Sunday, June 28, 2015

The Power of Social Media (2)

YouTube bukan sekadar media sosial saat ini. Jutaan orang di dunia telah menikmati berbagai layanan videonya. Awalnya mungkin terlihat remeh, tapi berikutnya adalah sebuah kekuatan. Justin Bieber dan Adele adalah salah dua contoh orang yang berhasil meroket berkat video yang diunggah ke platform ini.

Media online yang dibuat 10 tahun yang lalu ini bukan sekadar ajang penunjang komunikasi belaka. Lewat YouTube, justru ada bakat yang mencuat dan menjadikan seseorang selebritas. Mungkin Steve Chen, Chad Hurley, dan Jawed Karim tidak pernah mengira situs buatan mereka, YouTube, menjadi panggung bakat bagi penggunanya.

Mengapa begitu banyak yang mengunggah video ke YouTube, tapi hanya segelintir yang populer? Ternyata bukan sekadar faktor keberuntungan tak bermain di sini!

YouTuber yang berbakat biasanya mengerti bagaimana menghubungkan diri dengan budaya pop yang berkembang di tengah masyarakat. Bahkan ia piawai menempatkan diri dengan merespons topik yang sedang diperbincangkan oleh masyarakat. Salah satunya pembuatan video parodi bisa menjadi jalan cepat meraih popularitas. Video parodi seperti yang dibuat Norman Kamaru semasa menjadi anggota Brigade Mobil, misalnya, berhasil mengangkatnya ke dunia gemerlap, meski ia tak berniat menjadi selebritas.

Bagi Wisnu Adji, yang terlibat dalam produksi film Toba Dreams, YouTube merupakan wadah buat orang yang memiliki bakat. “Dengan adanya YouTube, orang bisa menyalurkan bakat terpendamnya. Kreativitas pun tidak sebatas akting atau bernyanyi, tapi banyak bakat yang bisa diperlihatkan,” ujar laki-laki yang kerap mengadakan kasting untuk artis film itu.

Web 2.0
Di era Web 2.0, media sosial bukan lagi ajang penunjang komunikasi belaka. Pada zaman kejayaan digital ini, informasi apapun bisa menyebar cepat bak virus melalui dunia maya (viral). Melalui  media sosial, seperti cerita di atas, seseorang yang tadinya tidak dikenal masyarakat jadi populer – dari nobody menjadi somebody.

Lebih jauh, media sosial saat ini ikut menentukan apa yang diperbincangkan masyarakat. Bahkan media mainstream pun memperhitungkan apa yang diperbincangkan di media sosial. Menurut penelitian, 70 persen wartawan juga memiliki media sosial dan mengikuti apa yang sedang ramai dibicarakan, karena mereka harus mencari isu apa yang sedang ramai di masyarakat.

Pendeknya, kekuatan Internet yang mengubungkan seluruh penduduk dunia, membuat peristiwa sekecil apapun di kota kecil sekali pun, bisa dengan cepat terkoneksi ke seantero jagat. Apalagi bila informasi itu bergulir secara massif  melalui media sosial.

Sumber: MALE Zone, MALE 140 http://male.detik.com

Friday, June 26, 2015

Gran Meliá: Mendefinisikan Kembali Makna Hidup Nyaman

Gran Melia Xian
DENGAN terus bertumbuhnya pendapatan disposable; meningkatnya jumlah orang yang mampu dan pendapatan pribadi, telah memicu bertambahnya perjalanan wisatawan Indonesia ke luar, terutama untuk tujuan rekreasi.

Menurut hasil penilitian TripBarometer yang dilakukan oleh TripAdvisor baru-baru ini, 46% dari wisatawan Indonesia berencana meningkatkan anggaran liburan mereka. Wisatawan Indonesia yang berlibur ke luar negeri meningkat 25% pada tahun 2015 dibanding tahun sebelumnya. Berdasarkan angka peningkatan tersebut, industri perhotelan akan membidik destinasi wisata yang memiliki aneka ragam budaya dan kota-kota yang dapat menyuguhkan pengalaman gaya hidup hig-end bagi wisatawan Indonesia.

Gran Melia Xian, Grand Suite Room
Dengan kepadatan aktivitas saat berada di kota besar, wisatawan modern membutuhkan suatu kenyamanan setelah beraktivitas seharian, seperti ruang kamar dan suite yang luas dan indah secara estetika. Hal ini bisa diperoleh dari resor urban yang menyambut kedatangan wisatawan dengan hangat, suatu tempat peristirahatan yang memadukan kemewahan resor ke dalam gaya hidup urban.

Dari dekorasi yang memukau, hidangan berseni yang terbuat dari produk lokal yang segar, hingga krim SPA yang diracik sendiri, hotel Gran Meliá menawarkan resor urban di seluruh dunia yang mendefinisikan kembali makna hidup nyaman yang jauh dari rumah bagi para wisatawan.

Gran Melia Xian, YHI Spa & Wellness
Setiap properti Gran Meliá juga memiliki keunikan masing-masing. Seperti misalnya taman hijau di Gran Meliá Rome di Italia, di mana pelancong dari Indonesia dapat memulai hari mereka dengan menjelajah Vatikan dan Basilika Santo Petrus, serta Gran Meliá Xian di Cina yang merupakan destinasi yang tepat untuk mengenang Qin Terracotta Warriors. Setiap resor mewah Gran Meliá menciptakan standar baru untuk hotel-hotel mewah di kota-kota tersebut.

Gran Meliá secara cermat menyeimbangkan desain dengan kebutuhan para wisatawan. Keistimewaan YHI Spa dan Wellness merupakan tempat relaksasi untuk panca indera, perawatan tubuh, dan menyeimbangkan pikiran dan jiwa. Para wisatawan dapat memanjakan diri dengan pijatan khusus, hidroterapi, aromaterapi, refleksiologi dan perawatan wajah.

Gran Melia Rome
Red Glove Service dari Gran Meliá yang merupakan pelayanan yang dijiwai dengan semangat budaya Spanyol, membuat wisatawan bisa memanjakan serta memisahkan diri dari hiruk- pikuk atau keramaian kota di sekitar mereka. Staf Gran Meliá yang berdedikasi bekerja tanpa lelah untuk memastikan konsistensi keunggulan pelayanan yang intuitif dan mutakhir di oase urban ini. Semua staf merupakan sumber informasi lokal yang tak terbatas sehingga dapat melayani setiap kebutuhan wisatawan.

Ana Gomez, Direktur Guest Experiences Gran Meliá, mengatakan, “Gaya hidup urban di era ke-21 telah membuat banyak orang berkantong tebal namun miskin waktu. Oleh karena itu, Gran Meliá menawarkan kamar mewah dan megah dengan nuansa santai – seperti di rumah sendiri – serta wisatawan bisa mendapatkan segala sesuatu yang dibutuhkan dengan mudah karena sudah tersedia di setiap resor Gran Meliá. Kami percaya dengan berhati-hati meracik ramuan ini, telah menjadi suatu trend bagi para wisatawan elit saat ini.”
Gran Melia Rome, Urban Jr Suite Room
Tentang Meliá Hotels International
Didirikan pada tahun 1956 di Palma de Mallorca (Spanyol), Meliá Hotels International adalah salah satu perusahaan hotel terbesar di seluruh dunia serta pemimpin mutlak dalam pasar Spanyol, dengan lebih dari 370 hotel (portofolio dan jaringan saat ini) di lebih dari 40 negara dan 4 benua di bawah brand: Gran Meliá, Meliá Hotels & Resorts, Paradisus Resorts, ME by Meliá, Innside by Meliá, Tryp by Wyndham dan Sol Hotels. Fokus strategis pada pertumbuhan internasional memungkinkan Meliá Hotels International untuk menjadi perusahaan hotel Spanyol yang pertama dengan kehadirannya di pasar-pasar utama seperti China, Teluk Arab atau Amerika Serikat, serta mempertahankan kepemimpinannya di pasar tradisional seperti Eropa, Amerika Latin atau Karibia. Tingginya globalisasi, model bisnis yang beragam, rencana pertumbuhan yang konsisten didukung oleh aliansi strategis dengan investor besar dan komitmennya untuk pariwisata yang bertanggung jawab adalah kekuatan utama dari Meliá Hotels International, serta menjadikannya pemimpin Hotel Spanyol di Corporate Reputation (Merco Ranking).

Gran Melia Rome, SPA
Tentang Gran Meliá Hotels & Resorts
Gran Meliá Hotels & Resorts mencerminkan sejarah bergengsi Meliá Hotels International dan rumah bagi hotel paling mewah di perusahaan seperti Gran Meliá Fenix (Madrid), Gran Meliá Palacio de Isora (Canary Islands) dan Gran Meliá Rome Villa Agrippina. Dasar dari brand ini adalah komitmen kepada hotel dan resor kelas pertama dengan rancangan arsitektur yang menakjubkan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. Semua properti Gran Meliá terletak di tujuan terpenting wisata dunia. Kunjungi: granmelia.com

Recharge Your School Holiday Season @ ‘Be Junior Harris Chef’ Event

Recharge your school holiday with fun activities will be more memorable. Spent your weekend with the activity that enhances your insight will be more exciting.


Continuing success in the last several years, Harris Hotel & Conventions Kelapa Gading once again presents ‘Be a Junior Harris Chef’. With this event, children aged 5 to 15 years old are encouraged to becoming Junior Harris Chefs through fun and simple cooking lessons, skill competition, and games. This event will be held on June 20th, June 27th and July 4th, 2015 at Harris Terrace.

Through this event, Harris Hotel & Conventions Kelapa Gading expects to increase those children to have hobbies and interest on cooking. Children participants will be cooking some menu such as Klapertart (for children aged 5-8 years), Pizza (for children aged 9-12 years) and Beef Tenderloin (for children aged 10-15 years).

In the other hand, various fun activities at ‘Skill Competition’ session will bring its own advantages. Painting on Handkerchief in the first session, Sushi Decoration in the second session and also Fruit Carving at the third session will improve creativity and accuracy.

Children will also be playing fun games afterwards such as ‘Smell & Tell’ and ‘Guess This Juice’.

Get all the exciting experience with only Rp 215,000 nett/child/ session include certificate and apron. Each session will be start from 10.00 AM. For further information and reservation, do not hesitate to contact us at +62 21 4587 8200 or direct to +62 812 9025 4020, and we will be very pleased to book a table for you.

Detailed information can also be viewed on Facebook: Harris Hotel & Conventions Kelapa Gading or Twitter: @HARRISKlpGading.

Harris hotel & conventions Kelapa Gading with its motto “Healthy Lifestyle”, is a four-star hotel and ideally located on Sentra Kelapa Gading Business District which includes the well-known Kelapa Gading Mall and La Piazza Lifestyle Centre. Only 40 minutes away from Soekarno-Hatta International Airport, 35 minutes away from the city centre and 20 minutes away from Jakarta International Expo (JIEXPO) Kemayoran, Harris hotel & conventions Kelapa Gading is the perfect venue for business and leisure.

Harris Hotels which represents by 16 hotels in operation and 29 more Harris Hotels under development. A total of 45 Harris Hotels with 8.288 rooms will be operated by 2015. Harris, a brand of Tauzia Hotel Management, is headquartered at K-Link Tower, 25 Fl. Suite B, Jl. Jend Gatot Subroto Kav 59A, Jakarta 12950, Indonesia.

For more information, please visit www.harrishotels.com.

Travel and the Social Networks: Two Pillars of Friendship in 2015

  • Mercure unveils results of international survey conducted with TNS Sofres
  • Mercure Survey - TNS Sofrès March 2015 – a sample of 5,500 individuals from 13 counties: Germany, Italy, Brazil, Belgium, Spain, Portugal, Poland, the Netherlands, the UK, France, China, Japan and Australia

Mercure hotels highlight local features to offer guests authentic shared experiences and encounters. It was therefore only natural for the brand to take an interest in the theme of friendship, through a survey conducted in collaboration with Institut TNS Sofres1. The survey, which was carried out on a sample of 5,500 individuals from 13 countries, sheds new light on the notion of friendship in an era characterized by Web 2.0 and a surge in travel. Nowadays, is it easier to enlarge your circle of friends and open up more to others? Mercure unveils this survey’s key findings.

Some of the survey’s key findings:
  • 56% of people who answered the survey have made friends while travelling
  • 45% of the people questioned said that they contacted friends of friends from their social network when travelling
  • 77% of people who answered keep in touch with their friends on social networks while travelling

What is friendship in 2015?
These days, the circle of close friends consists of three to four people in all the countries surveyed, though 7% of the French declare that they have no close friends. The Japanese are the most solitary, with 16% of them declaring that they have no close friends.

Not surprisingly, the notion of close friendship is described as the sharing of values, the absence of judgement and total availability for one another. More than anything else, 83% of responders expect to be able to count on a close friend.

A sphere of friends that is enlarged through travel!
People’s spheres of friends have also evolved and been transformed as a result of the increase in travel. We are no longer just friends with the people who live near us, but increasingly with people we have met when travelling in our own country or abroad.

For example, more than half of the travelers (56%) have forged friendships during a trip. The Brazilians (84%), and most surprisingly given the language barriers, the Chinese (71%), are keenest on these cosmopolitan encounters. Conversely, the Japanese are the most reserved with only 11% of travelers declaring that they have made friends this way.

The survey also found that travelers make huge use of the social networks to organize their itinerary and benefit from the sound advice of locals before exploring the part of the world they are travelling to in the most authentic way possible.

For example, 45% of the people travelling said they contact friends of friends on their social network when travelling. They seek their tips (49%) and their company (30%). As well as the pleasure of knowing someone locally, the respondents also show great foresight since 35% of them say they find it reassuring to be able to count on an acquaintance if there’s a problem or emergency. It’s worth noting that the Australians go a step further and contact friends of friends mostly to ask if they can stay with them on their trip (35% of respondents).

People stay connected when we’re on holiday. 77% of the travelers stay in touch with their friends on the social networks! Travel now confers status, and people share their discoveries with their friends back at home or at work. Post cards are dead! Long live photos (36%) and posts (32%)!

Social networks (re)create friendship bonds
Though social networks cannot replace genuine friendships, they do create new opportunities for encounters and serve to maintain friendship bonds. Let shyness be gone, now it’s time for virtual encounters: 44% of social network users have already become friends online with someone they’ve never actually met! Of the social network users, the Chinese are the biggest “recruiters” of virtual friends since nearly 72% of them become friends online with people they’ve never met. The Brazilians follow closely behind at nearly 67%. As for the French, they are the last on this list with just 26% of social network users declaring that they have become friends online with a person they have never met.

Social networks are also used to stay in touch with “real” friends: 58% of social networks users have already asked a person they have actually met to become a friend online. Once again, the French appear to be shyer than the other nationalities with only 42% declaring that they have done this, which means they are at the bottom of the ranking compared with the rest of the world.

Lastly, the Internet encourages the birth and above all the preservation of friendships; people rediscover their best friend from primary school (61% of the people questioned consider this to be the key advantage of social networks), they don’t forget their loved ones’ birthdays (40%) and they send their friends and family thoughts and photos (51%), all of which creates a sense of daily proximity and sharing.

And who would you like to meet thanks to the six friends theory?
The “six-degrees-of-separation” theory, which claims that we are all only six people away from everyone else on the planet is known the world over. One third of the people surveyed have already heard of it! Because they are very active on the social networks, this theory is best known in China, where 67% of respondents knew about it.

It would seem, therefore, that according to this theory, everyone can have potential friendship connections with people who seem inaccessible. Does that mean George Clooney could be a friend who’s “six-degrees-of-separation” away?

In answer to the question “Who would you dream of meeting thanks to the Six Friends Theory?” all the French respondents said they would like to meet a celebrity, preferably a singer, a musician or a DJ (14%), especially the women.

About Mercure’s “The Six Friends Theory” operation
The hotel brand Mercure, which is present in 52 countries, set out to check the six-degrees-of- separation theory during a worldwide digital operation called “The Six Friends Theory”. The operation consisted of selecting a candidate and taking him/her to meet an Aboriginal in Australia, thus proving that they were only six degrees of separation away from each other. The call for applications was a huge success and touched over 5 million internet users on the social networks. The lucky winner went on a round-the-world trip via the Mercure hotel network, following an itinerary that took her via the home locations of the five people linking her to the Aboriginal.

Methodology of Mercure survey - TNS Sofres March 2015
Online survey based on a national representative sample in 13 countries: Germany, Italy, Brazil, Belgium, Spain, Poland, Portugal, Netherlands, UK, France, China, Japan and Australia. A total of 5 500 individuals aged from 16 to 65 years old from.

About Mercure
Mercure is the midscale non-standardized brand of Accor, the world’s leading hotel operator with 3,700 hotels and 180,000 employees in 92 countries. Mercure hotels share common quality standards and are driven by passionate hoteliers. Whether they are located in major city centers, by the seaside or in mountain resorts, each establishment offers an authentic experience for both business and leisure travelers. The Mercure network spans 711 hotels in 52 countries around the globe, represents a real alternative to standardized or independent hotels, and combines the power of an international network with professional and digital expertise. For more information, visit www.mercure.com.

About TNS Sofres
TNS Sofres is a leading marketing and opinion research provider in France, and part of TNS, the global leader of international ad hoc research. TNS Sofres advises clients on specific growth strategies around Brand & Communication, Innovation, Stakeholder Management, and Retail & Shopper, based on long-established expertise and market-leading solutions. With a presence in over 80 countries, TNS Sofres and other TNS companies have more conversations with the world’s consumers than anyone else and understand individual human behaviours and attitudes across every cultural, economic and political region of the world.

Wednesday, June 24, 2015

Ngenteni Buka Ning Pasar Klewer

Ngabuburit serasa berada di Pasar Klewer, Solo


Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1436 Hijriah, 19 Juni s/d 5 Juli 2015, La Piazza Summarecon Kelapa Gading mempersembahkan sebuah kegiatan yang menarik bagi para pecinta kuliner, juga para pecinta kain Nusantara. "Ngenteni Buka Ning Pasar Klewer" merupakan tema yang diangkat dalam festival kuliner yang diadakan sembari menunggu saat berbuka puasa, dibalut dengan nuansa dekorasi Jawa Tengah dengan menghadirkan replika gerbang Pasar Klewer yang ada di Solo.

Tema tersebut diangkat sebagai salah satu bentuk kepedulian Summarecon kepada para pedagang batik di Pasar Klewer yang tertimpa musibah kebakaran beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan ini, selain bisa mendapatkan beragam kuliner lezat, pengunjung juga bisa melihat dan mendapatkan beragam kain batik khas Solo di area Multi Purpose Hall La Piazza dari 36 peserta Bazar Batik Pasar Klewer yang didatangkan langsung dari Solo.

Liliawati Rahardjo, Direktur Summarecon mengatakan, “Kami tergerak memilih tema Pasar Klewer adalah berawal dari terjadinya insiden kebakaran di Pasar Klewer pada bulan Desember lalu. Kebetulan, Summarecon juga mempunyai event tahunan yaitu Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF), yang diselenggarakan setiap bulan Mei, yang secara konsisten bertujuan menjadi sarana memelihara kekayaan budaya Indonesia, serta mendorong industri berbasis budaya untuk maju. Oleh sebab itu, adanya momentum bulan Ramadhan yang relatif cukup dekat dengan periode penyelenggaraan JFFF, serta kami harapkan akan memberikan keuntungan yang baik bagi usaha mereka, maka kami kolaborasikan pula event Pasar Klewer ini dengan program kuliner ala Solo sebagai alternatif masyarakat berbuka puasa, serta dilengkapi dengan hiburan khas Jawa.”

Banyak masyarakat umum yang kurang memahami bahwa batik adalah sebuah proses dan bukan hanya sekedar motif, dan betapa sulitnya proses pembuatan batik tersebut. Proses pembuatan batik itu sendiri sebenarnya adalah sebuah kekayaan budaya yang harus dijaga agar tidak punah. Meskipun Batik Indonesia telah ditetapkan UNESCO sebagai “World Heritage”, namun masih membutuhkan berbagai program untuk menjaga kelestariannya. Hal ini pula sekaligus yang membuat Summarecon tergerak untuk turut mensosialisasikannya ke masyarakat serta mendorong kepedulian mereka.

Bertujuan untuk memberikan wawasan kepada masyarakat mengenai berbagai kualitas batik, maka terdapat dua area pemaparan batik. Pertama yaitu di Multi Purpose Hall, pengunjung dapat mengeksplorasi batik umum dengan kualitas rata-rata dan harga yang lebih terjangkau. Kedua adalah Galeri Batik Eksklusif di La Prisma, yang menyediakan batik-batik terbaik berkualitas tinggi dengan tingkat pembuatan cukup rumit dari Danar Hadi, Djawa, Puro Mangkunegaran, dan Buana Alit Gallery.

Tak hanya pedagang batik, untuk melengkapi suasana khas Solo, 10 peserta kuliner Pasar Klewer juga khusus didatangkan dari Solo, yaitu Markobar, Srabi Solo Notosuman Ny. Handayani, Jamu Arum Sari, Pukis Telur Kampung Asli & Lekker Solo Sumber Rejeki, Oleh-Oleh Khas Solo Ny. Handayani, Nasi Liwet & Ayam Goreng Kampung Solo Asli Ny. Lany, Selat Segar Galantin & Nasi Langgi Solo, Bakso Pak Min Penumping Solo, Dawet Bu Dermi Pasar Gede Solo, dan Soto Ayam Lek Sri Asli Solo.

Salah satu yang cukup spesial adalah Markobar, singkatan dari Martabak Kottabarat, menyajikan martabak manis dengan berbagai topping seperti coklat kitkat dan ovomaltine yang saat ini sedang menjadi tren di kalangan anak muda. Di Solo, Markobar berangkat dari usaha kaki lima yang kemudian berkembang menjadi kafe tempat anak muda berkumpul. Usaha ini dirintis oleh salah satu putra Presiden Jokowi.

Suasana berbuka puasa di event “Ngenteni Buka Ning Pasar Klewer” semakin seru dengan hadirnya berbagai hiburan khas Jawa, antara lain Gamelan, Tari Bedoyo Kirono Ratih yang langsung dibawakan oleh penari dari Keraton Surakarta Hadiningrat pada 19 Juni 2015 pukul 18.30 WIB, juga yang cukup menarik yaitu musik Keroncong yang dibawakan oleh Sundari Soekotjo dan putrinya Intan Soekotjo pada 19 Juni 2015 pukul 19.00 WIB. Musik keroncong meskipun awalnya berasal dari Portugis dan berkembang di daerah Tugu, Jakarta Utara, namun dalam perjalanannya di sekitar tahun 50-an dikolaborasikan dengan langgam Jawa sehingga melahirkan gaya tersendiri, di antaranya gaya keroncong yang dipopulerkan oleh Waldjinah, atau lagu Bengawan Solo yang diciptakan oleh Gesang. Hadir juga Endah Laras pada 27 Juni & 5 Juli 2015, pkl. 19.00 WIB.

Jam operasional
Kuliner Pasar Klewer:                     
Minggu - Jumat >> pukul 16.00 - 23.00 WIB
Sabtu >> pukul 16.00 - 24.00 WIB
Bazar Batik Klewer & Galeri Batik Eksklusif:
Senin - Jumat >> pukul 12.00 - 22.00 WIB
Sabtu - Minggu >> pukul 11.00 - 23.00 WIB


Tentang La Piazza
La Piazza adalah sebuah Lifestyle Center di Jakarta, khususnya untuk daerah Kelapa Gading dan sekitarnya. La Piazza berhasil mencitrakan dirinya sebagai The Best Meeting Point di Jakarta Utara yang menawarkan fasilitas dining, sport & entertainment. Pengunjung pun dapat menikmati makan malam sambil menikmati sajian live music setiap harinya di Dock 88 dengan jenis musik yang berbeda, mulai dari pop, top 40, light jazz, rock ballad, hingga acoustic. Fasilitas lain yang juga bisa digunakan oleh para pengunjung dan pebisnis di Jakarta adalah disediakannya La Prisma serta Multi Purpose Hall (MPH) La Piazza untuk kebutuhan Exhibition dan Gathering.

AbraResto.com in Ramadhan 2015


Bulan Ramadhan adalah bulan yang teramat penting bagi muslim di seluruh penjuru dunia. Begitu pula di Indonesia. Dengan populasi penduduk mayoritas muslim, Ramadahan adalah bulan yang sangat istimewa bagi Indonesia.

Dengan semangat Ramadhan ini pula, AbraResto.com menyelenggarakan “Buka Puasa Bersama“ di hari Jumat, 19 Juni 2015.

Acara yang bertempat di Roca, Artotel Jakarta ini, di hadiri oleh teman-teman media, foodies, bloggers, dan juga community AbraResto.com. Dalam kesempatan tersebut, AbraResto juga menghadirkan culinary expert Olivia Wongso yang  membagikan keahlian memasaknya dalam cooking demo.



Untuk melengkapi semangat bulan Ramadhan, AbraResto.com juga resmi meluncurkan halaman yang berdedikasi khusus untuk Ramadhan 2015. Site ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi seputar Ramadhan 2015 untuk semua yang menjalankan ibadah puasa. Dari informasi mengenai info tempat berbuka puasa terbaik juga artikel-artikel menarik seputar Ramadhan 2015 di blog AbraResto.com/jakarta/ramadhan-2015

Kunjungi website AbraResto.com Ramadhan 2015 dan dapatkan informasi terbaru seputar promosi & deals juga info tentang top restaurant yang berlokasi dekat masjid-masjid besar di Jakarta, Bandung, Surabaya & Jogjakarta.


Online Food Platform dengan Pertumbuhan Tercepat di Indonesia  
Dengan lebih dari 45,000 database & 33.000 pengulasan restaurant di 10 kota di Indonesia. AbraResto.com mempunyai lebih dari ribuan community yang aktif mengikuti kegiatan AbraResto.com dalam platform online & events AbraResto.

Dengan memanfaatkan layanan AbraResto.com, memungkinkan pengguna baru, foodies, dan wisatawan untuk menjelah dan mencari tempat makan berkualitas serta sesuai dengan kebutuhan. Selain itu dengan jangkauan yang luas, seperti jenis makanan, jenis tempat, dan bahkan fasilitas yang ditawarkan oleh gerai, pengguna dapat menemukan jenis restoran yang mereka inginkan.

Selain memberikan informasi lengkap seputar makanan, fitur sosial yang terdapat di AbraResto.com memungkinkan pengguna untuk mendapatkan notifikasi mengenai restoran yang direkomendasikan oleh teman-teman mereka dan pecinta makanan lain yang mereka di AbraResto.com.

Tuesday, June 23, 2015

Aussie



AUSTRALIA posisinya memang berada di bawah, tapi untuk urusan seni melambung tinggi di atas. Melbourne, bahkan disebut sebagai the city of art. Berkeliling Kota Melbourne seolah mengunjungi pameran seni dengan berbagai aliran. Di sepanjang jalan-jalan di kota saja dapat ditemukan beragam karya seni. Bahkan penempatannya sangat menakjubkan.

Sejak 1850-an, Pemerintah Kota Melbourne mengeluarkan kebijakan mempercantik kota dengan menempatkan banyak karya seni. Sampai 2015, kabarnya koleksi yang ada di dalam kota sudah lebih dari 8.000 karya. Karya-karya itu sangat beragam, mulai karya dalam ruangan, artefak, patung, seni instalasi, tugu peringatan, hingga berbagai bentuk air mancur.

Sebagai kota yang lekat dengan seni dan kebudayaan, Melbourne merupakan kota di Australia yang sarat dengan hiburan. Berbagai festival diadakan setiap tahun, hingga akhirnya pesta rakyat itulah yang menjadi alasan kuat berkunjung ke kota tersebut. Berikut ini lima besar festival dengan predikat wajib kunjung: Laneway Festival, Melbourne International Jazz Festival, Melbourne International Film Festival, Melbourne Writers Festival, dan Melbourne Fringe Festival.

The Famous Melbournian Musician
Pada 1970-an, Australia kebanjiran musikus dan penyanyi dari seberang lautan. Semua stasiun radio memutar lagu-lagu dari Inggris dan Amerika. Kemudian muncul masalah ketika stasiun radio harus membayar lagu yang diudarakan. Hal itu menimbulkan konflik terbuka antara radio dan lisensi label di Australia. Walhasil, banyak stasiun radio yang beralih ke label independen yang bermunculan di Australia.


Kondisi tersebut malah menguntungkan musikus di Australia. Para musikus pun menciptakan karya bercirikan warna musik Australia, meskipun ada beberapa yang membawakan cover version penyanyi terkenal. Konflik yang membuahkan kreativitas ini mengangkat nama AC/DC, Sherbet, dan John Paul Young di dunia musik lokal. Di samping itu, media lokal turut mendukung keberadaan musikus lokal yang memperkaya kreativitas mereka.

Karya orisinal hasil kreativitas mereka pun menjadikan para musikus ini sukses di luar Australia. Pada akhir 1970-an dan awal 1980-an, AC/DC, Rose Tattoo, dan Little River Band mereguk kesuksesan di luar tanah air mereka. Diam-diam pula beberapa penyanyi, seperti Olivia Newton-John, mencecap keberhasilan di Amerika. Single-nya Let Me Be There meraih Country Music Association Female Vocalist of the Year pada 1974.

Keindahan suara Olivia Newton-John mengalahkan musikus asal Nashville, seperti Loretta Lynn, Dolly Parton, dan Tanya Tucker. Kemenangannya itu mengundang protes, karena Olivia Newton-John bukanlah asli Amerika. Namun ia malah dibela oleh penyanyi country lainnya, seperti Stella Parton, saudara Dolly Parton, yang kemudian merilis lagu Ode to Olivia (1976).

Berbicara tentang Melbourne berarti berbicara mengenai Air Supply, grup yang membawakan lagu-lagu bergenre soft rock. Lirik lagunya dikenal memiliki kedalaman tema tentang cinta, yang disukai pasar, dengan harmonisasi yang sangat kuat. Dua personel grup ini, Russell Hitchcock dan Graham Russell, sangat tersohor.

Pada 1977, mereka menjadi band pembuka dalam tur Rod Stewart di Australia, yang kemudian membawa Air Supply pada konsernya di Amerika dan Kanada. Tiga tahun kemudian, dengan Lost in Love, mereka mengangkangi Amerika dengan penjualan lebih dari 3 juta keping. Air Supply pun menjelma ibarat pohon besar dengan akar yang sangat dalam.


Orisinalitas Nomor Satu
Sejumlah nama yang mendulang kesuksesan di luar negeri, di antaranya, Nick Cave and the Bad Seed, Little River Band, Jason Donovan, Kylie Minogue, Dannii Minogue, Tina Arena, dan Jet. Perbedaan adalah kreativitas yang mereka pertaruhkan. Meskipun sepintas memiliki kemiripan dengan musikus dan penyanyi sejenis, sebenarnya musiknya jauh berbeda.

Seperti dikatakan oleh Nick Cave, musikus dan penulis lagu dari Australia, ada faktor yang membuat mereka dapat menelurkan karya yang baik. Faktor tersebut adalah mencari, mengumpulkan, dan meramu bahan yang ada menjadi sesuatu yang belum pernah tercipta. Identitas para musikus itu sangat melekat pada karya mereka, baik lagu maupun kemampuan musikalitas yang dimiliki. Kekuatan dan bakat itulah yang membuat nama mereka melambung. Perhatikan saja Tina Arena, yang dipuji-puji media di luar Australia sebagai penyanyi yang memiliki karakter vokal yang kuat dan mulus serta pitch yang sempurna.

Paul Dempsey adalah contoh musikus abad ke-21 asal Melbourne yang memiliki kemampuan memainkan instrumen, mulai piano, gitar, drum, hingga perkusi. Ia terbukti mampu mengolah musiknya dengan baik hingga menghasilkan karya yang dahsyat. Bersama band-nya, Something for Kate, ia mendapat berbagai penghargaan dalam acara musik bergengsi.

Mengulik Melbourne berarti mengulas pula genre electronic dance. Genre ini sangat populer di kota tersebut sebanding dengan festival yang terselenggara sepanjang tahun. Maka hadirlah School of Synthesis, yang salah satu pemiliknya Davide Cerbone, produser musik bergenre electronic dance. Saking populernya genre itu, ada band rock yang memasukkannya dalam komposisi musiknya, seperti yang dilakukan band Regurgitator dan Rogue Traders.


Sumber: MALE Zone, MALE 139 http://male.detik.com