Home Blog Page 19

Banyan Group: Setelah 100 Resor, Permainan Baru Dimulai

0

Ada momen dalam bisnis ketika angka berhenti menjadi tujuan. Bagi Banyan Group, angka 100—jumlah hotel dan resor yang kini mereka operasikan di seluruh dunia—bukanlah puncak. Itu garis start yang baru.

Memasuki 2026, grup hospitality global yang lahir di Singapura ini melangkah dengan postur berbeda: lebih tenang, lebih terukur, dan jelas tahu ke mana ia akan pergi. Bukan ekspansi membabi buta, tapi pertumbuhan yang punya arah—dan nyali.

Cuan dari ChatGPT: Mesin Duit Baru Jaman Now

“Menembus 100 resor adalah awal babak baru,” kata Eddy See, President dan CEO Banyan Group. “Kami fokus masuk ke pasar yang relevan, memperkuat setiap brand, dan memperdalam pendekatan wellbeing serta regenerative travel—tanpa kehilangan disiplin bisnis.”

Terjemahannya sederhana: lebih tajam, bukan sekadar lebih besar.

Wajib Baca: Membangun Mesin Uang di Era AI

Afrika & Karibia: Masuk, Tapi Penuh Perhitungan

Langkah Banyan Group ke Afrika bukan langkah serampangan. Tahun ini, mereka masuk ke safari hospitality lewat Ubuyu, a Banyan Tree Escape di Tanzania—debut di Afrika Timur yang langsung bermain di kelas atas. Di Afrika Barat, Dhawa Ouidah akan dibuka di Benin, memperluas peta tanpa harus berisik.

Di Karibia, Banyan Group membuka dua pintu sekaligus di Republik Dominika. Angsana Cap Cana hadir sebagai resor penuh, sementara Cassia Punta Cana menyasar extended stay—strategi ganda untuk tamu yang tak lagi liburan, tapi living on the move.

Bacaan Kekinian: AI Jadi Asisten, Kamu Jadi Bos

Explora Journeys Perkenalkan Owner’s Residence Baru

0

Karya Patricia Urquiola di Explora III dan Explora IV

Explora Journeys, merek perjalanan laut mewah milik MSC Group, kembali menaikkan standar kehidupan di laut. Melalui kolaborasi eksklusif dengan Patricia Urquiola—arsitek dan desainer kelas dunia yang dikenal akan pendekatan human-centric dan sensibilitas artistiknya—Explora Journeys memperkenalkan interpretasi terbaru dari Owner’s Residence, hunian paling prestisius di atas kapal.

Direncanakan meluncur di atas Explora III pada musim panas 2026 dan Explora IV pada 2027, Owner’s Residence ini menjadi perwujudan visi bersama tentang kehidupan modern di laut: sebuah pengalaman emosional dan sensorik yang dirangkai lewat desain, cahaya, material, dan pergerakan samudra.

Rahasia Main Threads: Modal Jempol, Panen Rupiah

Sebuah Debut Ikonis di Explora III

Kehadiran desain Patricia Urquiola menandai momen penting bagi Explora III, kapal pertama Explora Journeys yang menghadirkan dua Owner’s Residence. Kapal ini akan memulai Mediterranean Prelude Journey eksklusif pada 24 Juli, dilanjutkan pelayaran perdana dari Barcelona ke Lisbon pada 3 Agustus, sebelum menjelajah Eropa Utara, Islandia, hingga Greenland di akhir tahun.

Bagi Urquiola, ini adalah debut pertamanya di Explora III—membawa bahasa desain khas yang lembut namun berkarakter kuat, dengan keseimbangan antara keintiman ruang dan keterbukaan terhadap laut lepas.

Cuma Modal HP: Bisa Cuan dari YouTube? Simak Rahasianya!

Hunian Paling Eksklusif di Atas Laut

Terletak di buritan pada Dek 7 dan 8, Owner’s Residence merupakan hunian terbesar dan paling eksklusif di atas Explora III. Setiap unit menawarkan luas total 280 meter persegi, termasuk teras privat seluas 125 meter persegi yang membentang selebar kapal.

Modal Gajet Jadi Cuan: 10 Cara Praktis Hasilkan Uang dari Internet

Satu Destinasi, Banyak Makna Perjalanan di Borobudur

0

Di Borobudur, perjalanan tidak selalu soal berpindah tempat. Kadang ia adalah soal berhenti—menarik napas, mengatur ulang perspektif, dan memberi ruang pada makna. Di lanskap inilah Plataran Borobudur memposisikan dirinya: bukan sekadar resor, melainkan sebuah destinasi yang mampu mengakomodasi berbagai tujuan perjalanan dalam satu ekosistem yang utuh.

Mengusung konsep Satu Destinasi untuk Beragam Perjalanan, Plataran Borobudur merangkum kebutuhan perjalanan modern—bisnis, refleksi spiritual, wellness, liburan keluarga, hingga perayaan privat—dalam satu pengalaman yang terkurasi, tenang, dan berlapis makna. Alam hijau, kekayaan budaya Jawa, serta kedekatan dengan Candi Borobudur menjadi fondasi yang tak tergantikan.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Ketika Bisnis Bertemu Keheningan

Untuk pertemuan bisnis dan retret perusahaan, Plataran Borobudur menawarkan ruang-ruang yang dirancang untuk fokus dan percakapan berkualitas. Pilihan venue dalam dan luar ruangan menyatu dengan alam sekitar, menciptakan suasana yang jauh dari distraksi. Kedekatannya dengan Borobudur memberi konteks yang berbeda—bahwa keputusan strategis tak selalu lahir dari ruang rapat yang kaku, melainkan dari ketenangan dan kejernihan berpikir.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Ritual Pagi yang Diakui Dunia

Pengalaman bersantap menjadi bagian integral dari perjalanan di Plataran Borobudur. Pada 2026, properti ini meraih penghargaan Best Breakfast di Condé Nast Johansens Awards for Excellence. Sarapan di sini bukan sekadar awal hari, melainkan sebuah ritual—menikmati hidangan berkualitas dengan lanskap Borobudur sebagai latar, dalam tempo yang santai dan penuh kesadaran.

PR 4.0: Mengelola Persepsi di Era Digital

Seni Persuasi

0

Oleh Eileen Rachman & Emilia Jakob

Masuk dunia kerja dengan kepala penuh ide segar itu rasanya seperti datang ke pesta pakai jas mahal—lalu disuruh duduk di pojok. Banyak anak muda mengalami hal yang sama: semangat membara, gagasan baru, tapi mentok di hadapan atasan yang terlihat alergi perubahan.

Di sinilah drama klasik generation gap muncul. Yang muda merasa yang tua keras kepala. Yang tua merasa yang muda sok tahu. Ide bagus pun gugur sebelum sempat diuji. Padahal masalahnya sering kali bukan pada idenya—melainkan cara idenya disampaikan.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Persuasi bukan soal siapa paling pintar. Ini soal siapa paling bisa membuat orang lain merasa aman untuk berubah.

Masalahnya Bukan Ide, Tapi Ego

Persuasi sejatinya bukan keterampilan baru. Kita semua pernah mempraktikkannya sejak kecil—saat merayu orang tua agar boleh pulang malam atau minta mainan mahal. Bedanya sekarang, persuasi jadi lebih rumit. Bukan karena orang makin bodoh, tapi karena makin banyak orang merasa sudah cukup pintar.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Dunia kerja bergerak cepat. Informasi datang tanpa jeda. Tanpa sadar, banyak orang membangun benteng ego. Ide baru terasa seperti sindiran: “Jadi keputusan gue selama ini salah?” Refleks pertama pun bukan mendengar, tapi bertahan.

Aristoteles Sudah Bilang dari 2.000 Tahun Lalu

Aristoteles merangkum seni persuasi dalam tiga kata yang masih relevan sampai hari ini: ethos, pathos, logos.

  • Ethos: siapa lo di mata mereka. Bukan jabatan atau usia, tapi apakah lo dianggap matang dan bisa dipercaya.
  • Pathos: emosi. Apakah orang merasa dimengerti, bukan dihakimi.
  • Logos: logika. Tapi logika versi pendengar, bukan ego pembicara.

Masalah dunia kerja modern? Terlalu cinta logos. Proposal rapi, data lengkap, presentasi kinclong—tapi lupa satu hal: manusia bukan spreadsheet. Banyak ide ditolak bukan karena salah, tapi karena orang belum siap menerimanya.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Trisara Phuket: Ketika Wellness Tak Lagi Soal Kabur

0

Tapi Pulang dengan Versi Diri yang Lebih Waras

Ada resor yang menjual ketenangan. Ada juga yang diam-diam mengajari kita cara hidup lebih masuk akal. Trisara termasuk yang kedua.

Bertengger di atas Laut Andaman, jauh dari hiruk pikuk Phuket yang semakin performatif, Trisara sejak awal tak pernah tertarik menjadi “destinasi”. Ia lebih mirip tempat jeda — ruang sunyi bagi mereka yang sudah lelah dengan definisi sukses yang terlalu berisik. Memasuki 2026, resor ini kembali memperjelas posisinya: wellness bukan lagi soal dimanjakan, tapi soal merawat diri dengan kesadaran penuh.

Kopi 4.0: Ketika Bisnis, Budaya, dan Gaya Hidup Berkolaborasi

Langkah itu ditandai dengan perluasan JARA Wellness dan penunjukan David Melladew sebagai Director of Ecotherapy & Wellbeing. Bukan jabatan yang bombastis, tapi perannya krusial: memastikan bahwa kesehatan di Trisara bukan gimmick, melainkan praktik hidup.

Wellness Tanpa Drama

Di era ketika wellness sering berubah jadi konten Instagram, Trisara memilih jalan yang lebih dewasa. Tak ada janji instan. Tak ada “detox tiga hari, hidup baru”. Yang ada justru pendekatan jangka panjang: pencegahan, keseimbangan, dan hubungan yang lebih jujur dengan tubuh sendiri.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Program JARA mencakup spa regeneratif, pijat terapeutik, perawatan tubuh dan wajah, akupunktur gaya Jepang, yoga privat, hingga meditasi. Semua dirancang bukan untuk memanjakan ego, tapi menormalkan ulang ritme tubuh yang terlalu lama dipaksa produktif.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Hiliwatu, Ubud

0

Tentang Bukit, Batu, dan Keheningan yang Tidak Kosong

Ubud tidak pernah benar-benar sunyi. Ia hanya memilih suara yang pantas didengar. Air yang mengalir pelan, dedaunan yang bergeser oleh angin, dan waktu yang menolak terburu-buru. Di lanskap seperti inilah Hiliwatu hadir—bukan sebagai pernyataan, melainkan sebagai jeda.

Nama itu sederhana: Hili, bukit. Watu, batu. Dua kata yang tidak perlu dijelaskan panjang-panjang. Bukit memberi jarak, batu memberi pijakan. Keduanya menyiratkan keteguhan, sekaligus kesabaran. Di Desa Bresela, Gianyar, di atas lahan hijau yang luas dan berlapis, Hiliwatu memilih berdiri dengan sikap yang sama: tenang, tidak menuntut perhatian, tapi sulit diabaikan.

Cuan dari ChatGPT: Mesin Duit Baru Jaman Now

Hiliwatu bukan resor yang ingin mengesankan sejak pandangan pertama. Ia lebih tertarik pada kesan yang tinggal lebih lama—perasaan yang baru terasa setelah koper diletakkan, ponsel dibiarkan di meja, dan napas mulai melambat.

Arsitektur yang Tidak Mendominasi

Bangunan-bangunan di Hiliwatu tidak saling berlomba untuk terlihat. Mereka tersebar mengikuti kontur perbukitan, seolah sudah ada di sana jauh sebelum tamu datang. Kayu lokal, batu, ruang terbuka, dan cahaya alami menjadi bahasa utama. Tidak ada sudut yang berteriak “lihat saya”; yang ada adalah ruang yang mengajak tinggal lebih lama.

Wajib Baca: Membangun Mesin Uang di Era AI

Lobi setinggi 24 meter bukan dimaksudkan untuk membuat orang kagum, melainkan untuk menurunkan tempo. Air mengalir dari kolam bertingkat, menandai transisi—dari luar ke dalam, dari ramai ke hening. Di sekitarnya, spa, ruang makan, dan sebuah kapel terbuka saling terhubung, terinspirasi oleh Rwa Bhineda: keseimbangan antara dua hal yang tampak berlawanan, namun justru saling menguatkan.

Di sinilah Hiliwatu menemukan karakternya. Bukan pada bentuk, tetapi pada rasa.

Bacaan Kekinian: AI Jadi Asisten, Kamu Jadi Bos

Jurnalisme 2026: Ketika Mesin Tak Percaya, Manusia Tak Sabar

0
Oleh Burhan Abe

Ada satu ironi besar dalam dunia jurnalisme hari ini: semua orang butuh berita, tapi makin sedikit yang percaya pada media. Laporan Journalism and Technology Trends and Predictions 2026 dari Reuters Institute for the Study of Journalism membuka tahun ini dengan nada yang jujur—bahkan agak muram.

Hanya 38 persen pimpinan media global yang optimistis pada masa depan jurnalisme. Angka ini bukan sekadar statistik; ini alarm keras yang berbunyi di ruang redaksi seluruh dunia.

Bisnis Kecil, Branding Besar: Rahasia UMKM Sukses di Era Digital, Tanpa Modal Besar

Yang menarik, para pemimpin media itu justru lebih percaya pada bisnis medianya sendiri ketimbang pada jurnalisme sebagai institusi. Seolah-olah mereka berkata: perusahaannya mungkin selamat, tapi misinya belum tentu. Dan saya paham kenapa.

Media Tak Lagi Jadi Gerbang

Dulu, jurnalisme adalah gerbang. Politisi masuk lewat media. Pebisnis butuh media. Publik bergantung pada media. Sekarang? Gerbangnya jebol dari segala arah.

Politisi memilih podcast yang ramah, YouTube yang jinak, dan influencer yang tidak banyak bertanya. Laporan Reuters menyebut ini sebagai “playbook Trump 2.0”—model komunikasi langsung yang melewati media, sambil sesekali menuding media sebagai “fake news” jika tidak sejalan .

The Playbook: Strategi Bisnis Konglomerat yang Tak Diajarkan di Sekolah Formal

Di sisi lain, publik—terutama yang muda—tidak sabar. Mereka tidak mau membaca panjang, tidak mau klik banyak, dan tidak mau menunggu verifikasi. Mereka ingin jawaban, sekarang juga. Dan di sinilah AI masuk sebagai solusi yang sekaligus masalah.

Ketika Google Berhenti Mengirim Tamu

Salah satu temuan paling mengganggu dalam laporan ini adalah prediksi bahwa trafik dari mesin pencari akan turun lebih dari 40 persen dalam tiga tahun ke depan. Bukan karena berita tidak penting, tapi karena berita tidak lagi dikunjungi.

Google kini bukan sekadar mesin pencari. Ia berubah menjadi mesin penjawab. AI Overviews menyajikan ringkasan langsung di layar. Pengguna puas. Media kehilangan klik.

Mesin Uang AliExpress: Cara Mencetak Dolar Lewat Dropshipping

Eri Maldives Kembali Dibuka: Eco-Chic Tanpa Basa-Basi, Mewah Tanpa Ribet

0

Barefoot luxury, tapi dengan isi. Bukan sekadar liburan—ini soal cara hidup.

Maladewa tak pernah kekurangan resor cantik. Tapi Eri Maldives datang dengan pendekatan berbeda: lebih tenang, lebih sadar, dan jauh dari kemewahan yang sok pamer. Setelah menjalani rebranding dan renovasi menyeluruh, resor pulau ini resmi dibuka kembali—membawa satu pesan sederhana tapi serius: eco-chic yang otentik, bukan kosmetik.

Terletak di North Malé Atoll, Eri adalah pulau alami dengan house reef yang hidup, pantai bersih tanpa drama, dan filosofi barefoot luxury yang dijalani, bukan dijual. Di sini, kemewahan tidak berteriak. Ia berbisik—pelan tapi dalam.

Start Small, Scale Big: Strategi Praktis Membangun Startup Tanpa Drama

Datang Mudah, Pergi Berat

Eri bisa dicapai lewat speedboat 45 menit dari Bandara Internasional Velana. Kalau ingin versi “opening scene film arthouse”, ambil seaplane 15 menit dengan panorama Malé Atoll dari atas. Begitu tiba, ritmenya langsung turun. Tidak ada dorongan untuk sibuk. Tidak ada tuntutan untuk terlihat keren. Ironisnya, justru itu yang bikin tempat ini keren.

Keluar vila, Anda langsung menginjak pasir. Melangkah sedikit lagi, terumbu karang sudah menunggu. Ikan-ikan warna-warni berlalu-lalang seperti ini rumah mereka—karena memang iya.

UMKM Naik Kelas: Cara Sederhana Go Digital dan Cuan Maksimal

The Island of Becoming

Eri menyebut dirinya “The Island of Becoming.” Kedengarannya filosofis, tapi masuk akal setelah Anda menjalaninya. Ini bukan resor yang memaksa Anda doing things. Ini resor yang memberi ruang untuk being.

Budaya Maladewa hadir lewat seni, musik, tarian, dan makanan—bukan sebagai atraksi, tapi bagian dari keseharian. Wellness di sini bukan jargon spa brosur; ia menyatu dengan tempo pulau, dengan cara Anda bernapas, makan, dan tidur. Pelan. Penuh. Tanpa FOMO.

Rahasia Sukses UMKM Jaman Now: Strategi Branding & Digital Marketing untuk UMKM

Belmond di ART SG: Tentang Seni, Perjalanan, dan Keberanian untuk Melambat

0

Ada satu hal yang jarang ditemui di art fair: rasa tenang. Bukan karena sepi, tapi karena tidak terburu-buru.

Itu yang langsung terasa saat Belmond untuk pertama kalinya hadir di ART SG 2026, pameran seni internasional terbesar di Singapura. Di tengah ruangan yang penuh ambisi visual dan ego kreatif, Belmond justru datang dengan sikap yang nyaris tidak populer hari ini: slow luxury.

Bukan slogan. Bukan gimmick. Tapi pilihan sadar.

Wine Not? Gaya Hidup di Balik Segelas Wine

Seni yang Tidak Lahir di Studio

Di pusat presentasinya, ada karya Wu Jian’an, seniman kontemporer asal Tiongkok, berjudul “500 Brushstrokes for Peru.” Judulnya sederhana. Prosesnya tidak.

Slow Burn: Cerutu dalam Ritme Hidup Modern

Hampir 500 sapuan kuas ini bukan hasil satu tangan di satu ruang. Ia dikumpulkan dari berbagai penjuru Peru—pesisir, pegunungan, hingga Amazon—melibatkan komunitas lokal yang masing-masing meninggalkan jejak kecil, tapi bermakna.

Wu Jian’an mengerjakan proyek ini lewat perjalanan panjang pada 2023–2024. Ia berpindah dari Cusco, Sacred Valley, Machu Picchu, Danau Titicaca, hingga Lima. Menginap di hotel-hotel Belmond, naik Andean Explorer, bertemu orang-orang, mendengar cerita, lalu membiarkannya meresap ke dalam karya. Karyanya terasa seperti peta emosi. Bukan peta wisata.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Hennessy Menyambut Tahun Kuda dengan Koleksi Edisi Terbatas yang Sarat Energi dan Karakter

0

Ada merek yang merayakan Tahun Baru Imlek sekadar dengan mengganti kemasan. Ada pula yang menjadikannya pernyataan sikap. Hennessy jelas memilih yang kedua.

Menyambut Tahun Kuda 2026, Maison cognac legendaris ini meluncurkan koleksi edisi terbatas Hennessy V.S.O.P dan Hennessy X.O, dengan desain yang bukan hanya estetis, tetapi juga sarat makna—tentang energi, kebebasan, dan dorongan untuk terus bergerak maju.

Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Diluncurkan di Jakarta pada 8 Januari 2026, edisi ini menampilkan interpretasi kuda yang dinamis dalam balutan nuansa tembaga metalik, pigmen mineral kaya, dan palet merah yang mengalir. Sosok kuda yang berlari tak digambarkan secara statis, melainkan seolah menembus permukaan botol—kuat, elegan, dan penuh momentum. Ini bukan sekadar visual, melainkan metafora: tentang kecepatan zaman dan keberanian untuk tidak tertinggal.

Slow Burn: Cerutu dalam Ritme Hidup Modern

Terinspirasi dari filosofi Timur yang memandang perspektif dan energi sebagai sesuatu yang cair, desain ini bermain dengan bentuk pahatan dan ruang terbuka. Setiap sudut botol menawarkan tafsir berbeda, mengajak peminumnya terlibat secara personal. Sama seperti karakter Hennessy itu sendiri—berlapis, kompleks, dan terus berevolusi.

Jakarta Unfiltered: Panduan Jitu Menaklukkan Jakarta