Wednesday, October 10, 2007

Digital Life Style


Dengan fasilitas hotspot yang penyebarannya makin merata membuat orang bisa melakukan aktivitas dan pekerjaan dari mana saja. Ngerumpi dan presentasi sekaligus, bisa dilakukan di kedai kopi. Gaya hidup di era digital yang semakin memanfaatkan teknologi nirkabel, mengubah paradigma lama tentang konsep meeting points.

Starbucks, Plaza Senayan Jakarta. Jam makan siang telah usai, tapi tidak ada tanda-tanda para pengunjung yang rata-rata para eksekutif muda itu bergegas-gegas kembali ke kantornya. Danny Wirianto, salah satunya, bahkan sibuk memelototi layar laptopnya. “Saya sedang menunggu email dari klien,” ujar lelaki 33 tahun itu sambil menyeruput Frappucino, variasi kopi yang disajikan dingin.

Pemilik Semut Api Colony, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kehumasan (PR) dan event organizer itu, merasa tidak harus bekerja di kantor untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Di kedai kopi ber-AC di plaza itulah ia menghabiskan sebagian besar waktunya. “Di tempat yang mempunyai fasilitas hotspot ini saya gunakan untuk baca email, browsing untuk mengetahui informasi terkini, menyusun agenda, bahkan membuat proposal,”katanya.

Asal tahu saja, hotspot adalah salah satu layanan yang disediakan penyedia jasa Internet, di mana dengan menggunakan layanan tersebut, pengguna dapat menikmati akses Internet nirkabel (wireless) melalui laptop atau PDA yang telah dilengkapi dengan teknologi Wi-Fi (wireless fidelitiy), di lokasi-lokasi tertentu, seperti kafe, mal, maupun hotel.

Konsep kantor tradisional memang tidak berlaku bagi Danny. Pekerjaannya mengharuskan ia menjalani mobilitas yang tinggi, bertemu klien di sebuah kafe, atau bekerja di venue yang ada fasilitas hotspot-nya. Agenda hariannya, sebagai contoh, jam 10 pagi ia ketemu teman di Time Break Café, Plaza Semanggi, dilanjutkan dengan makan siang, jam 2 siang ia bertemu klien di Mister Bean Coffee, Cilandak Town Square. Malamnya, tidak jarang ia teruskan dengan mengikuti acara di sebuah hotel berbintang, terutama kalau ia yang menjadi event organizer-nya.

“Jadi, tidak perlu ke kantor lagi, lebih efisien. Apalagi jalanan Jakarta kan makin macet saja. Yang penting, komunikasi saya dengan staf di kantor lancar-lancar saja,” ungkap jebolan Kendall College of Art & Design, yang mempunyai beberapa klien, seperti Bank Danamon, Bank Mandiri, LG, dan Paparon’s Pizza itu.

Danny memang tidak sendiri, banyak profesional muda, sebutlah marketing manager, konsultan, creative director, event organizer, pemilik perusahaan, bahkan freelancer yang tidak perlu berkantor, tapi memanfaatkan kafe-kafe yang dilengkapi dengan fasilitas hotspot sebagai meeting points. Di era multimedia saat ini, berkomunikasi dengan mudahnya dilakukan oleh siapa saja, dengan siapa saja, via ponsel, atau perangkat nirkabel lainnya, seperti notebook, PC tablet, PDA, ‘komputer terbang’, dan seterusnya, sebagai communication tools.

Orang-orang dengan gaya hidup seperti Danny itulah agaknya merupakan peluang tersediri bagi sejumlah kafe atau coffee shop. Starbucks, misalnya, yang jumlah gerainya di Jakarta kini sudah 25 atau total 32 di seluruh Indonesia, menciptakan apa yang disebut sebagai the third place atau tempat ketiga sesudah rumah dan kantor bagi semua orang.

“Keberadaan Starbucks yang terletak di tempat-tempat yang strategis memudahkan orang untuk datang menikmati sajian minuman kopi berkualitas,“ jelas Kiki Soewarso, Public Relations Manager Starbucks Indonesia, PT Sari Coffee Indonesia.

Dengan fasilitas hotspot, demikian Kiki, pengunjung tidak hanya bisa berkomunikasi via dunia maya. Suasana yang nyaman membuat minum kopi di Starbucks membuat pengunjung betah berlama-lama menikmati suasana, menikmati kopi sendirian, berdua atau beramai-ramai, bahkan untuk informal meeting dengan kolega. “Ada yang datang pagi hari, siang, sore, atau malam,’’ujarnya.

Memang, tempat kongkow-kongkow kini tidak lagi di Passer Baroe, Melawai, atau Taman Ismail Marzuki, yang terlalu kadaluwarsa di era digital seperti saat ini. Meeting points masa kini adalah area yang nyaman, fungsional, sekaligus stylish. Starbucks adalah salah satu contohnya.

Masih ada Lamoda, California Pizza Kitchen, Excelso, Oh Lala, Coffee Club, Kaferoti, Kafe Wien, Tator Boutique Coffee, Alessandro Nannini, Mister Bean Coffee, De' Excelso, Amadeus Restaurant & Patisserie, Red Ginger, Cafe Wien, Time Break, Warung Pojok, QB, dan Kavana, untuk menyebut beberapa. Sesemuanya berlokasi di plaza, mal, town square, atau café walk, yang kini menjadi life style centre di Jakarta dan kota-kota besar Indonesia.

La Piazza, misalnya, menurut Cut Meutia, Corporate PR Manager Grup Summarecon, sang pengembang, sejak awal juga dimaksudkan sebagai life style center di Kelapa Gading Jakarta. Nama La Piazza berasal dari bahasa Italia, yang artinya “The Plaza”. La Piazza terdiri bangunan-bangunan yang dirancang bergaya arsitektur avant garde yang sangat unik, yang masing-masing memiliki karakter tersendiri yang berbeda-beda. Hampir semuanya mempunyai fasilitas hotspot.

Piazza, misalnya, adalah area terbuka seluas 5.000 m2 dengan panggung yang memungkinkan untuk berlangsungnya konser musik yang secara berkala diadakan di tempat itu, peragaan busana hingga salsa dance competition.

Alfresco Dining Area, merupakan tempat bagi pengunjung untuk menikmati secangkir cappuccino hangat atau berbagai hidangan internasional di alam terbuka yang sangat nyaman. Mulai dari penataan landskap hingga waterscape yang menghasilkan suara gemericik air, dipadukan dengan sistem pencahayaan yang sangat menarik, diciptakan sedemikian rupa untuk mendukung aktivitas ini. Sedangkan The Prism, sebuah bangunan unik berbentuk prisma yang seluruhnya berdinding kaca dan tata cahaya yang menarik, menciptakan suatu karya arsitektur yang indah untuk dinikmati. Bangunan ini juga difungsikan sebagai resto-lounge Jepang dan multi function room dengan kapasitas 300 orang.

Menurut Cut Meutia, Kelapa Gading telah menjadi ‘kota di dalam kota’ yang menyediakan seluruh kebutuhan penghuninya. Dengan semakin berkembangnya kawasan ini, maka dirasakan pula dibutuhkan sebuah pusat gaya hidup bagi komunitasnya yang juga merupakan bagian dari komunitas metropolitan di Jakarta. Tren inilah yang sedang berkembang di kota-kota besar di negara-negara maju, yang kini juga sudah mulai merambah ke Jakarta.

Dengan adanya Mal Kelapa Gading, Gading Food City, Apartemen The Summit yang sedang dalam tahap pembangunan dan bahkan nantinya akan dibangun pula hotel, maka La Piazza – yang menelan investasi tak kurang dari Rp 120 miliar itu – akan bersinergi memberikan nilai tambah tersendiri bagi kawasan ini. “Keunikan dan daya tarik La Piazza diharapkan pula dapat menjadi salah satu destinasi alternatif bagi masyarakat Jakarta khususnya, dan turis asing umumnya,”jelasnya.

Selain La Piazza, ada Cilandak Town Square (Citos) di Jakarta Selatan, yang merupakan kawasan kafe yang lagi ngetren saat ini. Ada juga eX (entertainment xentre) berarsitektur post modern dengan TV plasma bertebaran di dinding bahkan di lantai, yang dirancang sebagai area hiburan terpadu. Di sini ada sejumlah restoran, kafe, termasuk Hard Rock Cafe dan Fashion Bar, bioskop, fitness centre, serta arena boling.

Di luar Jakarta, Ciwalk di Bandung adalah salah satu meeting point yang paling populer. Menurut Deni Subali, Presdir PT Karya Abadi Samarga, pengembangnya, Ciwalk yang berada di Jl Cihampelas memakai konsep open mall, yang ide dasarnya konon sama dengan salah satu kawasan belanja di Singapura. “Di Bandung sendiri kan nyaman untuk jalan-jalan dengan udaranya yang masih sejuk. Jadi konsepnya terbuka, mal benar-benar menyatu dengan alam,” tegasnya.

Dan inilah venue-venue yang sering dipakai profesional muda Bandung untuk ajang kumpul dan berinternet ria; Glocys, Pisa Cafe, Platinum Resto, Embargo, dan Score. Di tempat dengan fasilitas hotspot itulah mereka tidak hanya sekadar minum kopi, beberapa di antaranya juga bisa browsing dari laptopnya masing-masing. Bahkan bisa juga menayangkan presentasi dari laptop, yang berkemampuan Wi-Fi tanpa perlu repot-repot dengan tali-temali dan kabel karena radius jangkauan teknologi ini bisa mencapai 100 meter.

Koneksi nirkabel saat ini memang makin menjadi kebutuhan. Menurut Dhoya S. Sugarda, Marketing Manager Indosat Mega Media (IM2), perkembangan para pengguna hotspot di Indonesia sudah mulai terlihat sejak 2003. Tapi, perkembangannya mulai pesat baru akhir tahun lalu. “Kami meluncurkan fasilitas hotspot yang pertama di Indonesia Agustus 2004, yakni di Citos Jakarta,” katanya.

Menurut survei yang dilakukan Synovate, untuk responden di Asia, salah satunya Indonesia, bahwa ketika anak ditanya apa kado yang mereka inginkan saat ulang tahun. Jawabannya, pertama adalah ponsel, kedua notebook, ketiga gadget musik seperti iPod, dan keempat baru perhiasan. Dari sini terlihat bahwa demam gadget memang tengah berlangsung saat ini.

Setelah Citos, IM2 membuka fasilitas hotspot di beberapa lokasi yang menjadi tempat hang out, kongkow anak-anak muda, serta meeting points para profesional. “Prinsipnya, kami cari tempat di mana orang bisa duduk dengan nyaman sambil bekerja, negosiasi atau rapat. Untuk itu, lokasinya yang kami pilih adalah kafe, coffee shop, hotel, bahkan sekolah, karena para pengguna Internet banyak berkumpul di sana,”kata Dhoya sambil menambahkan bahwa IM2 sudah memiliki 30-40 lokasi hot spot yang tersebar di kota Jakarta, Medan, Batam, Pekan Baru, Bandung, Semarang, Yogya, Surabaya, Gresik, Bali, dan Makassar.

Life style kini agaknya tak bisa dipisahkan dengan perkembangan e-culture. Kalau Anda tidak ingin dicap “jadul” (jaman dulu), maka manfaatkanlah teknologi yang semakin memudahkan hidup. Tidak ada alasan untuk ketinggalan berita atau putus komunikasi dengan dunia, karena di kedai-kedai kopi, resto, ruang tunggu bandara, kini sudah dilengkapi dengan fasilitas hotspot, sehingga tidak perlu sibuk mencari sambungan telepon hanya untuk mendapatkan akses Internet. Dunia serasa dalam genggaman! (Burhanuddin Abe/W. Setiawan, Arie Hananti, Lis Hendriani, dan Dwi Wulandari)

Platinum Society
Edisi 12/29 September 2005

No comments:

Post a Comment