Tuesday, November 17, 2015

Sexy Dancer



Kehadiran sexy dancer dalam sebuah pesta belakangan ini menjadi hal yang jamak. Bahkan klub dan dunia malam tanpa kehadiran mereka terasa kurang lengkap. Sexy dancer, juga private dancer, kini tak hanya menjadi lahan bisnis yang menjanjikan. Sejak 2007, bisnis yang banyak diminati kalangan pebisnis kelas atas ini mulai menjamur, meskipun tak jarang pula yang menjalankannya secara terselubung.

Bachelorette Party, Hen Party, Girl's Night Out merupakan event yang diselenggarakan di klub, tempat karaoke, ataupun kafe, terkadang menjadi kedok buat penyediaan penari-penari seksi itu. Tak hanya menari, para perempuan tersebut bisa menjadi teman ngobrol, makan, dan minum ataupun ‘kegiatan ekstra’ lainnya bagi tamu yang berani membayar mahal. Aha!

MALE 159
Bisnis Seksi Para ‘Papi’
Tatapan nakal dan gemas terpancar dari mata para tamu saat satu per satu penari wanita menggerakkan tubuhnya mengikuti irama musik. Badannya meliuk-liuk memamerkan kemolekan dan keseksian yang menggoda.

Sekitar 30 menit mereka menghibur dan memancing hasrat para lelaki yang memenuhi ruangan itu. Melalui jasa sang “papi”, agen private and sexy dancer, tamu bisa menikmati pesta di kamar atau ruangan khusus. Tak hanya menari, para perempuan tersebut bisa menjadi teman ngobrol, makan, dan minum ataupun kegiatan lainnya, apa lagi kalau bukan sex service, bagi tamu yang berani membayar mahal.

Private dancer kini tak hanya menjadi lahan bisnis yang menjanjikan di luar negeri. Di Tanah Air, tak sedikit yang menjadikannya profesi yang menggiurkan. Sejak 2007, bisnis yang banyak diminati kalangan pebisnis kelas atas ini mulai menjamur, meskipun tak jarang pula yang menjalankannya secara terselubung.

Sebut saja Martin, pria yang pernah bekerja pada event organizer khusus hiburan malam, yang kerap menjalankan bisnis ini. "Penyediaan sexy dancer bisa sebulan atau dua bulan sekali, dan private dancer lebih jarang lagi. Enggak mau keseringan juga untuk menghindari hal-hal yang enggak diinginkan. Kalau sampai digerebek, bisa gawat," ujarnya.

Berbagai sex entertainment dan pertunjukan lain bisa diadakan di tempat (on the spot) atau booking out, dengan menunjuk satu lokasi yang diinginkan, seperti hotel bintang lima, apartemen, dan private residence. "Kebetulan aku dan ajudan para dancer ikut masuk menemani tamu. Soal apa yang terjadi di dalam, ya, standar, satu per satu baju dilepas sampai tak sehelai benang menempel di tubuh. Kebanyakan hanya sampai topless, tapi ada saja tamu yang request sampai nude," ucap Martin.

"Kalau sudah sampai have sex, itu terserah dancer-nya. Tapi rata-rata dancer mau diajak have sex. Soalnya, bayarannya lumayan banget untuk tambahan. Keuntungannya bisa tiga kali lipat," katanya.

Emma, salah satu sexy dancer ternama asal Yogyakarta, mengaku sering mendapat tawaran ekstra tersebut setelah menari. "Mereka biasanya langsung booking lewat manajer. Tapi semuanya kembali ke pribadi dancer, sih. Banyak sexy dancer yang tak malu, dan berani mengambil tawaran tersebut. Biasanya yang butuh duit. Tapi, saat menari, tetap ada aturan. Intinya, tidak ada kontak fisik, enggak boleh pegang," ujarnya.

Menurut Emma, tak sedikit wanita yang menjadikan private dancer sebagai side job. "Faktanya, banyak dari mereka yang ternyata masih kuliah. Ada pula yang bekerja di badan statistik dan pekerja kantoran lain. Menjadi private dancer merupakan hiburan, sekaligus cara mencari nafkah yang menyenangkan,” ucapnya.

MALE 159
Dari Freelance hingga Full Contract
Impitan ekonomi dan honor yang menjanjikan menjadi alasan klasik para penari sampai rela menghibur serta memuaskan hasrat tamu yang merayakan pesta. Tak tanggung-tanggung, rate berbeda pun ditawarkan bagi yang ingin menikmati layanan dancer ini. "Tamu yang ingin eksklusif bisa memboyong dancer ke salah satu kamar atau ruangan khusus sehingga lebih intim. Untuk kelas ini, tarifnya memang lebih mahal, minimal Rp 1 juta untuk sekali show dengan durasi satu jam," Martin menjelaskan.

Tak hanya mendapat honor yang menggiurkan, para agen bahkan menyediakan mes atau tempat tinggal bagi mereka yang datang dari luar kota. "Mes itu untuk dancer yang full contract, kan ada juga yang sebatas freelance. Khusus buat yang full contract, harus mengikuti semua rule dan job yang diatur oleh ‘papi’. Adapun yang freelance lebih fleksibel karena hanya melakukan show di beberapa klub," ujar Martin.

Ya, sexy dancer memang menjadi profesi yang menjanjikan, baik bagi si penari maupun para papi. Sophie, mahasiswi 21 tahun, menjadikan sexy dancer pekerjaan paruh waktu untuk menopang hidup di New York, Amerika Serikat. “Aku melihat iklan yang mencari mahasiswi bertubuh indah untuk bekerja di klub malam, dengan bayaran hingga US$ 1.000 per malam,” katanya, seperti dikutip dari situs TheFrisky.com.

Bermodal tubuh dan paras yang mempesona, Sophie optimistis bisa lolos seleksi. Gayung bersambut, hingga ia akhirnya bertemu dengan Bob, seorang papi, yang berhasil meyakinkan tugasnya hanyalah menari. Honor pertunjukan satu putaran lagu US$ 20.

Namun, siapa sangka, yang terjadi tak seperti yang dibayangkan. "Aku mabuk kala itu, dan berusaha memberi tarian yang layak. Aku pun membiarkan pelanggan membelai tubuhku. Mereka mulai melepas bra dan menyentuh payudaraku. Aku bahkan bertindak bodoh dengan memberi layanan handjob kepada salah satu pelanggan, karena dia akan memberi tambahan US$ 60," katanya.

Kini Sophie telah meninggalkan profesi sexy dancer. Namun pekerjaan masa lalunya tersebut terus menghantuinya hingga kini. “Bagaimana jika orang-orang tahu masa laluku? Aku pernah bertemu dengan salah satu klien saat bekerja sebagai penari. Dia hanya melewati aku dan memberi kedipan mesra,” ujarnya.

Sumber : MALE 159 http://male.detik.com

No comments:

Post a Comment