Home Blog Page 4

Vermouth, Sunset, Repeat

0

Saat Aperitivo Menemukan Rumah Baru di Bali

Di Uluwatu, waktu terasa punya ritme sendiri. Matahari tenggelam lebih dramatis, percakapan mengalir lebih panjang, dan—kalau tahu tempatnya—malam bisa dimulai tanpa rencana pulang yang jelas. Di tengah vibe itu, Bartolo datang dengan satu pesan sederhana: minum tak harus cepat, dan malam tak perlu terburu-buru.

Lewat program bar terbarunya, Vermouth in Hand, Bartolo tidak sekadar menambah daftar koktail. Mereka sedang menyuntikkan gaya hidup—yang di Eropa dikenal sebagai aperitivo—ke dalam lanskap sosial Bali yang selama ini identik dengan beach club dan party tanpa jeda.

Bedanya? Ini bukan tentang “seberapa keras lo minum,” tapi “seberapa lama lo mau stay.”

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Minum Pelan, Ngobrol Panjang

Konsep aperitivo itu sebenarnya simpel: minuman ringan sebelum makan malam, ditemani camilan kecil dan obrolan santai. Tapi di tangan Bartolo, konsep ini naik kelas—lebih curated, lebih playful, tapi tetap santai.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Vermouth jadi bintang utama. Minuman berbasis wine yang diinfus botanical ini punya karakter kompleks tapi ringan. Artinya? Lo bisa minum lebih lama tanpa feeling “too much too fast.” Dan itu disengaja.

Setiap koktail di menu baru—total 15 racikan—dibagi dalam profil rasa: dari yang segar dan fruity sampai yang savoury dan bittersweet. Bahkan kadar alkohol (ABV) dicantumkan. Transparan, tapi juga subtly mengajak: slow down, enjoy the ride.

The Luxury of Space: Perjalanan Mewah Menjelajah Indonesia

Paspor Baru Kaum Privileged

0

Cara Baru Menikmati Dunia Tanpa Benar-Benar “Menyewa”

Ada satu fase dalam hidup ketika hotel bintang lima mulai terasa… terlalu standar. Suite tetap suite, infinity pool tetap infinity pool. Lalu muncul pertanyaan yang lebih subtil: bisa nggak sih liburan terasa seperti pulang ke rumah—tapi di Tuscany, Santorini, atau Sumba?

Di sinilah ThirdHome masuk. Bukan sekadar platform, melainkan klub privat global yang bermain di wilayah abu-abu antara kepemilikan dan pengalaman. Dan kini, mereka resmi mengincar Indonesia.

PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital

Ketika Rumah Kedua Jadi Mata Uang Global

Konsepnya nyaris terdengar terlalu sederhana untuk pasar yang super-eksklusif: Anda punya rumah kedua—villa di Bali, chalet di Niseko, atau townhouse di London—dan Anda “menukarnya” dengan properti lain di jaringan global.

Dari Redaksi ke Algoritma: Pertempuran Bisnis Media di Era Digital

Tapi ini bukan barter ala backpacker. Ini levelnya curated, tertutup, dan sangat terjaga. Anggota ThirdHome menawarkan waktu menginap di properti mereka, lalu mendapatkan “Keys”—semacam kredit perjalanan—yang bisa ditukar dengan ribuan properti lain di dunia.

Hasilnya? Liburan di rumah senilai jutaan dolar, tanpa drama harga peak season.

Indonesia: Bukan Sekadar Pasar, Tapi Panggung Utama

Langkah ekspansi ke Indonesia bukan kebetulan. Bali sudah lama menjadi magnet global—“Pulau Dewata” yang terlalu cantik untuk diabaikan. Tapi cerita sebenarnya justru ada di luar Bali: Lombok yang semakin refined, Sumba yang masih liar tapi eksklusif, hingga pulau-pulau privat yang mulai masuk radar ultra-wealthy travelers.

Menariknya, tanpa kampanye besar-besaran pun, ThirdHome sudah mengumpulkan hampir 100 properti di Indonesia. Organik. Tanpa ribut. Tanpa billboard. “Indonesia adalah pilihan yang jelas,” kata Wade Shealey. “Kombinasi antara daya tarik global Bali dan kepadatan rumah kedua mewah di sini menciptakan momentum yang sulit ditandingi.”

Terjemahan bebasnya: pasar ini sudah siap—tinggal diaktifkan.

Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

Selling Houses in the Age of Algorithms

Ketika AI bukan lagi sekadar alat, tapi cara baru bermain.

Ada masa ketika menjual properti terasa sederhana—setidaknya di permukaan. Pasang listing. Tunggu telepon. Jadwalkan survei. Closing. Siklus itu masih ada hari ini. Tapi ritmenya sudah berubah. Lebih cepat. Lebih bising. Lebih… penuh distraksi.

Dan di tengah perubahan itu, AI Marketing untuk Properti: Dari Leads ke Deal karya Burhan Abe muncul bukan sebagai buku teknologi, melainkan sebagai semacam field manual untuk bertahan—dan, jika dimainkan dengan benar, unggul.

The Real Problem Isn’t Leads

Kita terbiasa percaya bahwa lebih banyak leads berarti lebih banyak peluang. Buku ini langsung menabrak asumsi itu. Masalahnya bukan kekurangan leads. Masalahnya adalah kelebihan leads yang tidak jelas. Dalam satu kalimat yang terasa seperti punchline sekaligus diagnosis, buku ini menyiratkan: aktivitas tinggi tidak selalu berarti progres.

Buku ini bisa diunduh dan baca di SINI ya.

Ini bukan kritik yang nyaman. Tapi jujur. Dan mungkin itu yang membuat buku ini terasa relevan sejak halaman awal.

Burhan Abe tidak mencoba terdengar akademis. Ia tidak mengajak pembaca masuk ke teori yang rumit. Sebaliknya, ia melakukan sesuatu yang lebih sulit: menyederhanakan.

Traffic. Leads. Prospek. Closing. Empat kata yang sering digunakan, tapi jarang benar-benar dipahami sebagai satu alur. Di tangan buku ini, semuanya diposisikan sebagai sistem—bukan kejadian acak. Dan di situlah letak pergeserannya. Dari bekerja keras… menjadi bekerja terarah.

Liburan Sambil Berkarya?

0

Di Hotel Ini, Seniman dari Seluruh Dunia Melakukannya

Kalau biasanya hotel identik dengan tempat istirahat, di La Residencia, A Belmond Hotel ceritanya agak beda. Di sini, tamu bukan cuma rebahan sambil lihat pemandangan—tapi juga bisa “nebeng inspirasi” dari para seniman dunia yang lagi berkarya langsung di lokasi.

Terletak di desa kecil Deià, di pulau Mallorca, hotel ini baru saja mengumumkan program kolaborasi bareng LOEWE Foundation. Intinya sederhana: mereka mengundang seniman terpilih dari berbagai negara untuk tinggal selama dua bulan, lalu bikin karya yang terinspirasi dari alam sekitar. Dan ya, ini bukan gimmick marketing. Ini serius.

Bikin E-Course Berbasis AI: Script, Voice Over, dan Materi Dibantu AI, Siap Jual

Hotel yang Lebih Mirip Galeri Hidup

Bayangkan menginap di tempat yang punya lebih dari 800 karya seni asli, tersebar di seluruh area hotel. Dari kamar, restoran, sampai jalur jalan santai—semuanya terasa seperti galeri yang “hidup”.

Jadi Clipper Penghasil Cuan dengan AI Gratis: Ini Tutorialnya

Di sinilah kekuatan Belmond terasa. Mereka bukan cuma jual kamar mahal, tapi pengalaman. Dan di La Residencia, pengalaman itu adalah: hidup pelan, menikmati seni, dan (kalau beruntung) ngobrol langsung sama senimannya.

Tiga Seniman, Tiga Cerita

Tahun ini, ada tiga seniman yang terpilih:

  • Kaori Juzu (Jepang) – fokus pada karya perhiasan berbasis logam dengan pendekatan konseptual
  • Deirdre McLoughlin (Irlandia) – bermain dengan bentuk keramik yang eksperimental
  • Dahye Jeong (Korea Selatan) – mengolah tekstil dengan teknik anyaman rambut kuda

E-Book Cashflow Machine: Ubah Ide Sederhana Jadi Mesin Uang Otomatis

UNBOUND: Resonating Light

0

Ketika Logam Berdenyut dan Lanskap Bicara Balik

Jakarta belakangan ini makin sering memberi ruang untuk seni yang tidak sekadar “indah dilihat,” tapi juga mengganggu dengan cara yang tepat. Pameran UNBOUND: Resonating Light di NODE by ISA Art and Design adalah salah satu contohnya—bukan tipe pameran yang selesai dalam satu putaran mata, tapi yang diam-diam ikut pulang bersama kamu.

Dua nama yang dipertemukan di sini bukan datang untuk berkompromi. Diane Tuft, dengan lanskap fotografisnya yang dingin sekaligus menghantui, berdialog dengan Allyson Jeong yang justru bermain di wilayah panas: logam, tekanan, dan energi yang dipaksa menjadi bentuk.

Hasilnya? Bukan sekadar kontras. Tapi semacam percakapan yang terasa… jujur.

The Crisis Playbook 2026: Bertahan di Era Algoritma yang Tidak Waras

Seni yang Tidak Lagi Diam

Ada satu benang merah yang langsung terasa: material tidak lagi jadi objek mati. Di tangan Tuft, lanskap bukan latar belakang, tapi aktor utama yang sedang kelelahan. Gletser, garis pantai, dan permukaan bumi yang ia tangkap terlihat seperti lukisan surealis—indah, tapi dengan rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan.

Ini bukan foto yang minta dipuji. Ini foto yang seperti bilang, “lihat lebih lama, kalau berani.”

Sementara itu, Jeong melakukan hal sebaliknya. Ia mengambil sesuatu yang keras, dingin, industrial—kuningan dan baja tahan karat—lalu memaksanya “hidup”. Gelombang, lipatan, dan repetisi dalam karyanya terasa seperti denyut nadi yang dibekukan di tengah gerakan.

Digital Marketing: Bukan Cuma Posting, Tapi Bikin Orang Beli

Kalau karya Tuft terasa seperti napas bumi yang tersengal, karya Jeong adalah detak tubuh manusia yang mencoba menyesuaikan diri.

Bacalah Selama Hayat Dikandung Raga: IQRA!

Sabotase Diri

0
Oleh Eileen Rachman dan Emilia Jakob

Ada satu jenis kelelahan yang tidak bisa diselesaikan dengan tidur delapan jam, yoga pagi, atau bahkan cuti panjang ke Bali. Ia lebih halus, lebih licin, dan sering menyamar sebagai “standar tinggi” atau “tanggung jawab profesional.” Padahal, diam-diam, ia sedang menggerogoti dari dalam.

Kita menyebutnya: sabotase diri.

Di dunia kerja modern, kita sudah akrab dengan istilah burnout—kelelahan akibat tekanan yang terlalu lama, target yang tak ada jeda, dan ekspektasi yang terus naik tanpa rem. Burnout itu nyata, kasat mata, dan relatif bisa ditangani: rekalibrasi target, komunikasi dengan atasan, atau sekadar mengambil jeda untuk mengisi ulang energi.

Mesin Uang AliExpress: Cara Mencetak Dolar Lewat Dropshipping

Tapi sabotase diri? Ia tidak datang dengan alarm. Ia muncul sebagai keraguan kecil sebelum klik “send.” Sebagai revisi ke-12 untuk pekerjaan yang sebenarnya sudah cukup. Sebagai “nanti dulu” yang diulang sampai kesempatan lewat begitu saja. Ia tidak berisik. Justru karena itu, ia berbahaya.

Ambisi, yang Diam-Diam Berbalik Arah

Standar tinggi itu seksi—di CV, di LinkedIn, di ruang rapat. Tapi perfeksionisme? Itu cerita lain. Perfeksionisme membuat kita percaya bahwa semua harus tepat sebelum bergerak. Masalahnya, dunia tidak menunggu kita selesai merapikan detail. Dunia bergerak, dengan atau tanpa versi terbaik kita.

Behind The Stage: Bisnis Gila Dunia Showbiz Musik Indonesia

“Perfection is the enemy of progress,” kata pepatah lama. Klise, tapi tetap relevan—terutama ketika kita mulai membandingkan diri dengan orang lain yang tampak selalu satu langkah di depan. Di titik itu, perfeksionisme berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap: imposter syndrome.

Kita mulai merasa tidak cukup pintar. Tidak cukup siap. Tidak cukup pantas. Dan dari sana, sabotase diri mulai bekerja.

Alasan yang Terlihat Masuk Akal

Ada satu trik klasik dalam sabotase diri: self-handicapping. Kita tidak mempersiapkan diri sepenuhnya. Kita menunda. Kita bekerja setengah hati. Bukan karena tidak mampu—justru karena kita mampu, dan takut membuktikan sebaliknya.

Karena kalau gagal setelah benar-benar berusaha, itu menyakitkan. Lebih aman berkata, “Saya tidak sempat,” daripada harus mengakui, “Saya sudah mencoba, tapi tetap gagal.” Itu bukan kemalasan. Itu mekanisme perlindungan.

Otak Kita, Sayangnya, Tidak Netral

Masalahnya, otak manusia bukan mesin objektif. Ia bias. Satu kritik kecil bisa menghantui berhari-hari. Sepuluh pujian? Lewat begitu saja. Kita seperti velcro untuk pengalaman negatif, dan teflon untuk yang positif. Yang buruk menempel, yang baik meluncur. Dari sini, narasi mulai terbentuk. Bukan dari fakta, tapi dari cerita yang kita ulang terus-menerus.

The Crisis Playbook 2026: Bertahan di Era Algoritma yang Tidak Waras

Koh Samui, But Make It Effortless

0

Ada dua tipe orang saat liburan: yang bikin spreadsheet, dan yang muncul di bandara dengan satu tas, percaya hidup akan mengurus sisanya. Club Med jelas membangun bisnis untuk tipe kedua—dan sekarang mereka membawa filosofi itu ke Koh Samui.

Lewat kolaborasi dengan Central Group, mereka menyiapkan Exclusive Collection Koh Samui—resor yang tidak mencoba terlihat mewah, tapi terasa mahal sejak Anda tidak perlu memikirkan apa pun.

The Luxury of Space: Perjalanan Mewah Menjelajah Indonesia

Jakarta Unfiltered: Panduan Jitu Menaklukkan Jakarta

Luxury That Doesn’t Try Too Hard

Mari jujur: “all-inclusive” sering diasosiasikan dengan buffet tak berujung dan gelang plastik yang agak menyedihkan. Club Med sudah lama meninggalkan itu. Di Koh Samui, mereka bermain di level berbeda:

  • 303 kamar dengan desain yang tidak berisik, tapi tepat
  • Pantai privat 200 meter—cukup panjang untuk merasa Anda punya pulau sendiri
  • Aktivitas dari olahraga air sampai wellness, tanpa perlu buka aplikasi atau tanya resepsionis setiap lima menit

Intinya sederhana: Anda tidak datang ke sini untuk mengatur hidup—Anda datang untuk hidup.

Slow Burn: Cerutu dalam Ritme Hidup Modern

Ayana Ajak Keluarga Menjelajah Dua Sisi Indonesia

0

Dari Tebing Bali hingga Lautan Komodo

Musim liburan sekolah selalu menjadi momen yang tepat untuk merencanakan perjalanan keluarga yang lebih bermakna. Tahun ini, AYANA Bali dan AYANA Komodo Waecicu Beach menghadirkan konsep liburan yang berbeda: satu perjalanan, dua lanskap, dan pengalaman yang sama-sama memanjakan keluarga.

Dari tebing laut Jimbaran yang tenang hingga gugusan pulau eksotis di Taman Nasional Komodo, AYANA mengajak tamu menikmati Indonesia dari dua karakter alam yang kontras namun saling melengkapi. Perjalanan ini bukan sekadar staycation mewah, melainkan pengalaman keluarga yang menggabungkan relaksasi, eksplorasi alam, budaya lokal, hingga aktivitas outdoor untuk segala usia.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Memulai Liburan di Tengah Alam Tropis Bali

Perjalanan dimulai di kawasan Jimbaran, Bali Selatan, tempat AYANA Bali berdiri di atas area seluas 90 hektare yang menghadap langsung ke Samudra Hindia. Jauh dari hiruk-pikuk area wisata yang lebih padat, resor ini menawarkan suasana yang lebih tenang dengan kombinasi taman tropis, garis pantai tebing, dan fasilitas lengkap dalam satu kawasan.

Empat hotel berbeda, puluhan restoran, belasan kolam renang, hingga akses trem internal membuat pengalaman menginap terasa praktis untuk keluarga. Anak-anak pun punya banyak ruang untuk bermain dan bereksplorasi.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Di RIMBA Jungle Adventure, misalnya, area bermain dirancang untuk mendorong aktivitas fisik sekaligus imajinasi. Ada pula Sproutroots dengan zipline dan area panjat terbuka, Lumincave yang lebih nyaman untuk anak usia dini, hingga AYANA Ocean Adventure yang menghadirkan konsep permainan bertema laut.

Bagi keluarga yang ingin anak-anak tetap aktif sambil belajar selama liburan, tersedia program seperti Guidepost Montessori Children’s Adventure Camp dan Green Camp AYANA yang menggabungkan aktivitas alam dengan pendekatan edukatif.

Tak hanya untuk anak-anak, pengalaman di Bali juga terasa lebih kaya lewat sentuhan budaya lokal. Keluarga dapat menikmati pertunjukan tari tradisional di Kampoeng Bali, mengenal pertanian berkelanjutan di AYANA Farm, hingga mengunjungi SAKA Museum yang menghadirkan perspektif modern tentang warisan budaya Bali.

The Luxury of Space: Perjalanan Mewah Menjelajah Indonesia

A New Rhythm of Entertaining at METT Singapore

0

Di tengah kota yang nyaris tak pernah berhenti seperti Singapore, cara orang berkumpul sedang berubah. Bukan lagi soal duduk manis mengikuti rundown acara yang kaku, tapi tentang menciptakan momen yang terasa—lebih personal, lebih hidup, dan ya, lebih Instagrammable tanpa harus dipaksakan.

Di sinilah METT Singapore masuk, bukan sekadar sebagai venue, tapi sebagai mood setter. Terletak di dalam rimbunnya Fort Canning Park, properti berusia 100 tahun ini menemukan ritme barunya: menggabungkan heritage kolonial dengan energi sosial yang terasa sangat “now”.

The AI Edge: Cara Tetap Relevan di Era Mesin Pintar

Image

Dari Ballroom ke Afterparty, Tanpa Kehilangan Tempo

METT tidak lagi melihat event sebagai satu titik, tapi sebagai perjalanan. Bayangkan: sebuah gala dinner yang mengalir ke aperitivo santai di terrace, lalu berujung pada cocktail session yang “kebablasan enak” di bar.

Wajib Baca: Membangun Mesin Uang di Era AI

Image

Grand Ballroom seluas hampir 1.000 meter persegi menjadi pusat gravitasi—megah tanpa terasa kaku. Sementara Junior Ballroom menawarkan fleksibilitas dengan sentuhan visual dari pohon-pohon banyan yang ikonik. Di luar ruangan, terrace terbuka memberi perspektif kota yang kontras dengan hijaunya taman—sebuah kombinasi yang jarang gagal. Dan ketika malam terlalu panjang untuk diakhiri, 84 kamar dan suite di properti ini memastikan Anda tidak perlu jauh-jauh pulang. Praktis, tapi tetap terasa eksklusif.

Cuan dari ChatGPT: Mesin Duit Baru Jaman Now

Dari Semarang ke Bangkok

Saat Koktail Indonesia Naik ke Panggung Rooftop Asia

Ada momen ketika sebuah kota “berbicara” tanpa perlu banyak kata—cukup lewat aroma, rasa, dan sedikit keberanian untuk bereksperimen. Itulah yang terjadi ketika KoenoKoeni Hotel Semarang membawa identitasnya melintasi batas, dari Semarang ke Bangkok, dan mendarat tepat di salah satu rooftop bar paling playful di kota itu.

Pada 28 April 2026, Sato San Rooftop Bar—berlokasi di Moxy Bangkok Ratchaprasong—berubah menjadi panggung lintas budaya. Bukan sekadar guest shift, tapi semacam “soft opening global” bagi filosofi KoenoKoeni bahwa cerita Indonesia bisa disajikan dalam gelas, diminum perlahan, dan tetap terasa relevan di tengah hiruk-pikuk kota internasional.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Ketika Rasa Jadi Bahasa Universal

Sato San dikenal dengan pendekatan berani—menggabungkan akar Thai-Isaan dan Jepang lewat fermentasi, nasi, dan teknik tradisional yang dipoles modern. Dalam konteks itu, kehadiran KoenoKoeni terasa bukan sebagai tamu, tapi sebagai partner dialog.

Di balik bar, Rifki Sofiyuddin—atau Rifqbarman—tidak sekadar “menuangkan minuman.” Ia menerjemahkan memori. Lebih dari satu dekade pengalaman di Dubai, Singapura, hingga Hong Kong membentuk gayanya: presisi teknis, tapi emosional secara rasa.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Menu yang ia bawa bukan gimmick “eksotis”. Ini interpretasi serius:

  • Javanese Sour — whisky bertemu asam jawa dan lime segar. Rasanya? Seimbang, tajam, tapi punya kedalaman yang lingering.
  • Fruity Sambal Martini — sambal, tapi bukan seperti yang kamu bayangkan. Watermelon slow-cooked, vodka tomat, dan chili oil menciptakan sensasi pedas-manis yang halus, bukan agresif.
  • Salted Negroni San — twist elegan dari klasik. Gin, vermouth, Campari, lalu dipeluk salted caramel dan sparkling coconut water. Lebih lembut, lebih kompleks—dan sedikit “tropical mischief”.

Setiap gelas bukan cuma soal rasa, tapi konteks. Tentang bagaimana Indonesia bisa hadir tanpa jadi klise.

The Luxury of Space: Perjalanan Mewah Menjelajah Indonesia