Home Blog Page 93

Singapore Banking on Medical Tourism

0

What comes to mind when someone mentions Singapore? A shoppers’ paradise? Well, you are not wrong, as this city state is truly heaven for those who love shopping at favorite shopping hubs such as on Orchard Road and shopping centers like the computer trading center Funan DigitalLife Mall, Sim Lim Square, or Vivo City, which is the largest mall there.

But it is also not wrong to call Singapore a medical tourism destination. Many high ranking officials and rich people from neighboring countries come to Singapore for medical purposes. In 2000 the World Health Organization (WHO) recognized Singapore as having the best medical services in Asia and ranked the city state number six in the world.

Patient registration and complete information about hospitals in Singapore, including telephone numbers and email addresses, is available through International Patient Service Centres. The cost of medical services used to be regulated by the government but not any longer. However, they still abide by guidelines provided by the Singapore Medical Association.

Singapore is well known for its reliable, experienced doctors and sophisticated hospitals. One of the international standard hospitals is Novena Medical Center, which is located above the MRT Novena Station next to Tan Tock Seng Hospital. This medical center is strategically located right in the heart of upper class communities, office buildings, modern malls as well as various health and medical centers with complete facilities, such as Tan Tock Seng Hospital, National Neuroscience Institute, Thomson Medical Centre, National Skin Centre and KK Women’s and Children’s Hospital.

Novena Medical Center encompasses a 140,000 square feet area with 145 medical rooms and is conveniently connected with Tan Tock Seng Hospital through a covered pedestrian bridge. Collaborating with a number of major hospitals Novena Medical Center provides its patients with the services of expert, multi disciplinary specialists to ensure the most complete, efficient and effective service.

Novena said in a statement that Novena Surgery is the first 24/7 surgery facility within the Singapore private medical sector to offer modular operating theaters with cable-less pendant systems, allowing surgeons to operate free of stray wiring and obstructions. “Our endoscopy suites are equipped with the latest bronchoscopes, GI endoscopes and high definition camera-video systems that offer unprecedented clarity,” the hospital said, adding that a mini-view X-ray machine facilitates accurate placement of surgical implants.

Not only patients from neighboring and developing countries come to Singapore. For some time now patients from highly developed countries have been frequenting the city state for medical treatment. This is because medical expertise and state of the art equipment are no longer the monopoly of a few highly advanced countries. On top of that the cost is much lower in Singapore than say the United States, for example. High quality affordable medical services have attracted numerous patients to Singapore as well as several other Asian countries.

Malaysia is one such country. For years it has enjoyed high revenue from foreign patients. The Malaysian Hospitals Association estimates that this sector will contribute as much as Rp 1.78 trillion in 2010 from about 625,000 foreign patients.

According to Eugene van de Weerd, country director of Frost & Sullivan Indonesia, medical tourism provides a significant contribution to the economy of a number of Asian countries and it is an important component in the planning and developing of the country’s medical service. “The market value of this business in Asia generally or particularly in Singapore, Malaysia, Thailand and India was about US$3 billion from 2007 to 2008 and the figure will increase to $4.4 billion by 2012,” said Weerd in a press release.

In view of this fantastic potential it is not surprising that Singapore is aggressively developing its medical tourism potential. The obvious plus point is that the country’s medical facilities are acknowledged as the best in Southeast Asia. The government along with the hospitals is continuously striving to make breakthroughs and further developments in medical research.

‘It’s About Taste’, Culinary Journey in 3 Hotels

0

Bagaimana rasanya berwisata kuliner di tiga hotel sekaligus? Pengalaman itulah yang ditawarkan dalam program ‘Taste’, rangkaian petualangan kuliner di The Ritz-Carlton Jakarta (Pacific Place dan Mega Kuningan) dan JW Marriott (Mega Kuningan), 8 – 29 Juli 2010. 

Ketiga venue yang berada dalam satu kepemilikan itu mempersembahkan berbagai promosi eksklusif, mulai dari makanan, minuman, bahkan hiburan yang semuanya dikemas sebagai paket “gaya hidup” ala kaum urban Jakarta. Saya dan teman-teman media berkesempatan menikmati preview-nya, mulai dari merasakan black truffle, jamur termahal ala Italia, yang disajikan oleh seorang celebrity chef, sajian Jepang Omakase, Bastille Party oleh DJ Ceet, sampai kolaborasi fashion yang akan ditampilkan dalam sebuah peragaan.

Dalam acara ‘It’s About Taste’ yang digelar untuk kalangan terbatas, dalam hal ini pers itu, merupakan petualangan kuliner ke tiap-tiap gerai restoran di mana promo tersebut akan berlangsung. Tur eksklusif itu dipandu langsung oleh Desiree Merlina, selaku Marketing & Communications Manager The Ritz-Carlton, Jakarta dan Ina Ilmiaviatta selaku Marketing & Communications Manager Hotel JW Marriott. 

Petulangan kuliner dimulai di The Ritz-Carlton, Pacific Place, yakni Italian Black Truffle. Jamur hitam ini awalnya ditemukan di Piedmonte, tapi juga terdapat bagian selatan di Italia, yakni Umbria. Dennis Mifsud, seorang celebrity guest chef, melalui teleconference mengatakan akan menghidangkan kepada para tamu sajian eksklusifnya yang berbahan dasar truffle tersebut. Menu akan disajikan bersama wine yang disiapkan oleh John Horgan, pembuat wine terbaik dari Salitage, Pemberton, daerah penghasil wine di Australia.

Sebetulnya acara wine dinner tersebut rencananya akan digelar di akhir masa promosi, yakni 29 Juli di Pacific Restaurant & Lounge di hotel tersebut. Sebelumnya acara serupa, di awal rangkaian petulangan kuliner sesungguhnya yang ditujukan untuk umum justru dimulai dari Lobo, restoran Italia terbaik yang berlokasi The Ritz Carlton Jakarta, Mega Kuningan. Chef de Cuisine Mariano Liuzza akan menghidangkan secara khusus lima menu eksotis yang disajikan bersama wine terbaik dari Eropa.

Buat pecinta hidangan Jepang jangan lewatkan ‘Omakase and Sake Pairing Dinner’ di Asuka Japanese Dining. Restoran Jepang yang berada di lobby level, JW Marriott ini memang menjadi salah satu yang terbaik di Jakarta. Executive Japanese Chef, Nishiura Osamu bakal menyuguhkan produk seasonal segar yang langsung diterbangkan dari pasar ikan Tsukiji dan Fukuoka Jepang lengkap bersama sake Jepang, sebutlah Ayu Potatikomi, Hamo Sumashigitate, dan masih banyak lagi. 

Sambil menikmati kelezatan hidangan yang tersedia, seroang Master Sake dari Jepang memberikan penjelasan mengenai sake yang disajikan bersama menu Omakase seperti Sake Fukumitsuya Kagatobijunmai dan Sake Takobi Junmai Koshininatsuume Niigutajunmai.

Sementara itu Blu Martini yang terkenal dengan 88 jenis Martini akan menjadi tuan rumah dari acara “X-cite Your Sense” pada 22 Juli 2010. Acara yang satu ini akan memadukan fashion dan seni meracik minuman atau cocktail. Seorang perancang busana muda berbakat Kleting Titis Wiganti, akan menampilkan label KLE-nya. Sedangkan Joseph Boroski, seorang MixsultantTM, bersama Liquid Chef dari Blu Martini, akan membuat kreasi cocktail unik dengan sentuhan molecular yang cita rasanya unik.

Tidak ketinggalan, dalam program ‘Taste’ ini juga ada cooking class di Lobo, yang diberi tajuk Pasta VS Pastry. Chef Mariano Liuzza membagikan tiga resep rahasianya dalam pembuatan pasta dan juga saus “al dente” dan Pesto alla Genovese. Sedangkan Chef I Made Kona mendemonstrasikan pembuatan tiramisu yang lezat. Hmmm… 

Photo by Streets of Food on Unsplash

Jangan lupa pada 26 Juli, jam 10.00 – 12.00 WIB, Pearl Chinese Restaurant di JW Marriott yang banyak menggaet gelar Best Chinese Restaurant, akan mengadakan kelas memasak dengan praktek langsung di dapurnya. Executive Chinese Chef John Chu akan membagikan resep favoritnya yang selama ini dirahasiakan. Ia akan menunjukkan kepada para tamu bagaimana cara memasak hidangan ala Kanton dengan gaya modern. 

Eksotisme Hidangan Sang Nyonya

0

Kuliner Singapura tidak jauh dengan Indonesia. Itu sebabnya, ketika berkunjung ke Negeri Singa tersebut, lidah sudah tidak asing lagi dengan makanan setempat. Nasi lemak, roti canai, laksa, itulah beberapa nama makanan yang populer. Agaknya makanan Malaysia tidak jauh berbeda dengan Indonesia, terutama dari gagrak masakan Melayu yang sama-sama makanan pokoknya nasi.

Secara garis besar masakan Singapura terdiri atas tiga jenis utama, yakni masakan China, Melayu, dan India. Masing-masing punya ciri khas dan rasa istimewa. Selain itu, juga ada masakan pembauran budaya dari masyarakat Nonya (keturunan) dan India Islam. Sedang menu-menu internasional, sebutlah makanan Eropa dan Mediterania tersedia pula. Apa saja kayaknya tersedia di negara pulau itu.

Pada suatu kesempatan ke Singapura saya ingin mencoba makanan Nonya — suatu istilah dalam bahasa Melayu lama yang digunakan sebagai tanda hormat kepada wanita dengan kedudukan sosial yang tinggi –, agaknya tidak salah kalau saya (dan gang media) memilih True Blue di Armenian Street. Inilah restoran peranakan yang mengusung nuansa kemewahan klasik, yang tercermi mulai dari dekorasi cantik hingga barang-barang pernik lainnya.

True Blue Cuisine yang berlokasi di sebelah Museum Peranakan itu berdiri pada November 2003. Ini memang bukan sekadar restoran, karena interiornya juga dirancang sesuai dengan sejarah kebudayaan peranakanan.

Di sini saya terkesan dengan perabotan antik, mulai dari lemari, meja, kursi, dan lain-lain. Beberapa perabot ternyata dijual, juga ada beberapa kebaya antik ala Nyonya tradisional, yang juga dijual di situ.

Dengan suasana yang sempurna untuk menikmati citarasa unik budaya Nyonya ini, saya mencoba berbagai masakan tradisional peranakan, seperti otak-otak, ayam buah keluak, yaitu hidangan ayam yang dimasak dengan saus kacang yang kental, serta itek tim, sup klasik yang dibuat dengan bebek, tomat, paprika, sayuran asin dan plum asam awetan yang dididihkan perlahan. Sedangkan dessert khas Nonya adalah kue dengan rasa kelapa dan aneka kue manis.

“Kami yakin, cara terbaik untuk menikmati makanan ala peranakan adalah makan di restoran ini, di mana atmosfer kebudayaan peranakan masih terjaga. It’s a living heritage,” ujar pemilik dan chef True Blue Cuisine, Benjamin Seck.

Beruntung saya dapat kesempatan mencicipi makanan peranakan di restoran yang tepat. Makanan Nonya memang berbeda dengan makanan Melayu atau pun China, meski unsur keduanya sangat kental mempengaruhi citarasa makanan ini.

Mengutip YourSingapore.com, citarasa makanan Nonya datang dari kaum peranakan, keturunan para imigran China awal yang menetap di Penang, Malaka, Indonesia, dan Singapura, untuk kemudian menikah dengan kaum Melayu setempat.

Rahasia kelezatan masakan peranakan ini adalah “rempah” yang terkandung di dalamnya, yaitu kombinasi bumbu dengan ukuran dan tekstur yang sangat spesifik, yang kemudian ditumbuk dalam lumpang atau cobek, yang menghasilkan menjadi pasta.

Makanan Nonya juga banyak menggunakan cabai, terasi, dan santan sebagai bahan penting saat memasak. Cara memasak mereka mencampurkan bahan-bahan dengan teknik memasak di wajan ala China, ditambah bumbu-bumbu yang digunakan oleh komunitas Melayu dan Indonesia untuk menciptakan hidangan yang memiliki rasa kuat, aromatik dan pedas. Hmmm… (Burhan Abe)

Culinary Legends of Batavia

0

Re-discover Batavian favorite recipes such as Soto Betawi, Sop Kaki Tanah Abang, Semoer Daging Betawi, Kerak Telor and much more. All are prepared by Chef Syaiful Bahri and his team for you to enjoy @ Asia Restaurant, The Ritz-Carlton, Jakarta.

Saya pasang flyer tersebut di wall FaceBook saya, lengkap dengan gambar suasana Betawi tempo dulu. Ternyata banyak yang menanggapi positif, jempol-jempol diberikan, bahkan ada teman berasal dari Filipina, yang pernah tinggal di Singapura dan Jakarta memberi komentar, “Another great reason to visit Jakarta!”

Di tengah serbuan makanan asing, makanan legendaris Betawi di Jakarta ternyata masih mendapat tempat di hati masyarakat, terutama pecinta kuliner. Dan memang tidak salah kalau holet sekelas The Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta menggagas festival makanan bertema Culinary Legends of Batavia di salah satu restorannya, Asia, sekalian menyambut haru ulang tahun Kota Jakarta yang ke 483. Hmmm… Jakarta ternyata lebih tua dari usia negara Indonesia.

Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar kulinari Betawi? Pasti banyak, meski beberapa di antaranya sangat susah dicari. Chef de Cuisine Syaiful Bahri dan tim kulinernya sudah menyiapkan hidangan Betawi. Aneka resep terbaik para leluhur saat Jakarta masih bernama Batavia pada abad 16 silam, ada di sini.

Beruntung saya dan para wartawan kuliner dan gaya hidup mendapat kesempatan megikuti pembukaan festival makanan tersebut acara yang berlangsung pada 16 hingga 25 Juni 2010.

Daftar makanan yang dihidangkan memang banyak, dan setiap hari sangat bervariasi. Sebutlah Sop Kaki Kambing Tanah Abang, Macaroni Dutch (macaroni met ham en kaas), Bitter Ballen with Mustard Honey Sauce, Sayur Besan, Pepes Ikan Salem Mangga Muda, Gado-gado, Oseng-oseng Kangkung Jamur, Terik Daging Ayam Opor Kuning Jambal Pete Goreng Pedas, Tongseng Kambing Kwitang Kambing Bumbu Kecap Benteng, Gulai Sotong Muara Karang, Ayam Bakar Tanah Abang Nasi Goreng Udik, Kerak Telor “Bang Somad”, Gabus Pucung dan Saus Semur, Beer Pletok, dan masih banyak lagi.

Jangan lupa, sambil bersantap pengunjung bisa mendengarkan alunan musik khas Betawi, seperti Jali-Jali, Keroncong Kemayoran, Ondel-ondel, Lenggang Kangkung, dan lain-lain. Juga musik gambang kromong dengan penyanyi legendaris H. Benyamin Sueb.

Tidak hanya makanan dan hiburan memang, karena pernik-pernik pajangannya juga ikut menyesuaikan dengan suasana Betawi. Asia Restaurant sendiri disulap menajdi kota tua Batavia, dengan meletakkan barang-barang antik di depan dan sepanjang area restoran, seperti delman, becak dengan berbagai buah dan sayur mayur di dalamnya — ada kelapa, salak, pepaya, terong, dan lain-lain.

Di sebelah restoran juga ada window display rumah ala Betawi, kursi kayu, lemari kuno dengan barang-barang antik di atasnya, seperti piringan hitam zaman dahulu, setrika arang, radio tua, dan lain sebagainya. Untuk melengkapi atmosfer “tempo doeloe” tersebut, mobil antik Mercedes-Benz SL dan Pagoda ikut nongkrong di situ.

Sungguh sebuah pengalaman bersantap yang tak terlupakan! (Burhan Abe)

Table for Seven

0

Tonight’s dinner at Ce Wei, GF, Intiland Tower (used to be Dharmala Sakti) next to ANZ Building Jl Jend Sudirman/KH Mas Mansyur Jakarta. @7.30pm, 7 of us. Cu!

Pesan pengingat itu dikirim melalui Facebook Mobile. Ya, untuk kesekian kalinya kami berkumpul dalam sebuah perjamuan makan malam dengan pilihan tempat yang berpindah-pindah. Kami sebut ini sebuah ritual – menikmati wine dinner sambil mengobrol ringan.

Penggagasnya adalah Ida Bayuni, pemilik konsultan PR (public relations) B&W Communications, yang didirikannya sejak Juni 2001. Pesertanya adalah beberapa wartawan senior, serta klien B&W yang kebetulan kali ini adalah Singapore Tourism Board (STB), Jakarta – diwakili oleh Chooi Yee Choong (Regional Director ASEAN & Oceania) dan Retno Putri Nugroho (Asst. Manager, Tourism Business Indonesia). Para wartawan yang hadir, selain saya adalah M. Rasyid Ganie (Djakarta), Wahyu Indrasto (Eksekutif), dan Sari Narulita (Her World).

Ce Wei Restaurant yang berlokasi di Intiland Tower Jakarta itu adalah venue ke sekian yang kami pilih. Kalau biasanya yang kami kunjungi adalah wine lounge, kali ini adalah restoran cina. Master chefs-nya berasal dari Hong Kong, Malaysia, dan Singapura.

Cina mempunyai kekayaan kuliner yang kaya, serta mengembangkan seni masak-memasak yang mengagumkan. Ragam maupun gaya masakanya unik dari daerah ke daerah, masing-masing dengan kekhasan masakan tersendiri. Mulai dari hidangan ringan dan lembut hingga yang sophisticated dan penuh gaya.

Di Ce Wei kami bertujuh bisa merasakan hidangan manis asam ala Hunan, atau masakan ala Szechuan yang pedas, atau ala Kanton yang khas dengan tumis-tumisannya. Sekadar pengetahuan, harga makanan di Ce Wei dengan porsi standar berkisar 10 – 30 dolar AS per orang.

Yang sulit adalah bagaimana memadukan makanan tersebut dengan wine? Selain tidak ada sommelier-nya di restoran tersebut, yang lebih parah wine cellar-nya juga tidak ada. Tapi itu bukan halangan, Pak Chooi dari STB sudah berniat membawa sendiri minuman, tidak hanya wine tapi juga Baileys Irish Cream.

Minuman pertama, white wine asal Napa Valley, California. Wine Chardonnay tahun 2006 ini pas untuk pembuka, rasanya sedikit manis, dan menerbitkan selera untuk mencoba course-course yang lain.

Wine berikutnya adalah jenis merah Cabernet Merlot tahun 2004, asal Australia. Rasanya kompleks, dengan meski masih tergolong ringan. “Pilihan saya selalu red wine,” ujar Ida, dan ini diamini oleh yang lain.

Virtual Office, Business Solution for Mobile Executives

0

It seems that the meaning of “office” has been redefined — at least in Nukman Luthfi’s case. The 46-year-old businessman can work from a coffee shop. One morning while sipping Luwak coffee, he sent a quotation to a client. He read briefly the material he would send on his smartphone, rechecked the address and clicked on “send”. In a few seconds, the proposal had been sent to the client’s email box.

Nukman, CEO of Virtual Consulting, was not working in his office but from Kopi Luwak coffee shop in Pacific Place, South Jakarta. Leaving home for work, he did not need to go to his office in Duren Tiga, because at noon he had an appointment to see another client at the mall. “I spend most of my time on the road, not just today. With an Internet connection, I can manage my company from anywhere,” he said.

Advancements in information technology make everything easy. With a Wi-Fi connection, Nukman can contact his partners online. Regardless of place, whenever there is a Wi-Fi facility he can do his job, from lobbying to making presentations, using facilities like email and chatting. “For fund transfers, we can make use of internet banking,” said the former journalist.

So, if you can work anywhere, why go to the office every day? Nukman, who owns several portals, considers coffee shops the most comfortable places to relax and to work effectively. Coffee shops have become not only a meeting point, but also his second office. 

When he started his business, he made Starbucks his office, and worked only with a notebook. Now, as a business strategy and online marketing consultant, he has 50 employees, but he still works virtually, just as his company’s name suggests.

That means that in various business scales, Nukman runs his company with the present culture, which is mobile and online. Nukman, as well as other professionals and contemporary business owners, are lucky people who can work fast and efficiently, who do not even need much time to start a new business.

While many people work in coffee shops, many companies also offer instant offices, from the virtual office with basic secretarial work to the small office measuring 12 square meters to accommodate one person to a 40-square-meter room for five. It can be said that with a laptop, you can have an office and run your business.

Renting an office costs a lot of money. No wonder many people prefer instant offices, which are usually located in strategic places. Professionals can focus on the job at hand without having to think about many other things. If a client calls, a message will be taken by the instant office secretary, who will immediately forward it to the tenant.

Money can also be saved and allocated for other needs in business development. Renting an instant office can save quite a lot. The monthly overhead for an instant office is only US$200 while the rent for a conventional office could reach $1,290.

Instant offices offer a solution to new companies in Indonesia that want to start small, or to companies that only need a small space, as well as to foreign companies that want to open branches in Indonesia, more precisely Jakarta.

Interior Design of the Future

0

Don’t ever make a mistake with interior decorating, because just like fashion, interior design follows trends of its own. Companies dealing in interior design meet customers’ needs for quality interior products, such as furniture and the like, in line with the current trend.

Modern and antique furniture can coexist as they can be combined if you are smart enough to modify and arrange them in one room. Likewise, ethnic furniture seldom appears to become dated and even Western designers often use an ethnic accent or design in their products.

According to Leonard Theosubrata, designer and owner of Accupuncto, the furniture trend for 2010 will have more of an Asian accent. “Asian products will be more popular. Just look at Chinese products, for example, their market is growing rapidly and they have their own segment,” he said.

Indeed, interior design is not based on any one style or concept, but many designers believe that for 2010 it will be simple, modern and minimalist due to the simple and practical lifestyle of consumers. However, there are some interior designs that appear lively and colorful.

“This is consistent with the improving economy after the recent crisis and improvements in infrastructure and the many project developments in the country,” said Jon Adirona, chairman of the Indonesian Interior Designers Association, as quoted by Business News.

In the near future, colors will also be bolder and livelier, for example dashing pink. Orange is also an alternative color, which indicates a shift from calm tones or colors as nowadays people are no longer wary of opting for daring or even clashing colors.

Before selecting furniture one naturally has to decide on the interior design. The good news is that interior manufacturers and designers can fulfill the requirement. Malinda Furniture Gallery, for instance, has quality furniture made in the United States, including flexsteel, berkline, magnussen, schnadig and much more.

Photo by Braden Collum on Unsplash

Malinda also supplies lighting systems and lamps that not only light up or brighten one’s home but also gives the right atmosphere, from small everyday moments to momentous occasions. Light helps us see, it allows us to notice the details, draws attention to what really matters. It shines on a focal point. It’s the spark that comes first, and subsequently illuminates everything – and everyone – it touches.

Lamps and lighting systems have an important function in interior design. Using Hinkley Lighting, which has been available since 1922, Malinda Furniture Gallery creates a new atmosphere for your interior. “We know that you have goals when it comes to your home’s decor, and we care about helping you achieve the final outcome you are looking for, in every aspect, including installation,” said Rosemary Wardhani, Marketing Manager of Malinda Furniture Gallery.

Quality is also another priority. Melanda’s Lifestyle Furniture not only provides boutique and lifestyle products but also customized items according to a customer’s budget.

Luxurious Legend

0

Buddha Bar yang terletak di Jalan Teuku Umar, Menteng, merupakan salah satu tempat hang out di Jakarta yang paling hip saat ini. Jakarta mengikuti jejak kota-kota besar dunia yang telah lama mempunyai Buddha Bar, yakni Paris, Dubai, Kiev, Dublin, New York, London, dan lain-lain.

Buddha Bar memang bukan venue baru. Tapi undangan dari Chivas Regal 25 Years Old mampu meringankan langkah saya ke bar yang berlokasi di bekas kantor Imigrasi yang dibangun pada tahun 1913 ini di masa pendudukan Belanda itu.

Chivas Regal memang minuman wiski yang paling populer di dunia, dan seri 25 Years Old, jelas memancing keingintahuan. Pesta yang berlangsung 19 Mei itu diselenggarakan dengan tema Luxurious Legend dengan dihadiri oleh para pengusaha dan selebritis Jakarta, Bandung dan Surabaya.

Menurut Regional Mentoring Manager Asia Pasific Chivas Brothers Pernod Ricard Darren Hosie, Chivas Regal 25 Year Old Original merupakan perpaduan langka dan eksklusif dari Scotch whiskies terbaik, hanya tersedia sebagai edisi sangat terbatas dalam bentuk botol yang memiliki nomor sendiri. Minuman berusia 25 tahun ini memiliki rasa yang lebih elegan dari sebelumnya, selain itu warnanya yang keemasan yang pekat. Sementara dari sisi rasa, ada sentuhan rasa susu, cokelat jeruk, dan krim yang lembut. Dari keseluruhan, seri Chivas 25 memiliki rasa yang halus, menyeluruh dan rasa mewah yang bertahan lama. Hmmm…

Sementara itu Commercial Director Pernod Ricard Indonesia Edhi Sumadi mengungkapkan, Chivas Regal merupakan minuman premium yang eksklusif dan hanya dikonsumsi oleh kalangan eksekutif muda, CEO dan pengusaha sukses karena dari sisi harga dan kualitas produknya yang special. Angka yang tertera tersebut juga sekaligus merupakan tertanda lamanya penyimpanan.

“Dari sisi harga juga berbeda antara Chivas Regal 12, 18 dan 25. Semakin tinggi angkanya maka akan semakin eksklusif dan mahal harganya,” jelasnya yang membandrol Rp 10 juta perbotol untuk Chivas 25. Sangat premium!

Bukan sekadar minuman biasa memang, apalagi untuk menjadi sebuah produk eksklusif Chivas 25 sudah melewati proses yang panjang. Dalam prosesnya, minuman ini disimpan secara hati-hati dalam tong kayu oak dan kemudian disaimpan di dalam gudang penyimpanan untuk menjadi matang dalam beberapa tahun. Dalam proses pematangan ini, setiap wadah akan kehilangan isinya sekitar 2% per tahun. Proses hilangnya isi ini dikenal sebagai angel’s share.

Photo by Emily Andreeva on Unsplash

Chivas 25 memiliki warna keemasan yang pekat. Aroma wewangian buah jeruk manis dan peach yang menggoda dan sentuhan aroma marzipan dan kacang-kacangan. Sedangkan untuk rasa, Chivas 25 ini memiliki sentuhan rasa susu cokelat jeruk dan krim yang lembut. Halusnya menyeluruh dengan rasa mewah yang bertahan lama.

Dalam acara launching tersebut, sebelum party dimulai, terlebih dahulu para pengunjung dapat menikmati koktail Chivas Royal dan pada puncaknya dilakukan cheers bersama sambil menikmati Chivas 25.

Party malam itu bertambah meriah dengan penampilan fashion dance yang menampilkan model-model Jakarta yang tidak asing lagi, Indah Kalalo, Fabiola, Farhanna, Puteri dan lain-lain. Tarian masyarakat Skotlandia juga menjadi pertunjukan yang menarik. Di belakang deck, DJ Alice Norin tampil dengan musik-musik masa kini yang sangat akrab dengan para profesional muda Jakarta. Ide yang menarik, menikmati minumam premium di sebuah bar yang merupakan ikon lifestyle Ibu Kota, dalam suasana pesta yang ceria. (Burhan Abe)

Cuz Mommy Needs to Play Too!

0

Lena Tan, presenter berdarah Tionghoa ini dikenal luas karena rajin nongol di layar kaca membawakan gosip-gosip terkini. Tapi siapa sangka, model berwajah cantik khas Oriental dan bertubuh langsing ini adalah ibu dari seorang anak berusia 10 tahun.

Perempuan kelahiran Jakarta, 29 April 1981 ini adalah seorang single parents, sempat menikah pada usia 18 tahun, tapi kemudian memilih bercerai. Tapi tidak seperti ibu-ibu zaman baheula, yang ketika menyandang status janda, dunia seakan-akana runtuh. Lena Tan seakan mewakili janda masa kini, yang menjalani kehidupan seperti orang-orang lain pada umumnya. Tidak hanya itu, ia bahkan dikenal sebagai ibu yang gaul dan menikmati hidup – meski mencari nafkah sendiri bukanlah pekerjaan yang mudah. 

Sudah sembilan tahun Lena menjomblo, tapi status itu tidak menghalanginnya untuk melakukan berbagai kegiatan, bahkan dilakoni dengan ceria tanpa harus membebani – setidaknya yang bisa kita saksikan di layar TV. Aha, yummy mommy!

Lena tidak sendirian. Banyak ibu-ibu muda, single parent, dan mempunyai anak, yang menjalani hidupnya, dan yummy mommy adalah yang menikmati hidup – bahkan kadang-kadang terkesan hedonis. Kegiatan mereka sangat beragam, mulai mencari nafkah, aktivitas sosial, arisan, atau mungkin juga pesta. 

An attractive, healthy, and very sexy mother! Usually a young woman or sometimes a really gorgeous and hot middle aged mother. Yummy mummies usually wear trendy clothes, have great hairstyles and always look fabulous. Begitulah salah satu definisi Urban Dictionary.

Tapi yummy mommy memang tidak melulu soal busana yang trendy atau party, mereka juga pelaku utama dalam rumah tanngga, bahkan sebagian besar juga pencari nafkah yang tangguh. Di Indonesia komunitas yang mewakili yummy mommy mungkin BundaGaul.com. Situs jejaring ini ditujukan khusus untuk ibu-ibu. Menurut pengembangnya (Sanny Gaddafi dan Marlinda Yumin), jika ketahuan bukan perempuan, akunnya langsung dihapus. 

Situs ini dibuat karena banyak ibu-ibu muda yang butuh informasi, sharing, dan suka berbagi cerita pengalaman mereka. “Saya ingin mempersatukan bunda-bunda di seluruh Indonesia di dalam wadah ini untuk berbagi informasi, sharing dan keceriaan bersama baik online maupun offline,” jelas Marlinda Yumin.

Jejaring sosial online memang hanya salah satu medium saja, karena menurut Marlinda, ia ingin membuat wadah yang riil: real person and real community. Pada kenyatannya, para ibu-ibu yang tergabung dalam BundaGaul tersebut terbukti sangat antusias, saling memberi informasi antar mereka – mulai dari soal kerumahtanggaan hingga pekerjaan. 

Fenomena Single Parents

“Jangan menyerah, hidup adalah anugerah,” itulah potongan syair dari grup band d‘Massive. Potongan syair ini sangat pas untuk kelompok single parents atau perempuan yang berperan sebagai orang tua tunggal. 

Menjadi orang tua tunggal bukanlah hal mudah. Salah satunya harus siap menerima reaksi dari berbagai pihak, termasuk orang tua dan keluarga. Selain itu, dengan status janda juga harus siap menerima gunjingan teman, tetangga maupun rekan kerja. 

Spanish Wine

0

I wish that I was in your arms / Like that Spanish guitar / And you would play me through the night / Till the dawn / I wish you’d hold me in your arms / Like that Spanish guitar / And you would play me through all night long / All night long I’d be your song, I’d be your song

SUARA Toni Braxton itu lamat-lamat terdengar di Elbow Room. Lagu “Spanish Guitar” ciptaan Diane Warren sore itu pas banget dengan acara di wine lounge yang terletak di bilangan Kemang Jakarta itu.

Spanish Week, itulah tajuk acara yang dibuka Rabu, 12 Mei lalu. Sore itu berkumpul ekspatriat asal Spanyok, yang umumnya tergabung dalam komunitas – sebutlah Spanish Speaking Women Association, atau pun orang-orang di luar Spanyol yang menyukai kebudayaan Spanyol.

Yup, kebudayaan Spanyol itu diwakili oleh musik Spanyol, atau lebih luas, Latin, juga Spanish wine, dan tapasnya yang khas tentu. Icip-icip wine dari Spanyol itu menampilkan Marques de Luz dan Pyrgos Somontano, dipimpin langsung oleh Jorge Padilla, Representative of Spanish Wine (SWD) Group – perusahaan usaha yang memasok kedua produk wine tersebut ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Musik yang dinamis berpadu dengan aroma wine Spanyol, yang tidak kalah dengan Prancis. Yang jelas, anggur Spanyol memang populer di dunia, apalagi berberapa kota yang ada di Spanyol sejak 1877 sudah mampu memproduksi wine yang menyebar di berbagai negara. Faktanya, negara tersebut juga tercatat sebagai penghasil wine terbesar di dunia, bahkan dibandingkan dengan Prancis, misalnya.

Wine Spanyol adalah wine yang diproduksi di Spanyol tentu saja. Terletak di Semenanjung Iberia, Spanyol memiliki lebih dari 2.900.000 hektar lahan anggur dengan 600 lebih varietas, yang mampu menghasilkan wine terbaiknya.

Anggur – yang diminum manusia sejak 5.000-an tahun yang lalu, adalah minuman yang populer di banyak negara. Negara-negara yang penduduknya meminum anggur paling banyak adalah Perancis, Italia, Amerika Serikat, Jerman, Spanyol, Argentina, Britania Raya, Republik Rakyat Cina, Rusia, dan Rumania.

Menurut Jorge Padilla, wine asal Spanyol tergolong istimewa. “Orang Indonesia sudah bisa menikmati produk tersebut. Belasan jenis wine juga dapat dinikmati di Elbow Room,” tambah Marketing Manager Elbow Room, Rosalinda Pangestu.

Ada beberapa pilihan wine yang cukup populer di Indonesia. Di antaranya Entrecepas, Anta Baderas (mengingatkan pada aktor film Antonio Banderas yang sudah mendunia), dan masih banyak lagi. Wine Spanyol mempunyai karakter tersendiri, dan di beberapa wilayah malah cara membuatknya dengan menc

ampur dengan berbagai macam varietas, misalnya antara merlot dengan cabernet sauvignon, atau shiraz dengan pinot noir, dan seterusnya. Ini mengingatkan pada tradisi Bordeaux di Prancis, yang terkenal dengan blended wine-nya.

Kalau Prancis mempunyai Champagne, yang menghasilkan sparkling wine dengan nama wilayah tersebut. Spanyol mempunyai wilayah Cava, yang juga memproduksi sparkling wine, yang menyandang nama wilayah itu pula.

Tapi apa pun jenisnya, wine Spanyol memang menggoda untuk dicicipi. Aromanya, mulai yang ringan hingga yang fruity, cukup menjadi alasan untuk segera dinikmati. Marques de Luz dan Pyrgos Somontano sore itu cukup mewakili cita rasa minuman berkelas asal Negeri Matador itu (Burhan Abe).