Home Blog Page 93

Hidup Mewah di Apartemen Mewah

0

Rumah memang penting, tapi rumah kini agaknya bukan sekadar tempat tinggal. Bagi kalangan berduit yang tinggal di kota-kota besar, hunian istimewa adalah hunian yang mempunyai fasilitas bintang lima, sekaligus praktis karena terletak di jantung kota. Dan itu hanya bisa didapat di apartemen mewah, yang belakangan bermunculan di Jakarta.

Bagi kalangan berduit dan mempunyai aktivitas padat, tinggal di apartemen mewah yang biasanya berlokasi di central business district (CBD), jelas sangat nyaman. Di samping tak perlu waktu banyak untuk mengatur ruangan yang kompak, semua urusan menjadi lebih gampang karena tersedia berbagai fasilitas, keamanan pastinya, serta pelayanan 24 jam layaknya hotel.

Bagi para eksekutif sibuk, single maupun yang sudah berkeluarga, tinggal di apartemen adalah pilihan yang tepat. Di tengah kehidupan modern yang selalu dinamis dengan mobilitas tinggi, apartemen yang berlokasi di tengah kota juga mempunyai akses mudah menuju pusat bisnis, perbelanjaan, dan hiburan, juga menjawab kebutuhan akan hunian yang strategis dengan segala kemudahan dan kenyamanannya.

Peluang itulah yang dimanfaatkan para pengembang untuk berlomba-lomba membangun apartemen mewah, bahkan super mewah!

Apartemen super mewah – tepatnya kondominum yang dijual secara strata title – yang dimaksud adalah yang mempunyai luas sedikitnya 400 meter persegi. Harganya berkisar antara 1,5 – 2 juta USD per unit. Cukup mahal, namun bagi platinum society harga bukan menjadi masalah benar kalau yang dicari adalah kemewahan sekaligus kenyamanan.

Menurut catatan Provis, sedikitnya ada 6 (enam) kondominium yang tergolong super mewah di Jakarta. Yakni, Da Vinci (30 unit), Airlangga (40 unit), Four Seasons (60 unit), Pacific Place (60 unit), dan masih dalam tahap projek pembangunan yang diperkirakan selesai tahun 2010 adalah The Keraton (68 unit) dan St Regis (154 unit).

Ada beberapa hal yang mendorong pertumbuhan apartmen super mewah di Indonesia, khususnya di Jakarta. Pertama, semakin diterimanya gaya hidup tinggal di rumah vertikal. Kedua, mempunyai apartemen super mewah menjadikan gengsi tersendiri.

Photo by Andrea Davis on Unsplash

Motivasi kebanyakan orang, selain untuk ditinggali, membeli kondominium juga untuk investasi. Bahkan berdasarkan data yang ada, umumnya mereka membeli apartemen tidak melulu untuk ditinggali, tapi lebih banyak sebagai investasi. Sebagian besar tujuannnya adalah untuk investasi seperti disewakan atau dijual lagi karena harganya akan selalu naik.

Hanya saja, khusus untuk apartemen mewah, tujuan untuk berinvestasi ini tidak terlalu relevan. Dengan harga beli yang tingi, tapi harga sewa maksimum 6.000 USD per unit per bulan, maka yield-nya terlalu kecil.

Menangguk Rezeki dari Pesta Perkawinan

0

Keterbatasan waktu membuat orang-orang mempercayakan penyelenggaraan resepsi perkawinan kepada ahlinya. Itu sebabnya, bisnis wedding organizer (WO) – wedding planner (WP) kini marak, bahkan tidak mengenal resesi. Hi-end party juga mulai mendapat tempat di Indonesia, kalau tidak mana mungkin seorang Preston Bailey asal Amerika mengembangkan sayapnya ke sini. 

Oleh Burhan Abe

Bisnis jasa penyelenggaraan pesta perkawinan – atau sering disebut sebagai wedding organizer (WO), kini makin marak. Sejumlah penyedia jasa, mulai dari WO sendiri, penyedia jasa dekorasi, katering, kue pengantin, gaun pengantin, cendera mata, jasa fotografi, hiburan termasuk MC (master of ceremony) dan wedding singer, bermunculan bak cendawan di musim hujan.

Tak terhitung berapa kali mereka ikut wedding exhibition, baik di hotel maupun di mal, yang frekwensinya makin lama makin bertambah. Ini memang menunjukkan betapa gurihnya bisnis penyelenggaraan pesta pernikahan akhir-akhir ini dan tidak terkira uang yang berputar di sini.

Sebuah hajatan perkawinan di sebuah hotel berbintang yang melibatkan banyak pihak, menurut sumber SWA, menelan dana antara Rp 600 juta hingga Rp 2 miliar.

Di Jakarta saja, ketika musim kawin tiba, terutama di bulan-bulan yang berakhiran “ber”, kecuali Ramadan dan Lebaran, setiap akhir pekan (Jumat, Sabtu dan Minggu) ada saja orang yang merayakan pernikahan. Balai-balai atau hall di hari-hari itu selalu penuh, ballroom hotel-hotel demikian pula – bahkan tak jarang satu hotel yang bisa menyelenggarakan dua hajatan sekaligus pada waktu yang bersamaan.

Hotel-hotel berbintang lima yang laris dipakai resepsi perkawinan saat ini adalah Hotel Mulia, Grand Melia, JW Marriot, Dharmawangsa, Grand Hyatt, Nikko, dan Four Seasons, Ritz-Carlton (Mega Kuningan), atau Ritz-Carlton (Pacific Place). Mereka rata-rata bisa menampung 1.000-2.000 tamu, sedangkan yang paling luas saat ini dipegang oleh Ritz-Carlton Pacific Place yang mempunyai luas 3.000 m2 (bisa menampung 5.000 tamu untuk standing party). Begitu larisnya venue-venue tersebut, sehingga mempelai harus reserve enam bulan sebelumnya.

Wedding of The Year

Pesta pernikahan paling megah tahun ini siapa lagi kalau bukan pesta pernikahan Adinda Bakrie, putri pemilik PT Lapindo Brantas, Indra Bakrie, yang diselenggarakan di Hotel Mulia, Jakarta, 24 Juli lalu. 

Pesta yang sangat megah itu dihadiri oleh tamu-tamu VIP, mulai dari pejabat negara, para pengusaha papan atas, para diplomat negara-negara sahabat, serta para sosialita Jakarta. Tak kurang dari Wakil Presiden Yusuf Kalla, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Agung Laksono, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Anwar Nasution, Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardoyo, hingga Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa. 

Di kalangan sosialita ada Wulan Guritno, Dian Sastrowardoyo Dian Sastrowardoyo, Manohara Pinot, Janna K Soekasah, Amanda Soekasah, Indah Saugi, Elsa Kurniawan, Vashty Soegomo, Renny Sutiyoso, Ronald Liem, Rachmat Harsono, Livia Prananto, Fitria Yusuf, Tirza Tabitha, Jessica Nathalie, dan lain-lain. Wajah mereka inilah yang kerap menghiasi majalah-majalah gaya hidup.

Photo by Nick Karvounis on Unsplash

Adinda memang termasuk dalam sosialita di negeri ini. Ia memiliki selera yang tinggi dalam segala hal, baik berupa barang maupun penampilan. Tak heran kalau resepsi pernikahannya juga diselenggarakan dengan selera high class. 

Meriahnya pesta tersebut sudah dimulai sejak gerbang hotel. Jajaran karangan bunga berdesakan di kiri kanan jalan masuk menuju pintu lobi sebelah utara. Kemegahan pun lengkap di ruang pesta. Tiga ballroom Hotel Mulia dijadikan satu dengan 15 lampu kristal ukuran besar bergantungan di atap. Pasangan mempelai duduk di pelaminan yang mewah. 

Antara Singapura dan Jakarta

0

Dear Mr Abe,

A very warm welcome to The Fullerton Hotel Singapore. We wish you a most pleasant stay and should you require any assistance, please do not hesitate to contact us at extension 8977.

Sincerely, Melissa Kong Assistant Marketing Communications Manager The Fullerton Hotel, Singapore  

SEPUCUK surat itu tergeletak di meja kamar di The Fullerton Hotel, Singapura, ketika saya menginap di hotel tersebut beberapa waktu yang lalu. Hal yang biasa sebagai sapaan hangat host kepada tamunya. Tapi yang membuat saya terkesan, surat tersebut ditulis pakai tangan. Rasanya lebih personal.  

Saya harus memaklumi, di negeri sekecil Singapura, yang hanya seperdelapan Pulau Bali, yang tidak mempunyai sumber daya alam, yang mereka tawarkan adalah jasa. Bukan sekadar jasa, tapi servis yang paling prima.   

The Fullerton Hotel, Singapore  

Bukan hanya hotel, sebelumnya ketika naik SQ dari Jakarta, saya sudah merasakan servis yang luar biasa tersebut. Standar pelayanannya jelas, terbang selalu tepat waktu, pramugarinya tidak sekadar jual tampang, tapi juga sangat helpful melayani kebutuhan penumpang.  

Singapura memang negara kecil. Tapi negeri dengan penduduk 4,6 juta itu merupakan magnet yang membuat banyak orang datang dengan beragam alasan. Lokasi yang strategis saja pasti tidak cukup, kalau tidak didukung oleh infrastruktur yang baik – kota tertata rapi dan sistem transportasi publik yang memudahkan orang untuk bergerak ke mana pun tanpa kehilangan waktu karena macet di jalan.

Tapi yang lebih penting adalah, sistem manajemen pemerintahan yang profesional, serta penduduknya yang siap berkompetisi di dunia global.   

Kalau tidak mana mugkin Negeri Singa ini menjadi salah satu negeri yang paling dinamis di dunia. Pada 2007 nilai investasi aset tetap di Singapura melebihi $10 miliar. Perekonomian tumbuh ke tingkat rata-ata 6 – 7 persen per tahun sejak 2004 dan tahun ini, bahkan dalam situasi kehancuran nilai kredit, tetap tumbuh sekitar 4- 6 persen.   

Memang, kita boleh tidak setuju dengan pemerintah Singapura yang menekan demokrasi. Banyak aturan, banyak reward, tapi banyak punishment-nya. Orang menyebut fine city, bukan negeri baik, tapi “negeri denda”. Tentu, itu hanya ledekan. Tapi bagi saya pribadi, lebih baik punya aturan ketat tapi jelas manfaatnya, daripada bebas tapi seringkali tidak bertanggungjawab.   

Saya hanya berutopia, kapan Jakarta bisa meniru Singapura. Jangankan punya subway yang di Singapura dikenal sebagai mass rapid transportation (MRT), mengatur busway saja tidak pernah beres, apalagi monorail yang tidak jelas juntrungannya.   

Beeing Single

0

Dulu ada kesan, menjadi lajang – apalagi ketika usia berkepala tiga atau bahkan empat, karena tidak laku kawin. Tapi kini, status lajang, dengan berbagai alasan, justru menjadi pilihan hidup. Hidup sendiri bukan berarti tidak bisa berprestasi, bukan?

Idul Fitri adalah saat paling indah untuk berkumpul bersama keluarga. Tapi bagi Indah, 33 tahun, malah sebaliknya. Justru saat berkumpul itulah ada pertanyaan basi selalu tertujukan kepadanya, “Mana undangannya?” Atau pertanyaan dengan kalimat yang lebih lugas, “Kapan menikah?” Bukan karena malas membalasnya, tapi jawaban Indah toh tidak beranjak dari sebuah basa-basi, “Belum ketemu jodoh!” 

Apa boleh buat, pertemuan yang seharusnya menyenangkan, menjadi membosankan. Topiknya tidak beranjak dari soal menikah dan perjodohan. Padahal, bagi Indah, profesional di bidang periklanan itu, menikah menjadi tujuan utama. Selama belum ketemu the right man, kenapa juga harus dipaksakan. “Lagi pula, persoalan hidup tidak cuma menikah atau tidak. Bahagia atau tidak bukan diukur dari statusnya,” ujarnya. 

Pendapat Indah memang tidak salah. Yang salah adalah ia hidup di Indonesia, di alam Timur yang masih menganggap bahwa setiap orang – terutama wanita, ketika usia cukup, harus menikah. Itu sebabnya di KTP Indonesia, kolom status biasanya diisi dengan “kawin” atau “belum menikah” – yang masih diharapkan kelak akan menikah. Tidak dikenal kata “tidak menikah”. 

Dengan kata lain, hidup melajang di Indonesia masih dianggap tabu. Kalau tidak mana mungkin ada iklan rokok yang tagline-nya “Kapan kawin? Kapan-kapan”. Seakan melengkapi iklan satire tersebut, Agus Ringgo, bintang iklan tersebut yang tampangnya lucu hanya menjawab, “Mei!” Tapi ada terusannya, “Maybe not, maybe yes!” 

Itu pula yang terjadi pada Boyke Johan. Tapi bukan lantaran takut putus cinta dan dikecewakan pasangan kalau di usia 36 tahun, ia masih terlihat menikmati kesendiriannya. Kesibukan dan aktivitasnya yang padat menjadi fokus utama Boyke sebelum akhirnya kelak serius mengarahkan hatinya ke jenjang pernikahan. “Saya orangnya perfeksionis, termasuk untuk urusan jodoh. Dari awal kalau ada hal-hal yang memang terlalu jauh dari prinsip saya, buat apa diteruskan? Nantinya malah bisa jadi masalah,” ujarnya santai.

Di tengah relasi dan pertemannya ia tetap mencari wanita yang bisa menjadi tambatan hidupnya kelak tapi tanpa target waktu. “Untuk umur segini, yang saya pikirkan adalah mencari untuk yang pertama dan yang terakhir. Harus yang benar-benar serius,” tambah pria yang pernah berpacaran sepuluh kali ini. 

Pernyataan yang klise memang. Tapi Boyke tidak sendiri, tidak sedikit jomblo berkualitas, selain fisiknya yang oke, pekerjaannya yang mapan, serta uangnya yang berlimpah, tapi seret jodoh. “Ada sebagian eksekutif lajang tidak memiliki waktu untuk berpikir ke arah mencari pasangan, apalagi mereka yang tinggal di kota besar. Waktu mereka dihabiskan untuk bekerja,” Farina Arsita, psikolog keluarga dari RS Dr. Oen Surakarta memberi analisis, seperti dikutip Bisnis Indonesia.

Faktanya memang para lajang eksekutif ini kebanyakan tidak punya banyak waktu untuk mencari pasangan hidup karena sibuknya bekerja. Selain itu, sebagian eksekutif lajang ini mengaku takut salah pilih pasangan. Kurang serasi, tidak satu visi, hingga tidak cocok secara kepribadian, menjadi alasan utama para lajang untuk selalu menunda mencari pasangan. “Akhirnya banyak di antara mereka memutuskan tidak menikah hingga mereka tidak sadar usia sudah tidak lagi muda,” ujar Arsita lagi.

Novelis kondang Ayu Utami yang masih melajang di usia 40 mempunyai pandangan yang menarik terhadap status lajang. Menjadi lajang, katanya, bukan waktu tunggu ke pernikahan. Itu masalah pilihan, bukan suatu hierarki. ”Saya juga baru menyadari bahwa banyak orang lajang bukan karena nggak laku, tapi karena memang belum mau,” katanya.

”Menikah adalah satu hal, dan menjadi lajang adalah hal yang lainnya,“ tambah penulis novel Saman, Larung, dan Bilangan Fu itu. 

Sang Pemimpi dari Belitong

0

Berkat novelnya Andrea Hirata bisa menjadi ikon baru di industri kebudayaan pop Indonesia. Tapi pemuda yang memilih hidup sebagai single ini enggan disebut sebagai selebriti. Kendati clubbing, minum wine, “saya tetap orang kampung,” katanya. (Burhan Abe

Tak pelak lagi, Andrea Hirata adalah penulis paling populer saat ini. Novelnya, Laskar Pelangi, yang bercerita tentang perjuangan sepuluh anak kampung dalam meraih cita-cita, seolah memberi setitik kesegaran di tengah-tengah dahaga pembaca terhadap karya-karya berkualitas. 

Laskar Pelangi adalah fenomena. Novel yang pertama kali diterbitkan Bentang, Yogyakarta, September 2005, tidak hanya menjadi best seller (Mei 2008 memasuki cetakan ke 22), tapi ikut melejitkan nama penulisnya bak selebriti yang kehadirannya selalu ditunggu-tunggu. Dalam setahun tak kurang dari 200 acara yang harus ia hadiri, baik sebagai pembicara dalam bedah buku atau pun sekadar “jumpa fans”. 

Andrea sendiri tidak pernah menyangka, sambutan publik atas novelnya begitu tinggi. Padahal, ”Saya menulis buku itu hanya sekadar mencurahkan isi hatinya tentang perjuangan guru saya semasa saya bersekolah di SD Muhammadiyah, Belitong Timur, Bangka Belitung,” ujar anak kelima dari pasangan Seman Said Harun Hirata dan Masturah ini.

Siapa nyana, novel yang mungkin tidak akan pernah sampai ke tangan pembaca jika tidak ada seorang temannya yang diam-diam mengirimkan karyanya ke sebuah penerbit ini, nyatanya memang mendapat tempat di khasanah sastra Indonesia, sekaligus sukses secara bisnis. 

Tapi tentu, tak adil jika kelarisan novel ini disebut hanya karena faktor keberuntungan semata. Pujian dari sejumlah kalangan di atas sudah menjadi bukti bahwa novel ini sanggup meninggalkan kesan yang mendalam di benak para pembaca.

”Saya larut dalam empati yang dalam sekali. Sekiranya novel ini difilmkan, akan dapat membangkitkan ruh bangsa yang sedang mati suri,” komentar Ahmad Syafi’i Maarif, mantan Ketua PP Muhammadiyah.

Pujian lain datang dari Sapardi Djoko Damono, sastrawan dan Guu Besar Fakulas Ilmu Budaya UI. ”(Buku ini adalah) ramuan pengalaman dan imajinasi yang menarik, yang menjawab inti pertanyaan kita tentang hubungan-hubungan antara gagasan sederhana, kendala, dan kualitas pendidikan.” 

Komentar memang bisa datang dari mana saja, apalagi kenyataannya tulisan Andrea tidak sekadar pengalaman masa kecil, tapi sebuah memoar yang sulit dicari tandingannya dalam khasanah sastra kontemporer saat ini.

Tidak heran kalau buku ini pun ramai diperbincangkan, diresensi, diulas di berbagai milis, dan akhirnya laris manis di pasaran. Buku ini bahkan sudah diterjemahkan dalam bahasa Melayu dan diterbitkan di sejumlah negara di Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, Singapura, dan Myanmar. Dan tak lama buku Laskar Pelangi akan diterbitkan di Eropa dan Amerika Serikat, tentu dalam terjemahan bahasa Inggris.

Mimpi Backpacker 

Tidak berhenti pada novel ternyata, Laskar Pelangi kini masuk ke industri film, yang tentu mempunyai potensi sebagai film laris. Film yang diproduksi Miles Production dengan sutradara Riri Riza ini sound track-nya digarap dan dinyanyikan ramai-ramai oleh para musisi top saat ini – mulai dari Ipank, Nidji, Sherina, hingga Gita Gutawa. 

Home Sweet Home

0

Christine V. Meaty, Psikolog

“Home Sweet Home” sedang tren di kalangan masyarakat Amerika Serikat. Namun anehnya, di Indonesia malah sedang terjadi kegamangan perkawinan. Fenomena seperti ini bisa terjadi dalam suatu dekade, dan kemudian terjadi pergeseran kembali ke “back to nature – back to family”.

Ada beberapa faktor yang memberi peluang pria berperilaku free father. Pertama, gaya hidup metropolis yang penuh godaan. Pria yang lemah akan menjerat dirinya ke dalam posisi ini. “Yang penting saya happy, bikin hidup lebih hidup”.

Kedua, tidak komitmen terhadap nilai-nilai perkawinan dan motivasi berkeluarga yang jauh dari hakekat normatif. Pria yang tidak komit cenderung mengabaikan keluarga. Dan dia akan berusaha menghindar dari tanggung-jawab, sekalipun menyadari tapi ia tidak ingin melakukan perubahan sepenuhnya.

Ketiga, masa kecil yang kurang bahagia, dan masa muda yang kurang puas. Atas kekurangan ini, diapun akhirnya mencari kesenangan untuk memuaskan dahaga “pleasure”-nya.

Keempat, hidup di luar koridor ikatan keluarga, sehingga ia merasa dapat mengatur perilakunya sendiri. Tanggung-jawab sebagai suami atau ayah malah dirasakan sebagai beban yang dapat membatasi kebebasannya.

Apakah pola hidup seperti ini bisa dibenarkan oleh sosial dan budaya Indonesia? Tergantung pada kompromi dan penerimaan lingkungan. Karena setiap lingkungan mempunyai nilai-nilai sosial yang berbeda, misalnya lingkungan elite kota besar tentu berbeda dengan kota kecil.

Di pemukiman kota kecil, misalnya, seorang suami lebih memilih nongkrong di pos hansip sambil main gaple, minum kopi sampai tengah malam bahkan sampai subuh. Sementara di kota besar, fenomenanya pasti berbeda, tawaran dunia gemerlap alias dugem lengkap dengan hiburan yang akrab dengan minuman keras, narkoba sampai wanita penghibur dan pacar gelap, kerap menjadi tawaran menggoda. Itulah realita kehidupan kota.

Jika menemukan suami yang suka hidup bebas seperti ini, istri sebaiknya bersikap bersabar sambil mencari waktu yang tepat untuk mengajak dialog, dan mengingatkan kembali tujuan perkawinan serta komitmen berkeluarga. Sementara, anak sebaiknya mengajak ayah untuk melakukan kegiatan bersama, misalnya menonton, memancing, berenang dan belanja bersama. Mengajak sang ayah terlibat dalam pengambilan setiap keputusan, memilih sekolah dan memberi pertimbangan dalam hal-hal pribadi maupun yang bersifat umum. Bahkan sekali waktu mengikuti kegiatan ayah di luar rumah dan menawarkan diri untuk ikut serta dalam kegiatannya.

Hubungan keluarga semacam ini sangat rentan konflik, karena tidak adanya ikatan yang kokoh untuk saling berbagi dan memahami. Hubungan seperti juga rentan terhadap sikap saling tidak peduli, sibuk dengan urusan masing-masing. Harus disadari, rumah tangga ideal adalah tempat keluarga berkumpul dan bercanda, berbagi suka-duka, layaknya home sweet home. Ada waktu makan bersama, menonton TV, berdiskusi dan bertukar pendapat.

Sexy Icon

0

Sexy icons are not just the monopoly of the ladies, even the guys get a chance to be one. What makes a man sexy? There will certainly be more than one answer to that question. What is clear, is that the criteria is not just about physical attributes,or at least this is what the ME Asia 2008 polling results showed.

The search for sexy men in Indonesia is not as popular as searching for sexy women, with their large variety of contests. There have been several teenage magazines that have found their cover boys, and women’s magazines have often had articles featuring their choices of sexy and attractive men. However this still only counts as an addition to the main and more exciting event where the object is women.

It’s a different story in America, for example. People Magazine, to mention an example, has a long standing tradition in selecting the sexiest men, a tradition whose echo has been heard around the world. Who doesn’t know that actor Matt Damon was crowned as the ”Sexiest Man” in 2007? Matt actually rejects being called that, but his down-to-earth nature has made the magazine more determined to keep the actor, born in Massachusetts, on October 8, 1970, in first place.

It is not without reason that People established Damon as the sexiest man in the world. The star of the film ”Bourne Identity” which achieved commercial success and last year starred in two Oscar -winning films, ”The Departed” and ”Syriana”, with his low profile attitude and status as a family-loving man made him a logical winner.

So, it turns out that it is not just a matter of physical attributes, the non-physical characteristics play just as important a role. So, at present, it is not so strange if a man makes himself sexy. Times have changed. It is no longer taboo for men to pay attention to their appearance, make an effort to look neat, and even follow the in fashions.

Photo by Scorpio Creative on Unsplash

They are in the know about all kinds of etiquette, such as how to ask a woman out on a date, having dinner at a restaurant, the right choice of perfume, being conscious about fashion, taste in art, and lots more. This is the new generation of adult men who are mature and care about their appearance, not only to attract the opposite sex, but also to attain perfection. They are called ”metrosexual” men. (Burhan Abe)

ME Asia 2008

SMS Lebaran

0

Let’s write all the mistakes down in the sands
And let the wind of forgiveness erase them all away

ITULAH pesan pendek yang masuk ke ponsel saya 01 Syawal 1429 H, yang bertepatan dengan 01 Oktober 2008. Surprise, bukan karena kata-katanya yang indah, tapi bahasa Inggrisnya sempurna. Saya tahu pasti, teman saya yang mengirim SMS tersebut bukanlah seorang penyair, bahasa Inggrisnya pun sangat pas-pasan.

Begitulah, pada hari yang fitri tersebut, banyak orang mendadak mendadak menjadi penyair, minimal pandai menciptakan kata-kata yang puitis untuk mengucapkan Selamat Idul Fitri dan mohon maaf lahir dan batin. Saya sih tidak peduli, apakah itu ciptaan sendiri ataukah sekadar mem-forward dari SMS orang lain. Yang jelas, sangat menyenangkan bisa “beranjangsana” dan bisa terkoneksi dengan sanak, saudara, teman dan kolega via mobile technology.

Memang tidak semua SMS berpusi-puisi ria, ada yang straight to the point, tapi tidak sedikit yang lucu. Ini dia contohnya:

Ikan teri kesamber gledek
Idul Fitri is coming back
Ada anak piara kate
Maafin kite ye
Buah jambu sayur lodeh
Kalo ga mau, eh capek deh!

Tapi yang memberikan kesan adalah kiriman dari Bapak Erry, salah seorang mantan petinggi di KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), yang memberikan energi positif dalam upaya pemberantasan korupsi. Coba saja simak:

Minal aidin wal faizin
Mohon maaf lahir dan batin
Semoga ibadah kita senantiasa mendapatkan barokah Allah SWT
Meningkatkan kualitas iman
Kemampuan makna kita mewujudkan makna hidup kepada sesama dan kepada-Nya
Serta ketulusan dan keteguhan kita memberantas ragam kezalimam, kesewenang-wenangan, kecurangan dan kejahatan terorganisasi, termasuk korupsi
Amien ya Rabbal Alamin

Takzim
Erry Riyana Hardjapamekas & keluarga

**

Many thanks to all relatives send me SMS. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

Ade Irwan Trisnadi (Appetite Journey), Agung Yuswanto, Alda Siregar, Amazon Dalimunthe, Ambar (Kid Enterprise), Anastasia (Le Grandeur), Andi Mallarangeng (Jubir SBY), Andreas Setiadi (Wok Magazine), Andrianus Pao (Metro TV), Arief Soeharto (Suara Pembaruan), Arif Tritura (Total), Aris Kelana (Gatra), Azza, (Kid Enterprise), B Gunawan, Bimo, Bintoro (US Aid), Boy Maula (Wahana Trinity Media), Chairul, Catur (SWA), Chandra Kirana, Chandra Muaz, Chilmi (Bungah), Chika, Dadi R Sumaatmaja (Metro TV), Daniel, Devy, Didiek WS, Dharmesti Sindunatha (Provis), Dodi Priaji CB, Dody Rochadi (BHP Biliton), Domery (Metro TV), Darandono (SWA), Donny (Appetite Journey), Dijan Subromo (US Aid), Dyta (titik), Diyanto (Tupperware), Echy (Indosat), Eddy (Sheraton Bandung), Edoy Sunarto (Appetite Journey), Eddy P. Kasdino, Eka Listiana, Elprisdat (EE Communications), Edhi Sumadi (Pernod Richard), Elly Simanjuntak (Charoen Pokphand), Elizabeth Fang (ME Asia), Endi Aras, Erry Riyana Hardjapamekas, Ety Suryani (Appetite Journey), Evieta (U Magazine), Evi Puspa (Online Marketing Indonesia), Farid MS, Faisyal Chaniago, Ferhad Salim Badjeber, Firda (Human Capital), Fithri (The Jakarta Post), Hartono (Kalbe Group), Hartono IP (PKS), Hersubeno Arief, Franz Wolfgang (Nokia), Hardiman, Hario Santoso, Harsya Soebandrio, Hayib (Gresik), Heru (Daihatsu), Herry Barus (View), Honorus Hendriyarno (Pertamina, Bontang), Icha (T&T Magazine), Ika Sastrosoebroto (Prominent), Indra Bustomi, Intan Pulungan (Int Com Media), Irfan Husen, Iskandar Tumbuan (Bank Mandiri), Jenny (Cognito), Johannes Simbolon (The Jakarta Post), Joko (EE Communication), Jon Minofri, Ita Sembiring, Iwan (BCA), Iwan Suci Jatmiko (Vox Populi), Kemal E. Gani (SWA), Ketut Sumarta (Dewata TV), Kevin, Kili (Globe Asia), Kusnan Djawahir (SWA), Latif (eks Matra), Laurensius Zaoputra (Zao Creation), Lena Thong (Marquee), Lily Nababan, Limbuk Yuli, Lira Dachlan (The Dharmawangsa Hotel), Marah Sakti Siregar (Cek & Ricek), Marthen Selamet (Koran Jakarta), Marcella (Kraftig), Mardi Luhung, Maruli Girsang, M. Ali Ridho, Nazir Amin, Nindito HK, Noor Yanto (Majalah Marketing), Novia (Tadonfo), (Novianto, Nobelson Santo, Nugroho, Okta (Chevron Indonesia), Olga Lydia, Ollie Rachmat, Prih Sarnianto, Rahmat Yunanto (Metro TV), Ratih Poeradisastra, Reeza Budhisurya (Opco), Renjana (Manajemen “Laskar Pelangi”), Ridho (Single Executive Club)), Rhino, Rian Sudiarto (Majalah Pengusaha), Riant Nugroho, Robert (DHL), Ristiyono (Appetite Journey), Salma, Samsi Darmawan (Plaza Senayan), Santi (AS), Shinta (Discovery Kartika Plaza, Bali), Soleh Hidayat (Indomobil), Sonia Wibisono, Siska Leonita (XL), Suzy Sayers (Studio 3), Stanley Ng (Sequis Life), Swastika Nohara, Syamhudi (Majalah Profesi), Tatik Hafidz, Tjandra Wibowo (Samuan), Thomas Ng, Tri (Appetite Journey), Tipuk Satiotomo (Prominent), Troy Reza Warokka (Mahaka Media), Tutut (SWA), Untung (InMark), Valentino, Ventura Elisawati, Vita (Femina), Vitry (Warta Ekonomi), Wawan (Mix), Yahdi Jamhur (Samuan), Yanti (Ritz-Carlton, Pacific Place), Yayuk (Julambi), Yohanes S. Widada (Media Indonesia), Yul Adriansyah, Yuli, Yusuf Susilo Hartono.

(01 Oktober 208)

Halalan Thayyiban

0

Sebuah rumah makan ayam bakar terkenal mencantumkan kata “halalan thayyiban”. Apaan sih itu? Begitu tanya seorang teman. Memang, label tersebut agak berlebihan, yang artinya kurang lebih sama dengan “dijamin halal”. Bahkan untuk Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim mestinya tidak perlu mencantumkan label itu lagi, justru yang sebaliknya yang harus disebut, misalnya “mengandung babi”.

Sekadar pengetahuan, kata halal, berasal dari bahasa Arab, berarti boleh. Jadi, makanan halal ialah makanan yang diperbolehkan untuk dimakan menurut ketentuan syariat Islam. Segala sesuatu, baik tumbuh-tumbuhan, buah-buahan ataupun binatang pada dasarnya adalah hahal dimakan, kecuali apabila ada dalil Quran atau Hadits yang mengharamkannya.

Daging babi adalah makanan yang jelas-jelas disebut haram dalam Quran. Yang juga tidak boleh dimakan dalam Islam adalah darah, daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali sempat disembelih.

Sementara thayyiban atau thayyib berarti lezat, sehat, atau paling utama. Dalam konteks makanan berarti makanan yang tidak kotor atau rusak (kadaluarsa), atau bercampur makanan haram. Ada juga yang mengartikan sebagai makanan yang sehat, proporsional dan aman. So, makanan yang masuk kategori ”halalan thayyiban” dalam cerita di atas, silakan menyimpulkannya sendiri.

Sebelum artikel ini menjadi dakwah agama, saya hanya ingin mengatakan bahwa untuk komunitas tertentu (baca: muslim), rambu-rambu halal dan haram sangatlah penting dalam berburu makanan. Sama dengan penganut agama lain yang tidak diperbolehkan makan daging hewan alias vegetarian. Meski dalam perkembangan berikutnya gaya hidup vegetarian tidak selalu dikaitkan dengan agama tertentu, tapi pendekatannya lebih kepada kesehatan.

Sama dengan tren belakangan ini, makanan halal kini bukan lagi dominansi umat Islam tapi kalangan non muslim juga ternyata lebih cenderung memilih makanan berlabel halal. Setidaknya yang terjadi di Malawi, sebuah negara kecil di selatan Afrika berpenduduk 12 juta jiwa. Warga non muslim di wilayah itu lebih percaya dengan produk-produk makanan, khususnya daging potong, yang sudah mendapatkan sertifikasi halal dari badan nasional makanan halal di negeri itu.

“Lebih aman makan produk-produk daging bersertifikat halal. Setidaknya Anda yakin bahwa mereka tidak asal comot hewan ternak yang sakit untuk dipotong,” begitu salah satu alasan seorang warga Malawi penganut Protestan.

Kalau ditarik ke pergaulan sekuler, halal-haram kini tidak lagi menjadi persoalan agama semata. Saya ingat beberapa tahun yang lalu ketika diundang komisi pariwisata Australia, saya sempat menikmati “halal food” di sebuah restoran di Brisbane. Yang punya adalah pengusaha asal Malaysia beretnis Cina beragama Nasrani. “Saat ini banyak orang Indonesia dan Malaysia, khususnya yang beragama Islam, berkunjung ke Australia, tapi susah menemukan restoran yang menyajikan menu halal. Kami menangkap peluang tersebut,” ujar pengelola yang sekaligus pemilik restoran itu.

Target pasar, itulah kata kuncinya. Warung bakmi atau kwetiau di Kota, daerah pecinan Jakarta, ketika hendak meluaskan segmennya ke pasar yang lebih luas (baca: pasar muslim), harus rela tidak menggunakan daging babi dalam produknya, tapi menggantinya dengan ayam atau sapi.

Pak Made Ngurah Bagiana, yang beragama Hindu pun, perlu mencantumkan setifikat halal untuk usaha burger kaki limanya (“Edam Burger”) yang mencapai 3.000 gerai di seluruh Indonesia. “Supaya produk saya bisa diterima siapa saja, lebih-lebih oleh mayoritas penduduk Indonesia yang muslim,” katanya. (Burhan Abe)

Telekomunikasi untuk Semua

0

Halimin, warga Desa Rinding Allo, Kecamatan Limbong, Kabupaten Luwu Utara, Selawesi Selatan, terkejut mendengar dering telepon genggamnya dari balik lemari. Sejak kepala seksi pemerintahan desa itu membeli ponsel tahun 2007, baru awal Agusus lalu bisa berdering di dalam rumah. 

Itulah ilustrasi yang diceritakan Kompas, 25 Agustus 2008. Akses komunikasi memang selalu menjadi masalah bagi 743 warga Rinding Allo, yang berjarak 64 kilometer dari ibu kota Kabupaten Luwu Utara, Masamba. Jalan nasional yang menghubungkan Rinding Allo dengan Masamba rusak parah sehingga jalan itu hanya bisa dilalui mobil bergardan ganda. Waktu tempuh pun lima jam, cukup membuat penat siapa pun yang menempuh perjalanan itu.

Yang lebih parah, tidak ada sarana komunikasi di desa itu. Pada tahun 2007, pemerintah memang memasang radio SSB, tapi radio itu sering tidak tembus dengan radio SSB lainnya. Tidak ada koran yang masuk karena jalan buruk. Itu sebabnya ketika jaringan Telkomsel masuk Agustus lalu, jelas merupakan berita gembira. Ini terkait dengan program pemerintah dalam rangka membuka akses telekomunikasi di daerah tertinggal dan pulau terdepan.

Rinding Allo hanya salah satu. Di tengah derasnya arus informasi di jagat ini, puluhan ribu desa di Indonesia tidak memiliki akses komunikasi dengan dunia luar. Buruknya sarana jalan membuat perekonomian masyarakat jalan di tempat. Sejak tahun lalu, Menteri Komunikasi dan Informatika Mohammad Nuh melontarkan wacana pembangunan saluran sambungan telepon di 38.000 desa di seluruh Indonesia. 

Proyek ini sempat terkatung-katung. Beruntung persaingan bisnis telepon seluler makin ramai. Selain perang tarif yang menguntungkan konsumen, operator seluler mulai menggarap cerukan pasar yang belum terlayani, termasuk bagian dari daftar panjang 38.000 desa program USO (Universal Service Obligation) — program pungutan pemerintah senilai 0,75 persen pendapatan kotor setiap perusahaan jasa telekomunikasi yang menggunakan frekuensi sebagai media jasa mereka.

Apakah ini pertanda bahwa kelak ponsel memang untuk semua orang di Indonesia, tentu butuh waktu. Yang jelas, operator-operator kini mulai menggarap pasar kota-kota kecil serta perdesaan. Bukan karena adanya program pemerintah, tapi dengan pasar perkotaan yang padat dan persaingannya sangat ketat, investasi untuk membangun BTS di wilayah pinggiran dan menggarap pasar masyarakat perdesaan tentu bukan pilihan yang salah. 

Sementara dari sisi gadget ponsel, para produsen kini juga mulai melirik pasar yang lebh massal ini. Ponsel untuk kelas atas dan sebagai produk untuk memenuhi gaya hidup modern memang sudah ada target pasarnya, tapi ponsel sebagai perangkat fungsional jutsru mempunyai peluang yang lebih besar.

Itu sebabnya, sebagian produsen ponsel dunia sekarang berinovasi melahirkan ponsel-ponsel murah, bahkan dengan harga jual sekitar Rp 300.000 cukup untuk digunakan sebagai perangkat komunikasi, baik suara maupun pesan singkat SMS.

Fenomena yang kita tangkap sekarang adalah sebuah ponsel dengan harga Rp 1 – 1,5 juta juga sudah memiliki berbagai kemajuan dan fitur teknologi mutakhir, seperti ponsel-ponsel buatan China yang lengkap, bukan lagi hanya sebagai perangkat teleponi, melainkan gabungan sebuah kesatuan fitur lengkap, baik personal digital assistant (PDA), kamera digital, teve dengan penerima analog, maupun fitur lain yang jauh lebih lengkap dibandingkan yang ditawarkan ponsel dibuat merek-merek dunia, seperti Nokia, Sony Ericsson, Motorola.

Untuk produk murah Cina memang jagoannya. Mereka meluncurkan beberapa merk ponsel sekaligus, sebut saja ZTE, D-One, atau K-Touch. Khusus untuk yang terakhir di Cina memiliki nama asli Tianyu. Ada juga yang barangnya masuk Indonesia memakai brand Indonesia (Hi-Tech). Selain desain yang umumnya menarik, hal lainnya yang sangat menonjol dari ponsel-ponsel ini ialah harganya yang sangat murah.