Home Blog Page 91

Ala Chef

0

Acara kuliner di TV yang paling saya sukai adalah “Ala Chef” di Trans TV. Terus terang, pertama-tama memang karena host-nya yang jelita, Farah Quinn. Tapi yang lebih penting, penonton bisa diajak masuk ke aura masak memasak yang cerdas, yang hasilnya adalah yummy sexy food, paling tidak begitulah kata si pembawa acara di di pengujung acara.

Sayangnya, acara yang bermutu ini ditayangkan di jam para profesional masuk kantor. Artinya, hanya orang-orang rumahan saja yang bisa menyimak pelajaran masak memasak ala chef tersebut. Sebutlah ibu-ibu dan, maaf, pembantu saja, yang mungkin menjadi target pasar acara tersebut. So, saya jarang nonton, tapi saya cukup beruntung, pernah semeja dengannya dalam sebuah jamuan makan siang di Time Square, Grand Indonesia, atas undangan teman baik saya, Hanny Gunawan, PR Manager tempat tersebut.

Yang jelas, acara kuliner dan masak memasak memang makin mendapat tempat di Indonesia. Kalau tidak, mana mungkin, acara seperti Gula-gula atau Wisata Kuliner tetap berkibar. Ada juga Santapan Nusantara, Bango Cita Nusantara, Cita Rasa William Wongso, dan lain-lain.

Yang menarik, acara-acara tersebut melahirkan chef-chef andal yang mulai dikenal masyarakat luas, minimal kategori host lagi, yang jagoannya di kuliner. Memang, salah satu rumus untuk menarik perhatian penonton adalah dengan menampilkan bintang tamu selebirti, tapi kini chef-chef itu menjelma menjadi selebriti itu sendiri. Sebutlah William Wongso, Bondan Winarro, Bara Pattirajawane, Tatang, Ragil, Rustandy, Rudy Choirudin, dan lain-lain.

Ya, chef bisa menjadi sentral sebuah acara, sama dengan restoran-restoran di negara maju, kuncinya adalah sang chef. Inilah sebuah penghargaan terhadap profesi juru masak yang di negara berkembang yang selama ini identik dengan urusan dapur, yang selalu diletakkan di “belakang”.

Saya ingat ketika mendapat undangan dari Australian Tourist Commission untuk program Epicurean Experiences Theme Tour, beberapa tahun yang lalu, saya (dan beberapa wartawan dari berbagai negara) mendapat kesempatan untuk mengunjungi beberapa restoran terbaik di Negeri Kangguru itu. Nama besar sebuah restoran di sana tidak ditentukan oleh namanya, tapi siapa chef-nya.

E’cco Bistro, misalnya yang berlokasi di pusat kota Brisbane, meski kecil, tapi menjadi favorit penduduk Australia lantaran pemilik sekalian chef-nya, Philip Johnson, sangat populer di dunia kuliner. Philip yang asal New Zealand itu dikenal sebagai koki yang andal. Mendapat beberapa penghargaan seperti The Remy Martin Gourmet Traveller Australian Restaurant of The Year Award, serta menjadi salah satu yang direkomendasikan dalam Eating and Drinking in Australia.

Di Noosa, salah satu melting pot yang penting di Australia, kami berkesempatan menikmati makan malam di dua restoran ternama. Ricky Ricardo’s dan Berardo’s Restaurant. Resto yang pertama berlokasi di tepi sungai. Ricky yang pernah memenangkan American Express Award dan Best Sunshine Coast Restaurant itu menyajikan makanan ala Mediteranean.

Sementara Berardo’s dengan pemilik yang juga sekaligus chef David Rayner menyuguhkan sajian khas Australia, mewakili salah satu gaya Noosa Cuisine. Oleh koran lokal, The Courier Mail, kedua restoran tersebut juga dipuji sebagai resto yang mempunyai makanan yang enak, suasana yang mengasyikkan, serta mempunyai wine list yang sempurna.

Rupanya bukan nama besar yang dipertaruhkan untuk sebuah resto dengan konsep fine dining, tapi sang kokilah yang sangat berperan apakah resto itu berkualitas atau tidak.

Di Indonesia kita memang dengan gampang menyebut nama-nama restoran beken, baik yang lokal maupun franchise. Tapi kita tidak tahu siapa juru masak di belakangnya. Padahal, sebuah restoran atau kafe menjadi favorit atau tidak, pertama-tama adalah rasa makanannya, berikutnya adalah ambiance, atmosfer, suasana, dan seterusnya, termasuk harga tentu saja. (Burhan Abe)

Available in Any Size!

0

Memasarkan busana pria eksklusif super mewah memang menyimpan cerita tersendiri. Hal ini meliputi kelas sosial, kondisi psikografis dan gaya hidup konsumen yang patut dipelajari. Ada anggapan, membeli sebuah trend busana tak sekadar menikmati fungsinya, tapi juga membeli sebuah gaya hidup.

Perkembangan mode dan tuntutan penampilan menjadikan busana bagian dari kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada kaum wanita, namun juga pada kaum pria. Sementara itu, berbagai model busana terkini membuat konsumen pria lebih selektif untuk memilih yang terbaik. Setidaknya hal ini diamini oleh Irawati, Public Relations Manager PT Busana Perkasa Abadi (BPA), pemegang beberapa merek top seperti Ermenegildo Zegna, Versace, Versus, dan GF Ferre.

Memang, perusahaan di Indonesia yang berbasis busana pria tak sebanyak perusahaan yang menekuni busana wanita. Apalagi khusus busana pria eksklusif. Mitos di masyarakat, lebih mudah menjual busana wanita ketimbang busana pria. Alhasil, muncul anggapan jika wanita lebih gemar bersolek daripada pria, sehingga menetaskan citra bahwa wanita lebih modis ketimbang pria. Benarkah? Tidak juga!

Sebenarnya, konsumen pria jauh lebih kalem ketimbang wanita. Dalam memilih sesuatu, mereka lebih cepat memutuskan. Hal ini tentu lebih menguntungkan daripada konsumen wanita yang jauh lebih selektif. Bahkan, ada anggapan jika kaum pria lebih impulsif, sehingga menjual busana pria lebih mudah dan menguntungkan. Sementara itu, kaum wanita melihat dari semua aspek dalan keputusannya untuk membeli, seperti potongan merek, potongan harga, model, warna, dan lainnya.

Konsumen pria? Mereka tak mau repot-repot. Jika suka, mereka langsung membelinya walau ada “harga” yang harus dibayar. Namun demikian, banyak juga dari kaum pria, khususnya kalangan eksekutif yang gandrung terhadap brand papan atas. Nah, masalah timbul ketika sebuah busana dari merek favoritnya kurang “sreg” di hati. Misalnya, ukuran atau model busana itu tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya. Maklum, busana yang dipajang di manekin ukurannya belum tentu sama dengan ukuran tubuhnya.

Fenomena ini kerap melanda di kalangan pria eksekutif. Bagaimana menyiasatinya? Merek busana pria papan atas menyadari betul fenomena itu. Sebut saja Ermenegildo Zegna yang tampil dengan servis bertajuk “Su Misura”. Seperti dikutip dari keterangan tertulisnya, program Su Misura melayani pembelian dengan ukuran yang sesuai, tentu setelah diukur terlebih dahulu, layaknya pembuatan jas (stelan) di tailor. Bukan cuma jas, program Su Misura meliputi pembuatan produk fashion lainnya seperti jaket, celana, kaos, dasi, sepatu, hingga ikat pinggang.

Servis ini mengakomodasi keinginan konsumennya. Tentu dengan kualitas dan sistem kontrol yang baku sesuai standar. Intinya, produk yang dipesan diperlakukan sangat akurat demi kepuasan konsumen yang sudah fanatik dengan produk Zegna. Memang, secara general Zegna diperuntukkan bagi pria yang relatif konservatif namun tetap mengikuti tren.

Yang menjadi benang merah dari karakter konsumen produk papan atas boleh jadi sama, yaitu fashionable dan established. Alhasil, produk-produk yang ditawarkan pun bukan sekedar pelengkap tubuh, melainkan pembentukan citra. Harga yang harus dibayar pun angkanya kian meroket. Mulai dari kisaran ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah.

Kesan pertama merupakan kunci terpenting bagi pebisnis. Kalau seseorang sudah “tenggelam” saat pertemuan pertama gara-gara caranya berpakaian, ini adalah tragedi! Seringkali kita menemukan seorang eksekutif yang berbusana mengesankan dari kaki hingga kepala. Namun, imej-nya menurun gara-gara dasi atau ikat pinggang yang tidak pas. Merugi? Sudah pasti! Artinya, style seseorang merupakan salah satu investasi penting. Yang jelas, asal kocek mendukung, semua bisa di-customized! (Burhan Abe)

Fashion Pro, Januari 2009

A Trip to Beautify Oneself

0

Nurlita no longer feels comfortable with her looks. At 36, she is worried by the wrinkles appearing on her face and around her eyes. “Tell me, what woman doesn’t want to look beautiful? Now, maybe only cosmetic surgery can help me solve the problem,” said Nurlita, who is the marketing manager of a garment company.

Today, many things can be done to improve one’s looks, from a facelift to botox and various other procedures that make one’s face younger with a short recovery time. The cost is also affordable to many. Facelifts and other such surgeries are not only done domestically, but also abroad, which means that one can go on a tour and have one’s face done at the same time.

Some Bangkok hospitals and beauty clinics already advertise here. They provide a wide range of services, such as tightening the facial skin, hair removal, face mark reduction, breast implants, tummy tucks and even sex changes.

Going abroad for a tour and cosmetic surgery is becoming popular, with Thailand being one of the most popular destinations for medical tours. Bangkok Dusit Medical Services Group and Bumrungrad Hospital, both located in Bangkok, are just two examples of the Thai hospitals that attract foreign tourists wanting cosmetic procedures. Every year, more than 364,000 patients from 150 countries go to Thailand on medical tours.

Singapore is probably the best prepared Asia Pacific country to tackle medical tours. What makes Singapore one of the leading medical centers in the world is its state-of-the-art facilities, professional doctors and sophisticated diagnostic equipment. Besides its world-class facilities, Singapore’s clean environment also lends patients a sense of well-being that encourages a speedy recovery.

AsiaMedic Limited in Singapore is just one example of a leading one-stop healthcare provider that serves both local and foreign patients. It focuses on early prevention and detection of various diseases through sophisticated technology in its wide-ranging specialized clinics, such as AsiaMedic PET/CT Centre, Aesthetic Medical Centre, AsiaMedic Eye Centre, Orchard Imaging Centre and Wellness Assessment Centre.

Meanwhile, Excellence Healthcare is a multi-discipline American-style clinic that offers various medical services, such as general checkup, cardiology, oncology, Lasik and presbyopia surgery, aesthetic and plastic surgery, dental care and orthodontics, and obstetrics and gynecology.

Other medical centers in Singapore include eMenders Medical Specialist Group, Island Orthopaedi-c Group, Pacific Healthcare, Specialist Dental Group (Henry Lee Dental Surgery), Surgeons International Holdings Pte Ltd, The Lasik Surgery Clinic, and many more. In 2000, the World Health O-rganization (WHO) ranked Singapore’s healthcare system No. 6 in the world. Apart from this recognition, 13 of Singapore’s hospitals and health centers have been accredited by the International Joint Commission.

Meanwhile, Malaysia has also emerged as a destination for medical tourism. One of its targets is Indonesian patients for both health and beauty services. So, don’t be surprised to see advertisements in local media promoting cosmetic procedures in, say, Penang, Malaysia.

The surgeries offered include liposuction, blepharoplasty (double eyelid surgery), nose implants, breast enlargement, facelifts, etc. The hospitals provide not only medical services but also accommodation at a four- or five-star hotel, airport transfer and local transportation for shopping and sightseeing.

In An Absolut World

0

Jumat 6 Februari 2009 menjadi saat dimulainya rangkaian Absolut Vodka Party berlangsung di Minus2 Bar Jakarta. Saat ini Absolut Vodka masuk dalam keluarga besar Pernod Ricard bersama minuman seperti Chivas Regal, Martell dan lainya.

“Absolut Vodka masuk pertama kali tahun 90-an melalui distribusi dari Seagram di mana Absolut adalah agency brand yang didistribusikan pada waktu itu oleh Seagram. Sejak tahun 20008, Absolut (tepatnya perusahaan V & S) dibeli oleh Pernod Ricard dan masuk menjadi keluarga Pernod Ricard,” jelas Edhi Sumadi, Country Manager Pernod Ricard Indonesia, beberapa saat sebelum party dimulai.

Party yang pertama kali diselenggarakan oleh Absolut Vodka ini sengaja mengangkat tema In An Absolut World (Enjoy Different Flavour Ever Moment). Tema ini menjadi tema besar bagi setiap party-party yang diselenggarakan oleh Absolut Vodka. “Dalam membuat pesta-pesta. Tema akan tetap dengan tema yang utama, yaitu In An Absolut World. Kejutan akan datang di dunia Absolute. Maksudnya di dalam dunia Absolut, segala sesuatu bisa berbeda dengan hal-hal yang biasa. Banyak hal surprised yang tidak disangka-sangka.

Kemeriahan party yang dihadiri oleh partygoers dan pencinta minuman Vodka ini dimeriahkan dengan penampilan DJ Devina yang memang pencinta sejati minuman Absolut Vodka.Partygoers di Indonesia saat ini sudah dapat menikmati beragam rasa dari Absolut Vodka. Mulai dari Mango, Papper, Citron, Mandrin, Pears, Peach, Red Ruby, Vanilla, Kurant dan Respeberry. Dan produk utama Absolut Blue (Pure Vodka). Beberapa partygoers banyak yang mengoleksi botol-botol indah dari Absolut Vodka.

Bisnis dalam Balutan Cinta

0

Single this valentine’s day? Not for long… !!! Join us. What: Speed dating. Where: Portobelo, Jakarta. When: Friday, February 13th 2009. Time: 08.00 PM. Dress to impress! 

Begitulah iklan ajakan untuk merayakan Valentine’s Day sebuah kafe yang terletak di Mid Plaza Midplaza 2 Building, Jl. Jendral Sudirman Jakarta itu. Target mereka kali ini adalah orang-orang yang single and available, ready to mingle, university educated, between the ages of 25 to 40, and hold a steady job.

Portobelo hanya salah satu kafe yang memanfaatkan Valentine’s Day sebagai waktu yang tepat untuk menarik tamu lebih banyak. Seperti perayaan hari-hari besar lainnya, meski kali ini kalender tidak berwarna merah atau tidak libur, Hari Kasih Sayang yang dirayakan di berbagai negara ini adalah saat yang tepat menggandakan pendapatan. Kafe-kafe dan restoran-restoran mengemas berbagai acara yang berkaitan dengan Valentine’s Day, mulai dari romantic dinner package hingga speed dating. 

Well, Valentine’s Day boleh saja diperdebatkan di Indonesia, apakah layak dirayakan atau tidak karena tidak sesuai dengan kebudayaan. Tapi nyatanya, Valentine’s Day memang tradisi yang berakar dari Katolik, tapi saat ini sudah berubah menjadi fenomena sosial budaya. 

“Valentine adalah gejala globalisasi. Gejala gaya hidup yang menyebar ke mana-mana, Jadi kalau ada yang merayakan Valentine, sesuaikanlah dengan konteks Indonesia. Sebab Valentine tidak bisa dicegah, sulit untuk dibendung, apalagi dilarang,” ujar cendekiawan muslim Azyumardi Azra, mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Memang, orang yang merayakan Valentine kini tidak ambil pusing dengan latar belakang atau sejarah tentangnya. Anak-anak muda, dengan latar belakang keyakinan apa pun, juga tidak peduli siapa yang sebenarnya diperingati, tanggal 14 Februari tetaplah dianggap sebagai momen yang tepat untuk melakukan hal-hal yang barkaitan dengan pengungkapan kasih sayang.

Juga tidak bisa dimungkiri, Valentine’s Day juga dianggap sebagai waktu yang tepat bagi para pelaku bisnis untuk menaikkan penjualannya dan mengeruk keuntungan yang besar. Tidak hanya kafe dan restoran, pusat perbelanjaan, hotel-hotel ternama pun menggelar acara yang berkaitan dengan perayaan cinta tersebut. Tidak berbeda dengan saat perayaan hari-hari besar lainnya, entah itu Natal, Idul Fitri, Imlek, dan lain-lain. 

Lihat saja di berbagai pusat perbelanjaan menjelang Valentine’s Day ini, berbagai produk: kartu, bunga, balon, coklat, dan pernak-pernik khas Valentine yang lain, dipajang secara mencolok. Tempat-tempat tersebut didesain dengan hiasan hati, serta dominan warna pink.

Jangankan toko bunga, tidak hanya di pusat perbelanjaan mewah tapi juga di berbagai tempat, yang pasti panen. Maklum, bunga saat ini dianggap sarana yang efektif untuk menyatakan cinta. 

Tapi toko buku pun tidak ketinggalan untuk memanfaatkan Valentine’s Day untuk mnggenjot penjualannya dengan berpromosi habis-habisan. Sebuah toko buku ternama pun tak segan-segan menawarkan Valentines Day Gift Book. “Merayakan hari kasih sayang bersama kekasih adalah indah, tapi ada baiknya anda mengetahui lebih jelas apakah pasangan Anda orang yang anda inginkan? Orang yang akan berjodoh dengan anda? Jangan ragu lagi, buku ini akan membantu Anda,” begitu bunyi iklannya.

Pasar Tradisional

0

Kalau ingin mengenal sebuah kota, datanglah ke pasar tradisionalnya, begitu nasehat seorang wartawan senior. Dan kali ini saya tidak ingin melewatkannya, di kota Solo terdapat lebih dari 30 pasar tradisional. Saya memilih beberapa yang unik, yakni Pasar Gede, Pasar Kembang, Pasar Legi, dan pasar yang menjual barang-barang antik di kompleks Sriwedari.. 

Meski hadir hadir pusat-pusat perbelanjaan modern, pasar tradisional tetaplah unik. Ciri khas seperti tawar-menawar, keakraban, dan keramahtamahan pasar yang tidak dijumpai di pasar modern, menjadi kekuatan utama pasar tradisional dalam menghadapi persaingan dengan pasar modern. Kontribusi pasar tradisional ternyata juga tidak kecil, sedikitnya bisa menyumbang pendapatan asli daerah, dari retribusi, lebih dari Rp 11 miliar setiap tahunnya. 

Memang, kondisi pasar tradisional dari tahun ke tahun sangat menyedihkan. Dari segi fisik, bangunan pasar yang mulai tua dan butuh renovasi berubah kusam. Kalau hal ini dibiarkan, pasar tradisional kelak hanya tinggal nostalgia…. (Abe)

Eksotisme Jawa

0

Surakarta atau dikenal sebagai Solo, belakangan sering menjadi tuan rumah acara-acara budaya. Tak ayal, kota yang selalu saya lewati berkali-kali semasa kuliah dulu di Yogyakarta, kembali menarik perhatian.

Berdirinya Solo tidak terlepas dari sejarah Mataram, karena kota ini pernah menjadi pusat pemerintahannya, setelah kepindahannya dari keraton Kartasura pada 1745. Setelah pembagian Mataram akibat perjanjian Giyanti, Surakarta menjadi pusat pemerintahan wilayah timur Mataram. Perjanjian Salatiga 1753 membuat kota ini dibagi menjadi dua: bagian selatan dan timur untuk Kasunanan Surakarta, dan bagian utara diberikan kepada Mangkunegaran. Penyatuan pemerintahan kota baru terjadi pada masa kemerdekaan Republik Indonesia.

Dulu saya tidak melihat sisi eksotisme kota yang sisi timurnya dilewati sungai yang terabadikan dalam sebuah lagu keroncong legendaris, Bengawan Solo. Tapi setelah sekian tahun tinggal di Jakarta, kota di Jawa Tengah yang merupakan kota peringkat kesepuluh terbesar (setelah Yogyakarta) di Indonesia ini mempunyai daya tarik sebagai kota yang menyimpan warisan budaya adiluhung. Di sana bengunan-bangunan kuno dan gedung-gedung masih terpelihara dengan baik, tidak seperti Jakarta yang setiap saat berubah.

Kebetulan, bersama beberapa teman, saya mendapat undangan dari Ibu Krisnina Maharani, atau yang juga dikenal sebagai Ny. Nina Akbar Tanjung, untuk menyinggahi hotel miliknya di Laweyan, yang ia sebut sebagai Roemahkoe Bed & Breakfast. Inilah kesempatan untuk melihat Solo dari sudut pandang yang berbeda.

Bayangkan, hotel yang terletak di di Jalan Dr Radjiman 501 Surakarta dan hanya mempunyai 13 kamar itu adalah eks bangunan kuno yang berdiri tahun 1938. Sebagai bangunan bergaya art deco, rumah yang didirikan Ny Poespo Soemarto, saudagar batik dari Laweyan ini, langsung menyergap perhatian siapa pun yang datang dengan keindahan ornamen kaca patrinya. Apalagi, setelah memasuki bagian dalam, terasa kehangatan keluarga, seperti keramahan warga kota ini di masa lalu.

Selayaknya rumah saudagar kaya di Solo, bangunan (yang dibeli Nina pada tahun 1997, yang kemudian direnovasi dan dibuka sebagai hotel pada 2000) menguasai 60% dari keseluruhan lahan seluas 2.000 m², dan terbagi menjadi beberapa ruangan, kamar-kamar, termasuk pendopo. Menurut Asep Kambali, General Manager Roemahkoe, bangunan tersebut masih asli, terutama bangunan induknya. Hampir tidak ada perubahan kecuali perubahan fungsi ruangan.

Meski diembel-embeli bed & breakfast, bukan berarti Roemahkoe berfungsi seperti motel atau hostel yang ada di Eropa, misalnya, sebagai tempat singgah sementara, tapi justru kesan “rumah” dengan kultur Jawa terasa sangat kental. Memang, awalnya, Roemahkoe hanya menyediakan kamar tidur dan sarapan, tapi dalam perkembangannya juga menyediakan menu makan siang dan makan malam.

Ternyata, para tamu menyambutnya dengan sangat baik. Sebab, Roemahkoe memang tidak sekadar menyajikan makanan tradisional yang jarang dijumpai di tempat-tempat lain, tetapi juga makanan asli Solo yang menjadi hidangan favorit para bangsawan tinggi di sana, seperti lodoh pindang yang merupakan makanan kesukaan Pakubuwono X dan nasi jemblung atau bestik Jawa. Bahkan tamu bisa memesan makanan lain khas Solo yang tidak tersedia di Roemahkoe, seperti serabi notosuman atau gudeg ceker. (Burhan Abe)

Appetite Journey, Januari 2009

Perkampungan Batik Laweyan

0

Menginap di Roemahkoe Bed & Breakfast tidak sekadar tidur dan menikmati sarapan, tapi lebih dari itu, ia adalah bagian dari lingkungan yang lebih besar, yakni Kampung Batik Laweyan – yang di dalamnya juga terdapat Museum Samanhoedi.

Pada periode 1859 – 1870-an Solo merupakan pusat utama industri batik. Bagian timur dan tengah kota, seperti Kauman, Keparabon, dan Pasar Kliwon membuat batik halus. Sementara bagian barat kota, khususnya Tegalsari dan Laweyan memproduksi batik cap untuk konsumsi massal. Selain itu, Kauman adalah tempat bermukimnya para pegawai urusan agama Kasunanan.

Laweyan adalah tempat bermukim saudagar pribumi dari golongan rakyat kebanyakan. Perdagangan batik borongan untuk “pasar nasional” dikuasai orang Tionghoa dan Arab, sedangkan perdagangan batik tingkat lokal dikuasai pedagang-pedagang Jawa.

Kampung Laweyan sudah ada sejak abad ke-15 pada masa pemerintahan Kerajaan Pajang. Daerah ini dulu banyak ditumbuhi pohon kapas dan merupakan sentra industri benang yang kemudian berkembang menjadi sentra industri kain tenun dan bahan pakaian. Kain-kain hasil tenun dan bahan pakaian ini sering disebut dengan Lawe, sehingga daerah ini kemudian disebut dengan Laweyan.

Laweyan terkenal dengan bentuk bangunannya, khususnya arsitektur rumah para juragan batik yang dipengaruhi arsitektur tradisional Jawa, Eropa, Cina, dan Islam. Bangunan-bangunan tersebut dilengkapi dengan pagar tinggi atau “beteng” yang menyebabkan terbentuknya gang-gang sempit spesifik, seperti kawasan to­­wn space.

Di kampung ini juga dapat ditemukan Makam Kyai Ageng Henis dan Sutowijoyo (Panembahan Senopati), bekas pasar Laweyan, bekas Bandar Kabanaran, makan Jayengrana (Prajurit Untung Suropati), Langgar Merdeka, Langgar Makmoer, dan tentu saja rumah H. Samanhoedi, pendiri Serikat Dagang Islam.

Berjalan-jalan ke sudut-sudut gang di Laweyan seperti menyusuri jejak sejarah masa lalu. Tembok-tembok tua dengan warna yang memudar itu menjadi saksi bisu atas masa kejayaan batik Laweyan. Bahkan di dalam tembok-tembok yang angkuh tersebut masih berdiri rumah-rumah mewah pada masa lalu yang masih terawat dengan baik.

Batik, bahkan sampai saat ini, tidak bisa dilepaskan dari Laweyan. Itu sebabnya, sebagai langkah strategis untuk melestarikan seni batik, Laweyan dalam era kekinian didesain sebagai kampung batik terpadu. Di atas lahan seluas 24 hektare inilah, pengelola kampung batik Laweyan menciptakan suasana wisata dengan konsep “rumahku adalah galeriku”. Artinya, rumah memiliki fungsi ganda sebagai showroom sekaligus rumah produksi.

Konsep pengembangan terpadu ini nyatanya memang berhasil memunculkan nuansa batik di Laweyan, yang secara langsung akan mengantarkan para pengunjung pada keindahan seni tekstil dan garmen khas Indonesia tersebut. Di antara ratusan motif, jarik dengan motif Tirto Tejo dan Truntun merupakan ciri khas utama batik Laweyan.

Kroncong, karawitan dan rebana merupakan jenis kesenian tradisional yang banyak ditemukan di masyarakat Laweyan. Kelengkapan khasanah seni kampung batik Laweyan tersebut itulah yang menjadi daya tarik para wisatawan, baik dari Indonesia sendiri maupun asing (Jepang, Amerika Serikat dan Belanda). (Burhan Abe)

Dari Cabuk Rambak hingga Gudeg Ceker

0

Solo bukan hanya batik atau budaya saja, kota ini terkenal dengan jajanan serta makanannya yang khas. Tidak heran kalau kelompok pecinta makan seperti Jalansutra, menjadikan Solo sebagai salah satu tujuan wisata kuliner mereka.

Kalau mau tahu daftar kuliner Solo yang eksotis, inilah beberapa di antaranya: timlo, pecel sambel kacang (sama saja dengan pecel Jawa yang lain), pecel sambel wijen (sering disebut “pecel ndeso”), tahu kupat, cabuk rambak, sosis solo, sate buntel, garang asem, tengkleng, gudeg ceker, dan masih banyak lagi.

Kali ini yang menjadi incaran saya dan teman-teman adalah “pecel ndeso”. Kami memilih warung makan Pecel Solo yang terletak di Jalan Dr Supomo No 55. Nama warungnya terdengar sudah jamak, tapi suasana eksotik etnis Jawa pada masa lalu sangat kental.

Atmosfernya sudah menawan, tapi makanannya sendiri tidak kalah menggodanya. Tidak hanya kemasannya yang “kuno”, tapi nasi pecelnya sendiri berasal dari beras merah, jenis beras yang kini makin langka. Pecelnya, berisikan sayuran, mulai dari jantung pisang, nikir, daun petai cina, bunga turi dan kacang panjang. Sambalnya ada dua pilihan, sambal kacang seperti pecel pada umumnya atau sambal wijen yang memiliki dua pilihan, wijen putih atau hitam. Lauk yang bisa Anda pilih di sini adalah tempe bacem, belut goreng, telur ceplok, sosis solo, bongko (kacang merah dan kelapa), gembrot, otak, iso goreng, dan lain-lain.

Sasaran berikutnya adalah gudeg ceker. Menu ini merupakan variasi dari jenis gudeg yang biasa kita kenal, hanya saja ditambahkan dengan ceker alias kaki ayam. Sungguh pengalaman kuliner yang menyenangkan.

Apalagi, menu ini, sebutlah Gudeg Ceker Bu Kusno Margoyudan, yang berlokasi di Jl. Monginsidi, hanya bisa ditemui pada jam 02.00 dini hari. Pembelinya mengantre, datang dari kalangan yang beragam, mulai dari tukang becak sampai pejabat bermobil, dan tentu saja wisatawan dari luar kota.

Para pengunjung bisa menghabiskan hingga puluhan ceker, yang dihidangkan bersama dengan gudeg. Ceker-ceker tersebut telah dimasak hingga lunak, karena rasanya memang lezat. Selain dimakan bersama dengan nasi gudeg, pengunjung bisa juga memesan ceker dengan bubur. Itu baru sebagian saja, sebab kalau dituruti mencicipi semua makanan khas Solo, tentu waktu waktu seminggu pun tidak akan cukup. (Burhan Abe)

Wine Tasting @ Vin+

0

“Pale yellow with a greenish tint, limid and brilliant. First nose sour apple with strong flowery bouquet. The first attack is supple and very fresh. Excellent with fish, white meats and goat cheese.”

Itulah tasting note (catatan rasa) yang diberikan oleh sommelier (ahli wine) untuk M. Chapotier Petite Ruche Hermitage Blanc tahun 2007. Anggur putih asal Prancis tersebut hanyalah satu satu dari empat produk yang boleh dicicipi oleh para pelanggan V+, gerai wine terlengkap di bilangan Kemang, Jakarta, akhir Oktober lalu. Selain produk yang disebut di atas, masih ada Bovier and Fils AC Chablis Blanc (2006), La Valinere Graves Rouge (2005), dan Chateau Barreyre AC Premieres Cotes de Bordeaux (2005).

Dalam acara wine tasting para tamu boleh mencoba wine yang disajikan malam itu. Kalau cocok dengan selera, mereka boleh memesannya untuk dibawa pulang atau diminum di tempat, sebagai teman makan malam. Untuk memandu rasa, beberapa produk ada tasting note-nya, termasuk dengan makanan apa wine tersebut diminum, tapi itu bukan menjadi patokan orang menyetujui atau tidak.

Apalagi, pendapat para ahli wine tentang kualitas suatu jenis wine tertentu pun bisa sangat bervariasi. Bahkan, selera orang per orang bersifat personal –- yang satu menyukai wine tertentu, tapi yang lain mungkin berpendapat sebaliknya. Saran pakar, seperti ditulis dalam Appreciating Fine Wines, dan masih relevan sampai saat ini, bila sudah menyukai rasa suatu jenis anggur, nikmati saja tanpa perlu takut dibilang “kampungan”.

Yang jelas, wine kini bukan minuman yang asing bagi lidah orang Indonesia. Bahkan, minuman beralkohol yang terbuat dari sari anggur jenis Vitis vinifera yang biasanya hanya tumbuh di area 30 hingga 50 derajat lintang utara dan selatan ini, makin populer belakangan ini. Terbukti dengan banyaknya bar-bar yang khusus menyediakan wine di Jakarta belakangan ini.

Vin+ hanya salah satu yang sampai saat ini masih tergolong hip. Selain koleksi wine-nya yang mencapai 800 merek, penambahan fasilitas baru, yakni Mixx Grill Steak House, menambah sempurnalah gerai ini. Yup, steak dan wine, adalah pasudan yang serasi. Rasanya ada yang kurang kalau menikmati sekerat steak lezat tanpa wine atau sebaliknya. (Burhan Abe)

Platinum Society, Desember 2008