Seni Pertunjukan Indonesia di Pasar Dunia

Betapa beragam dan dahsyatnya karya seni pertunjukan Indonesia, seperti yang mereka tampilkan di Indonesia Performing Arts Mart (IPAM) ke-3 di Bali, 6 – 9 Juni 2005. Mereka memadukan unsur bunyi, gerak, kostum, dan tata panggung dengan baik. Mengapa masih ada di antara kita yang meragukan potensi luar biasa ini, dan justru bangsa asing yang memberikan apresiasi tinggi? (Burhan Abe)

Slamet Gundono, dalang Wayang Suket, memukau para penonton yang memadati salah satu arena pertunjukan di Hotel Nusa Dua Beach, Bali. Ambil bagian di Indonesia Performing Arts Mart (IPAM) ia memainkan Celangan Bisma, yang menceritakan perkawinan Bisma dengan Dewi Amba.

Para penggemar wayang, setidaknya yang pernah membaca komik wayang karya RA Kosasih, misalnya, pasti tahu persis tentang Resi Bisma dalam lakon Mahabarata itu. Tapi di tangan Slamet, cerita menjadi terbalik, minimal tidak berjalan sama persis dengan pakemnya. Menjadi tontonan yang menarik, bahkan cenderung lucu. Dengan bahasa Jawa dialek Tegal, yang kadang-kadang diselipi bahasa Inggris, Slamet yang bertubuh tambun itu tidak sakadar bertutur sebagaimana layaknya dalang, tapi juga ikut menari. Ia juga dibantu penari beneran yang memperkuat pengadeganan dalam lakon tersebut.

Slamet hanya salah satu penampil. Penampil lain yang juga mendapat sambutan hangat adalah Rury Nostalgia. Tari Kumala Bumi hasil karyanya, yang pernah dipentaskan di hadapan delegasi Republik Rakyat China di Istana Negara saat Konferensi Asia Afrika, April lalu, ditampilkan kembali, meski hanya sepenggal, 15 menit. Tarian yang dibawakan sembilan perempuan dalam formasi bedaya itu berkisah tentang legenda Ménak Jayengrana, pertarungan dua putri, yakni Putri Kelaswara dari Kerajaan Kelan dan Putri Adininggar dari negeri China, untuk memperebutkan cinta Jayengrana dari Kerajaan Puser Bumi.

Inilah karya keempat Rury setelah sebelumnya ia menyusun koreografi Bedah Madiun (2000), Kelaswara Tanding (2002), dan Roro Mendut (2003). Namun, dalam tiga koreografi terdahulu itu, Rury masih berada di bawah nama Padneswara, sanggar tari milik ibunya yang melenga di dunia tari klasik, Retno Maruti. Dalam Kumala Bumi, ia tampil dengan labelnya sendiri.

Meski “sampel”, karya Rury, juga suguhan Slamet, mendapat aplaus yang positif dari penonton, yang terdiri dari para presenter internasional (yang terdiri dari manajer artis, promotor, agen, dan produser) dari berbagai penjuru dunia yang datang pada waktu itu untuk “belanja” seni pertunjukan yang ditampilkan dalam acara tersebut.

Lebih dari 30 agen pertunjukan dan pemantau budaya dari Singapura, Afrika Selatan, Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Kanada, Belanda dan Indonesia sendiri tentunya, tampak terhenyak menyaksikan 20-an karya seni pertunjukan Indonesia yang terdiri dari berbagai kategori – tradisional, klasik, modern, dan kontemporer, mulai dari pentas musik, drama dan wayang. Semuanya ditampilkan bergantian di Keraton Ballroom dan Kertagosa Ballroom.

Selain Slamet dan Rury, beberapa nama peserta lain yang tampil adalah Keraton Mangkunegaran (Solo), Metadomus (Jakarta), Nurroso Art Community (Solo), Rury Nostalgia (Jakarta), Independent Expression (Solo), Nyoman Sura Dance Company (Bali), Wayan Sadra and Friends (Bali), Nan Jombang (Padang), Agung Suharyanto Ensemble (Medan), Laksemana Dance Center (Pekanbaru), Sahita (Solo), dan Studio 28 (Kendari). IPAM ke 3 ini juga menampilkan beberapa peserta yang dinilai lebih berorientasi ke pop, seperti Simak Dialog, Didi AGP, dan Wayan Balawan bersama kelompoknya, Batuan Etnik.

IPAM yang digagas I Gde Ardika saat menjabat Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, adalah program pemasaran seni pertunjukan Indonesia ke pasar internasional, dengan mengundang para calon pembeli potensial seni pertunjukan Indonesia dari manca negara, untuk dipertemukan dengan para performing artist Indonesia.

Bayangkan, Indonesia adalah negara kepulauan yang berpenduduk lebih dari 220 juta orang, dengan keberagaman tertinggi di dunia. Bangsa yang terdiri dari ratusan kelompok etnis, bahasa dan dialek. Unik, khas, dan atraktif. Setiap kebudayaan yang bersumber dari khasanah tradisional mempunyai nilai-nilai luhur yang tumbuh dari waktu ke waktu. Kebudayaan yang agung dan adiluhung tersebut telah menginspirasikan para seninam untuk berkreasi dengan karya-karya mereka yang indah. Hanya saja, karya-karya tersebut akan menjadi kenangan jika tidak ada “pembelinya”, komunitas penontonnya.

Related Stories

spot_img

Discover

Aman-i-Khás 2026

Maskulinitas yang Tenang di Tepi Belantara Rajasthan Di dunia yang makin berisik, kemewahan sejati justru...

Ketika Redaksi Berhadapan dengan Algoritma

Suatu pagi di ruang redaksi, rapat tak lagi dimulai dengan pertanyaan klasik: “Apa yang...

Bukan Anak IT? Bagus. Justru Itu Keunggulan Anda.

Ada mitos yang terlalu lama kita pelihara: dunia digital adalah wilayah eksklusif para programmer,...

Belmond 2026: The Art of Slow Luxury, Perfected

Di dunia yang makin cepat, Belmond justru menekan tombol pelan. Tahun 2026 menjadi deklarasi...

The Apurva Kempinski Bali Luncurkan Spice Route Voyage

Bersama Yacht Sourcing Berlatar tebing megah Nusa Dua dan Samudra Hindia yang tak pernah benar-benar...

Langkah Sinematik Explora Journeys dari New York ke Samudra

Maybe the Best Hotel Has No Address Di sebuah kota yang tak pernah benar-benar tidur,...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here