Perang dagang Trump adalah cermin. Ia menunjukkan ketergantungan, sekaligus kelemahan struktur ekonomi kita. Tapi seperti semua krisis, ia juga membuka peluang: untuk merombak orientasi dagang, memperkuat industri dalam negeri, dan menata ulang prioritas ekonomi nasional. Asalkan kita tidak lagi sibuk memadamkan api, dan mulai membangun sistem yang tahan terhadap nyala berikutnya.
Ekonomi dalam Genggaman Tarif
Yang membuat kebijakan Trump begitu meresahkan adalah sifatnya yang sistemik. Ia bukan hanya mengganggu neraca perdagangan, tetapi juga menggeser lanskap geopolitik ekonomi. Ketika tarif tinggi diberlakukan terhadap mitra dagang utama, rantai pasok global ikut terguncang. Indonesia, yang selama ini mengandalkan model ekonomi terbuka dan terintegrasi ke dalam jaringan produksi dunia, terkena imbas besar.
Studi dari Baldwin dan Freeman menunjukkan Indonesia sebagai salah satu dari 15 negara paling rentan terhadap gejolak rantai pasok akibat perang dagang. Di sektor elektronik dan otomotif, gangguan pasokan satu komponen saja bisa menghentikan seluruh lini produksi.
Jika ini terjadi secara luas, efeknya bukan hanya pada industri, tapi juga pada stabilitas sosial-ekonomi. Inflasi bahan baku, pengangguran, hingga penurunan konsumsi rumah tangga adalah konsekuensi berikutnya yang harus diwaspadai.
Dari Krisis ke Reformasi
Kita tidak bisa berharap badai ini berlalu dengan sendirinya. Dunia sedang memasuki era baru—lebih proteksionis, lebih transaksional, dan lebih berisiko. Indonesia harus merespons dengan membangun ketahanan ekonomi domestik yang lebih tangguh.
Agenda-agenda reformasi struktural—dari perbaikan logistik, penyederhanaan regulasi ekspor, hingga reformasi pajak—harus dijalankan bukan sebagai rutinitas birokrasi, tapi sebagai langkah strategis menjawab dunia yang berubah.
Krisis kali ini adalah panggilan untuk bertindak. Bukan hanya menghindari krisis berikutnya, tetapi juga menata ulang arah pembangunan ekonomi. Jika tidak, kita akan terus menjadi korban dari kebijakan negara lain—dan tak punya kekuatan untuk menentukan nasib sendiri di tengah guncangan global. (Burhan Abe)

