Home Blog Page 94

World Gourmet Summit

0

Kuliner mendapat tempat terhormat di World Gourmet Summit (WGS), yang diselenggarakan di Singapura, 11 – 24 April lalu. Inilah pesta para pecinta kuliner ke 14, yang diselenggarakan oleh Peter Knipp Holdings Pte Ltd (PKH), dan didukung Singapore Tourism Board (STB). Wartawan dari berbagai media di seluruh dunia, termasuk saya, menyaksikan kemeriahan pesta kuliner berkelas internasional ini.

Dalam dua minggu tersebut para master chef dari berbagai negara di dunia hadir secara khusus dalam restoran berbintang untuk menyajikan hidangan terbaik dan terlezat kreasi mereka. Tidak hanya itu, acara yang ditunggu-tunggu orang yang bergerak di bidang ‘horeka’ (hotel, restoran, dan katering) itu juga menampilkan berbagai acara yang menarik, mulai dari culinary workshops, celebrity dinners, chocolate dinner, chooclate workshop, gourmet golf experience, chefs’ table luncheons, kitchen party, hingga charity dinner yang diadakan hampir setiap hari.

Memang, di acara tersebut para chef tidak sekadar menghidangkan makanan kreasi mereka, mereka juga membuka diri dengan membagi ilmu dalam workshop kuliner singkat dan masterclass dengan berbagai hidangan ala Eropa dan Asia. Ada dua acara baru yang digelar pada WGS tahun ini, yakni Kitchen Party dan Grandeur of Wines.

Di Kitchen Party para tamu bisa mengenal lebih dekat dengan para chef dan wine expert setelah acara makan berakhir. Mereka bisa mengobrol dan berdiskusi seputar kuliner dan wine, terutama yang berkaitan dengan keahlian para host-nya saat itu.

Ada pun Grandeur of Wines merupakan program yang ditujukan untuk pencinta wine. Selama tiga hari ratusan wine terbaik dari seluruh dunia disajikan dalam gala wine dinner yang berlangsung di dua hotel di Singapura, yakni di Hilton dan Ritz Carlton Milenia.

Program Chocolate Dinner banyak mendapat perhatian, karena di sini pada pecinta coklat bisa merasakan dan mencicipi hidangan karya para master. Mereka adalah Frederic Bau, Gianluca Fusto, Loretta Fanella, berkolaborasi dengan para ahli cokelat lokal untuk menyajikan santapan istimewa dengan sentuhan cokelat.

Di luar dinner tersebut, para master patissiers itu juga berbagi rahasia dalam Chocolate Workshop, yang khusus diadakan untuk mereka yang ingin menambah keterampilan mengolah cokelat atau cake yang berbahan dasar coklat.

Salah satu master patissier di workshop tersebut adalah Chef Gianluca Fusto. Chef asal Italia ini mendemonstrasikan kebolehannya dalam membuat kue yang berbahan dasar coklat. Ada tiga jenis yang diajarkan kepada peserta saa itu, yakni identita, a-qua, dan elementi terra. Yummy!

Photo by Aliona Gumeniuk on Unsplash

WGS juga menghadirkan puluhan master chef dan michelin-star chef dari seluruh dunia untuk menyajikan hidangan terlezat dan terbaik di dunia. Mereka adalah maestro di bidang gastronomi, sebutlah Yong Bing Ngen, Milind Sovani, Alexandre Lozachmeur, Andre Chiang, Pang Kok Keong, Bruno Menard, Dorin Schuster, Frederic Bau, Alfonso Iaccarino, Alex Chow, Dario Barrio, Rostang, Vivek Singh, Ben Shewry, Dieter Kauffman, Hal Yamashita, Greg Doyle, Grant Raja, Oz Clarke, Juan Pablo Felipe, Lai Yau Tim, Ferran Adria, Andrea Berton dan juga Gianluca Fusto, yang diceritakan di atas.

Orang awam mungkin tidak tahu nama-nama tersebut, tapi di kalangan industri F&B, mereka adalah para selebriti. Bintang paling bintang di acara itu adalah Ferran Adria, three-michelin-star chef dari Spanyol, yang bahkan menjadi salah satu ikon pariwisata negara tersebut.

Mantra to Remember

0

Makanan India disajikan ala fine dining, mengapa tidak? Paling tidak, saya sudah membuktikannya ketika datang pada perjamuan makan malam di Yantra, salah satu restoran mitra World Gourmet Summit 2010 di Singapura.

Yantra, yang terletak di dalam Tanglin Mall di 163 Tanglin Road itu, spesialisasinya adalah makanan India Utara. Meski sajiannya tradisional, Yantra dirancang sebagai restoran modern, yang mencoba menyetarakan dengan selera global. Tidak mengherankan, jika restoran itu mempunyai interior yang modern pula, sedikit gelap tapi dengan pencahayaan yang hangat.

Dalam suasana yang romantis itulah saya dan para tamu mencoba beberapa course, yang terbagi dalam empat bagian; kebabs, main course, accompaniments, dan desserts. Yang menarik, semua makanan itu dipadukan dengan champagne, sesuai dengan judul acara malam itu, “Grand Champagne Dinner with Vueve Clicquot”.

Yang disebut kebabs adalah hidangan pembuka, yang terdiri dari makanan kecil, seperti kentang-kentangan yang dibentuk seperti keroket, makanan berbahan dasar ayam, dengan bumbu khas India yang spicy, serta yoghurt. Semuanya dihidangkan dalam satu piring. Agak pedas, dan ini cocok ditemani rose champagne, yakni Veuve Clicquot, Brut Rose NV.

Berikutnya adalah main course, yang terdiri dari tiga jenis, yang dihidangkan dalam satu piring, yakni Jhinga Galina, Murgh Kibti, dan Irani Gosht. Serta empat jenis yang lain dalam piring berikutnya, yakni Paneer Khurchan, Aloo Sialkoti, Subz Panchmael, dan Dal Yantra.

Pada intinya, hidangan utama tersebut terdiri dari nasi briyani, serta daging-dagingan, dan seafood (udang dan cumi) yang dimasak dengan kare superkental khas India. Yang tidak terbiasa mungkin merasa ‘enek’, tapi dengan sisi pandang yang berbeda, merasakan makanan India boleh jadi merasakan pengalaman yang luar biasa. Sementara rasa pedas (dari cabai dan terutama lada) bisa dinetralisasikan dengan yoghurt – itu sebabnya kare makanan India berbahan yoghurt, bukan santan.

Di hidangan utama ini akan terasa lebih pas kalau dipadukan dengan champagne vintage rose 2002 dan champagne vintage rich 2002. Kesegarannya menetralisir makanan yang oily, spicy, dan pedas itu.

Photo by Andy Hay on Unsplash

Accompaniments, yang terdiri dari Roti dan Aloo Gobhi ki Tehree, agaknya yang paling masuk dengan semua lidah, terutama lidah orang Asia. Juga hidangan penutup yang terdiri dari Motichoor Laddoo, Meweywala Malai Putha (panekuk), dan Gaajar ka Halwa (puding wortel).

Tapi makan ala fine dining memang tidak sekadar makan, karena atmosfer ikut membangun suasana makam malam yang nyaman. Dan Yantra – istilah dalam yoga, memang memenuhi syarat untuk itu. Bukan saja dapur modernnya terbukanya yang hanya berbataskan kaca, juga interiornya yang artistik, tapi musik yang mengiringi makan malam tersebut membuat suasana romantis. Irama Bollywood tapi dalam versi modern, ada ketukan tabla yang berulang-ulang seperti mantra. A night to remember. (Burhan Abe)

Age (is) just the Number

0

Kapan seorang clubber harus pensiun? Tidak ada aturan yang baku tentu, seperti pegawai negeri, misalnya. Tapi yang jelas, usia tidak pernah bohong, semakin tua usia kita makin sulit menikmati musik-musik ala klub – sebutlah house, yang kemudian berevolusi menjadi trance, hardcore, jungle, progressive, dan seterusnya.

Maklum, musik yang mulai dikenal sejak awal 1980-an yang bermuasal dari “kiblat hiburan” – sebutlah klub-klub di Ibiza, Italia, dan London, yang kemudian mewabah ke seluruh dunia itu, mempunyai ketukan yang cepat, bahkan lebih cepat dari denyut jantung kita. Itu sebabnya, orang-orang yang sudah mulai uzur agak susah mengikutinya. Untuk menyamakan ritme musik tersebut, ada yang mendorongnya pakai, amit-amit, drugs.  

Tapi tentu ada perkecualian, bagi partygoers sejati, datang ke klub-klub adalah wajib hukumnya. Mungkin musiknya disesuaikan dengan eranya ketika mereka masih muda. Misalnya Classic Disco, atau party dengan tematik “Zona 80”, misalnya.  

Saya punya teman perempuan, yang meski usianya sudah melewati kepala empat, tetap saja clubbing. Paling tidak, sebulan sekali, pengusaha di bidang IT tersebut, selalu menghabiskan malamnya di sebuah klub. “Boleh dong sekali-sekali saya menikmati kesenanngan bersama teman-teman, sekadar melepaskan stres,” katanya.  

“Apalagi, sehari-hari saya sudah mengerjakan tugas kerumahtanggaan dengan baik. Suami tercukupi kebutuhannya, urusan anak-anak juga beres. Boleh dong saya menikmati hasil keringat saya sendiri dengan menghibur diri,” lanjut ibu dua orang anak itu.  

Perkecualian juga datang dari para pekerja yang memang berhubungan dengan dunia hiburan. Entah itu pemilik, pengelola, artis, atau bahkan pewarta, dan fotografer yang mengabadikan peristiwa tersebut. Dengan kata lain, profesilah yang membuat seseorang berhubungan dengan dunia hiburan dan dunia malam!  

Dua orang teman saya bisa menjadi contoh. Yang satu, sebutlah Ipik Tanoyo, dikenal sebagai wartawan “tiga zaman”, sebab dari dulu selalu menulis dunia hiburan (dan musik), yang membedakan adalah nara sumbernya. Mulai dari zaman Koes Plus hingga D’Massive. Mulai dari Broery Pesulima hingga Vidi Aldiano. Yang satu lagi, sebutlah Rasjid Ganie, mewartakan dunia malam sejak zaman Ebony hingga Immigrant. Profesilah yang mengharuskannya ke luar malam setiap Jumat dan Sabtu. Ya, mereka adalah senior yang selalu update dengan dunia yang digelutinya. Tua-tua tapi keladi, kagak ade matinye!  

Lalu saya teringat teman yang lain, Frans Sartono, wartawan musik senior, yang menulis be bop yang “jadul” hingga hip hop yang masa kini. Dia juga menulis seorang pendiri Prambors, Malik Syafei Saleh, yang kini berusia 56 tahun. Bayangkan usianya tergolong “pensiun”, tapi masih mampu mengelola radionya “kawula muda” alias ABG.  

”Age (is) just the number. Young is forever”. Begitulah tulisan itu terbaca di pintu masuk ruang siar Radio Prambors di lantai 20, gedung Ratu Plaza, Jakarta, yang tahun ini memasuki usia 39 tahun.  

Terus terang, saya terkesan dengan tulisan tersebut, yang menurut anak gaul sekarang “gue banget”. Lalu, saya posting di Facebook. Komentar teman-teman sangat beragam, ada memberi jempol, ada yang bilang “I like this a lot!”, tapi ada juga yang berkomentar sadis, “Ini status ngeles, mencari pembenaran…” atau “tanda-tanda menolak ketuaan.” Apa boleh buat!  

Jadi, pada saat usia berapa orang harus pensiun? Masing-masing perusahaan memiliki ketentuan yang berbeda. Tapi di dunia entrepreneur, umur tidak menjadi patokan utama, nyatanya Malik Syafei Saleh, salah seorang pendiri Prambors yang saya ceritakan di atas, yang telah menginjak usia 56, masih saja aktif. Martha Tilaar mengawali usaha kosmetiknya pada usia 46 tahun, untuk contoh di dunia bisnis. Kalau mengambil contoh global, Ray Kroc ketika memutuskan mengembangkan McDonald usianya sudah 52 tahun.  

Artinya, tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu. Pada usia berapa pun kita bisa melakukan apa saja, kalau memang pilihan hidup kita mengharuskan begitu. (Burhan Abe)  

AJ Magazine, April 2010

Medical Tourism Gaining Popularity

0

A tour is all about pleasure. Even when one is not in the best of health a tour can be helpful, especially since domestic medical services are not on a par with those offered abroad. Indeed, the medical tour has become another important element in traveling.

People from highly developed countries also go on medical tours to countries less developed that their own. This is because such countries now have the sophisticated and high quality hospitals and medical equipment. Moreover, the services provided in some Asian countries cost less than in countries like America.

Due to the high quality of services that are less costly, numerous patients travel to Asia to be treated in countries such as Thailand, Singapore, India and Malaysia.

According to the Deloitte Centre, some six million American citizens will visit such countries for medical purposes this year, while the figure for 2017 is forecasted to reach 15,750,000. The current revenue of US$16 billion is expected to increase 325 percent to $68 billion within the next two years.

Malaysia, for instance, is one of the Asian countries to enjoy foreign exchange income from medical tours. According to The Star newspaper, this sector has certainly boosted the country’s economy.

Malaysian Tourism Ministry data show that while in 2001 only 75,210 foreign patients visited Malaysia, the figure rose almost four times to 296,687 in 2006 with an income of 60.31 million ringgit (Rp 195 billion). The Malaysian Hospital Association predicts that this sector will contribute Rp 1.78 trillion in 2010 from 625,000 foreign patients.

According to Frost & Sullivan Indonesia country director Eugene van de Weerd, medical tourism has made a significant contribution to the economies of the aforementioned countries and has become a vital component in the planning and development of medical services there. “The market value of medical tourism in India, Singapore, Thailand and Malaysia reached no less than $3 billion in the years 2007 and 2008, while the estimate for 2012 is $4.4 billion,” he said.

In view of this promising potential, one should not be surprised at the all-out efforts by Singapore in managing its medical tourism. Many countries acknowledge that Singapore’s medical facilities are the best in Southeast Asia.

To enhance the country’s medical expertise, both the government of Singapore and private hospitals as well as leading medical centers in the country jointly seek breakthroughs. The medical centers are as follows: John Hopkins University Hospital, Pennsylvania University Medical Center, Stanford University Hospital, Massachusetts General Hospital and Kaiser Permanente.

Why Singapore? Most countries respect the medical services provided by hospitals in this country. Both private and government hospitals there are equipped with the latest medical equipment and most have become a benchmark for hospitals in the ASEAN region.

B’Day Party

0

DULU kita susah mengingat-ingat hari ulang tahun seseorang, teman atau kerabat kita. Tapi kini melalui Facebook setiap hari kita selalu diberi tahu siapa saja yang ulang tahun hari ini, bahkan besok atau dua hari ke depan – asal mereka menjadi “teman” kita dan memberi data kelahirannya.

Internet menjadikan hidup menjadi mudah. Revolusi teknologi informasi itu pula mengubah keseharian kita saat ini. Bangun tidur di pagi hari, kita langsung menyambar BlackBerry (bukan kotan pagi seperti dulu), melihat 140 karakter yang bertebaran di dunia Twitter, menulis kata-kata atau menjawab pertanyaan di jejaring informasi tersebut. Setelah itu aktivitas beralih ke Facebook yang memungkinkan orang-orang bergabung di dalamnya, berkomunikasi, termasuk mendapatkan info-info terkini – termasuk informasi ulang tahun teman-teman kita.

Dampaknya, kita makin sering diundang makan, atau bahkan party. Sebab, selain kita mengucapkan selamat ulang tahun, tak lupa, menagih traktiran. Ulang tahun adalah hari kelahiran seseorang, menandai hari dimulainya kehidupan di dunia. Dalam kebudayaan Indonesia, dan tentu banyak negara yang lain, peringatan ulang tahun ditandai dengan pesta, mengundang makan keluarga dan teman-teman, sebagai rasa syukur kepada Tuhan karena diberi panjang umur.

Memang, pesta hanya salah satu cara berterima kasih kepada Yang Memberi Hidup. Meski sebagian yang lain suka memperingati ulang tahunnya dengan menyepi dan merenungi hidup – bahwa umur sebenarnya bukan bertambah tapi justru berkurang.

Tapi yang dilakukan oleh mungkin kebanyakan orang, merayakan ulang tahun, dengan pesta, tentu tidak salah. Berusia panjang adalah prestasi, karena kita berhasil menjaga badan kita tetap survive di dunia, meski kematian adalah takdir Yang Maha Kuasa. Merayakan, dan membagi keriaan, kategorinya adalah amal. Lho?

Intinya sih, kalau dasarnya memang partygoer, mendapat undangan pesta selalu menyenangkan. Itu pula yan terjadi beberapa waktu yang lalu, ketika sebuah undangan masuk ke inbox Facebook saya. Pengirimnya adalah Martha Lory Fransisca, manajer PR Plaza Hotel Group. Ya, sebuah pesta perayaan ulang tahun akan digelar di tepi kolam renang Apartemen Golf Pondok Indah, Jakarta. Martha’s B’Day Pasta & Grill! Dress code-nya white T-shirt & short slipper. Bikini are most welcome!

Photo by Taylor Simpson on Unsplash

Pesta yang seru pastinya, apalagi lokasinya di tepi kolam renang. Udara terbuka, busana kasual, pasta, bir, dan wine. Wow!

Sudah sangat jarang saya menghadiri pesta ulang tahun, dan acara yang diadakan Martha awal April lalu menjadi semacam jeda yang mengasyikkan di tengah-tengah kesibukan sebagai warga kota Jakarta. Mungkin itu pula yag dirasakan para undangan yang lain, termasuk para anggota HAM (Himpunan Anak Media) – journalist network yang sore itu diwakili Hadi Suwarno, Shalfi Andri, Trisnia Anchali, Stallone Tjia, Gita Narasati, dan Hendro Situmorang.

Byuurrr!!! Pesta ulang tahun itu diakhiri dengan penceburan yang empunya hajat ke kolam renang. Lumayan, cukuplah untuk mendinginkan tubuh dari udara panas Jakarta. Happy b’day! (Burhan Abe)

Une Goutte de Lavaux

0

Wine adalah salah satu minuman paling populer di dunia, bahkan sejarahnya sudah dimulai sejal 5.000 tahun yang lalu. Minuman beralkohol ini terbuat dari sari anggur jenis Vitis vinifera yang biasanya hanya tumbuh di area 30 hingga 50 derajat lintang utara dan selatan. Ada pun negara-negara yang membuat anggur terbanyak (menggunakan data tahun 2000) adalah Prancis, Italia, Spanyol, Amerika Serikat, Argentina, Jerman, Australia, Afrika Selatan, Portugal, dan Chili.

Swiss memang tidak termasuk “the big ten” di dunia. Tapi negara yang dibatasi oleh Jerman, Perancis, Italia, Austria dan Lienchtenstein ini, termasuk penghasil wine terbaik di dunia. Itu sebabnya, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ketika ada undangan wine tasting di Marché Restaurant, Plaza Senayan, Jakarta, 25 Maret lalu.

”Une goutte de Lavaux“ (tasting Lavaux) diselenggarakan dalam rangka Semaine de la Francophonie (Pekan Bahasa Prancis) yang dirayakan di berbagai negara setiap akhir Maret.

Sebagai negara yang aktif di Organisasi Francophonie, Swiss melalui Kedutaan Besarnya di Indonesia turut serta merayakannya di Jakarta dengan memperkenalkan Lavaux sebagai daerah penghasil minuman anggur berkualitas dari Swiss.

Lavaux mempunyai penduduk yang mayoritas berbahasa Prancis. Daerah ini dikenal dengan perkebunan anggur berbentuk terasering yang sudah dirintis oleh para biarawan setempat sejak abad ke-11. Perkebunan anggur dan produksi minumannya ini telah menjadi tradisi turun-temurun dan menjadi bagian dari kebudayaan setempat. Tradisi yang telah berlangsung lama dan terjaga dengan baik hingga kini, menjadikan Lavaux sebagai salah satu World Heritage (Warisan Dunia) yang diakui UNESCO sejak 2007.

Selain icip-icip winedari Lavaux, Presiden dari Lavaux Foundation, Bernard Bovy malam itu memberikan presentasi

mengenai Lavaux dan pengetahuan dasar produk wine beserta cara mengonsumsinya. Ya, ritualnya tidak berbeda dengan kalau kita menikmati wine pada umumnya. Tapi kali ini kita seakan-akan dibawa ke kebudayaan Swiss lebih mendalam.

Swiss adalah negara kecil yang cantik, luasnya tak lebih dari 41,285 kilometer persegi. Dari luas wilayah negara tersebut, sekitar 64,5% merupakan wilayah produktif, yakni 22,87% adalah lahan pertanian, 1,7% merupakan areal kebun anggur dan kebun buah-¬buahan lainnya, 13,6% adalah daerah padang rumput, dan sekitar 26,24% merupakan daerah hutan.

Negeri produsen jam tangan ini mempunyai iklam yang sedang-sedang saja, tapi bisa amat berbeda di antara beberapa tempat, dari kondisi amat dingin di atas puncak gunung hingga iklim Mediterania yang sejuk dan menyenangkan di daerah Selatan Swiss.

Musim panas cenderung hangat dan kadangkala lembab dengan hujan yang sekali-kali turun sehingga menjadi amat ideal bagi padang rumput. Musim dingin di pegunungan diwarnai dengan matahari dan salju, sementara di tanah yang lebih rendah cenderung lebih berawan dan berkabut pada musim dingin.

Chinese Calligraphy Imparts Wisdom

0

There is no reason for the Republic of Indonesia to consider China an “enemy”. Although there is a distinct difference in the mainstream culture of the two countries, it does not mean that both countries should avoid getting to know each other better. Furthermore, there is a similarity in the history of both countries, one of which is the Islamic influence, although in Indonesia Muslims make up the majority of the population while in China they are a minority.

What is interesting is that Islam, which made its entry in China in the seventh century, has left its mark on Chinese civilization, which in later years shared similarities with Indonesian culture. Anthony Garnaut, an expert on the relationship between China and Islamic culture, wrote about the Islamic contribution to the country in The Islamic Heritage in China: A General Survey. In China, Islam influenced technology, sciences, philosophy and the arts, he wrote.

According to Garnaut, one of the most visible Islam influences in China is in its architecture as can be seen in ornaments and calligraphy. Historical records reveal that the first mosque was built in the seventh century during the Tang dynasty (618-907).

The unique thing about this mosque is that it is of traditional Chinese architecture. The Chinese are also familiar with Islamic calligraphy, which in China is referred to as sini. Most sini can be found in mosques in the eastern part of China, while a leading sini creator is Hajji Noor Deen Mi Guangjiang.

In Indonesia, there is also a mosque that was built using Chinese architecture, namely the Mohammad Cheng Hoo mosque in Surabaya. Cheng Hoo was a Chinese Muslim who is often referred to as the Columbus of China because he led China’s Treasure Fleet on six expeditions across the Indian Ocean and Western Pacific. While in almost all Indonesian mosques the calligraphy is Arabic, the Cheng Hoo mosque has much Chinese calligraphy.

There are also three plaques with Chinese calligraphy at Lautze mosque in Central Jakarta, which was given by an imam from the Beijing Islamic Council. Chinese calligraphy is one of the oldest calligraphies in human civilization and the wisdom and philosophy of renowned philosophers such as Lao Tze and Confucius can still be seen in calligraphic inscriptions.

People here began to learn more about Chinese calligraphy during the country’s reform era. One can usually find such calligraphy, with philosophical content, on plaques on the walls of homes or stores belonging to the Chinese. Sometimes the content is also used in greetings, such as weddings, birthdays and condolences messages.

History records reveal that in ancient times the Chinese used pictures to communicate, which were then turned into symbols, lines or curves to indicate the item referred to. These symbols, lines and curves were later the basis of what we know today as the Mandarin language. For calligraphy, the lettering was certainly enhanced.

The Chinese have a natural talent in producing calligraphy and previously used it for communication through calligraphic silk scrolls. Calligraphy also enjoys a respectable position in the eyes of the Chinese people, which is why calligraphic silk scrolls often adorn the walls of Chinese homes. Everyone surely agrees that Chinese calligraphy is a highly creative work of art and is highly esthetic as no single work resembles another. Chinese calligraphy has gained worldwide appreciation.

In Indonesia, Chinese calligraphy has also developed in recent years as there are now calligraphic courses available in the country. Students are generally of the older generation, who appreciate the art and the physical movement when drawing with the brush. The whole process is interesting to them because they have to concentrate fully and have peace of mind.

Unfortunately, the raw materials for Chinese calligraphy are rare here, such as the paper, the brushes and the ink, which must be imported from China, or even Japan, Korea or Singapore. However, it does not dampen their spirit in continuing to create to preserve the ancient culture. (Burhan Abe)

The Jakarta Post, April 13, 2010

Passage to Malaysia

0

Malaysia is a familiar country to most Indonesians. It is only a short distance away by plane and the country’s Malays belong to the same race as Indonesians. Of course, Malaysia does not have the Borobudur temple, but the country, which is 329,847 square kilometers in area and has a population of 27 million, has one modern artifact, namely the Petronas Twin Towers. The 88-story towers are also called KLCC (Kuala Lumpur Convention Centre). They were built in 1988 and were the tallest buildings in the world until Taipei 101 was built in 2003.

KLCC is more than a concrete and glass building. The pride of the city is located in the heart of Kuala Lumpur and has an officials’ compound, convention board, a huge park and a modern business center. The towers were designed by Argentine Cesar Pelli, who was inspired by the geometric design often used in Islamic architecture, under the consultancy of Julius Gold.

Obviously KLCC is one of the major tourist attractions in Malaysia, especially Kuala Lumpur. The twin towers, which are the icon of the country, have unique tourist attractions, such as Aquaria, like Sea World in Ancol, Jakarta, and shopping malls. One of the most popular malls is Suriah, which is the favorite destination of shopaholics from many countries, including Indonesia.

Kuala Lumpur has become the favorite destination for those looking for top branded items. Next to KLCC, Bukit Bintang also called Bintang Walk, is another popular shopping destination. Here you can find traditional shops as well as modern boutiques. Many Indonesians seek Vincci shoes, which is Malaysia’s top brand for shoes sold at affordable prices.

Besides Kuala Lumpur there is also Sunway Pyramid in Petaling Jaya, where one can find a luxury mall. Here there are many programs during the year-end and branded items are sold at discounted prices. Apart from Indonesian tourists who visit, there are a great number of Indonesian students staying in this area, so it is not surprising to find numerous Indonesian restaurants around the mall.

There is also an outdoor park, called Sunway Lagoon Theme Park. One of the favorite parks for visitors is the water park, which resembles the water boom in Lippo Cikarang or the water park in Ancol, Jakarta. Also found here are an extreme park, scream park, wildlife park and amusement park just like Dreamland in Jakarta, but they are smaller in size. One can also find the Sunway Resort, so the whole area becomes an attractive integrated destination for the entire family.

A shopping trip is not complete without the uniquely Malaysian pewter accessories and jewelry made by Royal Selangor, which is finely made and famous worldwide. In the early days of Royal Selangor, the pewter was polished with “stone leaf” (tetracera scandens), a wild tropical leaf, to give it better shine. Royal Selangor, due to the fine craftsmanship, received recognition as DiRaja from Sultan Selangor, and was later recognized as Royal Pewter.

One of the attractions for tourists here is the School of Hard Knocks, where they are given a piece of pewter to make into any shape they want. Another tourist attraction is the world’s largest beer mug, which has been recorded in the Malaysia Book of Records and the Guinness Book of Records. The mug is 1.987 meters tall and weighs 1.577 kg and can hold 2,976 liters of beer. The mug has been exhibited in many countries, including Canada, Australia, Singapore and China.

Photo by Eldines Hoo on Unsplash

Kuala Lumpur is indeed the starting point, but do not forget other interesting areas, such as Putrajaya, 30 kilometers away. It is the country’s third federal territory after Kuala Lumpur and Labuan. Here is the headquarters of the Malaysian government, just like Canberra in Australia. This was an ambitious project of former prime minister Mahathir Mohamad, who is believed to have spent more than US$6 billion establishing the city. The Putrajaya master plan commenced in 1993 and today most of the government offices have moved to this new city.

The Art of Cooking

0

Siapa yang tidak suka makan? Inilah kegiatan yang paling disukai semua orang, dan menjadi wartawan mempunyai peluang yang lebih besar untuk mencoba berbagai jenis makanan. Salah satu jenis makanan favorit saya adalah chinese food. Yup, jenis makanan ini tidak pernah membuat bosan, apalagi variasinya banyak sekali.

Ketika ada undangan dari JW Marriot Hotel Jakarta untuk melakukan icip-icip makanan Oriental tersebut, 11 Maret lalu, so pasti, saya tak kuasa saya menolaknya. Gerimis yang mengguyur Ibu Kota sore itu, yang pasti menimbulkan kemacetan di mana-mana, tidak menjadi halangan para undangan – para wartawan (kuliner dan gaya hidup). Tempat memang berubah, yang tadinya di outdoor terpaksa pindah ke ballroom hotel.

Kali ini yang menu yang dicoba adalah hidangan ala Cantonese. Lengkap, mulai dari sup, salad, aneka dim sum, seafood, hingga dessert. Hmmm…

Memang bukan tanpa alasan kalau Chef John Chu dari Pearl Chinese Restaurant menunjukkan kreasi terbarunya, makanan tradisional Cantonese yang gaya penyajiannya modern. Tapi bertepatan dengan hari ke-15 setelah jatuhnya Tahun Baru Cina atau yang dikenal dengan Imlek.

Salah satu hidangan istimewanya adalah Pecking Duck dan Spring Chicken. Bebeknya terbaik didatangkan dari China. Sedangkan pencinta seafood John Chu memanjakankan para tamu dengan Crispy Potato Coated with King Prawn & Wasabi Mayonnaise yang berupa Lobster and Clam with Spicy Ginger Sauce, yaitu perpaduan lobster dan kerang yang dimasak bersama spicy ginger sauce yang pedas, atau King Prawn yang dimasak dan dibalut saus wasabi mayones yang pedas manis.

Para penggemar mi pasti senang dengan hidangan Egg Noodle. Yang tidak biasa, mi telur ini potongannya kecil-kecil tipis menyerupai bihun, teksturnya lembut kenyal dengan topping berupa irisan ayam yang dibalut dengan XO sauce yang khas dan lezat. Kuah hangat dengan pangsit menjadi pelengkap yang pas.

Dim sumnya tidak sangat bervariasi, terdiri dari bakso ikan, siew long pau, crispy prawn roll with katafi and prawn, beserta aneka dim sum lainnya yang disajikan dalam bentuk luc (cute dim sum). Kesemua dim sum ini bisa dinikmati fresh, karena langsung dibuat saat dipesan. Cocok untuk acara Sunday Yumcha.

Hidangan penutup tidak kalah menariknya. Selain aneka jajanan kecil, ada puding kelapa yang tempatnya buka di gelas atau piring, tapi dimasukkan ke dalam kelapa (Bangkok) itu sendiri.

Makan memang tidak sekadar memasukkan makanan ke dalam mulut, tapi ada seninya mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, hingga table manner-nya. Chef John Chu, asal Malaysia yang sudah 17 tahun lebih berkecimpung dalam bidang kuliner dan industri hospitality menunjukkan kepiawaiannya dalam the art of cooking. Bon appetite! (Burhan Abe)

Gadget and Party

0

Sebuah gudang di tepi sungai Chao Praya, Bangkok. Bangunan masif itu biasanya sepi, apalagi kalau malam hari. Tapi 22 Februari 2010 lalu mendadak menjadi arena party. Seorang DJ memainkan musik house yang memecahkan kesunyian, meja cocktail, termasuk wine, digelar. Para tamunya adalah para wartawan yang datang dari negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Begitulah cara Nokia menggelar acara yang diberi tajuk “Showcase Nokia 2010”. Ajang tahunan ini memang selalu menjadi buah bibir para gadget freaks, yang beritanya didapat dari tulisan para wartawan telekomunikasi (dan gaya hidup). Berbagai produk baru dipamerkan di ajang bergengsi itu, tapi tahun hanya satu model yang dipamerkan, yakni Nokia N900, smartphone pertama di dunia yang menggunakan Linux Maemo 5 itu. Wilayah SEAP (South East Asia-Pacific)—negara-negara ASEAN plus Australia, Selandia Baru, dan Banglades—menjadi tujuan pemasaran N900 setelah Eropa dan negara besar lainnya.

Tapi yang menarik, selain perkenalan ponsel seri terbaru tersebut, perusahaan asal Finlandia itu memperkenalkan solusi terbaru yang tersedia lewat koleksi perangkat komunikasi terkini dan layanan OVI-nya. “Ponsel saat ini bukan sekadar device, tapi juga harus dibarengi dengan kecanggihan software-nya,” ujar Chris Carr, Vice President Sales Southeast Asia Pacific.

Harus diakui, dunia perponselan selalu berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Kalau dulu hanya untuk berhalo-halo, ponsel masa kini harus mempunyai yang mempunyai kemampuan komunikasi data – yang terintegrasi langsung dengan internet. Tidak hanya ponsel hi-end, yang termasuk kategori low-end pun juga demikian. Tidak bisa dimungkiri, kehadiran BlackBerry dan iPhone, dan kini ponsel yang berbasis Android, mengubah peta pasar ponsel dunia.

Produk-produk tersebut di ataslah yang kini mulai menantang Nokia, terutama untuk kategori smartphone-nya. Sementara untuk produk kelas bawahnya, Nokia juga harus bersaing dengan ponsel-ponsel China yang murah meriah. Tidak hanya ponsel hi-end, yang termasuk kategori low-end pun juga demikian. Tidak bisa dimungkiri, kehadiran BlackBerry dan iPhone, dan kini ponsel yang berbasis Android, mengubah peta pasar ponsel dunia.

Memang, Nokia saat ini masih tercatat sebagai pemimpin pasar ponsel di dunia. Tapi inovasi harus terus dilakukan agar tidak tergerus oleh para pesaingnya, bahkan para pendatang baru yang menawarkan sesuatu yang berbeda dari ponsel yang selama ini ada di pasar – baik dari segi gadget (hardware) maupun services dan aplikasi (software)-nya.

“Conecting People” bagi Nokia bukanlah sekadar slogan kosong, tapi merupakan kata kerja, yang terus menerus dinamis dan inovatif. Dan itulah yang dilakukan Nokia pada Showcase 2010 di Bangkok.

Memang, memperkenalkan sesuatu yang baru tidak harus membuat kening berkerut. Itu sebabnya, acara di Warehouse Thai River Marina Bangkok itu menurut saya meninggalkan kesan yang mendalam. Pameran, presentasi, yang dikemas dalam suasana “dugem” membuat “dunia IT” menjadi sesuatu yang fun.

Dalam suasana yang fun pula, dalam perhelatan yang dihadiri oleh lebih dari 150 media tersebut, Nokia juga membeberkan pengetahuan yang lebih mendalam mengenai Ovi Maps versi barunya, pun dengan latar belakang desain digital sebagai bagian program untuk media selama dua hari. (Burhan Abe)