Home Blog Page 72

The Zen Pool @ Club Med Bali

0

Unwind @ The New Dedicated Relaxation Area  

Bali is a tropical paradise of tranquility that attracts millions of tourists from around the world. Club Med Bali Resort, located in Nusa Dua, Bali, is a perfect blend between modernity and Balinese culture. The resort is undergoing extensive renovations and is all set to launch a host of brand new facilities and services in 2014 based on the concept of ‘harmony’ that will further help enhance its reputation as the best Premium All-Inclusive holiday resort for people of all ages.

The first of these recently launched renovations is the new dedicated relaxation area, the Zen Pool that was opened for guests in March 2014. It follows in the footsteps of the Zen Pools at Club Med Phuket and Cherating Beach. With its breathtaking architecture and soothing ambience, it is the perfect relaxing spot for guests to enjoy a truly Zen experience. The launch of the Zen Pool marks the beginning of the journey of ‘harmony’ for Club Med Bali through which it brings the best experience of fun, bonding, relaxation and wellbeing in a tranquil environment, to let you and your loved ones explore the Zen side of life.

Enjoy relaxation at its very best, at the new Zen Pool

The enchanting splendor of the Club Med Bali is epitomized by the quietness and tranquility of the Zen Pool. It is built on theatre-style architecture that opens with a grand staircase entrance with spectacular views of the ocean. As you walk down the stairs, you are welcomed by lovely flower beds leading to the main pool area that is covered in a canopy of sunshades mounted on stone columns.  

The poolside furniture is especially designed by Studio MHNA and comes in several forms: day-beds on the water, double four-poster beds on the lawn, traditional wood deckchairs or suspended beds under traditional sunshades. In the evening, the beautiful night ambience adds to the grandeur of the breathtaking surroundings. The pool has its own bar so guests can choose the comfort spot of their choice and relax and contemplate while sipping away on a drink to complete the Zen experience.  

Designer: Marc Hertrich

The renovation work of Club Med Bali is the brainchild of renowned French architect, Marc Hertrich, who has modernised the resort on the concept of harmony.  He spearheaded the 2008 Club Med Bali renovation and has returned again to bring his harmonisation concept to life. He has previously created exceptional designs for Club Med resorts in Guilin, Cancun Yucatan, Agadir, Ixtapa, Albion and Phuket, along with Swiss luxury hotel Le Richemond, and many other high-end boutiques and restaurants around Europe.

Club Med Premium All-Inclusive Resort

Club Med Bali is a proud recipient of the TripAdvisor® Travellers Choice Award, featuring in its list of top 10 All-Inclusive hotels in Asia in 2013, after consistently receiving outstanding traveller reviews on the website. In 2014, the resort was listed amongst the Top 6 Hotels for Families in Indonesia based on favorable reviews and opinions by travellers from around the world, who particularly expressed their appreciation for the friendly G.O. service, wide selection of activities and Children’s Club for all ages.  

Being a Premium All-Inclusive beach resort, Club Med Bali offers more value for your money. Our all-inclusive packages free you of the hassle of trip planning. Our packages are ideal for everyone whether you are travelling as a family, a couple or a group of friends.  The Premium All-Inclusive package  includes transfers and accommodation (in different room categories), a wide range of sports, three gourmet meals each day, limitless drinks and snacks, night entertainment and club activities for children for all ages.  

Perhaps the most unique feature of your stay at Club Med is the enjoyable company of our talented, multicultural G.O. teams. Led by the Chef de Village Jean Benoit Nisin from Belgium, over 90 G.O.s, representing 18 nationalities provide our guests fun, friendly and first-class service so that your holiday at Club Med Bali remains an experience to be cherished for a lifetime.

Vaporizer

0

Teknologi mengubah tradisi. Seorang perokok tembakau, misalnya, boleh jadi punya alternatif baru untuk tetap memenuhi kebutuhannya itu. Saat ini tengah marak kebiasaan baru bernama vaping, dengan memanfaatkan personal vaporizer.  

Inilah alternatif baru bagi perokok yang hendak mengganti tembakau tanpa kehilangan kenikmatannya. Vaping generasi pertama bersanding dengan tembakau, dan sama sekali tak menghilangkan eksistensi rokok dalam arti sebenarnya.  

Rokok elektrik, atau kerap disebut e-cigarette, memberikan rasa dan sensasi fisik mirip dengan asap tembakau yang dihirup, sementara tidak ada tembakau, asap, atau pembakaran benar-benar terlibat dalam operasi perusahaan. Rokok elektronik biasanya berbentuk tabung beberapa cara memanjang, meskipun banyak yang dirancang untuk menyerupai penampilan luar produk merokok nyata, seperti rokok, cerutu, dan pipa.  

Kelebihan rokok elektrik tidak menggau kesehatan, karena tidak mengandung nikotin secara berlebihan, sehingga baik untuk kesehatan Anda. Inilah datar kelebihannya: tidak ada abu, tidak bau, simpel dan modern, ramah lingkungan, asap tidak mengganggu orang sekitar, tidak mengandung tembakau yang mengandung lebih dari 3.000 zat beracun, nikotin sangat rendah, tidak mengandung TAR, dapat memilih berbagai macam rasa yang berbeda-beda (kopi, menthol, dan lain-lain), tidak memerlukan pembakaran, dapat digunakan di ruangan ber-AC, tidak membuat gigi menjadi kuning,  batere dapat di isi ulang – tahan 2-3 jam, dapat dipakai selama 1-3 tahun.

 Perjuangan Mengangkat Eksistensi

Konon, vaping sudah ada sejak 1963, diperkenalkan oleh Herbert A. Gilbert. Namun nama Hon Lik lebih dikenal sebagai sosok yang berperan mengawali kehadiran vaping hingga kini. Inilah salah satu cara yang digunakan produsen rokok elektrik dalam menyanding tembakau. Tentu jargonnya: meminimalkan risiko yang diyakini disebabkan oleh rokok tembakau.  

Tujuannya menjadi wadah pengguna vaping untuk sharing pengalaman, termasuk memberi pencerahan dan mengubah mindset pemakai yang masih baru.  

Melihat perkembangan vaping yang semakin pesat dan memiliki banyak peminat, Amms, pengurus komunitas vaping, Jakarta Vaping Colony (JVC), menilai sebagai hal yang positif.  

Komunitas JVC, yang memiliki 50 anggota resmi, terdiri atas orang yang sudah berpengalaman dan pengguna baru. Komunitas ini bertujuan menjadi wadah pengguna vaping untuk sharing pengalaman, termasuk memberi pencerahan dan mengubah mindset pemakai yang masih baru.  

Dengan makin banyaknya produk vaping di Indonesia, penguasaan product knowledge menjadi keharusan. “Karena, sama seperti perangkat elektronik lainnya, perangkat yang dijual memiliki berbagai macam pilihan dan kualitas. Jangan sampai nantinya, pengetahuan yang minim justru akan merugikan pengguna vaping,” kata Amms.  

Ghea, makeup artist, misalnya, merasakan banyaknya perubahan positif. “Kesehatan dan napas saya lebih enak, dan itu terasa banget saat berenang,” tuturnya. Proses Ghea mengganti rokok menjadi vaping terjadi sedikit demi sedikit. Kini ia menggunakan vaping sebagai gaya hidup, dan sangat menikmati rangkaian rasa uniknya yang ditawarkan.  

Suck, Collect & Show It

Kini sudah banyak permintaan dari kalangan tertentu akan produk berharga mahal dari brand ternama. Vaping pun kian berkembang hingga menghadirkan model yang lebih beragam dari jenis yang ada.  

Adit, pendiri toko online Artomelab, yang menjual berbagai macam perangkat vaping dan aksesorinya, mengemukakan desain atau model vaping semakin banyak. Dengan kata lain, diversifikasi model yang beragam membentuk identitas yang berbeda dengan pengguna vaping lainnya.  

Begitu pula dengan harga, pada awalnya Adit memang menjual perangkat vaping yang masih tergolong memiliki harga yang terjangkau. Tapi kini sudah banyak permintaan dari kalangan tertentu akan produk berharga mahal dari brand ternama, dengan bentuk yang unik, teknologi terbaru, dan penggunaan material yang berkelas.  

Jenis vaping yang ada saat ini, mechanical dan electrical, memiliki kelebihan yang unik. Yang mechanical memiliki konsep sederhana, mirip senter. Adapun vaping jenis electrical relatif lebih memudahkan penggunanya. “Tinggal plug and play, meski tidak bisa disebut mudah juga. Tapi pengguna vaping electrical biasanya memiliki experience lebih banyak di dunia vaping,” ungkapnya.  

Seperti telepon seluler yang bergerak dinamis, teknologi yang disematkan dalam vaping juga mengalami peningkatan yang tergolong cepat. Misalnya, kini hadir cip yang dapat mengatur voltase, watt, dan beberapa fitur lainnya. Hal ini pula yang menjadi pembeda keduanya: jenis mechanical berfokus pada model, sedangkan yang electrical lebih menekankan teknologinya.  

Dampak serupa terjadi pada liquid vaping, yang berjasa mengantarkan rasa yang unik bagi pengguna. Keberagaman rasa juga mengalami peningkatan. Dari rasa buah-buahan, berbagai jenis minuman, hingga mother’s milk tersedia, mulai harga murah sampai yang tergolong mahal karena kelas premium.  

Hal itu jelas berbeda dan menjadi kelebihan vaping dibanding merokok. Rasa yang sudah baku dipersembahkan oleh produsen rokok, sedangkan pengguna vaping diberi keleluasaan memadukan atau mixing berbagai rasa hingga menciptakan signature flavor yang khas.  

Maka klaim vaping kini bergeser menjadi gaya hidup merupakan hal yang wajar, dengan keberagaman kelas, yang dilihat dari model, harga, hingga kualitas. Terbentuknya kelas sosial dan komunitas vaping yang beragam menciptakan lingkaran gaya hidup berbagai kalangan untuk menunjukkan eksistensi mereka.  

Apalagi tiadanya ancaman dari segi kesehatan menjadi daya tarik vaping yang besar bagi kalangan smoker yang ingin berhenti merokok. Selain itu, ada kalangan non-smoker yang ikut menjadi pengguna vaping karena sensasi dan rasanya yang unik.  

Sumber: MALE Zone by Dedy Sofan, MALE 95

Membangun Brand Secara Efektif

0

MALE kini hampir genap berusia dua tahun. Bulan November nanti, MALE akan berulang tahun yang kedua. Seiring perjalanannya, banyak catatan suka maupun duka MALE dalam menunjukkan eksistensinya. Semua pencapaian ini tentunya tak lepas dari dukungan Detikcom sebagai portal berita terbesar di Indonesia dan nama besar Trans Media sebagai holding company.  

Sekadar info, MALE telah didownload lebih dari 31 juta kali (per Juli 2014) sejak awal terbitnya. Angka ini tentu sangatlah besar dibandingkan dengan jumlah oplah majalah cetak maupun majalah digital lainnya. Apakah kami puas dengan pencapaian tersebut? Jawabannya TIDAK!  

MALE sebagai brand majalah digital berbasis gaya hidup pria masih perlu gebrakan yang agresif dalam membangun eksistensinya. MALE harus gencar melakukan brand activation untuk menciptakan kepercayaan dengan semua pihak terkait, meliputi; pembaca setia, pengiklan, dan lainnya. Kepercayaan yang terbangun dengan solid alhasil membentuk brand MALE semakin kuat sekaligus menciptakan loyalitas tinggi terhadap elemen terkait.  

Dalam kontek MALE, brand activation didefinisikan sebagai suatu proses yang memungkinkan keterlibatan ekosistem (pembaca dan pengiklan) dengan penerbit (MALE). Brand activation dapat didefinisikan sebagai sebuah interaksi pemasaran antara ekosistem dan penerbit. Hal ini membuat ekosistem dapat memahami MALE secara lebih baik dan menerimanya sebagai bagian dari kehidupan mereka. Implikasinya, hubungan antara penerbit dan ekosistemnya akan langgeng. Gagasan tentang brand activation ini kemudian yang melahirkan gagasan tentang pentingnya marketing event. Sebagai alternatif dari promosi tradisional seperti periklanan dan publisitas, event kini berperan penting dalam komunikasi pemasaran.  

Saat ini, lebih dari 96 persen dari perusahaan-perusahaan di AS memasukkan marketing event dalam strategi promosi mereka. Kenapa? Event merupakan alat marketing yang fokus pada pengalaman konsumen (experiential) dan mendorong terjadi proses konsumsi secara emosional dan rasional sebagai pengalaman holistik (Schmitt, 1999). Dalam konteks ini, melalui marketing event, penerbit bisa berkomunikasi dengan audiens dan memberikan nilai tambah pengalaman dalam mengkonsumsi MALE.  

Saat ini, marketing event masih dipercaya sebagai titik kontak yang bisa menggetarkan titik kontak lainnya. Melalui event, penerbit bisa mengintegrasikan sebagian besar kegiatan marketing communications pada saat yang bersamaan. Hal inilah yang mendasari MALE untuk terus agresif menggelar berbagai event. Mulai dari photo hunting, party di klub-klub, hingga acara eksklusif seperti wine tasting yang baru saja digelar beberapa waktu lalu.

Sexy Girls Night Out Dance

Beberapa waktu lalu, MALE Magazine kembali menggelar party untuk yang kesekian kalinya. Kali ini, MALE bekerjasama dengan Club 360 Surabaya menggelar party bertemakan “Dirty Dance-Sexy Girls Night Out Dance”. Acara ini digelar Jumat 13 Juni 2014 lalu dengan menampilkan ikon seksi model MALE yaitu Ayunia, Fadilla, Nadine Ayu, dan Rhere (cover edisi 85).  

Party yang diadakan berbarengan dengan pesta bola piala dunia ini mendapat sambutan antusias dari partygoers Surabaya. Aksi empat Model MALE mampu menghipnotis para partygoers yang hadir saat itu. Uniknya, party kali ini didukung dengan sinkronisasi audio visual behind the scene pemotretan para model.    

Club 360 memang dilengkapi dengan LED screen ukuran raksasa yang terletak di atas stage atau di belakang DJ booth. Para pengunjung pun bisa menyaksikan tayangan para model di LED Screen, dan tampil langsung secara live di hadapan mereka. Selain itu, party kali ini juga dimeriahkan dengan penampilan dari Gangster Squad, Zinergy Band, 20 Hottest sexy dancer, Renaissance Models & 360 Angels.  

Wine Sensations Classy Night

MALE bukan hanya identik dengan party yang bernuansa klub, namun kami juga concern dengan event yang bersifat eksklusif. Hal ini diperlukan demi mengakomodir beragamnya karakter audiens MALE. Sebut saja event wine tasting yang bekerja sama dengan produsen wine lokal, Sababay. Event yang bertajuk “Wine Sensations” ini digelar di Decanter Wine House, Selasa malam, 24 Juni 2014.   Nuansa kemewahan dan atmosfer berkelas mengiringi begitu kental terasa. Tentunya para tamu diberi kesempatan menikmati sajian wine berkelas diiringi usik yang dimainkan DJ. Walhasil, semakin cairlah suasana tamu bersosialisasi.

Acara ini juga didukung oleh Lamborghini Jakarta dan Schott Zwiesel dan diramaikan oleh fashion show, yang memperlihatkan keindahan wardrobe dari Clara Tan. Busana yang membalut tubuh para model MALE membuat mereka tampak anggun. Para model ini sekaligus memperkenalkan produk wine lokal andalan Sababay.  

Pada dasarnya, brand activation bertujuan untuk mencari makna yang terkandung dari MALE secara lebih mendalam melalui berbagai macam kemungkinan. Namun brand activation harus dibangun secara efektif. Dalam masyarakat post modern, menawarkan merek dengan hanya mengandalkan pada fitur pada tingkatan fungsional atau emosional tidaklah cukup. Nilai riil sebuah merek adalah terletak pada peluang yang diciptakannya. Dalam konteks MALE, kontribusi yang paling mendasar dari brand activation adalah menciptakan kepercayaan antara pembaca setia, pengiklan, dan MALE. (Iwan Suci Jatmiko)  

The Pride of The Indonesian Heritage

0

BNI bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag Belanda akan menggelar sebuah perhelatan istimewa bertajuk The Pride of the Indonesian Heritage untuk menyambut Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-69 tahun di kantor KBRI Den Haag, 20 – 22 Agustus 2014.  

The Pride of the Indonesian Heritage adalah sebuah program CCR (Corporate Community Responsibility) untuk mendukung industri kreatif mitra binaan Kampoeng BNI melalui diaspora yang berada di Belanda dan sekitarnya (Swiss, Belgia, Jerman dan lainnya). Dalam kesempatan baik ini, BNI juga akan meluncurkan website kampoengbniglobal.com untuk kepentingan perdagangan internasional.  

Direktur Utama BNI, Gatot M. Suwondo menyampaikan, “The Pride of the Indonesian Heritage kami helat bersama KBRI Den Haag Belanda sebagai upaya strategis mempromosikan dan memasarkan produk binaan Kampoeng BNI di luar negeri, khususnya di pasar Eropa.” Lebih jauh gelaran ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan prospek bisnis BNI di luar negeri, dengan memanfaatkan jaringan diaspora yang berada di Belanda dan negara-negara sekitarnya.  

Vice President BNI/Pemimpin Divisi Corporate Community Responsibility, Nancy Martasuta menambahkan bahwa BNI selama ini tidak hanya mempromosikan industri kreatif bangsa namun juga secara berkelanjutan menjembatani para mitra dengan pasar Eropa dan pasar luar negeri lainnya melalui diaspora agar produk-produk dapat diperkenalkan dan dipasarkan. Hal ini sesuai dengan motto BNI, Bridging Indonesia to the World.  

Sementara itu, Duta Besar Indonesia untuk Belanda, Retno LP. Marsudi mengatakan bahwa event The Pride of the Indonesian Heritage yang akan digelar bersama Resepsi Diplomatik dalam rangka HUT RI ke-69 di Den Haag, Belanda ini menjadi momentum yang tepat untuk mempromosikan dan mengakses hasil karya anak bangsa yang berasal dari kearifan lokal dan kekayaan budaya Indonesia ke pasar internasional.  

Pride of the Indonesian Heritage dihelat di Aula kantor KBRI yang beralamat di Tobias Asserlaan 8, 2517 KC Den Haag, Belanda. Acara yang dapat dikunjungi untuk umum adalah  Pameran Produk Fashion dan Handycraft Kampoeng BNI yang berlangsung 21 – 22 Agustus 2014 yang menampilkan fashion display koleksi dari Denny Wirawan dan Tuty Cholid, beragam produk mitra binaan Kampoeng BNI seperti kerajinan kain tenun dan batik, seni pahat kayu dan logam untuk dekorasi rumah, resort/hotel dan perkantoran, perhiasan perak dan kreasi seni modern serta produk kerajinan kulit untuk fashion dan gaya hidup. Sementara acara lainnya adalah Resepsi Diplomatik, Forum Diaspora dan Business Meeting yang diselenggarakan untuk kalangan terbatas.

Film Epik

0

Film epik adalah sebuah genre film yang menekankan drama manusia dalam skala besar. Epik lebih ambisius dalam lingkup dari genre film lainnya, dan sifat ambisius mereka membantu untuk membedakan mereka dari genre yang sama seperti bagian periode atau film petualangan.

Epik dalam dunia hiburan jelas lebih dekat dengan nilai kepahlawanan, keagungan, kemuliaan, keluhuran, dan kehebatan seseorang. Tak pelak, epik atau kisah kepahlawanan masih menjadi jualan yang laris dalam dunia hiburan. Kisah kepahlawanan merupakan cerita yang tak pernah ada habisnya. Sejak peradaban manusia muncul epik selalu menempati urutan teratas. Tentunya epik ini dibalut dengan berbagai mitologi, yang kemudian menjadi legenda.  

Di industri perfilman, epik adalah salah satu genre yang cukup tua dan  memiliki pasar penikmat tersendiri. Karakteristik film bergenre epik biasanya mengedepankan kaum bangsawan, orang-orang tertindas, tokoh sejarah, dan pahlawan perang. Film epik tak hanya berhubungan dengan kemuliaan, keluhuran, dan kepahlawanan. Lebih dari itu, berbicara tentang film epik berarti berbicara mengenai film berbujet besar. Sebut saja Braveheart, Dances with Wolves, The Last of the Mohicans, The Alamo, Ben-Hur, danGone with the Wind.  

Indonesia tak kalah dalam produksi film bergenre epik ini. Dulu ada Darah dan Doa (1950), Enam Djam di Jogja (1951), Kafedo (1953), serta Lewat Djam Malam (1954).Selain itu, kenali pula film Pedjuang (1960); Toha, Pahlawan Bandung Selatan (1961); Anak-anak Revolusi (1964);danLiburan Seniman (1965).  Kemudian pada zaman Orde Baru ada Janur Kuning, Serangan Fajar, dan G-30-S/PKI, yang kemudian dianggap sebagai bentuk penyelewengan sejarah pada masa itu.  

Ternyata tak mudah mengkategorikan film dalam genre epik. Tak selamanya film epik memiliki karakter yang umumnya diketahui oleh publik atau si pembuat film. Tengok saja film lawas East of Eden, yang memakai lokasi syuting yang sangat luas dengan panorama yang amat indah. Film ini bergaya epik, tapi tak memiliki karakter epik yang sesungguhnya.  

Ben-Hur dan 300 memiliki karakteristik yang sama, yakni menceritakan kepahlawanan dengan latar belakang sejarah. Dua film ini dikategorikan sebagai film bergenre epik. Namun tak semudah itu! Dua film tersebut dikategorikan pula dalam genre sejarah, bahkan cenderung lebih dekat ke arah itu. Padahal keduanya memiliki semua karakteristik film epik. Contoh lainnya Gone with the Wind yang sangat romantis, tapi dikategorikan film epik.  

Detail adalah kekuatan lain film-film epik yang laris di pasar, yang biasanya berhubungan dengan sejarah dan kondisi masyarakat kala itu. Film epik dipersiapkan dengan sangat matang, mulai lokasi, set pengambilan gambar, hingga masyarakat saat itu.

Apakah film epik selalu berhubungan dengan sejarah atau suatu masa pada waktu lampau? Genre epik dalam film sedikit-banyak memang berhubungan dengan sejarah. Sebab, inilah dasar produksi film. Namun tak selamanya film epik berkaitan dengan kisah masa lampau. Star Wars dan 2001: Space Odyssey adalah contoh genre film fiksi ilmiah yang juga memuat genre epik—disebut sebagai subgenre fiksi ilmiah epik dan fantasi epik.  

Film epik mencapai puncaknya pada awal 1960-an. Untuk memproduksi film epik yang baik, Hollywood kemudian menjalin kerja sama dengan berbagai pihak yang berada di luar Amerika Serikat, seperti di Maroko dan Spanyol. Hasilnya tidak mengecewakan, dan film-film-film epik itu termasuk kategori film legendaris, seperti Cleopatra (1963), The Fall of the Roman Empire (1964), dan Doctor Zhivago (1965).  

Dalam perkembangannya, genre film epik kemudian melebar dan bergandengan dengan genre lainnya. Contohnya film Braveheart (1995) garapan Mel Gibson yang dimasukkan dalam genre epik sejarah. Begitu pula dengan film epik sejarah yang berdasarkan keyakinan tertentu, seperti The Passion of the Christ, Mahabharata, dan The Message. Adapun film Gone with the Wind dikategorikan dalam subgenre epik roman, sedangkan film fantasi epik yang sangat terkenal adalah serial Harry Potter dan trilogi The Lord of the Rings.  

Meskipun film epik relatif menghabiskan bujet produksi yang besar, pemasukannya sangatlah fantastis. Film epik tersebut adalah film yang laris di pasar dan memberi keuntungan bagi produsennya, seperti Gone with the Wind, Avatar, dan Titanic. Semua film itu menangguk angka US$ 2 juta. Sementara itu, penerima Academy Award terbanyak adalah film epik, yakni Ben-Hur, Titanic, dan The Lord of the Rings: The Return of the King.  

Sumber: MALE Zone by Paksi Suryo Raharjo, MALE Edisi 94

Hilton Worldwide Opens DoubleTree by Hilton Brand in Indonesia

0

Situated in the capital city, DoubleTree by Hilton Jakarta – Diponegoro is convenient to the top business and leisure landmarks

Hilton Worldwide and DoubleTree by Hilton celebrated the opening of DoubleTree by Hilton Jakarta – Diponegoro, the first DoubleTree by Hilton hotel in Indonesia, June 2014. Conveniently located in the heart of Jakarta city, the new-build, upscale 253-room hotel opens with three dining outlets, including one modern all-day dining restaurant, as well as an outdoor pool, a kids’ pool, seven meetings and events rooms, and 24-hour business and fitness centers.

The hotel is 4.2 kilometers away from the Central Business District, near multinational companies, embassies, government offices as well as the city center’s popular shopping, dining and entertainment landmarks such as Plaza Indonesia and Grand Indonesia.  

 “With its prime location in Jakarta’s city center, DoubleTree by Hilton Jakarta – Diponegoro is the perfect location for our brand to debut in Indonesia,” said John Greenleaf, global head, DoubleTree by Hilton. “We look forward to introducing our unique service culture to our Indonesian guests and welcoming international travelers who have stayed with us in other destinations. Starting with the iconic warm chocolate chip cookie welcome, presented to each guest upon arrival, and extending through every aspect of their stay, visitors to our new hotel will experience what we mean when we say it is the “little things” that can make all the difference during a hotel stay and that is where DoubleTree by Hilton excels.”  

Spanning more than 1,400 square meters of meeting and banquet spaces, DoubleTree by Hilton Jakarta – Diponegoro offers seven versatile function rooms which can cater to a variety of meetings and events including a standing reception of up to 800 persons in the hotel’s Makara Ballroom. The large, flexible Makara ballroom is pillar-less and features an eight-meter high ceiling. Other features to the meeting facility include a dedicated porte-cochere and a naturally-lit foyer that leads to the outdoor garden. A 24-hour business center allows guests to stay connected and productive throughout their visit.  

“The opening of DoubleTree by Hilton Jakarta – Diponegoro marks the addition of our third brand to our portfolio in Indonesia,” said Martin Rinck, president, Asia Pacific, Hilton Worldwide. “The development of our portfolio within this market has been gaining momentum in recent months and we continue to be committed to expanding our footprint in Indonesia. I am excited that DoubleTree by Hilton has made its debut in the metropolitan city of Jakarta and am confident that the hotel will offer visitors to this vibrant capital a warm, friendly, world-class hospitality experience.”  

The hotel offers three innovative dining and entertainment options including the all-day dining restaurant, OPEN, which features three show kitchen stations that serve local Indonesian, Asian and Western cuisines as well as a barista counter to serve fresh coffee specialties. Guests can unwind in the cozy T LOUNGE which serves a variety of gourmet coffees, cocktails and premium wines. By the poolside, guests can relax at KREM pool bar offers a selection of ice creams, as well as local and Western-style light bites.  

Guests can also enjoy the comforts and convenient features of the spacious guestrooms including the DoubleTree by Hilton Sweet Dreams™ bed, a 42-inch LCD TV, and a large workspace with Internet access and Wi-Fi connectivity. Guests can re-energize at the wellness center that includes a 24-hour fitness center fully furnished with LifeFitness® health equipment. Located next to the swimming pool and kids’ pool, the wellness center also features spa facilities including three therapy rooms with attached whirlpools.  

As part of the Hilton Worldwide portfolio, DoubleTree by Hilton offers guests the opportunity to earn and redeem points for stays through the Hilton HHonors guest loyalty program. Guests staying at the first DoubleTree in Indonesia can earn 1,000 bonus points per night for a minimum stay of three nights between May 4 and August 31, 2014, inclusive.

Sneakerhead

0

Sneakerhead adalah sebutan bagi penggila sneaker. Mereka mengoleksi dan kaya berkat sepatu bersol karet ini.

Keberadaan sneaker semakin luas, dan pada saat bersamaan musik hip-hop tengah merintis jalan ke atas. Di Carnegie Mellon University terdapat program kuliah Sneakerology 101. Koleksi sneakerhead tersebut meliputi sneaker eksklusif atau edisi terbatas. Sneaker atau sepatu bersol karet sebenarnya sudah ada sejak dulu, tapi baru mencapai puncak dalam kebudayaan pop pada 1980-an. Sepatu yang dikenal untuk bermain bola basket ini memang mengawali popularitasnya dari cabang olahraga permainan ini.    

Adapun Michael Jordan saat itu sangat memukau dengan berbagai aksi mengoper, melempar, dan memasukkan bola. Tentunya popularitasnya dilirik oleh produsen sepatu olahraga internasional asal Amerika Serikat. Kemudian, pada 1985, meluncurlah produk bernama Air Jordan, dengan filsafat tentang kemampuan Jordan “berjalan di udara” ketika akan memasukkan bola.  

Keberadaan sneaker semakin luas, dan pada saat bersamaan musik hip-hop tengah merintis jalan ke atas. Salah satu aksesori yang wajib dipakai oleh rapper kala itu adalah sneaker. Gaya bersepatu ini lalu ramai-ramai ditiru oleh anak muda saat itu.  

Kemudian terlihat pergerakan dalam masyarakat, khususnya anak-anak muda. Sneaker bukan sekadar sepatu bersol karet yang dipakai untuk berolahraga. Lebih dari itu, sneaker lantas menemukan jalan sebagai simbol status pemakainya. Ada merek dengan model tertentu yang mengisyaratkan kedudukan pemakainya dari kalangan elite.  

Namun, bagi para pengoleksi sneaker atau sneakerhead, sepatu bersol karet ini adalah segala-galanya. Mereka tidak memakai sepatu ini, melainkan mengumpulkannya sebagai hobi. Mereka adalah pakar sneaker dan sangat memahami ihwal sepatu ini dengan baik.  

Hanya dengan melihat sekilas, sneakerhead sudah tahu sneaker yang ada di depannya asli atau palsu. Bahkan di Carnegie Mellon University terdapat program kuliah Sneakerology 101. Kelas kuliah ini mengajarkan sejarah pengoleksian sneaker.    

Sneakerhead tak hanya mengoleksi sneaker untuk cabang olahraga tertentu, tapi melihat kualitas produksi dan nilai yang ada di dalamnya. Koleksi para sneakerhead ini meliputi Air Jordan, Air Force 1, Nike Dunk, Nike Skateboarding, Nike Foamposite, Nike Air Max, dan Nike Air Yeezy.  

Koleksi yang beragam itu memang hanya terlihat sebagai sepatu bersol karet. Namun koleksi sneakerhead tersebut meliputi sneaker eksklusif atau edisi terbatas. Ada pula sneaker yang warnanya berbeda dengan yang sejenisnya, yang menjadikannya sneaker langka. Bisa juga sneaker itu dibuat dengan teknik pengecatan manual alias dikerjakan dengan tangan manusia, bukan mesin.  

Custom sneaker menempati posisi tersendiri di kalangan sneakerhead. Dengan merancang sendiri dan menentukan warna yang disukai, hasrat penggila sneaker akan terpenuhi. Melihat fenomena ini, produsen sepatu Nike dan Reebok membuka toko custom untuk memenuhi keinginan sneakerhead. Mereka dibebaskan memilih material dan warnanya.  

Sneakerhead tak mengenal tingkatan usia atau status sosial. Tak sedikit pesohor Hollywood yang menjadi sneakerhead, seperti Mark Wahlberg. Majalah Forbes pernah mencatat sneakerhead mencakup 5 persen pembeli sneaker yang ada atau senilai US$ 1,1 miliar hanya di Amerika.

Tak mengherankan bila sneakerhead tak sekadar mengoleksi sneaker, tapi melakukan investasi. Di eBay, konon, ada sekitar 11 juta sneaker yang dijual dengan sistem lelang. Sejak Mei 2013 sampai April 2014, pasar ini menyerap penjualan sekitar US$ 309 juta.  

Bisnis Sneaker, Bisnis Miliuner

Jangan menganggap sneaker hanya sepatu bersol karet, lebih dari itu bisnisnya menembus angka miliaran rupiah. Situs Campless.com menghitung pasar resale sneaker di eBay mencapai US$ 200 juta. Adapun Jordan Brand, yang menjadi favorit sneakerhead, terjual sekitar US$ 2,5 miliar tahun lalu. Setengah dari penjualan itu merupakan Jordan Retro, yang disusul di bawahnya brand Marquee dengan angka US$ 500 juta.  

Bila digabungkan semua angka itu—Jordan, Jordan Retro, dan Marquee—pasar sneaker mencapai US$ 1,75 miliar. Itu pun hanya pasar di Amerika. Konon, secara keseluruhan pasar sneaker mencapai nilai US$ 21 miliar per tahun.  

Tak mengherankan bila sneakerhead tak sekadar mengoleksi sneaker, tapi melakukan investasi. Inilah yang kemudian mengubah filosofi memiliki sneaker. Anak-anak sekarang melihat ekor yang mengikuti sneaker. Padahal, dua atau tiga dekade sebelumnya, memiliki sneaker menunjukkan gengsi tersendiri.  

Para sneakerhead mengetahui sneaker mana yang memiliki nilai tinggi dan rendah. Tak aneh bila penjualan perdana suatu brand dengan model tertentu dapat memancing sneakerhead bermalam di depan toko. Bahkan, kabarnya, di beberapa kota di Amerika sempat terjadi kerusuhan karena penjualan perdana ini.  

Photo by Glodi Miessi on Unsplash

Membeli sneaker dari sneakerhead bukan perkara mudah. Kebanyakan sneakerhead adalah remaja yang ternyata sangat pandai melakukan negosiasi. Mereka menjamin keaslian sneaker yang dijual, bahkan sampai detailnya dapat ditunjukkan. Soal harga, jangan ditanya. Karena mereka sangat ahli, harga yang ditawarkan di atas harga pasar.  

Perburuan sneaker memang melelahkan, yang dimulai dengan melakukan negosiasi sampai bermalam di depan toko penjual sneaker. Namun teknologi digital membantu sneakerhead melakukan perburuannya.  

Beberapa retail online atau situs lelang kerap dipantau oleh sneakerhead demi melengkapi koleksinya. Situs-situs ini memiliki koleksi yang dapat dikatakan langka dan eksklusif. Kebanyakan situs tersebut mendapatkan koleksi mereka dari pemilik langsung dan dijual dengan sistem konsinyasi. Sementara itu, di eBay, konon, ada sekitar 11 juta sneaker yang dijual dengan sistem lelang. Sneaker yang ada merupakan sepatu bekas, tapi masih terlihat apik. Inilah pasar sesungguhnya para sneakerhead, pasar sepatu bekas. Pasar ini terbentuk dari jumlah produksi yang terbatas pada model tertentu, sedangkan permintaan membeludak.  

Namun harga yang ditawarkan lebih miring dibanding harga retail. Harganya bisa murah, karena penjual tidak mendapatkan informasi yang pasti mengenai eksistensi sneaker tersebut. Bisa jadi sneaker yang ditawarkan memang tengah diburu orang.  

Hasil riset yang dilakukan oleh Campless menunjukkan adanya kenaikan penjualan di pasar bekas ini. Sejak Mei 2013 sampai April 2014, pasar itu menyerap penjualan sekitar US$ 309 juta. Diperkirakan, pada Mei 2014 sampai April 2015, penjualan akan naik 50 persen lagi. Jika hal itu terjadi, pasar ini menggulung uang sekitar US$ 465 juta. Adapun Campless hanya meriset satu pasar.  

Keberadaan sneakerhead sedikit-banyak mengubah cara pandang terhadap pasar oleh produsen sepatu olahraga. Kemajuan teknologi membuat permintaan bergerak dari media sosial yang ada. Bila olahragawan idola memakai model tertentu, muncul dorongan untuk memilikinya.  

Jika ada yang disukai, tinggal bergeser ke toko online dan mengeklik tombol Buy Now. Tapi tak mudah mendapatkan sneaker berlabel limited edition. Bisa jadi, hanya menunggu beberapa bulan, sudah ada di lelang eBay.  

Sebenarnya yang ada di kepala sneakerhead bukan melulu soal keuntungan. Lebih dari itu, mereka ingin menjadi orang pertama yang memiliki sneaker tersebut.

Sumber: MALE  Zone by Paksi Suryo, MALE Edisi 92

Music Score

0

A film score (also sometimes called film music, background music, or incidental music) is original music written specifically to accompany a film. The score forms part of the film’s soundtrack, which also usually includes dialogue and sound effects, and comprises a number of orchestral, instrumental or choral pieces called cues which are timed to begin and end at specific points during the film in order to enhance the dramatic narrative and the emotional impact of the scene in question. Scores are written by one or more composers, under the guidance of, or in collaboration with, the film’s director and/or producer, and are then usually performed by an ensemble of musicians – most often comprising an orchestra or band, instrumental soloists, and choir or vocalists – and recorded by a sound engineer. (Wikipedia)

Musik memiliki peran besar dalam industri film. Pada era film bisu, alunan nada yang dimainkan menjadi kunci utama yang memberi efek kuat untuk menghadirkan suasana dalam setiap adegan. Great Train Robbery dianggap sebagai film pertama yang dikenal secara komersial yang dirilis tahun 1903. Film yang berdurasi cuma 12 menit itu berhasil memukau penonton dan dianggap sebagai tonggak baru dunia hiburan. Bisa dibayangkan jika keberadaan film bisu itu masih dipertahankan hingga saat ini, sudah pasti ceritanya akan kehilangan kekuatan emosi.  

Beberapa tahun kemudian, setelah Great Train Robbery, dunia perfilman mendapat jawaban agar lebih meningkatkan kualitas film. Dengan menggunakan papan dialog dan iringan musik yang disesuaikan dengan adegan, film mendapatkan arah untuk menghadirkan keberagaman cerita serta genre.  

Namun, seiring dengan perkembangannya, peran musik tidak hilang dimakan waktu, dan tetap menjadi aspek penting dalam film. Benar, musik dapat memperkuat suasana dramatis dalam berbagai genre film, juga menginformasikan soal waktu, era, dan zaman. Bahkan musik digunakan untuk menimbulkan efek ketakutan dan kengerian penonton. Biasanya sineas film menggunakannya saat menciptakan film bergenre horor atau thriller.  

Dunia Disney, yang penuh dengan imajinasi, kreativitas, dan kisah yang mempesona, tentu harus menjadi contoh tentang keindahan serta pentingnya musik yang menemani film. Melalui visi yang dipertahankan oleh sosok Walt Disney hingga saat ini, film karya Disney selalu mempersembahkan lebih dari sekadar hiburan   Dari film animasi hingga feature, karya Disney selalu ditunggu penggemarnya dari segala umur dan lintas generasi. Tidak terkecuali musiknya yang khas dan everlasting.  

Sejak Disney memasuki dunia animasi dan film, jarang sekali karya musiknya yang luput dari perolehan penghargaan. Misalnya, dalam Academy Award 2014, lagu Let It Go, soundtrackfilm animasi Frozen, menjadi pemenang dalam perhelatan insan perfilman itu. Musikus besar seperti Elton John, Phil Collins, Sting, Bryan Adam, Christina Aguilera, dan Mandy Moore merilis kreativitasnya dalam balutan Disney.  

Satu Nada Penanda

Hanya mendengarkan nada yang dimainkan, kita akan tahu film yang sedang diputar.  

Selain memang menjadi satu kesatuan dengan film, musik tidak hanya membantu meraih tujuan menciptakan perasaan sedih, marah, benci, hingga rasa takut. Sisi lainnya adalah musik dapat membentuk identitas film itu sendiri.  

Video Musik

0

Video musik pernah mencapai jaya-jayanya pada era 1980-an. Tapi sebetulnya, hingga sekarang, video musik terus berkembang, bahkan mediumnya tidak hanya TV, tapi juga Internet.  

Perkembangan video musik umumnya identik dengan perkembangan industri musik itu sendiri. Sebuah negara yang industri musiknya maju, bisa dipastikan video musiknya juga dapat berkembang cepat. Amerika Serikat, misalnya, hampir seluruh dunia menikmati produknya, mulai dari industri musik hingga video musik lewat MTV-nya membuat musik yang berevolusi menjadi video klip musik.  

MTV sekarang memang bukan satu-satunya TV yang menayangkan video musik, tapi beberapa stasiun TV yang lain juga sering menyelipkan beberapa video musik. Bahkan di Indonesia, misalnya, hampir seluruh televisi menayangkan acara video musik sebagai salah satu program andalanya.  

Menonton Musik

Video musik sebenarnya tidak jauh berbeda dengan film pendek. Hanya, video musik merupakan perpaduan antara lagu dan gambar. Biasanya video musik berkaitan dengan kepentingan promosi dan penjualan album atau singlesang penyanyi atau musisi.  

Sebelum MTV tahun 1980-an, video musik sebenarnya sudah ada sejak dekade sebelumnya, hanya penamaannya tidak seragam dan cenderung membiaskan makna sebenarnya. Istilah yang dipakai kala itu seperti song video, song clip, film clip, dan filmed insert.  

Dalam perkembangannya, video musik tak hanya menampilkan film bermusik. Lebih dari itu, keberadaannya sejalan dengan kemajuan teknologi atau tren yang tengah digandrungi di dunia perfilman.  

Sejak suara memasuki dunia perfilman, banyak film yang berisi musik dan lagu. Adapun video musik baru ada pada 1950-an. Tony Bennet adalah penyanyi pertama yang merekam dan menyiarkannya di AS serta Inggris. Namun yang digarap dengan sungguh-sungguh adalah video musik Jailhouse Rock, yang dibawakan oleh Elvis Presley.  

Jika mengacu pada tujuan pembuatannya sebagai promosi dan penjualan album atau single, video musik Dame si do bytu (Let’s Get to the Apartment) garapan Ladislav Rychman pada 1958 adalah yang paling tua.

Tak dapat dibantah The Beatles-lah yang menetapkan dasar pembuatan video musik saat ini, dengan filmnya, A Hard Day’s Night (1964), yang disutradarai oleh Richard Lester. Film hitam-putih itu dibuat seperti film dokumenter, yang memasukkan unsur komedi dan dialog yang ditingkahi musik. Bila bagian per bagian film tersebut dipotong, akan menjadi kesatuan yang berdiri sendiri. Walhasil, bagian yang menampilkan adegan bernyanyi seolah menjadi model bagi pembuatan video musik saat ini.  

Film kedua The Beatles, Help! (1965), lebih mumpuni lagi. Film berwarna itu menggunakan berbagai teknik pengambilan gambar, yang pada saat itu tidaklah lazim. Misalnya, pengambilan gambar lebih berfokus pada foreground kepala gitar George Harrison ketimbang sosok John Lennon yang berada di belakangnya. Baru pada 1965 itu The Beatles peduli terhadap keberadaan video musik, atau kala itu disebut filmed insert. Maka lahirlah video musik Rain/Paperback Writer, Strawberry Fields Forever, dan Penny Lane.  

If advertisers can rise to the mobile challenge, the rewards will be huge

0

People now spend 20% of their time looking at a smartphone – but still only 4% of advertising budgets are spent on mobile ads

One of the most surprising statistics to emerge from Kleiner Perkins Caufield Byers’ annual Internet Trends Report, written by partner Mary Meeker, was the amount of time users spend consuming media on mobile devices. This highlights the immense opportunity mobile still presents.  

According to the report, consumers spend 20% of their time using mobile devices, up from 12% last year. Despite this, advertisers are still only spending 4% of total budget on mobile ads, up 3% from last year. This is almost the inverse of print media, which still receives 19% of advertising investment, despite taking up just 5% of consumers’ time. Advertisers are aware of these statistics and understand the value of mobile ads – but technical obstacles are preventing them from acting.  

There are a number of roadblocks for potential mobile advertisers. These challenges include issues with attribution and tracking, the lack of standardised ad formats and how to create landing pages that will work across multiple devices. Some of these also extend beyond the advertiser’s control, for example network load times and device usability issues. But on the plus side, some of these challenges are quickly being tackled – for example page load times are decreasing, partly due to advances in device speed as well in increases in wireless speeds as the rollout of 4G in Europe and 4G LTE in the US continues.  

One challenge that persists is the issue of designing landing pages that look good across all devices. The smartphone and tablet market is ery fragmented, with a plethora of screen sizes that need to be supported. Even if you were to support only mobile devices from Apple, you would need to modify your landing pages to support the iPad, iPad Mini and two iPhone screen sizes. However, having a fully responsive site can be worth the effort you need to put in. Voices.com reported a 140% increase in transactions from their responsive efforts.

As for tracking and attribution, Google has introduced Estimated Cross-Device Conversions in Adwords to enable advertisers to track actions that start on one device and lead to a conversion on another – such as when a customer does a search on their mobile device but switches to their deskop to complete the purchase. Facebook has also released Custom Audiences to allow advertisers to deliver targeted cross-device ads to users who visit their website or use their mobile application.  

As for mobile ad formats, the Interactive Advertising Bureau (IAB) has been working closely with some of the largest internet companies to ensure the industry guidelines and ad specifications don’t get left behind, through their Mobile Rising Stars program – an initiative to standardise cutting-edge ad formats. Facebook, which isn’t part of this program, has been innovating quickly and testing multiple ad formats in its news feed. It seems it may have stuck gold: Mark Zuckerberg claims the company’s Mobile App Ads have driven 350m downloads from their 1bn a month active mobile users.  

Facebook also launched Ad Network at the end of April, allowing advertisers to push their existing mobile ads – previously only viewable within Facebook – to a network of third-party applications. Their platform includes all their existing (and somewhat controversial) targeting tools, allowing advertisers to reach highly targeted users of third-party apps.  

It’s not just in-app advertising that is taking off, according to a report released earlier this year by Marlin Software, an ad management firm. The US mobile search prices for Google are up by nearly 21% on smartphones and 23% on tablets.  

Innovation on all fronts (from device manufacturers, ad networks and businesses) has helped conversion rates – the percentage of website visitors that purchase – on tablets beat those on conventional computers for the first time ever. Last year conversion rates for smartphones and tablets jumped by 57% and 67% respectively, compared with 36% for computers.  

In the face of these challenges, it may take some time before ad spend matches consumer consumption habits. Once it does, however, the market will be forever altered for advertisers and consumers alike. (By John McLaughlin is a start-up founder and entrepreneur based in Manhattan)