Home Blog Page 78

Djakarta Warehouse Project

0

Acara LA Ice Djakarta Warehouse Project (DWP) 2013 sempat menyedot perhatian para partygoer Jakarta. DJ asal Jerman, Anton Zaslavski atau Zedd, menjadi salah satu DJ yang ditunggu kehadirannya dalam acara yang digelar di Ecopark, Ancol, Jakarta, Jumat, 13 Desember lalu, itu.

Dengan menyajikan hitnya, seperti Stay The Night, Spectrum, dan tentu saja Clarity, Zedd seperti menyihir penonton. Meski diguyur hujan dan beralaskan lumpur, ribuan clubbertak bergeming, malah bergoyang mengikuti irama.

Selain itu, sekitar 40 DJ internasional dan lokal tampil. Sebutlah Alesso, Breakbot, Flight Facilities, Madeon, dan Martin Solveig, juga DJ Riri, Hizkia, Anton Wirjono, serta sang master David Guetta.

Bagi Anda yang belum akrab dengan event ini, pergelaran DWP tahun ini adalah yang kelima. Sementara musik jazz punya Java Jazz, blues punya Jakarta Blues Fest, DWP adalah pesta musik dance. Tidak tanggung-tanggung, ada sekitar 45 performer yang menggetarkan saraf musikalitas audiens, yang membuat badan bergerak dan berjoget ria sepanjang malam.

Ada keriaan, pasti ada musik—dan bukan kebetulan kalau musik dance yang menjadi pilihan. Merunut sejarahnya, perkembangan musik beriringan dengan berkembangnya industri elektronik. David Dunn dalam “A History of Electronic Music Pioneers” menyebut kemunculan musik elektronik bermula dari dibuatnya Clavecin electrique, yang didesain oleh Jean-Baptiste de Laborde di Prancis pada 1759. Sementara itu, Wikipedia mencatat, pada 1969 lagu Popcorn, yang dirilis oleh Gershon Kingsley, banyak disebut sebagai lagu pertama yang mewakili Dance Track(McCurley dan Flynn, 2013).

Terlepas dari berbagai pendapat tersebut, musik elektronik kemudian populer dengan sebutan musik dance, techno, trance, house, dan akhirnya muncul sebutan electronic dance music (EDM)—istilah yang dimaksudkan untuk merangkum semua genre musik jenis ini.

Apa pun, yang jelas, EDM telah mewabah ke seluruh dunia. Beberapa contohnya adalah Levelsmilik Avicii yang sempat menjadi anthem untuk setiap keriaan. Begitu juga dengan Titanium dari David Guetta atau We Found Love sebuah kolaborasi apik antara Rihanna dan Calvin Harris. Hingga fenomena Harlem Shake  sampai Katy Perry, di lagu Dark Horse dalam album terbarunya, Prism, juga menawarkan musik trap yang berasal dari selatan Amerika Serikat. (Burhan Abe)

Sumber: MALE 60

The V.I.P.s by Arantxa Adi

0

Absolut Elyx Arantxa Adi  The V.I.P.S 2014 Collection berlangsung di Kempinski, Jakarta, 11 Desember 2013. Ultra premium vodka nomor satu di dunia ini berkolaborasi dengan desainer Arantxa Adi mengadakan acara fashion show dan dinner.

Acara ini juga dimeriahkan oleh Siera Sutedjo, Maria Calista,  dan Raisa. Juga ada DJ Patricia, DJ Hizkia, Avakustik, dan tentu saja 35 top model yang membawakan busana Arantxa Adi. Sedangkan percaya acara dipercayakan kepada Javier Justin dan Aimee Juliette.    

Absolut Elyx, the world’s number one Ultra Premium Vodka, with Arantxa Adi will again presents Arantxa Adi The V.I.P.s 2014 Collections, which will take place on Wednesday, December 11th, 2013 at the exclusive Grand Ballroom Kempinski Hotel. This fashion show will also become a celebration to mark the launch of Absolut Elyx in a new 3 liters bottle. This must attend event will begin punctually at 6:300 p.m.  

A timeless class and sophistication of High-end Fashion and Couture, infused with handcrafted luxury of the ultimate Ultra Premium Vodka.  

Arantxa Adi is a renowned Indonesian designer who has been involved in the fashion world for more than 14 years. His greatest achievement includes being chosen by Citizens of Humanity to design for the US denim label for Fall 2010 where he is the only designer from Asia who was given the honor.   For Arantxa Adi The V.I.P.s 2014 Collections, Arantxa Adi has prepared his latest creations as a tribute to the late Elizabeth Taylor and Absolut Elyx. The character and elegance of Elizabeth Taylor and Absolut Elyx is the source of inspiration for this young and talented fashion designer in creating his modern lifestyle fashion for all of the Indonesian vodka connoisseurs. 

This elegant fashion show will be difficult to achieve without the presence of Jay Subiakto, who is famous for his vision, creativity and visual beauty in all of the performances he has handled, as the art director for Arantxa Adi The V.I.P.s 2014 Collections.

Detoks Digital

0

SEDANG marak berkembang tentang detoks digital. Beberapa agen perjalanan kelas atas mempromosikan tujuan liburan dimana mereka akan tidak mempunyai akses wifi ataupun telepon, dan sebuah pusat perbelanjaan kelas atas di London menyediakan silence room, di mana orang diharuskan meninggalkan ponsel (juga sepatu) di depan pintu dan dilenyapkan dari kebisingan kota dan kehidupan retail.  

Bagi para pekerja di Asia-Pasifik, liburan bebas wifi atau perjalanan belanja (shopping trips) akan menjadi penyiksaan. Masih jauh dari kebutuhan “beralih dari pekerjaan”, justru mereka bertekad untuk tetap pada pekerjaan setiap waktu. Pada musim panas ini, 41% dari para pebisnis akan tetap bekerja 1-3 jam perhari selama masa liburan mereka dan 17% akan menghabiskan lebih dari 3 jam perhari selama liburan, hal ini diungkapkan menurut penelitian Regus. Jikalau mereka terputus dari jangkauan sinyal telepon, mereka hanya akan merasa khawatir karena pekerjaan mereka akan tertinggal, daripada menikmati kesempatan untuk bersantai.  

Risiko yang harus dibayar karena panjangnya jam kerja

Untuk selalu mengejar agar menjadi yang teratas juga dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Bekerja lebih dari 11 jam sehari dapat meningkatkan resiko serangan jantung sebanyak 67% dibanding dengan orang yang hanya bekerja ‘normal’ selama 8 jam sehari. Peningkatan resiko ini diduga muncul karena orang yang bekerja lebih lama lebih rentan menderita stress, peningkatan kadar kortisol, kebiasaan makan yang buruk dan kurangnya olahraga karena waktu luang yang terbatas.  

Sangat sedikit orang akan terkejut dengan hubungan antara lamanya bekerja dan masalah kesehatan, hanya saja karena terlalu banyak orang terjebak di treadmill berjam-jam lamanya. Masalah ini diperparah di Asia karena budaya “wajah waktu – face time”: Anda tidak dapat meninggalkan lingkungan kerja sebelum atasan Anda, lalu kemudian bagaimana cara Anda mengendalikan jam kerja Anda sendiri atau keseimbangan dalam kehidupan kerja Anda?  

Hubungan antara kontrol dan keseimbangan kehidupan kerja Anda diteliti dalam Regus Worklife Balance Index, di mana ditunjukkan bahwa pemilik usaha menikmati keseimbangan antara pekerjaan – kehidupan sehari-hari yang lebih baik daripada para pekerja. Jika mereka terlihat seperti workaholic, mereka melakukan itu karena pilihan mereka dan pada waktu-waktu yang mereka tentukan sendiri.

Akibatnya gaya hidup mereka mungkin lebih sedikit dari stres daripada para pekerja yang dirantai di belakang meja serta dihalangi oleh ketidak-inginan atasan mereka untuk pulang atau para profesional yang terganggu pada saat liburan mereka karena harus menjawab surel pekerjaan.  

Membiarkan orang bekerja dengan cara mereka masing-masing

Jika dapat memilih akan meningkatkan keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaaan, merupakan salah satu pendukung dalam pekerjaan yang fleksibel. 63% pebisnis berpikir bahwa praktik kerja yang fleksibel – seperti memberikan pilihan tentang tempat kerja dan waktu kerja – dapat mengurangi stres. Dan 63% bidang bisnis berpikir bahwa pekerjaan yang fleksibel dapat memberikan semangat dan motivasi yang lebih banyak. Jadi tidak mengherankan jika adanya tempat praktik kerja yang fleksibel mengakibatkan peningkatan produktivitas dan menurunkan persentase pergantian staff.  

Dengan semakin banyak perusahaan menawarkan pilihan kerja yang fleksibel, contohnya di Regus, semakin banyak kita melihat orang diseluruh dunia menggunakan business centre kami yang beralasan untuk bekerja lebih dekat dengan rumah, atau sekedar singgah sebelum atau sesudah pertemuan untuk melanjutkan pekerjaan daripada harus membuang waktu kembali ke kantor. Semakin banyak kami memperluas jaringan global kami, semakin banyak kemudahan dan penghematan waktu yang kami tawarkan.  

Bagaimana manajer dapat membantu?

Untuk memaksimalkan manfaat dari pekerjaan yang fleksibel dan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan, mungkin akan diperlukan adaptasi budaya manajemen bagi beberapa usaha. Pertama, penghargaan dan promosi harus didasarkan pada hasil, bukan kehadiran. Mungkin bagi orang-orang yang ambisius pekerjaan yang fleksibel  dan kerja jarak jauh dapat membahayakan prospek karir mereka, tentu mereka tidak akan menggunakan cara ini. Mereka tentu akan merasa harus selalu dilihat oleh atasan mereka.  

Kedua, para pekerja tidak harus terpaku pada smartphone mereka setelah jam kerja berakhir atau disaat mereka cuti. Tentu saja, keadaan darurat dapat terjadi dan orang-orang perlu dihubungi diluar jam kerja, namun hal ini seharusnya menjadi pengecualian bukan rutinitas. Istirahat bukanlah istirahat jika hanya mengganti tempat bekerja menjadi tepi kolam renang.  

Solusi Digital

0


PERKEMBANGAN media digital interaktif selama dua tahun terakhir mengalami kemajuan yang signifikan. Membaca majalah dan surat kabar di tablet lebih dari sekadar membolak-balik halaman, tapi ada grafis yang bergerak, teks yang bergulir,  foto yang lebih detil dan bisa berlapis-lapis, juga video yang sempurna.

Dengan teknologi touchscreen, semua pengalaman itu bisa didapat hanya dalam sentuhan. Bukan hanya halaman editorial, materi iklan pun mendapatkan medium yang lebih fun.
Perpindahan pembaca media konvensional ke digital memang luar biasa. Terbukti, beberapa penerbitan meraih sukses dalam menjaring downloader, sebutlah Popular Science yang mempunyai 97.000 pelanggan, British Journal of Photography200.000 pelanggan, dan Game Informeryang sudah menembus 1 juta pelanggan. MALE sendiri, yang hadir dengan tiga platform (iPad, tablet berbasis Andoid, dan PDF), sudah diunduh lebih dari 18 juta kali dalam setahun.


Memang, migrasi pembaca media digital interaktif belum sesignifikan dengan migrasi iklannya. Padahal, tidak ada alasan untuk menolak kehadiran platform baru ini. Paling tidak, ada beberapa alasan kuat mengapa merek Anda membutuhkan solusi digital.

Pertama, populasi tablet dan smartphone terus membesar. The Pew Research Center melaporkan pada Oktober 2012, sebanyak 25% orang Amerika memiliki tablet sendiri – padahal dua tahun sebelumnya cuma 4%. Pertumbuhan yang sama juga terjadi di beberapa kota besar dunia. Sementara itu Apple melaporkan bahwa jumlah kumulatif download aplikasi dari App Store selama lima tahun terakhir sudah mencapai 40 miliar.
Kedua, medium tablet yang bergerak memberikan peluang bagi pengiklan untuk membuat kreatif yang lebih menarik. Pemakai tablet ingin mendapatkan konten yang jauh lebih mendalam, sehingga memberi kesempatan pengiklan untuk bisa berinteraksi dengan pembacanya.
Menurut hasil studi Marin Software, pengguna tablet tergerak untuk selalu melakukan surfingdi mediumnya, 42% lebih dalam ketimbang di komputer tradisional. Penelitian InsightExpress menunjukkan bahwa iklan di tablet memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan di PC. Dengan kata lain, iklan via tablet (dan smartphone) terbukti menjadi lebih menarik dan efektif daripada kampanye via PC.
Banyak lembaga riset membuat prediksi tentang jumlah uang yang akan dibelanjakan untuk iklan di tablet dan mobile. Angkanya bervariasi, namun semuanya meramalkan akan ada pertumbuhan yang signifikan. eMarketer melaporkan bahwa $8,4 miliar uang yang sudah dibelanjakan untuk iklan mobile dan digital secara global pada 2012, dan mereka memprediksi angka tersebut akan naik menjadi  $36,8 miliar pada 2016.
Dengan berbagai fakta di atas, beranikah kita menolak kehadiran media digital, khususnya tablet publishing? No one can ignore it. (Burhan Abe)

Gaya Hidup

0

Gaya hidup menggambarkan seluruh pola seseorang dalam beraksi dan berinteraksi di dunia. Bagaimana ia berbusana, mengomsumsi makanan, menikmati musik, film, bersosialisasi, dan lain-lain. Tapi gaya hidup pada umumnya tidak langgeng, bisa berubah sesuai dengan perubahan zaman.

Sebuah produk branded asal AS, misalnya, dulu mengidentikkan gaya hidup yang keren itu adalah adventure. Tapi seiring dengan perkembangan zaman, adventure yang keren itu adalah berpetualang rasa, mencicipi makanan kelas atas (haute cuisine), menikmati premium wine, hang out di klub-klub ternama, dan seterusnya.

MALE 55 edisi 1st Anniversary memberikan sedikit referensi tentang kota-kota dunia yang sangat menyenangkan untuk hang outsemalam suntuk. Lengkap dengan klub-klub paling hip di dunia, mulai dari kota Reykjavik, Amsterdam, Zurich, Berlin, Tel Aviv, Budapest, hingga Saint Petersburg. These towns are know how to party!

Pilihan restoran untuk makan malam yang berkesan, kami juga mempunyai rekomendasinya. Lima yang patut dicoba adalah El Celler de Can Roca (Girona, Spanyol),  Eleven Madison Park (New York, AS),  D.O.M (Sao Paulo, Brazil), Les Creations de Narisawa (Tokyo, Jepang), dan restoran negeri sendiri,  Mozaic (Bali) yang dinobatkan sebagai resto terbaik di Indonesia oleh San Pellegrino World’s Best Restaurants – Asia 2013.

Wine bukan sekadar minuman tapi sudah menjadi bagian dari juga gaya hidup. Ikuti artikelnya di edisi ini juga agar Anda tidak sekadar menjadi follower, tapi trendsetter.

Minuman yang disebut sebagai social drink ini sedang hits di kota-kota besar dunia, termasuk Jakarta. Produksi wine dunia terus meningkat sejak 1996, bahkan konon tak sebanding dengan permintaannya – setidaknya menurut laporan analis Morgan Stanley, Tom Kierath, dan Crystal Wang.

Melengkapi edisi lifestyle kali ini, kami menampilkan Allen Iverson (Face to Face), pemain basket legendaris yang gayanya sangat eksentrik, yang memutuskan pensiun tahun ini. Eks pemain NBA ini beberapa saat yang lalu ia datang ke Indonesia untuk ambil bagian dalam perhelatan LA Lights Streetball di Jakarta.

Juga jangan lupa, ada seleb cantik menghiasi cover edisi kali ini, Sendy Mamahit, yang sempat muncul di Lights On di MALE edisi perdana. Serta model seksi Shela Nadine (Lights On) yang difoto di Tanjung Lesung, Banten. It’s gonna be awesome! (Burhan Abe – Chief Editor at MALE)

Sumber: MALE 55

Go Digital

0

GELOMBANG digital itu ternyata serius. Media cetak di AS dan negara-negara maju sudah banyak yang berganti ke digital, dan riaknya pasti akan menyebar ke seluruh dunia. Bahkan, menurut ramalan Eric Schmidt, Executive Chairman Google, tidak ada masa depan lagi bagi media cetak.  

Bos Google itu mengungkapkannya di konferensi Magazine Publishers Association. Schmdit banyak membahas mengenai masa depan dunia mobile  (yang di dalamnya termasuk tablet) dan bagaimana media dapat memanfaatkannya.  

Prediksi Schmidt bukan tanpa alasan, bagaimana pun tablet memiliki banyak fungsi yang tidak dimiliki oleh majalah fisik. Faktanya, tablet saat ini sudah lebih populer dibandingkan PC. “Tablet mempunyai banyak kelebihan, di antaranya bisa menunjukkan lokasi, memiliki akselerometer, dan yang lebih penting memberikan pengalaman interaktif yang luar biasa. Semua itu tidak bisa dilakukan di majalah cetak,” kata Schmidt  (Mashable, 25/10).  

Teknologi tablet pun tidak berhenti seperti yang sekarang ada, dalam lima tahun akan ada tablet baru yang memiliki kinerja yang tinggi, dan akan semakin mempercepat  migrasi media tradisional ke tablet.  

Perpindahan dari cetak ke digital, bukan sekali ini saja diramalkan. Bahkan beberapa majalah cetak sudah memutuskan untuk membuat versi digitalnya. Termasuk yang fenomenal Newsweek yang setelah 80 tahun berjaya di cetak, memutuskan untuk go digital. Majalah berita legendaris tersebut mengumumkan berhenti terbit dalam bentuk cetak dan beralih ke edisi digital pada akhir 2012.  

Di Indonesia kelompok penerbit besar memang sudah menjajal platform digital, meski belum sepenuhnya bermigrasi secara sempurna. Sementara penerbit kebanyakan masih asyik di platform cetak, karena memang tidak mudah menaklukkan teknologinya, juga permodalannya yang tidak kecil jika terjun ke digital. Tapi terutama memang karena mindset mereka yang belum sepenuhnya meyakini bahwa masa depan majalah adalah digital.  

Setelah adanya penemuan tablet, suka atau tidak suka, majalah cetak seperti di ambang kematian. Banyak pembaca yang mulai meninggalkan cetak, bahkan tidak sedikit pembaca muda yang tidak akrab dengan majalah cetak karena terlahir di era digital.  

Memang, gelombang perpindahan pembaca dari cetak ke digital, tidak segera diimbangi dengan pengiklannya, yang membuat para publisher ragu-ragu untuk go digital. Tapi ini hanya persoalan waktu saja. Riset terbaru PricewaterhouseCoopers (PWC) menunjukkan bahwa pertumbuhan iklan media onlie cukup mengesankan, bahkan dalam lima tahun ke depan diprediksi tumbuh sekitar 13% per tahun. (Burhan Abe)

Sumber: MALE 54

1st Anniversary MALE Magazine

0

SETAHUN sudah usia Majalah MALE, dan edisi 53 ini memasuki tahun kedua. Setahun yang lalu, banyak tantangan ketika hendak menerbitkan majalah ini. Pertama, majalah digital interaktif ini adalah platform baru di dunia online. Kedua, tidak ada tempat sekolah atau berguru untuk mempelajari teknologi baru ini. Ketiga, semua awak redaksi MALE mayoritas jebolan majalah cetak, tidak ada satu pun yang pernah bekerja di majalah digital interaktif. Maklum, ini memang barang baru, yang kalau diibaratkan universitas, belum meluluskan alumninya.

Tapi hidup terasa biasa-biasa saja kalau tidak ada tantangannya. Maka, dengan tekad bulat, serta pengasahan segala kreativitas, 2 November 2012, edisi perdana MALE terbit. Puji Tuhan, sambutan pembaca luar biasa! Dalam setahun downloader-nya tak kurang dari 18 juta – yang masih bisa terus bertambah.

Kalau majalah serupa hanya memikirkan 12 tema dalam setahun, MALE memikirkan 52 tema dalam kurun waktu yang sama. Selama setahun sudah 52 model yang kami foto dan wawancara untuk jadi cover (Insight), 52 model untuk rubrik Lights On, serta kalau mau ditambahkan, 52 tokoh atau selebriti pria untuk Face to Face.

Edisi 53 ini tampilkan Vitalia Shesya sebagai cover, model seksi yang sempat kontroversial karena keterlibatannya dengan seorang petinggi yang dikaitkan dengan sebuah partai politik. Juga kami tampilkan kembali lima model cover yang downloder-nya termasuk tinggi: Manohara, Wiwid, Sylvia Fully, DJ Yasmin, dan Joanna Alexandra. (Burhan Abe)

Sumber: MALE 53

Cantik ala Antropologi

0

PARA antropolog sudah lama melanglang buana untuk mengungkap berbagai kebudayaan di seluruh jagad. Salah satu temuan mereka adalah kenyataan bahwa manusia memiliki berbagai macam standar kecantikan. Leher jangkung seperti jerapah dan daun telinga lebar seperti gajah adalah di antara standar yang sudah lama dikenal oleh para antropolog.  

Namun, seriring dengan pesatnya teknologi informasi, perbedaan itu pun kian mengecil. Maklumlah, kini informasi dan gambar tentang trend kecantikan bisa menyebar ke seluruh penjuru dunia secara real time dan murah. Sementara itu kontes-kontes kecantikan, yang menggunakan standar Barat untuk menentukan pemenang, juga kian marak di mana-mana.  

Standardisasi kecantikan, yang hampir seluruhnya berkiblat pada kebudayaan Barat, kini memang tak  terbendung. Miliaran dolar diputar oleh para industrialis kecantikan di sana untuk melakukan globalisasi standar tersebut, yang sering membuat kaum hawa keranjingan ke salon atau menjubeli beauty shop. Para dokter bedah plastik pun tak perlu kerja keras untuk menarik pelanggan. Industri kecantikan, yang kebanyakan berada di belahan bumi utara, pun kian berjaya. 

Produk-produk baru hampir setiap menit digulirkan, membuat perpuataran uang selalu kencang. Mereka juga sangat serius melakukan survai untuk mencari kegandrungan baru kecantikan. Survai terbesar telah dilakukan The Aesthetic Anthropology Survey, yang bertujuan menguak perbedaan budaya dalam perawatan dan kecantikan wanita dan pria di Eropa dan Amerika Serikat. Survai kolosal ini melibatkan 10.000 partisipan!  

Survai ini tentu saja sangat bermanfaat bagi para industrialis kecantikan untuk merancang pengembangan bisnis. Utamanya tentu saja tekait dengan pengembangan poduk dan strategi pemasaran. Para eksekutif di industri ini paham betul bahwa secara antropologis konsep dan definsi kecantikan masyarakat selalu berubah, seiring dengan dinamika kebudayaan budaya yang tengah berkembang.       

Salah satu yang sangat diuntungkan oleh survai seacam itu tentu saja jaringan salon rambut terbesar di dunia: Regis Corportion. Perusahaan ini ini kini menaungi lebih 11.000 salon tata rambut di seluruh dunia, dan dua sekolah kecantikan – Empire Beauty Schools dan The Hair Design School – berkelas dunia. Kedua sekolah ini memiliki lebih 100 cabang di 20 negara.

Raksasa kencantikan Shiseido dari Jepang juga tak ketingalan. Menyadari bahwa produk kecantikan juga telah menjadi simbol prestise, konglomerat kecantikan ini meluncurkan krim kulit wajah seharga Rp 128 juta per botol dengan bobot isi 50 gram. Krim ini diberi nama La Crème. Menurut Shiseido, krim ini bisa membuat wajah pemakainya awet muda dan tampak selalu segar.  

Perlu juga dicatat, yang juga membuat La Crème super-mahal adalah wadahnya. Setiap wadah krim ini dibuat dengan tangan oleh Crystal Saint-Louis, yang sulit dicari tandingannya di dunia. Wadah ini sungguh wah karena terbuat dari 30 lapisan Kristal, dan tiga jenjang platina. Nah!  

Di Indonesia, meski dalam skala lebih kecil, perlombaan untuk merebut pasar kecantikan pada dasarnya sama saja. Bedanya, meski didominasi produk Barat, di Indonesia telah bermunculan produk dalam negeri yang berorientasi pada budaya lokal. Salah satu yang kerap dieksploitasi adalah perawatan kecantikan para putri keraton Jawa, dengan perputaran uang mencapai triliunan rupiah per tahun.  

Mustika Ratu dan Martha Tillar adalah dua nama besar dalam hal ini, dan keduanya mengandalkan resep kecantikan keraton Jawa untuk memikat hati para pelanggan. Dalam soal pencitraan, Mustika Ratu tampil sebagai “Cantik Paripurna Indonesia”, dan Martha Tillar memilih “The Total Natural Beauty Inspired by Eastern Value and Culture”. Hebatnya lagi, meski berorientasi pada budaya lokal, kedua raksasa kecantikan Indonesia ini telah mengekspor produknya ke lebih dari 25 negara di berbagai belahan bumi.  

Bos Google: Usia Majalah Cetak Tinggal 5 Tahun

0

Bos Google Eric Schmidt meramalkan berakhirnya era majalah cetak. Menurut dia, era majalah tablet akan menggantikan majalah cetak dalam lima tahun ke depan.  

Dalam konferensi Magazine Publishers Association pada Rabu, 23 Oktober 2013, Schmidt bicara tentang masa depan perangkat mobile dan majalah. Dia bicara satu panggung dengan pemimpin redaksi Wired, Scott Dadich. “Tablet kini lebih populer ketimbang PC,” kata dia, seperti dilansir mashable.com, Kamis, 24 Oktober 2013. “Anda bisa membacanya, dia tahu dimana Anda berada, dan dia punya akselerometer. Ada banyak hal yang penerbit bisa lakukan di majalah tablet ketimbang yang mereka lakukan di majalah cetak,” dia melanjutkan.  

Menurut Schmidt, lima tahun kedepan, dunia akan punya perangkat mirip tablet yang powerful–perangkat yang terlihat seperti tablet– sebagai pengganti untuk media tradisional. Tablet tersebut akan punya aplikasi yang luar biasa, termasuk aplikasi majalah, yang akan memiliki keuntungan pada grafik sosial pengguna, data lokasi, dan fitur lainnya yang menawarkan pengalaman yang lebih interaktif.  

“Itu akan sangat positif bagi penerbit,” kata Schmidt. “Dalam dunia advertising online, sinyal lokasi memungkinkan Anda beriklan lebih terarah ketimbang iklan cetak saat ini. Semakin terarah, semakin pembaca cenderung untuk mengklik, dan semakin cenderung pengiklan tertarik,” kata dia.  

Schmidt memang meramalkan masa depan majalah, tapi dia tidak melihat pada bentuk konten yang panjang. Ia percaya rentang perhatian seseorang yang semakin pendek dan lebih pendek. “Saya tidak berpikir kita akan kembali ke buku,” katanya. “Ada jumlah besar cara membaca, tetapi lebih banyak tipe ADD dalam membaca.  

Sumber: TEMPO

17,5 Juta Downloader!

0

Sebanyak 52 edisi sudah MALE terbit, setahun sudah majalah ini hadir ke hadapan Anda. Kami memang bukan yang pertama menerbitkan majalah dalam format digital, tepatnya digital interaktif, tapi kami salah satu trendsetter, bahkan berani mengklaim terbesar di Indonesia saat ini. Jumlah pengunduhnya terbanyak – tidak hanya dibandingkan dengan majalah sejenis dalam format digital, tapi juga edisi cetak sekali pun. Dalam setahun mampu menembus 17,5 juta downloaders!  

Yang juga istimewa, MALE terbit mingguan serta hadir dalam tiga platform sekaligus, dalam format digital interaktif yang bisa dinikmati melalui iPad dan tablet yang berbasis Android, serta dalam format PDF dalam platform PC, laptop, bahkan mobile. Gratis pula, tidak perlu membayar.  

Interactive digital magazine adalah format baru di bidang media, yang kehadirannya memberikan pengalaman interaktif kepada pembacanya, serta memberikan kesempatan pengiklan untuk menampilkan iklan-iklan kreatif yang tidak mungkin diberikan oleh majalah konservatif (cetak) bahkan online sekalipun.  

Membaca majalah bukan satu-satunya hal yang bisa Anda lakukan di sini! Karena di aplikasi ini, Anda bisa menikmati foto-foto, video, serta interaktifnya tentu saja. Kelebihan-kelebihan itulah yang terus kami kembangkan – meski ini adalah teknologi baru yang banyak trial and error-nya, tapi di situlah letak tantangannya.  

Banyak yang sepakat, ke depan adalah era digital, sehingga media juga beralih ke digital. Baby boomers tumbuh di era perkembangan industri televisi, tapi generasi sekarang, yang hidup di Millennium ketiga akrab dengan Internet dan mobile devices. “Tidak terbayang mereka bisa hidup tanpa Internet, ponsel, dan media sosial,” tulis  Josh Elman dalam techcrunch.com.  

Mereka boleh disebut sebagai “Generation Touch” atau GenT. Di tangan mereka selalu terhubung dengan device yang bisa ditenteng ke mana-mana, yang layarnya siap disentuh untuk melakukan berbagai kegiatan – mulai dari menyerap informasi, bersosialisasi, hingga berbelanja.

Their freedom exists in the form of the Internet and their devices — and it’s the new consumer products we see growing quickly that embody these trends,” jelas  Josh Elman.  

Yang menarik, GenT tidak dibatasi oleh usia, selagi Anda kategori mereka, yang sangat tergantung dengan Internet dan sangat tergantung dengan mobile devices untuk melakukan segala aktivitas, maka Anda juga termasuk generasi ini. MALE adalah majalah digital interaktif yang hadir untuk memenuhi kebutuhan ini, Anda yang tidak mau ketinggalan zaman. (Burhan Abe)  

MALE Magazine