Thursday, September 27, 2007

Metroseksual, Tidak Harus Saltum


Orang menyebut mereka pria metroseksual. Pria-pria dandy yang menikmati hidup (mewah), gemar ke mal dan kafe, rajin ke gym membentuk tubuh, merawat diri di salon dan spa, berburu fashion dan aksesori bermerek, tapi tidak jarang yang sampai kebablasan. Fenomena ini ditulis oleh Burhanuddin Abe.

Metroseksual. Kosa kata baru ini seolah menyihir para pria metropolitan saat ini. Setelah pemain sepekbola tersohor David Beckham bergaya dan berdandan necis, pria-pria “genit” di seluruha dunia seolah tidak mau ketinggalan. Pria urban jenis baru ini memuja gaya hidup hedonisme, tampil trendi, dan selalu mengikuti tren global. Parfum, busana, aksesori bermerek ternama yang dulunya hanya menjadi incaran wanita, kini tidak diharamkan menempel di tubuh pria metroseksual.

Sebetulnya, evolusi tren gaya pria bisa dilacak melalui film-film James Bond. Di era 1970-an, pria ideal digambarkan seperti Sean Connery yang macho, dengan rahang keras dan berewokan. Di era berikutnya agen rahasia Inggris sang jagoan tampil lebih lembut dan necis, diwakili oleh Roger Moore dan Timothy Dalton. Nah, memasuki dekade 1990-an, agen 007 ini berubah menjadi sangat dandy, semakin stylish dengan busana dan aksesoris yang branded, rambutnya pun sangat kelimis. Konon, Piere Brosnan – yang mewakili era ini – inilah yang disebut sebagai cikal bakal pria metroseksual. Tapi yang jelas, istilah metroseksual, yang diperkenalkan Mark Simpson, kolomnis fashion Inggris, pada 1994 untuk menggambarkan kelompok anak muda berkocek tebal yang hidup di kota besar, sangat menyayangi bahkan cenderung narsistik, serta sangat tertarik pada fashion dan perawatan tubuhnya, mulai merebak tidak hanya di Eropa tapi juga di seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia.

Tren ini katanya hanya menjangkiti para model, artis dan orang-orang media. Tapi belakangan justru meluas ke kalangan olahragawan, profesional muda, pengacara, bahkan diplomat! Majalah The Economist bahkan pernah mengungkapkan bahwa di AS jumlah kaum metroseksual mencapai 30%-35%. Mayoritas dari mereka adalah pekerja profesional dan eksekutif muda. Mereka mengagumi George Soros tapi juga tergila-gila pada Chaterine Zetta Jones. Suka nongkrong di kafe, menikmati kehidupan malam, tapi sekaligus peduli kesehatan, dan memakai krim malam sebelum tidur.

Tidak ada yang salah sih, bahkan revolusi ini seakan-akan mendobrak tradisi berpakaian para pria yang cenderung konservatif. Kesehatan pun mulai diperhatikan. Yang juga bergembira dengan fenomena ini adalah para pemasar, paling tidak desainer pakaian pria akan mempunyai pasar yang lebih besar. perusahaan-perusahaan kosmetik menemukan pelanggan barunya. Bahkan Jean Paul Gaultier, misalnya, berani meluncurkan kosmetik khusus untuk pria. Tidak hanya lip balm untuk pria, tapi juga bedak, cat kuku, serta pinsil untuk alis dan garis mata. Wah!

Kalau di deretan pesohor dunia ada David Beckham, Brad Pitt, George Clooney, Antonio Banderas, Ian Thorpe, Tom Cruz, dan masih banyak lagi. Di Indonesia punya Fery Salim, Ari Wibowo, Nicholas Saputra, Jeremy Thomas dan Adjie Massaid. Memang, mereka semua adalah bagian dari kalangan selebriti yang memang harus selalu tampil menawan dan selalu mengikuti fashion.

Tapi kalau yang mengikuti mereka kemudian adalah “orang-orang biasa”, sebutlah orang-orang kantoran yang kerjanya di bidang finansial atau teknik, atau jauh dari dunia kreatif atau keartisan, tentu menjadi pertanyaan besar, apa sebanarnya yang mereka cari. Apa jadinya kalau pegawai bank harus mengecat rambutnya menjadi pirang atau hi light warna tertentu, serta mengecat kukunya seperti suami Victoria Posh itu.

Mengikuti gaya metroseksual sebenarnya boleh-boleh saja, tapi kalau tidak sesuai dengan kepribadian tentu menimbulkan persoalan tersendiri. Sama dengan orang yang pergi ke pesta tapi salah dress code-nya. Kalau sekadar wangi dan berkesan lebih macho tentu bukan problem, tapi kalau kelihatan justru lebih kemayu dan kewanita-wanitaan, bukan metroseksual lagi, meski pun itu hak asasi. Apa boleh buat, batas gender antara pria dan wanita memang kian kabur. Pria bukan lagi dari Mars, dan wanita pun tak selalu dari Venus. (Majalah Her World)

No comments:

Post a Comment