Saturday, August 01, 2015

Startup


Semua yang besar, bermula dari yang kecil. Kalimat tersebut bukan berasal dari Mak Erot, tapi faktanya hampir semua bisnis yang kini raksasa, dulunya berawal dari  startup business.

Istilah startup kini populer seiring dengan maraknya bisnis yang dijalankan secara online – meski arti startup sesunggguhnya berarti tindakan atau proses memulai sebuah organisasi baru atau bisnis, tidak selalu online. “Yang mengatakan menyamakan startup dengan bisnis di bidang teknologi atau Internet adalah mislead. Seharusnya orang yang berjualan mi ayam, grosir kain di Tanah Abang, jualan seminar, atau servis AC, apa pun jenis bisnisnya, asalkan baru dimulai, bisa disebut startup,” kata Rein Mahatma, co-founder Startupbisnis.com.

Memang, istilah startup mendunia ketika banyak perusahaan dot-com didirikan secara bersamaan. Juga, ada satu kesamaan dari orang-orang yang terlibat dalam industri startup saat ini, yang identik dengan teknologi dan Internet.


Dalam sejumlah studi, Indonesia disebut-sebut memiliki potensi pertumbuhan startup yang besar, terutama karena penetrasi Internet yang terus meningkat seiring dengan bertambahnya pengguna telepon seluler pintar. Jumlah pengguna media sosial dan layanan antar di Indonesia juga besar. Potensi ini tentunya menjanjikan pertumbuhan startup yang pesat.

Kemajuan teknologi digital membawa manusia melintasi batas jarak, ruang, dan waktu, termasuk dalam berbisnis. Sangat jarang pebisnis yang tidak memanfaatkan teknologi digital, yang tertuang dalam dunia maya. Internet bahkan menjadi dunia baru yang memiliki bidang kehidupan sendiri, salah satunya bisnis.

Lebih dari satu dekade, bisnis yang mengalami perkembangan paling pesat terdapat di dunia maya. Contohnya, e-commerce Bukalapak dan Tokopedia, yang berkembang bukan lagi sebagai startup, melainkan bisnis yang kuat. Adapun startup yang sangat fenomenal saat ini adalah Go-Jek.

Bila dibandingkan, mengawali bisnis di dunia nyata membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menjadi kuat. Belum lagi keterbatasan jarak, ruang, dan waktu membuat bisnis konvensional tersendat-sendat. Hal inilah yang kemudian membuat orang berlomba-lomba membangun startup bisnisnya demi percepatan meraih kesuksesan. Perbedaan terbesar di antara keduanya adalah pola pikir. Orang yang memulai startup bisnis biasanya tidak mengacu pada pola pikir bisnis konservatif.

Sumbangan kesuksesan lainnya pada startup bisnis adalah luasnya media sosial yang dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya dengan frekuensi sebebas-bebasnya. Sebut saja dua media sosial paling populer, seperti Facebook dan Twitter, yang membantu meluaskan popularitas startup bisnis.

Memang, startup bisnis tak selamanya langsung meroket, meskipun banyak yang sukses besar. Tapi, startup bisnis bukan bisnis konservatif yang membutuhkan waktu satu-dua tahun sampai pada titik mapan. Sementara itu, startup bisnis tidak memiliki pola pikir yang sama.


Gerakan Startup di Asia Tenggara
Silicon Valley adalah pusat inovasi di Amerika Serikat. Ide-ide baru yang lahir dari sini dengan cepat berkembang menjadi standar dunia. Wilayah ini adalah rumah bagi banyak perusahaan IT raksasa dunia, seperti Google, Apple, Yahoo!, Hewlett-Packard, dan Intel. Bahkan Facebook, Twitter, dan Zynga juga telah pindah ke Silicon Valley. Dapat dikatakan, Silicon Valley adalah tempat dengan konsentrasi startup tertinggi dengan infrastruktur yang paling maju.

Beberapa tahun belakangan, gerakan startup di negara Asia Tenggara, seperti Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Indonesia, mulai menggeliat kencang. Namun Anis Uzzaman, CEO & General Partner Fenox Venture Capital, melihat adanya perbedaan antara ekosistem startup di wilayah Asia Tenggara dan Silicon Valley.

Anis Uzzaman adalah sosok yang tak asing lagi di dunia startup. Awalnya ia bekerja di perusahaan trading publik, seperti IBM dan Cadence, yang menjalankan peran rekayasa, penjualan, serta pemasaran. Pada 2011, ia bersama rekanannya mendirikan Fenox Venture Capital, perusahaan modal ventura di Silicon Valley.

Pada dasarnya Fenox VC berinvestasi dalam bidang teknologi informatika, kesehatan, mobile, sosial, Cloud, Big Data, sistem pembayaran, e-commerce, juga teknologi generasi masa depan. Fenox berfokus menemukan startup yang sudah melewati tahap pengujian produk di pasar dan siap berkembang lebih besar. Dalam dua tahun terakhir, Fenox telah menganalisis lebih dari 400 startup di Asia Tenggara. Kebanyakan merupakan startup yang bergerak di bidang e-commerce, Daily Deals, situs komparasi harga, juga media dan SaaS (software as a service).

Hingga saat ini, Anis telah berinvestasi pada lebih dari 50 perusahaan di Silicon Valley, Jepang, dan Asia Tenggara. Berbicara mengenai potensi startup di Asia Tenggara, ia menganggap founder serta anggota tim startup Asia Tenggara merupakan individu yang sangat kreatif dengan potensi menciptakan Facebook dan Google generasi baru tingkat dunia. “Bakat, passion, dan kemauan bisa ditemukan di sana, dan saya mengharapkan lahirnya Google dan Facebook generasi baru dari Asia Tenggara,” ujarnya.

Walau begitu, tiga modal besar itu tidaklah cukup tanpa dilengkapi dua hal lain yang krusial, yaitu strategi dan informasi. Melalui bukunya tersebut, Anis berbagi enam elemen dasar yang penting dalam membangun startup, yakni membangun tim, menciptakan produk, melindunginya dengan paten, memasarkan produk, memikirkan strategi pembiayaan, dan menetapkan exit strategy.

Mencuplik Thestartuppedia.com, tak jarang entrepreneur yang bersemangat dan ambisius dengan ide besarnya kandas karena pengelolaan yang keliru. Bahkan kerap ditemui masalah terbesar kegagalan startup bukan terletak pada minimnya modal ataupun ide yang buruk, tapi lebih karena eksekusi yang berantakan akibat minimnya informasi dan strategi.

Tantangan yang cukup besar dihadapi startup di Asia Tenggara adalah ketersediaan sumber daya manusia yang mumpuni. Dmitry Levit, rekanan umum Digital Media Partners, mengatakan dalam StartupPedia, “Tantangan kritis untuk ekosistem startup Asia Tenggara adalah mengembangkan 'kolam' berisi bakat di bidang hukum yang mampu bernegosiasi dengan venture capital. Inilah 'kolam' berisi orang-orang dari Rakuten, MasterCard, atau Google, orang-orang bagian penjualan dari seluruh wilayah ini, dan orang dengan bakat teknis yang mumpuni.”

Sumber: Male Zone - MALE 145 http://male.detik.com

No comments:

Post a Comment