Home Blog Page 22

Il Ristorante – Niko Romito: Italia Bertemu Uluwatu

0

Ada restoran. Ada pengalaman. Dan ada Il Ristorante – Niko Romito, yang berdiri anggun di tepi tebing Uluwatu dalam kompleks Bvlgari Resort Bali. Ini bukan sekadar pembukaan restoran baru—ini adalah perayaan rasa, warisan, dan kemewahan yang diracik dengan presisi khas Italia.

Setelah sukses besar di Milan, Dubai, Tokyo, dan kota-kota lain yang mengerti arti fine dining, Niko Romito membawa visinya ke Bali. Tanggal 19 Mei 2025 jadi tonggak hadirnya kuliner Italia kontemporer yang dipadukan dengan keindahan alam dan kehangatan rasa khas Bali.

Makan Malam yang Tak Sekadar Makan Malam

Hanya tersedia saat malam. Hanya 24 kursi. Dikelilingi kolam refleksi dan pencahayaan lembut yang menghanyutkan. Lokasinya? Di puncak tebing batu kapur, menghadap langsung ke lautan lepas. Di sini, setiap malam terasa seperti pertunjukan—dengan cita rasa sebagai aktor utama dan pemandangan samudra sebagai panggungnya.

Bacaan Menarik: Membangun Mesin Uang di Era AI 

Romito tak datang membawa menu klise. Ia datang membawa filosofi rasa: bersih, autentik, dan berani. Mengangkat bahan lokal seperti vanila Kintamani, tomat Plaga, dan berbagai rempah yang tumbuh di kebun resort sendiri. Ini adalah Italia—tapi dengan aksen tropis Bali yang subtil namun memikat.

Tiga Pilihan, Tiga Karakter

Tasting Menu “I Classici” – 4 Hidangan

Untuk pencinta klasik: sebuah komposisi yang membawa Anda melintasi daerah-daerah kuliner Italia. Dimulai dengan L’Antipasto all’italiana, berlanjut ke Tortelli ricotta Bali dan ikan trout karang dengan udang serta tomat, lalu ditutup dengan Bread and Chocolate—cokelat Bali yang dikemas dalam kehangatan kenangan masa kecil ala Italia.

Tasting Menu “La Degustazione” – 7 Hidangan

Bagi yang siap menyelami sisi eksperimental Niko Romito. Dari kerang dengan krim udang, cod rebus dalam susu ikan kod, hingga Wagyu bersaus lada hitam lokal yang dalam dan berkarakter. Penutupnya? Sorbet buah beri liar, mousse serai, dan meringue renyah—kesegaran yang menyegarkan, bukan hanya palate, tapi juga pikiran.

Overthinking: Ketika Pikiran Tak Mau Diam

0
Oleh Eileen Rachman & Emilia Jakob

Pernah merasa otak seperti macet? Tubuh ingin istirahat, tapi pikiran terus memutar ulang kejadian masa lalu yang kita sesali. Atau sebaliknya, terlalu sibuk membayangkan segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi esok. Hasilnya sama: lelah, gelisah, dan tetap tidak bergerak ke mana-mana.

Selamat datang di dunia overthinking—kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan hingga tak tahu lagi mana yang realita, mana yang asumsi. Di era kerja modern yang penuh tekanan, informasi berlimpah, dan ekspektasi tinggi, overthinking bukan fenomena langka. Justru jadi gaya hidup yang diam-diam melemahkan performa.

Bacaan Menarik: Membangun Mesin Uang di Era AI 

Terlalu banyak mikir bikin kita ragu, lambat, dan akhirnya kehilangan peluang.

1. Rumination: Mengunyah Masa Lalu

Kita tahu kita sedang ruminasi saat terus mengulang adegan-adegan gagal dalam hidup. “Kenapa tadi saya nggak ngomong begini?”, “Harusnya saya lebih siap.”—dan seterusnya.

Masalahnya: kita bukan mesin waktu. Mengutuki masa lalu tak akan mengubah hasilnya. Tapi mengubah narasinya bisa. Ganti “Saya gagal” jadi “Saya belajar.” Ambil jarak. Ceritakan pada orang lain. Dapatkan perspektif baru.

2. Future-Tripping: Terjebak Masa Depan yang Belum Terjadi

Overthinking jenis ini bikin kita hidup di “nanti”—tempat di mana segala hal bisa salah. Kita sudah buat Plan A, B, sampai Z, tapi tetap merasa belum siap. Selalu ada kemungkinan buruk baru yang belum dipikirkan.

Solusinya? Kurangi asupan informasi. Kita tak harus tahu semua hal buruk yang bisa terjadi. Fokus pada apa yang bisa dikontrol. Hidup bukan soal mengantisipasi semua risiko, tapi soal bergerak meski risiko tetap ada.

3. Overanalyzing: Tenggelam dalam Kedalaman Tak Perlu

Ini yang sering terjadi di ruang meeting: terlalu banyak data, terlalu banyak pertimbangan, keputusan jadi tertunda. Menunggu “momen sempurna” yang tak pernah datang.

Cukup. Ambil keputusan yang “cukup baik”. Tentukan 3 kriteria penting, lalu jalan. Keputusan sempurna itu mitos. Bahkan keputusan terbaik pun tetap punya risiko.

Kuncinya: Fokus Pada Saat Ini

Mengelola overthinking bukan berarti berhenti berpikir. Tapi belajar mengatur arah pikiran. Karena menyesali masa lalu tidak menyembuhkannya. Mengkhawatirkan masa depan tidak menjaminnya.

Detox dengan Djokovic

0
Program Kebugaran Eksklusif di Aman Resorts

Novak Djokovic bukan hanya legenda tenis dunia dengan 24 gelar Grand Slam. Ia adalah simbol kedisiplinan, konsistensi, dan kontrol diri tingkat tinggi. Di tahun 2024, ia membawa filosofi hidup sehatnya ke level baru dengan bergabung sebagai Global Wellness Advisor pertama Aman, jaringan resort mewah paling eksklusif di dunia.

Lewat kolaborasi multi-tahun ini, Djokovic mempersembahkan Longevity Pathways — serangkaian program kebugaran berstandar atlet elit yang dirancang khusus untuk tamu Aman. Seri pertamanya, Detoxification Programme, kini tersedia sepanjang tahun di tujuh properti Aman pilihan.

Bacaan Menarik: Membangun Mesin Uang di Era AI 

“Saya bangga bisa menjadi bagian dari Aman. Visi dan misi kami sangat sejalan. Kami berbicara dalam bahasa yang sama,” kata Djokovic.

BEBASKAN TUBUH, TENANGKAN PIKIRAN

Program Detox ini bukan sekadar spa atau liburan. Selama tiga hari, kamu akan dibimbing dalam ritual pemulihan yang dirancang langsung oleh Djokovic berdasarkan pengalamannya bertahun-tahun menjaga performa puncak.

  • Hari Pertama: Signature Aman Treatment (90–150 menit) untuk membuka aliran energi dan relaksasi.
  • Hari Kedua: Terapi khas lokasi — bisa berupa yoga saat matahari terbit di Amangiri, Utah, atau Pinda Sweda di Amanbagh, India, teknik Ayurveda menggunakan bola herbal hangat.
  • Hari Ketiga: Aktivitas keseimbangan body-mind-spirit (60 menit), membekali kamu dengan tools untuk menjaga hasil detoks jangka panjang.

Setiap destinasi menyuguhkan pengalaman yang berbeda, namun dengan benang merah yang sama: transformasi total tubuh dan pikiran.

Apa Saja Tools Wellness Favorit Djokovic?

0

Dikenal sebagai salah satu atlet paling disciplined di dunia, Novak Djokovic punya ritual kesehatan yang konsisten — dan nyaris suci. Berikut beberapa tools andalan yang jadi bagian dari kesehariannya:

1. Alat Detoks Usus (Colon Cleanse Kit)
📍 Digunakan rutin saat jeda turnamen.
Membantu pencernaan optimal, meningkatkan energi, dan menjaga daya tahan tubuh.

2. Red Light Therapy Panel
🔥 Pemulihan otot dan kualitas tidur.
Cahaya LED khusus yang merangsang regenerasi sel dan mengurangi inflamasi.

3. Alat Pemantau HRV (Heart Rate Variability)
🫀 Bukan sekadar detak jantung.
HRV memberi data soal stres tubuh & kesiapan fisik secara real-time.

4. Travel Water Filter Bottle
💧 Hydration is sacred.
Djokovic hanya minum air yang sudah melalui filtrasi molekuler. Yes, he’s that precise.

5. Yoga Mat + Travel Roller Set
🧘‍♂️ Pagi hari? Gerakan peregangan, meditasi, dan pernapasan adalah wajib.
Matras portabel dan foam roller jadi bawaan wajib ke mana pun ia pergi.

“Kesehatan itu bukan tren. Itu gaya hidup. Dan saya menjaga detail kecil setiap hari.”
Novak Djokovic

Apa Itu Pinda Sweda?

0

Pinda Sweda adalah teknik terapi panas khas Ayurveda — warisan pengobatan kuno India — yang menggunakan bolus herbal hangat (kantong kain kecil berisi ramuan alami).

Cara Kerja:

Bolus ini dipanaskan dan kemudian ditekan atau dipijatkan ke tubuh dalam gerakan ritmis, terutama di area otot dan sendi.

Fungsinya?

  • Melancarkan sirkulasi darah
  • Mengurangi stres dan ketegangan otot
  • Detoksifikasi lewat pori-pori
  • Meningkatkan metabolisme alami tubuh

Bahan Umumnya:

🌿 Jahe, kunyit, daun neem, garam laut, minyak herbal — disesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan iklim lokal.

Fun Fact: Teknik ini digunakan oleh petarung India kuno sebelum dan sesudah bertarung untuk menjaga ketahanan tubuh mereka tetap prima.

Ketika Hidup Tak Lagi Pasti, Secangkir Kopi Bisa Jadi Awal yang Baru

Otten Coffee membuka 1.000 kelas barista gratis untuk korban PHK — sebuah langkah kecil dengan dampak yang tak kecil.

Ada banyak hal yang bisa meruntuhkan rasa aman dalam hidup, tapi sedikit yang sebrutal kehilangan pekerjaan. Beberapa bulan terakhir, Indonesia memasuki babak baru dalam dinamika ketenagakerjaan: gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) datang silih berganti, dari industri padat karya hingga sektor digital. Perang dagang global, tekanan ekonomi makro, hingga efisiensi korporasi — semuanya bermuara pada satu kenyataan: ribuan orang mendadak tanpa penghasilan.

Dan seperti biasa, ketika statistik naik, manusia turun. Mereka yang terkena PHK harus menghadapi lebih dari sekadar kehilangan gaji bulanan. Mereka kehilangan identitas, ritme harian, dan kepercayaan diri. Mereka berhadapan dengan kebutuhan dapur, biaya sekolah anak, cicilan yang menunggu tanggal jatuh tempo. Tidak semua orang bisa langsung bangkit — tetapi setiap orang pantas mendapat kesempatan kedua.

Di titik ini, masuklah Otten Coffee. Tidak dengan jargon muluk atau janji bombastis, melainkan dengan tawaran konkret: 1.000 kelas barista gratis, diperuntukkan bagi siapa pun yang terdampak PHK dan ingin membangun ulang hidupnya, dari secangkir kopi.

Bacaan Menarik: Membangun Mesin Uang di Era AI 

Bukan Sekadar Kursus, Tapi Investasi Ulang pada Martabat

Pelatihan barista dari Otten Coffee bukanlah pelarian sesaat. Ini adalah platform pembelajaran praktis, langsung dari para juri kopi nasional, dirancang untuk memberi keterampilan yang relevan dan bisa langsung digunakan. Kurikulum yang diberikan bukan hanya soal meracik espresso atau menuangkan latte art.

Lebih dari itu, ini tentang memahami kualitas, konsistensi, etika kerja, dan mentalitas hospitality — fondasi dari setiap barista andal dan wirausaha kopi sejati.

Para peserta tidak hanya disiapkan untuk menjadi tenaga kerja di coffee shop, tapi juga diberikan dasar-dasar untuk membangun bisnis kopi mereka sendiri. Otten menyebutnya sebagai semangat #MengopikanIndonesia — menjadikan kopi bukan sekadar minuman, tapi jalan hidup baru.

Kopi Sebagai Ekosistem, Bukan Sekadar Tren

Masyarakat urban Indonesia telah menjadikan kopi sebagai bagian dari gaya hidup. Tetapi di balik gelas yang tersaji rapi di meja-meja kayu kafe, ada ekonomi yang tumbuh: dari petani kopi di Gayo, Toraja, atau Kintamani, hingga barista dan pemilik coffee shop di kota besar.

Indonesia adalah produsen kopi terbesar ketiga di dunia, dengan produksi mendekati 800 ribu ton per tahun. Di hilir, pangsa pasarnya terus berkembang: menurut riset Snapcart 2023, 79% masyarakat Indonesia minum kopi setidaknya sekali sehari, dengan 16% Gen Z, 19% Milenial, dan 27% Gen X mengonsumsi 2–3 cangkir per hari.

Colin Dodgson dan Kecanduan Akan Ketidaksempurnaan

0

Di dunia fotografi mode yang penuh kilau, Colin Dodgson adalah pembangkang yang datang dengan kamera analog dan kantong berisi ketidakteraturan.

Ia bukan fotografer yang memoles. Ia pengintai. Penguntit cahaya natural yang tak bisa diprediksi dan momen yang nyaris luput. Dan dari semua itu, ia menyusun dunia yang ganjil, intim, dan nyaris surealis.

Lahir dan besar di California, Colin Dodgson tumbuh di tengah lanskap absurd: langit yang terlalu biru, jalan raya yang terlalu lebar, dan impian yang terlalu Amerika. Tapi dari semua itu, ia memilih realitas yang lebih pelik—yang kasar, tidak simetris, dan lebih jujur.

Bacaan Menarik: Membangun Mesin Uang di Era AI 

MELAWAN DIGITALISME

Saat dunia tergila-gila pada megapiksel, Dodgson kembali ke kamar gelap. Ia menolak sensor, memilih butiran film. Hasilnya? Foto-foto yang tampak seperti lukisan mimpi: kabur sedikit, gelap sedikit, dan justru karena itu terasa lebih hidup.

Fotonya telah menghiasi Vogue, i-D, WSJ Magazine, The New York Times Style Magazine, hingga AnOther. Tapi jangan kira ia menjilat industri. Ia tetap jadi dirinya sendiri: sinis, spontan, dan tidak tertarik pada estetika yang terlalu halus.

GUCCI, KENTANG, DAN PATAGONIA

Ia pernah memotret untuk Gucci. Pernah juga mengangkat kentang sebagai objek utama. Dodgson memang tidak punya filter visual yang konvensional. Segalanya bisa jadi sakral dalam frame-nya—termasuk sampah plastik dan wajah-wajah lelah di kereta tidur menuju pegunungan Andes.

Dalam pameran Safety, Service and Security (2018), ia bicara tentang ketakutan dan absurditas hidup modern lewat foto-foto lingkungan rumahnya sendiri. Di Ciento por Ciento (2022), ia pindah ke Patagonia, membidik sisi manusiawi dari upaya konservasi alam.

Hasilnya bukan kampanye. Bukan propaganda. Hanya keheningan yang penuh makna.

PRU x Penfolds: Malam Mewah Bareng Tiga Dekade Anggur Legendaris

0

Luangkan satu malam buat hal yang enggak biasa: makan malam bareng Grange, sang legenda dunia wine.

Kalau kamu termasuk tipe pria yang percaya bahwa hidup perlu dinikmati dengan rasa (dan rasa itu bukan dari mi instan tengah malam), maka kamu wajib tahu acara yang satu ini.

PRU, restoran bintang Michelin pertama dan satu-satunya di Phuket, ngajak kamu buat bergabung dalam perhelatan yang enggak main-main: “3 Decades of Grange Wine Dinner.” Satu malam, enam hidangan racikan chef jenius, dan pairing wine dari tiga dekade Penfolds Grange — anggur ikonik asal Australia yang udah jadi dewa-nya Shiraz sejak 1950-an.

Catat tanggalnya: 20 Mei 2025. Lokasinya? PRU, yang ada di samping Trisara Resort — tempat orang-orang datang bukan cuma buat liburan, tapi buat nyicipin hidup yang seutuhnya.

Bacaan Menarik: Membangun Mesin Uang di Era AI 

Di balik dapur, ada Chef Jimmy Ophorst. Namanya mungkin belum sefamiliar Gordon Ramsay, tapi soal skill dan passion, enggak kalah panas. Chef Jimmy dikenal dengan filosofi “community-to-fork” alias semua bahan berasal dari kebun sendiri (Pru Jampa) dan tangan-tangan lokal yang dia percaya. Hasilnya? Makanan bintang lima yang tetap punya jiwa.

“Ini momen langka buat PRU. Kami keluar dari zona nyaman, menyajikan menu yang dirancang khusus untuk bersanding dengan Grange dari tiga dekade berbeda,” kata Chef Jimmy. Respect.

Colin Dodgson: Melihat yang Tak Terlihat

0

Di balik lensa analognya, Colin Dodgson menangkap dunia bukan sebagaimana adanya, tapi sebagaimana seharusnya dilihat—penuh keanehan, kejujuran, dan sesekali, absurditas yang membebaskan.

Lahir di California, Dodgson tumbuh di tengah cahaya matahari yang berlimpah dan lanskap yang terlalu sempurna untuk jadi nyata. Tapi sejak awal, ia tahu: dunia bukan soal kesempurnaan. Dunia adalah tentang celah—tentang bayangan yang kebetulan jatuh di sudut ruangan, atau ekspresi tak sengaja yang muncul dalam sepersekian detik.

Bacaan Menarik: Membangun Mesin Uang di Era AI 

Itu sebabnya ia memilih jalan yang jarang dilalui: kamera film, pencahayaan alami, proses cetak manual. Dalam era megapiksel dan filter digital, Dodgson justru kembali ke hal-hal yang lambat dan tak pasti. Ia mencari “kesalahan”—dan menjadikannya puisi visual.

Karyanya muncul di halaman-halaman majalah mode papan atas: Vogue, WSJ Magazine, i-D, The New York Times Style Magazine, AnOther. Tapi di balik kemilau itu, ada sesuatu yang lebih liar, lebih bebas. Ia memotret dengan rasa ingin tahu seperti anak kecil, tapi dengan presisi seorang pelukis Renaisans. Setiap fotonya seperti mimpi yang pernah kita alami, tapi tak pernah bisa kita jelaskan.

Dalam pameran tunggal Safety, Service and Security (2018), Dodgson menyodorkan potret sunyi dari lingkungan sekitar tempat tinggalnya—penuh kegelisahan, tapi juga penuh jeda untuk bernapas. Di Ciento por Ciento (2022), ia menjelajah Patagonia untuk mendokumentasikan upaya konservasi alam, tanpa dramatisasi, tanpa klaim kepahlawanan. Hanya pengamatan jujur terhadap dunia yang perlahan berubah.

Colin Dodgson tidak berusaha menyenangkan siapa pun. Ia hanya berusaha jujur pada cara pandangnya. Dan dalam kejujuran itulah, kita menemukan sesuatu yang langka hari ini: ketulusan dalam melihat. (*)

Ekonomi Indonesia 2025: Krisis Double Trouble yang Bikin Was-Was

0
Oleh Burhan Abe

Pertumbuhan ekonomi kita di awal 2025 ini mirip orang sakit yang susah bangun tidur – baru merangkak di angka 4,8-4,9%, terendah sejak pandemi. Padahal biasanya Ramadan dan Lebaran jadi penyelamat, sekarang malah bikin khawatir. Rupanya, kita sedang dihantam badai dari dua arah sekaligus.

Demikian laporan Brief Report, Quarterly Economic Review 2025 “Pukulan Ganda untuk Ekonomi RI”, yang dikeluarkan CORE Indonesia.

Dari luar negeri, Donald Trump kembali jadi Presiden AS dan langsung bikin ulah. Tarif impor seenaknya naik-turun kayak rollercoaster, bikin pasar global gemetar. Ekspor kita ke China – yang biasanya jadi andalan – langsung terjun 3%. Harga batu bara dan nikel ikut-ikutan anjlok, padahal ini sumber devisa penting kita.

Di dalam negeri, ceritanya lebih miris lagi. Mall-mall sepi saat Ramadan, padahal biasanya rame. Toko-toko ritel kelimpungan karena penjualan makanan dan minuman cuma naik 1,3%, jauh dari tahun sebelumnya. Yang lebih ngeri, transaksi kartu debit malah minus! Bahkan tradisi mudik Lebaran pun ikut merosot – jumlah pemudik turun 24%, tanda jelas dompet masyarakat makin tipis.

Pemerintah sendiri sedang sibuk mengencangkan ikat pinggang. Belanja modal dipangkas sampai 96%, bikin proyek infrastruktur terbengkalai. Tapi anehnya, subsidi listrik malah membengkak Rp 2 triliun. Defisit APBN pun melebar ke Rp 104 triliun – angka yang bikin dahi berkerut.

Kalau begini terus, pertumbuhan di bawah 4,6% bukan mimpi lagi. PHK yang sudah mulai terjadi di berbagai sektor bisa makin menjadi-jadi. Bahkan kata “resesi” yang menakutkan itu mulai terdengar bisik-bisiknya.

Tapi bukan berarti kita tak bisa berbuat apa-apa. Pertama, selamatkan daya beli masyarakat dengan bantuan tepat sasaran. Kedua, berikan stimulus untuk industri yang tertekan. Ketiga, alokasikan anggaran dengan lebih cerdas – jangan asal potong, tapi fokus pada yang benar-benar mendorong pertumbuhan.

2025 baru mulai, tapi tantangannya sudah nyata. Pilihannya sekarang: bertindak cepat atau menunggu badai ekonomi yang lebih besar datang menghantam. Kita semua harus waspada dan bersiap!

Sumber data: Analisis CORE Indonesia. Buat yang pengin laporan lengkap, bisa cek di [website resmi CORE]. Atau hubungi +62 811-820-2120.

PS: Ngeri banget kan? Yuk kita pantau terus perkembangan ekonomi biar nggak kecolongan!