Tuesday, September 25, 2007

Peran Ganda Para Model

Model bukanlah profesi yang tabu, bahkan boleh jadi impian para wanita saat ini. Populer, wajahnya terpampang di mana-mana, dan secara finansial sangat berkecukupan. Hanya saja, jalan untuk menjadi model profesional tidak selalu mulus dan membutuhkan perjuangan yang panjang. Lalu, muncullah jalan pintas, mereka tidak hanya menjual jasa modelling, tapi juga menawarkan kecantikan dan tubuhnya secara harafiah. Aha, peran ganda model? Honornya sangat menggiurkan lho, apalagi kalau sudah punya nama. (Burhanuddin Abe)

Dicari : Model Wanita Indonesia! Kami tidak ingin membuang waktu Anda ataupun kami. Kami mencari calon model yang berdikasi penuh untuk menjadi seorang model dan siap tampil international. Kami bukan mengumpulkan model untuk membuat models showcase, melainkan khusus menangani model yang siap tampil dengan sungguh-sungguh. Kami telah melakukan seleksi ketat, menghubungi beberapa modeling managements, men-seleksi beberapa model independen, namun belum menemukan model yang sepenuhnya masuk dalam kriteria kami.

Begitulah iklan yang terpampang di situs models web Indonesia. Iklan itu selanjutnya menentukan kriteria model yang dicari: Freelance, usia 22-30 tahun, wajah khas wanita Indonesia, kulit bersih sawo muda (bukan putih), rambut panjang sedikit melampaui bahu, warna/raut muka dan bibir sensual, kaki sempurna untuk menggunakan miniskirt dan high heel shoes, tinggi 155 - 170 cm berat badan proporsional. Berdedikasi penuh sebagai profesional model, bisa bekerja sama untuk menghasilkan foto-foto terbaik.

Tidak pelak lagi, kegiatan fashion yang terus menggeliat dan dunia entertainmen yang berkembang subur tak pelak membuat kebutuhan akan model semakin besar. Pencarian model bisa dilakukan melalui talent scouting, pencarian bakat lewat berbagai pemilihan, kontes putri remaja, lomba gadis sampul, bahkan pencarian via televisi dalam acara reality show.

Model pun kini menjadi profesi impian banyak anak muda karena bisa menjadi batu pijakan untuk melompat ke dunia sinetron, film, model iklan, videoklip, sampai masuk dapur rekaman menjadi penyanyi. Siapa yang tidak tergiur, karena “hanya”dengan berani tampil di depan kamera, honor pun bisa didapat dengan gampang. Bahkan kalau jam terbang semakin tinggi, dunia modelling bisa dijadikan tumpuan untuk melangkah ke jenjang berikutnya dunia selebriti. Popularitas dan kemewahan, itulah dua hal yang melekat pada profesi wangi ini.

Siapa yang tidak kenal supermodel dunia, sebutlah Naomi Campbel, yang dengan profesinya menjadi multi jutawan. Atau di Indonesia kita mengenal beberapa nama yang mukanya sering muncul di media cetak dan layar kaca; Arzeti Bilbina, Indah Kalalo, Caroline Zachri, Chaterine Wilson, Aline, Naila, Luna Maya, Dominique, dan lain-lain.

Kita juga mengenal Tracy Trinita yang go international. Peraih juara I versi Elite Model Management yang berbasis di New York pada tahun 1995 itu telah merasakan berbagai pengalaman menyenangkan sebagai model dunia. Dia pernah dikontrak sebagai model sebuah produk milik Iman, istri penyanyi terkenal David Bowie, penyanyi terkenal asal Inggris. Dia juga mendapat kesempatan bekerja di brand top dunia, United Color of Benetton. Fotonya terpampang di mana-mana. ''Ketika melihat poster saya yang segede jendela di Amerika, Eropa, Singapura, di seluruh dunia, saya sempat kaget. Ternyata, saya bisa diterima di modeling internasional,'' ujar gadis berdarah Bali-Hongaria kelahiran Surabaya pada 29 Setember 1980 ini suatu ketika.

Model plus
Namun impian memang kadang-kadang tidak sesuai dengan kenyataan. Simaklah kisah Dina (bukan nama sebenarnya). Gadis asal Sukabumi ini sudah memimpikan untuk menjadi model, atau artis di Ibu Kota. Sejak kecil ia sudah dunia tersebut lewat televisi di rumahnya, melalui tayangan sinetron, iklan, atau pun infotainmen yang membicarakan dunia selebiriti yang lagi marak-maraknya. Adegan demi adegan dalam tayangan sinetron Tersanjung, hampir tidak pernah ia lewatkan. Ini adalah salah satu sinetron yang ia gemari, ceritanya menarik, dan bintang-bintang yang memerankannya keren-keren. Pemeran utama prianya ganteng, dan pemeran utama wanitanya, sudah pasti cantik. “Saya ingin menjadi bagian dari mereka,” Dina bergumam pelan.

Niat itulah yang menuntun Dina bertekat untuk pergi ke Jakarta selepas SMU di kota kelahirannya. Segala informasi ia endus, hingga terdampalah ia ke sebuah agensi model. “Siapa tahu, ini hanya salah satu jalan untuk menuju cita-cita saya menjadi artis,”ungkapnya. Cantik, bertubuh sensual, dan berani tampil, itulah modal Dina. Itu sebabnya, bukan dalam hitungan lama ia pun mulai diburu tabloid dan majalah yang ingin memajang wajahnya yang kata orang mirip Dina Lorenza dan tubuhnya yang indah.

Kemilau dunia model ternyata tidak mudah meraihnya. Dan tidak semudah membalik tangan, Dewi Fortuna tampaknya belum berpihak kepada Dina. Meski pun wajahnya mulai muncul di media, tapi ia tidak populer-populer amat. Kontrak iklan bernilai besar juga belum mampir kepadanya. Beruntung ia bisa masuk ke sebuah produksi sinetron, setelah mengikuti serangkaian kasting, meski bukan peran utama. “Terjun ke dunia artis itu sangat sulit, bak menembus tirai berlapis,” ungkapnya.

Perjuangan memang masih panjang, tapi kehidupan harus terus berjalan. Dunia artis, lengkap glamoritasnya sudah keburu melekat dalam diri Dina. Tapi dengan honor sebagai model ecek-ecek dan artis sinetron dengan peran-peran kecil, mana bisa menopang gaya hidupnya. Dina merasa harus ada terobosan. Klop, dalam kebimbangannya itu, ia mendapatkan tawaran kencan dari seorang pria yang memang mengagumi model. Tadinya ia mencoba sekali. Tapi kemudian datang tawaran berikutnya, kedua, ketiga, dan sterusnya tanpa ia bisa melepaskannya. “Habis honornya besar,” ungkap perempuan yang kini berusia 24 tahun itu, sambil menyebutkan angka Rp 4 juta untuk kencan dalam kota dan Rp 6 juta untuk luar kota.

Dunia glamorGlamor, paling tidak, begitulah citra model yang tertanam selama ini, yang sering diperlihatkan televisi sehari-hari. Tayangan iklan, misalnya, diproduksi seindah dan semenarik mungkin dengan tata gambar dan warna yang prima. Selain tata gambar yang indah iklan di televisi menampilkan pula model-model iklan, anak-anak, remaja, dewasa laki-laki dan wanita. Penampilan model wanita saat ini masih mendominasi iklan di televisi, dan melalui gambar bergerak itulah kita dapat melihat bagaimana gambaran ideal tentang wanita dikonstruksikan.

Gambaran kehidupan yang ideal itu akan kecele dan tidak matching ketika menemukan fakta kehidupan yang tidak selalu manis. Dari sinilah, untuk membiayai kehidupan yang ideal itu, faktor lingkungan mulai berbicara. Dunia model di industri hiburan, demikian Sigit Rochardi, Msi, pengamat sosial politik, dunia yang rentan terhadap norma-norma sosial. Maka, melakukan hal-hal yang menurut norma sosial tabu, bukan persoalan benar bagi sang model. Ibaratnya, memamerkan keindahan tubuh dan kecantikan wajah untuk kepentingan produk, misalnya, bedanya tipis dengan menjual tubuh dan wajah tersebut dalam arti harafiah.

Dina hanya salah salah seorang model plus. Sebab, menurut penelusuran Majalah ME, tidak sedikit model yang berprofesi ganda. Bahkan tidak jarang ada agensi model yang juga berperan sebagai germo, yang menyalurkan model untuk pelayanan esek-esek. Menurut Sigit Rochardi, Msi, banyak faktor yang menyebabkan seorang model berperan ganda – sebagai model sekaligus wanita penghibur. Faktor utama apalagi kalau bukan faktor finansial. Tidak bisa dimungkiri bahwa tingkat kebutuhan ekonomi seorang model berbeda dengan kebutuhan ekonomi wanita biasa pada umumnya. Karena wajahnya mulai dikenal orang, seorang model tidak akan makan sembarangan yang murah, dan naik transportasi umum (bis kota), misalnya. Sebagai panutan, ia pun menjaga citra dirinya – menjaga gaya hidupnya yang glamor, yang membutuhkan biaya tinggi. “Bila hal ini tidak terpenuh secara sempurna akan mengganggu aktivitas kerja, termasuk berinteraksi dalam lingkungan pergaulannya,” katanya.

Itulah yang menjermuskan Deasy, sebutlah demikian, menjadi model plus. Pada awalnya terpampang di sebuah tabloid secara tidak sengaja. Artinya, ia sama sekali tidak merencanakan berkarier sebagai seorang model. Tapi sejak saat itu tawaran demi tawaran untuk tampil di media cetak berdatangan. Ini tidak hanya mengubah gaya hidupnya saja, tapi pemilik tubuh sintal ini pun dikenal orang. Termasuk para pria hidung belang. Memang, tak pernah terbesit dalam angan pemilik tubuh sintal ini untuk menjadi model plus seperti ini, tapi uangnya yang menuntunnya ke arah sana. “Duitnya gede, sedangkan kebutuhan hidup juga semakin banyak,”akunya.

Iming-iming duit yang gede itu yang membuat Deasy tidak bisa melepaskan diri dari peran ganda sebagai model. Asal tahu saja, honor model untuk pemula, untuk sekali foto atau naik panggung (fashion show), yang pasti membutuhkan latihan yang lama, tidak lebih dari Rp 350.000. Untuk sinetron memang agak tinggi Rp 1,5 – 10 juta per episode, bahkan kalau beruntung dikontrak untuk kegiatan iklan sekitar Rp 20-50 juta. Hanya saja, untuk mencapai tingkat “aman”, mendapatkan job pemotretan serta dapat peran penting dalam sinetron, tidak mudah. Jalan pintasnya, apalagi kalau bukan membuka “praktek lain” yang duitnya lebih instan.

Peran ganda dalam berprofesi ini ternyata tidak saja dilakukan oleh model tapi juga dilakukan oleh beberapa agen model. Selain menyalurkan model untuk menjadi bintang iklan, agen model juga menyalurkan modelnya menjadi wanita penghibur. Peranan sebagai perantara sering dimanfaatkan oleh agen model untuk mengambil keuntungan lebih. Agen model berani melakukan ini karena untung yang diperoleh cukup besar. “Memang tidak semua model kami bisa diajak kencan. Tapi beberapa di antara mereka mau menjual diri, suka rela dengan berbagai alasan. Kami hanya menyalurkannya saja,” ujar pemilik agensi model yang enggan disebut jati dirinya.

Yang jelas, hal ini bisa terjadi karena ada permintaan atau pasar. Jika tidak ada pasar, agen model pun akan menciptakan pasar. Berdasarkan data yang diperoleh bahwa peranan ganda agen model sudah berlangsung lama, dan berkembang sesuai dengan zamannya. Sebelum era teknologi agen model manawarkan model melalui mulut ke mulut dan foto, sekarang agen model bisa menawarkan model melalui e-mail.

Dalam kasus ini, hubungan antara model dan agen, yang banyak diuntungkan agaknya agen model. Saat terjerat hukum, misalnya, agen model akan berdalih bahwa yang dilakukan model atas dasar suka sama suka bukan paksaan agen. Agen hanya melakukan proses perkenalan dan hubungan selanjutnya dilakukan secara pribadi.

Pesona wanita modelYang membuat pelayanan esek-esek di dunia model ini marak, tentu karena ada permintaan pasar yang cukup potensial. Seperti hukum ekonomi, ada penawaran dan permintaan. Penggemar model plus ini sebagian besar adalah pengusaha eksklusif berkantong tebal, hingga tak masalah jika merogoh koceknya dalam-dalam untuk urusan yang satu ini, sekedar untuk menikmati kemolekan tubuh sang model.

Pesona wanita model atau wanita biasa sebenarnya tidak berbeda. Hanya saja, wanita model yang dalam kehidupan dikonstruksikan oleh media sedemikian rupa, maka kehadirannya sering mewarnai mimpi-mimpi para lelaki. Membayangkan model tentu tidak bisa terlepas dari wajahnya yang cantik, bentuk tubuhnya yang ideal, serta sensualitasnya. Model cantik selalu dianggap sebagai makhluk yang menyimpan berjuta misteri, sekaligus sensasi, yang terkadang terlihat menarik untuk diraih, dan menantang untuk ditaklukkan. Salah seorang user mengungkapkan, bahwa memburu model-model cantik dan bisa mengencaninya merupakan kepuasan tersendiri. Apalagi kalau sang model cukup populer, ia bisa bangga memerkan dengan mencerikan pengalamannya kepada rekan-rekannya. “√Ąda perasaan bangga,” ujarnya.

Seorang yang lain, sebutlah Frans, bahkan hanya bisa berhubungan dengan model – maksudnya bukan PSK (pekerja seks komersial) pada umumnya. Memadu kasih dengan para model yang notabene kecantikannya di atas rata-rata wanita pada umumnya itu seperti serasa berkencan dengan pacar sendiri, bukan perempuan bayaran. “Mereka tahu bagaimana menjamu teman kencannya. Sensasi kenikmatannya juga lebih dahsyat,” ungkapnya.

Frans, yang pengusaha sukses, mengaku tahu jalur untuk mencari model plus. Ia pernah mengencani model kelas pemula hingga para model yang wajahnya menghiasi sampul majalah hiburan, bahkan model sekelas bintang iklan dan pemain sinetron yang cukup populer di masyarakat. Untuk itu ia rela untuk mengeluarkan uang Rp 3,5 hingga Rp 10 juta lebih untuk sekali pakai. Asal tahu saja, tarif PSK yang paling tinggi, sebutlah yang berasal Uzbekiztan atau Amoi yang berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 3,5 juta.

Bagaimana menentukan tarif model? Popularitas. Jam terbang para model menjadi penentu tarif mereka, artinya semakin banyak media cetak atau elektronik yang memajang wajahnya, maka semakin mahal pula tarifnya. Itu sebabnya, para agensi (baca: germo) dengan segala cara berusaha memasukkan anak buahnya ke tabloid dan majalah, atau menyalurkan ke sinetron-sinetron kendati hanya manjadi figuran, misalnya.

Model adalah seseorang yang bertugas untuk memamerkan suatu produk, juga menjadi ikon produk bersangkutan. Menjadi cover sebuah majalah adalah bagian dari peran yang ia jalankan, untuk menambah daya tarik majalah tersebut. Atau melanjutkannya menjadi pemain sinetron. Tapi jika mereka yang mengaku model terlibat praktek prostitusi terselubung ini, masihkah layak mereka menyandang profesi model?

Simbiosis mutualisme, inilah yang terjadi, yang hanya bermuara kepada satu kata, yaitu uang dan syahwat. Di satu sisi para pemburu model plus ingin meluapkan berahinya, di sisi lain sang model pun juga ingin rupiah besar dalam waktu yang relatif singkat.


Majalah ME No 65, 2006

No comments:

Post a Comment