Ada hotel mewah baru yang siap bikin peta kuliner Asia Tenggara makin panas. Menjelang pembukaannya pada akhir 2026, Waldorf Astoria Kuala Lumpur langsung tancap gas dengan menggaet dua nama kelas dunia: Garima Arora dan Jean-Georges Vongerichten.
Kalau dunia kuliner itu seperti liga sepak bola, ini ibarat merekrut dua striker top sekaligus. Chef Garima Arora—otak di balik Restaurant Gaa yang mengantongi dua bintang Michelin—akan membuka restoran modern India bernama Yaari. Artinya “persahabatan” dalam bahasa Hindi, tapi jangan salah: dapurnya serius.
Jadi Clipper Penghasil Cuan dengan AI Gratis: Ini Tutorialnya
Menu Yaari akan menjelajah India dari utara ke selatan. Ada kari tajam dari pesisir selatan, kebab smoky khas utara, sampai chaat—street food legendaris India—yang diangkat ke level fine dining. Dessert? Terinspirasi dari mithai, manisan klasik India, tapi tampil lebih sleek dan modern.
Di tengah rimbunnya lembah dan aroma tanah basah khas Ubud, ada satu ritual yang selalu berhasil membuat waktu melambat: makan malam yang benar-benar dirancang dengan niat. Di sinilah Mozaic Restaurant Gastronomique memainkan perannya—bukan sekadar restoran, melainkan panggung gastronomi yang selama dua dekade terakhir menjadi salah satu ikon fine dining Indonesia.
Kini, panggung itu membuka tirai baru bernama “Prelude.”
Sebuah pengalaman makan malam empat hidangan yang dirancang sebagai pintu masuk elegan menuju filosofi kuliner Mozaic—tanpa kehilangan sedikit pun presisi yang membuat restoran ini legendaris.
Di balik dapurnya berdiri Blake Thornley, Head Chef yang kini memimpin evolusi Mozaic. Di tangannya, tradisi gastronomi modern yang memadukan teknik kuliner global dengan kekayaan bahan Indonesia terus berkembang—lebih kontemporer, lebih ekspresif, namun tetap menghormati akar.
“Prelude dibuat untuk tamu yang ingin mengenal Mozaic dalam format yang lebih approachable,” ujar Thornley. “Singkat, tetapi tetap bermakna—sebuah pengantar yang tetap membawa elegansi dan kreativitas yang menjadi identitas dapur kami.”
Dan seperti namanya, Prelude memang terasa seperti pembukaan sebuah simfoni. Empat hidangan yang disusun dengan cermat menghadirkan presentasi yang halus, lapisan rasa yang kompleks, serta bahan musiman yang dipilih dengan disiplin khas dapur fine dining. Ini bukan sekadar makan malam, tetapi perjalanan singkat yang memberi gambaran bagaimana Mozaic memandang makanan: sebagai bentuk seni yang bisa dinikmati.
Menu ini dirancang oleh Thornley bersama tim kuliner Mozaic sebagai ringkasan dari pendekatan gastronomi mereka—presisi teknik, kreativitas rasa, dan penghormatan pada bahan.
Dengan harga IDR 850.000++ per orang, Prelude menawarkan cara yang relatif lebih santai untuk masuk ke dunia Mozaic—tanpa harus langsung melompat ke tasting menu penuh yang biasanya menjadi ciri khas restoran ini. Dan tentu saja, setting-nya sulit ditandingi.
Pengalaman Safari Baru di The Ritz-Carlton Masai Mara
Di tengah lanskap savana Afrika yang dramatis, pengalaman safari kini memasuki babak baru. Bukan lagi sekadar perjalanan melihat satwa liar, tetapi sebuah cara baru menikmati alam—lebih dekat, lebih personal, dan jauh lebih stylish.
Di jantung kawasan konservasi legendaris Masai Mara National Reserve, Kenya, berdiri sebuah destinasi safari yang langsung menarik perhatian dunia desain dan perhotelan: The Ritz-Carlton Masai Mara Safari Camp. Properti ini bukan hanya menandai debut safari camp dari The Ritz-Carlton, tetapi juga menghadirkan pendekatan desain baru yang menggabungkan kemewahan global dengan jiwa liar Afrika.
Di balik konsepnya adalah LW Design Group, firma desain internasional yang selama ini dikenal lewat berbagai proyek hotel ikonik di dunia. Untuk proyek ini, mereka menciptakan sesuatu yang berbeda: pengalaman safari yang terasa imersif, emosional, dan hampir seperti hidup di dalam lanskap Mara itu sendiri.
Camp ini berdiri di tepi Sungai Sand, salah satu titik strategis di kawasan Masai Mara National Reserve yang terkenal sebagai jalur migrasi satwa liar. Namun yang membuatnya unik adalah pendekatan arsitekturnya.
Seluruh struktur dibangun sekitar tiga meter di atas tanah—sebuah keputusan desain yang awalnya bersifat praktis untuk menghindari banjir musiman, tetapi justru menghasilkan pengalaman visual yang luar biasa. Para tamu seakan menginap di level kanopi pepohonan, sejajar dengan burung-burung dan monyet yang melintas, dengan panorama savana yang terbuka luas di kejauhan.
Ketika perjalanan bukan sekadar liburan, tapi cara memahami jiwa sebuah tempat.
Indonesia selalu punya cara halus untuk membuat orang jatuh cinta: lewat kabut yang turun di atas candi kuno, aroma rempah yang keluar dari dapur kayu, atau suara gamelan yang terdengar jauh dari balik hutan. Negara kepulauan ini bukan hanya kaya budaya—ia hidup di dalamnya.
Tahun ini, jaringan resor mewah Aman Resorts memperdalam pengalaman tersebut lewat rangkaian program budaya, kuliner, dan wellness di lima destinasi mereka di Indonesia. Dari dataran spiritual Jawa Tengah hingga pulau terpencil di Sumbawa, pengalaman yang ditawarkan bukan sekadar menikmati lanskap—melainkan menyelami tradisi yang masih berdenyut sampai hari ini.
Amanjiwo: Jawa, Dalam Bentuknya yang Paling Tenang
Di kaki bukit Menoreh, berdiri Amanjiwo, sebuah resor yang seolah dibuat untuk menghormati tetangganya yang legendaris: Borobudur Temple.
AmanwanaAmanwana
Pagi hari di sini punya ritme sendiri. Kabut tipis naik dari sawah, matahari pelan-pelan menyentuh stupa batu, dan untuk beberapa saat, dunia terasa berhenti.
Namun tahun ini Amanjiwo menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar panorama: pengalaman budaya yang jarang bisa diakses publik. Salah satunya adalah Jemparingan, seni memanah Jawa yang dulu hanya diajarkan di lingkungan keraton. Di arena baru bernama Sasanatama, para tamu belajar memanah dengan posisi duduk bersila—sebuah latihan yang tidak hanya menguji ketepatan, tetapi juga kesabaran dan ketenangan batin.
Jika memanah terasa terlalu kontemplatif, ada cara lain untuk mengenal Jawa: lewat makanan.
Di venue baru bernama Sasanaboga, perjalanan kuliner dimulai dari pasar tradisional dan usaha rumahan di desa sekitar. Bahan-bahan yang dipilih kemudian dibawa ke kebun organik resor, sebelum akhirnya diolah di dapur kayu bergaya joglo. Hasilnya adalah makan siang panjang yang terasa seperti pulang ke rumah seseorang—jika rumah itu memiliki kebun rempah sendiri dan koki kelas dunia.
Merayakan Nyepi dengan Refleksi di Jimbaran Puri, A Belmond Hotel, Bali
Bali selalu dikenal sebagai pulau yang hidup—dengan pantai yang ramai, ritual yang penuh warna, dan kalender budaya yang hampir tak pernah berhenti. Namun setahun sekali, pulau ini melakukan sesuatu yang sangat jarang terjadi di dunia modern: berhenti total.
Hari itu adalah Nyepi, Tahun Baru Saka bagi masyarakat Bali, ketika seluruh pulau memilih sunyi sebagai cara untuk memulai kembali.
Menjelang perayaan sakral tersebut, Jimbaran Puri, A Belmond Hotel, Bali menghadirkan pengalaman yang tidak sekadar menginap, tetapi juga perjalanan refleksi—sebuah kesempatan untuk merasakan makna Nyepi dari dalam.
Saat Bali Memilih Diam
Nyepi bukan sekadar hari libur. Ia dijalani melalui empat disiplin spiritual yang dikenal sebagai Catur Brata Penyepian: tidak menyalakan api atau cahaya (Amati Geni), tidak bekerja (Amati Karya), tidak bepergian (Amati Lelungan), dan tidak mencari hiburan (Amati Lelanguan).
Hasilnya luar biasa. Jalanan kosong. Bandara tutup. Lampu kota padam. Bahkan suara pun seakan ikut merendah. Di tengah jeda kolektif ini, hotel tepi pantai tersebut mengajak tamu memahami filosofi Mulat Sarira—tradisi refleksi diri dalam budaya Bali yang mengajak manusia meninjau kembali tindakan dan dampaknya terhadap alam serta kehidupan.
Ogoh-Ogoh yang Mengajak Berkaca
Salah satu simbol paling mencuri perhatian tahun ini adalah sebuah ogoh-ogoh bertajuk Ibu Pertiwi – Mother Earth. Patung raksasa yang dibuat sepenuhnya dari material ramah lingkungan ini menggambarkan bumi sebagai sumber kehidupan sekaligus penjaga keseimbangan alam.
Panduan Praktis Memotong Video di Era Konten Pendek
Ledakan video pendek di internet melahirkan profesi baru yang sebelumnya jarang terdengar: clipper. Tugasnya sederhana—memotong video panjang menjadi potongan pendek yang lebih mudah dikonsumsi penonton. Namun dalam praktiknya, peran ini semakin penting seiring meningkatnya popularitas platform berbasis video singkat seperti YouTube, Shorts dan TikTok.
Buku Jadi Clipper Penghasil Cuan dengan AI Gratis mencoba menjelaskan fenomena tersebut dengan pendekatan yang praktis. Alih-alih mengulas teori panjang tentang ekonomi kreator, buku ini langsung membahas bagaimana proses memotong video dapat menjadi bagian dari strategi produksi konten digital.
Penulis memperkenalkan konsep clipping sebagai cara memanfaatkan video berdurasi panjang—seperti podcast, wawancara, atau webinar—untuk diolah kembali menjadi klip pendek yang lebih dinamis. Di era algoritma konten, potongan video berdurasi 20 hingga 40 detik sering justru memiliki peluang lebih besar untuk menjangkau penonton luas.
Buku ini juga menyoroti peran teknologi kecerdasan buatan dalam mempercepat proses tersebut. Dengan bantuan perangkat lunak seperti CapCut dan Opus Clip, proses pemotongan video, penambahan teks, hingga penyesuaian format vertikal dapat dilakukan secara otomatis. Bahkan sebagian fitur yang dibahas tersedia dalam versi gratis.
Selain membahas teknik dasar, buku ini perkenalkan konsep channel faceless—model produksi konten yang tidak memerlukan penampilan langsung pembuatnya di depan kamera. Model ini semakin populer karena memungkinkan produksi konten secara lebih sistematis dan efisien.
Kekuatan buku ini terletak pada pendekatannya yang ringkas dan aplikatif. Pembahasan disusun dalam langkah-langkah sederhana yang dapat diikuti oleh pemula, terutama mereka yang baru mulai mengenal dunia produksi konten digital.
Meski demikian, buku ini tidak menempatkan AI sebagai solusi instan. Penulis tetap menekankan pentingnya konsistensi produksi, pemilihan topik yang relevan, serta kemampuan membaca pola konten yang diminati penonton.
Bagi pembaca yang ingin memahami bagaimana video panjang dapat diolah kembali menjadi konten yang lebih ringkas dan potensial viral, buku ini bisa menjadi pengantar yang cukup praktis.
Buku Playbook, Jadi Clipper Penghasil Cuan dengan AI Gratis dapat diunduh dan dibaca melalui tautan berikut: lynk.id/burhanabe/7ljlvlz6e4rk
Di tengah arus konten yang semakin cepat, kemampuan menemukan dan memanfaatkan potongan momen yang tepat tampaknya akan menjadi keterampilan yang semakin penting. (Ayen G. Manus)
Ada masa ketika liburan mewah hanya berarti satu hal: kamar hotel yang luas, kolam renang infinity yang dramatis, dan cocktail yang datang tepat saat matahari tenggelam. Indah, tentu. Tapi dunia perjalanan kini berubah. Wisatawan modern—terutama mereka yang sudah sering bepergian—tidak lagi sekadar mencari tempat indah untuk berfoto. Mereka ingin merasakan sebuah tempat secara utuh.
Di sinilah program Good Travel dari Marriott International mengambil peran. Inisiatif ini mengajak para tamu untuk tidak sekadar berkunjung, tetapi terhubung dengan budaya lokal, komunitas, dan lingkungan. Di Indonesia sendiri, program ini hadir dengan skala yang cukup impresif: 20 pengalaman berbeda di 15 hotel yang tersebar di tiga destinasi utama.
Bagi industri hospitality global, tren perjalanan bermakna bukan sekadar jargon pemasaran. Ini adalah respons terhadap perubahan cara orang melihat dunia.
Menurut John Toomey, Chief Commercial Officer Asia Pacific (excluding China) di Marriott International, wisatawan masa kini ingin menjelajah lebih dalam dan memahami karakter autentik dari sebuah destinasi. Program Good Travel dirancang untuk menjembatani keinginan itu—menghubungkan para tamu dengan masyarakat lokal sambil memberi dampak positif bagi lingkungan dan komunitas setempat.
Indonesia menjadi salah satu panggung utama dari konsep ini. Negara ini menempati peringkat kedua di kawasan Asia Pasifik dalam jumlah pengalaman Good Travel dan properti yang berpartisipasi, sebuah indikator bahwa permintaan akan perjalanan yang lebih bermakna terus meningkat.
Ramadan selalu menghadirkan ritme yang berbeda di kota. Menjelang senja, meja-meja makan kembali menjadi tempat berkumpul—tempat cerita dibagikan, rasa syukur diucapkan, dan hidangan istimewa dinikmati bersama. Di tengah suasana tersebut, Burger & Lobster Jakarta menghadirkan pengalaman berbuka puasa yang terasa hangat sekaligus elegan.
Terinspirasi dari konsep ikonis yang lahir di London, restoran ini merancang rangkaian Ramadan Specials yang dikurasi khusus untuk momen berbuka. Setiap set menu ditawarkan seharga Rp290.000++ per orang, tersedia setiap hari pukul 17.00 hingga 20.00, menjadikannya pilihan menarik bagi mereka yang ingin menikmati iftar dengan sentuhan kuliner premium namun tetap santai.
Setiap paket sudah termasuk pilihan kentang goreng atau selada segar, Ice Lemon Tea, serta complimentary Ginger Wellness mocktail—minuman menyegarkan yang memberikan sentuhan hangat sekaligus revitalizing setelah seharian berpuasa.
Ramadan Specials tahun ini menampilkan empat hidangan utama yang memadukan teknik modern dengan rasa yang kaya dan memuaskan.
Beef Rigatoni Rigatoni pasta yang dimasak al dente berpadu dengan beef oxtail ragout yang dimasak perlahan hingga menghasilkan rasa yang dalam dan kompleks. Sentuhan garlic confit, Grana Padano, dan parsley segar menghadirkan keseimbangan antara kekayaan rasa dan aroma yang lembut.
Ada masa ketika kemewahan diukur dari apa yang bisa dipamerkan: jam tangan Swiss, mobil Italia, atau suite hotel dengan marmer mengilap. Namun dunia berubah. Di era kota yang semakin padat dan destinasi wisata yang semakin seragam, kemewahan yang sesungguhnya justru menjadi sesuatu yang jauh lebih sederhana—ruang.
Buku Archipelago: The Luxury of Space – A Private Journey Through Indonesia memulai argumennya dari premis itu. Indonesia, dengan lebih dari 17.000 pulau dan populasi sekitar 275 juta jiwa, bukan hanya negara tropis yang eksotis. Ia adalah salah satu ruang terakhir di dunia di mana alam, skala, dan peluang masih bertemu dalam proporsi yang jarang ditemukan.
Dalam buku ini, Indonesia tidak dibaca sebagai brosur wisata. Ia dipotret seperti sebuah lanskap—geografis sekaligus ekonomi—yang sedang bergerak. Di satu sisi ada destinasi yang sudah matang seperti Bali, yang selama dua dekade terakhir menjelma menjadi ekosistem gaya hidup global. Di sisi lain muncul frontier baru seperti Labuan Bajo, Lombok, hingga Raja Ampat, tempat di mana keheningan masih menjadi bagian dari pengalaman.
Yang membuat buku ini menarik adalah cara ia menyatukan dua dunia yang jarang bertemu: travel dan strategi. Ada narasi tentang perjalanan, tetapi juga analisis tentang demografi, pembangunan infrastruktur, hingga perubahan profil kekayaan global. Pembaca diajak memahami bahwa Indonesia bukan sekadar destinasi, melainkan sebuah ekosistem yang perlahan menemukan posisinya dalam peta gaya hidup dunia.
Buku ini juga menegaskan satu hal: Indonesia bukan pasar untuk spekulasi cepat. Ia lebih cocok bagi mereka yang memahami ritme panjang—mereka yang melihat rumah bukan hanya sebagai properti, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang ingin dibangun.
Karena pada akhirnya, kemewahan masa depan mungkin bukan lagi tentang memiliki lebih banyak hal. Melainkan memiliki lebih banyak ruang—untuk berpikir, untuk bernapas, dan untuk hidup sedikit lebih pelan. Dan jika ada satu tempat di dunia yang masih menawarkan itu dalam skala besar, mungkin tempat itu adalah Indonesia.
Di sepanjang pantai barat laut Phuket yang masih terasa liar dan sunyi, berdiri sebuah resor yang sejak lama dikenal sebagai tempat bersembunyi bagi mereka yang paham arti kemewahan sesungguhnya: ruang, privasi, dan tentu saja—makanan luar biasa. Maret 2026 ini, Trisara Phuket kembali membuktikan reputasinya sebagai salah satu destinasi kuliner paling menarik di Asia Tenggara lewat edisi terbaru Trisara Culinary Series.
Di bawah visi gastronomi dari Montara Hospitality Group, resor vila dengan kolam pribadi ini menghadirkan dua pengalaman makan yang kontras namun sama-sama menggoda: Kaiseki Jepang berbintang Michelin yang intim dan presisi, serta perayaan Asado Argentina yang penuh api, musik, dan energi pantai.
Pada 11–13 Maret 2026, restoran tepi laut La Crique di Trisara akan berubah menjadi panggung bagi chef tamu dari Tokyo.
Selama tiga hari, chef Jepang Shiro Yamazaki dari restoran berbintang Michelin Yamazaki menghadirkan interpretasi kontemporer dari kaiseki—tradisi kuliner Jepang yang sering disebut sebagai bentuk tertinggi dari seni makan.
Kaiseki bukan sekadar menu degustation. Ia adalah ritual. Setiap hidangan dirancang mengikuti musim, dengan keseimbangan antara rasa, tekstur, warna, dan komposisi visual. Dalam tangan Yamazaki, tradisi ini tetap menghormati akar klasiknya namun diberi sentuhan modern yang ringan dan elegan.