Home Blog Page 90

Strength of Communicating through Social Media

0

Today, telecommunications are not limited to voice only but use a combination of cellular phone technology and the Internet, which has changed the way people communicate. One can now interact with others through computers and mobile gadgets or a combination of various devices.

Currently, Web 2.0 has a unique characteristic because it is interactive rather than a one-sided form of communication. One growing phenomenon is obviously social media. Facebook is the world’s third largest “country” with a “population” of more than 500 million, and Twitter is a “home” where millions of netizens reside with millions of aspirations and opinions.

It was this great power that prompted the Egyptian government to block the Twitter micro blogging site on Jan. 27, 2011 to avoid widespread demonstrations and protests in the country. The Egyptian government appeared worried that people’s dissatisfaction in it would lead to a revolution the likes of that in Tunisia because demonstrations could spread even farther with the active use of Twitter.

Twitter, with more than 100 million accounts worldwide, plays an important role and even has the power to make governments tremble. It has the capability to be more centralized when combined with other social media, such as Facebook, Kaskus, Plurk, Koprol, Foursquare, YouTube and others. One can use all of these not only on desktop and notebook but also via mobile gadgets like BlackBerry, iPhone and iPad.

The controversy of Communications and Information Technology Minister Tifatul Sembiring claiming he was forced to shake hands with Michelle Obama during the US first couple’s visit to Indonesia and then being proven to be the eager instigator of the greeting when a clip of the moment was posted on YouTube is one example of how social media has the power to spread news around the world, with Tifatul becoming a victim of its global might.

Photo by Karsten Winegeart on Unsplash

For the past few years we have been astounded by the strength of such social media as Facebook and Twitter, both of which have attracted millions of Internet users. Even US President Obama has made good use of social media. Meanwhile in Indonesia, people have used the power of social media for activities like Cicak versus Buaya (Gecko versus Crocodile) and Coins for Prita.

Due to its huge influence or impact, many individuals and corporations use social media to market themselves or their products. For the common person, it is a must to be conversant with social media. Facebook limits the number of friends to 5,000 while Twitter has no limit on what its calls followers. Of course, one has to choose who to follow because too many would create a headache.

Twitter has various uses, such as spreading news, including links, photos via Twitpic, and, of course, chatting. However, for an individual with thousands of followers or more, Twitter can be a very effective promotion tool where one can introduce his or her blog, articles or personal site.

For example, famous teenage singer Sherina has more than 700,000 followers, while other well known personalities like poet-writer Goenawan Mohamad, culinary expert Bondan Winarno and film director Joko Anwar have more than 50,000 followers.

Meanwhile, world entertainers clearly have many more fans. Lady Gaga has more than 6.5 million followers and has been nicknamed “Queen of Twitter”, Britney Spears has more than 6 million followers, Ashton Kutcher (5.9 million), Justin Bieber (5.4 million), Kim Kardashian (4.9 million), Oprah Winfrey (4.3 million) and so the list goes on.

Menu Kanton ala Teratai

0

Chinese food atau makanan China selalu menarik untuk dicicipi. Ini lantaran makanan tersebut tidak berbeda jauh dengan makanan Indonesia – paling masih masih masuk dengan lidah orang-orang Indonesia, termasuk saya.

Seni masakan China telah meluas, dan hampir ada di berbagai belahan dunia, mulai dari Asia Timur hingga Amerika Utara, Australia dan Eropa Barat. Memang, seperti Indonesia yang berwilayah luas, tanah China pun jauh lebih luas, sehingga jenis makanannya pun sangat bervariasi.

Perbedaan kebudayaan antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lain di China, berbeda juga jenis gaya makanannya. Beberapa wilayah yang dikenal mempunyai makanan yang khas adalah Anhui, Kantonis, Hokkian, Hunan, Jiangsu, Shandong, Szechuan, dan Zhejiang. Terdapat juga masakan yang mengikuti agama, sebutlah Buddha (ada yang vegetarian) atau Muslim (menghindari daging babi).

Teratai Restaurant di Hotel Borobudur Jakarta, termasuk gaya Kanton – yang konon cocok dengan lidah orang Indonesia. Paling tidak saya, dan dua orang teman, Samuel Mulia (wartawan senior dan konsultan media) dan Dwi Sutarjantono (Pemimpin Redaksi Majalah Esquire) sudah membuktikannya ketika diundang oleh Fransisca Kansil, Director of Communications Hotel Borobudur, untuk mencicipi menu di restoran tersebut.

Ya, masakan Kanton, salah satu provinsi di China ini sangat kaya rasa. Seperti masakan Indonesia pada umumnya, yaitu pedas, asam, manis dan asin. Keistimewaan lain dari restoran ini adalah masakannya halal, sehingga bisa dinikmati oleh semua kalangan.

Teratai Restaurant mulai beroperasi pada 23 Oktober 2010, setelah beberapa waktu ditutup lantaran harus direnovasi. Teratai sendiri sangat populer di China. Tanaman ini sudah sejak lama dimanfaatkan, baik sebagai penghias ruangan maupun untuk pengobatan dan bahan kosmetik. Kaisar wanita Wu Tse Tien konon tetap bisa terjaga kesehatan tubuh dan potensi seksualnya sampai tua karena mengonsumsi buah, akar dan bunga teratai secara rutin.

Di Teratai Restaurant tentu bukan tanaman teratai yang dihidangkan, seperti disebut di muka, masakan yang diunggulkan adalah sajian khas Kanton, dapurnya dikelola oleh Manajer Richard Chau dan tim Kulinernya dipimpin oleh Chef dari Hong Kong, yaitu Alex Kwok (Executive Chinese Chef), Winson Yao (Assistant Executive Chinese Chef) dan Steven Low (Chinese Dim Sum Chef). Ketika saya mengisi status di Facebook dan Twitter melalui Foursquare, seorang teman langsung merespons, “Bebek dan dim sumnya juara.”

Sayang, untuk acara makan malam tidak selalu tersedia dim sum, seperti malam itu. Kalau tidak saya pasti akan mencoba aneka dim sum yang dircaik Chef Steven Low seperti: Steamed Chicken Dumplings in Four Colors, Sweetened Bun with Egg Yolk Filling, dan Shanghainese Siew Long Bao Surprise.

Cultural Trip to Grissee

0

Gresik. Orang-orang China yang pernah datang ke kota ini sebelum tahun 1400 SM memberikan nama bagi kota bandar ini dengan nama T’se Ts’un. Sedangkan orang pribumi menyebutnya Kersik. Orang Arab menyebutnya Qorrosyaik. Orang Portugis, Agaze. Orang Eropa lainnya, Gerrici. Ada juga yang menyebutnya Gerwarase, Grisick, Grasik, Grissee atau Giri-Geresik. 

Gresik memang sudah dikenal sejak abad ke-11 ketika tumbuh menjadi pusat perdagangan tidak saja antar pulau, tetapi sudah meluas ke berbagai negara. Sebagai kota bandar, Gresik banyak dikunjungi pedagang China, Arab, Gujarat, Kalkuta, Siam, Benggali, Campa dan lain-lain. 

Pada abad ke-14, kota ini menjadi salah satu pelabuhan utama dan kota dagang yang cukup penting, serta menjadi tempat persinggahan kapal-kapal dari Maluku menuju Sumatera dan daratan Asia (termasuk India dan Persia).

Hal ini berlanjut hingga era VOC. Lokasinya yang strategis sebagai kota pesisir memosisikan Gresik sebagai kota yang menonjol dalam percaturan sejarah, terutama sejak berkembangnya agama Islam di tanah Jawa. 

Sebagai kota tua, Gresik menyimpan beribu kisah. Kita bisa telusuri jejak keemasan kota dalam heritage trail – berjalan kaki dari satu kampung ke kampung yang lain. Mengamati bangunan-bangunan kuno di kampung Kolonial, kampung Pecinan, kampung Pribumi, kampung Arab, sampai kampung Lumpur. Merasakan keseharian masyarakat pesisir yang terbuka, ramah, apa-adanya, senang guyon, sampai mencicipi eksotika kulinernya yang unik seperti sega krawu, sega rooma, hariza, gajih pinggir, dan mengintip proses pembuatan otak-otak bandeng maupun pudak.

Tak ketinggalan, berbelanja mukena dan kopiah di sinilah tempatnya. Karena, sebagai kota niaga yang menjadi rumah Sunan Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri, Gresik dikenal sebagai pembuat songkok (kopiah) terbaik di dunia! Dan yang sayang untuk dilewatkan adalah kesempatan untuk menyaksikan seni pertunjukan rakyat pesisir langsung di perkampungan nelayan.

“Cultural Trip to Grissee”, inilah salah satu cara menikmati Gresik – seperti yang dikemas oleh GELAR, 4 – 6 Februari 211, sangat cocok bagi pencinta seni budaya Nusantara dengan sentuhan yang ringan dan bersahabat – yang menekankan pada pengalaman langsung dengan budaya setempat. Menyaksikan rangkaian aktivitas budaya yang unik, asli, otentik dengan ketulusan keramahtamahan khas Jawa TImur. Dengan menjadi bagian dari budaya setempat, kita bisa mendapatkan pengalaman jalan-jalan yang tak terlupakan sepanjang masa.

Yuk, jalan-jalan ke Gresik!

Sumber: GELAR

Oase di Kawasan Sibuk Tanah Abang

0

Kombinasi makanan yang lezat dan atmosfer yang nyaman, serta pelayanan yang prima. Itulah alasan saya ketika berkunjung ke Millennium Hotel Sirih Jakarta, dan apalagi, Imuthia Yanindra, Marketing Communication Manager, mengundang saya untuk bertandang di hotel yang berlokasi di kawasan Tanah Abang sore itu.

Kami janjian di Café Sirih. Ya, kafe yang terletak di hotel itu saat ini mengandalkan makanannya yang lezat. Laksa Singapura, misalya, adalah contoh yang lain. Inilah salah satu makanan yang sangat terkenal dan digemari di negara asalnya, yang sekarang sedang dipromosikan di hotel tersebut. Masakan Peranakan ini terdiri dari mie, potongan daging ayam, udang, tahu, dan telur rebus pada bagian atasnya. Sentuhan akhir untuk memaksimalkan kekayaan rasa makanan ini adalah siraman kuah laksa yang pedas dan kental.

Andreas Setiadi Sanusi, seorang pecinta kuliner, yang sore itu juga ikut, sangat menikmati laksa tersebut. Ia menambahkan sambal terasi khusus untuk menambah pedas dan kekayaan rasanya.

Aha, di sini juga ada Bakso Granat. Tidak ada orang yang tidak mengenal bakso sebagai salah satu jajanan di Indonesia. Bakso memberikan kehangatan tersendiri, pada saat hujan atau lembab.

Kafe tersebut menyajikan hidangan spesial, terdiri dari sebuah bakso isi telur dan dua buah bakso yang disajikan dengan kuah hangat, mie, dan sayuran. Kami menyantap pada saat hangat, cocok dengan cuaca Jakarta yang sering mendung belakangan.

Kafe yang berada di dekat lobi, dengan kapasitas 200 orang ini tidak hanya menyajikan laksa dan bakso. Cafe Sirih yang juga menyajikan menu internasional, Indonesia, serta menu favorit lainnya. Sehingga, tiak heran, kafe ini menjadi langganan tamu dari berbagai kota, juga tempat siang yang nyaman untuk orang-orang kantoran di sekitarnya.

Kombinasi makanan yang lezat dan atmosfer yang nyaman, serta pelayanan yang prima tentu saja, adalah alasan bagi para tamu untuk berkunjung ke kafe ini.

Berlokasi di bilangan pusat perniagaan yang sibuk, Tanah Abang, menjadikan kafe ini sebuah oase. Ini tentu karena Café Sirih terletak di Hotel Millennium, hotel berbintang empat internasional yang mewah yang menyediakan para tamu dengan pelayanan dan kenyamanan prima, di kawasan bisnis berkembang di jantung kota Jakarta.

Selain Café Sirih, hotel ini juga mempunyai restoran Jepang, yakni Matsu. Restoran ini menyajikan paket menu yang menyesuaikan selera dan harga konsumen di negara kita. Asyiknya, meski serba kompromi, tak bakal mengurangi kualitas bahan-bahan dasar yang dipakai, semuanya tetap segar.

Kami mencoba Tori Katsu Happosai Teisshoku. Inilah sajian lengkap a la Jepang nan lezat di Matsu. Untuk Januari dan Februari ini, restoran tersebut menyediakan set menu untuk makan siang atau malam. Hidangan ini terdiri dari chicken katsu, nasi putih, Sup Happosai, tumis aneka sayuran, dan buah segar. Sup Happosai sendiri terdiri dari cumi-cumi, udang, telur puyuh, dan sayuran yang disajikan dalam kuah sup yang ringan dan menyegarkan.

Chicken to Die For

0

Ayam adalah makanan yang paling populer di Indonesia, juga mungkin di negara-negara lain. Itu sebabnya Arbella Food Culture, memberanikan diri membuka gerai F&B yang sajian utamanya adalah ayam. “Dari riset kecil-kecilan, hampir tidak ada yang pantang dengan ayam. Beda dengan dagaing sapi atau ikan, misalnya,” Erick Sugiarto, Business Development Director kelompok usaha yang bergerak di bidang kuliner itu membuka rahasia.

Memang bukan sekadar ayam – yang dipanggang atau digoreng, tapi melalui gerainya, Kamikaze Karaage yang berlokasi di Grand Indonesia, Jakarta, Lantai 3A Unit FD1-07 Sky Bridge (West Mall), Erick menyebut konsepnya sebagai Crispy Chicken Japanese Style.

Di suatu sore di resto yang baru dibuka untuk umum 17 Desember 2010, saya merasakan renyahnya ayam ala Jepang itu. Daging yang dipakai adalah sayap atau tebasaki, yang konon merupakan bagian yang paling gurih, ditaburi tepung tipis-tipis lalu digoreng. Hmmm…

Yup, industri kuliner di Indonesia semakin marak. Berbagai tempat makan dengan menu dan konsep resto yang beragam hadir untuk memuaskan lidah para penikmat masakan bercita rasa lokal, oriental sampai internasional. Di tengah kemarakan itu, Kamikaze Karaage muncul dengan kekhasan tersendiri sebagai spesialis ‘ayam renyah rasa Jepang’.

Kendati sudah mencoba berbagai makanan dengan bahan utama ayam, tetap ada sensasi tersendiri ketika merasakan nikmatnya masakan ayam ala Jepang ini, yang sebtulnya tidak terlalu otentik tapi sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia.

Kamikaze Karaage merupakan gabungan dua jenis makanan untuk menciptakan karaage yang lezat sempurna. Karaage dikenal sebagai makanan ‘gorengan’ gaya Jepang yang digoreng dalam minyak yang banyak dan panas.

Resep rahasianya berasal dari chef ternama di Negeri Matahari Terbit yang diwariskan secara turun temurun dan memiliki cita rasa tinggi. Ayam digulingkan di atas tepung untuk kemudian digoreng sampai matang dan kulitnya berwarna keemasan. Inilah cara menghasilkan rasa yang garing dan gurih di setiap gigitannya, namun tetap tidak terasa berminyak.

Ayam goreng ini dibumbui dengan empat jenis rasa saus sesuai pilihan penikmat, yaitu teriyaki, kaffir lime, banzai (sedikit pedas), kamikaze (sangat pedas karena menggunakan cabai terpedas di dunia).

Tidak perlu susah-susah untuk menentukan pilihan, karena gerai ini juga menyediakan paket-paket pilihan, sehingga para tamu bisa memilih hidangan ayam renyah itu dalam bentuk set menu yang disajikan dengan nasi (gohan), yaitu: 1) Kamikaze Moriawase, Kamikaze Invasion, maupun berupa entrée, yang terdiri dari Tori Don Buri (rice bowl dengan ayam). 2) Kamikaze Bomb Burger (burger dengan ayam goreng renyah dan kimuchi slaw dengan saus sesuai pilihan). 3) Tori Kurepu Temaki (4 potong hand roll dengan ayam renyah dengan saus yang juga sesuai pilihan), atau 4) Tebasaki (sayap ayam) dalam 4 variasi porsi.

Selain itu tersedia pula 13 jenis makanan ekstra dan sampingan, mulai nasi putih, nasi goreng, kentang goreng, bihun goreng, cabai goreng Jepang dengan keju mozzarella, kroket Jepang, baso Jepang, cap cay ala Jepang, sup baso, salada kimuchi dan salada jagung dengan daging kepiting.

From Romantic Dinners to Clubbing

0

The Christmas atmosphere is already tangible at many entertainment places in the city. When you enter Pacific Place, SCBD, for example, you will be immediately stuck by the Christmas ambience. On the main floor you can see Christmas trees in every corner and in the center of the mall there is a stage in the form of a giant glass ball that contains a huge screen with all sorts of Christmas ornaments.

Some of the Christmas trees are contemporary, while at a glance they look very similar to conventional Christmas trees, the difference is in the material and the ornaments. Each tree is made from different material based on the philosophy of the sponsoring company. This is the kind of art installation that blends with the ambience of Pacific Place and is enjoyed by visitors to the upscale mall.

The Christmas atmosphere and decorations are not limited to Pacific Place but are seen in malls in the city from Pluit area to Blok M. The restaurants and cafes in the malls are also welcoming Christmas and New Year 2011 in unique ways. One example is Nuzzy’s Mousse and Resto, which is located in Central Park, West Jakarta.

This restaurant is uniquely decorated with Christmas ornaments. Its open kitchen concept in a building with a unique design, live music and a giant Christmas tree at the center of Central Park called Tribecca, enlivens the entire atmosphere.

The food served here is Italian. Bright Christmas colors are represented by its pasta which comes in combination red and green making it look both attractive and appetizing. The red and green coloring comes from beet and spinach respectively, so it is healthy to boot.

Another dish is Ribs Pasta and Gnochhi which is made from high quality potatoes. There is also Paela, made from a variety of choice mushrooms plus chicken or seafood as well as Deep Blue Sea Mussel, which is green mussel shells with tomato sauce grilled over an open fire. All of these are the creations of its chef, Jimmy Enggelete.

In Kemang area in South Jakarta, famous for its café culture, the Christmas atmosphere is already here. Elbow Room, for example, offers a special menu: a romantic dinner with a traditional menu with homemade Gravy, Buttered Mashed Potato, Sautéed Vegetables and Cranberry Sauce. Every Saturday a free Christmas Cocktail is available.

If you enjoy Japanese food two new venues are recommended, Ootoya at Plaza Indonesia and Benihana at Grand Indonesia. At Ootoya, which has been in Japan since 1958, you can savor authentic cuisine from the Sakura country. Its main menu items are Sumidon (beef over rice), Oyakodon (chicken and egg over rice), Hokke, Saba fish, Cold Udon/Soba and Okosama Udon.

Meanwhile at Benihana Village you will be pampered not only by the delicious Japanese dishes but also with the attraction of the chefs cooking and preparing the food in front of you.

Benihana Village is a Japanese restaurant that has become famous in the United States and soon spread its wings to other places including Jakarta. All the food is prepared on teppan tables, including the empty plates which will be soon filled with food prepared by the expert chefs. You can order various teppanyaki according to your taste, such as seafood, chicken and beef. “We serve an authentic Japanese menu with a bit of creative maneuvers,” said one of the chefs.

The Power of Social Media!

0


Era Web 2.0 sekarang ini punya ciri yang menarik, yaitu interaksi. Salah satu fenomena yang menjamur adalah social media. Facebook adalah “negara” terbesar ke-3 di dunia dengan 500 juta lebih “penduduk”. Twitter adalah “rumah” yang dihuni jutaan netizen dengan jutaan aspirasi dan opini.

KETIKA Presiden Amerika Serikat Barrack Obama berkunjung ke Indonesia 9 – 10 November lalu ada kejadian kecil tapi menjadi pergunjingan global. Yakni momen ketika Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring dengan bersalaman dengan isteri Obama, Michelle.

Menteri dari Partai Keadilan Sejahtera yang dikenal penganut Islam ortodoks itu sebenarnya enggan menyalami Ibu Negera AS itu, karena bukan muhrimnya. Tapi entah mengapa hal itu tak terelakkan, jadi, “Kena, deh!” tulisnya dalam Twitter.

Kontan saja kejadian lucu tersebar di dunia maya, khususnya social media yang bernama Twitter itu. Bisa diduga, berita itu pun lalu menyebar ke penjuru dunia dengan cepat. Salah satu kantor berita Amerika, The Associated Press (AP), ikut melaporkan soal kejadian tersebut dengan judul “Minister admits reluctant Michelle Obama hand shake“.

AP pun lalu mengutip tweet Tifatul soal salaman tersebut, juga tak lupa menaruh sejumlah latar belakang sejumlah sensasi yang dimunculkan Tifatul, mulai dari soal komentarnya soal bencana alam disebabkan moral dan guyonannya soal kepanjangan dari penyakit AIDS.

Sejumlah blogger di AS juga mengulas peristiwa itu di situs ternama seperti Washington Post dan Huffington Post. Sejumlah media lokal seperti Chicago Tribune, kota asal Obama, juga menulis. Di Australia, Daily Telegraph, juga menurunkan laporan soal insiden salaman Tifatul dengan Michelle tersebut.

Sementara Yahoo! News juga menurunkan berita tersendiri di segmen Upshot-nya. Portal berpengatu ini melampirkan tayangan video yang menunjukkan salaman itu. Meski Tifatul membantah sengaja menyalami Michelle, Yahoo! menulis, “video peristiwa itu terlihat bertentangan dengan penjelasan Tifatul, namun Anda hakimnya.”

Betapa berpengaruhnya Twitter, yang kini akunnya mencapai 102 juta lebih. Tidak seperti era sebelumnya di mana para pengguna Internet lebih banyak bersikap pasif, kini di era Web 2.0, yang ditandai dengan hadirnya social media – sebutlah Facebook, Twitter, Kaskus, Plurk, Koprol, Foursquare, dan lain-lain, pengguna Internet makin interaktif saja. Apalagi pemakaiannya tidak sebatas via desktop dan notebook saja, tapi juga perangkat lain yang lebih mobile, mulai dari BlackBerry, iPhone, hingga iPad.

”Tak ada waktu tanpa social media,” tulis Hasnul Suhaimi, CEO PT XL Axiata, dalam blognya untuk menggambarkan fenomena masyarakat global saat ini, terutama penggiat Internet.

Memang, kalau kita hitung aktivitas kita dalam sehari, saat mulai bangun pagi, yang kita buka adalah ponsel, mengecek SMS, halaman Facebook dan Twitter, dan mungkin beberapa link-link yang menarik di Internet. Mungkin saja sambil nonton TV, media vetal mungkin dibaca sekilas, terutama yang menjadi favorit saja, atau minimal headline. Tapi begitu di jalanan, kalau memakai sopir, mata kembali ke layar ponsel, menge-tweet kejadian-kejadian sepanjang jalan, misalnya jalan yang macet, atau demo di wilayah tertentu.

Sesampai di kantor, pertama-tama yang dibuka PC atau notebook, mengecek email, browsing, ngeblog, ngetweet dan lain-lain. Begitulah aktivitas kita dalam selama 24 jam sehari, yang semuanya berhubungan dengan digital, fenomena dunia flat saat ini yang telah mengubah gaya hidup manusia di seluruh dunia.

Fenomena Social Media

Memang beberapa tahun belakangan ini, kita dikejukan dengan fenomena situs jejaring atau social media terutama Facebook, yang disusul dengan kemunculan Twitter. Social media sangat diminati oleh para penggiat Internet, bahkan terpilihnya Obama sebagai Presiden AS, tidak terlepas dari kemampuan pria berkulit gelap ini memanfaatkan social media. Di dalam negeri ada fenomena dukungan gerakan sosial “Cicak versus Buaya” dan “Coin for Prita”, yang semuanya berawal dari dunia maya yang bernama social media.

Pengaruhnya yang besar itulah banyak personal atau perusahaan memakai social media sebagai sarana untuk memperkenalkan diri atau lebih jauh memasarkan diri atau produknya. Sedangkan orang awam belum dianggap “eksis” kalau belum bergaul di social media tersebut. Kalau Facebook membatasi diri berteman hingga 5.000 saja, atau lebih dari itu menggunakan fun page. Maka kalau di Twitter, yang disebut follower, tidak ada batasnya, meski untuk mem-follow orang lain tentu sesuai dengan selera – artinya kalau kebanyakan yang diikuti pasti akan pusing sendiri.

Asal tahu saja, para selebriti, karena dikenal banyak orang, maka pengikutnya pun otomatis juga banyak. Penyanyi Sherina, misalnya, follower-nya lebih dari 700.000, juga tokoh-tokoh yang lain, sebutlah penyair Goenawan Mohamad, ahli kuliner Bondan Winarno, sutradara Joko Anwar, dan lain-lain, pengikutnya di atas 50.000.

Sementara artis-artis hiburan global pasti lebih banyak lagi fansnya, sebutlah Lady Gaga hampir 6,5 juta follower, sehingga dijuluki sebagai “Queen of Twitter”. Lalu ada Britney Spears 6 juta follower lebih, Ashton Kutcher (5,9 juta), Justin Bieber (5,4 juta), Kim Kardashian (4,9 juta), Oprah Winfrey (4,3 juta), dan seterusnya.

Seperti disebut di muka, fenomena tersebut tidak cuma di AS atau Eropa saja, pertumbuhan pengguna social media di Asia juga tergolong cepat. Beberapa negara seperti Indonesia, Jepang, Singapura, Malaysia, India kini menduduki lima bahkan sepuluh besar dalam beberapa social media terkemuka, seperti Facebook dan Twitter.

Fenomena social media di Indonesia, dengan jumlah 26 juta lebih, Indonesia menempati peringkat ketiga negara dengan jumlah pengguna Facebook terbanyak di dunia, di bawah AS dan Inggris. Indonesia juga menempati jumlah pengguna terbesar Twitter di Asia. Jakarta ibukota negara Indonesia bahkan telah diklaim sebagai ibukota Twitter di Asia, bukan karena jumlah pengguna tetapi juga kontribusi trending topic di Twitter dari Indonesia. Beberapa contoh topik asal Indonesia yang menduduki trending topic global: ‘Ariel Peterporn’, ‘Mbah Surip’, ‘Bondan Prakoso’, ‘Keong Racun’ dan lain-lain.

Rene S. Canoneo, salah seorang penggagas SITTI, sebuah mesin pencari ala Indonesia yang berkemampuan untuk membaca dan memaknai lebih dari 600 juta halaman web berbahasa Indonesia, menggambarkan fenomena gaya hidup digital, terutama kehadiran social media yang menghebohkan ini.

Social media bukan sekadar media. Begitu banyak perubahan dramatis yang menyentuh setiap aspek kehidupan manusia telah, masih dan akan terus dikontribusikan oleh dunia digital, termasuk social media di dalamnya. Google tumbuh dari perusahaan berpendapatan Rp 2 miliar menjadi Rp 230 triliun dalam waktu 10 tahun. Facebook adalah “negara” terbesar ketiga di dunia dengan 500 juta lebih “penduduk.” Twitter adalah “rumah” yang dihuni jutaan broadcasters dengan jutaan aspirasi dan opini.

Social media bukan saja jejaring sosial, tapi juga bisnis. Tidak heran, berbagai perusahaan dan individu menggunakan media ini sebagai alat untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis dan popularitas. Penggunaan social media secara efektif merupakan strategi yang ampuh untuk strategi pemasaran dan public relations. (Burhan Abe)

Majalah ME Asia, Desember 2010

Luxury Cars: Status Symbols Selling Like Hot Cakes

0

A luxury car is an obvious status symbol. It’s not surprising that many billionaires, celebrities or successful sportsman or sportswoman, have the hobby of collecting luxury cars. One would find, not one, but several luxury cars, parked in the driveway of their luxury homes.

One such example is David Beckham, who has seven luxury cars in his garage. With earnings of over US$200,000 per week the collection of this flamboyant soccer player is complete: BMW, Ferrari, Lamborghini, Aston Martin, Porsche, Hummer as well as Bentley.

This is not a new hobby for the husband of Victoria “Posh” Beckham. After becoming a soccer star he started to purchase luxury cars. His first Bentley costing £170,000 or about Rp 2.5 billion was left behind in England when he moved to Real Madrid. In Madrid the English soccer star was seen driving an open-top Aston Martin Vantage V8. In Manchester he often drives his Rolls Royce Phantom when going out with his wife.

After moving to the United States Beckham became busy collecting more luxury cars, such as the Rolls Royce Phantom Drophead Coupe costing the equivalent of Rp 2.8 billion, Lamborghini Gallardo at $206,400 (Rp 1.9 billion), Hummer H2 at $103,200, Mercedes S500 and Bentley Arnage purchased at $312,080.

Here in Indonesia there are many collectors of luxury cars although they prefer this not to be exposed to the public. Basically it is about prestige or social status. According to the owner of The Jakarta Consulting Group, Alfonsus Budi Susanto, it is easy to manipulate this prestige or social status issue in a cosmopolitan and pluralistic community in major cities. One can project a high profile or low profile image and each has its own consequences.

A car is the most conspicuous status symbol because since the Mataram kingdom horse-drawn carriages were already a prestige thing. Previously consumers had to be satisfied with purchasing luxury cars that were ex high-level foreign conference, ex embassy and so forth, but today they can buy such luxury cars directly.

Moreover now there are many importers of luxury cars whose products are selling like hot cakes. So don’t be surprised by the increasing number of imported luxury cars as Indonesia is one promising market. In line with the improved economy completely built up (CBU) cars are again emerging. Although the segment is not too large, the market holds good prospects because there are not many players here selling cars at over Rp 700 million.

President and CEO of Mercedes-Benz Indonesia (MBI) Rudi Borgenheimer told the media recently that he estimated the sale of luxury cars in Indonesia could reach 5,400 units this year. His statement was made during the launching of three new models of Mercedes-Benz, namely C300 Avantgarde, E300 Avantgarde and E36 AMG.

Photo by Clem Onojeghuo on Unsplash

Rudi said that car sales in Indonesia were improving due to the conducive economy reflected by the stable interest rate — 6.5 percent — and a contained inflation level, so MBI was optimistic its sales would go up to 3,700 units in 2010, which is an increase of 28.2 percent over last year’s total sales of 2,884 units.

Meanwhile, another German car manufacturer, BMW Indonesia announced that the sales for the January-September 2010 period has exceeded the 2009 figure, totaling 929 units far above the 2009 figure of 901 units.

Onrop! Musikal

0

Saya sempat kaget ketika memasuki Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Betapa tidak, gedung pertunjukan yang selama ini dipandang sebelah mata, kecuali pertunjukannya sendiri, sekarang benar-benar menakjubkan.

Kali ini Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta, layak mendapat acungan jempol. Gedung baru ini tak hanya struktur bangunannya yang artistik, namun juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas pertunjukan bertaraf internasional, termasuk efek visual serta sound system cukup memukau. Hal tersebut terlihat saat saya menyaksikan pertunjukan drama musikal Onrop! yang disutradarai Joko Anwar, Kamis, 18 November lalu.

Jauh hari Onrop! memang telah menjadi pembicaraan banyak orang, terutama anak-anak gaul Jakarta, karena strategi promosinya sangat bagus, termasuk menggunakan medium social media di Internet, khususnya Twitter. Tidak heran kalau tiket seharga Rp 150.000 (bronze) hingga Rp 450.000 (gold) untuk pertunjukan yang berlangsung 13 hingga 21 November itu ludes.

Drama musikal dengan gaya bertutur masa kini itu seakan menemukan komunitas penontonnya; anak-anak muda Jakarta dalam balutan busana mutakhir, parfum berkelas, serta gadget keluaran. Ini berbeda dengan komunitas TIM pada umumnya yang bergaya seniman. Tidak heran, Joko Anwar sebelumnya memang dikenal sebagai pembuat film Janji Joni, Kala, Pintu Terlarang, dan juga penulis skenario Arisan, yang pasarnya memang anak-anak muda tersebut.

“Memang belum menjadi tren, tapi Onrop!Musikal memang sebuah alternatif, pertujukan teater yang patut dikedepankan,” ungkap Joko, yang pernah berakting dalam pementasan drama musikal The Wizard of Oz bersama Wheeling Park Players di West Virginia, AS.

Onrop! berkisah tentang cinta, sesuatu yang telah langka di negeri ini. Begitu banyak kekerasan, aturan moral super ketat yang membuat cinta tak dapat leluasa menemukan jalannya. Itulah yang dikemukan Joko Anwar, yang juga menulis skenario sekaligus lirik lagu dalam drama musikal itu.

Mengambil setting cerita tahun 2020, drama musikal ini berkisah tentang Bram (diperankan berganian oleh Ichsan Akbar dan Giandra Hartajaya) dan Sari (diperankan oleh Aimee Saras dan Ary Kirana), pasangan kelas menengah atas.

Photo by Leon Liu on Unsplash

Bram tersandung hukum dengan menyebut kata “telanjang” dalam karya novelnya, yang dianggap tak senonoh dalam moralitas Indonesia. Bram dinyatakan bersalah, dipenjara, dibawa ke pengadilan, dan akhirnya dibuang ke Pulau Onrop.

Pada saat yang sama Sari juga terjerat kasus yang sama karena kegemarannya berpakaian minim – namun kemudian dibebaskan dari penjara sebelum pengadilan berlangsung.

Dari situlah cerita bergulir, Sari hidup di negara yang menerapkan UU Anti “Onropgrafi dan Onropaksi”, sedangkan Bram di pengasingan, Bram justru menemukan fakta yang berbeda dari bayangan sebelumnya. Ceritanya pun berakhir dengan happy ending.

Swinging in Style on the Green

0

Today golf is much more than a sport; it is a part of one’s lifestyle. Originating 500 years ago in Scotland, for business executives golf has become a means of socializing and networking. That is why you must be fully aware of the etiquette and regulations, choose the right equipment and wear the right clothing according to the golf dress code if you want everything to be in perfect order.

You must choose the right stick, club, golf ball, shoes, gloves, hat, trousers or pants and shirt. The dress code is elegant and rather aristocratic because of its formal British tradition. Therefore, the dress code for golf is more formal compared to other sports.

Leather shoes, whether authentic or synthetic, are specially made for golf to prevent the body from swaying or moving unnecessarily while making a shot and makes the entire game comfortable. Most shoes have laces but some are now normal sport shoes with rubber spikes. Metal spikes are now forbidden because they can damage the course.

A glove is worn on the left hand to prevent hardening of the skin due to playing with the stick or club. Most gloves are made from strong synthetic material, but the best ones are made from deer skin which is softer and more comfortable to wear.

Today’s golfers’ shirts have more motifs and stripes than before when it was pure white. Shirts usually have collars, pants are made from expensive material and so forth. Recently beach designs have been introduced, such as Hawaiian Punch.

A shirt with a collar is rule number one. Initially it was polo shirts but later a collared shirt replaced it. If you do not wear a shirt or a T-shirt with a collar then a hat with a back glare is acceptable. This type of hat was worn by Japanese soldiers during World War II. Unfortunately, not all golfers are aware of the right fashion wear but they don’t have to worry because golf stores have everything available. One such leading store is Golf House.

Golf House has more than 50 outlets in Indonesia’s major cities where they offer premium equipment and accessories. The outlets are not only in malls but also in several select Golf & Country Clubs. The one stop golf shop which has undergone a number of changes was introduced in 1990.

Golf House offers international brands of golf equipment, including clubs, balls, apparel and accessories, such as Mizuno, Wilson, Srixon, Spalding, Adidas, Cleveland, Honma, Adams Golf, Odyssey, Maxfli, 

Taylor Made, Ben Hogan, Tour Edge, Etonic, US Kids Golf, Greg Norman, Nike Golf, Callaway Golf and many more. So who says you cannot be stylish on the green? (Burhan Abe)

The Jakarta Post, November 19, 2010