Home Blog Page 98

Mengapa Rumput Tetangga Lebih Hijau?

0

Bepergian sekarang makin gampang saja. Bukan saja informasinya yang bejibun dan mudah diakses – apalagi dengan tersedianya fasilitas online, banyak maskapai penerbangan yang menawarkan tiket murah. Bepergian ke Singapura, misalnya, dengan dihapusnya biaya fiskal, kini jauh lebih murah ketimbang ke Bali, apalagi ke Papua meski masih dalam yurisdiksi wilayah Indonesia.

Bisa dipahami kalau orang Jakarta suka bepergian ke Singapura ketimbang ke Lhok Semauwe atau Merauke, misalnya. Juga jangan heran kalau di sepanjang Orchard Road sangat mudah dijumpai orang-orang Indonesia. Tidak hanya itu, Pemerintah Negeri Singa tersebut pandai mengemas negaranya menjadi tujuan wisata yang menarik. 

Sewaktu menginap di The Fullerton, eks gedung kantor pos yang disulap menjadi hotel bintang lima, yang berada di dekat muara sungai, saya bisa menyaksikan sendiri betapa lokasi itu disulap menjadi tempat yang menarik – mulai pagi hingga malam hari tidak pernah sepi dengan atraksi wisata. Mulai dari wisata museum, wisata belanja, hingga wisata kuliner di malam hari.

Yup, Clarke Quay adalah salah satu kawasan yang saya sukai. Di situ kita bisa nongkrong pagi di salah satu kafe dengan secangkir kopi, atau hang out di malam hari di klub-klub yang bertebaran di situ. Sebagai kawasan pergudangan yang telah direnovasi seluas lima blok, Clarke Quay menawarkan suatu alternatif yang beda dari tempat wisata umum lainnya, dengan berbagai restoran dan toko barang antik, ditambah aneka pilihan makan minum yang istimewa. Saat senja, sejumlah pub akan menyapa dengan musik dari tahun 1960-an hingga musik masa kini.

Singapura yang cuma 704 km2 itu memang bukan apa-apa dibanding Indonesia luasnya. Tapi negeri (tepatnya kota) sekecil itu mampu menjadi magnet bagi para wisatawan Asia Tenggara, bahkan seluruh dunia.

Tercatat 2 juta jiwa wisman yang berkunjung ke negeri itu setiap tahunnya, bahkan dengan adanya event balap F1 September lalu, tahun 2008 ditutup dengan angka 10,3 juta jiwa. Bandingkan dengan Indonesia, yang lebih luas wilayahnya dengan beragam atraksi wisata, pada tahun yang sama, hanya bisa menjaring 6,4 juta jiwa turis asing. 

Bandingkan pula dengan Malaysia, misalnya, jumlah wismannya bisa mencapai 3,8 juta jiwa (tahun 2008). Padahal Malaysia tidak punya Candi Borobudur yang katanya satu dari sepuluh keajaiban dunia, juga tidak punya Pulau Bali yang eksotis dan kaya tradisi.

Yang mereka punyai hanyalah kreatvitas yang tinggi dan upaya keras mewujudkannya, maka Malaysia pun membangun menara kembar tertinggi di dunia, membangun kawasan wisata Genting, dan seterusnya. Juga, jangan lupa, mengemas dan mempromosikan fasilitas pariwisata habis-habisan, termasuk ke Indonesia – negara serumpun yang dianggap sebagai gurunya. 

Apa sebenarnya yang salah dengan Indonesia? Negeri yang indah pemandangan alamnya, kaya seni dan budayanya, banyak peninggalan sejarah, ramah penduduknya (meski belakangan sering dipertanyakan setelah banyaknya teror), dan seterusnya, tapi pertumbuhan wisawatan mancanegaranya selalu membuat banyak kalangan was-was, alias tidak stabil. 

Indonesia memang tidak perlu meniru negara jiran, tapi sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, keanekaragaman budaya dan kekayaan alamnya yang tersebar di 17.508 kepulauan, seharusnya menjadi modal yang lebih dari cukup. Apa yang salah dengan program-program seperti Visit Indonesia Year 2009, World Ocean Conference, atau yang akan akan berlangsung Indonesia Travel & Tourism Fair 2 – 4 Oktober nanti. 

Bisakah momentum tersebut mengembalikan Indonesia sebagai destinasi favorit di dunia dan mengembalikan citra pariwisata Indonesia yang sempat terganggu akibat peristiwa teror bom hotel JW Marriot dan Ritz Carlton beberapa waktu lalu? (Burhan Abe)

Little Secrets of a Sommelier

0

Ketika saya memposting artikel tentang nikmatnya mereguk wine Australia di blog pribadi, seorang teman memberi komentar pedas. “Orang-orang Indonesia itu mau dibohongi, wine yang beredar di sini kebanyakan bukan dari Prancis. Kalau pun ada yang dari Prancis, di sana yang kelasnya bawah,” katanya.

Kalimat tersebut mempunyai banyak arti, tapi yang jelas teman saya tersebut berpendapat bahwa wine ada kelas-kelasnya. Ini mungkin saja benar. Tapi pengertian berikutnya adalah, bahwa wine asal negara Prancis lebih OK ketimbang wine dari negara lain. 

Ini memang perdebatan lama, apakah benar bawah wine Prancis memiliki bobot yang lebih ketimbang wine yang lain? Atau, kalau diperluas, benarkah old world wine (yang di dalamnya termasuk Prancis, ditambah Italia, Spanyol, Portugal, Austria, dan Yunani) memiliki keunggulan dibandingkan dengan new world wine (yang di dalamnya ada Australia, plus Amerika, Selandia Baru, Afrika Selatan, Chile, Argentina, Kanada, dan lain-lain).

Para ahli wine senang menggunakan pengelompokan seperti itu, karena memang gaya maupun rasa kedua grup ini dianggap cukup berbeda. Old world wine dianggap lebih elegan, sedangkan new world wine sering kali karakter yang lebih “kasar” – bahkan ada yang menganggap bahwa wine di luar old world wine bukanlah wine. Benarkah? 

Orang boleh berpendapat apa saja. Tapi nyatanya banyak wine-wine dari negara-negara penghasil wine yang disebut “baru”, banyak memenangkan medali dalam kompetisi global – yang pesertanya tidak dibatasi hanya new world wine tentu saja. Juga jangan salah, banyak wine maker top yang membudidayakan wine di negara-negara yang dikategorikan new world itu.

Michel Rolland yang ahli membuat merlot, misalnya, untuk menyebut contoh, punya banyak proyek di Amerika Selatan. Juga Christian Vannequé, ahli wine asal Prancis, kini membuka wine bar di Bali, tidak hanya merekomendasikan wine asal Prancis saja, tapi juga wine-wine dari segala penjuru dunia – termasuk Hatten, merek asal Pulau Dewata tersebut.

Photo by CHUTTERSNAP on Unsplash

Tapi menikmati wine kurang asyik kalau hanya memperdebatkan dari mana wine tersebut berasal. Sama dengan musik jazz yang tidak harus didiskusikan (meski menambah wawasan) tapi nikmati saja!

Jean-Pascal Paubert, ahli wine asal Prancis, yang datang pada acara “The Battle of The Best” dalam rangka mencari sommelier terbaik di Indonesia di Jakarta awal Agustus 2009 lalu, mengungkapkan bahwa selera terhadap wine itu sangat personal. Minum wine sangat menyenangkan kalu kita tahu seninya. Jadi, lupakan sejenak perdebatan, kalau Anda merasa nikmat dengan wine yang Anda minum, tidak perlu merasa berkecil hati, meski wine tersebut bukan kategori premium. Apalagi hanya sekadar new world wine!

Saya suka pendapat penulis wine Yohan Handoyo, “Janganlah terjebak pada dikotomi old world dan new world wine karena pembagian ini semakin tidak relevan. Jauh lebih aman jika Anda memperhatikan merk dari wine yang Anda sukai.” (Burhan Abe)

A Great Place Creates Lasting Moments

0

Tidak ada alasan untuk tidak mengunjungi Bandung. Selain factory outlets yang selalu menjaid langganan orang-orang Jakarta di akhir pekan, keindahan alamnya memberikan inspirasi dalam berwisata. Keindahan alam itu pula yang ingin disuguhkan Sapu Lidi Café, Resort & Gallery. 

Nama Sapu Lidi adalah nama legendaris sebagai gerai jins di Cihampelas, dan kini pemliknya, Bob Doank, mengembangkannya menjadi tempat tetirah khas Bandung, yang di dalamnya ada fasilitas kafe dan galeri. Seniman dan pengusaha ini memang concern memacu kreativitas dengan mengembangkan kebudayaan alam Indonesia yang kaya dengan berbagai potensi yang terkandung di dalamnya menjadi sebuah tujuan wisata.

Di sini tersedeia 25 cottage, yang sengaja dibangun di pinggir danau. Tamu yang menginap akan merasakan suasana pedesaan, berbeda dengan sehari-hari. Dengan perahu yang tersedia, tamu bisa berkeliling memutari danau tersebut. Harga mulai dari Rp 900.000/malam untuk Junior Suite Room dan Rp 3.500.000/malam untuk President Suite Room.

Dibuka sejak tahun 2000, Sapu Lidi Café, Resort & Gallery telah menjadi target utama para wisatawan dari Jakarta maupun mancanegara seperti Malaysia, Timur Tengah, dan Eropa. Berdiri di lahan seluas 6 hektar, resor dan kafe ini terus berbenah diri, dan baru tiga hektar yang telah terkonsepkan menjadi sebuah wisata alam. “Kami berencana akan membuat sebuah perkampungan yang di dalamnya terdapat para pengrajin kesenian daerah warga sekitar, reflexy dan spa, juga tempat bermain anak,” jelas Bob.

Kalau tidak ingin menginap, apalagi memang harus reserve jauh hari sebelumnya karena keterbatasan kamar yang tersedia, makan di kafenya pun tidak kalah asyiknya. Menyantapnya pun bisa memilih di tengah sawah atau di tepi sungai yang mengalir. Menu yang ditawarkan di sini kebanyakan masakan khas Sunda, seperti ikan atau ayam bakar, gurami goreng atau pepes. Untuk penghangat badan, tersedia wedang panas, seperti wedang ronde, wedang sekoteng, atau bajigur.

Seusai menikmati makanan dan minuman, mampirlah ke galerinya. Di sini dijual sepatu, baju, aksesoris, dan benda kerajinan tangan untuk cenderamata, juga beragam kue-kue dan camilan tradisional, yang dibawa pulang sebagai oleh-oleh. (Abe)

Sapulidi Cafe & Resort

Jl. Sersan Bajuri Kompleks Graha Puspa, Cihideung, Lembang, Bandung.

Tel: +62 22 2786915, 2786461 Fax. +62 22 2787499

www.sapulidisawah.com

Lasik Popular Way of Solving Eye Problem

0

Spectacles indeed look trendy on some people, but they often cause discomfort and restrict freedom of movement. Wearing spectacles is made worse when they do not match one’s face, which is unflattering to one’s appearance. While contact lenses can solve this problem, there is a more advanced solution, namely the Lasik procedure.

Lasik or laser in-situ keratomileusis is a surgical procedure that has become a phenomenon as it can cure near and farsightedness and other eye problems in a very short time. Nowadays, many people are interested in Lasik because it is safe and effective.

There are two stages in the Lasik procedure, which are the development of retractive surgery technique. First, a tiny opening is made on the cornea and the second is to reshape the cornea by removing tissue in the cornea with a laser. The opening in the cornea is then re-closed.

The basic creation of Lasik started in the 1950s, when microkeratome was created. It is a precision surgical instrument with an oscillating blade designed for creating the corneal flap.

Over the years, the microkeratome has been redesigned to perfection so that creating the corneal flap is safe. The second technological invention was ultraviolet laser, which was created in 1980 and can be used for accurate incisions in tissues without damaging surrounding tissue.

Ten years after the Lasik operation was approved by the FDA, millions of people around the world enjoyed its benefits and were finally freed from the discomfort of wearing spectacles or cleaning contact lens regularly.

However, a small portion of the many millions have complained about dry eyes, blurred vision and bleeding colors. A few also claim the procedure impaired their vision as they cannot watch movies or drive in the evening. Based on such complaints, the FDA did a Lasik safety audit. “The technology is more sophisticated and safer, but there are still a few patients who are not satisfied with the result,” said FDA director for equipment and health radiology Dr Daniel G Schultz.

Since FDA’s approval in 1998, Lasik turnover has reached US$2.5 billion per year. Up until 2006, the FDA had received 140 serious complaints about the procedure’s side effects. However, the American Society of Cataract and Refractive Surgery (ASCRS) studied 3,000 articles collected by its committee and found 95 percent were satisfied with the surgery results.

Although the Lasik procedure has had FDA approval for a decade, it was only in September 2007 that NASA agreed to its astronauts undergoing the procedure. US navy top gun and air force pilots are also now allowed to undergo this procedure, which is limited to I Lasik and no other Lasik procedure.

I Lasik is a knifeless Lasik technology with an unprecedented level of safety and accuracy. It is the most sophisticated combination of Intralase and VISX Advanced CustomVue and is the best there is to date.

Airborne Cell Phone Communication no Longer a Dream

0

Each time we board a plane we hear the announcement: “Turn off your cell phone when on board the plane.”

Indeed, the cell phone radio frequency can disrupt the plane’s navigation and communication system as this modern means of transportation depends a lot on radio frequency for its various functions, including communication with the control tower. This is one of the reasons why the British Civil Aviation Authority (CAA) forbids the use of cell phones on board as a cell phone frequency can create significant errors in the display instruments and disturbing sounds on the pilot’s radio. Even on a standby mode a cell phone still radiates electromagnetic signals and the signals become stronger when the base transceiver station (BTS) is connected with another cell phone for a call or an SMS.

Therefore, for the safety of passengers you are required to switch off your cell phone when you board a plane. However, this tradition will soon end. Several European airlines now already allow the use of cell phones with several conditions. Airbus, for example, has already allowed the use of cell phones and BlackBerry, which are frequently used to send and receive emails.

Soon, with an agreement issued by the European Aviation Safety Board, passengers on Airbus, which is equipped with the On-Air system, can use their various cell phones for calls, SMS and e-mail while flying.

The first airplane with this system is the Airbus A318, which will be operated by Air France. British airline BMI, Portuguese airline TAP, as well as Ryanair have also signed an agreement to provide the On-Air facility, which has been developed jointly by Airbus and SITA, a communication service company.

For the time being the facility will only be available in a number of European countries, but soon it will most probably be expanded throughout the world. As a matter of fact, a facility similar to OnAir, which is not the first one in the world, has been made available by Airbus competitor Boeing, which is being called Internet Connexxion. However, this facility was later discontinued as there was little demand from passengers so business wise it was not so profitable.

In Indonesia, Indosat is the first operator to provide such facility for its subscribers when flying to foreign countries through a service called AeroMobile. For the time being only Indosat’s Matrix subscribers can enjoy this facility when they fly on Emirates Airlines and Malaysia Airlines abroad. AeroMobile itself is the first operator to provide such services in the world and the services were commercialized for flying on Emirates Airlines as of March 2008.

AeroMobile Limited is a company based in England with majority shares owned by Telenor ASA, the seventh largest telecommunication company in the world. In response to the market demand since 2003 AeroMobile has been developing safe communication facilities for airplane passengers who carry cell phones and PDAs.

As the market leader in this field AeroMobile started to provide international services in April 2007 when Qantas commercially launched its in-flight mobile technology. The AeroMobile system was successfully tested through over 1,000 Australian domestic flights when SMS, GSM and GPRS data services were being made available for passengers. Qantas made a commitment to apply the services fully for its flights.

Meanwhile, starting March 2008 the AeroMobile system made cell phone calls possible for passengers of Emirates Airlines. Aeromobile and Indosat jointly guarantee the safety of mobile phone communications aboard international flights. Fuad Fahrudin, Group Head Integrated Marketing of Indosat, said that there are at least three factors behind the guarantee.

Nasi Goreng Jancuk

0

Surabaya bukan kota yang asing sebetulnya, tapi selalu saja ada sisi menarik. Dan menginap di Surabaya Plaza Hotel (SPH) adalah pilihan yang tepat karena lokasinya di tengah kota, bersebelahan dengan salah satu mal terkenal, Surabaya Plaza Shopping Center. Ke objek wisata mana pun tergolong dekat, masih dalam hitungan menit, sebutlah ke House of Sampoerna, Mesjid Cheng Hoo, dan lain-lain.

Meski berbintang empat, fasilitas hotel ini boleh diacungi jempol. Hotel yang seluruh kamarnya berjenis suite, berjumlah 210 kamar ini, mempunyai motto ”Yes, I Care”. Yang menarik, terhitung sejak Februari 2009 hotel ini membebaskan dari rokok, bahkan kalau ada tamu yang melanggar akan didenda Rp 1 juta. “Ini memang demi kenyamanan tamu sendiri,” ujar Yusak Anshori, General Manager SPH.

Tinggal di SPH tidak lengkap rasanya kalau tidak merasakan Nasi Goreng Jancuk. Memang, ada yang risih mendengar kosa kata tersebut, karena itu merupakan umpatan khas Surabaya, tapi sebenarnya sekaligus menunjukkan keakraban. 

Menu ini sengaja diciptakan untuk memuaskan lidah “arek-arek Suroboyo” dan para tamu tentunya. Diramu secara khusus oleh Chef Eko Sugeng Purwanto yang telah belasan tahun berpengalaman di dunia kuliner, keistimewaan dari nasi goreng ini terletak pada rasa, porsi dan bumbunya. Bumbunya pun sangat khas Surabaya yaitu menggunakan terasi yang citarasanya cukup kental di lidah. Yang juga tak kalah menarik adalah penyajiannya di atas piring berukuran jumbo yang diberi alas daun jati. Sungguh komplit rasanya. 

Dengan rasa ekstra pedas akan membuat para penikmat makin penasaran untuk melahapnya terus menerus. Porsinya tidak perlu diragukan lagi, bahkan sepiring–mungkin lebih tepatnya senampan–Nasi Goreng Jancuk bisa dinikmati oleh empat hingga lima orang dewasa. Jadi, bagi Anda yang ingin bernostalgia dengan citarasa khas Surabaya silakan mampir ke Surabaya Plaza Hotel. Berani mencoba? (Abe

Surabaya Plaza Hotel 

Plaza Boulevard – Jl. Pemuda 31 – 37, Surabaya 60271

Phone : (031) 531 6833 – Fax : (031) 532 2129

Bom Jakarta

0

Bom lagi, bom lagi. Kali ini sasarannya Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, 17 Juli lalu. Sejumlah korban sipil, di antaranya warga asing, berjatuhan.

Terorisme sungguh keji. Inilah kekerasan yang dirancang menciptakan ketakutan di masyarakat (Thorton, 2001) atau bentuk operasi psikologi (McEwen, 2001). Sementara Hrair Dekmejian mengatakan, mengapa para teroris berlaku keji atas nilai-nilai kemanusiaan adalah karena mereka dilanda sindrom kekalahan atas kehidupan. Kematian dipilih sebagai solusi atas ketidakberdayaan mereka, yang dalam istilah disebut sindrom rendah diri akibat kekalahan bertubi-tubi.

Kita belum tahu pasti siapa pelakunya dan apa motif serta latar belakang sesungguhnya, tapi ledakan bom itu merupakan serangan atas kemanusiaan dan peradababan manusia. Implikasinya pun bisa sangat luas. Tidak hanya Australia yang buru-buru mengeluarkan travel warning, tapi lebih dari itu investasi untuk menumbuhkan industri pariwisata menjadi sia-sia.

Indonesia dikenal sedang giat-giatnya membangun. Tidak hanya plaza-plaza megah, nama-nama hotel berbintang lima berjaringan global pun hampir semuanya ada di Indonesia – khususnya di Jakarta, Bali, dan beberapa kota besar lainnya. Sebutlah Hilton, Shangri-La, St Regis, Melia, Four Seasons, Kempinski, Nikko, Oakwood, Hyatt, dan lain-lain.

Ritz-Carlton dan JW Marriott tergolong new entries di Indonesia. Ritz-Carlton adalah jaringan hotel mewah di 23 negara dan bermarkas utama di Chevy Chase, Maryland. Sementara JW Marriott adalah jaringan perhotelan tersukses di dunia, dikembangkan dalam waktu relatif singkat, 20 tahun oleh JW ”Bill” Marriott Jr.

Apakah kedua hotel tersebut menjadi target teroris karena berbau Amerika, wallahu a’lam! Yang jelas, masyarakat industri perhotelan di Indonesia berduka. Bertahun-tahun membangun kepercayaan, hancur dalam sekejap. Tidak hanya kerugian fisik semata, tapi lebih jauh adalah kepercayaan asing, apakah Indonesia masih menarik sebagai tempat berinvestasi.

Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan majalah National Geographic edisi Traveler, saya dan beberapa undangan lain, di antaranya William Wongso dan Jay Subiyakto, sempat merumuskan tentang hotel yang paling OK di Indonesia. Jawabannya ternyata memang tidak mudah. Memang, banyak hotel-hotel mewah yang dibangun di Indonesia, bahkan dikelola oleh jaringan global, tapi yanga namanya “hotel Indonesia” itu susah ditemukan.

Hanya beberapa bangunan hotel di Indonesia yang peduli dengan kaidah arsitektur Indonesia. Yang paling banyak adalah ‘tempelan’ semata, dengan menambahkan unsur-unsur etnik Indonesia. Dan yang paling parah, demikian William Wongso, jarang hotel di Indonesia yang mampu menyajikan makanan Indonesia secara benar. Kebanyakan makanan kontinental. Kalau pun ada makanan tradisional, “Pada hari ketiga biasanya para tamu biasanya sudah bosan. Variasinya sangat sedikit, padahal kekayaan kuliner Nusantara sangat luar biasa,” katanya.

Apa boleh buat, penggagas pembangunan hotel di Indonesia adalah para investor yang cuma tahu untung-rugi di industri perhotelan. Tidak punya passion sebagai orang perhotelan yang basis bisnisnya adalah jasa atau hospitality. Demikian pula dengan makanan, yang dipandang semata-mata sebagai makanan, bukan the art of cooking, yang memberi karakter Indonesia pada hotel tersebut.

Industri jasa perhotelan di Indonesia memang belum berkembang secara matang – bahkan dibandingkan dengan Thailand, misalnya, yang jati dirinya sangat kuat. Proses belajar untuk tahap yang benar memang masih jauh, dan bom yang memporak-porandakan JW Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta makin memperburuk keadaan. (Burhan Abe)

Belajar dari Sang Maestro, Bob Sadino

0

Bob Sadino, siapa yang tak kenal. Pria yang setia dengan celana pendek jins dan kemeja kutung adalah sosok entrepreneur yang sukses di bidang F&B dan pasar swalayan, dengan jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Begitu mendapat kesempatan untuk mewawancarainya, jelas ada kebanggan tersendiri, selain rasa rasa was-was. Maklum, pria bernama lengkap Bambang Mustari Sadino kelahiran Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933 ini dikenal dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos dan sering tak terduga. 

Benar saja, hampir semua tim Appetite Journey yang datang ke rumahnya di kawasan Cirendeu Jakarta Selatan yang asri tak luput dari semprotannya setiap kali salah merumuskan pertanyaan atau mengemukakan opini yang tidak mengena. “Goblok, kamu!”

Apa boleh buat, Bob Sadino memang maestro di bidang bisnis, sehingga apa pun yang keluar dari mulutnya adalah memang kebenaran semata. Mungkin saja ada kata-kata yang menurut awam “menyakitkan”, tapi begitulah cara Om Bob – begitu ia akrab disapa, memberi pelajaran kepada para muridnya. Bahkan salah satu judul bukunya menggarisbawahi sikapnya tersebut, “Belajar Goblok dari Bob Sadino”, terbitan Kintamani Publishing, 2007. 

Tanpa tujuan, tanpa rencana, tanpa harapan. Begitulah Om Bob menjalani usaha, juga menjalani hidupnya, “Seperti air yang mengalir saja,” tukasnya. “Buat apa saya punya rencana yang hebat-hebat? Padahal Tuhanlah yang menentukan segalanya. Dialah master planner saya,” katanya lagi.

Sikap pria berambut putih yang rada cuek ini ternyata sejalan dengan pola pikirnya yang apa adanya. Sebab, demikian Om Bob, apa yang diraihnya saat ini adalah berkat pola pikir yang apa adanya itu. Tanpa target, apalagi obsesi yang muluk-muluk, tapi yang penting adalah berbuat dan berusaha total dalam menggeluti apa saja. 

Tapi bukan berarti ia menjalani hidup yang datar-datar saja, justru seperti lirik dalam lagu The Beatles, ia harus menempuh The Long and Winding Road. Hidup pria lulusan SMA ini cukup keras dan berliku, pernah menjalani berbagai profesi, mulai dari sopir taksi hingga kuli bangunan untuk sekadar bertahan hidup.

Ia juga pernah merantau selama sembilan tahun ke Amsterdam (Belanda) dan Hamburg (Jerman), sejak 1958. Sebetulnya di negeri orang tersebut ia pernah mencapai titik aman, menjadi pegawai Djakarta Lloyd yang bergaji besar. “Tapi saya meninggalkan semua kemapanan itu, dan kembali ke Tanah Air,” ujarnya.

Mengapa ia mau meninggalkan comfort zone dan memulai dari nol? “Yang saya cari adalah kebebasan,” kata drop out Fakultas Hukum UI Jakarta ini. 

Kebebasan, itulah kata kunci Om Bob saat keluar dari kantor yang diidam-idamkan banyak orang, dan berniat menjadi juragan bagi diri sendiri – dan tentu bagi banyak orang, kelak. 

Demi cita-cita meraih kebebasan itu pula yang membuat ia rela menempuh jalan hidup hidup yang tidak mulus, bersama istri tercintanya. Modal yang ia bawa dari Eropa adalah dua sedan Mercedes tahun 1960-an. Yang satu ia jual dan uangnya ia belikan sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Sedang yang lainnnya ia manfaatkan sebagai taksi yang disopirinya sendiri. 

Going Digital

0

Mobile phones have become an inseparable part of life. Almost half of the world’s population depends on them. In Indonesia, the use of mobile phones grows an average 6 percent per year. The growth of mobile phone ownership and telecommunication development in Indonesia is among the fastest in the world, along with India, China and Brazil.

A few years ago, only certain people in a few major cities used cell phones, but today usage is more widespread. People in villages and even small children now are using mobile phones for communication. The Indonesian Telecommunication Regulator Agency (BRTI) predicts that in 2011, the number of mobile phone users, both 2G and 3G, will reach more than 100 million.

Significant increases are not only seen in mobile phone usage but also in computers. Previously, PCs were expensive and could not be carried everywhere, but now there are sophisticated and low-cost notebooks, which are portable. With numerous Wi-Fi spots available in many places, notebooks are likely to be another mass product in the near future.

Based on Gartner survey company data, in 2002 the number of notebooks was only 20 percent of the total PCs worldwide. However in 2006, the figure increased to 40 percent. At the end of this decade, notebook numbers are predicted to exceed PCs.

There are several reasons behind this phenomenon. First is today’s mobile lifestyle that requires many people to work while on the move. Another factor is the success of Intel Centrino in popularizing Wi-Fi connections for easy access to the Internet. Both factors have led to the production of various types of notebooks, which are affordable for many.

What is interesting is that both notebooks and mobile phones have turned into vital gadgets of communication for both voice and data. There can also be a combination or convergence of the two gadgets. For example, BlackBerry and other similar gadgets can be used for communication with a mobile phone or Internet function.

Meanwhile, the iPhone can be regarded as a mini notebook, while it can also be used as a mobile phone. It offers the following services: mobile Internet, data application, digital media and news, wallpaper, ringtone, streaming video, and much more.

Notebooks and mobile phones indeed play an important role in today’s telecommunications. In a discussion last year in Jakarta, the Chairman of the Telecommunication Committee of the Indonesian Chamber of Commerce, Anindya Bakrie, said that conventional media companies had to revamp their facilities to anticipate the penetration of the Internet and mobile phones if they did not want to be left behind.

“The convergence of media has become a new challenge, because there is a new potential that is untapped, the television, computer and mobile phone,” said Anindya, who is also the president director of Bakrie Telecom.

Thus, almost all aspects of life, without one really feeling it, are directed toward digital convergence, which offers various new solutions for both common consumers as well as businesspeople. Therefore, it is not surprising that the Indonesian telecommunications industry, as the largest infrastructure for digital data service, is investing on a huge scale.

Memanfaatkan Peluang di Pasar yang Melemah

0

KRISIS global yang berawal dari Amerika Serikat dampaknya ke seluruh belahan dunia. Bisnis properti tak luput dari imbasnya. Kendati demikian, fenomena ini merupakan tantangan tersendiri bagi para pelaku bisnis properti untuk memberikan berbagai kemudahan dan diferensiasi produk yang akan dirilis. Problemnya adalah bagaimana merangkul pasar dengan strategi jitu dan mendapatkan respon positif dari konsumen.

Guna melakukan terobosan pasar, pelaku bisnis real estate memerlukan strategi jeli untuk melahirkan produk yang inovatif dan kreatif. Setidaknya produk tersebut harus mampu mengakomodir keinginan pasar, namun bujet yang digelontorkan haruslah realistis di tengah masa sulit ini. Siasat jitu yang mengadopsi pada kebutuhan pasar adalah langkah penting demi eksistensi bisnis. Sementara itu, elemen yang terlibat di dalamnya tidaklah sedikit. Diperlukan sikap proaktif dari pebisnis untuk mempelajari pasar yang dinamis. Efisiensi juga memegang peranan penting namun tetap merilis output yang maksimal.

Secercah harapan yang bisa dirangkul itu bukan sekedar untuk bertahan di jalur bisnis, melainkan untuk bangkit menjadi sosok yang lebih kuat. Sudah sepantasnya jika pengembang juga membantu konsumen dalam mengembangkan bisnis, karena mereka sudah terlanjur basah berinvestasi.  Intinya, pebisnis di jalur ini harus mampu mengoptimalisasi produk yang efisien dan diterima pasar, khususnya para tenant. Berikut beberapa tips:

  • Optimalisasi Lahan

Perusahaan harus peka terhadap lahan atau ruang  yang lebih akomodatif optimal. Sementara itu, ruang yang yang efektif juga tak lepas dari beberapa faktor. Misalnya, pemanfaatan ruang tersebut harus maksimal penggunaannya. Ruang yang tersedia juga harus memenuhi standar sistem informasi teknologi yang efisien sehingga format workstation bisa dihindari.  Hal ini diharapkan mampu meningkatkan kinerja SDM. Meminimalisir area juga memegang peranan penting, seperti area resepsionis, ruang pertemuan, ruang mewah, ruang menunggu, ruang bersantai, yang penggunaannya bisa dialokasikan ke hal yang lebih penting dan produktif.

  • Kelengkapan dan Akurasi Data

Kelengkapan dan akurasi data memegang peranan penting dari perencanaan portofolio dan prediksi biaya manajemen. Kemampuan untuk mempelajari dinamika dan variasi pasar sangat diperlukan demi terciptanya biaya yang efisien. Hal ini menuntut adanya data yang valid perihal harga sewa, leasing, persyaratan, kondisi bangunan, kekuatan landlord, nilai aset, pembagian wilayah, efektivitas penggunaan, namun yang paling penting adalah memaksimalkan peluang untuk meredam biaya ke arah yang lebih efisien.

  • Bertahan di Pasar

Banyaknya tawaran dan proyeksi sewa masih bersifat fluktuatif dalam masa 12 bulan. Pasalnya, permintaannya justru cenderung negatif untuk pasokan baru dalam memasuki pasar. Ini merupakan celah menguntungkan bagi perusahaan untuk mempelajari perubahan harga sewa, nilai pasar, dan dinamika yang terjadi. Maka, diperlukan identifikasi yang komperehensif dan negosiasi cemerlang demi hasil yang maksimal.

  • Identifikasi Surplus

Bangunan yang bisa memaksimalkan produktivitas karyawan adalah salah satu opsi terbaik dalam membentuk portofolio untuk kemudian disewakan lagi. Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan perusahaan untuk sublease (menyewakannya kembali). Misalnya, kekuatan dan fleksibilitasnya, nilai kontrak yang sesuai pasar, efisiensi operasional gedung, fitur khusus pemasaran, kualitas landlord, dan biaya yang harus disiapkan untuk sublease.

  • Bergerak Cepat!

Merangkul pasar di tengah kondisi yang melemah adalah sebuah tantangan besar. Maka, perusahaan harus jeli memanfaatkan “langkah pertama” untuk mendapatkan lahan secara cepat dengan strategi negosiasi yang fleksibel ketika sublease tenant yang potensial sudah ditemukan.

  • Memfungsikan Outsourcing

Ketika memasuki masa downsizing, mengeksplorasi cara-cara baru dengan outsourcing atau melakukan negosiasi ulang kontrak layanan yang ada memang memberikan keuntungan tersendiri. Misalnya, bisa meningkatkan leverage untuk menurunkan biaya-biaya. Selain itu memberikan level efisiensi yang lebih tinggi. Dan, memberikan kemampuan untuk menyesuaikan kembali layanan berdasarkan tingkat kebutuhan yang kerap berubah-ubah.

  • Mempertahankan Penyewa

Ketika permintaan menurun dan vacancy yang bertambah, persaingan di antara landlord semakin sengit untuk mempertahankan penyewanya. Penyewa yang akan habis masa sewanya memiliki kesempatan bernegosiasi untuk melanjutkan okupansinya. Salah satu kelebihan yang bisa diciptakan adalah harga sewa yang rendah atau bahkan sewa gratis dalam periode tertentu.

  • Meredam Biaya Okupansi

Tinjau ulang semua biaya okupansi demi mengidentifikasi area mana yang bisa dialokasikan sebagai bentuk penghematan. Perusahaan harus jeli meninjau kontrak dan mampu melihat kesempatan untuk bernegosiasi atau bahkan melakukan tender ulang yang kompetitif.

  • Menciptakan Peluang

Di tengah iklim yang serba sulit ini, diperlukan strategi jitu sebagai bentuk kekuatan modal jangka panjang. Ketakutan terbesar landlord  adalah kredit macet dengan jumlah akun yang signifikan. Justru di sinilah kesempatan untuk membeli, lalu menjualnya atau menyewakan kembali dengan jangka waktu panjang.

  • Apa yang Harus Dilakukan Jika Masa Sewa Berakhir?

Untuk masa sewa yang berakhir dalam kurun waktu 12 bulan ke depan, pasti hanya terdapat dua pilihan. Umumnya, perusahaan harus memperpanjang sewa atau pindah ke lokasi lain. Jika sewa diperpanjang, persyaratannya pasti di level minimum. Alternatif lainnya, kontrak pembaharuan dengan syarat yang sewaktu-waktu bisa saja berhenti di tengah jalan atau berhenti di pertengahan. Hal ini akan memungkinkan perusahaan untuk mengambil keuntungan sewa yang lebih rendah di tengah pasar yang juga menurun. (Cushman & Wakefield Indonesia)