Home Blog Page 84

POPULAR – Reborn

0

Editor’s Note (untuk POPULAR Edisi “Reborn” Mei 2009)

POPULAR Magazine – Talk About Men’s World

DUNIA makin kompetitif, termasuk industri pers. Kami sadar hanya yang kreatif saja yang mampu bertahan dan menancapkan kredibilitas. Itu sebabnya POPULAR, yang sudah lebih dari dua dekade hadir di Indonesia, berusaha menyajikan yang terbaik, menjadi bacaan wajib bagi para pria dewasa yang membutuhkan informasi dan hiburan.

Seorang pengamat pemasaran mengatakan, merek yang bisa hidup lebih dari dua dekade layak menjadi legendary brand. Tapi, usia saja tidak ada artinya kalau merek tersebut tidak tumbuh dan berkembang mengikuti zaman. Harus selalu ada rejuvenasi dan mampu merespons keinginan pasar dengan perbaikan-perbaikan.

POPULAR yang ada di tangan Anda saat ini, mungkin Anda pangling, adalah perubahan yang cukup besar, sehingga kami menyebutnya sebagai reborn, alias kelahiran kembali. Tanpa menghilangkan “jiwa” sebagai majalah hiburan untuk pria, kami ingin menampilkan POPULAR yang lebih bernas, berkelas, dan modern sesuai dengan tuntutan kekinian.

Di edisi reborn ini Anda bisa menikmati semua yang berkaitan dengan dunia laki-laki, talk about men’s world. Mulai dari gaya hidup, dunia malam, party, kehidupan selebriti, hobi laki-laki, gadget, otomotif, fashion, grooming, tempat gaul yang hip, dan tentu saja…. keindahan wanita!

Selamat membaca!

Burhan Abe – Editor in Chief

100th Anniversary Martell Cordon Bleu

MERAYAKAN usia satu abad pasti seru. Itu pula yang membuat saya datang ke pesta Anniversary 100th Martell Cordon Bleu di Golden Ballroom, Hotel Mulia Jakarta, Rabu 23 Mei lalu. 

Sebelumnya, tepatnya berlangsung dua hari 22- 23 Mei 2012 di hotel yang sama dilangsungkan pula Art Exhibtion. Berkolaborasi dengan kurator museum Amir Sidharta, acara itu dbuka oleh Edhi Sumadi, Commercial Director Of Pernod Ricard Indonesia dan Thierry Giraud sebagai The Heritage Director & Brand Ambassador Martell. 

Dari situ saja terlihat jelas bagaimana Martell Cordon Bleu diposisikan. Cognac ini adalah simbol dari French art de vivre.

Martell Cordon Bleu adalah penemuan abadi sejak 1912. Selama 100 tahun, Martell Cordon Bleu telah disuling menjadi cognac yang langka dengan keanggunan dan kehalusan yang tak tertandingi. Ketika diciptakan pada tahun 1912, Martell Cordon Bleu dengan cepat mendapat pengakuan di seluruh dunia. Cognac ini menjadi ikon dan pilihan bagi para pecinta cognac sejati yang cerdas. 

Martell Cordon Bleu dikategorikan sebagai cognac XO (extra old) yang benar-benar unik. Dengan rasa buah manisan dan kue jahe, menjadikannya sebagai cognac yang sangat menarik, dan merupakan ekspresi otentik dari kebun anggur Borderies.

Ketika Edouard Martell menciptakan Martell Cordon Bleu, ia dengan tegas memilih biru sebagai warna dari Martell. Terkait secara sistematis dengan merek ini sejak 1848, warna biru Martell adalah lambang pengakuan untuk garis keturunan pelaut dan karier awal Jean Martell. Dengan memilih menyebutnya sebagai Cordon Bleu, Edouard Martell dengan berani memberi nama yang tepat, dan melepaskan diri dari kebiasaan pada waktu itu, serta menyatukan nama Martell dengan kualitas cognac ini. 

Untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 100, Martell mendesain sebuah edisi terbatas. Martell mendandani botol Cordon Bleu, dengan bentuk elegan yang sesuai dengan bentuk aslinya, serta membuatnya sangat mudah untuk dikenali. Botol edisi centenary ini keseluruhannya berwarna biru untuk menghormati warna simbol dari Martell. Lambang centenary, segel, leher dan tutup botol yang berwarna perak ini memperkuat dan mempertegas warna biru dari botol ini.

Keanggunan Cordon Bleu, serta kandungan sejarahnya, malam itu seakan tertumpah. Sejak pintu masuk Golden Ballroom Hotel Mulia sudah ditandai dengan berbagai atribut spirit asal Prancis ini. Mulai dari desain ruangan, ornamen, lampu-lampu, hingga pernik-pernik pesta.

Makanan ala hotel bintang lima disajikan secara prasmanan, dan yang menarik tentu saja minumannya, Martell Gordon Bleu 100 Centenary Edition. Baik yang disajikan murni on ice hingga dicampur dengan aloe vera menjadi cocktail yang menyegarkan. Tidak cukup segelas, tapi menggoda untuk terus tambah dan tambah… 

Selesai acara makan malam, inilah momen yang tidak boleh dilewatkan, fashion show menawan yang tidak hanya menampilkan busana-busana seksi dan elegan, tapi juga menghibur mata – lengkap dengan permainan tata lampu yang menawan. Model-model semampai itu mengenakan busana hasil karya desainer terkenal: Priyo Oktaviano, Oscar Lawalata, Sapto Djojokartiko, dan Rusly Tjohnardi. Koreografi dipercayakan kepada Ari Tulang.

Vox Populi Wine Community

Dari Iseng Hingga Berburu Wine ke Berbagai Negara

MINUM wine di kalangan orang Indonesia kian ngetren. Selain menjadi bagian dari gaya hidup urban, wine merupakan pasar yang sangat potensial untuk terus digarap. Berbagai komunitas pencinta  wine pun bermunculan, salah satunya Vox Populi Wine Community.

Vox Populi Wine Community adalah komunitas pecinta wine, kumpulan orang-orang penyuka wine, minuman yang berasal dari fermentasi dari buah anggur. Minuman ini bisa dibilang minuman khusus orang-orang kelas atas, sebab selain mahal harganya juga tak gampang menemukan barang ini.

Demi mendapat rasa dan kualitas anggur terbaik, para penggila minuman ini rela merogoh koceh hingga puluhan juta. Bahkan mereka juga rela berburu ke berbagai negara lain seperti Eropa hingga Timur Tengah. Seperti yang dilakukan oleh para anggota komunitas wine yang dipelopori oleh Burhan Abe ini. Mereka mengaku awalnya tidak sengaja membentuk komunitas wine ini. Dari iseng-iseng karena sering meliput dan menulis masalah wine, hingga mencari sendiri minuman tersebut, membuat wartawan senior lifestyleini terus selalu berburu minuman itu hingga ke manca negara  – beberapa di antaranya memang ada kaitannya dengan liputan.

“Terbentuknya komunitas pecinta wine ini sebetulnya tidak sengaja, pada awalnya kami hanya kumpul-kumpul di suatu tempat, karena pekerjaan sebagai wartawan, lama-kelamaan jadi keseringan sehingga kami rutin minum-minum wine, maka terbentuklah komunitas ini,” kata Burhanuddin Abe, ketua Vox Populi Wine Community. Di luar wine, Vox Populi sendiri sebetulnya adalah sebuah creativesyndicate, yang di dalamnya terdiri dari para penulis dan wartawan freelance, yang terbentuk sekitar enam tahun yang lalu.

Kembali ke soal wine, “minuman ini sejarahnya sudah ada lebih dari 1.000 tahun sebelum Masehi, berawal dari Iran itu penghasil wine, akhirnya tersebar ke banyak negara, ke seluruh penjuru dunia,” ujarnya.

Menurut Burhan Abe banyak negara sudah memiliki kebun anggur dan pengolahan wine, termasuk di Indonesia, “Kalau bicara soal wine, dan wineries, sejarahnya memang sudah lama banget. Prancis dikenal sebagai salah satu penghasil wine terlama dan terbaik di dunia. Kalau di Australia, yang anggurnya dikenal sebagai new world wine, juga tidak kalah serunya, bahkan kini menjadi salah satu negera penghasil wine terbesar. Hampir semua negara mempunyai produk wine, minimal penduduknya mengonsumsi wine. Indonesia juga punya wine, yang diproduksi di Bali, mereknya Hatten,“ katanya.

Permintaan wine dan tradisi minum wine di Indonesia, khususnya di Jakarta dan beberapa kota besar, memang mulai tinggi, bahkan sejak tahun 2000-an banyak bermunculan komunitas-komunitas dan klub-klub pecinta wine – yang sebelumnya hanya monopoli para ekspat. “Apalagi banyak distributor wine yang bermunculan, juga wine lounge yang banyak dibuka di Jakarta,” jelasnya.

Tujuan membentuk komunitas wine lanjut Burhan, bukan sekadar untuk mabuk-mabukan pastinya. “Sebagian orang kalau mendengar anggur itu kesannya adalah minuman memabukkan. Padahal wine ini beda dengan minuman keras pada umumnya, cara minumnya ada seni tersendiri. Wine itu adalah social drink, ada ritualnya, dan dinikmati rame-rame dalam sebuah perjamuan, misalnya wine dinner. Sambil berkumpul, menikmati makanan dan minuman, mereka bisa saling bertukar pikiran, minimal networking,”  tandasnya. (YKO)

Sumber: Nonstop, 22 April 2012

Mengenal Jenis Wine

0

SOAL harga memang relatif. Tapi tidak bisa dipungkiri, wine di Indonesia, menurut Burhan Abe, tergolong mahal – bahkan lebih mahal dibandingkan di negara asalnya. “Hal lain yang membuat wine di sini sangat mahal, terutama ada pajak minuman beralkohol yang dikategorikan sebagai barang mewah. Belum lagi ongkos pengiriman barangnya,” tuturnya.  

Wine atau minuman beralkohol yang terbuat dari sari anggur jenis vitis vinifera ini masuk ke Indonesia sekitar tahun 1980-an. Soal jenisnya, minuman yang dibuat melalui fermentasi gula di dalam anggur itu memang banyak. “Wine memang ribuan jenisnya, tapi tidak perlu dihapal kok, yang penting kita bisa menikmatinya,” katanya.  

Memang, ada beberapa jenis anggur yang populer. Jenis anggur merah yang terkenal di kalangan peminum wine di Indonesia antara lain Merlot, Cabernet Sauvignon, Shiraz, dan Pinot Noir. Sementara untuk anggur putih yang populer seperti Chardonnay, Sauvignon Blanc, Semillon, Riesling, dan Chenin Blanc.  

Secara garis besar, anggur terbagi menjadi dua, merah dan putih. Tapi di luar itu ada rose wine, wine berwarna merah muda dibuat dari anggur merah namun dengan proses ekstraksi warna yang lebih singkat dibandingkan dengan proses pembuatan red wine. Sementara sparkling wine adalah wine yang mengandung cukup banyak gelembung karbondioksida di dalamnya. Champagne adalah sparkling wine, tapi dihasilkan di wilayah yang sama di Prancis, yakni Champagne. Ada pula sweet wine dan fortified wine.  Sudah menemukan wine pilihan? Let’s toast! (YKO)  

Sumber: Nonstop, 22 April 2012

Burhan Abe: Wine is A Lifestyle

UNTUK menegok komunitas wine yang berada di Jakarta rasanya tak begitu jelas jika tidak langsung menyapa atau bertemu dengan para penggila wine ini. Berikut petikan wawancara reporter Nonstop Suyoko dengan ketua komunitas pecinta wine yang dijumpai di Ephicure Wine Lounge, FX Senayan, Jakarta.

Ada syarat khusus untuk bergabung di komunitas wine, Vox Populi?

Nggak ada syarat untuk bergabung, yang penting saling kenal. Karena biasanya paling banyak untuk wine dinner sekitar 12 orang, untuk hasil yang lebih optimal. Hanya saja, cara minum di sini tidak kaku juga kok. Kasual saja…

Di mana saja tempat di Indonesia bisa ditemui wine ini?

Sekarang sudah banyak. Hampir semua hotel berbintang di Jakarta punya wine lounge.  Di luar itu juga banyak pilihannya, dari yang kecil spesifik hingga yang luas, di mana winelounge menjadi bagian dari bar dan restoran.

Must read book: Segelas Cerita, Secuil Gaya Hidup

Apakah ada kegiatan rutin di komunitas ini?

Kalau ini kan dadakan, kami biasanya punya kesibukan masing-masing. Biasanya, karena kami juga penulis kita sering diundang oleh distributor, wine lounge, atau hotel-hotel yang ingin mengenalkan produk winenya. Biasanya tidak hanya wine saja, ada juga hotel yang mengenalkan produk lainnya, F&B pada umumnya, kami juga diundang dan lain-lain. Di luar itu kami juga sering ngumpul-ngumpul di wine lounge tertentu di Jakarta.

Kesulitan untuk mengembangkan komunitas  dan prestasi apa yang sudah didapat?

Kami punya misi agar para wartawan yang menulis tentang wine itu mempunyai pengetahuan yang baik tentang baik. Kalau di Perancis, ketika produsen mengeluarkan produk baru, biasanya wartawan yang mendapat kesempatan pertama – sama seperti fim-film baru, wartawanlah yang mendapat kesempatan pertama untuk membuat review-nya. Jadi keluarnya produk wine di sana yang menilai itu dari wartawan.

Kesulitan kita karena di sini penulis wine bisa dihitung dengan jari. Maka dari itu, kami sering mengadakan wine education untuk wartawan gaya hidup, khususnya kuliner,  dengan sponsor distributor wine. Tujuannya adalah mereka bisa menulis wine dengan benar, dengan terminologi yang benar pula, minimal biar tidak malu-maluin.

Sudah berburu wine ke negara mana saja?

Paling sering memang ke Singapura, di event-event internasional, seperti Wine for Asia, World Gourmet Summit, Master of Spirits, dan lain-lain. Saya juga pernah ke Australia, mencicipi  makanan dan anggur terbaiknya, dalam acara Epicurean Theme Tour bersama para wartawan dari berbagai negara.

Kenal wine dari tahun berapa?

Sekitar tahun 1990-an sudah kenal, tapi mulai menikmatinya dan menuangkannya dalam sebuah tulisan mungkin awal 2000-an. Sekarang sering diundang dinner yang mengandung wine, lama-lama juga ada acara yang memang mengkhususkan wine, seperti wine tasting atau pun wine dinner. Semua pengalaman ini mengalir begitu saja, ini karena saya memang wartawan bisnis dan lifestyle, pernah bekerja di beberapa media, serta pernah memimpin majalah Appetite Journey, yang mengkhususkan diri pada F&B lifestyle.

Tanggapan keluarga bagaimana?

Biasa saja, apalagi saya cenderung menikmati wine sendiri, sebagai bagian dari pekerjaan, juga sebetulnya saya tidak punya tempat khusus wine cellar di rumah.

Tanggapan Anda soal anggapan minuman haram?

Orang boleh berpendapat apa saja. Tapi saya menganggap wine is a lifestyle. Wine juga bukan untuk mabuk-mabukan, ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup, ada juga sebagian anggur yang mempunyai fungsi untuk kesehatan tubuh, ada penelitian ilmiahnya – red wine bisa mengurangi risiko penyakit jantung koroner, tujuan kita cuma ingin menikmati saja. (YKO)

Sumber: Nonstop, 22 April 2012

Mengulik Wine di Dunia

0

WINE Spanyol memang sangat populer di dunia. Sejak tahun 1877 beberapa kota yang ada di Spanyol sudah mampu memproduksi wine yang menyebar di berbagai negara. Faktanya, negara tersebut juga tercatat sebagai penghasil wine terbesar di dunia, dibandingkan Perancis yang memiliki Champagne, yang menghasilkan sparkling wine dengan nama wilayah tersebut.

Wine Spanyol adalah wine yang diproduksi di Spanyol tentu saja. Terletak di Semenanjung Iberia, Spanyol memiliki lebih dari 2.900.000 hektar lahan anggur dengan 600 lebih varietas, yang mampu menghasilkan wine terbaiknya.

Anggur – yang diminum manusia sejak 5.000-an tahun yang lalu, adalah minuman yang populer di banyak negara. Negara-negara yang penduduknya meminum anggur paling banyak adalah Perancis, Italia, Amerika Serikat, Jerman, Spanyol, Argentina, Britania Raya, Republik Rakyat Cina, Rusia, dan Rumania. (YKO)

Sumber: Nonstop, 22 April 2012

Creating a Joyful Shopping Destination

0

WHAT do you usually do to pass time at an airport? For most travelers, the answer is undoubtedly shopping. And the most popular shop at any airport is the Duty Free Shop (DFS). The DFS Galleria is heavenly for luxury shoppers, featuring many leading brands, including Bulgari, Burberry, Cartier, Celine, Chloe, Chopard, Coach, Dior, Dunhill, Fendi, Gucci, LOEWE, Mont Blanc, Salvatore Ferragamo, Tiffany & Co and Van Cleef & Arpels.

Of course it is not easy to manage a store that carries leading brands without offering discounts. Good management and creativity is very much required. This is what Craig McKenna believes in. He is the managing director of DFS the company for South Asia, Australia, New Zealand and Singapore.

In the region McKenna is DFS Global’s revenue leader. Almost everyone knows that DFS Galleria Singapore, for example, is a shopping destination. “Creativity is required due to tight competition among retailers,” said McKenna.

He is no stranger to the retail world. He hails from New Zealand and spent his initial years in Invercargill, Dunedin, Christchurch before joining DFS in Auckland in 1995. He started his career at New Zealand DFS as vice president of operations before moving to Singapore in 2003 to become the managing director for Okinawa development.

After completing the Galleria location and assuring airport operations were running smoothly, he took over the position of managing director for business in Singapore. In this role, he was responsible for the DFS portfolio at Changi airport, covering 46 outlets selling liquor, tobacco, food, watches and other luxury items. In addition, he was responsible for an 85,000-square-foot Galleria located in the heart of Singapore that serves foreign tourists, including many Indonesians.

According to McKenna, Singapore is one the group’s most important markets as the city-state has a modern and beautiful environment that makes it one of the most wanted residential places in the world. This modern, buzzing environment is also a capital for fashion shopping in Southeast Asia. “DFS Galleria is the main destination for tourists who want to enjoy a high-class shopping ambience where choices are almost unlimited,” said the father of four who was born in 1959.

Being duty free is only part of the way it draws customers – since its creation, DFS has become a symbol of a luxury lifestyle. It offers the Platinum Services Club (PSC) through which members can enjoy a number of privileges, such as limousine transportation and personalized shopping services. “We are proud to be able to provide the best service and make the customers’ needs our top priority,” he said.

Marketing luxury items goes beyond simply selling, said McKenna, and requires a personal touch with the customers. That is why promotional events that evoke customers’ emotions are often held. One such recent event was the “Master of Spirits II”, which ran from March 31 to April 1, 2012.

The event brought together the world’s most enthusiastic connoisseurs and collectors of spirits, wine and champagne to select the most exclusive and rare spirits in the world, creating one of the most prestigious events of its kind in Asia.

Such events are known as a type of experiential marketing, which are useful to enhance the image of a company or brand, differentiate from competitors’ products and persuade potential customers to purchase the company’s products. “The most important thing is creating loyal customers,” said McKenna, who is also responsible for the establishment of DFS in Mumbai and Abu Dhabi.

DFS Group, based in Hong Kong, is a travel retail store chain with more than 200 outlets in 15 countries throughout Asia and the Pacific, the United States and the Middle East. The majority of the company’s shares belong to LVMH Moët Hennessy-Louis Vuitton, with the rest of the shares belonging to the founder of DFS Group, Robert Miller. “Due to the tight competition and increasing number of new retailers, it is not enough to rely on a close relationship with leading brand owners, but requires innovation, creativity and the right marketing strategy,” said McKenna.

Craig McKenna, Managing Director

CRAIG is the Managing Director of DFS for Asia South – Australia, New Zealand and Singapore. He is a New Zealander, who spent his early years in Invercargill, Dunedin and Christchurch before joining DFS in Auckland in 1995. He started his DFS career in New Zealand as Vice President of Operations, before relocating to Singapore in 2003 to take up the post of Managing Director of the Okinawa development.

Once the Galleria was completed and the Airport Operation acquired, Craig took over the role of Managing Director of the Singapore business. In this role, Craig is responsible for the DFS portfolio at Changi Airport which includes some 46 individual locations across Liquor, Tobacco, Food, Luxury boutiques and Watches. It also encompasses an 85,000 sqft flagship Galleria in downtown Singapore, catering to inbound tourists of all nationalities. Craig was also responsible for the establishment of DFS in both Mumbai and Abu Dhabi.

Craig is married with 4 sons and is a keen follower of all sports, but most importantly the All Blacks. (Burhan Abe)

The Jakarta Post, April 28, 2012

Master of Spirits 2012

0

SAYA pernah terkagum-kagum ketika menikmati perjamuan makan malam, yang ditemani dengan cognac yang harganya USD 3.500 per botol. Dengan isinya yang tidak lebih dari 700 ml, minuman premium itu hanya cukup untuk 20 gelas saja. Minuman itu adalah L’Or de Jean Martell, merupakan produk dari seni yang unik, seni Martell tertinggi dan dikembangkan melalui kerja keras sang generasi penerus para cellar master. Botol L’Or de Jean Martell merupakan sebuah permata yang dibuat dan dihias dengan tangan adalah karya terbaik seorang master pembuat kristal di Cristal de Sevres.

Kekaguman seperti itu ternyata berlipat-lipat ketika saya hadir di acara Master of Spirits yang diadakan oleh Duty Free Shop (DFS) di Singapura, 31 Maret – 1 April 2012.  

Bayangkan di acara ini terdapat koleksi spirits yang terbaik dan paling langka. “Tahun ini, kami memilih 84 produk dari 50 merek top dunia serta sejumlah wine istimewa yang sangat langka dan indah; bernilai jutaan dolar. Ini termasuk koleksi dunia yang paling eksklusif, edisi terbatas dan pilihan bernomor seri, banyak yang diciptakan khusus untuk Master of Spirits tahun ini,” jelas Harold Brooks, presiden merchandising global untuk DFS Group.  

Master of Spirits menyajikan berbagai macam pilihan wine dan spirits mewah untuk memenuhi setiap selera yang ada. Beberapa karya yang dihormati untuk eksklusivitas tertinggi mereka – Johnnie Walker Diamond Jubilee diramu oleh John Walker & Sons adalah edisi terbatas yang dikemas dalam 60 decanter kristal tersuling sesuai petunjuk dari Yang Mulia Ratu sebagai peringatan pemerintahannya yang ke-60.   

Sebuah Maha Karya lainnya yang dihargai untuk mempertahankan teknik penyulingan tradisional mereka – Luzhoulaojiao National Salute bukan hanya sebuah spirit kelas premium asal negeri China tapi merupakan salah satu permata bersejarah pertama dalam dunia liquor yang patut dihormati sebagai warisan budaya nasional.   

Beberapa karya dinilai untuk sentuhan seni mereka – Macallan 1946 dengan Platinum Printnya memadukan dua proses seni yang sangat berbeda tetapi sangat dihormati, seni fotografi dan pembuatan wiski, karena setiap Macallan 1946 menggunakan label yang dicetak dari karya fotografer terkenal Albert Watson.   

Terakhir, beberapa karya yang disajikan di Master of Spirits II adalah wine klasik yang dicintai karena kemegahan rasa mereka – Blanc Cheval 1986 adalah sebuah “pertumbuhan pertama” bintang dari Saint-Emilion yang ample-bodied, halus namun nikmat dan pasti sulit untuk dilupakan.  

Spirits memang bukan sekadar minuman, tapi sebuah gaya hidup. A medium Vodka dry Martini–with a slice of lemon peel. Shaken and not stirred. Kalimat yang diucapkan James Bond, tokoh rekaan Ian Fleming menjadi karakter yang melekat bagaimana segelas Martini, salah satu cocktail yang paling paling populer di dunia, adalah juga sebuah positioning seorang jagoan masa kini.   

Di acara Master of Spirits tidak hanya pameran spirits terbaik di masing-masing kategori, para connoisseurs dan kolektor spirit, wine dan champagne dari seluruh dunia berkumpul. Bersama-sama mereka menemukan spirits paling langka dan eksklusif di dunia. Master of Spirits, kali ini yang kedua, di Singapura menandakan dimulainya Master Series DFS Group untuk tahun 2012. DFS dikenal sebagai pemimpn pasar global dalam ritel produk mewah, mulai dari produk-produk kecantikan, jam tangan & perhiasan, fashion mewah serta wine & spirits.  

“Acara ini adalah pertemuan impian bagi para connoisseurs dan kolektor untuk membangkitkan imajinasi mereka dan berbagi waktu sejenak lewat maha karya spirits, wine dan champagne terbaik,” ujar Philippe Schaus, presiden merchandising dan pemasaran DFS Group.  

Tidak hanya produk-produk yang ditampilkan dan ditawarkan, para tamu dapat mengikuti master class, pameran eksklusif dan pertemuan gala yang elegan, serta mendapatkan kesempatan sekali seumur hidup untuk berbagi sejenak dengan para maestro yang dihormati, brand ambassador, connoisseurs dan pembicara tamu.   

Master of Spirits II di Singapura adalah perhentian pertama pada tahun 2012 untuk Master Series dari DFS Group – program khas yang belum pernah diadakan sebelumnya termasuk “Masterpieces of Time”. Master Series diadakan kembali ke Singapura untuk melanjutkan pertemuan legendaris spirits, wine dan champagne terbaik, membawa eksklusivitas dan kemewahannya ke tingkat yang lebih tinggi.  

Berburu Diskon Sampai Mati

0

NONTON di bioskop Rp10.000, makan sepuasnya diskon 50%, bahkan dengan Rp700.000 BlackBerry Gemini bisa dibawa pulang. Inilah bentuk baru belanja online yang mengubah perilaku konsumen.

Sejak beberapa bulan terakhir, Zila Safira memiliki hobi baru. Dia rajin berselancar di dunia maya. Namun, browsing yang satu ini berbeda. Alih-alih membuka situs belanja online, dia justru mengecek situs layanan gratis favoritnya yang menawarkan berbagai diskon menarik dengan harga yang amat miring. ”Wah, lagi ada paket perawatan tubuh seharga Rp150.000 cuma dengan harga Rp50.000. Ada voucher makan juga di restoran favorit cuma Rp20.000, beli ah,” sorak Zila gembira di hadapan layar komputernya.  

Diakui Zila, program voucher diskon ini seakan menjadi candu bagi dirinya. Zila, yang sebelumnya kurang suka berbelanja atau makan-makan di restoran, sekarang malah keranjingan berburu barang atau jasa di situs-situs diskon. Sebelum mulai bekerja di pagi hari, dia pasti membuka situs diskon untuk melihat penawaran menarik yang diberikan pada hari itu.Saat jam makan siang, daripada ngobrol dengan teman-temannya, dia lebih suka melanjutkan berburu diskon lagi di situs-situs diskon.  

Bahkan, sebelum berangkat tidur pun dia pasti berkutat dengan ponsel pintarnya guna membandingkan harga yang ditawarkan masing-masing penyedia layanan diskon ini. Tren situs voucher diskon berkonsep daily deals yang kini digandrungi konsumen Indonesia awalnya bermula di Amerika Serikat, sekitar 5 tahun silam. Groupon adalah pencetusnya. ”Situs tersebut banyak membuat orang tertarik hingga akhirnya memiliki lebih dari 15 juta member,” kata Head of Content Diskon Gokil, Burhan Abe.

Sementara di Jakarta sendiri, meski tren voucher ini baru masuk dua tahun lalu, tapi telah berhasil menarik animo masyarakat yang cukup besar. Hal ini dibenarkan oleh CEO Groupon Disdus Indonesia Jason Lamunda. Dia melihat masyarakat sangat terbuka dengan konsep semacam ini dan setiap harinya tak sabar menunggu penawaran menarik. Buktinya, sejak dirilis pada Agustus 2010, Disdus sejauh ini sudah memiliki 1 juta pelanggan dengan rentang usia 18–35 tahun.  

Setali tiga uang dengan diskongokil.com yang sejak diresmikan pada September tahun lalu, berhasil menjaring 6.500 anggota. Situs ini juga mencatat, terjadi transaksi belanja kupon 300–600 transaksi per minggunya, dengan pertumbuhan 30% hingga peluncuran Diskon Gokil pada Desember. ”Siapa sih yang tidak suka diskon? Masyarakat kelas atas sekalipun juga menyukai diskon. Artinya, tren ini tidak memandang usia dan golongan ekonomi,” urai Abe.  

Masing-masing situs penyedia layanan voucher ini sendiri pun memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya. Diskon Gokil, misalnya, akan mengembangkan sistem e-voucher. Jika sebelumnya member masih mencetak voucher untuk ditukarkan ke merchant, ke depan giliran voucher elektronik yang akan menggantikan voucher cetak ini dan dapat diaplikasikan melalui semua ponsel. Jangkauan layanan pun akan diperluas tidak hanya di Jabodetabek, namun juga di beberapa kota besar lainnya.  

Sementara disdus.com selain menawarkan pilihan berbelanja di merchant yang menarik, juga memberikan diskon untuk aktivitas unik sebut saja pengalaman menaiki wahana hot air balloon, kelas membuat cake dan pastry, kelas perpajakan, belajar menjahit, scuba diving, dan sebagainya. Yang membuat daily deals diburu memang karena dianggap menjadi jalan untuk membeli barang-barang atau paket impian tanpa harus khawatir kantong jebol.  

Menurut Chief Executive MarkPlus Consulting Iwan Setiawan dalam sebuah seminar bertajuk Customer Insight Tools, Practical Way to Get Creative Product, Services, and Branding Ideas, pada Februari lalu, hal pertama yang sangat menonjol dari konsumen di Indonesia ialah mereka senang berburu diskon. Menurut Iwan, hal ini berkaitan dengan cara kerja otak manusia yang melakukan justifikasi.  

Salah satunya adalah diskon yang mendorong orang melakukan justifikasi. Ini tampaknya yang bisa menjelaskan mengapa seorang mahasiswa, seperti Intan Anisa Latifah, begitu terbantu dengan adanya daily deals. Sebagai seorang mahasiswa yang belum memiliki penghasilan sendiri, berbelanja, dan nongkrong bersama teman-teman adalah kegiatan yang jarang dilakukan. Kalaupun ada keinginan kuat untuk melakukannya, harus ditahan sedemikian rupa karena bujet bulanan yang tidak mendukung.  

Sensasi Wine

0

BUKAN sekadar minuman, wine mengajak penikmatnya bersosialisasi. Setiap wine memiliki cita rasa berbeda yang bisa berbicara banyak soal sejarah, geografi, dan sebagainya. Seperti kata ahli kimia Louis Pasteur, a bottle of wine contains more philosophy than all the books in the world.

Sambil mengisap sebatang rokok dalam-dalam, Billy sesekali menyesap Sauvignon di tangan kanannya. Sore itu dia tengah menikmati wine andalannya di sebuah wine lounge di kawasan Senayan, Jakarta. Mengaku menjadi penikmat wine lantaran terdorong gengsi, pria yang berprofesi sebagai karyawan swasta ini justru berani memilih wine jenis full body. “Soalnya saya enggak suka wine yang manis,” kata Billy.

Penikmat wine amatir seperti Billy, belakangan ini semakin merebak. Berbanding lurus dengan kemunculan wine lounge di Ibu Kota. Ya, penikmat wine saat ini memang semakin meningkat, bagaikan cendawan yang tumbuh subur di musim hujan.

Kalau dulu wine lounge atau wine store hanya disesaki kaum ekspatriat, kini mereka yang berkulit sawo matang mulai keranjingan menyambangi butik-butik wine. Tak hanya itu, penikmat sejati wine di Jakarta pun mulai membuat wine club.

Dimulai dari Wines and Spirit Circle yang awalnya beranggotakan kalangan ekspatriat, Sayang Bordeaux Indonesia Wine Club, Grand Cru, Jalan Sutra yang juga sempat membuat wine club, hingga Evergreen Wine Club. Klub-klub wine ini secara berkala mengadakan wine tasting, wine dinner, serta food and wine pairing.

Pakar kuliner William Wongso mengatakan, pionir klub wine di Indonesia sebenarnya adalah Jakarta Wine Society yang berdiri pada 1993. Klub ini dia dirikan bersama rekannya, John Read. Ada pula Jakarta Wine Circle yang dimotori penggemar wine asing yang tinggal di Jakarta, beranggotakan 1.000 orang lebih.

“Tapi, kemudian aktivitasnya menurun karena ketatnya peraturan impor wine. Asosiasi ini adalah cikal bakal berkembangnya penggemar wine dan menjadi bagian dari lifestyle,” kata mantan Presiden International Wine& Food Society cabang Jakarta (1991–1994) itu.

Dalam setiap pertemuan, para anggotanya tak segan merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah. Kendati para penikmat wine jumlahnya masih kalah jauh ketimbang di Singapura dan Jepang, namun Indonesia telah memiliki beberapa sommelier andal. Sommelier atau ahli wine ini mendirikan Indonesia Sommelier Association tiga tahun silam.

Adam, salah seorang sommelier dari Loewy Bar & Restaurant di Kuningan, Jakarta, mengatakan, saat melakukan pengujian wine dibutuhkan identifikasi sedikitnya dari tiga indera. Mata untuk membedakan warna red atau white wine, hidung bekerja membaui aroma wine, dan mulut untuk mengetahui varietas anggur.

Sommelier bertugas membeli wine, menentukan wine yang akan dijual, memberi training kepada staf lain, dan yang paling penting merekomendasikan wine yang cocok untuk para tamu,” kata juara nasional Indonesia Best Sommelier 2010 itu. Apa sebenarnya yang membuat sebotol wine begitu mahal?