Home Blog Page 6

Kalau Politik Jadi Series Netflix

0

🎬 Resensi: Drama Korea Politik Indonesia – Burhan Abe

Kalau lo pikir politik itu cuma rapat DPR yang ngebosenin, siap-siap ketampar. Politik Indonesia itu sebenernya udah kayak drama Korea yang kebanyakan episode: aktornya flamboyan, konfliknya absurd, dan penontonnya—alias kita semua—nggak pernah bisa diem. Bedanya? Kalau di drakor lo bisa skip episode jelek, politik Indonesia tetep harus lo tonton, karena ending-nya ngaruh langsung ke harga cabe sama kuota internet lo.

Burhan Abe, penulis yang ngerti gimana bikin hal ribet jadi gampang dicerna, ngebungkus politik lokal kayak lo lagi nonton Netflix. Ada opening act, ada season, ada grand finale. Bayangin: presiden jadi admin grup WA, DPR disamain sama “The Tortoise Palace,” dan rakyat diposisikan sebagai audiens bawel yang kadang lebih ribut dari aktor utama. Relatable banget, kan?

Yang bikin makin seru, Abe bongkar juga “sutradara bayangan” di balik layar: oligarki, spin doctors, cyber army, sampai ormas. Mereka kayak produser kaya raya yang ngebiayain serial ini, lengkap dengan plot twist money politics. Dari serangan fajar—amplop cokelat misterius—sampai iklan digital dan influencer yang pura-pura netral. Intinya: duit tetap jadi bahasa paling seksi dalam politik.

Nah, bagian Gen Z makin bikin ngakak sekaligus mikir. Anak muda sekarang bukan lagi penonton pasif; mereka udah naik panggung. Dari meme politik, hashtag #ReformasiDikorupsi, sampai branding capres “gemoy” yang jelas bukan kerja tim kampanye, tapi kreativitas netizen. Politik jadi arena di mana netizen bisa ngegas, nge-rem, bahkan nge-prank elite.

Buku ini bukan kuliah FISIP yang bikin lo ketiduran. Ini lebih kayak stand-up comedy battle ketemu dokumenter politik. Ada kutipan serius biar tetap kredibel, tapi juga ada analogi gokil biar nggak bikin jidat lo berkerut. Visualnya pun kece: ada poster ala UFC buat debat capres gladiator, ada konser ala DWP buat hari coblosan. Jadi lo kayak lagi nonton konser politik terbesar di dunia.

Bisa diunduh di SINI ya.

Verdict?

“Drama Korea Politik Indonesia” adalah cara paling fun buat lo paham politik tanpa harus jadi kutu buku. Baca ini, lo bakal ngerti kenapa politik kita absurd tapi penting banget, kenapa penonton bisa jadi co-director, dan kenapa apatis itu cuma bikin lo jadi background extra yang nggak punya dialog. (Reyhan Fabiano)

📲 Unduh bukunya sekarang di sini, bro: 👉 https://lynk.id/burhanabe/2vgr1l68e6gj

Coastal Brunch di Seasalt Alila Seminyak: Ritme Santai, Sentuhan Glamor

0

Ada sesuatu yang magis tentang Minggu di Bali. Di Seasalt Alila Seminyak, waktu seakan berjalan lebih lambat: angin laut yang hangat, cahaya tropis yang jatuh lembut ke meja, dan alunan saksofon yang mengisi udara. Semua berpadu dalam Coastal Brunch, sebuah ritual tepi pantai yang telah menjadi ikon gaya hidup di Seminyak.

Brunch di sini bukan sekadar urusan makan siang panjang. Ia adalah perayaan rasa dan suasana. Dari tiram Banyuwangi yang dipadukan dengan mignonette khas Seasalt, sashimi ikan yang di-dry-aged dengan teknik presisi, hingga Wagyu short rib yang dimasak perlahan dengan lada hitam Kalimantan—setiap hidangan hadir sebagai undangan untuk berhenti, mencicipi, dan menikmati.

Wine Not? Cerita, Rasa, dan Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Di antara interaksi hangat para tamu, pass-around dish muncul seolah-olah memberi kejutan kecil: gazpacho nanas-pear dengan tiram acar, ceviche seafood dengan santan yang segar, atau taco daging Angus yang diracik langsung di depan mata. Semua menyatu dalam suasana yang santai, namun tak kehilangan sentuhan glamor.

Seasalt merayakan keberlanjutan tanpa kehilangan daya tarik kosmopolitannya. Sumber lokal, prinsip zero-waste, dan kreasi musiman berpadu dengan prosecco dingin atau rosé yang berkilau di bawah sinar matahari sore. Dan ketika Anda duduk menatap laut, dengan percakapan yang mengalir dan musik DJ yang tenang, Anda akan paham mengapa orang terus kembali ke sini, Minggu demi Minggu.

“Brunch di Seasalt menangkap esensi Bali—santai, menginspirasi, dan tak terlupakan,” ujar Dante Rossi, Director of Food & Beverage Alila Seminyak. Sebuah pernyataan yang bukan sekadar promosi, tapi pengalaman yang terasa nyata saat Anda menghabiskan siang di tepi pantai Seminyak ini.

Jika Bali adalah pulau untuk merayakan hidup, maka Coastal Brunch di Seasalt adalah alamat resminya. (Abe)

Must Read Book: Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Chef Luca Masini: Dari Livorno ke Sanur, Dari Laut Toscana ke Horizon Bali

0

Pagi di Sanur punya ritme sendiri. Angin laut membawa aroma asin, burung camar beterbangan rendah, dan cahaya matahari membias lembut di permukaan Pantai Segara. Di tengah suasana itu, ada satu suara konstan dari dapur terbuka Byrd House: denting pisau yang mengenai talenan, bunyi kayu terbakar di oven, dan perintah tenang tapi tegas dari seorang pria Italia yang kini menganggap Bali sebagai rumah keduanya—Chef Luca Masini.

“Di Italia, meja makan adalah universitas pertama saya.”

Lahir di Livorno, sebuah kota pelabuhan di Toscana, Masini tumbuh dalam kultur di mana makan bukan sekadar kebutuhan, tapi ritual sosial. Ia masih ingat bagaimana tiap Minggu keluarganya berkumpul di meja panjang, penuh dengan pasta, ikan segar, dan gelas anggur yang tak pernah kosong.

Must Read Book: Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

“Bagi kami, makan adalah cara merayakan hidup. Dari kecil saya selalu penasaran: bagaimana kalau saus ini dibuat dengan cara lain? Bagaimana rasa bisa berubah hanya dengan teknik yang berbeda?” kenangnya.

Rasa penasaran itu berubah jadi panggilan hidup. Pada usia 16, Masini sudah bekerja di dapur profesional. “Saya pikir, kalau saya tidak bisa meninggalkan aroma bawang putih di tangan saya, hidup ini akan terasa hambar,” katanya sambil tertawa.

Dari Sydney ke Singapura, lalu Bali

Usia 20, ia meninggalkan Livorno. London memberinya disiplin; Sydney mengajarkannya keberanian bermain dengan bahan laut; Singapura menanamkan rasa hormat pada detail dan presisi. “Saya selalu mencari tempat yang bisa menantang saya, dan Bali memberikannya,” ujarnya.

Wine Not? Cerita, Rasa, dan Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Kini, sebagai Executive Chef Byrd House, Masini bukan hanya mengurusi dapur. Ia merancang pengalaman: bagaimana cahaya sore jatuh di meja kayu, bagaimana suara laut jadi latar makan malam, bagaimana menu bisa membuat orang lupa waktu.

Rasa Memiliki: Skin in the Game

0
Oleh Eileen Rachman & Emilia Jakob

Setiap orang pernah merasakan bedanya: dilayani pemilik usaha yang berapi-api menawarkan solusi, versus pegawai yang sekadar menjalankan SOP. Yang satu membuat kita merasa didengar, yang lain membuat kita ingin segera cari tempat lain. Perbedaannya? Sederhana: sense of ownership.

Ownership bukan cuma milik pengusaha. Itu sikap mental. Itu soal mau berdiri di garis depan, meski jabatan Anda bukan di puncak hierarki. Seorang asisten rumah tangga di Taiwan memilih tetap menjaga majikannya saat gempa. Risiko nyawanya sendiri dipertaruhkan. Sebaliknya, ada kisah orang tua yang meregang nyawa sendirian karena anak-anaknya tidak peduli.

Hari Gini Gak Punya Web: Website Bukan Lagi Opsi, Tapi Kebutuhan

Di dunia bisnis, Colleen Barrett membuktikan hal ini. Ia memulai sebagai sekretaris pendiri Southwest Airlines, Herb Kelleher. Pekerjaannya administratif, tapi Colleen tidak berhenti di situ. Ia turun ke lapangan, menyalakan semangat karyawan, bahkan ikut melayani pelanggan. Loyalitasnya membentuk kultur Southwest yang tangguh, dan akhirnya Colleen naik jadi Presiden—perempuan pertama yang memimpin maskapai besar AS. Herb menyebutnya sebagai the soul of Southwest.

Inilah inti ownership: tidak bersembunyi di balik alasan. Tidak lempar tanggung jawab. Orang dengan rasa memiliki rela bergulat mencari solusi, entah dengan berdiskusi dengan tim, mencari mentor, atau bahkan mengetes ide lewat ChatGPT.

Bacaan Wajib tentang PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital

Jenis Ownership

Ownership bisa lahir dalam banyak bentuk:

  • Psikologis – saat seseorang merasa perusahaan ini bagian dari dirinya. Kalau gagal, ia ikut sakit. Kalau berhasil, ia ikut bangga. Itu yang disebut skin in the game.
  • Budaya – ketika tim lebih penting daripada ego. We over me.
  • Struktural – aturan main yang memberi ruang pada partisipasi nyata.
  • Kolektif – seperti koperasi atau employee-owned company, di mana kepemilikan benar-benar dibagi.

Semua bentuk ini, kalau diramu, akan menumbuhkan rasa memiliki yang solid.

Cara Mengencangkan Rasa Memiliki

  1. Transparansi. Warren Buffett terkenal karena surat tahunannya. Ia bukan hanya menulis laporan angka, tapi mengakui kesalahannya dengan jujur. “Keputusan ini adalah blunder saya,” tulisnya. Sikap ini membuat pemegang saham merasa bukan sekadar penonton, tapi partner sejati.
  2. Keterlibatan. Jangan biarkan tim hanya jadi “pencatat masalah”. Latih mereka jadi pengambil keputusan. Tanyakan: “Apa yang sudah kamu coba?” atau “Kalau kamu di posisi saya, apa langkahmu?” Itu memaksa mereka berpikir layaknya pemilik.
  3. Rayakan keberhasilan tim. Bukan hanya pencetak gol, tapi seluruh tim. Dr. Imamu Tomlinson menyebutnya culture of brilliance. Hasilnya: motivasi tinggi, loyalitas, dan prestasi internasional.
  4. Kepemilikan nyata. GoTo meluncurkan program People Shares yang memberi saham ke seluruh ekosistemnya. Pesannya jelas: pertumbuhan perusahaan = pertumbuhan kita bersama.
  5. Makna besar. Patagonia bahkan mengalihkan kepemilikan perusahaan ke organisasi nonprofit lingkungan. Pesannya jelas: bisnis bukan sekadar uang, tapi perjuangan menyelamatkan planet. Itu memberi karyawan alasan lebih besar untuk bangun pagi.

UMKM Naik Kelas? Cara Sederhana Go Digital dan Cuan Maksimal

Banyan Group Menandai Tonggak Sejarah Properti ke-100 dengan “100 Journeys” — Sebuah Perayaan Global Selama 100 Hari

0

Tiga dekade setelah menghadirkan resort pertamanya di Phuket, Banyan Group bersiap menulis bab baru dalam sejarah hospitalitas global. Menjelang pembukaan resmi Mandai Rainforest Resort by Banyan Tree di Singapura pada akhir November 2025—resor ke-100 dalam portofolionya—kelompok independen ini meluncurkan 100 Journeys, sebuah perayaan selama 100 hari yang menjelajah lintas benua, budaya, dan komunitas.

Lebih dari sekadar hitungan angka, pencapaian ini adalah refleksi dari filosofi Banyan Group: perhotelan yang berakar pada makna, merawat manusia dan alam, serta merayakan warisan lokal. Dari keheningan meditatif kuil di Kyoto, kerajinan tanah liat hitam Tibet, hingga menyusuri terasering emas Mu Cang Chai di Vietnam, setiap properti menyuguhkan pengalaman otentik yang menghubungkan pelancong dengan jiwa destinasi.

Bacaan Menarik: Jakarta After Dark

Puncak perayaan akan berlangsung di Singapura pada 27 November – 3 Desember 2025, saat Mandai Rainforest Resort membuka pintu dengan festival sepanjang sepekan. Tamu undangan dan publik akan diajak menelusuri hutan hujan lewat discovery trails, sesi wellbeing, hingga lokakarya fotografi yang merayakan keanekaragaman hayati.

Seluruh hasil penjualan tiket akan digandakan 1:1 oleh Banyan Group dan disalurkan ke President’s Challenge, mendukung organisasi sosial di Singapura.

“100 Journeys adalah tribut bagi komunitas yang membentuk kami sekaligus janji untuk terus menghadirkan pengalaman bermakna yang melekat di ingatan para tamu,” ujar Ren Yung Ho, Deputy Chief Executive Banyan Group. “Perjalanan bersama Banyan selalu berakar pada kepedulian—kepada manusia, tempat, dan tujuan.”

100 Discoveries: Menyelami Jejak Budaya

Setiap properti menghadirkan pengalaman unik yang mencerminkan karakter lokal. Dari bamboo rafting di Yangshuo hingga menyelam di reruntuhan kapal di Maladewa, dari eco-walk di Corfu hingga meracik masakan lokal di Phuket—semua dirancang untuk memicu rasa ingin tahu dan refleksi personal.

Jakarta Unfiltered: Panduan Jitu Menaklukkan Ibu Kota Paling Berisik

100 Impacts: Perjalanan dengan Makna

Melalui visi “Embracing the Environment, Empowering People”, Banyan Group mengintegrasikan praktik berkelanjutan dengan kehidupan sehari-hari destinasi. Inisiatifnya mencakup konservasi karang di Maladewa, pelepasan ribuan tukik di Bintan, hingga program mentorship untuk anak muda di berbagai komunitas.

JAMPA: Botanical Dining, Redefined

0

Phuket’s Michelin Green Star Rebel Goes Plant-Based in Style

Di era di mana fine dining kerap identik dengan foie gras dan wagyu, JAMPA di Phuket memilih jalur berbeda: menyulut api untuk sayuran. Restoran peraih Michelin Green Star ini meluncurkan Pengalaman Botani 7-Hidangan—menu berlapis yang terasa lebih seperti statement piece ketimbang sekadar makan malam.

Sosok di balik dapur? Chef Rick Dingen. Muda, visioner, dan jelas bukan tipikal chef konservatif. Filosofinya, “A Life Worth Eating,” adalah manifestasi dari hubungan personal dengan alam, ditranslasikan lewat api terbuka, teknik fermentasi, hingga permainan tekstur yang mengguncang persepsi lama tentang kuliner nabati.

Coffee Break: Kopi 4.0, Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

“Sayuran bukan tren. Ini gaya hidup yang tulus dan penuh tanggung jawab,” katanya.

Crafting Fire, Smoke, and Soul

JAMPA bukan tentang gimmick. Dapur mereka membangun narasi lewat elemen-elemen dasar—api, asap, waktu.

  • Smokey Drama: Sayuran dipanggang di atas nyala terbuka, memunculkan aroma primal.
  • Live Fire Technique: Dari slow roast hingga pembakaran langsung, rasa umami alami dipaksa keluar tanpa kompromi.
  • Textural Play: Fermentasi, penuaan, hingga dehidrasi menciptakan dimensi yang jarang disentuh restoran lain.
  • No Waste Philosophy: Setiap bagian sayuran diolah. Zero leftovers, total respect.

Wine Not? Cerita, Rasa, dan Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Jenis Talenta Baru: Dari New Collar ke Next Level

0

Transformasi digital itu bukan pilihan. Dia datang, gedor pintu, dan kalau kita nggak siap, bisnis bisa ambruk dalam sekejap. Banyak pemimpin perusahaan masih salah kaprah: dikira cukup beli software canggih atau tempel label AI, lalu semua masalah beres. Nyatanya, teknologi secanggih apa pun cuma besi tua kalau nggak ada orang yang bisa menggerakkan, menguasai, dan memberi makna.

Game Bukan Lagi di Divisi IT

Kita sering dengar perusahaan buru-buru cari data analyst, software engineer, atau UX designer. Bagus, tapi jangan salah: kegagalan transformasi digital justru bukan karena teknologinya kurang mumpuni, tapi karena manusianya nggak siap. Teknologi bisa dibeli, adaptasi nggak.

Bisnis Kecil, Branding Besar: Rahasia UMKM Sukses di Era Digital, Tanpa Modal Besar

Itulah kenapa konsep digital dexterity jadi kunci. Talenta dengan mentalitas ini bukan cuma melek teknologi, tapi juga taktis, lincah, dan tahan banting. Mereka nggak panik lihat perubahan, malah menjadikan perubahan sebagai kesempatan buat menyalip pesaing. Gartner mencatat, organisasi dengan digital dexterity tinggi punya peluang sukses tiga kali lipat dalam program transformasi.

Era “New Collar”

Kita sudah lewat masa membagi orang ke dalam kerah putih atau kerah biru. Sekarang, lahir jenis baru: new collar workers. Mereka bisa datang dari mana saja—bootcamp, kursus daring, atau belajar otodidak di lapangan. Yang membedakan adalah mentalitas: mau belajar cepat, adaptif, dan langsung bisa turun ke arena. Mereka bukan akademisi menara gading, tapi petarung yang siap tumbuh bareng teknologi.

Di dunia yang berubah secepat sekarang, skill teknis bisa basi dalam hitungan bulan. Hari ini jago coding, besok bisa disalip AI. Yang nggak bisa ditumbangkan mesin adalah insting, rasa ingin tahu, kreativitas, dan daya juang. Itu modal utama para new collar untuk tetap relevan.

Pemimpin Harus Jadi Role Model

Masalah terbesar dalam transformasi digital justru datang dari ketakutan manusia. Banyak karyawan merasa akan digusur mesin. Di sinilah peran pemimpin: bukan sekadar kasih instruksi, tapi jadi role model. Tugasnya bukan cuma rekrut talenta baru, tapi juga upgrade pasukan yang sudah ada. Caranya? Bukan cuma training formal, tapi juga job rotation, mentoring, sampai reverse mentoring—biar yang muda juga bisa transfer ilmu ke yang senior.

The Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

Budaya organisasi harus jadi medan latihan: ada ruang untuk eksperimen, bahkan kegagalan. Karena dari situ lahir keberanian untuk inovasi.

Kita nggak tahu teknologi apa yang bakal datang lima tahun lagi. Tapi satu hal pasti: hanya orang-orang yang berani belajar terus, tahan banting, dan punya mentalitas petarung yang bakal tetap berdiri.

Talenta baru itu bukan sekadar orang yang punya skill. Talenta baru adalah mereka yang siap main di level berikutnya. (Eileen Rachman dan Emilia Jakob)

Start Small, Scale Big: Strategi Praktis Membangun Startup Tanpa Drama

Menemukan Ketenangan: Koleksi Secluded Villa Dari Nakula

0
A Gentleman’s Escape, Bali Style

Bali mungkin terkenal dengan beach club yang ramai, pesta sampai subuh, dan deretan restoran yang selalu penuh, tapi di balik semua hiruk pikuk itu, masih ada sudut-sudut pulau yang hanya tahu satu bahasa: keheningan. Nah, di sanalah Nakula—grup manajemen perhotelan yang paham betul seni hospitality—masuk membawa secluded villa collection mereka.

Ini bukan sekadar deretan properti mewah dengan infinity pool dan arsitektur Instagrammable. Koleksi vila ini didesain untuk sesuatu yang lebih mendalam: refleksi, healing, dan mempererat koneksi—baik dengan diri sendiri, pasangan, atau bahkan keluarga yang mungkin sudah terlalu lama sibuk dengan layar masing-masing.

Coffee Break: Kopi 4.0, Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

“Seclusion bukan berarti terisolasi, tapi justru terkoneksi,” kata Christian Sunjoto, CEO Nakula. Singkatnya, ini bukan pelarian dari dunia, tapi cara menemukan kembali ritme hidup yang lebih jujur.

Omekai

Villa Pilihan yang Bikin Lupa Dunia

Ambil contoh Leona Valley View di Ubud: adults-only retreat di tepi Sungai Petanu. Bayangkan bangun pagi dengan suara alam, plunge pool pribadi, dan hutan sebagai latar. Cocok untuk yang butuh reset button.

Villa Bangkuang

Atau Omecure di Tabanan: sanctuary yang diselimuti lembah sungai berhutan. Enam kamar tidur terpisah, tiga plunge pool, dan soundtrack alami berupa kicau burung. Di sini, notifikasi HP digantikan cahaya sore yang menembus pepohonan.

Kalau mau pantai, ada Amarta Beach Retreat di Pasut, Tabanan. Hamparan pasir hitam, sunset tak terbatas, plus spa. Kapasitasnya sampai 45 orang—jadi bisa sekalian reunion atau intimate wedding.

Wine Not? Cerita, Rasa, dan Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Untuk yang suka suasana tebing dramatis, Villa Nagasutra di Ungasan adalah jawaban. Dengan 7 kamar, kolam renang tepi tebing, dan view Samudra Hindia, sunset dinner di sini bakal bikin semua masalah terasa… irrelevant.

Start Small, Scale Big: Buku yang Bikin Kita Ingin Mulai dari Sekarang

0

Saya harus jujur, awalnya saya pikir buku tentang bisnis startup itu pasti rumit, penuh istilah asing, dan hanya cocok dibaca mereka yang punya modal besar. Tapi setelah membuka halaman pertama Start Small, Scale Big, saya merasa seperti sedang ngobrol dengan seorang teman yang mengerti betul keresahan kita: punya ide, tapi bingung mau mulai dari mana.

Kisah yang Dekat dengan Sehari-hari

Pendahuluannya saja sudah bikin senyum. Diceritakan tentang sebuah warung kopi sederhana di pojok jalan, dengan kursi plastik dan kopi tubruk panas. Dari sana penulis mengajak kita membandingkan dengan brand kopi kekinian yang menjamur di mal. Bedanya ternyata bukan soal modal besar, melainkan cara mengembangkan ide kecil menjadi sesuatu yang lebih besar.

Bisa diunduh di SINI ya

Saya langsung merasa, “Eh, ini mirip banget sama bisnis kecil-kecilan yang sering muncul di sekitar kita.” Ada ibu-ibu yang awalnya cuma bikin kue untuk teman arisan, lama-lama bisa buka toko online. Atau yang mulai dari jualan baju anak di WhatsApp grup, akhirnya punya butik kecil.

Pesan yang Kena di Hati

Ada satu kalimat di buku ini yang benar-benar menempel di kepala saya: “Jatuh cintalah pada masalah, bukan pada produk.”
Artinya, jangan cepat puas atau terlalu sayang dengan produk pertama yang kita buat, karena tren bisa berubah. Yang penting adalah masalah apa yang ingin kita selesaikan.

Saya jadi ingat teman saya yang jual makanan bayi homemade. Awalnya cuma bubur organik, sekarang sudah berkembang jadi finger food sehat. Produk berganti, tapi tujuannya tetap sama: memberi pilihan makanan terbaik untuk anak.

Modal Bukan Segalanya

Yang paling melegakan, buku ini menekankan bahwa modal besar bukan syarat utama. Ada banyak cerita bagaimana bisnis bisa jalan dengan bootstrapping—alias modal seadanya tapi penuh kreativitas. Bahkan ada contoh usaha yang dimulai hanya dengan Instagram dan WhatsApp.

Sebagai ibu, kadang kita mikir, “Wah, tabungan belum cukup nih untuk bikin usaha.” Tapi ternyata, dengan cara cerdas dan langkah kecil yang konsisten, banyak hal bisa diwujudkan.

Membaca Buku Ini Seperti Diajak Jalan Bareng

Saya merasa Start Small, Scale Big bukan cuma buku teori. Rasanya lebih seperti roadmap yang jelas, lengkap dengan contoh-contoh nyata. Dan enaknya, bahasanya ringan—enggak bikin kita merasa sedang kuliah bisnis.

Kalau Anda seorang ibu yang sering kepikiran punya usaha, atau sudah mulai bisnis kecil-kecilan tapi merasa jalan di tempat, buku ini bisa jadi teman ngobrol yang membuka mata.

Setelah menutup halaman terakhir, saya jadi sadar: untuk mulai, kita tak perlu menunggu semua sempurna. Tidak perlu modal raksasa, tidak harus punya tim besar. Yang penting adalah berani mengambil langkah pertama, sekecil apa pun itu.

Karena siapa tahu, langkah kecil hari ini bisa menjadi lompatan besar besok. (Tipuk B. Kuntjoro)

📌 Anda bisa membaca Start Small, Scale Big melalui tautan ini: 👉 lynk.id/burhanabe/5d1j6qq94ol7

PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital – Blueprint Baru Strategi Reputasi

0

Di dunia bisnis modern, teknologi bukan lagi sekadar alat, melainkan lanskap tempat reputasi dibangun atau runtuh dalam hitungan detik. Di titik inilah PR 4.0 hadir—sebuah paradigma baru yang tidak hanya berbicara tentang komunikasi, tetapi juga tentang bagaimana mengelola persepsi sebagai aset strategis yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Buku PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital karya Burhan Abe memotret perubahan mendasar dalam dunia Public Relations. Menggabungkan lensa jurnalis yang tajam dan perspektif konsultan PR yang strategis, Abe menghadirkan panduan yang mampu menjembatani teori dan praktik di lapangan.

Dalam lebih dari sekadar konsep, PR 4.0 mengupas bagaimana ekosistem komunikasi saat ini—dari media tradisional, media sosial, hingga metaverse—menciptakan ruang baru untuk narasi, pengaruh, dan reputasi. Abe menjelaskan bahwa PR modern adalah kombinasi dari tiga pilar: strategi berbasis data, kemampuan membangun hubungan autentik, dan kelincahan dalam merespons dinamika publik.

Buku ini tidak berhenti pada tataran konsep. Studi kasus dari berbagai industri memperlihatkan bagaimana krisis dapat diubah menjadi momentum, bagaimana brand membangun kredibilitas lewat storytelling, dan bagaimana komunikasi korporat bisa menjadi faktor pembeda dalam memenangkan pasar yang kompetitif.

Bisa diunduh di SINI ya.

Gaya penulisannya khas: analitis namun ringan, informatif tapi tetap mengalir. Abe mengajak pembaca masuk ke balik layar proses pengambilan keputusan komunikasi yang sering kali menentukan nasib sebuah organisasi. Ia menekankan bahwa di era digital, kecepatan, transparansi, dan konsistensi adalah kunci—dan PR adalah ujung tombak untuk mengorkestrasi semua elemen itu.

Bagi eksekutif, entrepreneur, politisi, maupun profesional di bidang komunikasi, PR 4.0 adalah bacaan esensial. Ia menawarkan bukan hanya “apa yang harus dilakukan”, tetapi juga “mengapa” dan “bagaimana” melakukannya dengan efektif di tengah turbulensi informasi.

Membaca buku ini berarti berinvestasi pada kemampuan mengelola reputasi—mata uang yang nilainya melampaui laporan keuangan. (Ayen G. Manus)

Unduh dan baca di: https://lynk.id/burhanabe/jlxmoyxxe18j