Home Blog Page 7

Dari Bandung ke London: Adhi, Anak Indonesia di Jantung AI Dunia

0

Di balik layar kecerdasan buatan yang hari-hari ini mengubah cara manusia bekerja, belajar, bahkan bercinta—ada nama Adhi. Lahir dan besar di Bandung, kini dia bermarkas di London sebagai peneliti di DeepMind, laboratorium AI milik Google yang reputasinya setara “Mount Olympus” di dunia sains komputer.

Kalau dengar cerita awalnya, rasanya nggak ada yang terlalu istimewa. Anak kampus yang tekun, belajar coding, lalu lanjut studi ke Oxford. Tapi seperti kata pepatah, hard work beats talent when talent doesn’t work hard. Adhi punya kombinasi keduanya: otak encer dan etos kerja kelas berat.

Hari Gini Belum Tau? Membangun Mesin Uang dengan AI

Jembatan dari Nusantara ke Dunia

Bedanya Adhi dengan banyak diaspora lain? Dia nggak putus urat nadi dengan tanah air. Tahun 2019, jauh sebelum “AI” jadi kata paling seksi di LinkedIn, Adhi pulang kampung bikin AI Summer School di Jakarta. Gratis. Anak-anak muda Indonesia yang biasanya cuma bisa baca paper dari jauh, tiba-tiba duduk di kelas, belajar langsung dari orang yang kesehariannya ngoprek mesin otak digital paling mutakhir.

Tak berhenti di situ. Dia juga jadi motor di balik proyek dataset Bahasa Indonesia dan bahasa daerah, yang dibiayai Google lalu dilepas sebagai open source. Artinya, siapa pun—dari mahasiswa di Yogya sampai startup di Makassar—bisa pakai bahan baku AI yang sama dengan Silicon Valley. Bayangin kalau nggak ada dataset itu, mungkin model bahasa macam Gemini bakal lebih paham bahasa Islandia ketimbang bahasa Jawa.

Bacaan Wajib di Era AI: AI Jadi Asisten, Kamu Jadi Bos

London: Antara Ambisi dan Rindu Rumah

Kerja di DeepMind bukan sekadar “prestasi diaspora.” Itu artinya Adhi tiap hari duduk bareng otak-otak paling tajam di dunia. Nama-nama yang kerap jadi rujukan paper ilmiah ada di ruang meeting yang sama.

Tapi di sela ambisi global itu, ada rindu yang tetap membayang. “Kadang kangen makan nasi padang atau ngobrol pakai bahasa Sunda tanpa mikir grammar,” katanya dalam satu wawancara. Sesederhana itu: di balik model jutaan parameter, ada anak Bandung yang tetap cari sambal dan suara motor knalpot berisik.

Role Model yang Jarang Terlihat

Indonesia punya banyak orang pintar. Tapi jarang yang punya kombinasi: mendunia, lalu masih ingat pulang. Adhi adalah contoh bahwa kontribusi global bisa berjalan beriring dengan dedikasi lokal.

Dia bukan cuma bikin AI makin pinter di London, tapi juga memastikan Indonesia nggak cuma jadi konsumen teknologi. Bagi anak muda yang bercita-cita main di panggung dunia, cerita Adhi ini semacam GPS: rute mungkin panjang, tapi jalannya ada.

Adhi bukan sekadar ilmuwan AI asal Indonesia di London. Dia adalah jembatan: antara Bandung dan King’s Cross, antara bahasa daerah dan Gemini, antara ambisi global dan kerinduan kampung halaman.

Cuan dari ChatGPT: Mesin Duit Baru Jaman Now

“Behind The Stage”: Buku Paling Rock Tentang Bisnis Musik yang Pernah Ditulis Orang Waras

0

Kalau lo pikir industri musik itu cuma soal panggung, sound system, dan lighting keren, lo belum tahu apa-apa. Di balik keriuhan konser dan suara penonton, ada perang urat saraf, drama rider, cuan miliaran, dan keputusan bisnis yang bisa bikin orang bangkrut dalam semalam. Dan semua itu, dibongkar habis oleh jurnalis senior Burhan Abe lewat bukunya: Behind The Stage: Bisnis Gila Dunia Showbiz Musik Indonesia.

Konser Musik = Medan Perang + Bursa Saham

Buku ini bukan dongeng pengantar tidur. Ini semacam surat cinta bercampur peringatan keras buat lo yang pengin nyemplung ke dunia konser dan event musik. Burhan ngebuka semua: dari era rock zaman Orba, konser Bon Jovi dibom sound system-nya, sampai zaman TikTok yang bisa ngatur line-up festival.

Buat yang ngaku “anak gigs” atau “festival hunter”—lo bakal ngerti kenapa harga tiket bisa nyentuh jutaan, dan kenapa promotor itu kadang nekat setengah mati bawa artis luar negeri (dan berharap dolar nggak naik seminggu sebelum event). Ada juga nama-nama legend yang harus lo kenal: Adrie Subono, Peter Gontha, Rini Fatah, sampai anak muda gila-gilaan dari Ismaya Live dan Boss Creator.

Dari Dangdut Sampai DWP – Semua Ada di Sini

Buku ini nggak mandang bulu. Konser koplo di lapangan desa, event tribute band di kafe, sampai Djakarta Warehouse Project yang skala biayanya kayak nyelenggarain nikahan selebritas, semua dibahas. Lo dikasih lihat gimana ekonomi konser jalan dari receh ke miliaran, gimana crew bisa pingsan karena kerja 16 jam nonstop, sampai gimana rider artis bisa ngacauin acara cuma karena kurang minuman warna ungu (yup, ada!).

Bisa diunduh di SINI ya.

Kenapa Lo Harus Baca Ini?

  • Karena lo bakal ngerti bisnis konser itu sekeras ring UFC.
  • Karena ini bukan cuma hiburan, ini tentang duit, ego, dan adrenalin.
  • Karena lo gak mau jadi promotor baru yang senasib sama yang bangkrut habis bawa artis Korea.
  • Dan karena… siapa tahu lo dapet ide gila buat bikin event sendiri (dan kaya raya, atau minimal nggak rugi duluan).

Ada juga cerita tentang Anggun yang menembus global, Inul Daratista dengan goyangnya dan bisnisnya, dan Wika Salim yang tahu cara main di dua dunia: panggung dan pasar digital.

Download bukunya di sini 👉 Bisnis Gila Dunia Showbiz Musik Indonesia

Lo suka konser, musik, atau mimpi jadi promotor? Buku ini kayak survival guide + reality check + cerita edan, dijilid jadi satu. Bacaan wajib sebelum lo pasang panggung, atau sebelum beli tiket VVIP cuma buat konten IG. (Hana G. Haniah)

Slow Burn: Saatnya Menikmati Hidup Pelan-Pelan Lewat Cerutu, dari Jember hingga Lounge Mewah Jakarta

0

Kalau selama ini Anda mengira cerutu hanya milik kalangan pria tua berperut buncit yang duduk di kursi kulit besar sambil menyesap whisky, buku ini akan mematahkan semua stereotip itu. Slow Burn, karya Burhan Abe, justru menghadirkan wajah baru dunia cerutu — lebih hangat, lebih dekat, bahkan makin inklusif, termasuk untuk kaum perempuan dan generasi muda.

Buku ini merunut perjalanan cerutu Indonesia dari ladang tembakau di Jember yang legendaris, ke pabrik-pabrik tradisional seperti Taru Martani di Yogyakarta yang sudah berdiri sejak 1918, sampai ke cigar lounge paling berkelas di Jakarta, Bali, maupun Medan. Anda akan diajak menyusuri kisah Boss Image Nusantara (BIN) Cigar, produsen asal Jember yang tembakaunya diekspor hingga ke Eropa dan Timur Tengah, mengangkat nama Indonesia sebagai salah satu pemain penting di industri cerutu dunia.

Tidak berhenti di industri dan sejarah, Slow Burn juga menyelami fenomena gaya hidup cerutu — bagaimana lounge-lounge eksklusif seperti Churchill di Hotel Borobudur, Club Macanudo Jakarta, hingga Habanos Terrace di The Apurva Kempinski Bali menjadi tempat berkumpul para profesional, eksekutif muda, selebriti, hingga komunitas cigar enthusiast.

Lewat buku ini, Anda akan menemukan bagaimana cerutu bukan hanya soal asap dan gengsi, tapi soal komitmen pada waktu, memberi diri Anda izin untuk melambat, berbincang, atau sekadar menikmati me time dengan ritual kecil yang menyenangkan.

Menariknya lagi, buku ini memotret semakin banyak perempuan yang mulai menikmati cerutu. Bukan sekadar gaya-gayaan, tapi sebagai wujud self-reward — persis seperti menikmati segelas prosecco atau sepotong dark chocolate tanpa rasa bersalah. Ada cerita tentang lounge-lounge yang female friendly, pairing cerutu dengan dessert atau koktail ringan, sampai tips untuk pemula agar tak salah pilih.

Bisa diunduh di SINI ya.

Selain itu, bagi Anda yang punya jiwa wirausaha atau tertarik dunia luxury hospitality, buku ini juga membuka mata tentang potensi bisnis cerutu di Indonesia. Dengan populasi kelas menengah atas yang terus tumbuh dan makin gemar pada pengalaman autentik, cerutu bisa jadi salah satu ceruk pasar gaya hidup yang sangat menarik.

Disajikan dengan gaya tutur ringan dan banyak kutipan menarik dari para penikmat cerutu (termasuk publik figur seperti Jeremy Thomas dan Benny Prasetyo sang “cigar evangelist”), Slow Burn terasa seperti sahabat ngobrol santai di sore hari — membahas cita rasa tembakau, lounge-lounge unik, hingga komunitas cigar yang kini semakin semarak.

Unduh & baca selengkapnya di: 👉 Slow Burn, Cerutu dalam Ritme Hidup Modern

Temukan kenapa cerutu bisa jadi cara elegan untuk merayakan hidup — perlahan, berkelas, dan penuh cerita. Siapa tahu ini akan jadi ritual kecil favorit Anda berikutnya. (Iin S. Batara)

Wine Not? — Ketika Segelas Anggur Menyimpan Cerita

0

Apa yang ada di benak Anda saat mendengar kata “wine”? Mewah? Barat banget? Atau mungkin… rumit? Banyak dari kita langsung membayangkan suasana elegan, sommelier yang fasih menyebut nama anggur dengan aksen Prancis, dan suasana yang terkesan jauh dari keseharian. Tapi tunggu dulu—buku Wine Not? karya Burhan Abe datang untuk membalik persepsi itu.

Sebagai jurnalis gaya hidup dan ekonomi yang lama berkecimpung di dunia kuliner dan hospitality, Abe menyajikan pengalaman pribadinya mengenal wine secara perlahan, alami, dan membumi. Bukan lewat sekolah atau kursus mahal, tapi lewat tugas liputan, festival kuliner, dan—yang paling menarik—komunitas kecil pencinta wine di Jakarta.

Buku ini mengalir seperti obrolan hangat di rooftop bar kota besar: ringan, menyenangkan, dan penuh insight. Dari Wine for Asia di Singapura, Wine & Cheese Festival di Jakarta, wine tour ke Australia, sampai pengalaman wine tasting di tengah diplomasi kuliner di Madrid, Spanyol—semuanya diceritakan dengan gaya narasi yang tidak menggurui. Kita juga diajak mengenal tokoh-tokoh di balik industri wine di Indonesia.

Yang membuat buku ini menarik bukan hanya isi ceritanya, tapi juga semangatnya: bahwa wine bukan sekadar budaya asing yang elit dan eksklusif. Wine bisa menjadi bagian dari keseharian kita, asal kita terbuka untuk mencicipi—dan memahami sedikit demi sedikit.

Dapatkan bukunya di SINI ya.

Jangan khawatir kalau kamu belum hapal beda Merlot dan Chardonnay, atau belum pernah mencicipi wine sama sekali. Justru buku ini cocok untuk pembaca seperti itu. Karena seperti kata penulisnya, wine tak perlu dimengerti sepenuhnya untuk bisa dinikmati. (Ely Alvaro Gibran)

Jadi… Wine Not? 🍷

Menikmati Warisan Kuliner Belitung di Tanjung Kelayang Reserve

0

Pulau ini nggak cuma punya pasir putih dan laut biru. Dia juga tahu cara bikin lidah lo jatuh cinta.

Belitung selalu terdengar seksi: pantai cantik, batu granit raksasa, dan laut yang bikin lo pengen langsung nyemplung. Tapi di balik semua postcard-perfect scenery itu, ada satu hal yang sering bikin turis balik lagi—kuliner lokalnya. Dan kalau ada satu tempat yang bisa jadi pintu masuk buat nikmatin semua itu dengan gaya, jawabannya: Tanjung Kelayang Reserve.

Kawasan seluas 350 hektare di pesisir utara Belitung ini bukan sembarang resort area. Ia bagian dari UNESCO Global Geopark—alias paket lengkap: alam dilindungi, laut sebening kaca, dan, yang paling penting, makanan yang bikin lo lupa diet.

Wine Not? Cerita, Rasa, dan Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Anyaman Rasa yang Maskulin tapi Hangat

Belitung punya kuliner yang terbentuk dari hasil kawin silang budaya: Melayu, Tionghoa, plus cita rasa lokal. Dan kombinasi ini melahirkan hidangan-hidangan yang bukan cuma kenyang, tapi juga bikin lo merasa kayak lagi ikut sejarah.

  • Gangan: Sup ikan kuning dengan kunyit dan potongan nanas. Rasanya? Hangat, segar, dan tajam. Cocok banget jadi comfort food setelah berenang atau… habis satu botol bir.
  • Mie Belitung: Ini bintang jalanan yang nggak boleh lo lewatin. Mie kenyal disiram kuah kari udang gurih, ditambah kentang empuk, tahu lembut, tauge, dan kerupuk melinjo yang renyah. Messy but addictive, persis kayak hubungan yang nggak bisa lo hindari.
  • Mie Tionghoa-style: Versi lebih halus, pakai saus atau kuah bening, plus topping daging gurih. Kalau Gangan itu petualang liar, mie ini kayak gentleman in a suit.
  • Kopi Belitung: Lupakan latte art. Di sini kopi hitam disajikan pekat, tanpa ampas, aromanya mantap. Kalau mau yang lebih nakal, coba kopi susu kental manis. Paduan pahit dan manis yang bikin lo sadar: hidup memang butuh keseimbangan.

Dari Reserve ke Piring Lo di Sheraton Belitung Resort

Sekarang bayangin: lo lagi nginap di Sheraton Belitung Resort, di jantung Tanjung Kelayang Reserve. Lo bangun, liat sunrise, lalu mikir: “Apa yang bisa bikin hari ini lebih sempurna?” Jawabannya: makan.

🔥 Weekend Seafood Feast
Bayangkan ikan kakap merah segar, cumi, dan udang yang baru diturunin dari kapal nelayan pagi itu. Semua dilempar ke bara api, dipanggang pelan-pelan sampai aromanya bikin lo lapar bahkan sebelum piring nyampe meja. Disajikan dengan kerupuk, kelapa muda, sup ikan, sayuran, dan nasi. Harga? Mulai Rp150.000 net per orang. Tambah seafood segar? Bayar sesuai beratnya. Simple, straight, seperti lo lagi belanja di pasar, tapi versi lebih kece.

Bacaan Menarik: Slow Burn, Cerutu dalam Ritme Hidup Modern

Banyan Group Perluas Portofolio di Tiongkok Timur dengan Angsana Zhoushan dan Homm Wenzhou Nanxijiang

0

Memasuki dua dekade kehadiran di Tiongkok, Banyan Group menegaskan posisinya sebagai pemain utama perhotelan global dengan 36 properti beroperasi, serta target mencapai hotel ke-100 pada November mendatang.

Banyan Group (SGX: B58), perusahaan perhotelan independen berbasis di Singapura, kembali menegaskan dominasinya di pasar Tiongkok—pasar terbesar dalam jaringan global mereka—dengan pembukaan Angsana Zhoushan dan Homm Wenzhou Nanxijiang di Provinsi Zhejiang.

Langkah ini menambah portofolio menjadi 36 hotel beroperasi di Tiongkok, bagian dari strategi ekspansi jangka panjang yang menempatkan negeri tersebut sebagai pilar utama pertumbuhan.

Menjelang akhir tahun, dua properti baru lainnya akan hadir: Banyan Tree Zhuhai Phoenix Bay dan Dhawa Beihai Weizhou Island. Puncaknya, pada November 2025, Banyan Group akan meresmikan Mandai Rainforest Resort by Banyan Tree di Singapura—sekaligus menandai tonggak historis sebagai properti global ke-100.

Bacaan Wajib tentang PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital

“Pembukaan ini bukan hanya memperkuat momentum pertumbuhan di Tiongkok, tetapi juga menjadi simbol perjalanan 20 tahun kami di pasar yang sangat strategis,” ujar Philip Ding, Senior Vice President, Hotel Operations & Business Development, China, Banyan Group. “Zhejiang, dengan lanskap dan kekayaan budayanya, merupakan panggung ideal untuk menghadirkan keragaman merek kami, dari Angsana yang penuh semangat eksplorasi hingga Homm yang lebih berfokus pada kenyamanan rumah.”

Angsana Zhoushan — Menyatu dengan Vitalitas Pulau

Terletak di kawasan yang dijuluki “kota seribu pulau”, Angsana Zhoushan berdiri di kaki Gunung Wujian, bersebelahan dengan Wuling Wetland Park, dan menghadap ke panorama Thousand Island Coast. Lokasi ini strategis, hanya 15 menit dari terminal feri dengan akses langsung ke destinasi ikonik seperti Gunung Putuo dan Pulau Dongji.

Hotel dengan 222 kamar dan vila ini menggabungkan material alami dengan kenyamanan modern, sebagian dilengkapi onsen pribadi dan halaman dalam. Fasilitas unggulan mencakup Angsana Spa, Angsana Onsen dengan 16 kolam luar ruang, area yoga dan meditasi, hingga kolam renang indoor berpemanas.

Simak Rahasianya: Cuma Modal HP, Bisa Cuan dari YouTube

Sailing Through Flavours: Dominique Crenn Bawa Sentuhan Gastronomi ke Les Bateaux Belmond

0

Bayangkan ini: Anda sedang berlayar pelan di kanal tenang Prancis, angin musim panas berhembus lembut, segelas anggur Bordeaux di tangan. Lalu, di meja makan, muncul sepiring soupe au pistou segar dengan aroma herba pasar Provence. Itulah pengalaman baru yang ditawarkan Les Bateaux Belmond, berkat sentuhan Chef Dominique Crenn—satu-satunya chef perempuan di Amerika yang dianugerahi tiga bintang Michelin.

Musim ini, Crenn mengkurasi menu spesial di tujuh “villa terapung” Belmond. Hidangannya bukan sekadar makanan, tapi potongan cerita dari daratan yang dilalui. Di utara, tamu bisa mencicipi trout roe, morel, hingga Kugelhopf manis dengan aroma jeruk. Sementara di selatan, laut dan Mediterania jadi inspirasinya: mulai dari Raviole du Dauphiné yang hangat, hingga sea bream panggang ditemani chorizo wortel dan tart lemon–olive oil yang segar.

Must Read Book: Jakarta After Dark

“Bagi saya, memasak adalah cara berhubungan dengan lanskap, budaya, dan orang-orang,” kata Crenn. Dan memang, setiap bahan diambil langsung dari pasar lokal sepanjang jalur pelayaran.

Yang lebih menarik, Belmond juga membuka rute baru Bordeaux lewat kapal Alouette. Jadi, selain makanannya, Anda bisa menyusuri kebun anggur ikonik, mencicipi wine di château bersejarah, hingga mengikuti pengalaman wellness yang terinspirasi dari anggur.

Les Bateaux Belmond sendiri adalah pengalaman slow travel sejati: kapal kecil penuh gaya, hanya 4–12 tamu, hampir satu kru untuk tiap penumpang, dengan fasilitas privat yang membuatnya terasa seperti villa eksklusif di atas air—beberapa bahkan punya plunge pool pribadi.

Harga mulai dari €9,385 per orang untuk enam malam tujuh hari berlayar. Dan percayalah, ini bukan sekadar liburan; ini adalah perjalanan yang membuat Anda ingin melambat, menyeruput anggur, dan membiarkan waktu berjalan pelan—dengan rasa Prancis di setiap suapan. (*)

Wine Not? Cerita, Rasa, dan Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Golfcation di Delonix Hotel Karawang

0

Ketika Lapangan Hijau Bertemu Relaksasi Modern

Matahari Karawang baru saja naik, udara pagi terasa segar dengan hembusan angin dari hamparan hijau yang luas. Para pegolf bersiap di tee box, sementara di kejauhan, siluet LotusLakes Golf Club terlihat elegan. Bagi mereka yang ingin menggabungkan ritme permainan golf dengan kenyamanan menginap yang berkelas, Delonix Hotel Karawang menghadirkan sebuah penawaran istimewa: “Golfcation”—paket yang memadukan aktivitas olahraga dengan relaksasi modern, berlaku mulai 1 Agustus hingga 20 Desember 2025.

Dari Fairway ke Fasilitas Premium

Dengan harga mulai dari IDR 900.000++ per malam, tamu mendapat akses mudah ke dua destinasi golf favorit di Karawang: Palmsprings Golf dan LotusLakes Golf Club. Layanan shuttle gratis siap mengantar kapan pun Anda ingin—entah untuk tee time pagi yang penuh semangat, permainan sore di bawah cahaya keemasan senja, atau bahkan sesi malam yang lebih santai.

Modal Gajet Jadi Cuan: 10 Cara Praktis Hasilkan Uang dari Internet

Begitu kembali ke hotel, suasana berubah. Ketenangan menyambut di Golf Wing Studio: kamar bergaya modern dengan fasilitas lengkap, ruang luas, dan atmosfer yang dirancang untuk melepas lelah setelah satu putaran penuh di lapangan.

Kuliner yang Memanjakan Selera

Tidak hanya golf dan kenyamanan kamar, pengalaman “Golfcation” semakin lengkap dengan hidangan yang siap mengisi energi. Menu sarapan dan makan siang dirancang dengan sentuhan internasional—mulai dari BBQ Chicken Wing hingga Steak Sandwich dan Beef Burger dengan kentang goreng renyah. Sebuah perayaan sederhana atas nikmatnya waktu luang, ditemani segelas minuman segar.

Delonix Hotel berdiri strategis di kawasan industri Karawang, hanya beberapa menit dari gerbang tol Jakarta-Cikampek dan Karawang International Industrial City (KIIC). Namun begitu melangkah ke dalam, atmosfernya bergeser—dari hiruk pikuk bisnis menjadi sebuah oasis modern.

Dengan 289 kamar yang terdiri dari unit hotel dan residensi berlayanan, properti ini menggabungkan fleksibilitas gaya hidup urban dengan nuansa resort. Sebagai bagian dari AYANA Hospitality, Delonix membawa standar layanan internasional yang berpadu dengan keramahtamahan lokal.

Bacaan Menarik: Slow Burn, Cerutu dalam Ritme Hidup Modern

Bawa Semangat Juara Dunia, Indonesia AeroPress Championship 2025 Kembali Digelar

0

Di balik denting sendok dan aroma kopi yang baru digiling, ada sebuah panggung kecil di mana para juara masa depan ditempa. AeroPress—alat sederhana yang lahir dari inovasi seorang insinyur mainan di Amerika—hari ini menjelma menjadi simbol ketekunan, kreativitas, dan persaingan sehat. Dan di Indonesia, semangat itu menemukan rumahnya.

Tahun 2025, Indonesia AeroPress Championship (IAC) kembali digelar. Lebih dari sekadar kompetisi, ajang ini adalah panggung di mana barista-barista muda membuktikan bahwa kopi Indonesia tidak hanya kuat di ladang, tetapi juga elegan di meja kompetisi dunia.

Dari Medan, Bandung, Hingga Jakarta

Perjalanan menuju puncak dimulai dari Medan, ketika Gilang Pramudian menundukkan lawan-lawannya pada 28 Mei 2025. Bandung menyusul, dengan Yohannes Junarto melangkah gagah sebagai pemenang regional pada 2 Juli 2025. Kini, Jakarta bersiap menjadi saksi terakhir sebelum mahkota nasional ditentukan: pada 3 September di Kopi Fest Indonesia, dilanjutkan dengan final sehari setelahnya.

Coffee Break! Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup dalam Secangkir Kopi

Dari sekian banyak tangan yang menekan plunger AeroPress, hanya satu yang akan berhak mewakili Indonesia di World AeroPress Championship (WAC) 2025 di Seoul, 5–6 Desember mendatang.

Membawa Api dari Lisbon

Setahun lalu, Sophan Nugraha berdiri di Lisbon, Portugal. Dengan tangan yang tenang dan hati yang berapi-api, ia berhasil membawa Indonesia ke posisi kedua dunia—prestasi yang belum pernah dicapai sebelumnya. Itu bukan sekadar kemenangan pribadi, melainkan api yang kini diwariskan kepada generasi berikutnya.

Otten Coffee, yang sejak awal konsisten mendukung perjalanan ini, memastikan api itu tidak padam. Dukungan yang mereka berikan bukan hanya tiket dan akomodasi, melainkan juga ekosistem pengetahuan, dari sesi mentoring hingga akses resep juara yang terdokumentasi dengan rapi dalam aplikasi mereka. Resep-resep itu bukan sekadar formula, melainkan catatan perjalanan: kisah para barista yang berani bereksperimen dan menantang standar.

Kompetisi AeroPress selalu menghadirkan paradoks indah. Di satu sisi, ini tentang presisi: suhu air, gramasi kopi, waktu seduh, tekanan plunger. Namun di sisi lain, ini tentang intuisi: bagaimana seorang barista membaca karakter biji, memahami keunikan origin, lalu menerjemahkannya menjadi rasa yang berbicara.

Main Threads? Baca Rahasianya: Modal Jempol, Panen Rupiah

Retorika Gagah, Realita Masih Tertatih

0

Pidato Prabowo pada 15 Agustus 2025 memancarkan semangat “tak gentar pada yang besar dan kaya.” Retorikanya rapi, mengutip Pasal 33 UUD 1945,membangkitkan warisan Bung Karno, Bung Hatta, dan Sjahrir. Ia menampar istilah serakahnomics ke wajah oligarki, seolah ingin mengukir citra presiden yang memihak rakyat kecil.

Namun, jika kita menurunkannya ke lantai realitas, pemandangannya tak setegas kata-kata itu. Memang, Kejaksaan Agung menunjukkan gigi—menggebuk perkara ekspor CPO, timah, hingga kredit Sritex. Penyitaan triliunan rupiah dari korporasi raksasa memberi kesan bahwa “yang besar” bisa disentuh hukum.

Tetapi pada saat yang sama, KPK seperti kehilangan nafas panjangnya—hanya dua OTT dalam setengah tahun, legislasi penting seperti RUU Perampasan Aset dan Pembatasan Uang Kartal terombang-ambing di Prolegnas, bahkan tak masuk prioritas. Dan di titik ini, kelemahan Prabowo makin terlihat: ia tidak punya nyali untuk menegur atau merombak KPK yang masih diisi figur pilihan era Jokowi, membiarkan lembaga itu terus tumpul.

Bacaan Wajib tentang PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital

Lebih jauh, keberaniannya juga dipertanyakan dalam eksekusi hukum yang sudah inkrah. Hingga kini, Jaksa Agung tidak kunjung mengeksekusi Silvester, relawan Jokowi yang divonis bersalah, dan Prabowo tidak terlihat memberi perintah tegas. Sementara itu, upaya membawa pulang MRC, mafia migas buronan yang menjadi simbol busuknya tata niaga energi, nyaris tak terdengar progresnya—menunjukkan lemahnya diplomasi hukum dan koordinasi lintas negara.

Ada pula kebijakan yang tergesa dan kontroversial, seperti pemblokiran massal rekening dormant oleh PPATK. Tujuannya mungkin mulia, tapi eksekusi dan komunikasinya menimbulkan erosi kepercayaan.

Komitmen antikorupsi sejatinya bukan sekadar pidato dan operasi besar yang dramatis, melainkan konsistensi sistematis—memperkuat lembaga, merapikan hukum, dan memastikan tak ada “jendela belakang” untuk kompromi. Selama empat prasyarat ini belum terpenuhi—UU perampasan aset, KPK yang tajam, kebijakan AML yang presisi, keberanian menyentuh semua lapisan kekuasaan, dan ketegasan mengeksekusi putusan, retorika “tak ada yang kebal” akan tetap berada di ranah janji, belum menjadi napas pemerintahan.

Singkatnya, era Prabowo memang menunjukkan percikan gebrakan, tapi masih jauh dari api komitmen yang menyala penuh. Tanpa keberanian mengunci sistem, menindak kawan politik, dan menghapus celah kompromi, “serakahnomics” hanya akan berganti wajah, bukan hilang dari panggung. (Dari Group Diskusi dengan Babo)

UMKM Naik Kelas? Cara Sederhana Go Digital dan Cuan Maksimal