Home Blog Page 4

Espolòn Barrio Fiesta 2025

0

Two Cities, One Spirit — Louder Than Ever!

Ada sesuatu yang menarik dari cara Espolòn merayakan hidup. Bukan sekadar pesta tequila, tapi sebuah statement — bahwa keberanian dan kebebasan bisa terasa di setiap tegukan, di setiap dentuman musik, di setiap sorak orang yang menolak hidup datar-datar saja.

Tahun ini, Espolòn Barrio Fiesta kembali — bukan hanya dengan niat bikin ramai, tapi untuk mengingatkan kita semua: hidup itu harus dirayakan dengan rasa, warna, dan sedikit kegilaan. Dan yang menarik, pesta ini tak hanya berhenti di satu kota. Ia membelah diri jadi dua: Bali dan Jakarta — dua energi berbeda, tapi satu semangat yang sama.

Bali: Pesta di Bawah Langit Terbuka

Di Bali, tepatnya di La Brisa, 1 November nanti, Espolòn membawa atmosfer yang terasa lebih intimate tapi liar. Bayangkan: udara asin laut, senja yang terbakar oranye, musik rockabilly dari The Hydrant yang bikin kaki ikut bergerak, dan tangan yang tak pernah benar-benar kosong — selalu ada Paloma atau Margarita di situ.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Bukan cuma pesta. Ada semacam ritual sosial di sana. Orang-orang asing saling bertukar senyum, seniman jalanan membuat mural hidup, DJ memainkan set yang seperti berdialog dengan ombak. Semua berlangsung alami, seperti satu simfoni tak tertulis.

Espolòn tak sedang menjual minuman — mereka menjual perasaan. Rasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Sebuah komunitas kecil yang hidup hanya untuk malam itu, lalu lenyap saat pagi datang.

Jakarta: Semangat Pemberontakan yang Elegan

Jakarta punya cara berbeda untuk berpesta. Lebih cepat, lebih padat, dan lebih urban. Pada 7 November di Stalk, Espolòn akan mengubah suasana klub jadi visual playground — penuh cahaya, proyeksi tengkorak yang bergerak seperti hidup, dan musik yang menggetarkan dada.

Saya suka cara Espolòn tak pernah berusaha jadi “brand keren”. Mereka tahu mereka sudah keren. Mereka membiarkan kita ikut dalam dunia mereka — bukan dengan pretensi, tapi dengan keberanian.

Di malam Jakarta nanti, saya bisa bayangkan DJ lokal memompa energi tanpa henti, bartender menari sambil menuang, dan para tamu yang datang bukan hanya untuk minum, tapi untuk merayakan eksistensi. Karena kadang, keberanian untuk hidup dengan gaya sendiri sudah cukup untuk disebut revolusi.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

ManageEngine Bawa AI Canggih ke ServiceDesk Plus, Bikin Tim TI Kerja Lebih Cepat Tanpa Drama

0

Tim TI, bersiap-siap: ServiceDesk Plus dari ManageEngine kini punya generative AI (GenAI) terbaru yang bikin pekerjaan sehari-hari lebih cepat, cerdas, dan… tanpa ribet. Dari virtual agent pintar sampai pembuatan workflow otomatis, semua fitur ini bisa dipakai tanpa biaya tambahan.

Yang paling nyentrik? Ask Zia, virtual assistant berbasis AI yang kini bisa “ngobrol” denganmu layaknya manusia. Bisa memahami teks, gambar, menelusuri info di knowledge base, bikin ringkasan, sampai mengeksekusi tiket—semua lewat percakapan yang natural. Gak perlu lagi bolak-balik menu rumit, tinggal tanya, beres.

Wajib Baca: Membangun Mesin Uang di Era AI

Terus ada Ask Zia Workflow Assist, semacam “pakar workflow pribadi” yang bisa bikin alur kerja rumit jadi gampang hanya dari instruksi teks atau gambar. Mau bikin checklist, generate cuplikan JavaScript, atau dapat rekomendasi solusi otomatis dari tiket sebelumnya? Tinggal klik, semua beres.

Vice President ManageEngine, Umasankar Narayanasamy, bilang: “Integrasi AI ke ekosistem TI perusahaan itu kunci. Dengan fitur GenAI di ServiceDesk Plus, tim TI bisa lebih produktif, karyawan senang, dan keamanan data tetap terjaga.”

Bacaan Kekinian: AI Jadi Asisten, Kamu Jadi Bos

Pencapaian lain yang patut diacungi jempol: ManageEngine masuk 2025 Gartner® Magic Quadrant™ untuk AI Applications in ITSM. Ini jadi bukti mereka serius membawa AI bukan cuma sekadar gimmick, tapi benar-benar alat produktivitas bagi organisasi.

Singkatnya: AI di ServiceDesk Plus bukan sekadar fitur tambahan. Ini asisten super pintar untuk tim TI, siap bikin pekerjaan lebih cepat, rapi, dan bebas stres.

Cek lebih lanjut: ServiceDesk Plus | ManageEngine

Cuan dari ChatGPT: Mesin Duit Baru Jaman Now

Khazanah UNESCO: Delapan Keajaiban yang Menceritakan Kisah Saudi Arabia

0

Saudi Arabia. Nama yang selama ini identik dengan perjalanan spiritual, dengan Makkah dan Madinah sebagai dua poros sakral umat Islam di seluruh dunia. Namun di luar kisah suci itu, terbentang negeri yang menyimpan lapisan sejarah, arsitektur, dan keindahan alam yang nyaris tak tersentuh.

Inilah sisi lain Arabia—tempat di mana waktu seolah berhenti, dan gurun, batu, serta manusia berbicara dalam bahasa yang sama: keabadian.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Delapan situs Warisan Dunia UNESCO di Saudi bukan sekadar destinasi; mereka adalah fragmen sejarah yang hidup, potongan kisah manusia yang bertahan di tengah kerasnya alam, dan saksi dari kebangkitan sebuah peradaban.

1. Al-Hijr (Madâin Sâlih), AlUla

Bangun pagi di AlUla, dan cahaya pertama yang menyentuh dinding batu pasir membuat segalanya tampak seolah bernafas. Di sinilah, di Al-Hijr, lebih dari seratus makam Nabataean diukir dengan presisi surgawi. Dikenal juga sebagai Hegra, situs ini adalah “Petra” yang lebih tenang, lebih mistis.

Makam Lihyan bin Kuza, yang menjulang 22 meter, berdiri anggun di tengah gurun sepi—setengah selesai, setengah abadi. Saat matahari turun, batu berubah warna, dari emas ke merah bata, seperti narasi yang ditulis ulang setiap hari.

Slow Burn: Cerutu dalam Ritme Hidup Modern

Chef Muda Indonesia di Balik Kesuksesan Lulu Bistrot

0

Dua talenta lokal, Head Chef Austin Milana dan Sous Chef Airin Eddy, membawa semangat baru pada wajah kuliner Prancis di Bali. Kini, Lulu Bistrot resmi masuk daftar Tatler Best of Indonesia 2025.

Di dapur Lulu Bistrot, aroma beurre noisette bercampur lembut dengan kluwek dan air kelapa. Suasana hangat, tapi intens. Dari balik open kitchen itu, dua sosok muda memimpin orkestra rasa: Austin Milana dan Airin Eddy — dua nama yang kini ikut mendefinisikan era baru kuliner Indonesia.

Lulu Bistrot baru saja menorehkan prestasi penting: terpilih sebagai salah satu dari Tatler 20 Best of Indonesia 2025. Namun di balik penghargaan bergengsi ini, ada sesuatu yang lebih bermakna — dapur yang sepenuhnya digerakkan oleh chef muda Indonesia.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Prancis di Bali, Tapi Bukan Sekadar Prancis

Austin memulai perjalanannya di Surabaya, sebelum berlabuh di Skool Kitchen dan Bartolo — restoran saudara Lulu. Pengalamannya membentuk pendekatan khas terhadap dining: kasual, dekat, tanpa pretensi. “Saya suka suasana di mana tamu bisa benar-benar merasakan energi dapur,” ujarnya. “Itu yang bikin pengalaman bersantap jadi hidup.”

Lahir dari ayah Filipina dan ibu Indonesia, Austin tumbuh dengan dua karakter rasa. “Ayah suka yang asam dan gurih, sementara ibu masak dengan banyak rempah. Dari situ lidah saya terbentuk — selalu mencari keseimbangan antara dua dunia,” katanya.

Dari semangat itu lahir Jammin’ Chow, kolektif kuliner yang ia dirikan bersama dua rekannya, Ryan Theja (Costa) dan Vallian Gunawan (Kindling). “Kami sering kumpul, masak bareng, tukar ide,” kenangnya. “Itu semacam laboratorium kecil kami — tempat kami tetap lapar, dalam arti terbaik.”

Airin Eddy: Disiplin, Lembut, dan Penuh Rasa Ingin Tahu

Sementara Airin membawa sisi lain dapur Lulu: presisi dan ketenangan. Terinspirasi oleh sang nenek, seorang pembuat kue legendaris di keluarganya, Airin memperdalam keahliannya di Dewakan, Malaysia. “Di sana saya belajar bukan hanya memasak, tapi memahami filosofi di balik setiap bahan,” katanya.

Salah satu bahan yang selalu memikatnya adalah nangka. “Saya pernah lihat nangka diolah jadi teh — sederhana tapi elegan. Suatu hari, saya ingin membawa nangka ke meja makan Prancis. Karena buat saya, bahan lokal bisa seindah apapun kalau diolah dengan hati.”

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

7 Tempat Nginep di Saudi yang Bikin Liburan Lo Makin Panas

0

Saudi Arabia sekarang bukan cuma soal ziarah atau sejarah—negara ini lagi ngegas jadi playground mewah buat traveler yang mau pengalaman hot & luxe. Dari gurun epik sampai pantai Laut Merah yang bikin mata melotot, setiap hotel di sini bikin lo ngerasa kaya sultan. Ini tujuh yang wajib lo cek:

1. Dar Tantora, AlUla – Desert Vibes Level Maksimal

Bayangin lo bangun di rumah bata lumpur berusia ratusan tahun yang sekarang jadi hotel. Lampu temaram, vibe gurun, plus aktivitas bikin roti tradisional atau wellness ritual—semua bikin pengalaman lo beda dari yang lain.
➡️ dartantora.co

Panduan Kilat: Copywriting dan Desain Canva Otomatis dengan AI

AlUla? Think open-air museum + bintang di langit gurun yang bikin feed Instagram lo auto viral.

2. The Jeddah Edition – Rooftop Pool, Laut, dan Fashion

Edition Jeddah tuh definisi classy & sporty sekaligus. Rooftop pool-nya epic, diningnya bikin lo lupa diet, dan marina vibes-nya cocok buat sunset chilling.
➡️ editionhotels.com

Historic Al Balad buat lo yang suka cerita masa lalu, plus mall dan butik mewah buat lo yang demen fashion. Malamnya? King Fahd Fountain—air nyembur setinggi 312 meter. Cuma di Jeddah lo bakal lihat yang kayak gini.

Veo 3: AI Video Google yang Gokil Abis, Bikin Film Modal Teks! 

Markette’s Sizzling Plate: Ketika Makan Jadi Sebuah Pertunjukan

0

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, di jantung Grand Indonesia yang sibuk dan berkilau, ada aroma khas yang menggoda dari kejauhan—keju yang mulai meleleh di atas piring panas. Suaranya mendesis lembut, seperti pembuka orkestra yang menandakan sesuatu sedang dimulai. Bukan sekadar hidangan. Ini adalah Markette’s New Sizzling Plate Experience—sebuah pertunjukan kuliner di atas meja.

Markette tidak sekadar menyajikan makanan, tetapi menghadirkan sensasi yang menggoda seluruh indera. Begitu piring panas diletakkan di meja, aroma menggoda langsung menyapa; suara sizzle yang khas membangkitkan rasa ingin tahu; dan tampilan keju yang meleleh pelan-pelan, mengundang siapa pun untuk merekamnya sebelum mencicipinya. Di sinilah seni kuliner bertemu dengan momen—paduan antara rasa, suara, dan suasana yang sulit dilupakan.

Veo 3: AI Video Google yang Gokil Abis, Bikin Film Modal Teks! 

Restoran bergaya kasual-elegan ini telah lama menjadi favorit di kawasan Sudirman. Kini, Markette memperkenalkan kembali hidangan khasnya yang dulu dikenal sebagai Skillet, dengan nama dan semangat baru: The Sizzling Plate.

Konsepnya sederhana namun menggugah—hidangan yang dihidangkan langsung di atas piring panas, kini dengan sentuhan teatrikal yang membuat setiap kunjungan terasa seperti menghadiri sebuah pertunjukan eksklusif.

Sorotan utamanya jatuh pada Sizzling Cheese Plate, bintang baru yang menggoda dengan lelehan keju lembut dan cheese pull yang membuat kamera (dan hati) bergetar. Sambil tetap mempertahankan menu klasik yang dicintai, Markette juga memperkenalkan kreasi baru yang lebih berani, memadukan rasa yang hangat dan tampilan yang menawan—sempurna untuk lidah, dan tentu saja, untuk Instagram feed Anda.

Salah satu yang tak boleh dilewatkan adalah Cajun Chicken Cheese—ayam panggang juicy dengan bumbu Cajun pedas-gurih, disajikan langsung di meja dan diselimuti mozzarella leleh yang lembut dan kaya. Setiap suapan adalah harmoni antara pedas, gurih, dan creamy—paduan rasa yang begitu seimbang hingga terasa seperti melodi yang mengalun di lidah.

Untuk mereka yang menyukai aroma khas truffle, Creamy Truffle Chicken adalah sebuah serenade dalam bentuk hidangan: ayam berlapis parmesan renyah, disiram saus krim truffle yang lembut dan harum, memberikan pengalaman bersantap yang elegan namun penuh kenyamanan.

Dan tentu saja, dua favorit lama kembali dengan penampilan baru yang lebih menggoda: Parmesan-Crusted Chicken, ayam brine berlapis panko-parmesan emas dengan saus krim jamur truffle dan mozzarella meleleh; serta Markette’s Roasted Chicken, ayam panggang khas Markette yang disajikan panas-panas dengan saus spesial dan keju mendesis di atas piring panas. Keduanya membawa rasa nostalgia—namun kini dengan sentuhan kemewahan yang lebih kaya.

Wajib Baca: Membangun Mesin Uang di Era AI

Pantja Hospitality Group: Menyulam Kualitas, Keramahtamahan, dan Energi Baru di Jakarta

0

Di tengah gemerlap Senopati, ada sebuah destinasi yang menjadi perbincangan di antara pecinta kuliner dan koktail: Pantja. Restoran dan cocktail bar ini tidak hanya menyajikan makanan dan minuman, melainkan menghadirkan sebuah pengalaman—perpaduan antara keahlian kuliner, seni meracik koktail, musik, keramahtamahan, dan desain.

Dari tempat inilah lahir Pantja Hospitality Group, sebuah kolektif restoran dan bar yang dirintis oleh Kabir Suharan dan Rapha Menchaca. Berawal dari persahabatan dan kecintaan pada meja makan, keduanya merancang sebuah ekosistem hospitality yang kini mendefinisikan ulang cara orang Jakarta bersantap.

Seri Digital: Algoritma Bukan Musuhmu

Filosofi Lima Pilar

Nama Pantja, yang berarti lima dalam bahasa Sanskerta, merepresentasikan pilar inti: food, beverage, music, hospitality, dan design. “Ini bukan sekadar slogan, tapi prinsip yang kami jalankan setiap hari—mulai dari dapur hingga ruang makan,” ujar Kabir.

Website: Bukan Lagi Opsi, Tapi Kebutuhan

Pendekatan hands-on menjadi kunci. Rapha, sebagai Executive Chef, mengedepankan kepekaan rasa dan kualitas bahan, sementara Kabir menghidupkan bar dengan racikan koktail klasik berlapis cerita. Hasilnya adalah harmoni yang nyaris teatrikal—setiap detail terasa dipikirkan dengan teliti.

Cuan dari Rumah: 5 Bisnis Digital yang Bisa Kamu Mulai Hari Ini

Autumn in the Mediterranean: An Invitation from Explora Journeys

0

Ada sesuatu yang magis ketika musim panas Mediterania mulai mereda. Pantai-pantai yang tadinya riuh perlahan kembali sunyi, udara asin laut terasa lebih sejuk, dan cahaya sore menimpa dinding batu kota-kota kuno dengan rona keemasan yang lembut. Inilah Mediterania di musim gugur—lebih intim, lebih otentik, seakan berbisik hanya untuk mereka yang datang di waktu yang tepat.

Explora Journeys, merek perjalanan laut ultra-elegan dari MSC Group, menangkap momen istimewa ini. Lewat dua kapalnya, EXPLORA I dan EXPLORA II, mereka menghadirkan serangkaian pelayaran dari September hingga November 2025, membawa para tamu menyusuri laut biru yang dikelilingi mitologi, seni, dan ritme kehidupan lokal yang kembali pada kesehariannya.

Saat Mediterania Bernafas Lagi

Datanglah ke Saint-Tropez setelah musim pesta berakhir; Anda akan menemukan jalanan berbatu yang sunyi, kafe-kafe kecil yang dipenuhi penduduk lokal, dan aroma kopi yang bercampur dengan angin laut. Di Trapani, wangi anggur baru meruap dari kebun anggur yang baru selesai panen. Sementara di Mytilene, desa bercat putih di Lesbos tampak seakan berhenti dalam waktu, jauh dari keramaian turis musim panas.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

“Ini adalah periode ketika setiap destinasi kembali bernafas,” kata Anna Nash, President Explora Journeys. “Cahaya terasa lebih hangat, kehidupan lokal kembali pada ritmenya, dan para tamu bisa merasakan Mediterania secara lebih dekat, lebih personal.”

Perjalanan yang Bukan Sekadar Transit

Di atas EXPLORA I, rute membawa Anda melintasi Mediterania Timur—Athena, Istanbul, Antalya—tempat legenda Yunani dan mitos Bizantium hidup berdampingan dengan bazar rempah yang masih berdenyut. Ada malam-malam ketika kapal berlabuh semalam, memberi waktu bagi tamu untuk makan malam di tepi pelabuhan, menyatu dengan irama lokal.

Sementara itu, EXPLORA II berlayar di Mediterania Barat, menyusuri Riviera Prancis, Sisilia, dan hingga ke Lisbon. Di sana, glamour bertemu dengan kesederhanaan: Monte Carlo yang berkilau di malam hari, Ajaccio yang sarat jejak Napoleon, atau tebing vulkanik Lanzarote yang berdiri gagah, seakan menjadi penutup teatrikal bagi musim yang sedang berubah.

Lebih dari Sebuah Pelayaran

Explora Journeys tidak sekadar mengantar tamu dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Filosofi mereka adalah Ocean State of Mind—cara melihat laut bukan hanya sebagai latar, melainkan sebagai ruang untuk memperlambat waktu, menemukan kembali diri, dan membuka koneksi dengan dunia.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Costa Jakarta: Menyelami Cita Rasa Catalan di Jantung Senopati

0

Bayangkan langkah pertama Anda memasuki sebuah restoran di Jalan Gunawarman. Aromanya hangat, kayu panggang menebar wangi yang mengundang, suara piring beradu lembut terdengar dari dapur terbuka. Di sanalah Costa Jakarta menyambut—bukan sekadar restoran baru, tapi sebuah pengalaman kuliner yang berani, penuh warna, dan berjiwa Catalan.

Dipersembahkan oleh BIKO Group, penggagas Silk Bistro, Fūjin Izakaya, dan Acta Brasserie, Costa adalah perwujudan filosofi mar i muntanya—laut dan pegunungan—yang diterjemahkan oleh Chef Ryan Theja ke dalam setiap piring. Dari ikan segar yang baru saja ditangkap di Bali hingga sayuran terpilih dari pasar lokal, setiap hidangan memadukan kejujuran bahan dengan teknik modern, menciptakan rasa yang kuat namun elegan.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Suasana: Hangat, Kosmopolitan, Mengundang

Costa bukan hanya tempat makan. Ia adalah ruang di mana ritme Catalonia bertemu denyut Jakarta. Interiornya hangat, detailnya presisi, dan setiap sudut dirancang untuk mengundang percakapan, tawa, dan kesan abadi. Baik untuk makan siang bisnis, makan malam romantis, atau sekadar berkumpul bersama teman, Costa menghadirkan suasana yang intim sekaligus kosmopolitan.

Chef Ryan Theja: Dari Lombok ke Panggung Dunia

Lahir di Lombok, Ryan Theja tumbuh di dapur keluarga dan tepi laut. Perjalanan kulinernya dimulai di Le Cordon Bleu Sydney, lalu mengasah keterampilan di dapur ikonis seperti Bridge Room dan Bennelong Restaurant. Kembali ke Indonesia, ia mengangkat reputasi restoran Bali seperti Bartolo, Uluwatu dan Lulu Bistrot, meraih penghargaan Tatler Best in Asia dan Travel + Leisure Best Restaurants in Indonesia. Kini, semua pengalaman itu dituangkan dalam menu Costa yang memukau.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Fairmont Jakarta Rayakan Negroni Week dengan Kreasi Eksklusif di The Crown dan Bar on G

0

Fairmont Jakarta mengundang para penikmat koktail untuk merasakan sensasi Negroni Week, perayaan global yang digagas oleh Imbibe Magazine dan Campari, di mana bar-bar dan restoran di seluruh dunia bersatu mendukung tujuan amal. Dari 22 hingga 28 September 2025, The Crown by Kirk Westaway dan Bar on G membuka pintu bagi tamu untuk menikmati reinterpretasi kreatif dari salah satu koktail paling ikonik di dunia.

Di The Crown, Negroni tidak hanya diminum, tetapi dirayakan sebagai seni. Empat kreasi eksklusif hadir: Negroni klasik yang tak lekang oleh waktu, Negroni Sbagliato berkilau dengan sentuhan Sparkling Wine, P & C Negroni yang mengusung cita rasa lokal dari Coconut Gin dan Pandan Vermouth, serta White Negroni yang menyegarkan dengan Oregano Gin dan Campari Candy. Setiap gelas menghadirkan harmoni rasa yang memukau, seakan menceritakan kisah tersendiri.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Sementara itu, Bar on G mengubah pengalaman koktail menjadi petualangan personal. Para bartender ahli meracik tiga varian inovatif—Jasmine White Negroni, Gelato Negroni, dan Cocktail Flight—bersanding dengan Negroni klasik favorit. Dengan atmosfer hangat dan elegan, Bar on G memperpanjang menu spesial hingga akhir September, memberi tamu waktu lebih lama untuk menyelami kreativitas setiap varian.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Negroni Week di Fairmont Jakarta bukan sekadar perayaan rasa, tapi juga wujud dukungan terhadap inisiatif amal global. Di balik setiap gelas, ada semangat kebersamaan dan kontribusi nyata bagi yang membutuhkan.

Bergabunglah dengan Fairmont Jakarta, dan biarkan setiap tegukan membawa Anda pada pengalaman rasa, kreativitas, dan kemewahan yang tak terlupakan. (*)

Slow Burn: Cerutu dalam Ritme Hidup Modern