Thursday, March 18, 2010

Media cetak bersaing dengan internet


Mampukah media cetak bertahan di Indonesia tanpa bantuan internet

REVOLUSI internet juga mengubah wajah media massa, mereka yang tidak menyesuaikan diri akan terlindas, namun masih juga ada yang berusaha menunggu sebelum masuk ke Internet. "Media terbukti meskipun ada media baru selama berabad-abad tidak ada perubahan. Dulu radio tetap hidup, meski televisi lahir. Media cetak tetap hidup meski televisi lahir. Dulu banyak yang takut, tidak ada perubahan cuma bisnisnya jadi berbeda dan perilaku media berubah," kata Nukman Lutfhie, Direktur Virtual Consulting, sebuah perusahaan konsultan media dan internet di Jakarta.

Tetapi kehadiran internet membuat perubahan yang betul-betul signifikan. "Kalau dengan televisi kita hanya bisa menjangkau wilayah tertentu, misalnya televisi di Indonesia tidak bisa ditonton di negara lain. Sementara dengan internet, arus informasi itu melewati batas-batas tradisional yang selama ini ada." kata Nukman.

Hadirnya internet membuat akses untuk mendapatkan informasi menjadi lebih gampang, dan lebih cepat didapat dibandingkan media lain seperti televisi, radio, dan media cetak. Dicontohkan oleh Nukman, bila setiap hari, dalam 24 jam, mulai dari bangun pagi, sampai tidur, konsumen bisa bersentuhan dengan media seperti menonton televisi, membaca koran, mendengarkan radio, dan mengakses internet. "Dalam penelitian kami, sekarang ini di Indonesia, rata-rata orang menghabiskan waktu 2,3 jam perhari, internet 2 jam, sementara membaca koran hanya 34 menit," tambah Nukman lagi.

Menurut Nukman, sekarang ini walau jumlah penjualan koran di Indonesia tidaklah menurun, tetapi pola baca menjadi berubah. "Pembaca tidak lagi mencari berita-berita utama karena dia sudah tahu bahwa itu kejadian kemarin. Yang dibaca adalah opini, tokoh, sosok. Jadi berita-berita utama tidak lagi dibaca." kata Nukman lagi.

Oleh karena itu, menurut Nukman, media cetak yang tidak memanfaatkan internet sebagai outlet untuk menjual produknya akan tenggelam.

Contoh Jawa Pos
Namun salah satu kelompok media cetak terbesar di Indonesia, Kelompok Jawa Pos masih belum sepenuhnya menggunakan internet. Mereka masih mengandalkan media cetak untuk menjadi sarana bagi pembaca untuk mengetahui perkembangan terbaru setiap hari.

Jawa Pos sudah memiliki situs internet, tetapi berita-berita yang sudah muncul di koran, baru diperbarui di internet mulai jam 9 pagi. Diharapkan ketika itu, koran-koran mereka yang tersebar lewat anak-anak perusahaan dari Aceh sampai ke Papua, sudah berada di tangan pembaca.

Jawa Pos juga tidak memperbarui berita setiap saat, seperti banyak yang dilakukan oleh kelompok lain seperti Kompas, Media Indonesia, dan yang lainnya.

Mengapa mereka memilih kebijakan seperti itu? "Memang di koran lain tidak melakukan apa yang kita lakukan. Kita beranggapan bahwa bisnis kita yang utama adalah koran dan perlu perhatian khusus," kata pemimpin redaksi Jawa Pos, Leak Kustiya.

Tukar format AV
"Kalau koran kita bisa mengukur hingga detail, misalnya biaya peliputan, biaya cetak, biaya peralatan. Dari semua itu, kita kemudian bisa menentukan harga berapa koran yang kita jual," kata Leak.

Sementara bila berita yang diperoleh para wartawan untuk dimuat di internet, menurut Leak Kustiya, Jawa Pos belum bisa menentukan model bisnisnya. "Sekarang ini kita belum mendapatkan gambaran, kita akan mendapatkan apa ketika berita itu kita muat di internet," tambah Kustiya.

Dalam pandangan Jawa Pos, akses berita di internet dimana siapapun yang memiliki sambungan internet dan komputer bisa melakukannya tanpa membayar ini masih tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan oleh media cetak seperti Jawa Pos untuk mendapatkan berita.

Iklan di internet
Bila Jawa Pos masih bertahan dengan pola media tradisional, sambil menunggu perkembangan pasar, bagaimana dengan media yang hanya muncul di internet saja. Apakah di Indonesia, media seperti ini sudah bisa bertahan secara komersial? Burhanuddin Abe adalah salah seorang penggagas media kuliner Appetite Journey dan penulis untuk situs portal www.perempuan.com. "Ini persoalan waktu saja bagi media yang hanya muncul di internet." kata Abe.

Perkembangan teknologi mulai dari internet sampai ke perangkat pribadi seperti telepon genggam memberikan kemudahan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. "Di Indonesia, kepemilikan telepon genggam sudah hampir merata di mana-mana. Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan format mengakses media terjadi. Dulu orang tidak mengenal Facebook, sekarang banyak orang di kota besar di Indonesia memiliki account Facebook," kata Abe.

Untuk bisa sukses secara komersial, apalagi bagi media massa yang hanya beredar di internet, ketergantungan akan iklan sangat penting. "Sudah ada beberapa media yang membuktikan bahwa mereka bisa sukses di internet. Contoh paling jelas adalah detik.com, yang memang sejak dari awal sudah dibuat khusus untuk internet. Beberapa yang lain juga menyusul walau belum begitu berhasil," katanya.

Dikatakan oleh Burhanuddin Abe, tren pemasangan iklan di media massa di internet membaik dari tahun ke tahun. "Kalau kita perhatikan di biro iklan yang besar dimana salah satu divisi di dalam biro iklan itu disebut new media. Nah divisi ini yang mengurusi pemasangan iklan di internet." katanya.

Masa depan media cetak
Di Amerika Serikat, beberapa media cetak terutama yang terbit regional sudah menghentikan penerbitan cetak mereka, dan mengkonsentrasikan diri sepenuhnya ke Internet. Serikat Penerbit Surat Kabar Indonesia (SPS) juga mulai mengkhawatirkan bahwa hal tersebut di satu saat bisa terjadi di Indonesia dan karenanya bulan September tahun lalu mereka melakukan survei untuk mengetahui media mana yang masih menjadi sumber utama informasi bagi masyarakat Indonesia.

Hasilnya cukup mengejutkan dan menunjukkan bahwa 60 % masih mengandalkan media cetak sebagai sumber informasi utama. Media eletronik, termasuk televisi dan radio masih menduduki peringkat teratas, sebesar 90%, sementara internet di tempat ketiga dengan 34 %. Sementara itu, jumlah media cetak yang terbit di Indonesia meningkat dalam tiga tahun terakhir. Di tahun 2006 terdapat 251 penerbitan, 269 di tahun 2007, dan 290 di tahun 2008.

Tetapi baik Burhan Abe dari Appetite Journey dan Nukman Lufthie dari Virtual Consulting sepakat bahwa media cetak yang tidak berkembang menjadi multi media -yang melibatkan internet- akan tertinggal dan kemudian hilang dari peredaran. "Contoh paling nyata adalah Kompas. Dia adalah koran terbesar, portal internetnya serius sekali, mereka juga punya Kompas TV. Semua harus ke situ, kalau tidak, mereka akan jadi masa lalu." tambah Abe.

Sedangkan menurut Nukman Lutfhie, seharusnya sejak lima tahun lalu, media cetak di Indonesia sudah merambah ke online supaya mereka tidak tertinggal terutama menurut dia guna menarik generasi muda yang sekarang sudah mulai tidak mengenal lagi media cetak sebagai media informasi utama mereka. "Kalau anda tanya remaja sekarang, apakah mereka membaca koran, jawabannya adalah tidak. Apakah mereka punya atau kenal internet, jawabannya ya. Akibatnya mereka tidak pernah akan terbiasa dengan koran cetak. Kalau kemudian koran-koran cetak ini tidak ke online, mereka makin tidak diketahui, dan akhirnya akan mati," katanya.

Serikat Penerbit Surat Kabar SPS berharap bahwa hal tersebut tidak akan terjadi dalam waktu dekat. (Sastra Wijaya, Produser BBC Indonesia)

http://www.bbc.co.uk/indonesia/laporan_khusus/2010/03/100312_mediainternet.shtml


No comments:

Post a Comment