Home Blog Page 99

Jalur Perdagangan Obat Kuat (Seks)

0

Impotensi dan ketidakmampuan dalam berhubungan seks menjadi masalah paling klasik bagi pria sepanjang masa. Tabu dan sensitif, yang menyertai persoalan ini, justru membuka peluang bagi para pengusaha (perseroan atau pun perorangan) untuk terjun ke bisnis obat “kuat” dan berbagai metode yang berkaitan dengan problem seksual. Apa saja yang mereka tawarkan? Mana obat yang teruji secara medis, mana yang hanya mitos? 

Bagaimana kaum Arab Sudan yang ukuran kejantannya mencapai 25 cm lebih dengan melakukan latihan yang sederhana dan mudah yang diajarkan oleh ayah-ayah mereka pada masa pubertas? Kaum pria Arab ini juga telah tercatat di World Book of Records sebagai bagian dari pemilik penis-penis terbesar di dunia.

Itulah salah satu iklan yang di internet tentang program latihan meningkatkan kemampuan kejantanan pria. Iklan tersebut juga mengungkapkan beberapa fakta bahwa rata-rata ukuran “alat vital” orang Indonesia saat ereksi hanyalah 13 cm; 90% pria tidak puas dengan ukuran ini. Merujuk pada survei yang diadakan oleh Durex Condoms, 67% wanita mengatakan bahwa mereka tidak bahagia dengan “ukuran” pasangannya. Jadi, masihkah Anda ingin mengatakan size doesn’t matter?

Begitulah, masalah ketidakjantanan, entah itu persoalan ukuran penis, ketidakmampuan berhubungan badan, impotensi, lengkap dengan mitos-mitosnya, menjadi persoalan pria sepanjang masa.

Mus read book: Slow Burn, Cerutu dalam Ritme Hidup Modern

Berbagai riset kedokteran (bahkan juga perdukunan) dilakukan untuk memecahkan masalah-masalah tersebut. Ini tidak saja membuka berbagai inovasi yang berkaitan berbagai penemuan obat-obatan yang berkaitan degan masalah kesehatan seksual, tapi sekaligus peluang bagi para pedagang yang menjual dan mendistribusikannya yang ujung-ujungnya adalah bisnis.

Viagra adalah puncak penemuan obat anti impotensi dalam era modern ini. Di AS dan negera-negara Eropa, viagra diyakini sebagai obat ampuh yang mampu mengatasi persoalan impotensi. Di Indonesia, tablet berwarna pink yang didistribusikan secara resmi oleh Pfizer itu juga menjadi barang yang tidak asing, yang membuat pria menjadi perkasa, mampu menaklukkan pasangannya, bahkan wanita hiperseks sekali pun.

Sebelum Viagra, banyak bahan-bahan alami (kadang-kadang bercampur dengan mitos) yang diyakini sebagai penyembuh atau pembangkit gairah seksual. Campuran darah ular kobra dengan serbuk giok hijau, misalnya, menurut mitos di China, India, serta Mesir, mampu meningkatkan potensi seksual pria. Sementara di Korea, banyak yang mempercayai ginseng sebagai minuman penambah vitalitas kejantanan.

Indonesia juga mengenal berbagai berbagai ramuan tradisional yang tidak hanya mampu mengobati penyakit yang berhubungan dengan seks, tapi juga memberikan kenikmatan syahwati. Sebutlah akar pasak bumi dari Kalimantan, tangkur buaya, atau bahkan baru-baru ini, di Mojokerto (Jawa Timur), daging biawak tiba-tiba menjadi favorit para laki-laki di sana, karena mereka yakini bisa menambah vitalitas keperkasaan mereka sebagai laki-laki. Belum termasuk berbagai makanan dan minuman yang diyakini sebagai zat afrodisiak yang mampu membangkitkan gairah seksual.

Saat ini Anda tentu tahu, setidaknya pernah mendengar merek-merek obat kuat, seperti Blue Moon, Caligula Kapsul, Cobra-X Kapsul, Hwang Di Shen Dan, Kuat Tahan Lama Serbuk, atau Tripoten. Asal tahu saja, obat-obatan tersebut menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengandung tadalafil, yaitu bahan kimia obat keras.

Mesin Uang AliExpress: Cara Mencetak Dolar Lewat Dropshipping

“Tadalafil dapat menyebabkan nyeri otot, pusing, sakit kepala, mual, diare, muka memerah, hidung tersumbat, dan hilangnya potensi seks secara permanen,” kata Husniah Rubiana Thamrin Akib, Kepala BPOM.

Gugur Satu Tumbuh Seribu

0

Anda kenal dengan nama-nama ini: Raymond, Aldrin, Miko, Winky, Milinka, Tammy, Adit, atau Dree? Tidak semua tahu, tapi bagi pada clubber, nama-nama tersebut tentu tidak asing lagi. Ya, merekalah para bintang di dunia malam, para disc joeckey (DJ) yang selalu meramaikan suasana dengan kepandaiannya meramu musik.

Para DJ itulah yang dipercaya untuk mengisi acara penutupan Embassy, klub ternama yang berlokasi di Taman Ria Senayan Jakarta beberapa waktu yang lalu. Closing party perlu digelar untuk menandai berakhirnya klub tersebut pertengahan Januari lalu.

Tapi klub di Jakarta bak pepatah, tutup satu tumbuh seribu. Klub yang satu berakhir, segera muncul yang baru. Saat ini pada partygoers Jakarta sedang dibuat terpesona oleh klub-klub yang muncul belakangan, mulai dari Dragonfly, Blowfish, X2, atau yang terbaru Indochine dan Immigrant. Yang disebut terakhir mungkin yang paling istmewa saat ini, bahkan boleh disebut sebagai sebagai Jakarta’s newest hot spot. Berlokasi seluas 1400 meter per segi di lantai paling atas Plaza Indonesia Extension yang baru, dari lounge venue tersebut para pengunjung bisa menikmati pemandangan Jakarta, khususnya di sekitar jalan Thamrin dan Bundaran HI, karena sebagian area memang dibuat open air.

Kota Jakarta selalu bergerak, orang-orangnya adventurous, selalu mencoba hal-hal baru, maka klub-klub yang hadir harus memberikan sesuatu yang baru bagi mereka. Itu pula yang ingin dihadirkan oleh Immigrant, yang mempunyai tagline “Becoming One for Many”.

Ya, penduduk Jakarta yang super sibuk selalu membutuhkan hiburan untuk melepaskan kepenatan, para clubber membutuhkan keriaan yang sesuai dengan jiwa mereka yang dinamis. Suasana gembira, kilatan lampu, dan dentuman musik techno yang dimainkan oleh para DJ.

Dunia gemerlap (dugem) memang kagak ade matinye. Budaya clubbing sebetulnya lahir pada akhir dekade 1980-an di Eropa yang dengan kemajuan teknologi musiknya melahirkan house music. Klub-klub di Ibiza, Italia dan London menjadi surga berdenyutnya musik jenis ini. Seiring berjalannya waktu, musik ini juga berevolusi – dari house ke trance, lalu hardcore, jungle, progressive dan drum & bass.

Dari Benua Eropa budaya ini mulai mewabah ke seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Klub-klub musik dan tempat-tempat hiburan malam di kota-kota besar, sebutlah Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Bali, bermunculan. 

Di Jakarta kita ingat ada Zodiak, Terminal One, M Club, B1 atau Poster Café. Bengkel adalah satu yang terbesar pada masanya kendati sekarang berubah konsep menjadi tempat karaoke. Masih banyak klub di wilayah Kota yang beberapa di antaranya masih eksis, sebutlah Hailai, Sydney 2000, Gudang, 1001, Millenium, Bvlgari, V2, dan juga Sands di Mangga Dua Square. Yang paling “angker” apalagi kalau bukan Stadium, yang kabarnya akan membuka cabangnya di luar Kota, tepatnya di Menara Imperium Kuningan. Dengan pengunjung yang membludak venue-venue tersebut menghasilkan rupiah yang berlimpah.

Selama ada massanya dunia clubbing di Jakarta tampaknya akan terus hidup. Entah itu di kawasan barat dengan musik yang lebih ritmenya lebh cepat, atau pun gaya selatan yang lebih stylish, bahkan cenderung “jaim” (jaga image). Selamat datang di dunia gemerlap malam! (Burhan Abe)

Appetite Journey, July 2009

In Vino Veritas (2)

0

Popularitas wine di Jakarta makin tinggi. Indikasinya tidak hanya makin banyak wine lounge yang berdiri, tapi ritual minum wine kini bak minum bir saja. Bukan berarti wine menjadi murahan, tapi wine kini tersosialisasikan dengan lebih baik dibandingkan dengan era sebelumnya.

Dulu hanya di hotel berbintang lima saja yang menyediakan wine, atau wine lounge di kawasan Kemang yang banyak ditinggali para ekspatriat. Kini, tempat minum wine mulai meluas wilayahnya, mulai dari Mega Kuningan hingga Kelapa Gading. Bahkan ada juga di mal-mal dan plaza-plaza. Sebutlah Cork & Screw yang cabang keduanya hadir di Plaza Indonesia.

Lokasi yang disebut terakhir ini sangat strategis, karena berada di lantai dasar dan berhadapan langsung dengan Bundaran HI. Suatu sore dengan view air mancur yang indah saya dijamu oleh yang empunya, Reeza Budhisurya. Kami memilih red wine Australia. Entah mengapa akhir-akhir ini saya suka anggur asal Negeri Kangguru itu. Apalagi ketika saya mem-posting foto-foto kegiatan wine tasting di Facebook, seorang teman yang kini tinggal di Canberra memberi komentar, “Kenapa nggak mencoba wine Aussie, nggak kalah dengan produk Prancis loh!” 

Ya, selera orang memang tidak sama, dan kebetulan lidah saya paling cocok dengan wine Australia, yang lebih light. Sebelumnya saya juga merasakan red wine Australia juga di The Wine Centre, milik Sarana Tirta Anggur, yakni Mid Day Shiraz. Rasa tidak bisa bohong, kata sebuah iklan. In vino veritas, dalam anggur ada kebenaran!

Tapi saya memang bukan wine expert, apalagi sommelier, jadi setuju saja dengan pilihan penjamu, yang tentunya lebih ahli. Dari merekalah saya banyak belajar wine, dari Reeza, Suryadi yang empunya The Wine Centre, atau Yohan Handoyo yang menulis buku “Rahasia Wine”, juga dari teman baik saya Dave Graciano, yang memang berkecimpung di F&B, termasuk wine. Mereka adalah orang-orang yang tidak pelit membagi ilmunya.

“Manusia telah membuat minuman anggur sejak sekitar lima ribu tahun yang lalu,” cerita Reeza. Wow, itu berarti pada zaman Nabi Nuh wine sudah ada.

Itu memang masih debatable, meski kalau saya mendebatnya tidak punya dasar, dan juga nggak penting. Tapi yang tidak bisa dimungkiri, wine adalah minuman yang populer di dunia – mungkin hampir menyamai popularitas kopi dan teh.

Negara-negara yang penduduknya banyak mengkonsumsi wine adalah Prancis, Italia, Amerika Serikat, Jerman, Spanyol, Argentina, Inggris, China, Rusia, dan Rumania. Jika tolok ukur yang digunakan adalah angka per kapita, daftar tersebut menjadi Luxemburg, Perancis, Italia, Portugal, Kroasia, Swiss, Spanyol, Argentina, Uruguay, dan Slovenia.

Tapi minum wine tidak seperti air biasa tentu, ada ritual tersendiri. Minimal, wine tidak untuk diminum sebagai “obat haus”, tapi sebagai teman makan, disebut juga sebagai social drink, sehingga wine tidak bisa diminum sendirian.

Mencicipi wine sebotol sendirian, selain memabukkan, jelas kurang elok. Apalagi tujuan mencicipi wine bukan untuk mabuk-mabukan, tapi sebagai sarana bersosialisasi. Sebuah klub pecinta wine “kelas atas” yang disebut Gran Cru saja membutuhkan 13 orang (jumlah yang optimum) untuk mencicipi sebotol wine premium – maklum, harganya ada yang Rp 50 juta per botol.

Deal Bisnis (dan Asmara) di Padang Golf

0

GOLF, tak pelak, menjadi pilihan olah raga yang mengasyikkan bagi para eksekuktif – sebagian besar pria. Tidak sekadar olah raga tentu saja, juga gengsinya, tapi yang menarik justru di luar urusan keluar keringat tersebut yang secara fisik tentu menyehatkan, banyak alasan lain yang membuat kegiatan yang satu ini terasa mengasyikkan. Tidak hanya deal-deal bisnis penting yang konon bisa terjadi di lapangan golf, tapi asmara pun bisa bersemi di padang hijau ini.

Yang terang, golf – paling tidak pembicaan tentang olah raga ini, kembali ramai. Apalagi kalau bukan dipicu oleh kasus asmara cinta segitiga antara dua pejabat tinggi yakni Direktur Utama PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen dengan mantan Ketua Komisi Pemberantan Korupsi (KPK) Antasari Azhar dengan seorang caddy cantik Rani Juliani, yang berakhir dengan penembakan terhadap Nasruddin.

Yup, golf tidak hanya mengayun stick, tapi lebih sophisticated. Ada urusan sportivitas, ada urusan bisnis, ada juga urusan seputar asmara dan “esek-esek”. Olah raga yang berasal dari tradisi Skotlandia ini sudah dimainkan oleh orang-orang di Britania Raya sejak lebih dari lima abad silam. Salah satu bagian yang penting dalam golf adalah caddy. Kata caddy ini memang berasal dari bahasa Perancis, le cadet yang bermakna sebagai “anak laki-laki”, tapi profesi ini kini banyak dilakoni para perempuan – yang belakangan menjadi daya tarik tersendiri.

Tidak jarang memang, padang golf yang menyediakan caddy-caddy perempuan – selaian lapangannya yang menawan tentu saja, segera menjadi favorit bagi para pemain golf, baik yang amatir maupun profesional. Bahkan, golf tour ke sebuah negara yang dijual oleh biro perjalanan khusus, segera menarik perhatian kalau iming-imingnya adalah caddy-caddy-nya perempuan. “Memang tidak ada jaminan bahwa mereka bisa ‘dipakai’, dan itu memang urusan masing-masing personal. Tapi pegolf pria mana yang tidak bersemangat, kalau caddy-nya cantik dan seksi,” ujar Yudha Gunawan, konsultan pemasaran, yang sering mengikuti golf tour itu.

Profesional yang berkantor di segitiga emas Jakarta itu yang kerap menjuarai berbagai kejuaraan dan turnamen golf di tanah air itu tidak hanya menjajal lapangan golf domestik, tapi sering mencari tantangan baru ke luar negeri. Bisa berenam atau berdelapan dengan teman-temannya. Australia adalah salah satu destinasi yang disukai. Selain pemandangannya indah, jenis lapangannya juga unik. “Pernah saya berjalan di lapangan seluas sembilan kilometer persegi. Panas terik tak terhiraukan, apalagi saya bisa mendapat score tinggi,” ungkapnya.

Bermain di Joondalup Country Club, Australia Barat, adalah salah satu pengalaman yang tak terlupakan bagi Yudha. Betapa tidak, ketika mengayunkan stik dalam kesejukan udara, tiba-tiba di pinggir fairway berdiri sekelompok kanguru seakan menyaksikan permainan para pegolf yang sedang unjuk kelihaian lapangan golf 27 holes ini.

Lapangan golf yang sering disebut sebagai The Whole In One – karena fasilitasnya yang lengkap dan berkelas – bukan sekadar tempat olah raga, tapi juga tujuan wisata, sekaligus tempat tetirah yang memberikan suasana damai dan asri. “Pengalaman di padang golf selalu menyenangkan, tapi cerita di luar off court pun tak kalah serunya. Olah raga ini berawal dari lapangan, tapi sering berakhir di ranjang,” ujar pria 39 tahun itu lagi sambil tertawa.

Ia tidak menceritakan secara spesifik bahwa yang memberikan “pelayanan” di luar lapangan itu adalah caddy. Tapi ia mengatakan bahwa jika para pegolf itu menginginkan servis di luar urusan olah raga, bukan hal yang susah untuk didapatkan. Para agen perjalanan yang mengatur acara semacam ini pun pasti sudah mafhum dengan kebutuhan para kliennya, yang hampir semuanya pria.

Massage parlour

Di Indonesia kita memang belum mendengar ada pengelola lapangan golf atau penyelenggara turnamen golf yang terang-terangan “menjual” caddy perempuan sebagai caddy sebagai daya tariknya. “Prioritas pertama adalah penyediaan kebutuhan olah raga. Kalau ada caddy yang mencoba ‘macem-macem’ di luar urusan pekerjaan, pasti akan ada sanksinya, entah peringatan bahkan pemecatan,” ujar seorang pengelola golf course di bilangan Jababeka.

Tapi siapa yang menjamin bahwa golf course benar-benar steril dari urusan esek-esek. Apa pun bisa terjadi di padang hijau ini. Simak saja cerita Jack, sebut saja begitu. Bapak tiga anak yang berusia 42 tahun ini semula iseng-iseng saja bermain golf bersama teman-temannya, tapi kemudian ia keranjingan.

Tidak hanya olah raganya sendiri yang membuat badan semakin sehat. Tapi yang membuat ia ketagihan adalah adanya pelayanan massage parlour setelah beroalah raga. Dengan pijatan profesional dari MP tersebut, badannya yang kelelahan sehabis bergolf ria dan berjalan kaki berkilo-kilometer, langsung bugar.

Sebetulnya MP tersebut bukan bagian dari pelayanan yang ditawarkan pengelola padang golf tersebut, tapi didatangkan Jack dari luar. Jack pun tidak pernah berprasangka apa-apa sampai sang MP ternyata memberikan pelayanan lebih. Yang dipijat MP ternyata bukan hanya dengan tangan saja, tapi ada all in, dan ending-nya silakan tebak sendiri. Memang, apa pun bisa terjadi di padang golf. Bukan hanya deal bisnis, tapi urusan esek-esek hingga skandal asmara pun bisa terjadi. Pemian olf tidak hanya konsentrasi di lubang-lubang di lapangan saja, cewek caddy pun disebut-sebut sebagai hole yang lain dari permainan olah raga bergengsi ini. (Burhan Abe)  

POPULAR, Juni 2009

Distinguished Buzz at Dragonfly

0

Themed “The Final Thursday Industrie-Red Carpet Affair,” Dragonfly threw a spectacular bash last Thursday night presented DJ Jayo and DJ Rama as well as fashion show by Jakarta’s socialites.

The idea of inviting a number of socialites to stage at the party is a reflection of Dragonfly as a nest for sociable character people who appreciate the art of living, according to Amanda Putri, the club’s marketing and promotion manager. Pointing at the crowd, she exclaimed, “It’s another one of a kind happening event!”

Indeed, socializing with people from different walks of life accompanied by clubby soundtrack of funky house put the crowd in a jovial mood. The Thursday night’s event was interesting in a way that the club designed the party to fit those whose career are in the field of industry like that of fashion, law, music, telecommunication, banking, oil and gas, to name a few.

Nevertheless, quite a few guests from non-industrial career background were seen at the event owing to the club’s hot spot. “Spun by talented DJs, the music really elevates me. And if it gets too loud, you can just simply move to the restaurant side for a chill out,” Ade, one of the guests, told The Jakarta Post. “Or go to the right side to jam on the dance floor.”

To deliver the best quality of dance music, Dragonfly has hosted a myriad of world-class DJs and acclaimed entertainers such as DJ Nixon and Louie Vega, respectively.

Situated at Graha BIP building on Jalan Gatot Subroto has since last year reincarnated into becoming a smarter looking venue. After being renovated, the hottest restaurant and lounge are conjoined so as to provide a night-out experience to the fullest.

Having the concept created by the Ismaya Group, Dragonfly serves a variety of well-designed menu that allows visitors to have the taste of both east and west. In addition to serving the savory modern Asian cuisine, the restaurant at Dragonfly includes tapas menu of Spanish and Canadian. Nevertheless, the food has the strong influences from the Indochine region with the taste of sweet, hot, sour and salty. Deep fried marinated calamari and sweet and sour orange stir-fried dory fish are among the menu’s favorites.

Along with the menu to tickle the visitors’ palate, an array of selected wines and seductive Asian cocktails are lined up to boost the spirit. With the special Thursday all night long, visitors can get great deal for selected wines. Dragonfly Martini and Grilled Lime Mojito are respectively among the club’s drink signatures and stick drinks.

“But you should try the long and powerful cocktails on the list like One Night Stand and Illusion,” Michael, an expatriate from an oil company suggested adding, “Sipping a glass of wine while enjoying egg croquette tapas in a Dragonfly’s lively relaxing ambience creates a vibrant lifestyle.”

Awarded one of the top ten design bars by an acclaimed media, Dragonfly has created a unique decoration that can be described as modern Asian elegant, though many will agree with the term “avant-garde.” Embedded within the club’s contemporary wall lighting is an alluring leaf patterns, an essence of Asian influence of vintage old wood and seductive translucent lightning.

Lobbying: Suap, Seks, dan Kekuasaan

0

“Tanpa ada lobi, bisnis belumlah valid,” ujar seorang managing director sebuah perusahaan periklanan. Ya, bisnis dan lobi ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Lobi bisa mendekatkan perusahaan dengan klien. Berkat lobi klien akan lebih percaya kalau mereka mengenal lebih personal, di samping track record perusahaan tentunya.

Fenomena seperti ini memang bukan barang baru dalam urusan bisnis. Melobi pada dasarnya merupakan usaha yang dilaksanakan untuk mempengaruhi pihak-pihak yang menjadi sasaran, agar terbentuk sudut pandang positif terhadap perusahaan. Kegiatan melobi pada intinya dapat diartikan sebagai aktivitas untuk menyodorkan ide sedemikian rupa sehingga memiliki arti dan nilai yang positif bagi sasaran lobi.

Tapi yang menarik, urusan lobi pun tidak sekadar urusan bisnis, tapi menyangkut hal-hal di luar bisnis yang tak jarang berisiko tinggi, mulai dari sekadar komisi hingga urusan syahwat. Bahkan untuk urusan lobi, duit US$ 800 juta bukan apa-apa. Paling tidak, sebesar itulah belanja industri farmasi Amerika untuk melobi anggota Kongres dan pengambil keputusan, di pemerintah pusat dan negara bagian, dalam kurun waktu tertentu beberapa tahun yang lalu.

Tidak hanya itu, untuk memuluskan jalan, mereka juga melibatkan 3.000 kaki tangan sebagai pelobi, yang sepertiganya adalah bekas pegawai pemerintah federal. Para pelobi itu bekerja keras, agar peraturan-peraturan yang keluar tidak merugikan industri farmasi.

Itu adalah sekadar contoh bahwa lobi bukan masalah sepele. Dalam ranah politik lobi memang bukan salah satu pilar demokrasi, tapi secara faktual mempunyai kedudukan yang sangat strategis – meski pun lobi sulit dibedakan dengan sogokan.

Elizabeth Drew dalam The Corruption of American Politics: What Went Wrong and Why (1999), menyebutkan bahwa dari tahun ke tahun semakin banyak pelobi bergentayangan di kantor Kongres, terutama setelah 1980-an, ketika orang berpolitik bukan lagi untuk memperjuangkan ideologi, melainkan untuk alasan yang sangat rasional; uang dan kekuasaan.

Lobi memang tidak hanya populer di dunia bisnis, tapi sudah memasuki berbagai wilayah kehidupan, tak terkecuali ranah poltik. Kemenangan Barack Obama sebagai Presiden AS tentu bukan hanya karena popularitasnya serta euforia rakyat Amerika yang menginginkan perubahan.

Di balik itu ada peran para pelobi, baik yang informal maupun yang secara resmi tergabung dalam tim sukses. Mereka tidak hanya merancang campaign strategy yang cerdas dan terencana, tapi juga rajin melakukan lobi-lobi kepada pihak-pihak tertentu yang bisa memuluskan jalan Obama ke Gedung Putih.

Cerita tersebut tidak hanya terjadi di Negeri Paman Sam, tapi sebetulnya juga berlangsung di negara kita. Kita sering mendengar untuk menggolkan rancangan undang-undang tertentu, beberapa anggota DPR pun kerap kecipratan dana yang cukup besar dari pihak tertentu. Selain suap, lobi tersebut tak jarang melibatkan perempuan – yang membuat seorang penyanyi dangdut pun dalam sebuah kasus yang belum putus, meminta cerai dari anggota DPR tersebut.

Photo by Manki Kim on Unsplash

Dalam urusan lobi, ingatan kita juga masih segar terhadap Artalyta Suryani. Wanita pengusaha ini sangat populer di kalangan pejabat, anggota parlemen, hingga petinggi kepolisian dan kejaksaan. Nama wanita berusia 47 tahun ini menjadi sorotan pers ketka skandal transaksi jaksa bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI) terkuak.

Tak Lekang oleh Waktu

0

Pesan pendek masuk ke telepon genggam saya beberapa waktu yang lalu. Pengirimnya Olga Lydia: We would like to welcome you to Elbow Room’s Soft Opening. Enjoy our great food and exclusive beers & wine at 30% discount!

Menarik, bukan diskonnya semata, tapi model cantik itu benar-benar serius masuk ke bisnis food and beverage (F&B). Sebelumnya ia bersama teman-temannya membuka La Forca, kafe yang mempunyai fasilitas biliar, kemudian Poke Sushi, dan kini bersama Anya Dwinov, Olga membuka bar di bilangan Kemang Jakarta. “Tidak selamanya saya jalan di catwalk, jadi harus memikirkan bisnis di luar modeling,” katanya waktu itu.

Alasan kali ini mungkin sama, tidak selamanya Olga menjadi artis, dan tidak hanya mengandalkan penghasilan dari dunia keartisan. “Tidak sembarang bisnis tentu saja, kebetulan bisnis yang saya tekuni saat ini sesuai dengan passion saya, lifestyle,” jelasnya.

Kalau mau jujur, dunia keartisan di Indonesia memang sangat terbatas. Berbeda dengan di AS, misalnya, artis dan penyanyi bisa bertahan sampai tua. Meryl Streep, misalnya, di usia yang tidak bisa dikatakan muda, masih mendapatkan peran utama dalam banyak film. Gloria Estefan atau Natalie Cole masih mengeluarkan album dan selalu mengadakan konser.

Di Indonesia bukannya tidak ada artis yang mampu bertahan sampai gaek, tapi bisa dihitung dengan jari. Itu sebabnya para selebriti, selagi beada di puncak karier, harus memikirkan karier di luar keartisan. Pelawak Tukul Arwana membuka bisnis kos-kosan, artis cantik Titi Kamal terjun ke bisnis restoran, DJ Riri buka kafe & bar, penyanyi dangdut Inul Daratista pun terjun ke bisnis karaoke keluarga dengan nama Inul Vizta. “Kalau ngebor terus pasti berisiko,” itulah salah satu alasannya. Bisnis yang dimulai Inul sejak 2004 itu tergolog sukses dan kini memiliki lebih dari 25 cabang.

Kalau diperhatikan, bisnis yang paling banyak ditekuni para selebriti adalah bisnis F&B, paling tidak yang masih ada hubungannya dengan gaya hidup. Apakah karena bisnis F&B mudah dilakukan?

Tidak juga. Karena ang dibutuhkan tidak sekadar menyalurkan hobi semata, tapi harus ada passion, skill, diferensiasi, strategi pemasaran yang jitu, dan tentu saja strategi bisnis yang matang. Kalau tidak, siap-siap saja untuk gulung tikar.

Tapi yang jelas, bisnis F&B mempunyai potensi yang besar di Indonesia. Banyak restoran, kafe dan bar baru bermunculan – meski tak sedikit yang tutup. Kalau tidak mana mungkin investor-investor asing melirik bisnis ini. Kenny Rogers Roasters, untuk menyebut contoh. Restoran franchise asal AS ini sudah ada di Pacific Place, dan akan dikembangkan di Mal Pondok Indah 2 Jakarta. Yang membawa ke Indonesia adalah Berjaya Corporation Berhard asal Malaysia.

Photo by Austin Distel on Unsplash

Di Malaysia sendiri, saat ini Kenny Rogers Roasters sudah mempunyai lebih dari 50 gerai, padahal jumlah penduduknya lebih sedikit dibandingkan Indonesia. “Di Kuala Lumpur dengan populasi tidak lebih dari 5 juta jiwa, terdapat lebih hampir 30 gerai. Jadi, kalau Jakarta dengan penduduk 14 juta jiwa, mestinya terbuka kemungkinan untuk lebih tumbuh,” Dato’ Francis Lee, Executive Director Berjaya Group, sekaligus President Roasters Asia Pacific, kepada Majalah MIX.

Ya, bisnis F&B, mengutip (almarhum) Benyamin Sueb, memang kagak ada matinye. Dalam ungkapan yang lebih baru, mengutip judul lagu terbaru Kersipatih, Tak Lekang oleh Waktu. Secara logika yang utama dalam industri ini adalah orang harus makan.

Ala Chef

0

Acara kuliner di TV yang paling saya sukai adalah “Ala Chef” di Trans TV. Terus terang, pertama-tama memang karena host-nya yang jelita, Farah Quinn. Tapi yang lebih penting, penonton bisa diajak masuk ke aura masak memasak yang cerdas, yang hasilnya adalah yummy sexy food, paling tidak begitulah kata si pembawa acara di di pengujung acara.

Sayangnya, acara yang bermutu ini ditayangkan di jam para profesional masuk kantor. Artinya, hanya orang-orang rumahan saja yang bisa menyimak pelajaran masak memasak ala chef tersebut. Sebutlah ibu-ibu dan, maaf, pembantu saja, yang mungkin menjadi target pasar acara tersebut. So, saya jarang nonton, tapi saya cukup beruntung, pernah semeja dengannya dalam sebuah jamuan makan siang di Time Square, Grand Indonesia, atas undangan teman baik saya, Hanny Gunawan, PR Manager tempat tersebut.

Yang jelas, acara kuliner dan masak memasak memang makin mendapat tempat di Indonesia. Kalau tidak, mana mungkin, acara seperti Gula-gula atau Wisata Kuliner tetap berkibar. Ada juga Santapan Nusantara, Bango Cita Nusantara, Cita Rasa William Wongso, dan lain-lain.

Yang menarik, acara-acara tersebut melahirkan chef-chef andal yang mulai dikenal masyarakat luas, minimal kategori host lagi, yang jagoannya di kuliner. Memang, salah satu rumus untuk menarik perhatian penonton adalah dengan menampilkan bintang tamu selebirti, tapi kini chef-chef itu menjelma menjadi selebriti itu sendiri. Sebutlah William Wongso, Bondan Winarro, Bara Pattirajawane, Tatang, Ragil, Rustandy, Rudy Choirudin, dan lain-lain.

Ya, chef bisa menjadi sentral sebuah acara, sama dengan restoran-restoran di negara maju, kuncinya adalah sang chef. Inilah sebuah penghargaan terhadap profesi juru masak yang di negara berkembang yang selama ini identik dengan urusan dapur, yang selalu diletakkan di “belakang”.

Saya ingat ketika mendapat undangan dari Australian Tourist Commission untuk program Epicurean Experiences Theme Tour, beberapa tahun yang lalu, saya (dan beberapa wartawan dari berbagai negara) mendapat kesempatan untuk mengunjungi beberapa restoran terbaik di Negeri Kangguru itu. Nama besar sebuah restoran di sana tidak ditentukan oleh namanya, tapi siapa chef-nya.

E’cco Bistro, misalnya yang berlokasi di pusat kota Brisbane, meski kecil, tapi menjadi favorit penduduk Australia lantaran pemilik sekalian chef-nya, Philip Johnson, sangat populer di dunia kuliner. Philip yang asal New Zealand itu dikenal sebagai koki yang andal. Mendapat beberapa penghargaan seperti The Remy Martin Gourmet Traveller Australian Restaurant of The Year Award, serta menjadi salah satu yang direkomendasikan dalam Eating and Drinking in Australia.

Di Noosa, salah satu melting pot yang penting di Australia, kami berkesempatan menikmati makan malam di dua restoran ternama. Ricky Ricardo’s dan Berardo’s Restaurant. Resto yang pertama berlokasi di tepi sungai. Ricky yang pernah memenangkan American Express Award dan Best Sunshine Coast Restaurant itu menyajikan makanan ala Mediteranean.

Sementara Berardo’s dengan pemilik yang juga sekaligus chef David Rayner menyuguhkan sajian khas Australia, mewakili salah satu gaya Noosa Cuisine. Oleh koran lokal, The Courier Mail, kedua restoran tersebut juga dipuji sebagai resto yang mempunyai makanan yang enak, suasana yang mengasyikkan, serta mempunyai wine list yang sempurna.

Rupanya bukan nama besar yang dipertaruhkan untuk sebuah resto dengan konsep fine dining, tapi sang kokilah yang sangat berperan apakah resto itu berkualitas atau tidak.

Di Indonesia kita memang dengan gampang menyebut nama-nama restoran beken, baik yang lokal maupun franchise. Tapi kita tidak tahu siapa juru masak di belakangnya. Padahal, sebuah restoran atau kafe menjadi favorit atau tidak, pertama-tama adalah rasa makanannya, berikutnya adalah ambiance, atmosfer, suasana, dan seterusnya, termasuk harga tentu saja. (Burhan Abe)

Available in Any Size!

0

Memasarkan busana pria eksklusif super mewah memang menyimpan cerita tersendiri. Hal ini meliputi kelas sosial, kondisi psikografis dan gaya hidup konsumen yang patut dipelajari. Ada anggapan, membeli sebuah trend busana tak sekadar menikmati fungsinya, tapi juga membeli sebuah gaya hidup.

Perkembangan mode dan tuntutan penampilan menjadikan busana bagian dari kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada kaum wanita, namun juga pada kaum pria. Sementara itu, berbagai model busana terkini membuat konsumen pria lebih selektif untuk memilih yang terbaik. Setidaknya hal ini diamini oleh Irawati, Public Relations Manager PT Busana Perkasa Abadi (BPA), pemegang beberapa merek top seperti Ermenegildo Zegna, Versace, Versus, dan GF Ferre.

Memang, perusahaan di Indonesia yang berbasis busana pria tak sebanyak perusahaan yang menekuni busana wanita. Apalagi khusus busana pria eksklusif. Mitos di masyarakat, lebih mudah menjual busana wanita ketimbang busana pria. Alhasil, muncul anggapan jika wanita lebih gemar bersolek daripada pria, sehingga menetaskan citra bahwa wanita lebih modis ketimbang pria. Benarkah? Tidak juga!

Sebenarnya, konsumen pria jauh lebih kalem ketimbang wanita. Dalam memilih sesuatu, mereka lebih cepat memutuskan. Hal ini tentu lebih menguntungkan daripada konsumen wanita yang jauh lebih selektif. Bahkan, ada anggapan jika kaum pria lebih impulsif, sehingga menjual busana pria lebih mudah dan menguntungkan. Sementara itu, kaum wanita melihat dari semua aspek dalan keputusannya untuk membeli, seperti potongan merek, potongan harga, model, warna, dan lainnya.

Konsumen pria? Mereka tak mau repot-repot. Jika suka, mereka langsung membelinya walau ada “harga” yang harus dibayar. Namun demikian, banyak juga dari kaum pria, khususnya kalangan eksekutif yang gandrung terhadap brand papan atas. Nah, masalah timbul ketika sebuah busana dari merek favoritnya kurang “sreg” di hati. Misalnya, ukuran atau model busana itu tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya. Maklum, busana yang dipajang di manekin ukurannya belum tentu sama dengan ukuran tubuhnya.

Fenomena ini kerap melanda di kalangan pria eksekutif. Bagaimana menyiasatinya? Merek busana pria papan atas menyadari betul fenomena itu. Sebut saja Ermenegildo Zegna yang tampil dengan servis bertajuk “Su Misura”. Seperti dikutip dari keterangan tertulisnya, program Su Misura melayani pembelian dengan ukuran yang sesuai, tentu setelah diukur terlebih dahulu, layaknya pembuatan jas (stelan) di tailor. Bukan cuma jas, program Su Misura meliputi pembuatan produk fashion lainnya seperti jaket, celana, kaos, dasi, sepatu, hingga ikat pinggang.

Servis ini mengakomodasi keinginan konsumennya. Tentu dengan kualitas dan sistem kontrol yang baku sesuai standar. Intinya, produk yang dipesan diperlakukan sangat akurat demi kepuasan konsumen yang sudah fanatik dengan produk Zegna. Memang, secara general Zegna diperuntukkan bagi pria yang relatif konservatif namun tetap mengikuti tren.

Yang menjadi benang merah dari karakter konsumen produk papan atas boleh jadi sama, yaitu fashionable dan established. Alhasil, produk-produk yang ditawarkan pun bukan sekedar pelengkap tubuh, melainkan pembentukan citra. Harga yang harus dibayar pun angkanya kian meroket. Mulai dari kisaran ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah.

Kesan pertama merupakan kunci terpenting bagi pebisnis. Kalau seseorang sudah “tenggelam” saat pertemuan pertama gara-gara caranya berpakaian, ini adalah tragedi! Seringkali kita menemukan seorang eksekutif yang berbusana mengesankan dari kaki hingga kepala. Namun, imej-nya menurun gara-gara dasi atau ikat pinggang yang tidak pas. Merugi? Sudah pasti! Artinya, style seseorang merupakan salah satu investasi penting. Yang jelas, asal kocek mendukung, semua bisa di-customized! (Burhan Abe)

Fashion Pro, Januari 2009

A Trip to Beautify Oneself

0

Nurlita no longer feels comfortable with her looks. At 36, she is worried by the wrinkles appearing on her face and around her eyes. “Tell me, what woman doesn’t want to look beautiful? Now, maybe only cosmetic surgery can help me solve the problem,” said Nurlita, who is the marketing manager of a garment company.

Today, many things can be done to improve one’s looks, from a facelift to botox and various other procedures that make one’s face younger with a short recovery time. The cost is also affordable to many. Facelifts and other such surgeries are not only done domestically, but also abroad, which means that one can go on a tour and have one’s face done at the same time.

Some Bangkok hospitals and beauty clinics already advertise here. They provide a wide range of services, such as tightening the facial skin, hair removal, face mark reduction, breast implants, tummy tucks and even sex changes.

Going abroad for a tour and cosmetic surgery is becoming popular, with Thailand being one of the most popular destinations for medical tours. Bangkok Dusit Medical Services Group and Bumrungrad Hospital, both located in Bangkok, are just two examples of the Thai hospitals that attract foreign tourists wanting cosmetic procedures. Every year, more than 364,000 patients from 150 countries go to Thailand on medical tours.

Singapore is probably the best prepared Asia Pacific country to tackle medical tours. What makes Singapore one of the leading medical centers in the world is its state-of-the-art facilities, professional doctors and sophisticated diagnostic equipment. Besides its world-class facilities, Singapore’s clean environment also lends patients a sense of well-being that encourages a speedy recovery.

AsiaMedic Limited in Singapore is just one example of a leading one-stop healthcare provider that serves both local and foreign patients. It focuses on early prevention and detection of various diseases through sophisticated technology in its wide-ranging specialized clinics, such as AsiaMedic PET/CT Centre, Aesthetic Medical Centre, AsiaMedic Eye Centre, Orchard Imaging Centre and Wellness Assessment Centre.

Meanwhile, Excellence Healthcare is a multi-discipline American-style clinic that offers various medical services, such as general checkup, cardiology, oncology, Lasik and presbyopia surgery, aesthetic and plastic surgery, dental care and orthodontics, and obstetrics and gynecology.

Other medical centers in Singapore include eMenders Medical Specialist Group, Island Orthopaedi-c Group, Pacific Healthcare, Specialist Dental Group (Henry Lee Dental Surgery), Surgeons International Holdings Pte Ltd, The Lasik Surgery Clinic, and many more. In 2000, the World Health O-rganization (WHO) ranked Singapore’s healthcare system No. 6 in the world. Apart from this recognition, 13 of Singapore’s hospitals and health centers have been accredited by the International Joint Commission.

Meanwhile, Malaysia has also emerged as a destination for medical tourism. One of its targets is Indonesian patients for both health and beauty services. So, don’t be surprised to see advertisements in local media promoting cosmetic procedures in, say, Penang, Malaysia.

The surgeries offered include liposuction, blepharoplasty (double eyelid surgery), nose implants, breast enlargement, facelifts, etc. The hospitals provide not only medical services but also accommodation at a four- or five-star hotel, airport transfer and local transportation for shopping and sightseeing.