Home Blog Page 5

Hawker Legends

0

Kembali Hadir di NIHI Sumba, Membawa Cita Rasa Seafood Bakar Legendaris Jimbaran ke Tepi Pantai Sumba

Ada beberapa pengalaman makan yang tak sekadar memanjakan lidah, tapi juga terasa seperti perjalanan kecil ke sebuah tempat, budaya, dan kenangan. Itulah yang coba dihadirkan kembali oleh NIHI Sumba lewat Hawker Legends, program kuliner yang merayakan warisan rasa Indonesia melalui kolaborasi dengan nama-nama legendaris dari berbagai daerah.

Untuk edisi keduanya yang akan berlangsung pada 18–20 Juli 2026, Hawker Legends menghadirkan Teba Cafe Jimbaran—salah satu pelopor hidangan laut bakar khas Jimbaran yang sudah menjadi bagian dari lanskap kuliner Bali selama lebih dari dua dekade.

The Luxury of Space: Perjalanan Mewah Menjelajah Indonesia

Bagi banyak orang, Jimbaran bukan hanya tentang matahari terbenam dan meja makan di atas pasir, tetapi juga aroma seafood bakar yang khas, sambal yang menggigit, dan suasana santai yang terasa begitu Bali. Lewat kolaborasi ini, atmosfer itu dibawa ke NIHI Sumba, menghadirkan pengalaman bersantap yang memadukan dua destinasi ikonis dengan karakter yang sama-sama kuat: dekat dengan laut, kaya tradisi, dan punya hubungan yang erat dengan komunitas lokal.

Didirikan pada 1999, Teba Cafe Jimbaran lahir di tengah transformasi Jimbaran dari desa nelayan menjadi salah satu destinasi kuliner paling dikenal di Bali. Restoran keluarga ini menjadi salah satu nama yang ikut membentuk tradisi seafood bakar di tepi pantai—gaya bersantap yang kini identik dengan Jimbaran itu sendiri.

Jakarta Unfiltered: Panduan Jitu Menaklukkan Jakarta

Hingga hari ini, Teba Cafe tetap mempertahankan hal-hal yang membuatnya dicintai: hidangan laut segar dari perairan sekitar, racikan bumbu keluarga yang diwariskan turun-temurun, serta teknik memanggang tradisional di atas sabut kelapa yang memberi aroma asap khas dan rasa yang sulit ditiru.

Slow Burn: Cerutu dalam Ritme Hidup Modern

Selama tiga hari di Sumba, para tamu akan diajak menikmati signature seafood bakar ala Teba Cafe, lengkap dengan sajian pendamping khas Bali seperti plecing kangkung dan sambal matah. Bukan sekadar makan malam, pengalaman ini terasa seperti pertemuan dua lanskap pesisir Indonesia dalam satu meja: Jimbaran dengan warisan kuliner lautnya, dan Sumba dengan keindahan alam liarnya yang menjadi latar sempurna untuk sebuah jamuan istimewa.

Yang membuat Hawker Legends menarik bukan hanya menunya, melainkan idenya: membawa nama-nama kuliner legendaris dari berbagai penjuru Indonesia ke sebuah panggung yang lebih intim dan terkurasi. Di sini, makanan tidak hadir hanya sebagai santapan, tetapi sebagai cerita tentang asal-usul, tradisi, dan orang-orang yang menjaga cita rasa itu tetap hidup dari generasi ke generasi.

PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital

Ikigai: Alasan yang Membuat Kita Ingin Bagun Pagi

0

Oleh Eileen Rachman dan Emilia Jakob

Apa yang sesungguhnya membuat seseorang bangun pagi? Bagi sebagian orang, jawabannya sederhana: alarm, rapat pukul sembilan, tagihan yang harus dibayar, atau daftar pekerjaan yang menunggu diselesaikan. Namun bagi sebagian lainnya, ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rutinitas: perasaan bahwa hari ini layak dijalani, bahwa ada hal yang ingin dikerjakan, dirawat, atau diperjuangkan. Dalam bahasa Jepang, dorongan itu disebut ikigai—alasan yang membuat hidup terasa bernilai, a reason to get up in the morning.

Konsep ini bukan barang baru. Di Jepang, ikigai telah hidup sejak berabad-abad lalu dan terus bertahan justru karena kesederhanaannya. Kata iki berarti hidup, sementara gai berarti nilai atau makna. Ikigai, dengan demikian, bukan sekadar tujuan besar yang heroik, melainkan sumber makna yang membuat hidup terasa pantas dijalani—hari demi hari, bahkan dalam bentuk yang paling biasa sekalipun.

Gaptek Bukan Alasan:  Mahir Digital Tanpa Jadi Anak IT

Di tengah dunia modern yang serba cepat, ikigai menjadi relevan karena ia mengajukan pertanyaan yang sederhana namun mendasar: apa yang membuat hidup kita terasa hidup?

Bukan soal ambisi besar, melainkan alasan untuk terus hidup dengan penuh hadir

Ketertarikan dunia pada ikigai banyak dipicu oleh rasa ingin tahu terhadap Okinawa, wilayah di Jepang yang dikenal memiliki jumlah lansia aktif berusia di atas 100 tahun yang tinggi. Berbagai peneliti mencoba memahami apa yang membuat mereka bukan hanya panjang umur, tetapi juga tetap bersemangat menjalani hidup.

Salah satu penjelasan yang kerap muncul adalah kombinasi pola hidup yang tampak sederhana: tubuh yang terus bergerak, ritme hidup yang tidak tergesa-gesa, pola makan secukupnya, relasi sosial yang hangat, rasa syukur, dan yang tak kalah penting, sense of purpose—perasaan bahwa hidup masih memiliki alasan untuk dijalani.

Cuan dari Rumah: 5 Bisnis Digital yang Bisa Kamu Mulai Hari Ini

Di sinilah letak kekuatan ikigai. Ia tidak lahir dari daftar target spektakuler atau pencapaian yang harus dipamerkan. Justru sebaliknya, ia tumbuh dari kebiasaan yang konsisten, relasi yang bermakna, dan keterhubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Bukan sesuatu yang rumit, tetapi sesuatu yang cukup kuat untuk membuat seseorang tetap ingin bangun esok pagi.

Ketika kerja bukan hanya sumber penghasilan, tetapi ruang untuk menunaikan panggilan

Di luar Jepang, ikigai sering dipopulerkan melalui diagram Venn dengan empat irisan: apa yang kita cintai, apa yang kita kuasai, apa yang dibutuhkan dunia, dan apa yang dapat memberi penghidupan. Visualisasi ini membantu, meski sesungguhnya makna ikigai tidak sesederhana mencari satu titik sempurna di tengah empat lingkaran. Ikigai lebih hidup dari itu: ia adalah hubungan yang terus dinegosiasikan antara diri, pekerjaan, nilai, dan dunia di sekitar kita.

Cuma Modal HP: Bisa Cuan dari YouTube? Simak Rahasianya!

Umana Bali Hadirkan Destination Wedding

0

Lebih dari Sekadar Mewah

Dari chapel di atas tebing hingga private villa untuk perayaan multi-hari, Umana Bali mengubah pernikahan menjadi pengalaman yang intim, personal, dan sarat nuansa Bali

Di Bali, pernikahan tak lagi hanya soal gaun, dekorasi, atau pesta satu malam. Bagi banyak pasangan hari ini, especially those planning a destination wedding, yang dicari justru pengalaman yang terasa personal, hangat, dan punya cerita. Bukan sekadar “indah di foto”, tapi juga berkesan untuk dijalani—oleh pasangan, keluarga, dan sahabat terdekat.

Di tengah tren itu, Umana Bali, LXR Hotels & Resorts memperkenalkan rangkaian destination wedding yang menggabungkan kemewahan resor tepi tebing dengan unsur budaya Bali, wellness, dan ruang untuk merayakan cinta secara lebih utuh. Berlokasi 70 meter di atas Samudra Hindia, resor ini menawarkan tujuh paket pernikahan yang dirancang untuk berbagai skala perayaan, mulai dari seremoni intim hingga privatisasi seluruh resor.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Bukan tipe pernikahan yang selesai dalam beberapa jam, pengalaman di Umana Bali justru dirancang seperti sebuah perjalanan: ada seremoni, makan malam, momen reflektif, waktu bersama keluarga, hingga aktivitas santai yang membuat perayaan terasa lebih hidup.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Menikah di Atas Tebing, dengan Laut sebagai Latar Utama

Salah satu daya tarik utama Umana Bali tentu adalah The Chapel, venue ikonik dengan dinding kaca tinggi dan desain segitiga yang menghadap cakrawala. Di ruang ini, cahaya alami masuk lembut dari seluruh sisi, menciptakan suasana seremoni yang tenang, intim, dan dramatis tanpa perlu banyak ornamen tambahan. Kapasitasnya mencapai 50 tamu, cocok untuk pasangan yang menginginkan momen sakral dalam setting yang lebih personal.

Namun pengalaman pernikahan di Umana tidak berhenti di chapel. Di sepanjang area tebing, tersedia sejumlah venue dengan karakter yang berbeda. Main Pool misalnya, menawarkan pemandangan laut lepas dan sunset Bali untuk seremoni atau resepsi berskala besar hingga 200 tamu. Ada juga Chapel Lawn untuk pesta outdoor yang lebih elegan dan airy, sementara Commune Garden dan Pad Bar cocok untuk cocktail hour menjelang malam.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Dari Kebun ke Cangkir

0

Bali Origins Perkenalkan Wajah Baru Kopi Indonesia di World of Coffee Bangkok 2026

Di tengah ramainya tren specialty coffee yang makin lekat dengan gaya hidup urban, nama Indonesia kembali mencuri perhatian di panggung internasional. Lewat ajang World of Coffee Bangkok 2026, Bali Origins memperkenalkan cara baru memandang kopi Indonesia: bukan hanya soal asal-usul yang eksotis, tetapi juga soal kualitas yang konsisten, proses yang rapi, dan pasokan yang bisa diandalkan.

Digelar pada 7–9 Mei 2026 di BITEC Bangkok dan diselenggarakan oleh Specialty Coffee Association, World of Coffee Bangkok menjadi salah satu titik temu paling penting bagi industri kopi dunia. Ratusan exhibitor dari berbagai negara hadir, mulai dari produsen mesin, roaster, pelaku kafe, hingga buyer global yang sedang berburu kopi terbaik sekaligus mitra pasok jangka panjang.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Di tengah keramaian itu, Bali Origins datang membawa sesuatu yang lebih dari sekadar cerita tentang kopi Nusantara. Mereka menawarkan gambaran tentang bagaimana kopi Indonesia bisa tampil lebih siap di pasar global—dengan sistem yang lebih terstruktur, kualitas yang lebih terjaga, dan pendekatan yang lebih modern.

Kopi Indonesia Tak Lagi Cukup Hanya “Punya Cerita”

Selama ini, kopi Indonesia sudah lama dikenal berkat karakter origin yang kuat—mulai dari profil rasa earthy, fruity, hingga kompleksitas khas dari berbagai daerah. Namun di pasar global hari ini, buyer tak lagi hanya mencari kopi dengan cerita asal yang menarik. Mereka juga ingin tahu: apakah kualitasnya stabil? Apakah rasanya konsisten dari batch ke batch? Apakah pasokannya bisa diandalkan dalam jangka panjang?

Di sinilah Bali Origins mengambil posisi.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Bali Origins fokus menghadirkan premium coffee beans untuk kebutuhan pasar B2B global, dengan pendekatan yang lebih menyeluruh dari hulu ke hilir. Mereka bekerja di sejumlah wilayah penghasil kopi Indonesia, termasuk Bali, Jawa, dan Lombok, sambil mengelola proses pascapanen secara lebih terkoordinasi—mulai dari pemilihan kebun dan cherry, proses pengeringan, roasting, hingga quality control akhir.

Pendekatan ini penting karena salah satu tantangan terbesar dalam industri kopi adalah fragmentasi proses yang sering berujung pada kualitas yang naik-turun. Bali Origins mencoba memotong persoalan itu dengan menyatukan sourcing dan produksi ke dalam satu sistem kerja yang lebih terintegrasi. Tujuannya sederhana: membuat kopi Indonesia tampil lebih konsisten, lebih presisi, dan lebih siap memenuhi kebutuhan roaster, distributor, hingga operator kafe di berbagai pasar.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Semesta Bistro & Bar

0

Spot Baru di Sanur untuk Menikmati Soul Food Indonesia, Kopi, dan Senja dari Rooftop

Ada tempat-tempat yang memang terasa cocok dengan ritme Sanur—tidak tergesa, tidak berisik, dan tahu persis bagaimana membuat orang ingin tinggal lebih lama dari rencana awal. Pagi dimulai pelan dengan kopi, siang bergeser ke makan santai, lalu malam turun tanpa banyak drama, hanya obrolan, makanan enak, dan segelas minuman di tangan. Nuansa seperti itulah yang ditawarkan Semesta Bistro & Bar, destinasi kuliner baru di kawasan Kayangan Sanur yang memadukan coffee culture, comfort food Indonesia, dan rooftop evenings dalam satu alamat.

Dibangun oleh tangan-tangan Indonesia, Semesta berdiri di atas satu gagasan sederhana: menghadirkan rasa yang akrab bagi lidah Indonesia, lalu mengemasnya dengan pendekatan yang lebih segar, ringan, dan relevan dengan gaya bersantap masa kini. Menunya banyak mengambil inspirasi dari cita rasa Jakarta dan dapur Jawa—bukan untuk mengubah identitasnya, melainkan untuk memperlakukannya dengan sedikit lebih banyak perhatian. Hasilnya adalah daftar hidangan yang terasa familiar, tetapi datang dengan presentasi dan keseimbangan rasa yang lebih refined.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Di Semesta, istilah soul food bukan sekadar tempelan yang terdengar manis. Ia hadir lewat makanan-makanan yang memang sudah lama hidup dalam keseharian orang Indonesia: hangat, penuh rasa, dan punya semacam efek nostalgia yang sulit ditolak. Hanya saja di sini, semuanya dibawa ke meja dengan sentuhan yang lebih rapi dan modern.

Salah satu yang paling menarik perhatian adalah Grilled Fish in Bamboo, hidangan berbahan Spanish mackerel yang dibungkus daun pisang lalu dimasak di dalam bambu. Teknik ini memberi aroma yang halus sekaligus menjaga tekstur ikan tetap lembut dan juicy. Ada pula Beef Ribs Ngohyong, yang memasangkan iga sapi bakar dengan sambal matah spesial dan nanas bakar—kombinasi gurih, segar, dan sedikit manis yang bermain rapi di satu piring.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Sementara Barramundi Sambal Bongkot Honje menawarkan sesuatu yang lebih khas: sambal dari bunga kecombrang yang aromatik, sebuah rasa yang mungkin belum terlalu akrab bagi tamu internasional, tetapi justru menjadi salah satu karakter paling menarik dalam khazanah kuliner Indonesia.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Dubai Punya Wajah Baru Kemewahan Kuliner

0

Dan Semuanya Bukan Lagi Soal Kemegahan

Selama bertahun-tahun, Dubai identik dengan gedung pencakar langit, hotel supermewah, dan pengalaman yang serba spektakuler. Namun kini, definisi kemewahan di kota ini mulai bergeser. Bukan lagi sekadar soal kemegahan visual, melainkan bagaimana sebuah tempat mampu menghadirkan suasana, membangkitkan emosi, dan membuat orang betah berlama-lama.

Perubahan itu terlihat jelas dalam sejumlah destinasi kuliner terbaru yang dirancang oleh studio desain interior ternama, LW Design Group. Melalui empat konsep restoran dan bar yang berbeda, studio ini menunjukkan bahwa pengalaman bersantap masa kini bukan hanya tentang makanan yang tersaji di meja, tetapi juga tentang cerita, atmosfer, dan momen yang tercipta di dalam ruang.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Mulai dari nuansa teatrikal khas Jepang, kehangatan rumah Italia, pesona pantai Amalfi, hingga bistro santai di tepi laut, setiap proyek menawarkan pengalaman yang terasa personal sekaligus berkelas.

Menikmati Drama Sebelum Makan di Netsu Bar

Di dalam hotel mewah Mandarin Oriental Jumeira, Netsu Bar menghadirkan pengalaman yang dimulai bahkan sebelum tamu duduk menikmati hidangan.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Terinspirasi dari seni pertunjukan Kabuki Jepang, ruang ini dirancang seperti sebuah pembuka pertunjukan. Pengunjung diajak bergerak dari area hotel yang terang menuju suasana yang lebih gelap, hangat, dan penuh antisipasi.

Jakarta Unfiltered: Panduan Jitu Menaklukkan Jakarta

Bar megah menjadi pusat perhatian, sementara permainan pencahayaan, aksen beludru merah, detail emas, kayu alami, dan langit-langit bercermin menciptakan suasana yang dramatis namun tetap intim. Hasilnya bukan sekadar tempat menikmati koktail, melainkan ruang yang membangun ekspektasi dan rasa penasaran sebelum pengalaman kuliner dimulai.

Slow Burn: Cerutu dalam Ritme Hidup Modern

Babak Baru Fu Chun Ju 2026

0

Di Balik Pengalaman Bersantap Paling Elegan di Beijing

Di kota yang terus bergerak antara tradisi dan modernitas seperti Beijing, hanya sedikit restoran yang mampu menjaga relevansi tanpa kehilangan akar budayanya. Salah satunya adalah Fu Chun Ju, restoran Kanton yang selama tujuh tahun berturut-turut mempertahankan bintang MICHELIN dan kini memperkenalkan konsep serta menu terbaru untuk 2026.

Berlokasi di dalam The PuXuan Hotel and Spa, restoran ini bukan sekadar destinasi makan malam mewah. Ia adalah ruang di mana kuliner, budaya teh, wine, arsitektur, dan craftsmanship Tiongkok bertemu dalam satu pengalaman yang terasa intim sekaligus berkelas.

Ketika Masakan Kanton Bertemu Jiwa Beijing

Di tangan Chef Waikit Yeung, yang telah mendedikasikan hampir tiga dekade hidupnya untuk seni kuliner Kanton, tradisi tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang statis. Sebaliknya, ia menjadi fondasi untuk eksplorasi rasa yang lebih luas.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Menu terbaru Fu Chun Ju memadukan teknik memasak Kanton klasik dengan inspirasi dari berbagai wilayah Tiongkok. Hasilnya adalah hidangan yang terasa familiar namun tetap menghadirkan kejutan—sebuah keseimbangan antara nostalgia dan inovasi yang jarang dicapai dengan begitu halus.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Setiap sajian dirancang mengikuti musim, memanfaatkan bahan-bahan lokal terbaik, sekaligus mempertahankan filosofi utama masakan Kanton: menghormati kualitas bahan dan mengekspresikannya tanpa berlebihan.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

SU MA dan Generasi Baru Fine Dining Asia yang Tidak Lagi Terjebak Nostalgia

0

Ada masa ketika restoran Asia dianggap harus memilih satu dari dua jalur: mempertahankan tradisi secara kaku atau mengejar modernitas hingga kehilangan identitasnya. SU MA memilih jalan ketiga. Di tengah geliat dunia kuliner Jakarta yang semakin kompetitif, restoran ini membangun reputasinya secara perlahan. Tidak melalui sensasi media sosial atau menu yang dirancang untuk viral dalam semalam, melainkan lewat sesuatu yang jauh lebih sulit dicapai: konsistensi.

Selama tiga tahun terakhir, SU MA menjelma menjadi salah satu alamat yang menarik perhatian para penikmat fine dining yang mencari lebih dari sekadar makan malam mewah. Restoran ini menawarkan sesuatu yang semakin langka di kota yang bergerak cepat—pengalaman yang mengajak tamunya memperlambat ritme.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Di balik pendekatan tersebut berdiri dua chef dengan latar belakang berbeda tetapi visi yang sama: Executive Chef Brendon Chen dan Co-Executive Chef Ryan Kim. Bersama-sama, keduanya sedang mendefinisikan ulang seperti apa wajah kuliner Asia Timur kontemporer di Jakarta hari ini.

Ketika Tradisi Tidak Lagi Menjadi Museum

Bagi Brendon Chen, memasak selalu berangkat dari rumah. Tumbuh dalam keluarga Tionghoa-Malaysia, ingatan masa kecilnya dipenuhi aroma dapur, resep turun-temurun, dan ritual memasak yang dilakukan dengan kesabaran hampir meditatif. Pengalaman itu kemudian membawanya menempuh pendidikan di Le Cordon Bleu London sebelum bekerja di berbagai restoran ternama di Asia dan Eropa, termasuk restoran berbintang Michelin.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Namun setelah bertahun-tahun berkarier di dapur kelas dunia, pandangannya terhadap tradisi justru semakin sederhana. Tradisi, menurutnya, bukan benda mati. Ia bukan artefak yang disimpan di lemari kaca untuk dikagumi dari kejauhan. Tradisi adalah sesuatu yang hidup.

Pandangan inilah yang menjadi fondasi pendekatan kuliner SU MA. Teknik modern digunakan bukan untuk menghapus identitas lama, tetapi untuk memberikan bahasa baru bagi cerita yang sudah ada.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Satu Malam di Tuscany, Tanpa Meninggalkan Sanur

0

Chef Luca Masini membawa cita rasa pesisir Italia ke tepi Pantai Sanur melalui sebuah jamuan makan malam yang merayakan kesederhanaan, kebersamaan, dan seni menikmati hidup.

Ada sesuatu yang selalu menarik dari budaya makan orang Italia. Bukan semata soal pasta segar, minyak zaitun berkualitas, atau wine yang dipilih dengan cermat. Yang membuatnya begitu memikat adalah filosofi di baliknya: keyakinan bahwa makanan terbaik selalu dinikmati perlahan, bersama orang-orang yang tepat, dalam suasana yang memungkinkan percakapan mengalir tanpa tergesa.

Pada 26 Juni 2026 mendatang, semangat itu akan hadir di tepian Pantai Sanur melalui Tuscan Dinner by Chef Luca Masini, sebuah pengalaman bersantap eksklusif yang digelar di Byrd House Bali.

Selama satu malam, restoran tepi pantai yang berada di kawasan Segara Village Hotel tersebut akan berubah menjadi perpanjangan imajiner dari pesisir Tuscany. Ketika matahari mulai turun dan warna langit berubah menjadi jingga keemasan, para tamu akan diajak menikmati makan malam yang terinspirasi dari kawasan pantai Italia Barat—tempat kehidupan berjalan sedikit lebih lambat dan setiap hidangan memiliki cerita.

Di balik pengalaman ini berdiri sosok Chef Luca Masini, Executive Chef Byrd House Bali yang lahir dan besar di Livorno, kota pelabuhan bersejarah di Tuscany. Kariernya telah membawanya melintasi berbagai belahan dunia, dari Eropa hingga Australia, Singapura, dan Indonesia. Namun sejauh apa pun ia melangkah, akar kuliner Mediterania tetap menjadi kompas yang membimbing setiap kreasinya.

“Masakan Tuscany bagi saya selalu bersifat personal,” ujar Chef Luca. “Ini bukan tentang teknik yang rumit atau presentasi yang berlebihan. Ini tentang menghormati bahan terbaik, menikmati kebersamaan, dan menciptakan momen yang membuat orang ingin berlama-lama di meja makan.”

Destinasi Baru di Berawa, Bali

0

Pony, untuk Makan Malam yang Berlanjut Hingga Larut Malam

Bali selalu memiliki tempat-tempat baru yang menarik perhatian, tetapi hanya sedikit yang berhasil memadukan pengalaman bersantap, koktail, dan kehidupan malam dalam satu alur yang terasa begitu alami. Hadir di kawasan Berawa, Pony menawarkan konsep yang berbeda: sebuah ruang di mana makan malam tidak harus berakhir ketika hidangan terakhir tersaji, dan malam bisa berkembang mengikuti ritmenya sendiri.

Dibuka pada Juni ini, Pony hadir sebagai restoran, bar, dan lounge yang menyatu dalam satu pengalaman. Berlokasi di jantung kawasan Tibubeneng yang dinamis, tempat ini dirancang untuk mereka yang menikmati santapan tanpa terburu-buru, percakapan panjang, serta malam yang mengalir dari satu momen ke momen berikutnya.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Di tengah lanskap kuliner Bali yang terus berkembang, Pony mengusung filosofi sederhana: makanan yang baik dan kehidupan malam yang menyenangkan seharusnya dapat dinikmati di bawah satu atap. Hasilnya adalah sebuah destinasi yang terasa santai namun tetap sophisticated, di mana tamu dapat memulai malam dengan makan malam yang intim, melanjutkannya dengan koktail di bar, lalu menikmati suasana yang semakin hidup seiring waktu berjalan.

Api, Asap, dan Sentuhan Jepang Modern

Jantung pengalaman Pony terletak pada dapurnya yang berpusat pada teknik memasak menggunakan panggangan kayu bakar. Menu yang ditawarkan mengambil inspirasi dari tradisi kuliner Eropa, dipadukan dengan sentuhan Jepang modern yang halus.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Alih-alih mengandalkan teknik yang rumit, Pony membiarkan elemen-elemen dasar seperti api, arang, asap, dan kualitas bahan berbicara dengan sendirinya. Hidangan-hidangan yang disajikan dirancang untuk dinikmati bersama, menciptakan suasana komunal yang menjadi bagian penting dari pengalaman bersantap.

Pilihan menu bergerak dari aneka daging dan seafood yang dipanggang di atas bara api, hidangan mentah yang segar, hingga pasta buatan tangan yang menghadirkan kenyamanan dalam setiap suapan. Semuanya dirancang dengan pendekatan yang mengutamakan rasa yang berani namun tetap elegan, menghadirkan keseimbangan antara kemewahan dan kenyamanan.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto