Home Blog Page 73

Bunga Perjalanan Sufi Cinta: Candra Malik & Sujiwo Tejo

0

Menapaki Ramadhan, Galeri Indonesia Kaya bersama Candra Malik & Sujiwo Tejo mempersembahkan suatu pertunjukan yang berjudul Bulan Suci yang merupakan akronim dari Bunga Perjalanan Sufi Cinta. Bersama dengan Minladunka Band dan Sufi Tarian, pengunjung dapat menyaksikan penampilan ini di Auditorium Galeri Indonesia Kaya pada 12 Juli 2014 pukul 15.00 WIB.

Pertunjukan ini menghadirkan musik religi dari album Kidung Sufi karya Candra Malik dan perjalanannya keliling daerah dan pesantren dua tahun terakhir. Candra Malik menghadirkan para Sufi dari berbagai latar belakang untuk memberikan pandangan mengenai bagaimana Sufi hidup dan berbaur dalam keseharian masyarakat.  

“Sufi dalam pertunjukan ini merupakan cara untuk memurnikan jiwa dan hati serta mendekatkan diri kepada Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui musik dan tarian yang ditampilkan, saya berharap para penonton di Galeri Indonesia Kaya dapat larut dalam dimensi rohani yang mampu mencerahkan kehidupan spiritual. Semoga penampilan ini dapat mengedukasi serta mendekatkan masyarakat akan pentingnya arti kehidupan melalui Sufi,” ujar Candra Malik.  

Candra Malik menyajikan ilustrasi visual karya Asthie Wendra yang telah mengelola dua konser besar Candra Malik; yaitu Konser Kidung Sufi Sangkala Djiwa di Bandung bersama 8 band papan atas pada penghujung 2012 dan tur konser Ngabuburit 2013 bersama legenda musik Iwan Fals di 11 titik di Jawa Barat pada Ramadhan 2013.  

Bersama Minladunka Band, Candra Malik membawakan lagu-lagu religi, seperti Seluruh Nafas, Hasbunallah, Fatwa Rindu, Allahu Ahad, Samudera Debu, Pulang Bahagia, dan Syahadat Cinta. Sujiwo Tejo akan membawakan dua lagunya berjudul Ingsun dan Rahvana’s Solikoquy. Lagu-lagu religi ini dimainkan dalam instrumentalia musik bambu yang terus dikembangkan oleh Endo Suanda. Etnomusikolog dari Bandung ini juga memberi materi workshop tentang Musik dalam Tradisi Islam Nusantara yang akan menambah pengetahuan para pengunjung Galeri Indonesia Kaya.

Tak hanya itu, Syekh Syamsi Rizki menyampaikan paparan tentang Sufi dan Tari Berputar. Syamsi Rizki adalah Sufi dari Thariqat Naqsabandiy Haqqani yang berba’iat kepada Syekh Hisyam al Kabbani. Beliau belajar menari berputar sebagaimana yang diajarkan oleh Sufi Besar Jalaluddin Rumi dan pertama diekspresikan oleh Abu Bakar Shidq RA.  

Melengkapi pertunjukan ini, pengunjung Galeri Indonesia Kaya juga diajak untuk berdiskusi bersama Sujiwo Tejo. Seniman serbabisa ini akan memaparkan proses kreatif dan relijiusitas seniman dalam menghasilkan suatu karya.  

The Mobile Challenge

0

Oleh Burhan Abe

MALE, salah satu pelopor majalah digital interaktif, sudah memasuki edisi ke 90, dengan jumlah pembaca yang makin membesar, ditandai dengan total download yang sudah menembus 30 juta. Ini, antara lain, karena jumlah pemakai mobile device – yang di dalamnya terdapat smartphone, phablet, dan tablet di Indonesia, juga makin membesar.

Populasi ponsel Android global saat ini sudah menembus 1 miliar, sedangkan iOS mencapai 700 juta. Sedangkan Indonesia menduduki posisi 5 besar dengan pengguna aktif sebanyak 47 juta, atau sekitar 14% dari seluruh total pengguna ponsel.

Sementara itu, riset terbaru Gartner pada Juni 2014 mengungkapkan, pengapalan tablet di seluruh dunia naik menjadi 256 juta unit pada 2014 dibandingkan 2013 sebesar 206 juta unit – dan diprediksi akan naik menjadi 320 juta unit pada 2015. Internet Trends Report melaporkan bahwa orang di dunia saat ini sudah menghabiskan 20% waktunya untuk di ponsel dan tablet, naik dari 12% tahun 2013.

Meskipun demikian, bujet iklan mobile baru 4% dari total anggaran, naik 3% dari tahun lalu. Ini kebalikan dari media cetak, yang masih menerima 19% dari investasi iklan, meskipun mengambil hanya 5% dari waktu konsumen.

Iklan di MALE

Ada sejumlah hambatan bagi pengiklan seluler potensial. Tantangan-tantangan tersebut di antaranya tingkat pelacakan (di Google) yang berbeda-beda, tidak adanya format iklan standar yang sekaligus bisa bekerja di beberapa perangkat, serta jaringan yang tidak merata. Jaringan adalah kendala yang lumayan serius, meski di beberapa negara tantangan ini dengan cepat segera ditangani.  Peningkatan kecepatan nirkabel terus-menerus terjadi, di Eropa, misalnya, dengan peluncuran 4G dan di AS dengan 4G LTE.  

Menurut John McLaughlin, seorang digital entrepreur yang berbasis di Manhattan, salah satu tantangan yang potensial adalah merancang halaman yang terlihat baik di semua perangkat. Smartphone dan tablet tidak mempunyai ukuran yang baku, dengan layar yang beragam. Bahkan perangkat mobiledari Apple, misalnya, terbagi menjadi iPad, iPad Mini, dan serta iPhone dengan berbagai ukuran layar.  

Untuk pelacakan dan atribusi, Google telah memperkenalkan Estimated Cross-Device Conversions in Adwords yang memudahkan pengiklan melacak di berbagai perangkat, baik di mobile maupun di deskop. Facebook juga telah merilis Custom Audiences untuk memungkinkan pengiklan memasang iklan lintas-perangkat yang ditargetkan kepada pengguna yang mengunjungi situs web mereka atau menggunakan aplikasi mobile mereka.  

Adapun format iklan mobile, Interactive Advertising Bureau telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan internet terbesar untuk memastikan pedoman industri dan spesifikasi iklan selalu up to date, melalui program Mobile Rising Stars – sebuah inisiatif untuk membakukan format iklan mutakhir. Facebook, yang bukan bagian dari program ini, telah berinovasi dengan cepat dan pengujian beberapa format iklan di news feed-nya. Mark Zuckerberg mengklaim iklan aplikasi mobile yang ada di FB telah diunduh 350 juta hingga 1 miliar per bulan oleh pengguna aktif  via ponsel.  

Facebook juga meluncurkan Ad Network pada akhir April 2014, yang memungkinkan pengiklan untuk mendorong iklan mobile yang sudah ada – yang sebelumnya hanya bisa dilihat dalam Facebook – untuk jaringan aplikasi pihak ketiga. Platform mereka mencakup semua yang sudah ada dan memungkinkan iklan bisa menjangkau sasaran dengan sangat tepat.  

Bukan hanya di aplikasi iklan saja yang lepas landas.  Menurut sebuah laporan yang dirilis awal 2014 oleh Marlin Software, sebuah perusahaan manajemen periklanan, pencarian di Google via Mobile di AS meningkat hampir 21% pada smartphone dan 23% pada tablet.  

Inovasi di semua lini (dari produsen perangkat, jaringan iklan, dan bisnis) telah membantu tingkat konversi – persentase pengunjung website yang membeli – pada tablet mengalahkan komputer konvensional untuk pertama kalinya. Tingkat konversi tahun lalu untuk smartphone dan tablet melonjak masing-masing 57% dan 67%, dibandingkan dengan 36% untuk komputer.

If advertisers can rise to the mobile challenge, the rewards will be huge.

Sumber: Editor’s Note MALE Edisi 90

Revolusi Mental

0

Istilah “Revolusi Mental” sangat populer belakangan ini. Tapi tanpa disadari  sesungguhnya revolusi telah terjadi di ranah kebudayaan populer. Bukan hanya menyangkut kreativitas, tapi juga perangkat keras atau pun lunaknya. Sebutlah di industri musik, perangkatnya selalu mengalami perubahan terus-menerus, dimulai dari piringan hitam, kaset, compact disc (CD), hingga MP3 yang dikenal sebagai musik digital, yang dapat menyimpan data dalam jumlah besar, jangka panjang, dan berjaringan luas.

Sepanjang 1960 hingga 1970-an terjadi revolusi besar-besaran di panggung kebudayaan populer, khususnya di dunia musik, dan hiburan pada umumnya. Kebudayaan populer bukan lagi sekadar hiburan, tapi meliputi beragam bentuk kreativitas, mulai dari pelampiasan rasa cinta hingga yang berbau politik.  

Revolusi besar dianggap sudah berlalu dan terus dinamis. Namun, tanpa disadari, sebenarnya kembali terjadi revolusi budaya populer pada awal 1980-an. Di dunia musik khususnya, perekam yang dikenal saat itu adalah piringan hitam—yang sudah mulai ditinggalkan ketika itu, dan berganti dengan kaset yang lebih kompak dan ringan dibawa.  

Perubahan terjadi ketika Sony merilis CDP-101, peranti yang digunakan untuk membaca compact disc. Kerja sama antara Sony dan Philips kemudian menghadirkan bentuk CD. Kedua produsen elektronik ini sudah sejak pertengahan 1970-an melakukan penelitian mengenai CD. Baru sekitar akhir 1970-an keduanya bekerja sama.  

CD rekaman pertama yang dirilis adalah Alpine Symphony yang digarap oleh Richard Strauss. Kemudian album Living Eyes milik Bee Gees menyusul. Bee Gees memperkenalkan teknologi digital dan albumnya itu melalui BBC lewat program Tomorrow’s World pada 1981. Setahun kemudian, keluarlah CD yang kita kenal saat ini.  

Pada paruh kedua 1982, CDP-101, yang diproduksi oleh Sony, dilempar ke pasar bersamaan dengan CD album milik Billy Joel berjudul 52nd Street. Harga alat ini sangat mahal kala itu. Maka tak semua orang mampu membelinya, hanya kalangan tertentu yang dapat membawanya pulang.  

Tapi revolusi tersebut masih tertutupi oleh keberadaan kaset yang naik kelas saat itu, dengan hadirnya perangkat pemutar portabel Walkman. Kemudian pemutar kaset di mobil juga kian beragam dan kualitasnya semakin baik. CD kala itu harus tersambung dengan sistem audio yang kompleks untuk mendapatkan suara yang baik dan enak didengar. Tentunya perangkat itu tidaklah portabel. Sejak 1970-an, CD sudah berevolusi menjadi media rekaman.  

Format Berubah, Aturan Berganti

Ketika bentuk fisik sudah tak ada, bukan berarti aturan pun lenyap. Ketika kualitas CD semakin baik, tentunya dengan durasi yang lebih panjang, yang disusul dengan pemutarnya yang juga kian bermutu dan murah, lantas CD menjadi pilihan yang terbaik dibanding kaset. Pada awal 1990-an, pendistribusian CD mulai tampak. Perusahaan rekaman mulai menggunakan CD, dan sedikit demi sedikit meninggalkan kaset sebagai media rekaman. Total pada 2000 penjualan CD rekaman mencapai angka 2,5 miliar keping.  

The Éclair as Part of Brand-Wide Reinvention of the Classic French Treat

0

Signature Éclairs at Le Méridien Bali Jimbaran Unlocks Local Flavours for an Elevated Guest Experience

Le Méridien Hotels & Resorts announced the launch of its first-ever global éclair programme, Le Méridien Éclair, in partnership with award-winning pastry chef and new LM100 member, Johnny Iuzzini. As part of the brand’s newest culinary programme, Le Méridien Bali Jimbaran will offer guests the opportunity to indulge in a variety of modern twists on the chic Parisian pastry, with the resort’s French-born executive chef, Hugo Thiebaut, at the helm. Le Méridien Bali Jimbaran will offer three signature flavours – coffee, chocolate and vanilla – as well as unique creations inspired by Indonesia and its seasonal ingredients.

“We are thrilled to present the sweet French treats loved by many, the Éclairs. This mouth-watering treat infused with local-inspired flavours are made available at WaLa and is a delightful companion for the sweet-toothed to go with a cup of coffee or tea”, said Hugo Thiebaut the Executive Chef of Le Méridien Bali Jimbaran  

Throughout the months of June and July guests of Le Méridien Hotels & Resorts will also be encouraged to upload and share their experiences on social media using #LMeclairs.   

Le Méridien hotels around the world will continue to feature a variety of destination-inspired éclairs, offering guests an authentic taste of the local cuisine and culture, from the Maple Bacon Éclair and Texas Honey Pecan Éclair at Le Méridien Dallas by the Galleria to the Dulce de Leche Éclair, infused with coconut, from Le Méridien Panama. Le Méridien Bali Jimbaran will feature the Pandan Mangosteen Éclair and Raspberry & Rosella Flower Éclair.  

WaLa at Le Méridien Bali Jimbaran serves an array of Éclairs daily at only IDR 35,000++ per piece (subject to 21% government tax and service charge). Get 30% discount after 6 p.m.  

Johnny Iuzzini and ‘The Éclair Diaries’

Through Le Méridien’s unique culinary collaboration, Chef Iuzzini will create eight signature éclair recipes exclusively for Le Méridien Hotels & Resorts over the next 12 months, inspired by his global tour of select Le Méridien destinations.   

The Le Méridien Éclair programme comes on the heels of the brand’s recent announcement of a new global partnership with French Bossa Nova collective Nouvelle Vague, who has curated a 24-hour soundtrack for Le Méridien hotels around the world, as well as a new global beverage programme, Le Méridien Sparkling, inspired by the European aperitif culture. 

Together, these programmes elevate the guest experience via the brand’s signature Hub experience, encouraging visitors to unlock their destination through coordinates, culture and cuisine.  

Indonesia’s “Best Sommelier” Award Conferred upon Sheraton Bali Kuta Resorts Sommelier

0

Pamor Budi Kurniawan of Bene Italian Kitchen wins coveted title

Sheraton Bali Kuta Resort is pleased to announce that Bene Italian Kitchen’s manager and sommelier, Pamor Budi Kurniawan, has won the top award in the annual Indonesian Sommelier Association Competition. This prestigious recognition further boosts Bene Italian Kitchen’s growing reputation as the go-to destination restaurant in Bali for authentic Italian cuisine.  

“What a wonderful honor for Pamor Budi and Sheraton Bali Kuta Resort,” said Dario Orsini, General Manager of Sheraton Bali Kuta Resort. “We are proud of Pamor Budi’s accomplishments and, in turn, are delighted to offer guests, visitors and locals alike the best wine and best cuisine at Bene Italian Kitchen.”  

Set against the backdrop of the Indian Ocean with views of the Kuta Beach skyline, Bene Italian Kitchen is a contemporary trattoria with a comfortable and inviting ambience. Whether dining in a group with family or friends, or enjoying a romantic dinner for two, Bene offers three different experiences: including al fresco by the pool; shared family-style on the second level; or on the spectacular rooftop terrace with ocean views. 

Bene has just launched a new menu featuring Top 100 Pastas – 100 different handmade pasta dishes inspired by authentic heritage Italian recipes from just IDR 100K.   

As sommelier at Bene Italian Kitchen, Pamor Budi carefully curates and manages an extensive international wine collection and makes wine and food pairing recommendations for guests. He particularly enjoys expanding and enhancing the collection of Italian wines at Bene – now at 100 different selections to choose from.  

“I became a sommelier because I love sharing my knowledge of wine with our guests and my fellow associates,” said Pamor Budi. “I truly enjoy helping people discover something new and opening the door to new experiences. I enjoy teaching people how they can create perfect pairing of wine with different types of cuisine.”  

Pamor Budi’s favorite Italian wines are Guado Al Tasso from Antinori and Tenuta San Guido Sassicaia from Tuscany, and Luce from Frescobaldi. He also enjoys making fresh Red Sangria at Bene, using Italian red wine – preferably made with Sangiovese grapes from Tuscany – mixed with Italian herbs and cherry tomatoes.   

The 5th annual Indonesian National Sommelier Competition was held in Jakarta at the Jakarta Wine and Cheese Festival with 32 of the country’s top sommeliers competing for the prestigious prize. The sommeliers were put through a rigorous process which included a written test, tasting and service scenarios. Pamor Budi will represent Indonesia at the 2014 South East Asian Sommelier Competition in November in Bangkok.  

Digital Publishing is Revolving

0

Kehadiran digital publishing tak bisa dibendung lagi. Bila tak ikut, kematian perlahan pasti menjelang.

Digitalisasi merambah ke seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dalam dunia penerbitan. Perlahan tapi pasti, proses digitalisasi media terus berlangsung. Cerita tutupnya majalah konvensional (cetak) bukan hal baru, sementara lahirnya majalah-majalah digital adalah sebuah keniscayaan.

Di AS, seperti dituturkan dalam artikel di Econtentmag.com, yang ditulis oleh Keith Loria, Alliance for Audited Media melaporkan bahwa pada semester pertama 2014 industri media digital menunjukkan sinyal perkembangan yang positif.  

Sementara itu, seperti dilansir dari AdAge.com, PricewaterhouseCoopers melalui Global Entertainment and Media Outlook memperkirakan nilai iklan di media digital akan menanjak tahun ini. Besarnya sekitar 22,4 persen atau US$ 3,9 miliar, dan akan mencapai US$ 7,6 miliar pada 2018. Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di media cetak.  

Memang, tidak mudah mengubah kebiasaan dari cetak menjadi digital. Sebuah artikel yang ditulis Atlantic.com mengungkapkan bagaimana Time Inc memiliki masalah, dan perubahan platform menjadi digital juga bukan solusi yang dipandang tepat. Permasalahannya tak hanya mengubah dari kertas menjadi file digital, tapi lebih dari itu.  

Mungkin film The Secret Life of Walter Mitty bisa menjadi gambaran betapa move on itu tidak mudah. Dalam film tersebut dituturkan, Walter Mitty adalah pegawai yang memiliki tanggung jawab atas klise film analog yang dikirimkan oleh beberapa fotografer. Permasalahan timbul ketika media itu berubah platform. Selain jasa Walter sudah tidak diperlukan, masih ada beberapa pegawai lain yang akan terkena perampingan. Sebuah perubahan ternyata tidak menguntungkan semua pihak, ada pihak-pihak, yang apa boleh buat, harus dikorbankan.  

Celakanya, perubahan ke arah digital bukan berarti semua persoalan menjadi beres. Setidaknya ada sejumlah PR yang lain yang harus dikerjakan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Di internal ada masalah kreativitas, di eksternal ada persaingan yang tidak kalah sengitnya. Belum lagi pasar digital yang memang belum matang, ini yang disebut masa transisi dari konvensional ke digital.    

Dalam masa transisi, media digital adakalanya mengalami fase stagnan. Dalam hal ini, biasanya beberapa orang dengan data yang sangat minim akan langsung menjatuhkan vonis bahwa di dunia digital pun tidak ada masa depan. Benarkah?

Yang jelas, fakta yang tidak bisa dimungkiri adalah, berbagai macam kecanggihan teknologi dimiliki tablet komputer yang dipakai sebagai media. Untuk memenuhi inovasi di ruang digital yang luas, hadir banyak pilihan untuk membuat artikel menjadi lebih menarik. Salah satunya dengan memasukkan multimedia di dalamnya. Dalam hal ini, contoh paling simpel adalah artikel yang dilengkapi video. Dengan adanya fitur tersebut, pada akhirnya artikel yang dibuat memang bukan tulisan belaka.

Marcus Rich, kepala publisher majalah terbesar di Kerajaan Inggris, percaya, dengan meningkatkan inovasi, seperti programmatic advertising dan kecerdasan penggunaan software untuk memberi ruang iklan digital secara lebih efisien, kesempatan akan berkembang lebih baik. Untuk memenuhi kebutuhan itu, workflow yang digunakan pun tentunya berbeda dengan budaya media cetak.  

Belum berhenti di situ, media digital pun bisa menjadi lebih menarik lagi dengan adanya fitur interaktif. Fitur Tap & Choose, Swipe, dan foto 360 derajat, misalnya, menjadikan artikel yang dihadirkan jauh lebih menarik ketimbang sekadar tulisan. Belum lagi adanya directlink yang bisa ditambahkan untuk membantu promo pihak tertentu.  

Beberapa hal tersebut seharusnya bisa menjadi ajang pembuktian kreativitas, baik dari redaksi maupun pemasang iklan. Nah, apalagi jika berbicara mengenai iklan yang ada di area digital, pihak pemasang iklan memiliki keleluasaan menyampaikan pesan dari brand-nya dengan berbagai fitur yang tersedia. Kecanggihan teknologi dalam komputer tablet terhitung memiliki banyak sisi yang lebih menguntungkan ketimbang merugikan.  

Well, whether you like it or not, the digital era has arrived.

Sumber: MALE Zone by Witanto Prasetyo, MALE Edisi 88

The Wine Cellar

0

Wine lounge di Jakarta makin merebak, seiring dengan gaya hidup masyarakat metropolitan yang makin akrab dengan minuman anggur. Salah satu yang baru adalah The Wine Cellar yang berlokasi di  The Residences at  Dharmawangsa, Jalan Brawijaya Raya No. 26, Dharmawangsa.  

Saya dan beberapa teman food blogger, beruntung bisa menjajal beberapa koleksinya, seperti Lanson Ivory Label Demi-Sec, Champagne, France; Bollinger Special Cuvee; Vina Ventisquero Grey Chardonnay, Maipo Valley, Chile; Cape Discovery, Sauvignon Blanc; Purple Angel, Carmenere, Petit Verdot; dan Bellissimo Moscato, NV.   

Dipadukan dengan makanan ringan yang disajikan oleh Chef Vindex Tengker, membuat icip-icip wine di cellar by Dimatique itu menjadi pengalaman yang menyenangkan dalam suasana kemewahan hotel di area Jakarta Selatan itu. (Abe/Photos: Ellyna Tjohnardi)  

Mangia, Mangia!

0
  • 100 Favorite Pastas Debut at Bene Italian Kitchen
  • New Italian restaurant at Sheraton Bali Kuta Resort offers 100 types of authentic pasta and 100 wines, each from IDR 100K++

Bene Italian Kitchen at Sheraton Bali Kuta Resort is pleased to present the Top 100 Pastas, a celebration of the beloved Italian culinary staple. Bene’s new menu will feature 100 different pasta dishes – inspired by authentic heritage Italian recipes from just IDR 100K++ and they would go along well with a selection of 100 different wines from Bene’s international cellar.    

“Italian pasta is an enduring favorite around the world, and we are delighted to showcase the best of Italy to our guests,” said Rossano Renzelli, Executive Chef of Sheraton Bali Kuta Resort. “Our pasta is fresh and authentic accompanied by 100 percent homemade sauces. Inspired by Italy’s rich culture, we’ve discovered dozens of heritage recipes and have created 100 unique and authentic Italian pasta dishes using a variety of noodle types and the freshest ingredients for sauces. There is truly something for everyone to love on our menu – and something for everyone to discover. Mangia Bene!”  

Bene Italian Kitchen, which made its debut when the Sheraton Bali Kuta opened a year ago is rapidly becoming the “go-to” place in Bali for authentic Italian cuisine. Set against the backdrop of the Indian Ocean with views of the Kuta Beach skyline, Bene is a contemporary trattoria with a comfortable and inviting ambience. Bene offers dining on three different levels, including al fresco by the pool, or shared family-style on the second level, or a spectacular rooftop terrace with ocean views.  

Led by Executive Chef Rossano Renzelli, the menu at Bene is decidedly unpretentious utilizing simple cooking techniques and the freshest ingredients that allows the original flavors to shine. While Italian is the main focus on the menu, many dishes also reflect regional flavors by incorporating fresh local ingredients.            

Originating from all the regions of Italy, the Top 100 Pastas include traditional items like Rigatoni alla Carbonara and Pennette all’Arrabbiata to more adventurous choices such as Spaghetti alla bottarga vongole e capperi (Spaghetti pasta with clams, capers, bottarga, white wine and olive oil) and Tagliolini ricotta e salmon (Tagliolini pasta cooked with smoked salmon, ricotta cheese, olive oil and parsley).  

To accompany such a large variety of delicious and authentic pastas, Bene has enhanced its beverage menu with an international selection – 100 different varieties – of world class wines. 

Bene’s wine menu has been hand-selected by Pamor Budi, the proud winner of 2014 “Indonesia Sommelier Competition.”  With such an extensive variety of premium wines, Mr. Budi can recommend the ideal pairing for guests based on their tastes and menu choices.  

Bene is open daily for dinner from 5:00 – 10:30p.m. Reservations are recommended, and can be made at (62) (361) 846 5555.  

About Sheraton Bali Kuta Resort

Sheraton Bali Kuta Resort offers an exclusive retreat with a spacious open-air terrace, outdoor rooftop pool and unrivalled panoramic views of the ocean. Ideally situated in the heart of Kuta’s Beachwalk, the resort offers 203 guest rooms and suites ranging from 46 to 265 square meters, each fitted with the signature Sheraton Sweet Sleeper® Bed, and spacious private balconies with uninterrupted views of either the Indian Ocean or the resort’s signature social courtyard.  

Sheraton Bali Kuta Resort houses three signature dining destinations – Feast®, an all-day dining venue with a vibrant open-kitchen overlooking the Kuta Beach; Bene, a casual rooftop Italian trattoria with beautiful ocean views setting, where guests can also relish mesmerizing views of the beautiful Bali Strait on the rooftop deck level; and The Lounge, an open-air cocktail lounge with locally-inspired drinks and beautiful Indian Ocean views.  

For reservation, please call (62) (361) 8465555 and for more information about Sheraton Bali Kuta Resort, please visit sheratonbalikuta.com.  

Wrangler® Luncurkan Koleksi Denim Performance

0

Wrangler®, brand denim legendaris sejak tahun 1904 dari Amerika, meluncurkan produk inovasi terbaru berupa koleksi Wrangler® Denim Performance. Koleksi ini ditujukan untuk para petualang seperti pengendara motor, yang dilengkapi dengan fitur-fitur menarik yang menggabungkan sport technology dalam sebuah denim. Wrangler® Denim Performance merupakan bagian dari kampanye marketing Wrangler® Smart Rider untuk koleksi Spring-Summer 2014. Available for men and women, Wrangler® Denim Performance will be your trully companion for the open road!  

Wrangler® Denim Performance memiliki kelebihan dari sisi functional benefit, yaitu:

  • Memiliki bahan denim terbaik yang tahan terhadap air dan minyak. Sehingga dapat memberikan perlindungan terhadap cipratan air dan minyak selama perjalanan/berkendara,
  • Mengandung Anti Bacteria yang mencegah dan menghentikan tumbuhnya bakteri di denim,
  • Memiliki teknologi Dry Fast yang membuat bahan denim lebih cepat kering,
  • Kantung depan dan belakang yang diperkuat sehingga meningkatkan ketahanan,
  • Dilengkapi dengan kantung tambahan untuk menyimpan dokumen penting dan kantung kecil yang terpisah untuk menjaga koin dan kunci tetap aman.

Eden Bunag, Youthwear Division Director, Delamibrands, pemegang lisensi Wrangler® di Indonesia, mengatakan, “Wrangler® adalah brand denim dari Amerika yang melambangkan semangat kebebasan yang dimiliki oleh mereka yang bekerja keras, berani dan fun. Sudah menjadi bagian dari brand karakter Wrangler® bahwa kami menyenangi tantangan, petualangan dan selalu bergerak aktif. Karakter tersebut juga kami temui dalam karakter pemakai Wrangler®.”

“Oleh karena itu, kami memahami jika mereka memiliki banyak kegiatan untuk memenuhi jiwa petualang mereka. Mereka membutuhkan teman seperjalanan, seperti Wrangler®. Dan Rabu, 25 Juni 2014 bertempat di The Foundry No. 8 Level II SCBD Jakarta, kami perkenalkan koleksi terbaru yang memiliki fungsi yang menunjang aktivitas para pemakai Wrangler®.”

Denny Prasetyo, Wrangler® Brand Manager mengatakan, “Koleksi Wrangler® Denim Performance mengangkat konsep Stay Dry and Fresh, yaitu dengan tehnologi finishes yang melindungi lapisan bahan denim supaya lebih tahan air (Water Repellent), menghentikan pertumbuhan bakteri (Anti Bacterial) dan meningkatkan kenyamanan pada saat beraktivitas sehari-hari karena fungsi penyerapan keringat yang terserap dan terbawa ke permukaan bahan denim sehingga mudah kering (Dry Fast). Selain dari tehnologi finishes, produk denim performance juga menggunakan detail yang meningkatkan fungsi ketahanan dan kegunaan (Functional dan Reinforce).”  

Wrangler® Denim Performance tersedia dalam men and women collection. Untuk men collection terdiri dari Bottoms dengan potongan Regular dan Slim, sedangkan Tops disediakan dalam kategori Jacket dengan Water Repellent. Women collection terdiri dari Bottoms dengan potongan slim dan skinny fit.   

Denny menambahkan, “Untuk lebih mendekatkan diri dengan konsumen kami, terutama para bikers, masih terkait koleksi Denim Performance, kami mengadakan promo program berupa pembelian produk Wrangler® senilai Rp 299.000 berkesempatan mendapatkan 8 custom motor yang mewakili originalitas semangat petualang dari Wrangler®. Peluncuran Koleksi Denim Performance hari ini pun dilakukan bersama dengan komunitas motor di Jakarta, penampilan dari high tech illusionist dan DJ yang secara keseluruhan mewakili karakter Wrangler®.”  

Koleksi Denim Performance bisa didapatkan mulai Juni 2014 di Wrangler® Free Standing Store dan beberapa department store. Harga untuk produk Wrangler® Denim Performance berkisar Bottoms berkisar antara Rp 400.000 hingga Rp 600.000.

Sejarah Wrangler® dimulai pada tahun 1904 ketika Charlie Hudson membentuk Hudson Overall Company di Amerika Utara. Wrangler® merupakan salah satu brand denim yang dicintai di seluruh dunia. Sejak melakukan rebranding sebagai Wrangler® ditahun 1947, perusahan tersebut secara berkelanjutan melahirkan inovasi terbaik di kategori denim dan tetap mempertahankan nilai sejarah denim yang tak tergantikan. Wrangler® merupakan bagian dari VF Corporation, perusahan aparel terbesar di dunia.

Digital Mindset

0

Total belanja iklan di Indonesia adalah sebesar Rp 110 triliun, tapi alokasi untuk iklan digital hanya 2%.

Orang Indonesia adalah pengonsumsi tingkat tinggi smartphone dan tablet. Bayangkan, berdasarkan data survei dari Cisco Visual Networking Index (VNI) Forecast, pada 2011, baru tercatat ada 250 juta pembelian berbagai ponsel dan komputer tablet di Indonesia. Hanya dalam satu tahun, menurut penelitian tersebut, pemilik ponsel di Indonesia meningkat menjadi 300 juta pengguna. Pertumbuhan ini diperkirakan akan terus berkembang hingga 2017 menjadi 370 juta pengguna ponsel atau komputer tablet.  

Boleh under estimate, tapi kalau melihat angka tersebut, orang Indonesia termasuk kategori melek gadget, termasuk digital. Bahkan perkembangan dunia digital di Indonesia sudah menjadi topik hits selama delapan tahun terakhir ini, yang euphoria-nya berlanjut hingga sekarang.  

Menurut catatan Kementerian Komunikasi dan Informatika, pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 82 juta orang di triwulan pada pertama 2014. Jumlah tersebut tentu saja mengalami kenaikan dari tahun 2013 yang mencapai angka 71,19 juta orang, dan tahun 2012 berjumlah 63 juta orang. Dengan capaian tersebut, Indonesia saat ini berada pada peringkat 8 dunia.  

Gencarnya promosi provider, serta penerapan teknologi 3G, makin mendorong pemakaian Internet dan mobile yang lebih luas, menyebar hingga ke kota-kota kecil, bakan belakangan masuk juga ke pinggir kota, terutama di kalangan generasi muda. Akses internet yang makin cepat ditambah munculnya tablet menciptakan peluang-peluang baru untuk pemain e-commerce, games, aplikasi, dan mobile.

Hanya saja, demikian pengamatan Herman Kwok, CEO dari Semut Api Colony  dan Klix Digital, PT Alpha Merah Kreasi, jika melihat dunia bisnis lokal dengan lebih teliti dan detail, ternyata perkembangan digital ini baru euphoria sebagian pihak saja. Benarkah?

Menurut Herman, salah satu indikator perkembangan dunia bisnis adalah belanja iklan. Menurut data eMarketer, tahun 2013 total belanja iklan di Indonesia adalah sebesar Rp 110 triliun, sedangkan alokasi untuk iklan digital hanya 2% saja. Tapi mengapa kelihatannya perkembangan digital terasa begitu pesat?

Sebenarnya dunia digital di Indonesia mulai berkembang pesat sejak 2007 pada era masuknya teknologi 3G di Indonesia. Kebetulan popularitas Facebook juga mulai naik dan kemudian diikuti oleh Twitter. Memang, Facebook baru mulai popular di Indonesia saat itu, sementara aktivitas internet untuk bisnis masih didominasi oleh email, blogs, serta website korporat. Tapi perusahaan provider berusaha memanfaatkan popularitas media sosial yang lagi naik daun tersebeut  untuk mendapatkan pelanggan.  


Kembali ke pertanyaan di atas, mengapa perkembangan bisnis digital di Indonesia belum maksimal Menurut Herman, jika melihat aktivitas bisnis lokal, baru sebagian saja yang memanfaatkan media digital. Terutama perusahaan besar yang sudah memanfaatkan integrasi digital dalam bidang marketing, finance, inventory, supply-chain, hingga delivery dan customer service. Ada yang sudah beradaptasi penuh, ada yang baru sebagian.