Home Blog Page 66

Food Blogger

0

SUATU ketika Sheraton Bali Kuta Resort memperkenalkan program, salah satunya Sunset Gatherings, yang memberikan pengalaman unik kepada tamunya untuk berkuliner ria sambil menikmati sunset di pantai Kuta yang dramatik. Yang  menarik, hotel yang tergabung dalam kelompok Starwood itu tidak hanya mengundang media, tapi juga food blogger dari Indonesia dan manca negara.  

Yang ingin dikatakan di sini, blogger, dalam hal ini yang menulis kuliner, mulai penting, bahkan sejajar dengan media. Nara sumber sudah mulai memperhitungkan kehadiran mereka, dalam membantu publikasi.  

Danti Yuliandari, Public Relations Manager Courtyard by Marriott Bali Nusa Dua, menyebut sudah menjadi agenda Marketing Initiative Marriott International pada 2015 mengundang blogger (travel ataupun food). “Kalau dipersentasekan, besarnya mencapai 70 persen,” ujar Danti. Ia mengungkapkan, Marriott sekarang lebih berfokus pada generasi millennial dan dunia digital. “Millennial generation lebih percaya rekomendasi atau review dari blogger, instead of advertisement atau traditional promotion lain,” ucapnya.  

Dalam acara The Tonight Show Starring Jimmy Fallon, stand-up comedian dari Amerika Serikat, Sebastian Maniscalco, melempar bit sarkastis tentang food blogging. “Who’s got the time to write an 18 page essay on asparagus they had last night,” ujarnya.  

Yup, food blogging memang merupakan kegiatan yang sedang digemari sehingga tidak mengejutkan jika Maniscalco membuat bit tersebut. Banyak pencinta makanan yang akhirnya mencoba menulis pengalaman mereka. Bukan hanya itu, mereka pun memotret makanan yang akan atau sedang dinikmati, sehingga tulisan yang diunggah menjadi lebih hidup.  

Latar belakang peminat food blogging ini bermacam-macam, mulai pelajar hingga pekerja kantoran. Mereka yang melakukan hal itu dikenal sebagai food blogger.  

Tapi kenapa para penulis ini memilih makanan sebagai topik utama? Bagi Soya Yanagawa, food blogging merupakan kegiatan pelepas penat dari rutinitas sebagai pegawai kantoran. “Work hard, play hard adalah ide cemerlang untuk menyeimbangkan kehidupan bekerja saya. Supaya tidak merasa tertekan dalam pekerjaan, ada baiknya kita melakukan hal-hal yang kita gemari. Makan dan bercerita adalah dua hal yang paling saya gemari, jadi kenapa tidak menggabungkan keduanya,” kata Soya, yang menumpahkan kecintaannya akan dunia kuliner di soyavsfood.com.  

Pria keturunan Jepang ini menjelaskan, ada sejumlah hal yang menjadikan makanan menarik ditulis, di antaranya, cerita di balik makanan, cerita sewaktu memakan makanan, detail tentang bahan makanan, serta pendapat, penilaian, atau masukan mengenai makanan tersebut.  

Adapun menurut Yenny Michael, pemilik https://yennyw.wordpress.com/, adanya tantangan dalam tulisan akan membuat orang tertarik mencoba makanan tersebut. Itulah yang membuat food blogging menjadi kegiatan yang menyenangkan dilakukan.  

 Search Engine Optimization

Teknologi digital yang semakin berkembang ternyata mendorong tumbuhnya food blogger. Soya Yanagawa mengungkapkan, sejak dulu cara paling tepat mempromosikan makanan atau restoran adalah dari mulut ke mulut. Nah, menurut dia, saat ini kegiatan itu sudah didukung era digital, yang memungkinkan informasi bergerak dengan cepat. “Untunglah, kita bisa menikmati masa, ketika sarana dan media yang ada hadir dengan lebih banyak variasi serta cakupan yang luas,” katanya.  

Tak dimungkiri blog merupakan media yang efektif untuk berpromosi, yang ditambah hadirnya media sosial yang akan membantu meningkatkan lalu lintas kunjungan ke blog. 

“Biasanya, jika blogger selesai menulis review, otomatis kita akan memasangnya di media sosial juga. Jangan kaget bila melihat jumlah pengikut beberapa penulis blog makanan sudah melebihi selebriti,” Soya menjelaskan.  

Alhasil, food blogger di Indonesia tidak kalah dibanding yang berasal dari luar negeri. Hal ini diukur dari impression dan engagement yang dihasilkan oleh blog content ataupun media sosial milik bloggeritu.  

Karena itu, food blogging bisa dibilang cukup efektif dan efisien untuk mempromosikan produk. Pada era digital ini, food blogging sangat membantu optimalisasi di media pencari seperti Google. Semakin banyak yang menulis review sebuah produk, semakin bergaung juga produk yang ditawarkan. Walhasil, orang akan mudah mencari informasinya di mesin pencari.  

Hal itu lebih dikenal dengan search engine optimization. Mengingat kini kehidupan manusia sudah memasuki era digital, kegiatan food blogging bisa jadi akan berlangsung lama.

Sumber: MALE Zone – Witanto Prasetyo, MALE 129

Teknologi Masa Depan

0

Impian manusia tentang masa depan yang maju dan canggih memang menakjubkan. Mimpi tentang kecanggihan teknologi pada masa mendatang selama ini hanya bisa dilihat dalam film fiksi ilmiah. Bermula dari mimpi seperti itulah kemudian keajaiban itu terwujud dalam kehidupan nyata. Bayangkan apa jadinya jika nanti kehidupan manusia banyak berinteraksi dengan robot. Seperti diperlihatkan dalam film I, Robot dan artificial intelligence, kehidupan sehari-hari manusia banyak bergantung pada robot canggih.   

Kapan hal itu dapat terwujud? Bisa jadi tidak dalam waktu dekat. Sebab, beberapa robot seperti itu masih berbentuk ekshibisi. Robot-robot itu masih perlu dikembangkan menjadi lebih baik, tapi tak berarti tidak mungkin.   

Ketergantungan manusia terhadap mesin sudah mulai terlihat. Nantinya bisa saja terjadi, jika telah siap dalam hal teknologi, robot dapat membantu dan menemani manusia. Dilansir dari Dailymail.co.uk, Steve Wozniak, tokoh penting di belakang berdirinya Apple, menyatakan kehidupan dan kegiatan manusia kelak bisa dilakukan oleh robot. Teknologi yang ada saat ini memungkinkan dominasi robot terjadi pada masa mendatang.   

Dukungan kecerdasan buatan yang semakin baik saat ini memungkinkan robot dapat melakukan berbagai kegiatan tanpa bantuan operasionalisasi manusia. Walau tidak sesempurna robot C-3PO dalam film Star Wars, kehadiran robot yang masih dalam tahap uji coba memperlihatkan potensi besar dalam kinerjanya. Demikian pula dalam hal jasa dan layanan, yang sudah banyak diperlihatkan oleh industri pembuat robot.   

Dalam kenyataannya, kehadiran robot di sektor industri, seperti otomotif, telah dirasakan. Jadi tinggal menunggu waktu interaksi manusia dan robot terwujud. Contohnya, Robobear, robot buatan Jepang yang ditampilkan dalam wujud beruang. Robot itu dapat membantu mengangkat manusia dari kursi roda ke tempat tidur.   

Bahkan, untuk pelayanan dan interaksi lain, juga sudah diperlihatkan robot yang bisa mengisi posisi atau profesi tertentu, seperti resepsionis dan pelayan restoran. Perusahaan besar, seperti Amazon dan Facebook, pun sudah menjajal pemanfaatan teknologi tersebut untuk meningkatkan layanan mereka.   

Amazon mencobanya untuk layanan pengiriman barang. Adapun Facebook, seperti dilansir dari Telegraph.co.uk, melakukan kerja sama dalam penggunaan teknologi drone dengan Titan Aerospace. Kerja sama dilakukan untuk menjangkau wilayah yang belum dijamah Internet.   

Walau saat ini kehadirannya masih terbatas, Wozniak menganggap fungsi robot dan komputer menggantikan manusia dapat menjadi kenyataan. Tentunya patut diperhitungkan sisi negatifnya, apakah pemanfaatan teknologi itu tidak membahayakan eksistensi manusia. Jika aplikasinya salah, bisa terjadi ketergantungan melebihi kebutuhan manusia itu sendiri.   

Paling tidak, yang harus diperhitungkan lapangan pekerjaan bagi manusia yang akan hilang karena digantikan robot dengan kecerdasan buatan. Hal ini dipertegas oleh Stephen Hawking, ahli fisika, yang menyatakan robot dengan kecerdasan buatan itu memang akan membantu manusia. Namun, di sisi lain, hal tersebut dapat mengantar manusia ke arah masa depan yang kelam. Awesome, yet scary, right? 

Sumber: MALE 128, Insertion

Vodka

0

Kalau Anda termasuk clubber, tentu tidak asing degan Vodka. Minuman beralkhol sangat populer, baik diminum sendiri atau pun sebagai campuran cocktail.   

Tidak ada sejarah yang pasti mengenai asal-usul vodka. Kebanyakan sumber menyebut asalnya dari Polandia dan Rusia. “History of Vodka”, yang dimuat di laman Vodkafacts.net, mengungkapkan bahwa pada abad ke-8 hingga ke-9 para ilmuwan Persia mulai berinovasi dengan mengembangkan teknik baru yang telah dipelajari dari orang Mesir. Untuk pertama kali mereka dapat menghasilkan proses distilasi yang stabil dalam sebuah wadah logam. Namun, hingga beberapa abad kemudian, ilmuwan Persia menggunakan teknik distilasi tersebut tidak untuk membuat minuman beralkohol, tapi buat memproduksi parfum.   

Soal dari mana vodka berasal, Rusia dan Polandia saling mengklaim. Sulit menentukan negara mana yang paling berhak, karena bukti peninggalan sejarah pun sangat minim. Polandia dan Rusia sudah lama saling mengklaim. Baik Polandia maupun Rusia sudah mempunyai ribuan brand vodka, sedangkan di Indonesia sudah ada 30 lebih merek yang masuk.   

Sumber lain mencatat vodka diproduksi pertama kali pada abad ke-9 di Rusia, dan tempat distilasi pertama, seperti disebut dalam surat kabar Rusia, Vyatka Chronicle, sekitar dua abad kemudian, yaitu pada 1174. Polandia juga mengklaim vodka sudah dibuat di Polandia sejak abad ke-8, walau kemudian pendapat itu dipatahkan oleh sejarawan yang sepakat pada masa itu Polandia hanya memproduksi brendi mentah yang disuling dari wine.   

Kata vodka diyakini berasal dari bahasa Slavia, voda, yang berarti air. Sementara itu, dalam bahasa Polandia disebut wodka. Di Republik Cek, vodka dianggap water of life mereka. Vodka dianggap sudah menjadi air kehidupan bagi mereka. Tapi, baik Rusia, Polandia, maupun Cek, sama-sama menganggap vodka sebagai water of life mereka. “Sebab, dengan minuman itulah mereka dapat menghangatkan tubuh dari dinginnya suhu yang sangat menusuk di negara mereka,” ujar seorang mixologist yang diwancara MALE.   

Sumber lain mengatakan, kata vodka tercatat pertama kali pada 1405 di Akta Grodzkie, sebuah dokumen pengadilan di Polandia. Pada saat itu, vodka mengacu pada produk senyawa kimia, seperti obat-obatan dan pembersih kosmetik. Kata vodka juga muncul dalam Cyrillic pada 1533, yang berkaitan dengan minuman obat yang dibawa dari Polandia ke Rusia oleh pedagang dari Rus Kiev—negara yang wilayahnya mencakup Ukraina, Belarus, dan bagian tengah Rusia.   

Ekspansi Vodka 

Vodka tak hanya beredar di kawasan timur Eropa. Spirits ini pun berekspansi. Produksi vodka dalam skala besar berawal di Krakow, Polandia, pada akhir abad ke-16, yang diekspor ke Silesia sebelum 1550. Warga Kota Silesia juga membeli vodka dari Poznan, sebuah kota di Polandia. Masa-masa berikutnya, pada abad ke-17 dan ke-18, vodka Polandia sudah dikenal di Belanda, Denmark, Inggris, Rusia, Jerman, Austria, Hungaria, Rumania, Ukraina, serta Bulgaria. Saat ini vodka yang populer di Polandia adalah Belvedere.   

Sementara itu, keberadaannya di Rusia, menurut legenda, berawal pada 1430. Ketika itu biarawan bernama Isidorus dari biara Chudov, di Moscow Kremlin, membuat resep vodka Rusia terlebih dulu. Karena memiliki pengetahuan dan perangkat khusus distilasi, ia pun menjadi pencipta minuman beralkohol yang baru dan lebih berkualitas. Saat ini vodka dari Rusia yang terkenal, di antaranya, Russian Standard, Smirnoff, dan Stolichnaya.   

Selain itu, Swedia memproduksi vodka yang terkenal dengan merek Absolut Vodka. Lars Olsson Smith, produsen spirits, sekaligus politikus Swedia, adalah orang yang memulai memproduksi vodka Absolut Rent Brannvin, yang kemudian berganti nama menjadi Absolut Vodka.

Karena dominasinya dalam produksi spirits di Swedia, ia juga dijuluki The King of Spirits. Swedia telah memproduksi vodka sejak akhir abad ke-15. Meskipun sampai abad ke-17 total produksinya masih kecil, pada awal abad ke-18 produksi diperluas. Bahan baku kentang mulai digunakan pada akhir abad ke-18.   

Dari Tablet ke Smartphone

0

Digital Innovators Summit di Berlin, mengumumkan akan membawa Adobe Publish ke pasar di musim panas 2015. Adobe Publish adalah platform yang dibangun Adobe Digital Publishing Suite (DPS) untuk membawa generasi berikutnya ke penerbitan dengan aplikasi mobile. Jadi, e-magazine kelak tidak hanya berkutat di tablet saja, tapi juga di smartphone – yang populasinya lebih banyak. “Ini memungkinkan publisher membuat aplikasi mobile untuk ponsel dan tablet sekaligus, tanpa ribet, dengan konten yang besar dan menarik tapi dengan cara yang sederhana, hemat biaya, dan modern,” ujar Nick Bogaty, sang kepala divisi penerbitan digital di Adobe DPS.  

Mei tahun ini adalah tahun ke lima sejak Adobe dan Conde Nast membawa majalah Wired ke iPad. Tujuannya tak lain adalah untuk menghasilkan publikasi digital interaktif untuk platform digital yang menarik dan fantastis. Kini tak kurang dari ribuan aplikasi di tablet dan telah di-download ratusan juta pembacanya di seluruh dunia.  

Kalau pun ponsel kini menjadi platform untuk penerbitan digital yang lebih serius, selain tablet, adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa dinafikkan, karena pasarnya memang lebih besar. Tentu sebuah sebuah keniscayaan juga kalau MALE edisi 127 juga kan hadir dalam smartphone Anda – yang sebetulnya sebelumnya sudah ada di ponsel (dan tablet) Android, hanya saja kurang sempurna, karena desain kreatifnya sebenarnya dirancang khusus untuk platform iPad serta tablet Android.   Selama lima tahun terakhir kita belajar adalah bahwa pengguna aplikasi majalah digital ingin mencoba pengalaman yang menarik dan mendalam, tetapi mereka juga ingin konten yang disampaikan secara teratur, dan bisa dinikmati di perangkat mobile.  

Apa yang mendorong seseorang mengeluarkan ponsel mereka dari saku dan membuka aplikasi majalah digital? Fresh content on a device presented in a fantastic way! (Burhan Abe)

Sumber: MALE 126

Introducing Private Cellar

0

A Truly Personal Wine Service Voted Best British Independent Wine Merchant 2014

Private Cellar is a boutique wine retailer that has quickly gained an esteemed reputation. As a wine merchant the company boasts extensive experience in the industry and since 2005, the Private Cellar team has been coupling a real passion for wine with an enormous dedication to their customers.  

The small team promises a personal service delivering professionally chosen and exquisite tasting wines to their valued clientele. Private Cellar now has 3,000 active customers and manages more than 30,000 cases of customers’ stocks in LCB’s Vinotheque in Burton on Trent.  

Private Cellar was founded by three friends – previously colleagues at London wine merchant Corney & Barrow. The team now boasts a combined experience of over 160 years, providing a truly personal wine service and offering a focused range of wines that are outstanding in their category, sourced directly from growers they admire and are proud to represent. As former senior management members of esteemed wine merchants (Corney & Barrow are HM the Queen’s Wine Merchant and the firm has 235 years of history) the team harbours fantastic grower relationships alongside incomparable access to collectors’ cellars and rare stocks with excellent provenance for the company’s Fine Wine List.  

All wines are sourced by Buying Director Nicola Arcedeckne-Butler MW, one of only 319 Masters of Wine in the World. Fluent in French and Italian, Arcedeckne-Butler is as comfortable sourcing wines from the New World as she is from the Old World. She has also recently taken on a prestigious role as a member of the advisory team to the British Government Hospitality Department which is charged with the wine selection for events hosted by the British Government when receiving overseas dignitaries.  

Managing Director is Andrew Gordon who began his career in the wine trade in 1984. He joined Corney & Barrow in 1986 and left the management team in 2004 (after quadrupling the company’s sales) to spend more time doing what he really loves: building fantastic wine cellars and long term relationships with suppliers and customers alike.  

Private Cellar’s pedigree has been validated with their expert choices regularly appearing in the press. Amongst other press mentions, a 2010 Chablis garnered attention from The Times last year whilst the 2013 vintage of Château de Sours Rosé from Bordeaux was featured in financial magazine, Money Week. The company itself caught the attention of the industry with features in the Guardian, Money Week, Daily Telegraph, Times, Daily Mail, Spectator Magazine, GQ and The Field to name a few titles.  

In 2014, Private Cellar were voted best British Independent Wine Merchant as a result of a writing competition from top wine writer Jancis Robinson MW (jancisrobinson.com) to find the best independent wine merchant in the world.   Private Cellar pride themselves in exclusively purchasing wines that they believe are the finest in the world, and which they know their customers will love with their keen eye on the price-to-quality ratio. They are just as passionate about their customers as their wines and enjoy sharing their insights at formal tastings and informal dinners.  

Customers have praised Private Cellar for the company’s honesty, “the versatile, personal nature of their business”, and the enjoyment that they get out of meeting with and buying wine from the team with one customer saying “it’s great to see such an enthusiastic team of colleagues so tuned in to their customers and to each other; a spirit that is often missing from larger companies today.” (privatecellar.co.uk)  

Multiplatform

0

Majalah digital saat ini masih mewakili sebagian kecil dari total sirkulasi majalah cetak, namun basis pelanggannya terus meningkat secara signifikan. Perubahan platform dari cetak ke digital adalah sebuah keniscayaan, yang tidak terelakkan lagi.   

Memang, industri penerbitan digital yang telah ada sejak 2010, memerlukan waktu untuk mencapai titik stabil. Sebagai teknologi yang relatif baru, publikasi digital harus berurusan dengan berbagai hambatan, baik dai sisi penerbit untuk menghasilkan produk, maupun dari sisi pembaca untuk bisa menikmati produk baru tersebut.  

Tidak bisa dimungkiri bahwa tablet PC, yang dipelopori oleh kehadiran iPad, diperkirakan akan menurun penjualannya di tahun 2015. Analisis tersebut datang dari TrendForce. Firma asal Taiwan yang terkenal sebagai pemerhati pasar gadget ini memperkirakan bahwa pengapalan tablet akan menyusut hingga 185,6 juta unit atau turun 3,5% pada tahun ini. Sementara itu pengapalan notebook akan kembali tumbuh sekitar 174,6 juta unit atau 0,6% lebih besar dibanding tahun 2014.  

Anjloknya penjualan tablet bisa disebabkan oleh persaingan dengan smartphone yang selalu hadir dengan inovasi terbarunya, sedangkan tablet tidak banyak perkembangan. Namun demikian, bukan berarti tidak ada inovasi di tablet. Apple, misalnya, akan mengeluarkan iPad berlayar 12,2 inci, sementara Microsoft akan menghadirkan Surface Pro 4 tahun ini.  

Jangan lupa, meski ada penurunan di pertumbuhan penjualan tablet, bukan berarti industri penerbitan digital pun ikut-ikutan mandek. Justru kelak, media digital tidak hanya hadir di platform tablet, tapi juga di phablet, bahkan smartphone yang berbasis Android. Majalah detik dan MALE sudah hadir di multiplatform.    

Seiring dengan prediksi Executive Chairman Google, Eric Schmidt bahwa dalam lima tahun ke depan akan ada sebuah produk dengan desain mirip dengan tablet, memiliki kinerja yang tinggi, dan akan menggantikan media tradisional.  

Dengan perubahan drastis di sisi konsumen dan dukungan teknologi, rasanya para pebisnis media cetak harus mengiyakan pandangan Eric Schmidt. Menurut prediksinya, majalah cetak akan segera tergantikan dengan perangkat tablet dan sejenisnya.  

Tanda-tanda “kematian” majalah cetak seperti yang diramalkan Schmidt sebenarnya telah terlihat beberapa tahun belakangan. Media-media besar kini sepenuhnya sudah bisa dinikmati dalam versi online dan digital. Hal ini sejalan dengan tren beriklan dan populasi tablet yang terus melesat dalam beberapa tahun mendatang.  

Industri lain pun mulai menyadari keuntungan dari memasuki media digital. Antara lain dengan adanya kemudahan dalam pendistribusikan konten dan data yang unik sekalipun, yang tidak dimiliki media cetak. Dalam upaya untuk meningkatkan produktivitas dan menurunkan biaya produksi, para pengiklan juga mulai menggunakan media digital untuk menampilkan produk-produknya. (Burhan Abe)  

MALE 123 – Editor’s Note

Digital Publications

0

PERKEMBANGAN teknologi yang cepat menuntut semua hal menjadi lebih praktis dan mudah. Kehadiran majalah digital, karenanya, menjadi penting, bahkan mulai menggusur media konvensional – tutupnya sejumlah majalah cetak di sebuah penerbitan besar adalah contoh yang konretnya.  

Menjamurnya PC tablet, juga smart phone dan phablet, tak ayal, membuat marak penerbitan media digital. Selain praktis, mudah, dan efisien, majalah digital juga tampil lebih atraktif dan komunikatif, serta kaya akan konten yang membuat pembaca bisa lebih menikmati platform baru ini.  

Memang, ada yang bilang bahwa majalah digital saat ini hanya mewakili sebagian kecil dari total sirkulasi majalah saat ini, terutama di Indonesia yang pertumbuhan majalah digitalnya tidak sepesat di negara-negara maju. Tapi banyak yang lupa bahwa oplah majalah cetak nasional juga tidak berkembang, bahkan makin mengecil.    

Kalau ada yang bilang bahwa majalah digital tidak serta merta menggantikan  media cetak, itu memag benar adanya. Industri penerbitan digital yang relatif baru dimulai ini, tepatnya tahun 2010, memang memerlukan waktu menancapkan eksistensinya. Perlu beberapa waktu lagi untuk mengembangkan pemahaman yang mendalam dari teknologi baru ini, baik oleh publisher maupun pembaca.  

Di Indonesia sendiri mungkin terlalu cepat mengatakan media cetak akan mati digantikan media digital. Tapi juga terlalu naif kalau menyatakan media cetak akan terus hidup. Banyak alasan yang membuat media cetak makin mengecil untuk tidak mengatakan mati. Yang pertama adalah fakta bahwa harga kertas dan biaya cetak makin mahal, belum lagi soal ketidakramahan terhadao lingkungan. Fakta berikutnya, media digital terus berkembang, masyarakat juga semakin melek digital dengan tingkat penggunaan smartphone dan tablet yag semakin meluas tanpa pandang status sosial.  

Memang, seperti dikatakan Profesor Jurnalistik Klaus Meier dari Universitas Eichstätt-Ingolstadt, Jerman, bahwa media cetak tak akan langsung mati, tapi akan ada perpaduan antara media cetak dan online atau digital. “Di masa depan, mereka akan hadir saling melengkapi,” katanya.    

Tidak jelas, sejauh mana porsi masing-masing, antara cetak dan digital. Tapi yang  jelas, digitalisasi media adalah sebuah keniscayaan. Tantangan semua publisher yang ingin tetap bertahan. Itu pula tantangan yang diemban MALE sebagai salah satu pelopor penerbitan digital di Tanah Air. Tantangan untuk selalu menghadirkan konten yang menarik, yang dikemas dalam sebuah platform yang menarik pula. Kreativitas, itulah yang selalu diasah terus-menerus, untuk menghasilkan yang terbaik. (Burhan Abe)  

Sumber: Editor’s Note – MALE 122

Not Your Average Cuppa in Singapore

0
4 Cafés Off Singapore’s Beaten Path

Source: stayfareast.com

In Singapore, coffee comes in many different forms – from a Kopi O Gau in a traditional kopitiam to an espresso at a coffee chain or a latte art-topped cuppa in an independent café. The latter is a recent development, as the Third Wave Movement – treating coffee as an artisanal foodstuff – made its way from America, Australia and Europe to Singapore.

With the growth of local and regional barista competitions that have brought the art of coffee making to the forefront along with the rise of artisanal coffee roasters, a strong café culture has taken root in Singapore. And so over the last decade, cafés with their own identity, character and quirks have begun to spring up across the island, a counterpoint to mass market establishments – some in the most unexpected of places. Here’s a guide to cafés on the island’s paths less travelled, a perfect way to explore a side of Singapore familiar only to locals.
Source: sharontravelogue.com
 
Chye Seng Huat Hardware: Tools of the Trade
Lavender, once an industrial district of small workshops, is a growing garden patch of cafés. Ask for a recommendation here, and Chye Seng Huat Hardware will be frequently mentioned. Housed in a former hardware store – hence the name – the café isn’t just a place to have a cuppa. It also houses a coffee school, private tasting room and roastery.
Behind the retro, Straits Settlement Art Deco front (complete with a traditional Chinese signboard), the café serves up its java in an industrial-chic setting. Beyond coffee, there is a good selection of ‘Tummy Fillers’ (as the café calls them) and sweet treats, amongst which the Madeleines and the Hazelnut Coffee Muffin stand out.
150 Tyrwhitt Road
Tel: +65 6396 0609
Opening Hours: 09.00 – 19.00, Tuesday – Sunday (Open until 10pm on weekend)
Source: the4moose.blogspot.com
Colbar Eating House: A Taste of Nostalgia
For a setting more relaxing and calming than the average bustling cafe, head over to this leafy little corner of Whitchurch Road. Echoes of a Singapore past still linger here, which is part of the charm of Colbar Eating House, a storied café that used to service the now defunct British military barracks nearby.
Choice here is extensive, focusing on Asian interpretations of Western food that will be familiar to locals and intriguing to visitors. Short for Colonial Bar, Colbar serves up dishes like Sausages and Eggs, Pork Chops with Mushrooms, Marmite Sandwiches, Fried Rice and Fried Noodles in Gravy, usually washed down with coffee done the Singaporean way – wok-fried coffee beans with condensed milk.
9A Whitchurch Road
Tel: +65 6779 4859
Opening Hours: 11.00 – 23.00 (Tuesday – Sunday)
Source: WimblyYu.com

Wimbly Lu Chocolate Café: Sweet Dreams Are Made Of These

As the name suggests, Wimbly Lu operates on the dessert spectrum of cafés. Located in the small commercial strip of a quiet suburban neighbourhood, Wimbly Lu looks quaintly inviting upon entry: all colourful vintage furniture, exposed red brick walls and mismatched plates.
The dessert menu is extensive, from classic staples like Tiramisu, Éclairs, Brownies and Lava Cakes, to treats like Eton Mess and homemade Truffles, to quirkier experiments like the popular Root Beer Cake and seasonal Kit Kat Brownie. Wimbly Lu is also known for its waffles – crisp and fluffy – as well as its selection of ice creams. Savoury options are also available for those that want a full meal.
15-2, Jalan Riang
Tel: +65 6289 1489
Opeing Hour: 01.00 – 23.30, Tuesday – Sunday (09.00 – 23.00 Saturday and Sunday)
Source: GreatNewPlaces.com
Whale and Cloud: Tap The Third Brick From The Left To Enter
Getting to the speakeasy-inspired Whale and Cloud is an adventure in itself. Accessed through a nondescript blue door (the only evidence being a Harry Potter-esque 48 3/4 number, a stencil of the word ‘OPEN’ and a bench) in the back alley of Niven Road in Rochor, you enter Whale and Cloud with a knock on the door. No bells, no buzzers, just a knock.
Inside is a tiny, cosy space that feels like stepping into someone’s studio apartment. The coffee is excellent and sourced from the owner’s personal travels. There is a selection of homemade cakes and biscuits available, and when it is time to leave, drop an appropriate pay-what-you-will amount in the trust box before exiting Singapore’s best discreet little hideaway.
48 Niven Road
Opening Hours: 09.00 – 16.00 (only open on Saturday)

Nasi Campur Ayam Betutu a la Kedewatan @ Harris Hotel Raya Kuta Bali

0

Indonesia as a country has a lot of traditional menus that come from each province. For travelers, both from domestic and international, traditional or typical food must be something that they are looking for while visiting one or more places. This is the reason why Harris Hotel Raya Kuta decided to choose “Nasi Campur Ayam Betutu a la Kedewatan” from Balinese traditional menu to deliver culinary pleasure to travelers when they are visiting Bali.  

Travelers can find the “Nasi Campur Ayam Betutu a la Kedewatan” menu in the Chef Suggestion’s Menu. This menu consists of ayam betutu (chicken cooked with special Balinese spices) and served with some condiments: various chicken, vegetables, fried nuts, sate lilit chicken and two special sambals with steamed rice.  

“Nasi Campur Ayam Betutu a la Kedewatan is a traditional cuisine from Kedewatan – Ubud (name of one famous village in Bali). It has a rich taste and spiciness from traditional Balinese seasonings. The presentation of our Nasi Campur Ayam Betutu a la Kedewatan really represents the original “Nasi Campur Kedewatan” from Kedewatan village,” said Chef Maleachi, the Executive Chef.  

Harris Cafe is a name for restaurant in all Harris Hotels. The restaurant serves various selection of menu from Asian to Western. The tag line “Healthy Lifestyle Menu” means no MSG used, less sugar and salt, but still has delicious taste. Calories information is present in the entire menu as guideline for customers striving for healthy lifestyle.  

Harris Hotel Raya Kuta Bali has also launched a special traditional Indonesian menu to be found in every “Harris Cafe” across Harris Hotels in Indonesia by 2015.  

Harris Hotel Raya Kuta Bali Jl. Raya Kuta No. 83E Kuta Badung, Bali 80361 T. +62 361 763 863/F. +62 361 763 867  

Usher

0

Dalam sebuah pameran, apa yang menarik? Tentu saja produk-produk yang dipajang. Tapi jangan salah, kehadiran wanita-wanita penjaga stand, tidak kalah menawannya. Ya, itulah usher. Bukan penyanyi R&B, pencipta lagu, penari, dan aktor Amerika Serikat itu. Tapi usher yang ini adalah “pagar ayu”, ujung tombak suksesnya sebuah pameran.  

Keberadaan usher memang sering disamakan dengan sales promotion girl (SPG). Kedua profesi tersebut memang menonjolkan sikap ramah dan penuh perhatian. Namun ada fungsi yang berbeda, yang bahkan boleh jadi menyudutkan profesi usher. Profesi SPG lebih berat ketimbang usher, karena SPG memiliki target penjualan yang harus dipenuhi.  

Tapi, apa pun, kehadiran mereka membuat suasana menjadi sumringah. Pesona mereka, dalam balutan busana yang seksi, membuat pengunjung rame-rame mendekat. Tugas para usher tersebut bukan hanya sebagai pemanis, tapi dapat menjadi duta produk yang diembannya. Kehadiran mereka memancing opini beragam, bahkan tidak jarang yang bernada negatif.  

Uang yang berlimpah menjadi daya tarik yang paling kuat dalam menjalankan profesi usher. Apalagi pekerjaan ini tidak banyak membutuhkan keahlian khusus. Inilah yang kemudian menarik banyak wanita cantik terjun ke dalamnya, mulai yang masih kuliah hingga yang sudah memiliki pekerjaan. Meskipun tidak membutuhkan keterampilan khusus, profesi ini menguras stamina. Berdiri berjam-jam serta bersikap ramah dan komunikatif menjadi hal yang wajib dilakukan. Hanya, tidak banyak tuntutan bagi pekerjanya dan tidak ribet seperti di dunia kantoran. 

Syarat menjadi usher sangat mudah. Cantik plus bertubuh indah dapat menyandang profesi ini. “Tidak perlu ijazah, dan uang yang didapat lumayan,” ucap Baby, mahasiswi yang aktif dalam berbagai acara sebagai usher.  

Namun kehadiran para usher tidak lepas dari image negatif. Hal ini terjadi karena ada saja orang yang salah mengartikan profesi mereka. Karakter ramah yang sudah menjadi SOP dapat menjadi bumerang bagi usher. Respons negatif yang tak diharapkan bisa mengancam.  

“Karena nila setitik, rusak susu sebelanga” bisa menjadi pepatah yang mendeskripsikan kehidupan usher. Tapi tak tertutup kemungkinan adanya oknum yang menjalani pekerjaan itu untuk tujuan berbeda. “Memang ada teman sesama usher yang mengambil jalur lain, yang bisa merusak nama baik pekerjaan sebagai usher,” kata Baby.  

Profesi yang masih dipandang sebelah mata ini semakin terpuruk karena ulah usher yang menyeleweng. Digoda, disentuh, dan diajak berkencan menjadi risiko yang terkadang harus dihadapi dengan bijak. Baby menyatakan, memang stigma sudah ada di masyarakat, tapi sebenarnya kembali kepada usher itu sendiri. Perlakuan pria yang kurang sopan harus disiasati sehingga tidak menyinggung perasaan, dan pengertian usher tidaklah seperti yang dibayangkan mesti disampaikan.   Di sisi lain, lingkungan turut pula memberi perubahan cara pandang yang memang sulit dihindari. Penggunaan jasa usher di tempat karaoke, klub, dan kafe dengan pakaian seksi menjadi godaan tersendiri bagi pria hedonis. 


Sumber: MALE Zone, MALE Magazine 120 http://male.detik.com