Jakarta itu keras. Cepat. Ambisius. Tapi selama tiga minggu, 16 Februari–7 Maret 2026, ada yang bikin kota ini melambat—setidaknya saat matahari turun dan lampu-lampu gedung mulai pamer. Di lantai 46 The Plaza, Syrco BASÈ mendarat lewat pop-up eksklusif di Altitude Grill Jakarta.
Dan ya, ini bukan sekadar makan malam. Ini statement.
Di baliknya ada Syrco Bakker—chef berdarah Indonesia yang pernah mengantongi dua bintang Michelin. Alih-alih datang dengan ego fine dining Eropa, ia justru membawa sesuatu yang lebih relevan: Bali, tapi versi dewasa. Filosofinya sederhana tapi galak—Traceability, Nature, Transparency. Semua bahan jelas asal-usulnya. Semua rasa punya cerita. Tidak ada gimmick kosong.
Rendang Ketemu Tartar? Kenapa Tidak.
Menu di sini seperti reuni keluarga yang tiba-tiba jadi high fashion. Steak Tartar dengan rendang seasoning? Brutal tapi refined. Daging mentah yang lembut dipeluk bumbu kaya rempah—tanpa kehilangan kelas.
Explora Journeys Membuka Reservasi Pelayaran Dunia Perdana 2029
Ada jenis perjalanan yang tak sekadar memindahkan Anda dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Ia mengubah ritme, memperlambat waktu, dan membuat dunia terasa lebih luas sekaligus intim. Itulah janji Endless Worlds, Inaugural World Journey dari Explora Journeys yang resmi membuka reservasi untuk keberangkatan 6 Januari 2029.
Selama 128 hari, para tamu akan berlayar melintasi empat benua dan 63 destinasi di atas EXPLORA I, kapal bergaya yacht pribadi yang menjadi ikon awal armada brand ini. Dua belas pelabuhan menawarkan waktu bermalam, sementara 44 di antaranya merupakan kunjungan perdana—membentang dari Samudra Hindia, Australia dan Selandia Baru, Pasifik Selatan, hingga pesisir Peru.
Alih-alih menjadi daftar destinasi semata, Endless Worlds dirancang sebagai satu narasi panjang: dunia yang terungkap perlahan, bab demi bab, dalam tempo yang disengaja.
FrenchDubaiKomodo National Park
Tiga Cara Menjelajah Dunia
Memahami bahwa kemewahan hari ini identik dengan fleksibilitas, Explora Journeys menghadirkan tiga pilihan durasi dengan tanggal keberangkatan yang sama:
128 hari: dari Dubai ke Barcelona (6 Januari – 14 Mei 2029)
112 hari: berakhir di New York City (28 April 2029)
Bagi sebagian tamu, dunia cukup dijelajahi hingga Amerika Serikat; bagi yang lain, Atlantik adalah panggilan terakhir sebelum menutup perjalanan di Eropa.
“Endless Worlds adalah undangan untuk melihat dunia sebagai rangkaian kisah yang terus berlanjut—sebuah perjalanan yang terungkap perlahan dan penuh makna,” ujar Anna Nash, President Explora Journeys. “Ini tentang kemewahan waktu, rasa ingin tahu terhadap budaya, dan koneksi mendalam dengan laut.”
Seni Merayakan Masa Lalu Tanpa Terjebak di Dalamnya
Ada dua jenis nostalgia: yang murahan dan yang berkelas. “Vintage Sounds” dari ArtSwara jelas masuk kategori kedua. Selasa malam (17/2/2026) di Ciputra Artpreneur, Jakarta, memori tentang era 80–90an tidak diperlakukan sebagai barang antik yang dipajang di etalase. Ia dipoles, diberi konteks baru, dan dipresentasikan dengan disiplin artistik yang jarang kita lihat dalam konser bertema nostalgia.
Ini bukan pesta karaoke massal. Ini kurasi.
Big Band, Tailoring yang Tepat untuk Lagu-Lagu Lama
Jika musik adalah busana, maka aransemen big band adalah setelan tailored—rapi, presisi, dan membuat yang lama terlihat kembali mahal.
Di tangan Tohpati dan Tohpati Orchestra, lagu-lagu seperti “Selamat Datang Cinta”, “Asmaraku Asmaramu”, hingga “Cinta dan Damai” terdengar bukan sekadar dihidupkan kembali, tetapi ditafsir ulang dengan kedewasaan musikal.
Brass section yang tegas. Groove yang matang. Dinamika yang terkontrol. Tidak ada yang berlebihan, dan justru di situlah letak kemewahannya. Karena elegansi selalu tahu kapan harus berhenti.
Duo 90an yang Tidak Kehilangan Timing
Kemunculan Indy Barends dan Indra Bekti sebagai MC adalah keputusan yang cerdas. Bukan sekadar gimmick nostalgia, tetapi elemen dramaturgi.
Humor mereka terasa organik—tidak mencoba menjadi relevan untuk Gen Z, tetapi juga tidak terdengar usang. Mereka seperti pria yang tahu bahwa gaya terbaik adalah menjadi diri sendiri, dengan percaya diri yang tidak berisik. Dan penonton menyambutnya dengan tawa yang tulus.
Di ruang-ruang rapat Jakarta yang semakin hening dan serba layar, transformasi digital tak lagi terdengar sebagai jargon. Ia sudah menjadi infrastruktur gaya hidup korporasi—tak kasat mata, namun menentukan segalanya. Dari transaksi ritel hingga layanan publik, denyut ekonomi Indonesia kini berdetak dalam sistem.
Proyeksi e-Conomy SEA 2025 menempatkan nilai ekonomi digital Indonesia mendekati USD 100 miliar—terbesar di kawasan. Sementara itu, lebih dari 70 persen populasi telah terhubung ke internet, menurut Badan Pusat Statistik. Angka-angka ini bukan sekadar statistik; ia adalah cermin ketergantungan baru. Ketika sistem terganggu, dampaknya bukan hanya teknis—ia menyentuh reputasi, kepercayaan, dan kesinambungan bisnis.
Memasuki 2026, konsekuensi dari keputusan teknologi yang diambil pada fase ekspansi 2024–2025 mulai terasa. Banyak organisasi bergerak cepat: migrasi ke cloud, membuka akses hybrid, meluncurkan platform baru demi mengejar momentum. Namun kecepatan sering kali tidak berjalan beriringan dengan integrasi dan tata kelola yang matang. Kompleksitas pun tumbuh diam-diam.
Di balik dashboard yang tampak rapi, banyak perusahaan masih mengelola sistem pemantauan dan keamanan secara terpisah. Tools berbeda untuk jaringan, endpoint, identitas, hingga deteksi ancaman—tanpa satu pandangan menyeluruh. Dalam situasi krisis, keterbatasan visibilitas memperlambat respons. Downtime menjadi lebih dari sekadar gangguan; ia berubah menjadi risiko strategis.
Pengelolaan identitas dan akses menjadi titik krusial lain. Pola kerja hybrid dan kolaborasi lintas pihak memperbanyak pintu masuk ke dalam sistem. Tanpa pengawasan terpusat dan kebijakan yang konsisten, hak akses kerap bertahan lebih lama dari yang diperlukan. Di era digital, satu celah kecil bisa berdampak besar.
Di sisi lain, belanja teknologi terus meningkat, namun belum selalu sejalan dengan ketahanan. Tumpang tindih platform dan kurangnya konsolidasi membuat biaya membengkak tanpa peningkatan keamanan yang signifikan. Dalam lanskap ekonomi yang dinamis, efisiensi bukan lagi pilihan—melainkan keharusan.
Menyongsong 2026, fokus para pemimpin perlu bergeser dari ekspansi menuju konsolidasi elegan. Penyatuan operasional IT dan keamanan dalam satu kerangka kerja memungkinkan deteksi lebih cepat dan akuntabilitas yang lebih jelas. Pendekatan proaktif—dengan pemantauan berkelanjutan dan otomatisasi—menjadi standar baru, bukan lagi diferensiasi.
Ada generasi yang tumbuh dengan suara modem dial-up. Ada yang tumbuh dengan notifikasi. Yang terakhir inilah yang kini kita kenal sebagai Gen Z dan Gen Alfa—generasi yang sering diberi label: rapuh, tidak tahan banting, mudah bosan, kurang komunikatif. Tuduhan yang terdengar repetitif, nyaris klise.
Namun setiap generasi selalu tampak “terlalu” bagi generasi sebelumnya. Bedanya, kali ini konteksnya radikal.
Mereka lahir di era ketika hampir semua hal bisa diprediksi. Janji temu tak lagi perlu direncanakan berminggu-minggu. Perjalanan bisa dihitung durasinya sejak keluar rumah. Lokasi teman dapat dipantau. Perubahan rencana diperbarui real-time. Tidak perlu menunggu tanpa kepastian. Tidak perlu cemas dalam jeda.
Aplikasi memberi ramalan cuaca, peta digital memandu langkah, mesin pencari menjawab hampir semua pertanyaan dalam hitungan detik. Perpustakaan bergeser ke layar. Dunia berada dalam genggaman.
Beberapa peneliti menyebutnya certainty trap—jebakan kepastian. Ketika kepastian mikro hadir setiap hari melalui reminder, notifikasi, dan jawaban instan, otot psikologis untuk menghadapi ketidakpastian tidak sempat terlatih.
Di masa lalu, ruang resiliensi justru lahir dari hal-hal yang mengganggu: bus yang terlambat, teman yang tak datang, surat balasan yang dinanti berbulan-bulan. Ketidaknyamanan adalah pelatih yang diam-diam membentuk daya tahan. Hari ini, banyak ketidakpastian hilang sebelum sempat mendidik.
Secara psikologis, jika seseorang jarang berhadapan dengan ketidakpastian yang aman, toleransi terhadap ambiguitas melemah. Padahal kemampuan menahan ketidakjelasan adalah fondasi ketahanan emosional. Tanpanya, frustrasi terasa lebih tajam, dan kecemasan lebih cepat muncul.
Setahun sekali, Bali mendadak jadi versi “airplane mode”. Nggak ada clubbing, nggak ada macet, nggak ada drama. Pada 19 Maret 2026, Nyepi bikin satu pulau full shutdown selama 24 jam. Buat sebagian orang mungkin terdengar ekstrem. Buat yang tahu cara menikmatinya? Ini justru momen paling eksklusif.
Di atas tebing Jimbaran seluas 90 hektare, ayana bali meramu Nyepi jadi pengalaman yang bukan cuma sakral, tapi juga classy. Hening tetap hening, tapi tetap ada gaya.
Malam Sebelum Sunyi: Ogoh-Ogoh & Cultural Feast
Tanggal 18 Maret, vibe mulai terasa lewat pengerupukan. Parade ogoh-ogoh—patung raksasa simbol energi negatif—berjalan megah dan dramatis. Tahun ini ada Giri Murka dan Danu Murti, representasi kehancuran dan pembaruan. Filosofis, tapi tetap Instagram-worthy (postingnya nanti, ya).
Malamnya lanjut ke Magical Megobog and Cultural Dinner di Kampoeng Bali. Ritual, live performance, dan hidangan Bali autentik dalam setting terbuka. Ini bukan sekadar makan malam, ini dinner with storyline.
Kalau mau naik level secara intelektual (dan kelihatan pintar), mampir ke saka museum. Institusi budaya kontemporer ini sudah masuk radar global sejak dibuka 2024. Ada sesi diskusi soal filosofi Nyepi bareng Marlowe Bandem, lalu eksplorasi koleksi bersama Judith E. Bosnak. Culture, but make it compelling.
Alam, Warisan, dan Cara Hidup di Tanjung Kelayang Reserve
Di Kepulauan Belitung, lanskap tidak sekadar menjadi latar. Ia berbicara—melalui bongkahan granit raksasa yang bangkit dari laut sebening kristal, hutan yang menyentuh garis pantai, dan perairan yang sejak berabad-abad lalu menjadi jalur perlintasan manusia, gagasan, dan peradaban.
Di utara kepulauan ini, Tanjung Kelayang Reserve hadir bukan sebagai destinasi yang menuntut perhatian, melainkan sebagai penjaga—atas alam, atas ingatan, atas cara hidup yang tumbuh selaras dengan waktu.
Membentang seluas 350 hektare, kawasan ini merangkum pantai, pulau-pulau kecil, hutan, dan ruang budaya yang dilindungi. Sejak April 2021, Tanjung Kelayang Reserve menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark Belitung—sebuah pengakuan atas nilai geologi, keanekaragaman hayati, dan kehidupan kultural yang masih terjaga.
Namun lebih dari status, kawasan ini menyimpan sesuatu yang lebih subtil: rasa keterhubungan yang terus mengalir antara darat dan laut, masa lalu dan masa kini.
Belitung dibentuk oleh pergerakan alam dan sejarah maritim. Garis pantainya berubah mengikuti pasang surut; hutan-hutannya memagari cakrawala dengan kesenyapan; lautnya menyimpan jejak kapal-kapal yang dahulu melintasi Selat Malaka. Di kejauhan, Mercusuar Pulau Lengkuas—dibangun pada 1882 pada masa kolonial Belanda—masih berdiri, mengawasi perairan dengan keteguhan yang nyaris melampaui zaman.
Dahulu, Belitung merupakan bagian dari jaringan perdagangan maritim besar bersama Sriwijaya dan Muaro Jambi. Kini, yang tersisa bukan hiruk-pikuk, melainkan ketenangan yang terasa utuh.
Di Bali, restoran datang dan pergi seperti ombak. Yang bertahan lama? Biasanya bukan yang paling ribut, tapi yang paling paham timing. Da Maria termasuk yang terakhir.
Memasuki tahun kesembilan, restoran dan bar Italia di Seminyak ini melakukan sesuatu yang jarang: berevolusi tanpa krisis identitas. Tidak membuang DNA, tidak mengejar tren murahan. Mereka hanya melakukan satu hal yang tepat—menjadi lebih dewasa.
Sejak 2016, Da Maria dikenal sebagai tempat di mana pizza Neapolitan, koktail solid, dan malam yang panjang hidup berdampingan. Interiornya ikonik, crowd-nya kosmopolitan, musiknya selalu tepat sasaran. Ia bukan sekadar tempat makan; ia adalah titik temu. Dan di pulau dengan siklus venue yang kejam, status sebagai institusi adalah pencapaian serius.
Kini, Da Maria memasuki babak baru. Evolusi ini dipimpin oleh tim intinya sendiri di bawah Mexicola Group—kolektif hospitality yang tahu betul cara menciptakan tempat dengan karakter, bukan sekadar konsep. Nama mereka sudah cukup bicara: Motel Mexicola, Mosto, dan sekarang, Da Maria versi 2026.
Di dapur, Executive Chef Lorenzo De Petris—alumnus dapur berbintang Michelin seperti Ristorante Duomo dan Le Gavroche—memimpin arah baru bersama Group Beverage Director Denny Bakiev. Bar kini berada di tangan Luca Marcolin, mantan Zuma Dubai, bar yang tahu betul bagaimana memadukan presisi dan kesenangan.
“Ini bukan tentang mengubah Da Maria,” kata De Petris. “Ini tentang membiarkannya tumbuh.”
Ada jenis kemewahan yang tak merasa perlu menjelaskan dirinya sendiri. Di NIHI Sumba, ia bisa hadir dalam bentuk paling sederhana: semangkuk soto yang rasanya tak berubah sejak puluhan tahun lalu.
Lewat Hawker Legends, NIHI Sumba menghadirkan sebuah seri kuliner terkurasi yang mengundang para penjaga street food legendaris Indonesia ke dalam ruang resor. Bukan untuk memoles, apalagi mengangkatnya menjadi “fine dining”, tetapi untuk membiarkan hidangan-hidangan ini berdiri di atas reputasinya sendiri—jujur, konsisten, dan berakar.
Hawker Legends bukan perayaan sensasi. Ini adalah soal ketahanan. Tentang resep yang tak tunduk pada zaman, tentang teknik yang diwariskan tanpa banyak catatan, dan tentang rasa yang bertahan karena dipercaya, bukan karena dipasarkan.
Edisi pembuka, yang berlangsung pada 9–11 April, menghadirkan Soto Betawi H. Ma’ruf—nama yang tak membutuhkan pengantar panjang bagi siapa pun yang tumbuh bersama Jakarta. Berdiri sejak 1940, rumah makan ini hidup bukan dari inovasi agresif, melainkan dari disiplin menjaga hal-hal yang sudah benar sejak awal. Kuahnya tetap sama: santan yang kaya, diseimbangkan susu sapi, gurih tanpa pamer.
Kini diteruskan oleh Mufti Ma’ruf, generasi ketiga keluarga, Soto Betawi H. Ma’ruf dijaga seperti hubungan jangka panjang. Pelanggan datang kembali bukan karena penasaran, melainkan karena yakin. Mereka datang sebelum meninggalkan kota, setelah lama pergi, atau saat ingin mengingat sesuatu yang tak lagi mereka miliki. Di titik itu, soto bukan lagi sekadar makanan. Ia menjadi semacam ritual.
Lupakan bayangan Ramadan yang serba sunyi dan repetitif. Di Saudi, bulan suci justru hadir dengan gaya—tenang di siang hari, hidup dan bercahaya saat malam turun. Menyambut awal 2026, Saudi, Welcome to Arabia, brand konsumen dari Saudi Tourism Authority (STA), meluncurkan rangkaian penawaran perjalanan terbatas lewat kampanye global Ramadan bertajuk Embrace the Radiance of Ramadan Lights.
Intinya simpel: lebih dari 35 deal eksklusif, potongan harga hingga 45%, dan akses ke dua destinasi paling “hot property” di Saudi saat ini—AlUla dan The Red Sea. Cocok buat traveler Indonesia yang pengin Ramadan dengan vibe reflektif, tapi tetap classy dan berkelas internasional.
AlUla: Gurun, Sejarah, dan Kemewahan Tanpa Banyak Bicara
AlUla itu bukan destinasi buat pamer. Ini tempat buat mereka yang paham esensi. Tebing batu purba, langit malam dramatis, dan resort-resort yang desainnya nyaris menyatu dengan alam.
Selama Ramadan, penghematan yang ditawarkan bukan main-main: hingga 42% di Banyan Tree AlUla, 45% di Our Habitas AlUla, 35% di Ashar Tented Resort dan Chedi Hegra, serta 30% di Shaden Resort.