Home Blog Page 14

Beyond Vacation: Wisatawan RI Mencari Perjalanan Autentik dan Kaya Budaya

0

Di tengah derasnya arus perjalanan global, ada satu hal yang semakin dicari oleh wisatawan Indonesia: makna. Liburan tak lagi sekadar checklist destinasi, melainkan pencarian pengalaman yang menghubungkan diri dengan budaya, alam, dan komunitas lokal.

Laporan terbaru Traveloka, “Travel Redefined: Understanding and Catering to the Diverse Needs of APAC Travelers”, mengungkap bahwa tujuh dari sepuluh wisatawan Indonesia kini lebih memilih liburan domestik. Alasannya sederhana—kenyamanan, keterjangkauan, dan peluang untuk merasakan kekayaan budaya tanah air yang tak bisa ditemukan di tempat lain.

Data Badan Pusat Statistik pun berbicara lantang: perjalanan wisatawan nusantara pada Juni 2025 melonjak 25,93% dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai 105,12 juta perjalanan. Angka yang membuktikan, Indonesia bukan hanya rumah, tapi juga panggung tak terbatas untuk perjalanan penuh cerita.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

“Komitmen Traveloka selalu sama sejak awal berdiri di Indonesia: menghadirkan pengalaman yang tidak hanya menyenangkan, tapi juga memberi dampak positif pada komunitas lokal,” tutur Albert, Co-Founder Traveloka.

Magelang: Harmoni Alam, Budaya, dan Keheningan Borobudur

Bayangkan pagi yang dimulai dengan udara segar pedesaan, sinar matahari pertama menyingkap Candi Borobudur dari balik kabut tipis, dan sarapan hangat yang tersaji di teras Plataran Heritage Borobudur. Di sinilah waktu seakan melambat, memberi ruang bagi wisatawan untuk meresapi setiap detik perjalanan.

Plataran menghadirkan paduan elegan antara heritage Jawa, lanskap hijau, dan layanan bintang lima. Malam bisa diisi dengan santap romantis di Restoran Tiga Dari atau sekadar menikmati teh sore di pendopo Beranda Eyang, ditemani suara jangkrik yang mengiringi senja.

Bagi jiwa petualang, VW Safari Borobudur menawarkan perspektif berbeda: menyusuri jalan pedesaan dengan mobil klasik Cabriolet, mampir ke rumah pengrajin batik, atau bercakap santai dengan warga lokal. Sebuah cara menikmati Borobudur yang lebih personal, lebih intim.

Yogyakarta: Jantung Budaya yang Selalu Hidup

Tak lengkap bicara perjalanan autentik tanpa menyebut Yogyakarta. Di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, wisatawan kini bisa mengikuti Abdi Dalem Experience, program eksklusif yang membuka akses untuk menyelami kehidupan tradisi keraton.

Slow Burn: Cerutu dalam Ritme Hidup Modern

Vila dengan Pemandangan Laut Terbaik di Bali untuk Momen Healing

0

Peneliti menyebutnya blue mind effect: kondisi tenang yang muncul saat seseorang berada dekat dengan air. Di tengah dunia yang bergerak cepat, laut memberi kita sesuatu yang tak tergantikan—pikiran yang jernih, stres yang luruh, dan ruang untuk refleksi. Maka tak heran, bangun tidur dengan hamparan samudra di depan mata terasa seperti terapi alami yang mewah.

Di Bali, laut bukan sekadar panorama. Ia hadir dalam ritme kehidupan, dalam desir angin yang membawa aroma asin, dalam ombak yang seakan bernafas bersama kita. Menginap di vila dengan pemandangan laut pun bukan hanya soal akomodasi, melainkan sebuah pengalaman: percampuran relaksasi, ketenangan, dan kemewahan.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Dari tebing Uluwatu hingga pesisir Tabanan, berikut lima vila dengan pemandangan laut terbaik yang sanggup mengembalikan keseimbangan jiwa Anda.

1. The Cove – Teluk Tersembunyi Penuh Ketenteraman

Di barat Bali, The Cove tersembunyi di teluk alami dengan pantai pribadi. Rasanya seperti memiliki dunia sendiri: berenang di kolam infinity yang menghadap laut, bermain kayak di perairan tenang, hingga makan malam diterangi lentera dengan suara ombak sebagai musik latar. Keheningan di sini bukan kekosongan—melainkan kemewahan yang paling dicari.

2. Amarta Beach Retreat – Healing dengan Sentuhan Heritage

Tabanan selalu punya pesona tenang, dan Amarta Beach Retreat menambahkan lapisan heritage Bali dalam tiap detailnya. Ocean Jacuzzi Suite adalah tempat sempurna untuk menikmati deburan ombak, sementara Manggar Spa menghadirkan ritual laut yang menenangkan. Restoran Lilly by The Sea melengkapi hari dengan hidangan segar, membuat setiap momen terasa selaras dengan alam pesisir.

3. Santos Cliff View – Vila Intim di Atas Jimbaran

Tiga kamar tidur, satu panorama dramatis: Santos Cliff View menjulang di atas Teluk Jimbaran. Dari teras atap hingga kolam renang, laut selalu hadir dalam pandangan. Interiornya dirancang terbuka, seakan memastikan Anda tak pernah kehilangan jejak horizon. Vila ini ideal untuk keluarga kecil atau sahabat yang ingin melebur dalam ketenangan lautan.

4. Villa Jamalu – Harmoni Keluarga di Atas Ombak

Villa Jamalu adalah definisi wellness meets togetherness. Dengan ruang spa pribadi, studio kebugaran, hingga kolam infinity yang seolah menyatu dengan cakrawala, vila ini tak hanya memanjakan tubuh tapi juga mengikat kebersamaan keluarga. Ada ruang bermain anak, ruang hiburan ber-AC lengkap dengan games room, sampai atap villa yang cocok untuk yoga pagi atau barbeku sore hari.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

5. Villa Nagasutra – Megahnya Uluwatu

Uluwatu dikenal dengan tebing kapurnya yang dramatis, dan Villa Nagasutra berdiri tepat di atasnya. Dengan tujuh kamar tidur, taman luas, dan kolam yang menghadap langsung ke Samudra Hindia, vila ini adalah panggung megah untuk perayaan. Namun, ada pula sisi intimnya: menyeruput kopi pagi di teras sambil ditemani fajar dan bisikan ombak.

Refocusing Anggaran: Jangan Sampai Rakyat Jadi “Dompet Cadangan”

0

Pemerintah mengumumkan target efisiensi alias refocusing anggaran sebesar Rp306,7 triliun tahun ini. Caranya? Pangkas belanja kementerian/lembaga, kurangi transfer ke daerah, sampai menunda rekrutmen ASN baru. Alasannya jelas: negara butuh duit tambahan, terutama untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sekilas masuk akal. Sama seperti rumah tangga: kalau mau renovasi rumah, kita mungkin harus kurangi jajan kopi susu atau liburan ke luar kota. Tapi masalahnya, pemerintah bukan cuma rumah tangga. Yang “kopi susu” atau “liburan” itu bisa berarti jalan desa, survei data ekonomi, atau layanan publik yang langsung dipakai rakyat.

Uang Makan Gratis vs. Lubang Anggaran

CELIOS, lembaga riset ekonomi, sudah kasih hitungan. Kalau MBG dibuat universal, biayanya tembus Rp400 triliun. Tapi kalau fokus ke yang paling butuh—balita, ibu hamil, keluarga miskin—cukup Rp117,9 triliun. Artinya ada potensi hemat Rp259 triliun.

Pertanyaannya: kalau bisa hemat, kenapa tetap ngegas universal? Jangan-jangan refocusing ini bukan soal “mengencangkan ikat pinggang,” tapi lebih ke “maksa beli baju baru dengan cara ngutang.”

Efisiensi ini juga bikin daerah ngos-ngosan. Transfer ke daerah dipangkas lebih dari Rp50 triliun. Contoh paling nyata: Konawe Utara. APBD 2024 mereka Rp2,3 triliun; tahun ini drop jadi Rp1,1 triliun. Separuh lenyap. Efeknya gampang ditebak: proyek infrastruktur berhenti, layanan publik tersendat.

Bayangkan kalau kota kecil sedang bangun jalan atau sekolah, tiba-tiba dananya hilang. Bukan karena salah kelola, tapi karena pusat bilang, “maaf, duitnya lagi dipakai buat program lain.”

Start Small, Scale Big: Strategi Praktis Membangun Startup Tanpa Drama

Layanan Publik Dikorbankan

Bukan cuma daerah. Komisi Yudisial kehilangan Rp74,7 miliar, sampai harus memangkas layanan. BPS lebih parah: survei besar seperti Sensus Ekonomi dan SUPAS terancam batal.

Ini ironis. Pemerintah bicara soal efisiensi, tapi justru mengorbankan data dan layanan publik yang jadi fondasi kebijakan. Sama saja seperti orang yang ngirit dengan cara stop beli lampu, lalu heran kenapa rumah jadi gelap.

Kalau belanja pemerintah ditekan habis-habisan, yang paling kena bukan birokrat, tapi masyarakat. Uang operasional yang biasanya beredar ke gaji, kontraktor lokal, atau belanja barang akan berkurang. Konsumsi menurun, ekonomi daerah melambat.

Dan jangan lupa: daerah bisa menutup defisit dengan cara menaikkan pajak lokal. Jadi ujung-ujungnya, rakyat lagi yang bayar tagihan efisiensi ini.

The Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

Eksistensi

0
Oleh Eileen Rachman dan Emilia Jakob

Pernah ikut interview kerja dan ditanya, “Ceritakan tentang diri Anda?”—lalu langsung nge-blank? Tenang, itu normal. Pertanyaan simpel itu sebenarnya jebakan Batman. Kita biasanya jawab dengan status: sekolah di mana, kerja di mana, prestasi apa. Tapi… kalau semua itu hilang, siapa lo sebenarnya?

Di era digital, problem ini makin parah. Identitas orang gampang banget dipengaruhi likes dan komentar. Ada yang rela pura-pura jadi orang lain demi engagement. Padahal kalau like turun, eksistensi ikut ambyar.

Contoh real: Naomie Pilula, pengacara asal Zambia, viral gara-gara selfie-nya dibanjiri komentar pedas soal fisik. Awalnya down, tapi akhirnya dia ngegas balik: “Ya, gue nggak cantik standar estetika. But that’s okay. Gue cinta diri gue, dan itu bikin gue bersinar dengan cara gue sendiri.” Respect.

Banyak juga eksekutif yang kena krisis identitas begitu pensiun. Dulu semua hormat karena jabatannya, sekarang label itu lenyap. Yang bertahan adalah mereka yang berani redefinisi diri—bukan sekadar mantan bos, tapi manusia dengan misi baru.

Eksistensi itu proses

David Mandel, penulis skenario di Amerika, pernah hidup enak di apartemen mewah. Pas bangkrut, dia balik ke rumah orang tua. Down? Iya. Tapi dari titik nol itu, dia sadar: identitas sejati nggak pernah ada di titel atau properti. Dia bilang, “Kadang lo harus kehilangan jati diri versi lama, buat nemuin jati diri yang sebenarnya.”

Heather Plett, mentor hidup, juga ngomong hal sama: identitas itu bukan produk jadi, tapi proses. Kita berubah terus. Dan psikolog Julian Frazier nambahin: identitas lo nggak cuma di kepala, tapi juga di tubuh, di gerakan, di aksi sehari-hari.

So, gimana caranya lo bisa eksis beneran?

5 Cara Perkuat Eksistensi Lo

  1. Hadapi krisis. Jangan lari. Kehilangan kerjaan bisa jadi pintu ke identitas baru.
  2. Buang label sempit. Lo lebih dari sekadar jabatan. Atlet yang cedera bisa jadi coach, inspirator, atau apa pun yang bikin hidup tetap jalan.
  3. Hidupkan nilai. Eksistensi sejati ada di value. Lo eksis bukan saat lo punya jabatan, tapi saat berani jujur, atau saat tetap peduli di tengah chaos.
  4. Catat momen eksistensial. Nulis jurnal kecil tiap malam bikin lo sadar kapan lo benar-benar “hadir”.
  5. Bangun koneksi. Eksistensi makin nyata saat lo dilihat, didengar, dan nyambung dengan orang lain.

Pada akhirnya, eksistensi itu bukan soal viral, bukan soal titel kece, bukan juga soal jabatan fancy di kartu nama. Eksistensi itu lo hadir 100%, jadi diri lo sendiri, dan tetep tegak meski dunia nyodorin sejuta label.

That’s when you’re truly alive. (*)

Mesin Uang AliExpress: Cara Mencetak Dolar Lewat Dropshipping

Bisnis Kecil, Branding Besar: Rahasia UMKM Sukses di Era Digital, Tanpa Modal Besar

Explora Journeys Umumkan Koleksi Perjalanan 2027–2028

0

Debut di Asia dan Peluncuran Explora V

Explora Journeys, merek perjalanan laut bergaya hidup mewah dari MSC Group, baru saja meluncurkan koleksi perjalanan 2027–2028 yang telah lama dinantikan. Lebih dari sekadar itinerari, ini adalah undangan untuk menjelajahi dunia dengan kedalaman baru—melintasi lima benua, merangkul budaya, dan menghadirkan makna di setiap pelayaran.

Musim ini menandai dua momen penting: debut Explora Journeys di Asia serta kelahiran Explora V, kapal kelima dalam armada, yang akan memulai perjalanannya dari keheningan Mediterania sebelum membuka jalur menuju Laut Merah dan Semenanjung Arab.

Asia: Babak Baru Eksplorasi

Untuk pertama kalinya, Asia menjadi sorotan utama dengan 28 perjalanan imersif yang membawa Explora III ke 47 destinasi perdana, mulai dari Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, hingga Asia Tenggara. Dari hiruk pikuk neon Tokyo hingga ketenangan kuil di Kepulauan Miyako, dari pesona sakura di Shimizu hingga kuliner jalanan Singapura, setiap perjalanan dirancang menyelami detail yang membuat Asia begitu menawan.

  1. PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital

Bagi para tamu, waktu singgah semalam di kota-kota seperti Tokyo, Osaka, Hong Kong, Shanghai, Teluk Ha Long, Ho Chi Minh City, dan Bali memberi ruang untuk pengalaman yang lebih otentik—menyaksikan musim berganti, festival budaya besar seperti Chinese Golden Week, hingga merayakan Tahun Baru Imlek 2028 di atas kapal.

Explora V: Intim dengan Mediterania

Diluncurkan pada Desember 2027, Explora V akan memperkenalkan wajah Mediterania yang lebih tenang dan reflektif—saat cahaya lembut musim dingin memperlihatkan pesona autentik kawasan ini. Perjalanan perdana kapal ini mencakup 27 destinasi di sembilan negara, termasuk kunjungan perdana ke Salerno, gerbang menuju Amalfi Coast.

Singgah semalam di Istanbul membuka kembali kisah lama pertemuan Timur dan Barat, sementara malam Tahun Baru di Naples menghadirkan pesta kembang api legendaris yang dapat disaksikan dari kenyamanan kapal.

Laut Merah, Semenanjung Arab, dan Jejak Sejarah

Setelah Mediterania, Explora V berlayar ke timur untuk menjelajahi Laut Merah dan Semenanjung Arab bersama Explora I. Dari Petra hingga Piramida Giza, dari AlUla hingga Dubai yang futuristis, pelayaran ini menyingkap warisan peradaban besar dunia sekaligus menghadirkan pengalaman kontemporer di jantung Timur Tengah.

Dari Tropis hingga Amazon

Sementara itu, Explora II dan Explora IV akan berlayar melintasi Karibia, Amerika Tengah, hingga Amazon. Dengan kombinasi 51 destinasi di 30 negara, perjalanan ini menawarkan spektrum pengalaman tropis: pulau-pulau Karibia yang tersembunyi, reruntuhan Maya, hingga kehidupan di tepian Sungai Amazon.

Ocean State of Mind

Lebih dari sekadar perjalanan, koleksi terbaru ini adalah manifestasi filosofi “Ocean State of Mind”—perjalanan laut yang transformatif, penuh kesadaran, dan dirancang untuk menghubungkan manusia dengan lautan, dengan diri sendiri, dan dengan sesama.

Dengan hadirnya Explora V dan debut di Asia, Explora Journeys sekali lagi menegaskan komitmennya: menghadirkan pengalaman laut mewah yang lebih dalam, lebih personal, dan lebih bermakna. (*)

The Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

Saudi: Destinasi Baru yang Tampil Berani

0

Arab Saudi sedang memainkan kartu besar. Dari tanah yang selama ini identik dengan spiritualitas dan sejarah, kini lahir wajah baru: destinasi global dengan ambisi pariwisata yang sekelas—bahkan melampaui—standar dunia.

Data UNWTO 2024 menempatkan Saudi sebagai salah satu destinasi dengan pertumbuhan tercepat. Itu artinya: Saudi bukan hanya sedang naik daun, tapi serius mengambil posisi sebagai next big thing dalam pariwisata internasional.

Bagi pria modern, perjalanan bukan sekadar liburan. Ia adalah tentang koneksi, pengalaman otentik, dan cerita yang layak dibawa pulang. Saudi menawarkan itu semua—dengan kombinasi warisan, inovasi, dan proyek kelas dunia yang nyaris tak ada tandingannya.

Bacaan Menarik: Jakarta After Dark

Jejak Budaya yang Hidup

Sejarah di Saudi bukan pajangan museum. Ia nyata, bisa disentuh, dan sering kali berdiri tegak dalam skala megah.

  • AlUla dan Hegra: kota Nabatea yang terpahat di batu pasir gurun. Tempat di mana pedagang kuno melintas, kini menjadi latar dramatis bagi traveler modern.
  • Al-Faw: Warisan Dunia UNESCO terbaru. Reruntuhan oasis yang dulu jadi simpul perdagangan besar.
  • Al-Balad, Jeddah: distrik dengan arsitektur karang berusia ratusan tahun—pintu gerbang Laut Merah sekaligus saksi peran Saudi dalam perdagangan global.

Dan November 2025, Saudi meluncurkan Ala Khotah—sebuah pengalaman imersif yang memungkinkan traveler menapaki jalur Hijrah Nabi Muhammad. Bukan hanya sejarah, tapi perjalanan spiritual yang memberi dimensi berbeda bagi siapa pun yang menjalaninya.

Jakarta Unfiltered: Panduan Jitu Menaklukkan Ibu Kota Paling Berisik

Banyan Group 20 Tahun di China: Dari Teh Mentega ke Properti Ke-100

0

Kalau ada yang bisa bikin liburan lo berubah dari sekadar “rebahan di kasur hotel” jadi spiritual journey plus bonus feed Instagram yang meledak, jawabannya: Banyan Group. Tahun ini mereka ngerayain 20 tahun di China — dan siap ngegas buka properti ke-100 di dunia. Hotel ke-100, bro. Lo aja baru bisa beli rumah KPR 15 tahun.

Dari Desa Tibet ke Ekspansi Brutal

Cerita dimulai 2005, waktu Banyan Tree Ringha nongol di Shangri-La. Bukan Shangri-La mall ya, ini Shangri-La beneran: lembah dingin, rumah kayu Tibet, dan vibe yang bikin lo ngerasa kayak jadi figuran di film kungfu klasik.

Bacaan Menarik: Jakarta After Dark

Setahun kemudian, Banyan Tree Lijiang berdiri gagah di kaki Gunung Salju Jade Dragon. Hasilnya? Tamu-tamu mancanegara makin rajin mampir, sementara lo masih sibuk mikirin cicilan motor. Fast forward: sekarang mereka punya 36 properti di China. Dari brand yang super mewah (Banyan Tree) sampai yang lebih santai tapi tetap cakep (Homm, Dhawa, Angsana, Garrya).

Kenapa Lo Harus Peduli?

Karena mereka mainnya nggak asal bangun hotel. Filosofinya keren: Embracing the Environment, Empowering People.
Artinya:

  • Lo bisa tidur di villa keren… sambil tahu duit lo juga nyumbang ke restorasi terumbu karang, program air bersih, atau pelestarian ikan badut (alias Nemo).

Luxury tanpa rasa bersalah. Win-win, kan?

Jakarta Unfiltered: Panduan Jitu Menaklukkan Ibu Kota Paling Berisik

Kalau Politik Jadi Series Netflix

0

🎬 Resensi: Drama Korea Politik Indonesia – Burhan Abe

Kalau lo pikir politik itu cuma rapat DPR yang ngebosenin, siap-siap ketampar. Politik Indonesia itu sebenernya udah kayak drama Korea yang kebanyakan episode: aktornya flamboyan, konfliknya absurd, dan penontonnya—alias kita semua—nggak pernah bisa diem. Bedanya? Kalau di drakor lo bisa skip episode jelek, politik Indonesia tetep harus lo tonton, karena ending-nya ngaruh langsung ke harga cabe sama kuota internet lo.

Burhan Abe, penulis yang ngerti gimana bikin hal ribet jadi gampang dicerna, ngebungkus politik lokal kayak lo lagi nonton Netflix. Ada opening act, ada season, ada grand finale. Bayangin: presiden jadi admin grup WA, DPR disamain sama “The Tortoise Palace,” dan rakyat diposisikan sebagai audiens bawel yang kadang lebih ribut dari aktor utama. Relatable banget, kan?

Yang bikin makin seru, Abe bongkar juga “sutradara bayangan” di balik layar: oligarki, spin doctors, cyber army, sampai ormas. Mereka kayak produser kaya raya yang ngebiayain serial ini, lengkap dengan plot twist money politics. Dari serangan fajar—amplop cokelat misterius—sampai iklan digital dan influencer yang pura-pura netral. Intinya: duit tetap jadi bahasa paling seksi dalam politik.

Nah, bagian Gen Z makin bikin ngakak sekaligus mikir. Anak muda sekarang bukan lagi penonton pasif; mereka udah naik panggung. Dari meme politik, hashtag #ReformasiDikorupsi, sampai branding capres “gemoy” yang jelas bukan kerja tim kampanye, tapi kreativitas netizen. Politik jadi arena di mana netizen bisa ngegas, nge-rem, bahkan nge-prank elite.

Buku ini bukan kuliah FISIP yang bikin lo ketiduran. Ini lebih kayak stand-up comedy battle ketemu dokumenter politik. Ada kutipan serius biar tetap kredibel, tapi juga ada analogi gokil biar nggak bikin jidat lo berkerut. Visualnya pun kece: ada poster ala UFC buat debat capres gladiator, ada konser ala DWP buat hari coblosan. Jadi lo kayak lagi nonton konser politik terbesar di dunia.

Bisa diunduh di SINI ya.

Verdict?

“Drama Korea Politik Indonesia” adalah cara paling fun buat lo paham politik tanpa harus jadi kutu buku. Baca ini, lo bakal ngerti kenapa politik kita absurd tapi penting banget, kenapa penonton bisa jadi co-director, dan kenapa apatis itu cuma bikin lo jadi background extra yang nggak punya dialog. (Reyhan Fabiano)

📲 Unduh bukunya sekarang di sini, bro: 👉 https://lynk.id/burhanabe/2vgr1l68e6gj

Coastal Brunch di Seasalt Alila Seminyak: Ritme Santai, Sentuhan Glamor

0

Ada sesuatu yang magis tentang Minggu di Bali. Di Seasalt Alila Seminyak, waktu seakan berjalan lebih lambat: angin laut yang hangat, cahaya tropis yang jatuh lembut ke meja, dan alunan saksofon yang mengisi udara. Semua berpadu dalam Coastal Brunch, sebuah ritual tepi pantai yang telah menjadi ikon gaya hidup di Seminyak.

Brunch di sini bukan sekadar urusan makan siang panjang. Ia adalah perayaan rasa dan suasana. Dari tiram Banyuwangi yang dipadukan dengan mignonette khas Seasalt, sashimi ikan yang di-dry-aged dengan teknik presisi, hingga Wagyu short rib yang dimasak perlahan dengan lada hitam Kalimantan—setiap hidangan hadir sebagai undangan untuk berhenti, mencicipi, dan menikmati.

Wine Not? Cerita, Rasa, dan Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Di antara interaksi hangat para tamu, pass-around dish muncul seolah-olah memberi kejutan kecil: gazpacho nanas-pear dengan tiram acar, ceviche seafood dengan santan yang segar, atau taco daging Angus yang diracik langsung di depan mata. Semua menyatu dalam suasana yang santai, namun tak kehilangan sentuhan glamor.

Seasalt merayakan keberlanjutan tanpa kehilangan daya tarik kosmopolitannya. Sumber lokal, prinsip zero-waste, dan kreasi musiman berpadu dengan prosecco dingin atau rosé yang berkilau di bawah sinar matahari sore. Dan ketika Anda duduk menatap laut, dengan percakapan yang mengalir dan musik DJ yang tenang, Anda akan paham mengapa orang terus kembali ke sini, Minggu demi Minggu.

“Brunch di Seasalt menangkap esensi Bali—santai, menginspirasi, dan tak terlupakan,” ujar Dante Rossi, Director of Food & Beverage Alila Seminyak. Sebuah pernyataan yang bukan sekadar promosi, tapi pengalaman yang terasa nyata saat Anda menghabiskan siang di tepi pantai Seminyak ini.

Jika Bali adalah pulau untuk merayakan hidup, maka Coastal Brunch di Seasalt adalah alamat resminya. (Abe)

Must Read Book: Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Chef Luca Masini: Dari Livorno ke Sanur, Dari Laut Toscana ke Horizon Bali

0

Pagi di Sanur punya ritme sendiri. Angin laut membawa aroma asin, burung camar beterbangan rendah, dan cahaya matahari membias lembut di permukaan Pantai Segara. Di tengah suasana itu, ada satu suara konstan dari dapur terbuka Byrd House: denting pisau yang mengenai talenan, bunyi kayu terbakar di oven, dan perintah tenang tapi tegas dari seorang pria Italia yang kini menganggap Bali sebagai rumah keduanya—Chef Luca Masini.

“Di Italia, meja makan adalah universitas pertama saya.”

Lahir di Livorno, sebuah kota pelabuhan di Toscana, Masini tumbuh dalam kultur di mana makan bukan sekadar kebutuhan, tapi ritual sosial. Ia masih ingat bagaimana tiap Minggu keluarganya berkumpul di meja panjang, penuh dengan pasta, ikan segar, dan gelas anggur yang tak pernah kosong.

Must Read Book: Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

“Bagi kami, makan adalah cara merayakan hidup. Dari kecil saya selalu penasaran: bagaimana kalau saus ini dibuat dengan cara lain? Bagaimana rasa bisa berubah hanya dengan teknik yang berbeda?” kenangnya.

Rasa penasaran itu berubah jadi panggilan hidup. Pada usia 16, Masini sudah bekerja di dapur profesional. “Saya pikir, kalau saya tidak bisa meninggalkan aroma bawang putih di tangan saya, hidup ini akan terasa hambar,” katanya sambil tertawa.

Dari Sydney ke Singapura, lalu Bali

Usia 20, ia meninggalkan Livorno. London memberinya disiplin; Sydney mengajarkannya keberanian bermain dengan bahan laut; Singapura menanamkan rasa hormat pada detail dan presisi. “Saya selalu mencari tempat yang bisa menantang saya, dan Bali memberikannya,” ujarnya.

Wine Not? Cerita, Rasa, dan Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Kini, sebagai Executive Chef Byrd House, Masini bukan hanya mengurusi dapur. Ia merancang pengalaman: bagaimana cahaya sore jatuh di meja kayu, bagaimana suara laut jadi latar makan malam, bagaimana menu bisa membuat orang lupa waktu.