Home Blog Page 78

Dari Tablet ke Smartphone

0

Digital Innovators Summit di Berlin, mengumumkan akan membawa Adobe Publish ke pasar di musim panas 2015. Adobe Publish adalah platform yang dibangun Adobe Digital Publishing Suite (DPS) untuk membawa generasi berikutnya ke penerbitan dengan aplikasi mobile. Jadi, e-magazine kelak tidak hanya berkutat di tablet saja, tapi juga di smartphone – yang populasinya lebih banyak. “Ini memungkinkan publisher membuat aplikasi mobile untuk ponsel dan tablet sekaligus, tanpa ribet, dengan konten yang besar dan menarik tapi dengan cara yang sederhana, hemat biaya, dan modern,” ujar Nick Bogaty, sang kepala divisi penerbitan digital di Adobe DPS.  

Mei tahun ini adalah tahun ke lima sejak Adobe dan Conde Nast membawa majalah Wired ke iPad. Tujuannya tak lain adalah untuk menghasilkan publikasi digital interaktif untuk platform digital yang menarik dan fantastis. Kini tak kurang dari ribuan aplikasi di tablet dan telah di-download ratusan juta pembacanya di seluruh dunia.  

Kalau pun ponsel kini menjadi platform untuk penerbitan digital yang lebih serius, selain tablet, adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa dinafikkan, karena pasarnya memang lebih besar. Tentu sebuah sebuah keniscayaan juga kalau MALE edisi 127 juga kan hadir dalam smartphone Anda – yang sebetulnya sebelumnya sudah ada di ponsel (dan tablet) Android, hanya saja kurang sempurna, karena desain kreatifnya sebenarnya dirancang khusus untuk platform iPad serta tablet Android.   Selama lima tahun terakhir kita belajar adalah bahwa pengguna aplikasi majalah digital ingin mencoba pengalaman yang menarik dan mendalam, tetapi mereka juga ingin konten yang disampaikan secara teratur, dan bisa dinikmati di perangkat mobile.  

Apa yang mendorong seseorang mengeluarkan ponsel mereka dari saku dan membuka aplikasi majalah digital? Fresh content on a device presented in a fantastic way! (Burhan Abe)

Sumber: MALE 126

Introducing Private Cellar

0

A Truly Personal Wine Service Voted Best British Independent Wine Merchant 2014

Private Cellar is a boutique wine retailer that has quickly gained an esteemed reputation. As a wine merchant the company boasts extensive experience in the industry and since 2005, the Private Cellar team has been coupling a real passion for wine with an enormous dedication to their customers.  

The small team promises a personal service delivering professionally chosen and exquisite tasting wines to their valued clientele. Private Cellar now has 3,000 active customers and manages more than 30,000 cases of customers’ stocks in LCB’s Vinotheque in Burton on Trent.  

Private Cellar was founded by three friends – previously colleagues at London wine merchant Corney & Barrow. The team now boasts a combined experience of over 160 years, providing a truly personal wine service and offering a focused range of wines that are outstanding in their category, sourced directly from growers they admire and are proud to represent. As former senior management members of esteemed wine merchants (Corney & Barrow are HM the Queen’s Wine Merchant and the firm has 235 years of history) the team harbours fantastic grower relationships alongside incomparable access to collectors’ cellars and rare stocks with excellent provenance for the company’s Fine Wine List.  

All wines are sourced by Buying Director Nicola Arcedeckne-Butler MW, one of only 319 Masters of Wine in the World. Fluent in French and Italian, Arcedeckne-Butler is as comfortable sourcing wines from the New World as she is from the Old World. She has also recently taken on a prestigious role as a member of the advisory team to the British Government Hospitality Department which is charged with the wine selection for events hosted by the British Government when receiving overseas dignitaries.  

Managing Director is Andrew Gordon who began his career in the wine trade in 1984. He joined Corney & Barrow in 1986 and left the management team in 2004 (after quadrupling the company’s sales) to spend more time doing what he really loves: building fantastic wine cellars and long term relationships with suppliers and customers alike.  

Private Cellar’s pedigree has been validated with their expert choices regularly appearing in the press. Amongst other press mentions, a 2010 Chablis garnered attention from The Times last year whilst the 2013 vintage of Château de Sours Rosé from Bordeaux was featured in financial magazine, Money Week. The company itself caught the attention of the industry with features in the Guardian, Money Week, Daily Telegraph, Times, Daily Mail, Spectator Magazine, GQ and The Field to name a few titles.  

In 2014, Private Cellar were voted best British Independent Wine Merchant as a result of a writing competition from top wine writer Jancis Robinson MW (jancisrobinson.com) to find the best independent wine merchant in the world.   Private Cellar pride themselves in exclusively purchasing wines that they believe are the finest in the world, and which they know their customers will love with their keen eye on the price-to-quality ratio. They are just as passionate about their customers as their wines and enjoy sharing their insights at formal tastings and informal dinners.  

Customers have praised Private Cellar for the company’s honesty, “the versatile, personal nature of their business”, and the enjoyment that they get out of meeting with and buying wine from the team with one customer saying “it’s great to see such an enthusiastic team of colleagues so tuned in to their customers and to each other; a spirit that is often missing from larger companies today.” (privatecellar.co.uk)  

Multiplatform

0

Majalah digital saat ini masih mewakili sebagian kecil dari total sirkulasi majalah cetak, namun basis pelanggannya terus meningkat secara signifikan. Perubahan platform dari cetak ke digital adalah sebuah keniscayaan, yang tidak terelakkan lagi.   

Memang, industri penerbitan digital yang telah ada sejak 2010, memerlukan waktu untuk mencapai titik stabil. Sebagai teknologi yang relatif baru, publikasi digital harus berurusan dengan berbagai hambatan, baik dai sisi penerbit untuk menghasilkan produk, maupun dari sisi pembaca untuk bisa menikmati produk baru tersebut.  

Tidak bisa dimungkiri bahwa tablet PC, yang dipelopori oleh kehadiran iPad, diperkirakan akan menurun penjualannya di tahun 2015. Analisis tersebut datang dari TrendForce. Firma asal Taiwan yang terkenal sebagai pemerhati pasar gadget ini memperkirakan bahwa pengapalan tablet akan menyusut hingga 185,6 juta unit atau turun 3,5% pada tahun ini. Sementara itu pengapalan notebook akan kembali tumbuh sekitar 174,6 juta unit atau 0,6% lebih besar dibanding tahun 2014.  

Anjloknya penjualan tablet bisa disebabkan oleh persaingan dengan smartphone yang selalu hadir dengan inovasi terbarunya, sedangkan tablet tidak banyak perkembangan. Namun demikian, bukan berarti tidak ada inovasi di tablet. Apple, misalnya, akan mengeluarkan iPad berlayar 12,2 inci, sementara Microsoft akan menghadirkan Surface Pro 4 tahun ini.  

Jangan lupa, meski ada penurunan di pertumbuhan penjualan tablet, bukan berarti industri penerbitan digital pun ikut-ikutan mandek. Justru kelak, media digital tidak hanya hadir di platform tablet, tapi juga di phablet, bahkan smartphone yang berbasis Android. Majalah detik dan MALE sudah hadir di multiplatform.    

Seiring dengan prediksi Executive Chairman Google, Eric Schmidt bahwa dalam lima tahun ke depan akan ada sebuah produk dengan desain mirip dengan tablet, memiliki kinerja yang tinggi, dan akan menggantikan media tradisional.  

Dengan perubahan drastis di sisi konsumen dan dukungan teknologi, rasanya para pebisnis media cetak harus mengiyakan pandangan Eric Schmidt. Menurut prediksinya, majalah cetak akan segera tergantikan dengan perangkat tablet dan sejenisnya.  

Tanda-tanda “kematian” majalah cetak seperti yang diramalkan Schmidt sebenarnya telah terlihat beberapa tahun belakangan. Media-media besar kini sepenuhnya sudah bisa dinikmati dalam versi online dan digital. Hal ini sejalan dengan tren beriklan dan populasi tablet yang terus melesat dalam beberapa tahun mendatang.  

Industri lain pun mulai menyadari keuntungan dari memasuki media digital. Antara lain dengan adanya kemudahan dalam pendistribusikan konten dan data yang unik sekalipun, yang tidak dimiliki media cetak. Dalam upaya untuk meningkatkan produktivitas dan menurunkan biaya produksi, para pengiklan juga mulai menggunakan media digital untuk menampilkan produk-produknya. (Burhan Abe)  

MALE 123 – Editor’s Note

Digital Publications

0

PERKEMBANGAN teknologi yang cepat menuntut semua hal menjadi lebih praktis dan mudah. Kehadiran majalah digital, karenanya, menjadi penting, bahkan mulai menggusur media konvensional – tutupnya sejumlah majalah cetak di sebuah penerbitan besar adalah contoh yang konretnya.  

Menjamurnya PC tablet, juga smart phone dan phablet, tak ayal, membuat marak penerbitan media digital. Selain praktis, mudah, dan efisien, majalah digital juga tampil lebih atraktif dan komunikatif, serta kaya akan konten yang membuat pembaca bisa lebih menikmati platform baru ini.  

Memang, ada yang bilang bahwa majalah digital saat ini hanya mewakili sebagian kecil dari total sirkulasi majalah saat ini, terutama di Indonesia yang pertumbuhan majalah digitalnya tidak sepesat di negara-negara maju. Tapi banyak yang lupa bahwa oplah majalah cetak nasional juga tidak berkembang, bahkan makin mengecil.    

Kalau ada yang bilang bahwa majalah digital tidak serta merta menggantikan  media cetak, itu memag benar adanya. Industri penerbitan digital yang relatif baru dimulai ini, tepatnya tahun 2010, memang memerlukan waktu menancapkan eksistensinya. Perlu beberapa waktu lagi untuk mengembangkan pemahaman yang mendalam dari teknologi baru ini, baik oleh publisher maupun pembaca.  

Di Indonesia sendiri mungkin terlalu cepat mengatakan media cetak akan mati digantikan media digital. Tapi juga terlalu naif kalau menyatakan media cetak akan terus hidup. Banyak alasan yang membuat media cetak makin mengecil untuk tidak mengatakan mati. Yang pertama adalah fakta bahwa harga kertas dan biaya cetak makin mahal, belum lagi soal ketidakramahan terhadao lingkungan. Fakta berikutnya, media digital terus berkembang, masyarakat juga semakin melek digital dengan tingkat penggunaan smartphone dan tablet yag semakin meluas tanpa pandang status sosial.  

Memang, seperti dikatakan Profesor Jurnalistik Klaus Meier dari Universitas Eichstätt-Ingolstadt, Jerman, bahwa media cetak tak akan langsung mati, tapi akan ada perpaduan antara media cetak dan online atau digital. “Di masa depan, mereka akan hadir saling melengkapi,” katanya.    

Tidak jelas, sejauh mana porsi masing-masing, antara cetak dan digital. Tapi yang  jelas, digitalisasi media adalah sebuah keniscayaan. Tantangan semua publisher yang ingin tetap bertahan. Itu pula tantangan yang diemban MALE sebagai salah satu pelopor penerbitan digital di Tanah Air. Tantangan untuk selalu menghadirkan konten yang menarik, yang dikemas dalam sebuah platform yang menarik pula. Kreativitas, itulah yang selalu diasah terus-menerus, untuk menghasilkan yang terbaik. (Burhan Abe)  

Sumber: Editor’s Note – MALE 122

Not Your Average Cuppa in Singapore

0
4 Cafés Off Singapore’s Beaten Path

Source: stayfareast.com

In Singapore, coffee comes in many different forms – from a Kopi O Gau in a traditional kopitiam to an espresso at a coffee chain or a latte art-topped cuppa in an independent café. The latter is a recent development, as the Third Wave Movement – treating coffee as an artisanal foodstuff – made its way from America, Australia and Europe to Singapore.

With the growth of local and regional barista competitions that have brought the art of coffee making to the forefront along with the rise of artisanal coffee roasters, a strong café culture has taken root in Singapore. And so over the last decade, cafés with their own identity, character and quirks have begun to spring up across the island, a counterpoint to mass market establishments – some in the most unexpected of places. Here’s a guide to cafés on the island’s paths less travelled, a perfect way to explore a side of Singapore familiar only to locals.
Source: sharontravelogue.com
 
Chye Seng Huat Hardware: Tools of the Trade
Lavender, once an industrial district of small workshops, is a growing garden patch of cafés. Ask for a recommendation here, and Chye Seng Huat Hardware will be frequently mentioned. Housed in a former hardware store – hence the name – the café isn’t just a place to have a cuppa. It also houses a coffee school, private tasting room and roastery.
Behind the retro, Straits Settlement Art Deco front (complete with a traditional Chinese signboard), the café serves up its java in an industrial-chic setting. Beyond coffee, there is a good selection of ‘Tummy Fillers’ (as the café calls them) and sweet treats, amongst which the Madeleines and the Hazelnut Coffee Muffin stand out.
150 Tyrwhitt Road
Tel: +65 6396 0609
Opening Hours: 09.00 – 19.00, Tuesday – Sunday (Open until 10pm on weekend)
Source: the4moose.blogspot.com
Colbar Eating House: A Taste of Nostalgia
For a setting more relaxing and calming than the average bustling cafe, head over to this leafy little corner of Whitchurch Road. Echoes of a Singapore past still linger here, which is part of the charm of Colbar Eating House, a storied café that used to service the now defunct British military barracks nearby.
Choice here is extensive, focusing on Asian interpretations of Western food that will be familiar to locals and intriguing to visitors. Short for Colonial Bar, Colbar serves up dishes like Sausages and Eggs, Pork Chops with Mushrooms, Marmite Sandwiches, Fried Rice and Fried Noodles in Gravy, usually washed down with coffee done the Singaporean way – wok-fried coffee beans with condensed milk.
9A Whitchurch Road
Tel: +65 6779 4859
Opening Hours: 11.00 – 23.00 (Tuesday – Sunday)
Source: WimblyYu.com

Wimbly Lu Chocolate Café: Sweet Dreams Are Made Of These

As the name suggests, Wimbly Lu operates on the dessert spectrum of cafés. Located in the small commercial strip of a quiet suburban neighbourhood, Wimbly Lu looks quaintly inviting upon entry: all colourful vintage furniture, exposed red brick walls and mismatched plates.
The dessert menu is extensive, from classic staples like Tiramisu, Éclairs, Brownies and Lava Cakes, to treats like Eton Mess and homemade Truffles, to quirkier experiments like the popular Root Beer Cake and seasonal Kit Kat Brownie. Wimbly Lu is also known for its waffles – crisp and fluffy – as well as its selection of ice creams. Savoury options are also available for those that want a full meal.
15-2, Jalan Riang
Tel: +65 6289 1489
Opeing Hour: 01.00 – 23.30, Tuesday – Sunday (09.00 – 23.00 Saturday and Sunday)
Source: GreatNewPlaces.com
Whale and Cloud: Tap The Third Brick From The Left To Enter
Getting to the speakeasy-inspired Whale and Cloud is an adventure in itself. Accessed through a nondescript blue door (the only evidence being a Harry Potter-esque 48 3/4 number, a stencil of the word ‘OPEN’ and a bench) in the back alley of Niven Road in Rochor, you enter Whale and Cloud with a knock on the door. No bells, no buzzers, just a knock.
Inside is a tiny, cosy space that feels like stepping into someone’s studio apartment. The coffee is excellent and sourced from the owner’s personal travels. There is a selection of homemade cakes and biscuits available, and when it is time to leave, drop an appropriate pay-what-you-will amount in the trust box before exiting Singapore’s best discreet little hideaway.
48 Niven Road
Opening Hours: 09.00 – 16.00 (only open on Saturday)

Nasi Campur Ayam Betutu a la Kedewatan @ Harris Hotel Raya Kuta Bali

0

Indonesia as a country has a lot of traditional menus that come from each province. For travelers, both from domestic and international, traditional or typical food must be something that they are looking for while visiting one or more places. This is the reason why Harris Hotel Raya Kuta decided to choose “Nasi Campur Ayam Betutu a la Kedewatan” from Balinese traditional menu to deliver culinary pleasure to travelers when they are visiting Bali.  

Travelers can find the “Nasi Campur Ayam Betutu a la Kedewatan” menu in the Chef Suggestion’s Menu. This menu consists of ayam betutu (chicken cooked with special Balinese spices) and served with some condiments: various chicken, vegetables, fried nuts, sate lilit chicken and two special sambals with steamed rice.  

“Nasi Campur Ayam Betutu a la Kedewatan is a traditional cuisine from Kedewatan – Ubud (name of one famous village in Bali). It has a rich taste and spiciness from traditional Balinese seasonings. The presentation of our Nasi Campur Ayam Betutu a la Kedewatan really represents the original “Nasi Campur Kedewatan” from Kedewatan village,” said Chef Maleachi, the Executive Chef.  

Harris Cafe is a name for restaurant in all Harris Hotels. The restaurant serves various selection of menu from Asian to Western. The tag line “Healthy Lifestyle Menu” means no MSG used, less sugar and salt, but still has delicious taste. Calories information is present in the entire menu as guideline for customers striving for healthy lifestyle.  

Harris Hotel Raya Kuta Bali has also launched a special traditional Indonesian menu to be found in every “Harris Cafe” across Harris Hotels in Indonesia by 2015.  

Harris Hotel Raya Kuta Bali Jl. Raya Kuta No. 83E Kuta Badung, Bali 80361 T. +62 361 763 863/F. +62 361 763 867  

Usher

0

Dalam sebuah pameran, apa yang menarik? Tentu saja produk-produk yang dipajang. Tapi jangan salah, kehadiran wanita-wanita penjaga stand, tidak kalah menawannya. Ya, itulah usher. Bukan penyanyi R&B, pencipta lagu, penari, dan aktor Amerika Serikat itu. Tapi usher yang ini adalah “pagar ayu”, ujung tombak suksesnya sebuah pameran.  

Keberadaan usher memang sering disamakan dengan sales promotion girl (SPG). Kedua profesi tersebut memang menonjolkan sikap ramah dan penuh perhatian. Namun ada fungsi yang berbeda, yang bahkan boleh jadi menyudutkan profesi usher. Profesi SPG lebih berat ketimbang usher, karena SPG memiliki target penjualan yang harus dipenuhi.  

Tapi, apa pun, kehadiran mereka membuat suasana menjadi sumringah. Pesona mereka, dalam balutan busana yang seksi, membuat pengunjung rame-rame mendekat. Tugas para usher tersebut bukan hanya sebagai pemanis, tapi dapat menjadi duta produk yang diembannya. Kehadiran mereka memancing opini beragam, bahkan tidak jarang yang bernada negatif.  

Uang yang berlimpah menjadi daya tarik yang paling kuat dalam menjalankan profesi usher. Apalagi pekerjaan ini tidak banyak membutuhkan keahlian khusus. Inilah yang kemudian menarik banyak wanita cantik terjun ke dalamnya, mulai yang masih kuliah hingga yang sudah memiliki pekerjaan. Meskipun tidak membutuhkan keterampilan khusus, profesi ini menguras stamina. Berdiri berjam-jam serta bersikap ramah dan komunikatif menjadi hal yang wajib dilakukan. Hanya, tidak banyak tuntutan bagi pekerjanya dan tidak ribet seperti di dunia kantoran. 

Syarat menjadi usher sangat mudah. Cantik plus bertubuh indah dapat menyandang profesi ini. “Tidak perlu ijazah, dan uang yang didapat lumayan,” ucap Baby, mahasiswi yang aktif dalam berbagai acara sebagai usher.  

Namun kehadiran para usher tidak lepas dari image negatif. Hal ini terjadi karena ada saja orang yang salah mengartikan profesi mereka. Karakter ramah yang sudah menjadi SOP dapat menjadi bumerang bagi usher. Respons negatif yang tak diharapkan bisa mengancam.  

“Karena nila setitik, rusak susu sebelanga” bisa menjadi pepatah yang mendeskripsikan kehidupan usher. Tapi tak tertutup kemungkinan adanya oknum yang menjalani pekerjaan itu untuk tujuan berbeda. “Memang ada teman sesama usher yang mengambil jalur lain, yang bisa merusak nama baik pekerjaan sebagai usher,” kata Baby.  

Profesi yang masih dipandang sebelah mata ini semakin terpuruk karena ulah usher yang menyeleweng. Digoda, disentuh, dan diajak berkencan menjadi risiko yang terkadang harus dihadapi dengan bijak. Baby menyatakan, memang stigma sudah ada di masyarakat, tapi sebenarnya kembali kepada usher itu sendiri. Perlakuan pria yang kurang sopan harus disiasati sehingga tidak menyinggung perasaan, dan pengertian usher tidaklah seperti yang dibayangkan mesti disampaikan.   Di sisi lain, lingkungan turut pula memberi perubahan cara pandang yang memang sulit dihindari. Penggunaan jasa usher di tempat karaoke, klub, dan kafe dengan pakaian seksi menjadi godaan tersendiri bagi pria hedonis. 


Sumber: MALE Zone, MALE Magazine 120 http://male.detik.com

JOBB The WORX® Smart Pants

0

JOBB menghadirkan inovasi celana pintar yang nyaman dan bergaya untuk para pria pekerja aktif

Hampir sepertiga waktu dalam sehari, bahkan tidak jarang lebih dari itu, kita habiskan untuk bekerja. Kebutuhan akan pakaian bekerja yang nyaman untuk mendukung kesibukan kegiatan sehari-hari pun menjadi suatu keniscayaan. Tepat di sinilah JOBB, label pakaian formal dan kerja pria, menghadirkan celana yang didedikasikan untuk para pria pekerja aktif.  

Berlokasi di Atrium East Mall Grand Indonesia, JOBB menjadi pionir di Indonesia dalam berinovasi melahirkan celana pintar untuk pria pekerja, melalui peluncuran koleksi terbarunya: JOBB The WORX® Smart Pants, Rabu (28/1). Didesain dengan empat keunggulan utama, yakni, Dry, Flex, Care-Free, dan Safe, The WORX® Smart Pants ini adalah tipe celana formal untuk bisa digunakan dalam keseharian, bagi para pria pekerja kantoran maupun mereka yang aktif di lapangan.  

The WORX® Smart Pants mengetengahkan jargon “Feel The Thrill and Experience the Freedom” yang menggambarkan pengalaman menyenangkan dan keleluasaan kala memakai celana tersebut. Dimulai dengan faktor Dry, The WORX® Smart Pants dirancang sebagai celana yang tahan segala cuaca, dengan kemampuan tahan cipratan air (Water Repellent). Jadi, tidak perlu lagi takut akan cipratan air hujan di kala musim penghujan, sebab terdapat proses Water Repellent Treatment yang melapisi bahan celana, di mana memungkinkan air untuk tidak menempel.  

Kemudian faktor Flex, di mana The WORX® Smart Pants mendukung aneka mobilitas tubuh untuk senantiasa bergerak fleksibel dalam kenyamanan. Terbuat dari paduan material comfort stretch, synthetic fiber 100% dan poly cotton (synthetic fiber 65% dan cotton 35%) dengan finishing mechanical stretch yang lembut dan fleksibel, The WORX® Smart Pants didesain untuk secara lentur mengikuti tubuh dan kaki yang bergerak bebas dan aktif.  

Mobile First

0

Internet bakal hilang! Pernyataan mengejutkan itu datang Executive Chairman Google, Eric Schmidt di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, pekan lalu. Ia menjawab awak media yang menanyakan masa depan situs-situs internet.  

Namun, pernyataan tersebut memang patut dicermati. Yang dimaksud adalah, internet kelak bukan lagi sesuatu yang luar biasa, karena  manusia dan Internet akan menjadi kesatuan yang tak terpisahkan. Manusia akan hidup dengan alat serba otomatis dan dinamis, sebagai implementasi atas konsep internet of things. Perkembangan tersebut telah dimulai dengan maraknya produksi wearable gadget dan perangkat pendukung smarthome.  

Lebih jauh lagi, dunia berada di genggaman tangan sudah bukan fantasi lagi. Semua terkoneksi melalui jari-jemari. Segala hal sudah mulai bisa dikerjakan hanya dengan menggunakan ponsel, mulai mengirim uang melalui rekening bank, memesan tiket pesawat, hingga memesan taksi, bahkan menjadikannya remote control televisi.  

Mobile first, itu pula salah satu topik yang mengemuka dalam Rapat Kerja Trans Media (yang terdiri dari Trans TV, Trans 7, detikcom, TransVision, dan CNN Indonesia) di Trans Resort Bali, 1-3 Februari 2015.  

Dulu, ketika pertama kali internet dikenal, kecanggihan teknologi ini bisa dirasakan melalui perangkat komputer yang besar. Seiring dengan berjalannya waktu, personal computer mengalami evolusi, sehingga bentuknya menjadi semakin tipis dan mungil. Lalu kesibukan pelaku industri menuntut adanya alat yang bisa membantu menyelesaikan semua pekerjaannya, tentunya sembari beraktivitas, atau kini dikenal dengan perangkat mobile.  

Pergerakan itu belum berhenti, malah semakin merangsek ke depan. Kebutuhan akan device yang dapat memenuhi keinginan pelaku industri semakin mendesak, tentu dengan tuntutan ukuran yang tak menghalangi penggunanya bergerak. 

Kecanggihan alat komunikasi menjadi syarat yang tak terbantahkan. Sementara sebelumnya ponsel hanya digunakan untuk berkirim pesan dan suara, kini harus bisa dipakai memenuhi keperluan penggunanya.  

Perkembangan fungsi mobile device ini telah dirasakan oleh penyedia jasa game dan media sosial, seperti Zynga serta Facebook. Dalam tulisan Jay Jamison bertajuk “Web 3.0: The Mobile Era” Agustus 2012, di Techcrunch.com, dinyatakan Zynga mengalami penurunan dalam public market-nya.

Masih berdasarkan tulisan tersebut, Richard Greenfield, Financial Analyst BTIG, mengatakan, “Right now, everything is going wrong for Zynga. In a rapidly changing Internet landscape that is moving to mobile, it’s very hard to have confidence these issues are temporary.”  

Begitu juga dengan Facebook, yang memiliki hubungan kerja dengan Zynga. Melambatnya angka pertumbuhan penggunanya tentu menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Bukan hanya itu, melalui pengukuran daily active users dan monthly active users, kala itu diketahui jumlah pemakai media sosial milik Mark Zuckerberg tersebut menunjukkan angka yang sama.  

Dalam pemetaannya, Jamison membagi perkembangan teknologi menjadi tiga era, yaitu Web 1.0, Web 2.0, dan Web 3.0, yang tengah terjadi sekarang ini. Web 1.0 adalah masa ketika konektivitas Internet mengandalkan jaringan pada raksasa seperti AOL, Yahoo, dan Google, yang menguasai masa ini. Kemudian tiba masa Web 2.0, dengan kondisi kebutuhan Internet menjadi bagian dari kehidupan sosial.  

Media sosial pun mulai tumbuh bak cendawan pada musim hujan. Mulai Friendster, Facebook, Twitter, hingga Zynga bermunculan pada era ini. Saat memasuki era Web 3.0, segala sesuatu bergerak dengan real-time. Hal ini dapat dilihat pada koneksi ketika melakukan panggilan video, gambar yang dihadirkan tak putus-putus dan tidak freeze lagi.

Namun tidak berhenti di situ, konon, kini sedang dikembangkan teknologi gadget bernama supercomputer, yang dapat memenuhi semua kebutuhan akan koneksi mobile yang diminta.  

“The future is already here, it’s just not evenly distributed,” kata William Gibson, penulis novel asal Amerika Serikat.

Sumber: MALE Zone by Wit Prasetyo, MALE 119

Digital Publishing

0

Evolusi industri penerbitan tengah berlangsung di dunia, dan digitalisasi media memang tak terelakkan. Beberapa penerbit sudah beralih ke digital, beberapa yang lain mungkin baru memulainya. Di Indonesia nyaris semua majalah cetak mempunyai versi digitalnya, meski masih banyak yang belum interaktif, sesuai dengan platform-nya.  

Memang, tidak semua penerbit bisa segera move on, pindah dari cetak ke digital. Apalagi tidak ada jaminan bahwa di platform yang baru mampu memboyong serta para pengiklan. Ini memang problem besar di kalangan penerbit yang sudah merasa nyaman dengan platform lama yang bertaburan iklan. Padahal, kenyamanan tersebut adalah semu, yang tidak berdaya melawan perubahan zaman.  

Tidak hanya itu, pergeseran akibat teknologi mobile lebih cepat dari yang diperkirakan. Bahkan ponsel, tablet, mobile application, dan mobile lifestyle, telah diterima menjadi norma baru generasi kiwari. Teknologi digital terus berkembang dan berdampak bagi kehidupan manusia. Salah satunya pada industri penerbitan digital. Media-media informasi yang pada era sebelumnya didominasi oleh platformcetak, sekarang mulai beralih di digital.  

Yup, surat kabar dan majalah cetak mempunyai pembaca setia, sedangkan televisi adalah media tradisional yang masih memiliki audiens yang sangat besar, apalagi di Indonesia. Tapi yang tidak boleh dilupakan, semua publisher harus mempunyai persiapan untuk menuju ke era digital, kalau tidak ingin hanya menjadi kenangan kelak.

Digital publishing (juga disebut sebagai e-Publishing atau penerbitan elektronik) memang masih tergolong baru. Di platform baru ini, produk tidak lagi statis, banyak fitur-fitur yang tidak bisa disediakan oleh media cetak. Mulai dari audio, video, hyperlink, slideshow, animation, motion graphic, hingga customize gallery, semua bisa diaplikasikan ke dalam media digital. Khusus di majalah MALE, Anda sudah bisa lihat halaman interaktifnya di rubrik-rubrik utama, seperti Insight, Lights On, Movie, Travel, Wheel, Accent, Face to Face, dan lain-lain.  

Sementara pengiklan pun, selain diuntungkan dengan fitur-fitur interaktif tersebut, juga bisa mengukur efektivitas iklannya secara tepat.  

Pemilik lisensi Adobe Digital Publishing Suite (Adobe DPS) bisa melacak jumlah download majalah, jumlah viewer (pembaca) dan klik halaman iklan yang dipasang. Yang menarik, semua bisa tercatat, bahkan ketika pembaca mengakses konten dalam keadaan offline.  

Dengan teknologi, semua yang tak mungkin kelak bisa menjadi mungkin. MALE tentu selalu ikut dengan perkembangan zaman, tidak hanya  konten, foto, visual, tapi juga perkembangan teknologinya. (Burhan Abe)  

Sumber: MALE 118