SU MA dan Generasi Baru Fine Dining Asia yang Tidak Lagi Terjebak Nostalgia

Hasilnya bukan masakan Tiongkok atau Korea dalam pengertian konvensional. Bukan pula interpretasi Barat yang kebetulan menggunakan bahan-bahan Asia. Yang muncul adalah sesuatu di antaranya: pengalaman kuliner yang menghormati akar budaya tanpa terjebak romantisme masa lalu.

Menciptakan Memori, Bukan Sekadar Dessert

Jika Brendon membawa perspektif tentang warisan dan tradisi, Ryan Kim menghadirkan dimensi emosional yang berbeda. Chef asal Korea Selatan ini dikenal luas melalui Fragments, konsep dessert yang berhasil membangun pengikut setia di Jakarta. Namun bagi Ryan, pastry selalu lebih dari urusan rasa manis atau teknik yang presisi.

Ia melihat makanan sebagai medium untuk menciptakan memori.

E-Book Cashflow Machine: Ubah Ide Sederhana Jadi Mesin Uang Otomatis

Setelah menimba pengalaman di sejumlah restoran papan atas Australia seperti Quay dan Bennelong, Ryan memahami bahwa tamu sering kali tidak mengingat setiap detail hidangan yang mereka santap. Yang bertahan justru adalah perasaan yang muncul selama pengalaman tersebut berlangsung. Karena itu, perannya di SU MA tidak berhenti pada dessert.

Ia ikut membangun narasi keseluruhan pengalaman bersantap—mulai dari ritme penyajian hingga bagaimana setiap hidangan berinteraksi dengan hidangan berikutnya. Tujuannya sederhana: membuat tamu pulang dengan sesuatu yang lebih dari sekadar rasa kenyang.

Jadi Clipper Penghasil Cuan dengan AI Gratis: Ini Tutorialnya

Fine Dining yang Tidak Berteriak

Filosofi tersebut menemukan bentuk terbarunya melalui Volume 6: Passage. Alih-alih menawarkan pertunjukan kuliner yang penuh kejutan dramatis, menu terbaru SU MA justru bergerak lebih subtil. Tema perjalanan, perpindahan, dan transformasi diterjemahkan melalui lapisan rasa yang berkembang secara perlahan sepanjang malam.

Tidak ada kemewahan yang dipaksakan. Tidak ada upaya berlebihan untuk menunjukkan betapa kompleks teknik yang digunakan di dapur. Justru di situlah kekuatannya.

Di saat banyak restoran berlomba menjadi yang paling keras berbicara, SU MA memilih menjadi yang paling tenang. Dan dalam ketenangan itu, setiap detail terasa lebih jelas.

Setiap fermentasi memiliki tujuan. Setiap elemen di atas piring memiliki alasan untuk hadir. Setiap hidangan menjadi bagian dari cerita yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Mungkin inilah arah baru fine dining Asia saat ini.

Bikin E-Course Berbasis AI: Script, Voice Over, dan Materi Dibantu AI, Siap Jual

Related Stories

spot_img

Discover

Alunê

Membuka Babak Baru Beach Club Ikonis di W Bali – Seminyak Mengambil alih lokasi legendaris...

Elephant Grounds

Membawa Ritme Kafe Hong Kong ke Jakarta Specialty coffee, sajian sepanjang hari, dan ruang ramah...

HONO

Ruang Mendengarkan yang Menghidupkan Ritme Berawa Di TUI BLUE Berawa, piringan hitam, sajian sepanjang hari,...

Musim Gugur, Cara Aman

Dari upacara minum teh di Kyoto hingga berenang bersama hiu paus di Sumbawa, Aman...

Seni Vietnam Menemukan Panggungnya

Ketika Sapa Berbalut Emas Musim panen mengubah terasering Sapa menjadi lanskap keemasan. Di Hotel de...

Ayana Bali Buka Babak Baru Perhelatan Berskala Besar

Grand Ballroom tanpa pilar, panorama laut Jimbaran, serta hampir seribu kamar dalam satu kawasan...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here