Home Blog Page 9

JAMPA: Botanical Dining, Redefined

0

Phuket’s Michelin Green Star Rebel Goes Plant-Based in Style

Di era di mana fine dining kerap identik dengan foie gras dan wagyu, JAMPA di Phuket memilih jalur berbeda: menyulut api untuk sayuran. Restoran peraih Michelin Green Star ini meluncurkan Pengalaman Botani 7-Hidangan—menu berlapis yang terasa lebih seperti statement piece ketimbang sekadar makan malam.

Sosok di balik dapur? Chef Rick Dingen. Muda, visioner, dan jelas bukan tipikal chef konservatif. Filosofinya, “A Life Worth Eating,” adalah manifestasi dari hubungan personal dengan alam, ditranslasikan lewat api terbuka, teknik fermentasi, hingga permainan tekstur yang mengguncang persepsi lama tentang kuliner nabati.

Coffee Break: Kopi 4.0, Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

“Sayuran bukan tren. Ini gaya hidup yang tulus dan penuh tanggung jawab,” katanya.

Crafting Fire, Smoke, and Soul

JAMPA bukan tentang gimmick. Dapur mereka membangun narasi lewat elemen-elemen dasar—api, asap, waktu.

  • Smokey Drama: Sayuran dipanggang di atas nyala terbuka, memunculkan aroma primal.
  • Live Fire Technique: Dari slow roast hingga pembakaran langsung, rasa umami alami dipaksa keluar tanpa kompromi.
  • Textural Play: Fermentasi, penuaan, hingga dehidrasi menciptakan dimensi yang jarang disentuh restoran lain.
  • No Waste Philosophy: Setiap bagian sayuran diolah. Zero leftovers, total respect.

Wine Not? Cerita, Rasa, dan Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Jenis Talenta Baru: Dari New Collar ke Next Level

0

Transformasi digital itu bukan pilihan. Dia datang, gedor pintu, dan kalau kita nggak siap, bisnis bisa ambruk dalam sekejap. Banyak pemimpin perusahaan masih salah kaprah: dikira cukup beli software canggih atau tempel label AI, lalu semua masalah beres. Nyatanya, teknologi secanggih apa pun cuma besi tua kalau nggak ada orang yang bisa menggerakkan, menguasai, dan memberi makna.

Game Bukan Lagi di Divisi IT

Kita sering dengar perusahaan buru-buru cari data analyst, software engineer, atau UX designer. Bagus, tapi jangan salah: kegagalan transformasi digital justru bukan karena teknologinya kurang mumpuni, tapi karena manusianya nggak siap. Teknologi bisa dibeli, adaptasi nggak.

Bisnis Kecil, Branding Besar: Rahasia UMKM Sukses di Era Digital, Tanpa Modal Besar

Itulah kenapa konsep digital dexterity jadi kunci. Talenta dengan mentalitas ini bukan cuma melek teknologi, tapi juga taktis, lincah, dan tahan banting. Mereka nggak panik lihat perubahan, malah menjadikan perubahan sebagai kesempatan buat menyalip pesaing. Gartner mencatat, organisasi dengan digital dexterity tinggi punya peluang sukses tiga kali lipat dalam program transformasi.

Era “New Collar”

Kita sudah lewat masa membagi orang ke dalam kerah putih atau kerah biru. Sekarang, lahir jenis baru: new collar workers. Mereka bisa datang dari mana saja—bootcamp, kursus daring, atau belajar otodidak di lapangan. Yang membedakan adalah mentalitas: mau belajar cepat, adaptif, dan langsung bisa turun ke arena. Mereka bukan akademisi menara gading, tapi petarung yang siap tumbuh bareng teknologi.

Di dunia yang berubah secepat sekarang, skill teknis bisa basi dalam hitungan bulan. Hari ini jago coding, besok bisa disalip AI. Yang nggak bisa ditumbangkan mesin adalah insting, rasa ingin tahu, kreativitas, dan daya juang. Itu modal utama para new collar untuk tetap relevan.

Pemimpin Harus Jadi Role Model

Masalah terbesar dalam transformasi digital justru datang dari ketakutan manusia. Banyak karyawan merasa akan digusur mesin. Di sinilah peran pemimpin: bukan sekadar kasih instruksi, tapi jadi role model. Tugasnya bukan cuma rekrut talenta baru, tapi juga upgrade pasukan yang sudah ada. Caranya? Bukan cuma training formal, tapi juga job rotation, mentoring, sampai reverse mentoring—biar yang muda juga bisa transfer ilmu ke yang senior.

The Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

Budaya organisasi harus jadi medan latihan: ada ruang untuk eksperimen, bahkan kegagalan. Karena dari situ lahir keberanian untuk inovasi.

Kita nggak tahu teknologi apa yang bakal datang lima tahun lagi. Tapi satu hal pasti: hanya orang-orang yang berani belajar terus, tahan banting, dan punya mentalitas petarung yang bakal tetap berdiri.

Talenta baru itu bukan sekadar orang yang punya skill. Talenta baru adalah mereka yang siap main di level berikutnya. (Eileen Rachman dan Emilia Jakob)

Start Small, Scale Big: Strategi Praktis Membangun Startup Tanpa Drama

Menemukan Ketenangan: Koleksi Secluded Villa Dari Nakula

0
A Gentleman’s Escape, Bali Style

Bali mungkin terkenal dengan beach club yang ramai, pesta sampai subuh, dan deretan restoran yang selalu penuh, tapi di balik semua hiruk pikuk itu, masih ada sudut-sudut pulau yang hanya tahu satu bahasa: keheningan. Nah, di sanalah Nakula—grup manajemen perhotelan yang paham betul seni hospitality—masuk membawa secluded villa collection mereka.

Ini bukan sekadar deretan properti mewah dengan infinity pool dan arsitektur Instagrammable. Koleksi vila ini didesain untuk sesuatu yang lebih mendalam: refleksi, healing, dan mempererat koneksi—baik dengan diri sendiri, pasangan, atau bahkan keluarga yang mungkin sudah terlalu lama sibuk dengan layar masing-masing.

Coffee Break: Kopi 4.0, Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

“Seclusion bukan berarti terisolasi, tapi justru terkoneksi,” kata Christian Sunjoto, CEO Nakula. Singkatnya, ini bukan pelarian dari dunia, tapi cara menemukan kembali ritme hidup yang lebih jujur.

Omekai

Villa Pilihan yang Bikin Lupa Dunia

Ambil contoh Leona Valley View di Ubud: adults-only retreat di tepi Sungai Petanu. Bayangkan bangun pagi dengan suara alam, plunge pool pribadi, dan hutan sebagai latar. Cocok untuk yang butuh reset button.

Villa Bangkuang

Atau Omecure di Tabanan: sanctuary yang diselimuti lembah sungai berhutan. Enam kamar tidur terpisah, tiga plunge pool, dan soundtrack alami berupa kicau burung. Di sini, notifikasi HP digantikan cahaya sore yang menembus pepohonan.

Kalau mau pantai, ada Amarta Beach Retreat di Pasut, Tabanan. Hamparan pasir hitam, sunset tak terbatas, plus spa. Kapasitasnya sampai 45 orang—jadi bisa sekalian reunion atau intimate wedding.

Wine Not? Cerita, Rasa, dan Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Untuk yang suka suasana tebing dramatis, Villa Nagasutra di Ungasan adalah jawaban. Dengan 7 kamar, kolam renang tepi tebing, dan view Samudra Hindia, sunset dinner di sini bakal bikin semua masalah terasa… irrelevant.

Start Small, Scale Big: Buku yang Bikin Kita Ingin Mulai dari Sekarang

0

Saya harus jujur, awalnya saya pikir buku tentang bisnis startup itu pasti rumit, penuh istilah asing, dan hanya cocok dibaca mereka yang punya modal besar. Tapi setelah membuka halaman pertama Start Small, Scale Big, saya merasa seperti sedang ngobrol dengan seorang teman yang mengerti betul keresahan kita: punya ide, tapi bingung mau mulai dari mana.

Kisah yang Dekat dengan Sehari-hari

Pendahuluannya saja sudah bikin senyum. Diceritakan tentang sebuah warung kopi sederhana di pojok jalan, dengan kursi plastik dan kopi tubruk panas. Dari sana penulis mengajak kita membandingkan dengan brand kopi kekinian yang menjamur di mal. Bedanya ternyata bukan soal modal besar, melainkan cara mengembangkan ide kecil menjadi sesuatu yang lebih besar.

Bisa diunduh di SINI ya

Saya langsung merasa, “Eh, ini mirip banget sama bisnis kecil-kecilan yang sering muncul di sekitar kita.” Ada ibu-ibu yang awalnya cuma bikin kue untuk teman arisan, lama-lama bisa buka toko online. Atau yang mulai dari jualan baju anak di WhatsApp grup, akhirnya punya butik kecil.

Pesan yang Kena di Hati

Ada satu kalimat di buku ini yang benar-benar menempel di kepala saya: “Jatuh cintalah pada masalah, bukan pada produk.”
Artinya, jangan cepat puas atau terlalu sayang dengan produk pertama yang kita buat, karena tren bisa berubah. Yang penting adalah masalah apa yang ingin kita selesaikan.

Saya jadi ingat teman saya yang jual makanan bayi homemade. Awalnya cuma bubur organik, sekarang sudah berkembang jadi finger food sehat. Produk berganti, tapi tujuannya tetap sama: memberi pilihan makanan terbaik untuk anak.

Modal Bukan Segalanya

Yang paling melegakan, buku ini menekankan bahwa modal besar bukan syarat utama. Ada banyak cerita bagaimana bisnis bisa jalan dengan bootstrapping—alias modal seadanya tapi penuh kreativitas. Bahkan ada contoh usaha yang dimulai hanya dengan Instagram dan WhatsApp.

Sebagai ibu, kadang kita mikir, “Wah, tabungan belum cukup nih untuk bikin usaha.” Tapi ternyata, dengan cara cerdas dan langkah kecil yang konsisten, banyak hal bisa diwujudkan.

Membaca Buku Ini Seperti Diajak Jalan Bareng

Saya merasa Start Small, Scale Big bukan cuma buku teori. Rasanya lebih seperti roadmap yang jelas, lengkap dengan contoh-contoh nyata. Dan enaknya, bahasanya ringan—enggak bikin kita merasa sedang kuliah bisnis.

Kalau Anda seorang ibu yang sering kepikiran punya usaha, atau sudah mulai bisnis kecil-kecilan tapi merasa jalan di tempat, buku ini bisa jadi teman ngobrol yang membuka mata.

Setelah menutup halaman terakhir, saya jadi sadar: untuk mulai, kita tak perlu menunggu semua sempurna. Tidak perlu modal raksasa, tidak harus punya tim besar. Yang penting adalah berani mengambil langkah pertama, sekecil apa pun itu.

Karena siapa tahu, langkah kecil hari ini bisa menjadi lompatan besar besok. (Tipuk B. Kuntjoro)

📌 Anda bisa membaca Start Small, Scale Big melalui tautan ini: 👉 lynk.id/burhanabe/5d1j6qq94ol7

PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital – Blueprint Baru Strategi Reputasi

0

Di dunia bisnis modern, teknologi bukan lagi sekadar alat, melainkan lanskap tempat reputasi dibangun atau runtuh dalam hitungan detik. Di titik inilah PR 4.0 hadir—sebuah paradigma baru yang tidak hanya berbicara tentang komunikasi, tetapi juga tentang bagaimana mengelola persepsi sebagai aset strategis yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Buku PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital karya Burhan Abe memotret perubahan mendasar dalam dunia Public Relations. Menggabungkan lensa jurnalis yang tajam dan perspektif konsultan PR yang strategis, Abe menghadirkan panduan yang mampu menjembatani teori dan praktik di lapangan.

Dalam lebih dari sekadar konsep, PR 4.0 mengupas bagaimana ekosistem komunikasi saat ini—dari media tradisional, media sosial, hingga metaverse—menciptakan ruang baru untuk narasi, pengaruh, dan reputasi. Abe menjelaskan bahwa PR modern adalah kombinasi dari tiga pilar: strategi berbasis data, kemampuan membangun hubungan autentik, dan kelincahan dalam merespons dinamika publik.

Buku ini tidak berhenti pada tataran konsep. Studi kasus dari berbagai industri memperlihatkan bagaimana krisis dapat diubah menjadi momentum, bagaimana brand membangun kredibilitas lewat storytelling, dan bagaimana komunikasi korporat bisa menjadi faktor pembeda dalam memenangkan pasar yang kompetitif.

Bisa diunduh di SINI ya.

Gaya penulisannya khas: analitis namun ringan, informatif tapi tetap mengalir. Abe mengajak pembaca masuk ke balik layar proses pengambilan keputusan komunikasi yang sering kali menentukan nasib sebuah organisasi. Ia menekankan bahwa di era digital, kecepatan, transparansi, dan konsistensi adalah kunci—dan PR adalah ujung tombak untuk mengorkestrasi semua elemen itu.

Bagi eksekutif, entrepreneur, politisi, maupun profesional di bidang komunikasi, PR 4.0 adalah bacaan esensial. Ia menawarkan bukan hanya “apa yang harus dilakukan”, tetapi juga “mengapa” dan “bagaimana” melakukannya dengan efektif di tengah turbulensi informasi.

Membaca buku ini berarti berinvestasi pada kemampuan mengelola reputasi—mata uang yang nilainya melampaui laporan keuangan. (Ayen G. Manus)

Unduh dan baca di: https://lynk.id/burhanabe/jlxmoyxxe18j

Dari Bandung ke London: Adhi, Anak Indonesia di Jantung AI Dunia

0

Di balik layar kecerdasan buatan yang hari-hari ini mengubah cara manusia bekerja, belajar, bahkan bercinta—ada nama Adhi. Lahir dan besar di Bandung, kini dia bermarkas di London sebagai peneliti di DeepMind, laboratorium AI milik Google yang reputasinya setara “Mount Olympus” di dunia sains komputer.

Kalau dengar cerita awalnya, rasanya nggak ada yang terlalu istimewa. Anak kampus yang tekun, belajar coding, lalu lanjut studi ke Oxford. Tapi seperti kata pepatah, hard work beats talent when talent doesn’t work hard. Adhi punya kombinasi keduanya: otak encer dan etos kerja kelas berat.

Hari Gini Belum Tau? Membangun Mesin Uang dengan AI

Jembatan dari Nusantara ke Dunia

Bedanya Adhi dengan banyak diaspora lain? Dia nggak putus urat nadi dengan tanah air. Tahun 2019, jauh sebelum “AI” jadi kata paling seksi di LinkedIn, Adhi pulang kampung bikin AI Summer School di Jakarta. Gratis. Anak-anak muda Indonesia yang biasanya cuma bisa baca paper dari jauh, tiba-tiba duduk di kelas, belajar langsung dari orang yang kesehariannya ngoprek mesin otak digital paling mutakhir.

Tak berhenti di situ. Dia juga jadi motor di balik proyek dataset Bahasa Indonesia dan bahasa daerah, yang dibiayai Google lalu dilepas sebagai open source. Artinya, siapa pun—dari mahasiswa di Yogya sampai startup di Makassar—bisa pakai bahan baku AI yang sama dengan Silicon Valley. Bayangin kalau nggak ada dataset itu, mungkin model bahasa macam Gemini bakal lebih paham bahasa Islandia ketimbang bahasa Jawa.

Bacaan Wajib di Era AI: AI Jadi Asisten, Kamu Jadi Bos

London: Antara Ambisi dan Rindu Rumah

Kerja di DeepMind bukan sekadar “prestasi diaspora.” Itu artinya Adhi tiap hari duduk bareng otak-otak paling tajam di dunia. Nama-nama yang kerap jadi rujukan paper ilmiah ada di ruang meeting yang sama.

Tapi di sela ambisi global itu, ada rindu yang tetap membayang. “Kadang kangen makan nasi padang atau ngobrol pakai bahasa Sunda tanpa mikir grammar,” katanya dalam satu wawancara. Sesederhana itu: di balik model jutaan parameter, ada anak Bandung yang tetap cari sambal dan suara motor knalpot berisik.

Role Model yang Jarang Terlihat

Indonesia punya banyak orang pintar. Tapi jarang yang punya kombinasi: mendunia, lalu masih ingat pulang. Adhi adalah contoh bahwa kontribusi global bisa berjalan beriring dengan dedikasi lokal.

Dia bukan cuma bikin AI makin pinter di London, tapi juga memastikan Indonesia nggak cuma jadi konsumen teknologi. Bagi anak muda yang bercita-cita main di panggung dunia, cerita Adhi ini semacam GPS: rute mungkin panjang, tapi jalannya ada.

Adhi bukan sekadar ilmuwan AI asal Indonesia di London. Dia adalah jembatan: antara Bandung dan King’s Cross, antara bahasa daerah dan Gemini, antara ambisi global dan kerinduan kampung halaman.

Cuan dari ChatGPT: Mesin Duit Baru Jaman Now

“Behind The Stage”: Buku Paling Rock Tentang Bisnis Musik yang Pernah Ditulis Orang Waras

0

Kalau lo pikir industri musik itu cuma soal panggung, sound system, dan lighting keren, lo belum tahu apa-apa. Di balik keriuhan konser dan suara penonton, ada perang urat saraf, drama rider, cuan miliaran, dan keputusan bisnis yang bisa bikin orang bangkrut dalam semalam. Dan semua itu, dibongkar habis oleh jurnalis senior Burhan Abe lewat bukunya: Behind The Stage: Bisnis Gila Dunia Showbiz Musik Indonesia.

Konser Musik = Medan Perang + Bursa Saham

Buku ini bukan dongeng pengantar tidur. Ini semacam surat cinta bercampur peringatan keras buat lo yang pengin nyemplung ke dunia konser dan event musik. Burhan ngebuka semua: dari era rock zaman Orba, konser Bon Jovi dibom sound system-nya, sampai zaman TikTok yang bisa ngatur line-up festival.

Buat yang ngaku “anak gigs” atau “festival hunter”—lo bakal ngerti kenapa harga tiket bisa nyentuh jutaan, dan kenapa promotor itu kadang nekat setengah mati bawa artis luar negeri (dan berharap dolar nggak naik seminggu sebelum event). Ada juga nama-nama legend yang harus lo kenal: Adrie Subono, Peter Gontha, Rini Fatah, sampai anak muda gila-gilaan dari Ismaya Live dan Boss Creator.

Dari Dangdut Sampai DWP – Semua Ada di Sini

Buku ini nggak mandang bulu. Konser koplo di lapangan desa, event tribute band di kafe, sampai Djakarta Warehouse Project yang skala biayanya kayak nyelenggarain nikahan selebritas, semua dibahas. Lo dikasih lihat gimana ekonomi konser jalan dari receh ke miliaran, gimana crew bisa pingsan karena kerja 16 jam nonstop, sampai gimana rider artis bisa ngacauin acara cuma karena kurang minuman warna ungu (yup, ada!).

Bisa diunduh di SINI ya.

Kenapa Lo Harus Baca Ini?

  • Karena lo bakal ngerti bisnis konser itu sekeras ring UFC.
  • Karena ini bukan cuma hiburan, ini tentang duit, ego, dan adrenalin.
  • Karena lo gak mau jadi promotor baru yang senasib sama yang bangkrut habis bawa artis Korea.
  • Dan karena… siapa tahu lo dapet ide gila buat bikin event sendiri (dan kaya raya, atau minimal nggak rugi duluan).

Ada juga cerita tentang Anggun yang menembus global, Inul Daratista dengan goyangnya dan bisnisnya, dan Wika Salim yang tahu cara main di dua dunia: panggung dan pasar digital.

Download bukunya di sini 👉 Bisnis Gila Dunia Showbiz Musik Indonesia

Lo suka konser, musik, atau mimpi jadi promotor? Buku ini kayak survival guide + reality check + cerita edan, dijilid jadi satu. Bacaan wajib sebelum lo pasang panggung, atau sebelum beli tiket VVIP cuma buat konten IG. (Hana G. Haniah)

Slow Burn: Saatnya Menikmati Hidup Pelan-Pelan Lewat Cerutu, dari Jember hingga Lounge Mewah Jakarta

0

Kalau selama ini Anda mengira cerutu hanya milik kalangan pria tua berperut buncit yang duduk di kursi kulit besar sambil menyesap whisky, buku ini akan mematahkan semua stereotip itu. Slow Burn, karya Burhan Abe, justru menghadirkan wajah baru dunia cerutu — lebih hangat, lebih dekat, bahkan makin inklusif, termasuk untuk kaum perempuan dan generasi muda.

Buku ini merunut perjalanan cerutu Indonesia dari ladang tembakau di Jember yang legendaris, ke pabrik-pabrik tradisional seperti Taru Martani di Yogyakarta yang sudah berdiri sejak 1918, sampai ke cigar lounge paling berkelas di Jakarta, Bali, maupun Medan. Anda akan diajak menyusuri kisah Boss Image Nusantara (BIN) Cigar, produsen asal Jember yang tembakaunya diekspor hingga ke Eropa dan Timur Tengah, mengangkat nama Indonesia sebagai salah satu pemain penting di industri cerutu dunia.

Tidak berhenti di industri dan sejarah, Slow Burn juga menyelami fenomena gaya hidup cerutu — bagaimana lounge-lounge eksklusif seperti Churchill di Hotel Borobudur, Club Macanudo Jakarta, hingga Habanos Terrace di The Apurva Kempinski Bali menjadi tempat berkumpul para profesional, eksekutif muda, selebriti, hingga komunitas cigar enthusiast.

Lewat buku ini, Anda akan menemukan bagaimana cerutu bukan hanya soal asap dan gengsi, tapi soal komitmen pada waktu, memberi diri Anda izin untuk melambat, berbincang, atau sekadar menikmati me time dengan ritual kecil yang menyenangkan.

Menariknya lagi, buku ini memotret semakin banyak perempuan yang mulai menikmati cerutu. Bukan sekadar gaya-gayaan, tapi sebagai wujud self-reward — persis seperti menikmati segelas prosecco atau sepotong dark chocolate tanpa rasa bersalah. Ada cerita tentang lounge-lounge yang female friendly, pairing cerutu dengan dessert atau koktail ringan, sampai tips untuk pemula agar tak salah pilih.

Bisa diunduh di SINI ya.

Selain itu, bagi Anda yang punya jiwa wirausaha atau tertarik dunia luxury hospitality, buku ini juga membuka mata tentang potensi bisnis cerutu di Indonesia. Dengan populasi kelas menengah atas yang terus tumbuh dan makin gemar pada pengalaman autentik, cerutu bisa jadi salah satu ceruk pasar gaya hidup yang sangat menarik.

Disajikan dengan gaya tutur ringan dan banyak kutipan menarik dari para penikmat cerutu (termasuk publik figur seperti Jeremy Thomas dan Benny Prasetyo sang “cigar evangelist”), Slow Burn terasa seperti sahabat ngobrol santai di sore hari — membahas cita rasa tembakau, lounge-lounge unik, hingga komunitas cigar yang kini semakin semarak.

Unduh & baca selengkapnya di: 👉 Slow Burn, Cerutu dalam Ritme Hidup Modern

Temukan kenapa cerutu bisa jadi cara elegan untuk merayakan hidup — perlahan, berkelas, dan penuh cerita. Siapa tahu ini akan jadi ritual kecil favorit Anda berikutnya. (Iin S. Batara)

Wine Not? — Ketika Segelas Anggur Menyimpan Cerita

0

Apa yang ada di benak Anda saat mendengar kata “wine”? Mewah? Barat banget? Atau mungkin… rumit? Banyak dari kita langsung membayangkan suasana elegan, sommelier yang fasih menyebut nama anggur dengan aksen Prancis, dan suasana yang terkesan jauh dari keseharian. Tapi tunggu dulu—buku Wine Not? karya Burhan Abe datang untuk membalik persepsi itu.

Sebagai jurnalis gaya hidup dan ekonomi yang lama berkecimpung di dunia kuliner dan hospitality, Abe menyajikan pengalaman pribadinya mengenal wine secara perlahan, alami, dan membumi. Bukan lewat sekolah atau kursus mahal, tapi lewat tugas liputan, festival kuliner, dan—yang paling menarik—komunitas kecil pencinta wine di Jakarta.

Buku ini mengalir seperti obrolan hangat di rooftop bar kota besar: ringan, menyenangkan, dan penuh insight. Dari Wine for Asia di Singapura, Wine & Cheese Festival di Jakarta, wine tour ke Australia, sampai pengalaman wine tasting di tengah diplomasi kuliner di Madrid, Spanyol—semuanya diceritakan dengan gaya narasi yang tidak menggurui. Kita juga diajak mengenal tokoh-tokoh di balik industri wine di Indonesia.

Yang membuat buku ini menarik bukan hanya isi ceritanya, tapi juga semangatnya: bahwa wine bukan sekadar budaya asing yang elit dan eksklusif. Wine bisa menjadi bagian dari keseharian kita, asal kita terbuka untuk mencicipi—dan memahami sedikit demi sedikit.

Dapatkan bukunya di SINI ya.

Jangan khawatir kalau kamu belum hapal beda Merlot dan Chardonnay, atau belum pernah mencicipi wine sama sekali. Justru buku ini cocok untuk pembaca seperti itu. Karena seperti kata penulisnya, wine tak perlu dimengerti sepenuhnya untuk bisa dinikmati. (Ely Alvaro Gibran)

Jadi… Wine Not? 🍷

Menikmati Warisan Kuliner Belitung di Tanjung Kelayang Reserve

0

Pulau ini nggak cuma punya pasir putih dan laut biru. Dia juga tahu cara bikin lidah lo jatuh cinta.

Belitung selalu terdengar seksi: pantai cantik, batu granit raksasa, dan laut yang bikin lo pengen langsung nyemplung. Tapi di balik semua postcard-perfect scenery itu, ada satu hal yang sering bikin turis balik lagi—kuliner lokalnya. Dan kalau ada satu tempat yang bisa jadi pintu masuk buat nikmatin semua itu dengan gaya, jawabannya: Tanjung Kelayang Reserve.

Kawasan seluas 350 hektare di pesisir utara Belitung ini bukan sembarang resort area. Ia bagian dari UNESCO Global Geopark—alias paket lengkap: alam dilindungi, laut sebening kaca, dan, yang paling penting, makanan yang bikin lo lupa diet.

Wine Not? Cerita, Rasa, dan Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Anyaman Rasa yang Maskulin tapi Hangat

Belitung punya kuliner yang terbentuk dari hasil kawin silang budaya: Melayu, Tionghoa, plus cita rasa lokal. Dan kombinasi ini melahirkan hidangan-hidangan yang bukan cuma kenyang, tapi juga bikin lo merasa kayak lagi ikut sejarah.

  • Gangan: Sup ikan kuning dengan kunyit dan potongan nanas. Rasanya? Hangat, segar, dan tajam. Cocok banget jadi comfort food setelah berenang atau… habis satu botol bir.
  • Mie Belitung: Ini bintang jalanan yang nggak boleh lo lewatin. Mie kenyal disiram kuah kari udang gurih, ditambah kentang empuk, tahu lembut, tauge, dan kerupuk melinjo yang renyah. Messy but addictive, persis kayak hubungan yang nggak bisa lo hindari.
  • Mie Tionghoa-style: Versi lebih halus, pakai saus atau kuah bening, plus topping daging gurih. Kalau Gangan itu petualang liar, mie ini kayak gentleman in a suit.
  • Kopi Belitung: Lupakan latte art. Di sini kopi hitam disajikan pekat, tanpa ampas, aromanya mantap. Kalau mau yang lebih nakal, coba kopi susu kental manis. Paduan pahit dan manis yang bikin lo sadar: hidup memang butuh keseimbangan.

Dari Reserve ke Piring Lo di Sheraton Belitung Resort

Sekarang bayangin: lo lagi nginap di Sheraton Belitung Resort, di jantung Tanjung Kelayang Reserve. Lo bangun, liat sunrise, lalu mikir: “Apa yang bisa bikin hari ini lebih sempurna?” Jawabannya: makan.

🔥 Weekend Seafood Feast
Bayangkan ikan kakap merah segar, cumi, dan udang yang baru diturunin dari kapal nelayan pagi itu. Semua dilempar ke bara api, dipanggang pelan-pelan sampai aromanya bikin lo lapar bahkan sebelum piring nyampe meja. Disajikan dengan kerupuk, kelapa muda, sup ikan, sayuran, dan nasi. Harga? Mulai Rp150.000 net per orang. Tambah seafood segar? Bayar sesuai beratnya. Simple, straight, seperti lo lagi belanja di pasar, tapi versi lebih kece.

Bacaan Menarik: Slow Burn, Cerutu dalam Ritme Hidup Modern