Home Blog Page 21

Gaya Kepemimpinan Efektif: Antara Power, People, dan Playbook

0
Oleh Maureen ASD, Rizkiana Shadewi, & Eileen Rachman

Di dunia kerja, bos keren bukan cuma soal seberapa tinggi jabatan di kartu nama. Tapi tentang seberapa mampu dia bikin timnya nyala terus, target tercapai, dan semua tetap waras.

Nah, gaya kepemimpinan itu ibarat playlist: salah pilih genre bisa bikin suasana jadi hambar atau malah chaos. Tapi kalau pas? Dijamin, tim bisa perform kayak band papan atas—kompak, kreatif, dan produktif.

Kenalan Dulu Sama Enam Gaya Utama

Menurut Hogan Assessment, ada enam gaya kepemimpinan utama yang bisa lo pahami lewat konsep Leader Focus. Nggak ada yang paling benar, tapi yang paling pas buat situasi dan karakter lo.

Bacaan Menarik: Membangun Mesin Uang di Era AI 

  1. Result Leader – Fokusnya? Target, target, dan target! Tipe ini cocok buat yang doyan tantangan dan nggak takut ngasih tekanan.
  2. People Leader – Si empatik. Bikin suasana kerja kayak rumah sendiri. Peduli mood tim dan tahu kapan harus jadi pendengar.
  3. Process Leader – Tipe yang rapi jali dan taat aturan. Cocok di organisasi yang butuh stabilitas dan minim risiko.
  4. Thought Leader – Si pemikir. Penuh ide segar dan strategi. Biasanya yang kayak gini sering dilabeli “visioner”.
  5. Social Leader – Ahli ngegaet orang. Jejaring luas, tahu siapa harus dihubungi buat tiap masalah.
  6. Data Leader – Si logis. Keputusan harus pakai angka. Intuisi? Nanti dulu.

Dua Pemimpin, Dua Cerita: Barra vs Hsieh

Sekarang kita intip dua tokoh beda gaya, tapi sama-sama bikin sejarah: Mary Barra (General Motors) dan Tony Hsieh (Zappos).

Mary Barra datang ke GM saat perusahaan lagi “berdarah-darah”—skandal ignition switch yang fatal. Tapi dia nggak cuma beresin masalah teknis. Dia rombak budaya perusahaan! Aturannya disimplifikasi, komunikasi dibuka, dan semua orang didorong buat speak up. Hasilnya? GM nggak cuma bangkit, tapi juga tumbuh jadi lebih sehat secara kultur.

Tony Hsieh, di sisi lain, bikin Zappos jadi role model happy workplace. Dia bahkan buang sistem hierarki lewat konsep holacracy. Di awal, semua happy. Tapi makin ke sini, sistem ini bikin bingung siapa ngapain. Akhirnya, bisnis pun jadi kurang fokus.

Dari dua cerita ini, kelihatan banget: gaya kepemimpinan harus sesuai konteks. Barra tahu kapan tegas, kapan mendengar. Hsieh terlalu fokus ke vibes, lupa soal struktur.

Baca juga: Nyari Cuan di Internet Sambil Rebahan?

Bikin Startup di 2025, Masih Menarik? Banget—Asal Tahu Celahnya!

0

Setelah dunia startup sempat gonjang-ganjing dengan gelombang PHK dan isu “bakar uang” yang tak lagi seksi, banyak yang mulai skeptis: apakah memulai startup di Indonesia masih relevan?

Jawabannya: masih sangat menarik—kalau kamu bisa baca arah angin dan berani main di zona baru.

Indonesia dengan 270 juta penduduk, jutaan pelaku UMKM, dan pengguna internet yang makin aktif setiap harinya tetap jadi ladang subur untuk ide-ide segar. Tapi kuncinya bukan lagi kecepatan dan “growth hacking”—melainkan solusi nyata, relevansi lokal, dan keberlanjutan.

1. Startup Ramah Lingkungan yang Benar-Benar Berguna

Tren gaya hidup berkelanjutan bukan cuma soal pakai tote bag dan sedotan bambu. Saat ini, makin banyak brand dan individu yang peduli jejak karbon, sisa makanan, hingga pengelolaan limbah rumah tangga.

Bayangkan ada startup lokal yang membantu orang-orang di kota mengubah sisa dapur jadi kompos dengan mudah, atau menghubungkan rumah tangga dengan bank sampah digital. Atau lebih canggih: platform penghitungan dan “offset” karbon pribadi bagi pengguna transportasi daring.

Startup seperti ini bisa kerja sama dengan brand F&B, kampus, bahkan pemkot.

Kenapa ini potensial?

  • ESG jadi standar baru di bisnis
  • Generasi Z makin sadar lingkungan
  • Banyak kota butuh solusi cepat, murah, dan scalable untuk masalah sampah

2. Microlearning Berbasis AI: Belajar Skill Singkat, Anti Ribet

Pernah merasa overwhelm ikut kursus online yang durasinya berjam-jam? Nah, bayangkan ada aplikasi belajar skill praktis (edit video, Excel, desain Canva, hingga belajar AI prompt!) dalam bentuk konten microlearning — durasi 1–5 menit, langsung bisa dipraktikkan.

Dengan bantuan AI, kontennya bisa otomatis menyesuaikan dengan gaya belajar, kecepatan user, bahkan memberi soal latihan yang adaptif.

Startup seperti ini cocok menyasar pelajar, pekerja kantoran, hingga ibu rumah tangga yang pengin upskill tapi waktunya terbatas.

Kenapa ini relevan?

  • Tren short-form learning makin kuat
  • Banyak orang ingin belajar cepat, ringan, dan aplikatif
  • Bisa diintegrasikan dengan sertifikasi digital atau peluang kerja remote

Baca juga: Cuan dari Rumah – 5 Bisnis Digital yang Bisa Kamu Mulai Hari Ini 

Jadi, Harus Mulai dari Mana?

Kalau kamu punya minat di bidang digital, desain, edukasi, atau lingkungan—ini saat yang tepat buat mulai bangun MVP (Minimum Viable Product), uji coba ide di komunitas, dan bikin tim kecil.

Bacaan lebih lanjut, cekidot https://lynk.id/StartUp1

Kuncinya bukan seberapa canggih teknologimu, tapi seberapa tepat solusimu untuk masalah sehari-hari.

Nyari Cuan di Internet: Dari Rebahan Jadi Uang Beneran

Siapa bilang cari duit harus pergi pagi pulang malam, kena macet, terus gaji habis buat ongkos dan makan siang? Sekarang, nyari cuan bisa dilakukan sambil ngopi di rumah, rebahan, atau bahkan sambil traveling. Internet bukan lagi cuma tempat cari hiburan, tapi juga ladang penghasilan yang terbuka buat siapa aja—asal mau belajar dan konsisten.

Kamu mungkin udah sering denger soal orang yang bisa beli motor, gadget, bahkan rumah cuma dari hasil ngonten atau jualan online. Awalnya terdengar kayak mimpi, tapi faktanya makin banyak orang yang menjadikan internet sebagai sumber penghasilan utama. Dan kabar baiknya: kamu juga bisa.

Mari kita mulai dari satu fakta sederhana—duit itu memang tidak jatuh dari langit. Tapi kalau kamu tahu tempat dan caranya, internet bisa jadi hujan rezeki.

Dari Hobi Jadi Profesi

Banyak orang mulai nyari cuan online dari hal yang mereka suka. Misalnya, seseorang yang suka ngedit video, awalnya cuma iseng bikin konten TikTok, lama-lama ditawari jasa editin video orang lain. Ada juga yang hobi masak, mulai rutin posting resep di Instagram, lalu diajak endorse produk dapur. Bahkan yang suka nulis, bisa dapat pemasukan dari blog pribadi atau jadi penulis freelance.

Intinya, dunia digital itu menghargai kreativitas dan konsistensi. Gak harus langsung viral atau punya follower ribuan. Yang penting, kamu punya suara, gaya, dan konten yang relevan. Uang akan mengikuti seiring berkembangnya audiens dan kepercayaan.

Jualan Online: Gak Harus Punya Toko

Kalau kamu punya barang untuk dijual—entah itu produk buatan sendiri, barang titipan, atau jadi reseller—kamu udah bisa mulai bisnis online. Gak perlu sewa toko, cukup modal akun marketplace atau media sosial.

Banyak orang mulai dari skala kecil: jualan baju preloved, hampers buatan tangan, atau makanan ringan. Kunci utamanya ada di foto yang menarik, caption yang menggoda, dan pelayanan yang cepat. Apalagi sekarang sudah ada TikTok Shop, yang bikin pengalaman jualan makin interaktif dan seru.

Jangan remehkan jualan online cuma karena “keliatannya receh”. Dari jualan keripik, banyak yang udah bisa beli rumah. Asal serius, konsisten, dan terus belajar, hasilnya bisa luar biasa.

Jadi Freelancer: Skill Adalah Aset

Kalau kamu punya keahlian tertentu—misalnya desain, menulis, menerjemahkan, coding, atau ngajar—freelancing bisa jadi cara paling cepat buat mulai dapet uang dari internet. Situs seperti Fiverr, Upwork, atau Sribulancer jadi tempat bertemunya klien dari seluruh dunia dengan orang-orang kayak kamu.

Enaknya freelance? Kamu bisa kerja dari mana aja, ngatur waktu sendiri, dan dapat bayaran dalam mata uang asing kalau main di pasar global. Tantangannya: kamu harus bisa jualan diri kamu sendiri—dalam arti profesional, ya. Selengkapnya cek di sini.

Meet Burhan Abe

0

Meet Burhan Abe — a sharp-minded storyteller and digital architect with journalism in his DNA and innovation in his stride. From magazine features to startup playbooks, he’s a creative force bridging the worlds of media, business, and technology. Whether crafting a ESQUIRE-style deep dive, launching Sabako Lab for social-first content, or scripting AI-powered investment tips, he moves fluidly between insight and execution.

He’s the kind of thinker who sees beyond the headline — turning national programs, like UMKM or CSR events, into compelling narratives. Equally at home in a mall café scene or boardroom pitch deck, Abe is a voice for the modern professional: informed, entrepreneurial, and endlessly curious.

(ChatGPT Version)

Cekdot: jakartajive.com, padusi.id, sorogan.id, parentsguide.co, qlabbe.com

The Shady Pig Perkenalkan Konsep Bersantap Baru: Mulai dari Koktail, Baru ke Piring

0

Di balik pintu tersembunyi di Bali, lahirlah cara baru menikmati rasa—di mana setiap tegukan membuka jalan bagi setiap gigitan.

Bagi para penikmat malam Bali, nama The Shady Pig bukanlah sekadar bar. Ia adalah sebuah pengalaman. Suatu ruang tersembunyi yang menyambut Anda dengan cahaya temaram, aroma kayu tua, dan gemuruh musik blues dari pojok ruangan. Kini, tempat ini memperkenalkan babak baru yang menggoda indera: sebuah pengalaman bersantap yang diawali dengan koktail, dan dilanjutkan dengan sajian yang menjadi jawabannya.

Koktail sebagai Pembuka Kisah Rasa

Biasanya, kita memilih minuman untuk melengkapi makanan. Di The Shady Pig, narasinya dibalik. Setiap koktail disajikan terlebih dahulu, dan dari sana, makanan dirancang secara khusus sebagai respons yang harmonis. Kolaborasi antara Chef Lius dan Jonathan, sang Head of Beverage, melahirkan kombinasi yang tak hanya menyatu secara rasa, namun juga dalam konsep dan cerita.

Beberapa pasangan rasa menggunakan bahan dasar yang sama, yang lain bermain dengan tekstur atau menyentuh akar budaya yang seirama. Semuanya berpijak pada filosofi flavour-first—menyusun pengalaman bersantap yang terarah, intens, dan mengejutkan.

Sentuhan Eropa dengan Jiwa Bebas

Menu yang ditawarkan memiliki dasar dari dapur Eropa, terutama Italia dan Prancis, namun dengan karakter khas “Shady”: bebas, berani, dan tak pernah membosankan. Formatnya ringan dan bisa dibagi, cocok untuk momen sosial—mulai dari pinchos ala Spanyol, sandwich artisan, hingga piring kecil yang padat rasa.

Baca juga: Wine Not? Ketika Segelas Anggur Menyimpan Cerita

Semua dirancang untuk dinikmati baik sambil duduk nyaman, berdiri santai, atau berbincang hangat di tengah irama musik yang mengalun.

Beberapa Pasangan yang Mencuri Perhatian:

  • Bloody Pristine dengan Wagyu Beef Tartare – Membawa keseimbangan melalui bahan yang saling beririsan, menciptakan kedalaman rasa yang nyaris intuitif.
  • Cap Town Bees Knees dengan Fish Crudo dan Lada Andaliman – Sebuah eksplorasi rasa yang membawa kita pada petualangan kuliner Batak yang segar dan memikat.

Menyalakan Api Inovasi Kuliner dari Bali

Bagaimana YUKI dan Meimei Menjadi Model Baru Restoran Berbasis Budaya dan Komunitas

Di tengah kompetisi tinggi dan konsumerisme yang kian cepat dalam industri kuliner Bali, dua brand lokal mencuat lewat pendekatan yang tidak biasa: mengakar kuat pada budaya, kepemimpinan kolaboratif, dan pengalaman multisensori yang dikurasi dengan presisi. Mereka adalah YUKI, restoran Jepang bergaya izakaya modern, dan Meimei, barbeque Asia Tenggara kontemporer—keduanya lahir dari visi dua entrepreneur lokal, Rai Sutama dan Dewa Wahyu Bintara.

“Kami tidak hanya membangun restoran. Kami membangun ruang sosial, tempat komunitas dan budaya bisa hidup berdampingan dengan bisnis yang sehat dan berkelanjutan,” – Rai Sutama, Founder YUKI & Meimei

Dari Melbourne ke Bali: Transformasi Visi Bisnis

Rai Sutama membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman dari Melbourne—ia membawa pemahaman mendalam tentang hospitality modern dan bagaimana menciptakan “tempat” bukan sekadar “produk.” Setelah sukses memimpin ikon beach-bar Old Man’s di Canggu, ia memulai YUKI di tahun 2021, saat dunia masih dalam ketidakpastian pasca-pandemi.

Baca juga: Wine Not? Ketika Segelas Anggur Menyimpan Cerita

Dengan positioning yang tajam, YUKI menyajikan reinterpretasi izakaya Jepang yang dirancang untuk konsumen global namun berakar pada nilai-nilai lokal. “Kami mengambil konsep makan bersama—yang sangat kental di budaya Jepang dan Bali—dan menjadikannya inti dari pengalaman bersantap,” jelas Rai.

Meimei, yang diluncurkan pada 2024, adalah langkah strategis berikutnya: menghadirkan masakan Asia Tenggara dengan pendekatan modern, desain kontemporer, dan storytelling yang kuat. Kedua brand ini kini menjadi bagian dari kolektif kuliner yang tumbuh organik dan memadukan kreativitas dengan sistem manajemen yang terstruktur.

Rai Sutama dan Dewa Wahyu Bintara

Kepemimpinan Ganda: Kreatif & Operasional

Sukses YUKI dan Meimei tak lepas dari duet kepemimpinan yang saling melengkapi. Jika Rai adalah otak kreatif dan visioner strategis, maka Dewa Wahyu Bintara, Co-Founder & Managing Director, adalah arsitek operasional di balik pengalaman konsumen yang konsisten.

Sendiri, Tapi Tidak Kesepian

0

Cenizaro Hotels & Resorts Perkenalkan “Solo Soulcation” untuk Tahun 2025

Ada masa di mana perjalanan dilakukan untuk mencari pengalaman. Kini, semakin banyak orang melakukannya untuk menemukan keheningan. Bukan dalam arti sepi, tetapi keheningan yang menghadirkan kembali fokus, kejernihan, dan, mungkin, jati diri yang sempat terlupakan.

Dengan semangat itu, Cenizaro Hotels & Resorts meluncurkan program “Solo Soulcation”—sebuah undangan bagi mereka yang ingin bepergian tanpa rombongan, tanpa agenda padat, tanpa kompromi. Hanya Anda, destinasi yang memesona, dan waktu yang berjalan sedikit lebih lambat dari biasanya.

Bacaan Menarik: Membangun Mesin Uang di Era AI 

Pelarian yang Dipilih dengan Sadar

Data terbaru menunjukkan bahwa 76% Milenial dan Gen Z merencanakan perjalanan solo tahun ini. Bukan lagi karena tidak ada teman, tapi karena ingin lebih mengenal diri sendiri. “Solo Soulcation” menjawab kebutuhan itu dengan menawarkan diskon 20% untuk masa inap 4–5 malam, termasuk sarapan dan makan malam, serta sesi pijat relaksasi untuk melepas penat yang menumpuk diam-diam.

Setiap malam ditutup dengan ritual berendam bunga dan teh herbal hangat—rangkaian kecil yang terasa seperti kemewahan pribadi.

Mengenal Diri Lewat Budaya, Alam, dan Sunyi

Di Zanzibar, Anda bisa memulai hari dengan meditasi di taman tropis dan menutupnya dengan berjalan santai di pasar tradisional. Di Tunisia, belajar membuat roti gurun di dapur lumpur yang hangat oleh api.

Di Maldives, yoga saat matahari terbit ditemani debur ombak Samudra Hindia. Di Bintan, sentuhan terapi penyembuhan ala Nusantara membawa Anda pada titik tenang yang langka ditemukan di kota.

Di setiap titik, Solo Soulcation menempatkan Anda sebagai tokoh utama dalam cerita perjalanan yang tak perlu dikejar waktu.

Lebih dari Liburan, Ini Investasi Emosional

Program ini bukan tentang “menyendiri”, tetapi tentang memberi ruang bagi diri untuk bernapas. Di dunia yang terus menuntut perhatian Anda, Solo Soulcation adalah jeda yang disengaja. Sebuah kesempatan untuk menyadari bahwa kenyamanan, keindahan, dan keheningan bisa berpadu menjadi satu bentuk perawatan diri paling elegan.

Cipriani 2.0: Venice Gets a Power Upgrade

0

Hotel Legendaris di Venice Ini Bersiap Hadir Dengan Wajah Baru Berkat Sentuhan Peter Marino

Venice — Ketika hotel menjadi legenda, tak banyak yang berani menyentuhnya. Tapi Hotel Cipriani bukan hotel biasa. Dan Peter Marino bukan arsitek sembarangan.

Di bawah bendera Belmond, hotel ikonis yang berdiri di tepi laguna Venesia ini akan membuka lembaran baru. Renovasi besar-besaran—yang dimulai 27 Mei 2025—dipercayakan pada maestro desain dunia Peter Marino, pria di balik interior butik Chanel, Louis Vuitton, dan sederet properti supermewah lainnya.

“Sejak berdiri, Cipriani adalah panggung Dolce Vita. Kini saatnya menghidupkan kembali atmosfer itu, dengan rasa yang lebih tajam, lebih modern,” ungkap Marino.

Let’s Get Real: Lokasi, Privasi, Gaya Hidup

Terletak di ujung tenang Pulau Giudecca, Hotel Cipriani punya apa yang tak dimiliki hotel lain: privasi, sejarah, dan pemandangan 270 derajat ke arah San Marco dan laguna Venesia. Di balik taman rindang dan kolam air asin legendaris, hotel ini adalah pelarian untuk para jetsetter dunia—dari George Clooney hingga Madonna, dari Yves Saint Laurent sampai Sophia Loren.

Baca juga: Wine Not? Ketika Segelas Anggur Menyimpan Cerita

Cipriani bukan tempat selfie. Ini tempat menyerap energi kota, sambil menyeruput Bellini di Bar Gabbiano, makan siang di Cip’s Club, atau menikmati oyster segar di Il Porticciolo. Dan ya, kolam renangnya yang terkenal itu tetap yang terbesar di kota.

Desain Baru, Rasa yang Sam

Renovasi besar ini akan dibuka dalam beberapa tahap. Untuk tahap pertama, Marino memilih mempertahankan lobby lama yang cozy dan penuh nostalgia. Tapi bersiaplah untuk pengalaman baru: area kedatangan dua lantai yang terang benderang dan desain 13 kamar eksklusif.

Di antaranya, dua master suite—Serenissima dan Laguna—yang dirancang bak apartemen Venesia pribadi: lengkap dengan ruang makan, perpustakaan, dan salon pribadi. Sisanya? 11 suite dan junior suite dengan balkon pribadi menghadap Taman Casanova.

Eat, Drink, and Rock Out at Mondrian Hong Kong

0
Perpaduan kuliner kelas atas, koktail mantap, dan musik live dalam satu paket gaya yang sulit dit

Hong Kong punya banyak hotel mewah, tapi Mondrian Hong Kong bukan sekadar tempat menginap—ini tempat lo hidup maksimal. Sepanjang Mei, hotel ini menyajikan brunch yang gak main-main, koktail penuh karakter, steak Italia, sampai musik jalanan yang bikin lo betah nongkrong lebih lama.

Avoca: Koktail di Atas Awan

Berlokasi di lantai 38 dengan pemandangan kota yang bikin speechless, Avoca bukan bar rooftop biasa. Ini arena bagi para penikmat minuman sejati dan foodies yang suka eksplorasi rasa. Lewat program “Guest Shift”, bartender top dari Asia—seperti Tokyo Confidential dan Bar Wakabayashi—datang membawakan racikan spesial dengan sentuhan lokal.

Baca juga: Wine Not? Ketika Segelas Anggur Menyimpan Cerita

Akhir pekan lo? Udah aman. High Spirits Brunch hadir tiap Sabtu, Minggu, dan hari libur dengan sajian mini tak terbatas, hidangan utama lezat, musik dari DJ, dan paket minuman mulai dari HK$200. Datang lapar, pulang puas (dan mungkin sedikit teler).

Ta’aktana Labuan Bajo Rayakan Global Wellness Day 2025

0

Rehat Sejenak, Reconnect, dan Gas Pol Nyalain Energi Baru

Kalau selama ini lo mikir “wellness” itu cuma buat cewek-cewek yoga atau meditasi di Bali, lo bakal berubah pikiran setelah mampir ke TA’AKTANA, a Luxury Collection Resort & Spa, Labuan Bajo. Sabtu, 14 Juni 2025, resor kece ini ngerayain Global Wellness Day dengan cara yang nggak biasa—full day experience buat ngasah tubuh, nyegerin otak, dan ngisi ulang semangat lo.

Tema tahun ini? #ReconnectMagenta—warna magenta diartiin sebagai simbol empati, keseimbangan emosi, dan kebangkitan diri. Tapi jangan khawatir, ini bukan acara mellow. Ini soal bagaimana lo bisa reconnect sambil tetap nikmatin sisi maskulin dan petualangan lo di alam liar Labuan Bajo.

Bacaan Menarik: Membangun Mesin Uang di Era AI 

Mulai jam 5 pagi, lo udah diajak jalan bareng tim recreation TA’AKTANA buat trekking ke Sylvia Hill. Jalurnya nggak terlalu berat, tapi cukup bikin badan panas dan mata melek total. Di atas bukit, lo disuguhi panorama laut yang bikin lo mikir, “Ini sih worth it banget buat bangun pagi.”

default

Yoga & Meditasi: Tenang, Nggak Cuma Buat Cewek

Habis trekking, lanjut sesi sunrise yoga & meditasi jam 6 pagi di Salang Hill Garden. Jangan salah, yoga itu bukan cuma lentur-lenturan. Dengan latar hutan hijau dan view laut yang terbentang luas, lo diajak buat ngatur napas, ngerileksin pikiran, dan ngasih waktu buat reset diri lo sendiri. Peace of mind, bro.

Jam 9 pagi, pindah ke kolam renang ukuran olimpiade. Di sini, lo bisa belajar teknik freediving dan renang bareng Susan Gosal, freediver profesional yang bakal ngajarin lo cara gerak efisien di air. Lo juga bakal dikasih tips soal kontrol napas dan rileksasi saat di dalam air. Siapa tahu lo pengin lanjut jadi penyelam beneran?

Jam 10 pagi, lo diajak ngobrol sama marine biologist TA’AKTANA. Nggak bosenin, karena lo bakal dapet insight soal ekosistem bawah laut Labuan Bajo, plus gimana pentingnya jaga kelestarian laut. Habis itu, langsung terjun snorkeling ke Clownfish Garden buat lihat langsung dunia bawah laut yang penuh warna dan (tentu saja) Nemo!