Fidel Castro versus Demi Moore

Produk gaya hidup itu bernama cerutu. Bukan sekadar gulungan tembakau, tapi ada citra dan gengsi pengisapnya. Cerutu kini tidak hanya monopoli pria, tapi wanita pun ikut menikmatinya. Dengan emas coklat itu, kata orang, wanita terlihat lebih seksi. Hmm! (Burhan Abe)

“Women & Cigar”. Tema itulah yang diusung pada acara pesta yang berlangsung di Zen Bar & Lounge, Jakarta Jumat, 30 Juli lalu. Venue yang terletak di Menara Thamrin, Gedung Parkir lantai 8 itu tak ayal kebanjiran pengunjung, acara unik tersebut berhasil mengundang rasa penasaran para partygoers Ibu Kota.

Jam menunjukkan pukul 23.00. Keriaan pun makin seru. Para penari seksi bergoyang di bar berbentuk U yang dijadikan panggung. Iringan musiknya yang biasanya techno, kali ini digabungkan dengan petikan gitar live yang kental dengan nuansa Latin, sesuai dengan asal cerutu. Di panggung itu pula, pada sesi berikutnya, para peragawati berlenggak-lenggok bak di catwalk, mengenakan berbagai busana, mulai dari busana malam yang anggun hingga bikini yang seksi. Tidak lupa, di salah satu adegan, di mulut mereka terselip cerutu. Wow!

Lalu, apa hubungan antara wanita dan cerutu? “Penggemar cerutu di Jakarta tidak banyak, dan hampir semuanya pria. Kami ingin mensosialisasikan bahwa perempuan pun layak mengonsumsi cerutu,” tutur Yadie Dayana, Operations Manager PT Gemilang Cahaya Utama (GCU), distributor sejumlah merek cerutu asal Dominika, sponsor utama acara malam itu.

PT GCU sahamnya dimiliki oleh Java Match Factory, perusahaan patungan antara pengusaha domestik yang berkedudukan di Surabaya (60%) dan perusahaan global Swedish Match (40%) – manufaktur dan distributor cerutu premium di dunia. Pada 2001 mereka membuka cigar outlet pertamanya di Asia, yang diberi nama Club Macanudo, tepatnya di Hotel Shangri-La, Jakarta. Kini, gerai yang menyediakan 200-an merek cerutu itu tidak hanya terdapat di hotel tersebut, tapi sudah tersebar di 27 tempat lainnya di Jakarta, satu di antaranya di The Peak, Bandung.

Club Macanudo memang bukan klub untuk cigar society yang pertama, karena beberapa tahun sebelumnya, yakni tahun 1997 sudah ada klub serupa, namanya Lacasa del Habano, yang berpusat Hotel Mandarin Jakarta, yang primadonanya adalah cerutu-cerutu eks Kuba. Sebutlah Cohiba, Montecristo, Partagas, Hoyo de Monterrey, Romeo Y Julieta, H Upmann, Puch, Sancho Panza, Trinidad, Vegas Robaina, dan Bolivar.

Cerutu memang lahir di Kuba dan “ditemukan” Columbus pada tahun 1492, tapi kini produsennya ada di beberapa negara, serta penggemarnya sudah merebak ke seluruh dunia. Di Indonesia, menurut Yadie, saat ini penjualan premium cigars – kebanyakan eks negara-negara Karibia (Dominika, Kuba, Jamaika, Brasilia, Nikaragua, Honduras, dan lain-lain) – baru 7.000 batang (terbesar dari Club Macanudo, 2.500 batang) per bulan. Nilainya sekitar Rp 500 juta.

Tidak besar memang. Jangankan dengan AS yang penjualan cerutunya terbesar di dunia, dibandingkan dengan negara sesama Asia saja, sebutlah Hong Kong, Indonesia belum ada apa-apanya. Di negara kepulauan itu satu gerai mampu membukukan penjualan sekitar 3.500 dolar AS (setara dengan Rp 30 juta) setiap bulannya. Padahal setiap hotel berbintang lima di sana pasti mempunyai cigar outlet.

Memang, menjual cerutu tidak seperti menawarkan barang komoditi biasa, tapi menjual gaya hidup.Cerutu bukan sekadar gulungan tembakau tapi ada citra dan gengsi di sana. Menikmati cerutu barangkali mirip dengan mengapresiasi wine, cognac, liquor, champagne, dan sejenisnya. Lebih jauh, seperti yang dikatakan pemikir budaya pop David Chaney, produk gaya hidup seperti Porsche, jins, juga cerutu, adalah semacam artefak budaya material yang mempresentasikan identitas sosial pemakainya.

Secara faktual cerutu memang disukai tokoh-tokoh dunia yang kharismatis, sebutlah PM Inggris pada Perang Dunia II, Winston Churchill, pemimpin revolusi Amerika Latin Che Guevara, tokoh legendaris AS John F. Kennedy, gembong mafioso Don Corleone, bintang Hollywood Bill Cosby, Tom Selleck, hingga penyanyi seriosa Luciano Pavaroti.

Related Stories

spot_img

Discover

Janu Residences, Dubai: Ketika Gaya Hidup Naik Level

Di kota yang identik dengan rekor—tertinggi, terbesar, termahal—hadir satu proyek yang tidak berteriak, tapi...

Ayana Midplaza Jakarta: Tempat Berbuka yang Tidak Main-Main

Ramadan itu sederhana. Yang bikin rumit biasanya ekspektasi. Untungnya, Ayana Midplaza Jakarta memilih jalur...

Burger & Lobster: London Attitude, Jakarta Appetite

Ada dua tipe restoran baru di Jakarta. Yang datang dengan menu setebal novel Rusia,...

Bali Naik ke Lantai 46: Syrco BASÈ Bikin Jakarta...

Jakarta itu keras. Cepat. Ambisius. Tapi selama tiga minggu, 16 Februari–7 Maret 2026, ada...

Endless Worlds

Explora Journeys Membuka Reservasi Pelayaran Dunia Perdana 2029 Ada jenis perjalanan yang tak sekadar memindahkan...

Vintage Sounds

Seni Merayakan Masa Lalu Tanpa Terjebak di Dalamnya Ada dua jenis nostalgia: yang murahan dan...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here