introduce Sunday brunch Kuta-style,” said Dario Orsini, General Manager of Sheraton Bali Kuta Resort. “Perfect for the whole family to celebrate a beautiful Sunday afternoon, Market Brunch at Feast has something for everyone with a variety of delectable selections and to-go items in casual down-to-earth ambiance with live entertainment and kids’ corner and other fun activities for the entire family.”  

Open each Sunday from 12 noon to 3 pm, Market Brunch will feature a variety of live stations and buffets emphasizing tapas and small bites so guests can sample and savor a wide variety of Asian favorites including those from Bali and beyond. The dynamic menu will change each week based on the seasonal availability of local ingredients. In addition, Market Brunch will feature retail stalls selling fresh produce, groceries and pre-made items to go – perfect for guests who want to explore Kuta Beach and Bali for the afternoon – as well as live entertainment from local bands and DJ’s.   

Market Brunch will offer close to 20 live stations and buffets featuring fresh fare that will appeal to even the pickiest of palates. Guests will enjoy familiar tastes while also discovering new favorites.  Typical offerings will include fresh artisanal cheeses and sliced meats; hand-picked fruits and vegetables; fresh-made sushi made with local fish; Japanese Teppanyaki; Middle Eastern treats and delicacies; seafood barbeque with the day’s catch; as well as more traditional brunch fare like eggs made-to-order and fresh pastries. Sweet treats include Illy’s fresh coffee and gelato, freshly made breads and pies, and Bali’s own fantastic Pod chocolate.  Kids will especially enjoy the nugget station that will serve varieties of choice.  

This deliciously rich experience is priced at just IDR 270.000 per adult and IDR 135.000 for children ages 4 – 12.  The price includes Illy iced coffees, Dilmah teas, fresh-squeezed juices and more.  A selection of locally-crafted beers, fine wines and signature cocktails are available for an additional IDR 200.000 and free-flow Duval Leroy Brut Champagne and wines from Starwood Wines of the World selection is available for an additional IDR 450.000 only. All prices are quoted in Indonesia Rupiah and are subject to 21% local government tax and service charge.  

About Sheraton Bali Kuta Resort

Located on Bali’s famed Kuta Beach with mesmerizing views of the Indian Ocean, Sheraton Bali Kuta Resort is a gathering place for the whole family to enjoy.  With 203 generously appointed guest rooms and suites with private balconies, Sheraton Bali Kuta Resort is ideally situated along the Jalan Pantai Kuta and part of the famed Beachwalk: A Sahid Kuta Lifestyle Resort where guests can enjoy easy walking access to the island’s best shopping, dining and entertainment. 

Sheraton Bali Kuta Resort offers three signature dining venues, including all-day dining at Feast®, located alongside the Beachwalk patio overlooking the Kuta Beach; Bene, a rooftop casual Italian trattoria with a panoramic ocean views; and the open-air Lounge, offering a locally inspired cocktail menu and beautiful Indian Ocean vistas.  

For information, please visit sheratonbalikuta.com

Sunday Market Brunch video youtube.com/watch?v=GUPdN7CtYfA

Celebrating A Feast On Beachwalk Bali

0

Sheraton Bali Kuta Resort New Restaurant Opens with an Energetic Concept for The New Kuta  

Sahid Kuta Lifestyle Resort unveils a world of class and sophistication with the opening of Sheraton Bali Kuta Resort, a new Ocean front retreat. This embodiment of luxury amidst a myriad of amenities and services will celebrate the New Kuta Experience with the opening of Feast multi-cuisine dining.  

Bali’s new café restaurant is breaking down the walls of traditional dining in Kuta with its unrivalled contemporary setting with emphasis on bold magenta and vibrant action. The 160-seat restaurant, appeals to food lovers by offering a stimulating dining experience with a one-price, value-for-money, multi-cuisine served on open kitchens and individual food stations. Feast also offers an option of outdoor dining, by the patio with bustling Kuta and beachwalk shopping scenery.  

“Feast reinterprets the New Kuta experience with its interactive and bustling experience fused into its cuisine – it is playful, innovative and fresh. Like a Sunday market, Feast presents a vast and irresistible array of colors, flavors and aromas; and our chefs act as maestros who orchestrate a feast for guests by cooking farm-to-table ingredients right on the spot,” said the resort’s Executive Chef, Rossano Renzelli.  

Feast’s open kitchens and the live-action food stations are loaded with an abundance of fresh ingredients and authentic global cuisines from over 10 countries — creates a vibrant visual impact and sense of anticipation. The restaurant’s signature iridescent design also allows diners to interact with culinary masters who share each cuisine’s specialty and even prepare cook-to-order recipe.  

The personalized cooking stations include a Sweet Station, a Seafood Bar with the signature live Mud Crab, a Western Grill Station, a Middle Eastern Station featuring a selection of Shwarma and Couscous, an Asian Station with special regional selections, as well as an authentic barbecue and Indian Tandoori Station.  

Complementing the multi-cuisine concept are the various ethnic Martini’s, using globally sourced ingredients for the infused spirits and liquors, as well as a selection of wines by the glass from Starwood’s Wines of The World collection. One of the must-try, the Peter Lehmann Eden Valley dry Riesling a perfect pair with the signature live Mud Crab.  

The beachwalk bustling patio is visible from the restaurant’s floor-to-ceiling windows complements the energy of Feast. The beauty of the contemporary interior is uplifted with lighting effects and the use of funky pink elements, finished with natural materials such as white marbles, glass and wood throughout the restaurant’s décor. Even the custom-designed chinaware, cutlery and glassware reflect the energetic theme.  

Along with its sister dining venues – Bene and The Lounge, Feast was formulated as part of Sheraton Bali Kuta Resort opening to Celebrate the New Kuta Experience, which takes place on 1 December 2012.   

Feast is open daily from 6 am to midnight. For reservations, call (62) (361) 846 5555.  

The Awesome Samosir Island!

0

Jika ada ungkapan “Bali diciptakan Tuhan ketika sedang tersenyum”, hal serupa juga berlaku untuk Pulau Samosir.  Pulau ini sungguh menawarkan dimensi pemandangan fenomenal bagi kedua bola mata manusia.

Pulau samosir terletak di tengah-tengah Danau Toba dan memiliki sisi historikal menakjubkan. Siapa yang tidak kenal dengan Danau Toba, yang merupakan danau terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara dan sangat terkenal dengan Legendanya. Danau Toba merupakan danau vulkanik yaitu terbentuk dari letusan gunung merapi.  

Pesona Samosir sebagai daerah tujuan wisata tak diragukan lagi, khususnya bagi wisatawan asing yang umumnya sedang berbulan madu. Samosir memiliki daerah-daerah potensi wisata yang berbasis pemandangan alam, wisata spiritual, wisata budaya, dan perairan Danau Toba. Obyek Wisata ini tersebar di berbagai wilayah Kecamatan.  

Daerah Tuktuk Siadong, Kecamatan Simanindo adalah pusat konsentrasi turis di Pulau Samosir. Untuk menjangkau lokasi ini, akses wisatawan bisa via dermaga Ajibata (Parapat) ke dermaga Tomok (Samosir). Dermaga tersebut adalah melayani ferry pengangkut kendaraan. Sementara dermaga kapal penumpang non-kendaraan bisa melalui dermaga Tiga Raja dan diantar ke dermaga di hotel tempat menginap. Yup, hampir semua resor atau hotel di Tuktuk memiliki dermaga untuk bersandar kapal penumpang.  

Carnival

Wisata Arsitektur & Suara Emas

Bola mata ini seakan dimanjakan dengan indahnya arsitektur Tuhan yang menakjubkan. Pegunungan dan perairan danau yang indah sungguh perpaduan fenomenal dan mengingatkan manusia akan kebesaran-Nya. Sementara itu, racikan cuaca yang sempurna menyapa kulit menjadikan Samosir sebagai magnet tersendiri bagi wisatawan.  

Makam Raja Sidbutar

Sementara itu, arsitektur bangunan khas Batak juga menampilkan dimensi tersendiri. Mulai dari rumah tinggal, rumah ibadah, hingga makam sekali pun. Bagi orang Batak, rumah memang lebih dari sekadar tempat tinggal, tapi juga bangunan yang dirancang penuh filosofi. Rumah tak sekadar tempat berteduh, melainkan cerminan dari konteks sosial budaya dan status sosial di masyarakat. Begitu pula dengan makam sebagai tempat peristirahatan terakhir. Banyak dari makam yang arsitektur bangunannya lebih mewah dari rumah tinggal.  

Salah satu makam tua yang berada di Tomok, Kecamatan Simanindo adalah makam Raja Ompu Tolu Sidabutar yang diyakini telah berusia lebih dari 350 tahun. Menurut cerita penduduk lokal, sang raja telah mempersiapkan makamnya pada waktu masih hidup. Kala itu, ia memanggil tukang pahat yang ada di pulau Samosir. Pembuatan makam dimulai dengan upacara khusus. Setelah itu makam pun dibuat dengan petunjuk Raja Sidabutar. Pada kompleks makam tersebut dibuat makam Raja dan permaisurinya, Boru Damanik.  

Potret budaya Batak masa lalu bisa dinikmati dari Museum Batak yang tersebar di beberapa lokasi di Samosir. Salah satunya di daerah Tomok yang bentuk bangunannya merupakan rumah adat dengan arsitektur khas orisinil gaya Batak. Jika memasuki rumah, kita harus membungkuk yang melambangkan sikap hormat kita sebagai tamu kepada sang tuan rumah. Di dalamnya dipamerkan aneka peralatan rumah tangga dan pernak-pernik kuno peninggalan nenek moyang yang usianya mencapai ratusan tahun.  

Hal yang paling unik di Tanah Batak adalah suara emas masyarakat lokal. Bisa dikatakan “everyone was born to sing!”. Pernyataan ini memang seolah berlebihan, namun inilah yang dirasakan ketika Anda memasuki sebuah pub atau kafe setempat. Sebut saja Roy Pub yang berada di kawasan Tuktuk Siadong.  

Statusisasi

0

SIAPA pun bisa memotret, apalagi di zaman digital dan mobile seperti sekarang ini. Memotret sekarang ini tidak harus profesional, jumlah amatiran malah lebih banyak populasinya, karena begitu banyak tersedia kamera di pasaran, mulai dari SLR, kamera saku, hingga kamera ponsel yang hampir semua orang memilikinya.  

Objek foto sangat beragam, sebutlah pemandangan alam, pertunjukan musik, kegiatan keluarga, aktivitas teman-teman, bahkan makanan yang hendak kita santap.  

Dan yang penting, semua objek itu dengan gampangnya kita posting ke media sosial, baik Twitter, Facebook, atau Instagram yang memang menyediakan ruangnya untuk para anggotanya yang photomaniac, untuk eksistensi diri atau sekadar ”statusisasi” alias meng-update status.     

Tapi jangan sepelekan kamera ponsel yang jumlahnya makin bejibun. Menurut laporan Lyra Research, jumlah ponsel berkamera yang beredar saat ini telah melampui jumlah kamera poket dan DSLR. Kehadiran ponsel dengan sistem operasi Android, iOS, atau Windows Phone, misalnya, memberi pengaruh yang besar terhadap perkembangan fotografi ponsel. Hal itulah yang membuat pengguna smartphonekemudian tertarik menekuni dunia fotografi, tentunya dengan memaksimalkan kemampuan kamera smartphone-nya.    

Mereka kemudian membentuk komunitas-komunitas khusus yang tujuannya untuk memberdayakan diri, sebutlah iPhonesia untuk para iPhoneografer (sebutan untuk fotografer pengguna iPhone) di Indonesia, atau Fotodroid untuk fotografer pengguna kamera ponsel berbasis Android, dan seterusnya.  

Sebenarnya yang memberi pengaruh lainnya terhadap dunia fotografi ponsel adalah aplikasi. Adanya aplikasi tersebut sangat membantu fotografer smartphone mengeksplorasi gambar yang direkamnya. Aplikasi digunakan untuk mengatasi keterbatasan ponsel berkamera dibanding kamera DSLR atau kamera poket. “Karena kebutuhan aplikasi yang kian penting, tidak jarang fotografer smartphone memiliki lebih dari satu aplikasi dalam ponselnya. Saya sendiri memiliki lebih dari 100 aplikasi edit foto,” ujar Hieronimus Gunawan H.P., salah seroang aktivis komunitas iPhonesia (baca MALE Zone – MALE 47).  

Bisa dikatakan kemampuan aplikasi tersebut tidak hanya untuk kebutuhan mengedit. Lebih dari itu, juga bisa digunakan untuk memanipulasi foto, yang sedikit sulit dilakukan saat menggunakan kamera poket atau DSLR. Itu sebabnya, banyak media berani memakai kamera smartphone untuk memproduksi gambar atau pun video untuk kepentingan berita.  

Dengan semakin baiknya kamera di ponsel, khususnya smartphone, faktanya memang memberi perlawanan yang sengit terhadap kamera beneran, kamera  poket dan DSLR. Kualitas foto dari smartphone tidak bisa dipandang sebelah mata lagi. Dengan teknologi kamera smartphoneyang semakin berkembang, tidak ada batasan untuk berbagai jenis fotografi, bahkan untuk kategori terbatas sekalipun.  

Sudah terbayangkah ketika jumlah ponsel berkamera di Indonesia sudah melebihi populasi penduduknya? Dengan 280 juta ponsel, praktis tak ada orang yang berpergian tanpa membawa kamera, dan setiap orang punya kesempatan menempatkan dirinya pada sebuah “galeri” layar kaca.   Layar kaca yang dulu didominasi oleh televisi pun berevolusi dengan hadirnya layar-layar kaca baru: komputer, laptop, tablet, dan smartphone. Semua orang bisa menyebarluaskan berita dan gambar dengan cepat, bahkan memanipulasi. Selamat di era di mana setiap orang, menurut Rhenald Kasali, tiba-tiba sadar tentang dunia pencitraan. (Burhan Abe)

A Taste of Vietnam

0

InterContinental Jakarta MidPlaza takes a great pleasure to announce the next culinary event “A Taste of Vietnam” that will be hosted at Rasa Restaurant. Starting from 15 – 30 September 2013, Rasa Restaurant will present this regional specialties in an extensive buffet presentation for lunch and dinner.  

A costumed Vietnamese hostess will be on hand to welcome the diners as they arrive and escort them to their table, while the service staff inside the buffet island are using the famous Vietnamese hat. The ambience of Vietnam also enhanced by the presence of two Guest Chefs from InterContinental Saigon. Both Chefs will share their culinary heritage by representing Vietnam at its best.  

As Chef de Partie at Market 39, InterContinental Saigon, Mrs. Le Thi Lan Anh and Mr. Nguyen Huu Luc involve in the preparation and production a wide range of Vietnamese food. With their experience in the restaurant and hotel for almost 15 years, they will ensure the authenticity of each dish served and lead this this inspiring promotion to a success.  

This dining initiative celebrates Vietnam’s Culinary diversity where the food is prepared using the principle of Yin and Yang to achieve balance between all ingredients.

Savour some of the highlight dishes such as: Banana blossom salad with roasted duck, Stir fried soft shell crab coated with tamarind sauce, Deep fried prawn wrapper with Vietnamese net skin served with chili fish sauce, Hanoi turmeric pan fried fish with onion and dill, Vietnamese coconut rice and many more.  

“We have chosen Vietnamese cuisine as the first regional specialties promotion in Rasa Restaurant since Vietnamese cuisines has become one of the healthiest cuisines worldwide. They feature a combination of five fundamental taste elements: spicy (metal), sour (wood), bitter (fire), salty (water) and sweet (earth), and we would like to present this unique dining experience at Rasa Restaurant,” said Gary Palm, Executive Chef of InterContinental Jakarta MidPlaza.  

Rasa Restaurant will be pleasing plates with the taste of Vietnam until 30 September 2013 for just Rp 228.000++ per person for lunch and Rp 278.000++ per person for dinner. Table reservations are highly recommended.

Perish or Publish

0

KETIKA berkunjung ke sebuah toko buku di pusat perbelanjaan paling besar di Jakarta, Grand Indonesia, saya sempat terkejut. Pertama, toko buku yang tadinya menempati dua lantai, kini tinggal satu lantai saja. Kedua, dengan mengecilnya ruangan toko, ikut tergusur pula coffee shop favorit saya di situ. Maklum, di venue di lokasi paling mahal di Jakarta dengan pemandangan kota yang luar biasa itu, saya biasa membaca artikel favorit, baik dari buku atau majalah, tapi terutama dari iPad, dengan ditemani secangkir Arabika.  

Tutupnya kafe atau toko buku, mungkin hal yang biasa, pasti ada hitung-hitungan bisnis yang kurang match. Tapi ketika toko buku yang lain di kawasan Senen, yang tadinya luas dan kini hanya menyisakan 1,5 lantai, mulai timbul kecurigaan, apakah produk buku (cetak) mulai ditinggalkan pembacanya?  

Di era internet, informasi kini makin mudah didapat, baik dari PC, laptop, bahkan ponsel cerdas. Merebaknya PC tablet yang makin ringkas dan praktis membuat orang lebih suka membaca melalui sabak digital tersebut ketimbang buku, majalah, tabloid, atau koran. Yang menarik, harga jual bacaan versi digital ini lebih murah ketimbang versi cetak.  

Semua fakta tadi, kembali menerbitkan pertanyaan yang lebih fundamental, apakah era cetak segera berakhir?  

Pada kenyataannya, tiras media cetak saat ini tidak beranjak naik, bahkan ada kecenderungan menurun. Di AS selama lima tahun terakhir, sejumlah perusahaan media cetak mengalami perubahan secara dramatis, entah itu berhenti terbit atau berganti platform digital. Sebutlah Philadelphia Inquirer yang bangkrut, atau The Minneapolis Star dan Seattle Post Intelligencer yang menghentikan produksi cetaknya dan menggantinya dalam versi digital.  

Yang mutakhir, apalagi kalau bukan Washington Post, yang semula dimiliki keluarga Graham selama empat generasi, takluk kepada Jeff Bezos. CEO Amazon ini mengucurkankan dana US$ 250 juta (sekitar Rp 2,57 triliun) untuk mendapatkan salah satu harian paling berpengaruh di AS itu.  

Di tangan Jeff Bezos, pasti akan ada perubahan di tubuh Washington Post dalam beberapa tahun ke depan, yang erat kaitannya dengan perkembangan internet. Maklum, Bezos salah satu pelopor di industri TI. Di Seattle ia berhasil menghadirkan Kindle, perangkat untuk membaca buku secara digital. Kelak bisnis e-book yang dikembangkannya pun semakin membesar seiring dengan membesarnya Amazon.com, bisnis perdagangan online yang sangat sukses.  

Bezos meyakini bahwa koran cepat atau lambat akan punah. “Dalam dua dekade mendatang tidak akan ada lagi media cetak, mungkin akan menjadi barang mewah di sejumlah hotel yang menawarkannya sebagai layanan istimewa,” ujarnya dalam sebuah wawancara di Berliner-Zeitung, tahun lalu.  

Tampaknya sudah bisa ditebak, perubahan apa yang akan dilakukan Bezos terhadap Washington Postkelak, salah satunya adalah menjadikan koran prestisius itu memiliki pasar digital yang lebih kuat, terutama di tablet.  

Revolusi media memang sedang berlangsung. Hukum besi media masih berlaku, perish or publish. Jika tidak ingin tergilas oleh zaman, ada baiknya mendengar pendapat tokoh pers kawakan Amir Effendi Siregar. “Sudah saatnya penerbit media cetak menyesuaikan diri dan memanfaatkan perkembangan teknologi, kawin dengan media online dan digital, tumbuh dan berkembang bersama melalui langkah kreatif dan inovatif,” ujar Ketua Dewan Pimpinan SPS Pusat dan Dosen Komunikasi, UII, Yogyakarta itu. (Burhan Abe)