SU MA dan Generasi Baru Fine Dining Asia yang Tidak Lagi Terjebak Nostalgia

Ada masa ketika restoran Asia dianggap harus memilih satu dari dua jalur: mempertahankan tradisi secara kaku atau mengejar modernitas hingga kehilangan identitasnya. SU MA memilih jalan ketiga. Di tengah geliat dunia kuliner Jakarta yang semakin kompetitif, restoran ini membangun reputasinya secara perlahan. Tidak melalui sensasi media sosial atau menu yang dirancang untuk viral dalam semalam, melainkan lewat sesuatu yang jauh lebih sulit dicapai: konsistensi.

Selama tiga tahun terakhir, SU MA menjelma menjadi salah satu alamat yang menarik perhatian para penikmat fine dining yang mencari lebih dari sekadar makan malam mewah. Restoran ini menawarkan sesuatu yang semakin langka di kota yang bergerak cepat—pengalaman yang mengajak tamunya memperlambat ritme.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Di balik pendekatan tersebut berdiri dua chef dengan latar belakang berbeda tetapi visi yang sama: Executive Chef Brendon Chen dan Co-Executive Chef Ryan Kim. Bersama-sama, keduanya sedang mendefinisikan ulang seperti apa wajah kuliner Asia Timur kontemporer di Jakarta hari ini.

Ketika Tradisi Tidak Lagi Menjadi Museum

Bagi Brendon Chen, memasak selalu berangkat dari rumah. Tumbuh dalam keluarga Tionghoa-Malaysia, ingatan masa kecilnya dipenuhi aroma dapur, resep turun-temurun, dan ritual memasak yang dilakukan dengan kesabaran hampir meditatif. Pengalaman itu kemudian membawanya menempuh pendidikan di Le Cordon Bleu London sebelum bekerja di berbagai restoran ternama di Asia dan Eropa, termasuk restoran berbintang Michelin.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Namun setelah bertahun-tahun berkarier di dapur kelas dunia, pandangannya terhadap tradisi justru semakin sederhana. Tradisi, menurutnya, bukan benda mati. Ia bukan artefak yang disimpan di lemari kaca untuk dikagumi dari kejauhan. Tradisi adalah sesuatu yang hidup.

Pandangan inilah yang menjadi fondasi pendekatan kuliner SU MA. Teknik modern digunakan bukan untuk menghapus identitas lama, tetapi untuk memberikan bahasa baru bagi cerita yang sudah ada.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Related Stories

spot_img

Discover

Alunê

Membuka Babak Baru Beach Club Ikonis di W Bali – Seminyak Mengambil alih lokasi legendaris...

Elephant Grounds

Membawa Ritme Kafe Hong Kong ke Jakarta Specialty coffee, sajian sepanjang hari, dan ruang ramah...

HONO

Ruang Mendengarkan yang Menghidupkan Ritme Berawa Di TUI BLUE Berawa, piringan hitam, sajian sepanjang hari,...

Musim Gugur, Cara Aman

Dari upacara minum teh di Kyoto hingga berenang bersama hiu paus di Sumbawa, Aman...

Seni Vietnam Menemukan Panggungnya

Ketika Sapa Berbalut Emas Musim panen mengubah terasering Sapa menjadi lanskap keemasan. Di Hotel de...

Ayana Bali Buka Babak Baru Perhelatan Berskala Besar

Grand Ballroom tanpa pilar, panorama laut Jimbaran, serta hampir seribu kamar dalam satu kawasan...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here