Home Blog Page 94

80s Never Die

0

Bukan, kita2 bukan kumpulan manula usia 80-an. Belum setua itulah, cing. Walopun emang masa jaya kita2, saat2 bisa nglakuin apa aja nggak pake mikir panjang, udah lewat…

Blog ini didedikasikan untuk mengenang taon2 yang indah itu. Dekade 80-an! Biar aja orang pada bilang norak, jadul, najong, memble… yang penting kita2 tetep merasa kece dan juga hepi bisa bernostalgia. Oke, coy!

ITULAH pengantar blog lapanpuluhan.blogspot.com, salah satu blog yang mewadahi komunitas angkatan 1980-an. Anggota milisnya sampai saat ini, menurut Mohammad Baihaqi (35 tahun), yang membangun situs pertemanan itu sejak 2005, sudah 1.800 orang dari seluruh dunia.

Berawal dari kecintaannya terhadap masa 1980-an, pria 35 tahun ini membangun komunitas tersebut. Blog dan milis ([email protected]) menjadi ajang interaksi mereka mengenang berbagai penanda zaman 1980-an yang sempat mereka alami dulu.

Mulai dari diskusi tentang musik, film, acara TV, gosip selebriti, makanan, mainan, hingga membahas tingkah para pejabat tinggi era itu. “Era 1980-an adalah masa saat hampir semuanya seragam karena belum banyak pilihan. TV cuma ada satu, film, musik, komik, sampai jenis permainan di sekolah, semua sama. Jadi, kami bisa sharing,” kata Baihaqi kepada Kompas.

Ia menyebut acara TV di era itu adalah Si Unyil, Rumah Masa Depan, Losmen, dan acara musik Aneka Ria Safari atau Selekta Pop. Ada juga serial The Legend of Condor Heroes, tapi kalau nonton di video masih berformat Beta. Acara lain di TVRI yang juga menjadi andalan adalah film Warkop, dan penampilan Rhoma Irama.

Angkatan 1980-an juga pasti kenal lagu Di Dadaku Ada Kamu ciptaan Dodo Zakaria yang dinyanyikan dengan centil oleh Vina Panduwinata (yang sampai sekarang masih eksis dan konsernya beberapa waktu yang lalu tergolog sukses dengan audiens terbanyak tentu komunitas 1980-an). Atau Tak Ingin Sendiri dari Dian Piesesha serta Hati yang Luka yang dipopulerkan Betharia Sonata.

Sementara untuk kelas internasional, komunitas 1980-an juga akrab dengan penyanyi Michael Jackson yang dijuluki King of Pop. Selain itu ada Madonna, Bananarama, Michael Jackson, MC Hammer, Whitesnake, Blondie, Lionel Richie, Diana Ross, Bon Jovi, Wham!, Pink Floyd, Milli Vanilli, Paula Abdul, A-Ha, dan seterusnya.

Untuk kategori film ada The A-Team, Top Gun yang melejitkan nama Tom Cruise, dan Saturday Night Fever (walaupun rilis tahun 70-an) yang melambungkan nama John Travolta. Yang tidak kalah populernya saat itu adalah The Breakfast Club, St. Elmo’s Fire, Sixteen Candles, Dirty Dancing, Indiana Jones and Raiders of The Lost Ark, Risky Business, American Gigolo, When Harry met Sally, Friday the 13th, Nightmare on Elm Street, E.T., Rain Man, dan lain-lain.

Ya, setiap generasi punya zamannya sendiri. Bagi generasi 1980-an, waktu yang terentang antara tahun 1980 hingga 1989 adalah masa-masa yang tak terlupakan. “Itu adalah masa-masa indah yang memberi kesan mendalam dalam hidup saya,” ujar Rian Sudiarto (46), pemimpin perusahaan sebuah penerbitan.

What’s hot in the 80’s?

Masa itu, menurut alumni Fisipol, Universitas Gajah Mada Yogyarkarta itu, adalah masa transisi dari era lama ke era modern. Permainan kasti dan gobak sodor masih ada, tetapi sudah mulai muncul game watch dan video game.

Cireng di sekolah masih populer, tapi mulai kenal ayam goreng Kentucky dan American Hamburger. Era ini juga ditandai dengan munculnya diskotek-diskotek di Jakarta, sebutlah Ebony, Musro, Stardust, Earthquake, atau Fire. “Tren itu kemudian diikuti daerah-daerah. Kalau tidak ke disko diangal tidak gaul,” ujarnya.

Malaysia Makin Seronok

0

Malaysia kini sedang gencar-gencarnya menggenjot industri pariwisatanya. Keindahan alam dan kebudayaannya dikemas menjadi paket-paket tur yang menarik. Negeri jiran itu boleh saja tidak memiliki Candi Borobudur, tapi dengan Menara Petronasnya di Kuala Lumpur, sebagai bangunan menara tertinggi di dunia (452 meter), kini juga menjadi salah satu “keajaiban dunia” cukup ampuh untuk menyedot para wisatawan yang datang dari berbagai pelosok Bumi.

Selain pembangunan kawasan-kawasan modern yang potensial menjadi tujuan wisata baru, sebutlah Genting yang dikenal sebagai pusat judi dan hiburan di Asia Tenggara. Pemerintahan Malaysia juga rajin membuat event-event yang diperkirakan bisa menarik wisatawan mancanegara. Sebutlah Malaysia Mega Sale Carnival, Festival Pentas dan Konser Musik Arab KL Samrah, Kompetisi Kembang Api Internasional Malaysia, Bulan Perayaan Hari Kemerdekaan Malaysia, Rainforest World Music Festival di Sarawak, dan lain-lain, yang diselenggarakan tahun ini.

Itulah gebrakan-gebrakan untuk menarik 22 juta wisatawan yang menjadi target Malaysia pada 2008. Angka tersebut, menurut Director International Promotion Division Tourism Malaysia, Azizan Noordin, bisa dicapai karena hingga Juni lalu saja tercatat 10.96 juta turis datang ke Malaysia.

Atau naik 2,65% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara tahun lalu bertepatan dengan gaung Visit Malaysia Year 2007, angka 20 juta bisa dilewati dengan mulus.

Yang menarik, di hampir setiap gerak kepariwisataan Pemerintah Malaysia selalu menyertakan wartawan dari berbagai penjuru dunia, cara yang tergolong ampuh untuk mewartakan kegiatan tersebut ke seluruh pelosok dunia. Appetite Journey terlibat dalam salah satu kegiatan yang disebut sebagai Mega Familiarisation (Fam) Programme dengan acara utama Festival Flora Malaysia 2008, yang tahun ini dipusatkan di Johor Bahru, 26 Juli lalu. 

Johor Bahru, yang berdiri tahun 1855, terletak di selatan Semenanjung Malaysia. JB, demikian sering disingkat, merupakan salah satu pusat perindustrian, perdagangan, dan pariwisata terbesar di Malaysia. Pariwisata adalah penyumbang utama dalam perekonomian wilayah ini di mana 60% dari para wisatawan yang mengunjungi Malaysia setiap tahun masuk ke negara tersebut dari Singapura yang terhubung dengan JB lewat jalan darat yang bisa dicapai tak lebih dari satu jam. 

Festival Flora di JB merupakan parade tahunan, dalam rangka merayakan warisan kekayaan bunga yang di rangkai dalam sebuah pertunjukan yang menakjubkan, juga menampilkan kreativitas dari masing-masing pesertanya. Meski tidak sekolosal Parade Bunga di Pasadena, AS, inspirasi Festival Flora Malaysia memang dari event tahunan setiap tanggal 1 Januari tersebut. 

Yang jelas, keseriusan Pemerintah Malaysia menyelenggarakan karnaval bunga yang meriah patut diacungi jempol. Acara yang digarap secara profesional ini tidak hanya menjadi rekreasi tersendiri bagi penduduk setempat yang totalnya tak lebih dari 2 juta jiwa, tapi juga para turis asing. Sebanyak 158 partisipan yang terdiri atas wartawan, fotografer dan agen perjalanan dari 16 negara diundang secara khusus dalam acara ini.

Photo by Aril Ismail on Unsplash

Dalam acara yang berlangsung di Dataran Bandaraya ini, dibuka Raja Malaysia Yang Di-Pertuan Agong Tuanku Mizan Zainal Abidin didampingi Perdana Menteri Ahmad Badawi. Parade diikuti 17 mobil hias penuh warna, 15 di antaranya berasal dari negara bagian Malaysia, dan dua lainnya peserta internasional dari Cina dan Makau. Temanya adalah “Colours of Harmony”, merupakan simbol bangsa Malaysia yang multi ras hidup dalam damai dan harmonis. 

Parade diawali dengan tari-tarian yang dinamis. Para penari, pria dan wanita, bergerak lincah mengikuti alunan musik. Ada irama Melayu dengan ketukannya yang khas, juga irama Latin dengan perkusinya yang rancak. Dengan kostum bertema flora, lengkap rumbai-rumbai penghias kepala para penari, serta musik yang meriah tentu saja, mengingatkan pada pawai mardi grass di Rio de Janeiro.

Kekayaan Kuliner

0

Ketika berkunjung ke Malaysia atas undangan Malaysia Tourism Board beberapa waktu yang lalu saya tidak melewatkan untuk berwisata kuliner. Nasi lemak, roti canai, laksa, itulah beberapa nama makanan yang populer.

Di pusat perbelanjaan Suria KLCC (Kuala Lumpur City Center), letaknya di kaki menara kembar Petronas, saya mendapati banyak gerai makan, tak beda dengan foood court yang ada di mal-mal di Indonesia. Sementara di kawasan Chow Kit makanannya lebih ”aman”, terdapat sejumlah restoran Padang dan makanan ala Indonesia. Sebagian penduduk KL menyebut daerah ini sebagai kampung Indonesia.

Seekstrem apa pun, makanan Malaysia agaknya tidak jauh berbeda dengan Indonesia, terutama dari gagrak masakan Melayu yang sama-sama nasi sebagai makanan pokoknya.

Makanan Melayu memang sangat dominan, tapi dengan keranekagaman etnis dan ras, negeri ini memiliki beragam resep masakan yang khas. Secara garis besar masakan Malaysia terdiri atas tiga jenis: masakan Melayu, Cina dan India. Masing-masing punya ciri khas dan rasa istimewa. Selain itu, juga ada masakan pembauran budaya dari masyarakat Nyonya (keturunan) dan India Islam. Sedang menu-menu internasional, macam masakan Eropa dan Mediterania tersedia di restoran-restoran modern. Betapa beragamnya kuliner di Malaysia!

Tapi kalau dipikir-pikir kuliner Indonesia tidak kalah kayanya dengan negeri jiran tersebut, bahkan amat jauh lebih kaya. Bayangkan, ada ribuan pulau, etnis yang mencapai 1.340 suku menurut sensus Badan Pusat Statistik terbaru, serta ribuan gagrak makanan pula tentunya.

Memang, kita hanya mengenal beberapa saja yang populer, karena tidak semua jenis makanan Nusantara sudah terekspos dengan baik. Kalau Anda rajin mengikuti Festival Jajanan Bango, misalnya, tentu akan terperanjat, betapa beragamnya makanan ”pinggiran” yang sudah menjadi menu sehari-hari orang Indonesia.

Untuk mencari yang lebih otentik memang kita harus rajin bertandang ke daerah-daerah langsung. Apalagi, menurut pakar kuliner William Wongso, banyak makanan Indonesia yang tidak bisa dikemas praktis sebagai makanan orang kota.

Itu sebabnya kita harus acungi jempol ketika The Ritz-Carlton Jakarta menggelar festival makanan Indonesia = Samarinda + Bangka, bertepatan dengan hari jadi ke 63 RI, Agustus lalu.

Kalau makanan Jawa, Madura, Sunda, apalagi Padang yang restorannya ada berbagai tikungan jalan, pasti kita sudah mafhum. Tapi kalau Samarinda atau Bangka? Saya yakin hanya sebagian saja yang tahu, minimal pernah mendengar dan melihatnya, apalagi pernah merasakannya.

Beberapa makanan Samarinda memang mengingatkan gagrak makanan lain di Nusantara, tapi percayalah, tetap saja ada yang khas. Sebutlah nasi bakepor, patin bakar, udang goreng karang melenu, satai payau, pindang kepala patin, oseng genjer, atau soto acil aiunun – yang penciptanya memang bernama Acil Ainun, seorang ibu yang jago masak, khususnya masakan Samarinda.

Berlaga tanpa Sejata

0

Berjuang tidak harus memanggul senjata. Apalagi, masa perang memang telah usai, meski ”perang dingin” dalam arti yang lebih luas, selalu menghantui kehidupan berkebangsaan kita. Bersamaan dengan peringatan Kemerdekaan RI, berikut cerita dari medan perang.

Cerita seputar wartawan, apalagi wartawan perang, memang menarik. Sudah banyak film yang mengangkat kehidupan mereka, di antaranya The Hunting Party, film produksi The Weinstein Company yang dibuat tahun 2007.

Film dengan bintang utama Richard Gere ini berkisah seputar dunia wartawan, yang berlatar negara Bosnia Herzegovina. Dengan sudut pandang yang unik, horor dan humor bercampur menjadi satu, ini memang merupakan film satir politik internasional. Tidak hanya dunia jurnalistik, film ini justru yang lebih banyak sindiran keras kepada lembaga-lembaga internasional seperti PBB, NATO dan CIA karena kegagalan mereka menangkap penjahat perang yang paling bertanggung jawab atas pembersihan etnis Muslim Bosnia.

Bertugas sebagai pewarta di tengah desingan peluru pertaruhannya adalah nyawa. Itu tidak hanya dialami Richard Gere dalam film tersebut, tapi cerita nyata juga dijalani Rien Kuntari, wartawan yang sering mendapat tugas untuk terjun ke negara-negara yang sedang bergolak, mulai dari Irak, Afganistan, Rwanda, Kamboja, hingga Timor-Timur.

Wartawan perang, itulah julukan yang sempat bahkan sampai kini melekat pada Rien, padahal perempuan Jawa itu mengaku benci dengan kekerasan termasuk peperangan. ”Inilah profesionalisme yang harus saya jalani,” ujarnya.

Mendapatkan berita yang eksklusif, apalagi dalam area konflik, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam memburu berita tidak jarang wartawan harus mempertaruhkan segalanya; nurani, kehormatan, hujatan, cercaan, kemungkinan gugatan, ancaman, bahkan nyawanya sendiri. Tapi semua dikalahkan demi idealisme dasar kewartawanan itu sendiri, bahwa masyarakat berhak mendapatkan segala informasi yang benar.

Pekerjaan yang dijalani Rien memang tidak dengan senjata, namun risikonya yang tak kalah seramnya dibandingkan tentara yang bertugas di garis depan medan perang. Risiko yang nyata sudah dialami, sekadar menyebut beberapa nama, oleh David Pearl (terbunuh setelah lama diculik di Afghanistan), Robert Capa (tewas di Vietnam), Ersa Siregar (wartawan RCTI, tewas di Aceh), Ernie Pyle (tewas di Okinawa 1945), atau Larry Burrows (tewas di Vietnam). Bahkan di Irak pasca pendudukan AS, konon 70 orang lebih jurnalis meninggal dunia (independent.co.uk).

Risiko kematian boleh menghantui, tapi profesi wartawan memberi kesempatan menjadi saksi sejarah perjalanan umat manusia. Itulah yang membuat para jurnalis terpanggil untuk selalu berada di garda depan dalam konflik kekerasan antar bangsa yang disebut perang.

Jauh sebelum Rien Kuntari, ada Raden Mas Panji Sosrokartono. Dialah wartawan perang asal Indonesia pertama yang meliput Perang Dunia Pertama di Eropa. Setelah menjadi menjadi koresponden – dan menjadi satu-satunya calon yang lulus tes – pada harian The New York Herald, ia ditugaskan di beberapa negara, Belgia, Jerman, Prancis, Swiss, dan Austria, selama kurun waktu empat tahun (1914 – 1918).

Ia berhasil menurunkan artikel tentang proses penyerahan Jerman kepada Prancis. Perundingan antara Stresman yang mewakili Jerman dan Foch yang mewakili Prancis itu berlangsung secara rahasia dalam sebuah gerbong kereta api di hutan Campienne, Prancis, dan dijaga sangat ketat.

Malaysia Joins Cream of the Crop in Health Destination

0

It seems that Malaysia never relents in its efforts to attract foreign tourists. After its success in promoting the country’s beauty through the “Truly Asia” campaign, now it is trying to increase its foreign income by netting customers, or patients to be precise, for its sophisticated hospitals.

Malaysia has for some time viewed and analyzed the success of Singapore in promoting itself as a medical destination. Just like Singapore, where Indonesians comprise 75 percent of foreign patients, Malaysia is also targeting Indonesians in its main strategy. By making Indonesia its main market, Malaysia will be competing head on with Singapore. Indonesia is indeed an attractive market as about 200,000 patients choose to have treatment abroad, with the entire business being worth at least US$600 million annually.

A number of foreign hospitals have affiliated with Indonesian hospitals to get a slice of the lucrative Indonesian market. One such Indonesian hospital is the Medika hospital group, which is a member of the Johor Medical Association or Kumpulan Perubatan Johor (KPJ) Healthcare Bhd Group of Hospitals, Malaysia. The Malaysian partner has invested in building the Medika Bumi Serpong Damai Hospital, which will be located close to Omni International Hospital.

KPJ Healthcare Bhd Group of Hospitals owns other hospitals, namely Medika Permata Hijau and Selasih Padang Hospitals. A number of other foreign hospitals have partnered with local hospitals and are also building new hospitals here.

Today Malaysia is among the top five medical destinations after Panama, which is No. 1, followed by Brazil, Costa Rica and India consecutively. Nuwire Investors Online data on investment opportunities indicate that the countries are ranked based on the quality and capacity of medical services and their willingness to accept foreign investors.

Malaysia offers a number of medical services and procedures, including dental, cosmetic and heart surgery at prices that are much lower than those in the U.S. For both foreign patients and investors, the rate for the Malaysian ringgit is also favorable, while the country’s economic and political situation are stable and the literacy rate is very high.

This Malaysian industry has grown significantly over the past couple of years, with the number of foreign patients in 2006 reaching 296,687 and an income of about US$59 million. The Malaysian Hospital Association predicts the number will grow by an average of 30 percent annually until 2010.

Hospitals-Malaysia.org claims that Malaysia offers a network of hospitals and clinics that are very comprehensive with 88.5 percent of the country’s population living within three kilometers of the clinics or private practitioners.

Sexiest Man Alive!

0

Ikon seksi kini bukan monopoli wanita, pria pun mempunyai peluang untuk meraih predikat tersebut. Apa yang membuat pria menjadi seksi? Jawabannya pasti amat sangat beragam. Yeng terang, kriterianya ternyata tidak hanya fisik semata, setidaknya itulah hasil polling Majalah ME Asia 2008.

Pencarian pria seksi di Indonesia agaknya belum sepopuler pencarian wanita seksi yang kontesnya sangat beragam. Memang beberapa majalah remaja secara berkala sudah menjaring para cover boy, majalah wanita pun sering menggelar pemilihan figur-figur pria idola. Tapi tetap saja itu hanya sebagai ajang tambahan dari hajatan utama yang lebih seru yang objeknya adalah wanita.

Tidak seperti di Amerika, misalnya. Majalah People, untuk menyebut contoh, mempunyai tradisi yang cukup panjang dalam pemilihan pria seksi, bahkan gemanya bisa menyebar ke seantero dunia. Siapa yang tidak tahu ketika aktor Matt Damon dinobatkan sebagai “Pria Paling Seksi” tahun 2007. Ia sebetulnya menolak julukan itu, tapi justru sikap bersahajanya tersebut makin menguatkan majalah tersebut memilih aktor kelahiran Massachusetts, 8 Oktober 1970 itu pada tempat pertama.

Photo by Scorpio Creative on Unsplash

Memang bukan tanpa alasan People menetapkan Damon sebagai pria terseksi di dunia. Ia dikenal sebagai bintang utama film serial “Bourne Identity” yang meraih sukses komersial dan tahun lalu membintangi dua film peraih Oscar, yakni “The Departed” dan “Syriana”. “Rasa humor Damon yang sukar dilawan, kerendahan hatinya dan statusnya sebagai lelaki yang mencintai keluarga yang begitu kokoh membuat dirinya sebagai pemenang yang logis,” tulis majalah itu.

Otomomatis, Damon menjadi orang ke-22 yang menerima julukan pria terseksi versi majalah People. Sebelumnya ada sejumlah nama populer, seperti aktor George Clooney (1997 dan 2006), Brad Pitt (1995 dan 2000), Ben Affleck (2002). Sementara Mel Gibson adalah pria pertama peraih gelar bergengsi tersebut pada tahun 1985.

Memang, kendati ada nama-nama Asia, pemilihan pria terseksi versi People tersebut terkesan ”Amerika centris”. Kandidatnya merupakan bintang-bintang tenar Hollywood. Secara kasat mata para aktor ini sudah terlihat ganteng dan berkarakter. Mungkin bukan susah mencari nominatornya, sebaliknya justru sulit mengeksekusi siapa yang harus dinobatkan menjadi pria terseksi di dunia.

Tapi yang bisa menjadi catatan, ternyata bukan hanya fisik semata, kriteria non fisik agaknya tidak kalah pentingnya. Itu yang terjadi pada kemenangan Damon, juga para pendahulunya.

Hal senada juga diungkapkan oleh John R. Ballew, M.S., L.P.C. Konselor dengan spesialis seksual, relationship dan spirit dari Atlanta Amerika itu menegaskan bahwa ketampanan saja tidak cukup menjadikan pria terlihat seksi, tapi tergantung dari cara ia merawat diri, berpakaian, berbicara, berpikir smart, bergaul, bahkan dalam memberikan kasih sayang pada keluarga dan pasangan.

12 ME Sexiest Men

0

1. Iwan Fals (Musisi)
2. Eros Djarot (aktor)
3. Mathias Muchus (aktor)
4. Ari Sihasale (aktor)
5. Arief Suditomo (news anchor)
6. Mario Wuysang (atlet basket ball)
7. Sandiaga Uno (pengusaha)
8. Takeshi Kanishiro (aktor)
9. Lin Dan (atlet bulu tangkis)
10. Chow Yun Fat (aktor)
11. Abhishek Bachchan (aktor)
12. Dr. Sheikh Muztapar (astronot, Malaysia)

(Source: ME July 2008)

Traveling

0

DALAM kolom hobi saya selalu mencantumkan ”traveling”. Ini memang bukan satu-satunya hobi, berwisata kuliner juga menjadi kesenangan tersendiri. Tidak sekadar makan memang, sebab kegiatan yang satu itu tidak boleh disebut hobi, tapi sudah menjadi keniscayaan sebagai makhluk hidup. Menulis? Dulu pernah menjadi hobi, tapi sekarang menjadi pekerjaan. Membaca? Tidak fair kalau disebut hobi, karena sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pekerjaan begitu kita (tepatnya: saya) memilih profesi menjadi wartawan. Itu kata Goenawan Mohammad loh!

Hobi yang tersisa, apalagi kalau bukan traveling dan berwisata (kuliner), meski keduanya setali tiga uang. Ya, aktivitas yang satu ini sungguh menyenangkan. Meski kalau mau jujur, belakangan ini saya jarang bepergian. Memang, dulu sewaktu menjadi reporter di majalah berita hampir tiap bulan selalu saja ada tugas ke luar kota, mulai dari Aceh hingga Papua pernah saya kunjungi.

Memang sih, kalau untuk liputan ke luar negeri masih bisa dihitung dengan jari. Kendati undangan dari luar negeri bertubi-tubi, dan kebutuhan reportase langsung dari manca negara juga tidak sedikit, jajaran awak redaksi juga tak kalah banyakya. Artinya, masing-masing wartawan ada gilirannya, kapan ia ditugaskan ke luar negeri.

Teman saya sesama alumni UGM Yogyakarta, Laurensius Sastrawijaya, tidak kekurangan akal, ketika mendapat kesempatan bekerja di sebuah koran nasional terbesar, ia memilih desk olah raga. ”Banyak event olah raga yang berskala global, sehingga kesempatan ke luar negeri sangat besar,” ujar Sastra yang kini bekerja di BBC London.

Pilihan yang sangat masuk akal. Hampir semua orang punya keinginan melanglang buana. Tentu tidak salah dong kalau saya masih menganggap traveling sebagai hobi, bahkan cita-cita abadi. Adiktif mungkin, tapi yang jelas saya menganggap jalan-jalan adalah the ultimate fun activity. Mengunjungi berbagai negara masih menjadi obsesi yang terpendam.

Siapa yang tidak ingin berkunjung ke perkebunan anggur di Tuscany, berjemur di pantai-pantai Mediterania, kalau kita sudah terbiasa kepanasan di pantai tropis – tidak ada salahnya memimpikan pemandangan gunung Alpen bersalju di Prancis Selatan. Ikut pesta di Rio de Janeiro. Atau, kalau Anda tergolong orang yang romantis, pilihannya mungkin berbulan madu ke Venesia. Wow!

Cita-cita seorang traveler sejati adalah keliling dunia suatu hari nanti. Selama mimpi masih gratis, kenapa nggak? Mimpi, keinginan, obsesi, harapan, dan sejenisnya, kata orang, adalah semacam mantra (dan juga doa) yang jika diulang-ulang tidak mustahil akan menjadi kenyataan.

Dan nyatanya, kalau cita-cita tersebut dirancang dengan cermat, perjalanan ke negeri orang bukan perkara sulit. Simak saja pengalaman para traveler, yang kisahnya tertuang dalam berbagai buku – sebutlah Sigit Susanto yang menulis ”Menyusuri Lorong-lorong Dunia” atau Trinity yang berkelana sejak 1995 dan menuangkan ceritanya dalam ”Naked Traveler”. Tapi yang membuat saya berdecak kagum adalah kisah Marina Silvia Kusumawardhani, seorang backpacker yang berhasil keliling Eropa selama enam bulan hanya dengan 1.000 dolar AS (sekitar Rp 9,3 juta)!

Bayangkan, dengan bekal yang sangat minim itu Marina berhasil mengunjungi 45 kota di 13 negara Eropa. Selama enam bulan sarjana teknik industri ITB itu bisa menyaksikan pembukaan Piala Dunia Sepak Bola 2006 (tahun petualangannya) di Jerman, merayakan ulang tahun Venesia, nonton konser Sting, hingga disapa Dalai Lama saat bengong di Praha. Selengkapnya bisa baca blook (gabungan blog dan book)-nya, yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, Mei lalu.

Jika rencana traveling kita tertunda-tunda, mengapa kita tidak menyimak kisah para Columbus masa kini tersebut, dan mau belajar dari mereka. Bon voyage! (Burhan Abe)

The Exotic Asian Culinary

0

Asian food, with its specific taste, is the favorite of many and can be found in every corner of the world. Thai food, for example, is considered quite exotic with chili and tamarind in most of its dishes.

Indeed the Thais have been quite successful in boosting the popularity of their rich cuisine across the world. Here in Indonesia numerous Thai restaurants have been mushrooming. Take for instance a new restaurant franchise from Bangkok, the Blue Erawan, which is strategically located in Menteng, Central Jakarta.

Indonesia and Thailand have similar roots in taste. Historically, the two countries have been close for hundreds of years, especially in the trade of spices. So, it is not surprising that the food of the two countries have similar ingredients.

The most well-known Thai dish is tom yam soup, which contains more chili and tamarind than the local sayur asam or tamarind soup. The tartness is more due to the lemon juice added to it. Other ingredients in the soup are lemongrass or citronella and coriander leaves. Besides chicken tom yam there are also tom yam gong (with prawns), tom yam pla (fish), tom yam palay (seafood such as squid, shrimp and snapper) and tom yam palai thong (fish head).

Of course, tom yam is not the only popular Thai food. Thai food also blends ingredients and spices from a number of countries, including China and India, to create its own specific flavor.

You will be delightfully surprised when you explore most streets in Bangkok, which are filled with restaurants and vendors, for instance Sukhumvit 38, Khao San and Pratunam streets. Among the many delicious dishes are som tum (hot papaya salad), Thai noodles, khao tom pla (fish soup with rice), tom yum talay (seafood soup) and khao man gai (chicken rice).

Some restaurants provide entertainment, for example Baan Thai, Piman Thai Theater and Season, which are located on Sukhumvit street. Similarly, there is also entertainment at the Royal Dragon restaurant, which according to the Guinness Book of Records is the largest restaurant in the world. You can find it on Bangna street. If you like a romantic atmosphere then why not have dinner while cruising along Chao Phraya river, which has a splendid view to enjoy while dining with your partner.

Thailand can be considered the heart of Asian culinary. In Bangkok you can easily find many good cooking classes, for example at the Thai Cooking School at Oriental Hotel, Royal Dragon, UFM Food Center, Landmark Hotel, Institute of Culinary Art and at the Blue Elephant Cooking School.

If you prefer milder food, then go for the milder and safer taste of Malaysian food. Nasi lemak (rice cooked in coconut sauce), roti canai (Indian bread), laksa (rice balls in delicious coconut sauce with shreds of chicken, prawns and meat) are some of the popular dishes here. In fact, Malaysian food is not that different from its Indonesian counterpart, and rice is the staple of the people in both countries.

A visit to Malaysia is incomplete if you only go shopping without a culinary tour. Various races live here and therefore the food of the country is also rich in choices and ingredients. Basically there are three types of food in MalaysiaMalay, Chinese and Indian, each with its own specific taste. There are also mixed race food, such as Nyonya and Muslim Indian. International cuisine, including Mediterranean, is also available in Malaysia’s major cities.

Cycle of Best-Selling Books

0

Ayat Ayat Cinta (Verses of Love) is a phenomenon. Since its publication in December 2004, this novel, which was serialized in Republika daily, has sold over 150,000 copies. The film based on this novel was a box office hit and is second to none in terms of the number of viewers.

Of course, not all best sellers become box office hits. But producers in Indonesia and Hollywood are always on the lookout for good novels (hopefully best sellers) to turn into films. If such novels are available, at least they won’t have to look for a storyline as the novels are good enough to be turned into screenplays. The main idea for James Bond films came from a novel by Ian Fleming. Meanwhile, The Da Vinci Code is based on a best seller by Dan Brown and brought in over US$750 million from worldwide ticket sales.

Prior to the success of Ayat Ayat Cinta, a novel by Habiburrahman El Shirazy, there were several phenomenal titles although they did not sell as many as Shirazy’s. Take, for example, Saman by Ayu Utami and then Supernova, an experimental novel by singer-writer Dewi “Dee” Lestari.

Another book much discussed was Jakarta Undercover by Moammar Emka, a journalist for an entertainment tabloid. This book, once a hot topic of discussion, was previously rejected by a major publisher. It became a best seller after being published by a small publisher, Galang Press. So, whoever you are, a small or large publisher, an old or new publisher, an established or unknown writer, you may still have the opportunity to produce a best seller.

Interestingly, the cycle of these best sellers has become relatively shorter, just like Hollywood, which produces box-office films at relatively short intervals. This means that the Indonesian book market has now become an industry with a clear direction, although the market has yet to stabilize. Not only established publishers can reap profits from the flourishing book industry in Indonesia but new publishers can have a share of the profits too.

Publishers seem to have their niches. Galang Press, for example, publishes culture-related books, Mizan specializes in books about Islamic studies while Gagas Media (Moammar Emka is one of its owners) publishes pop novels and teen-let books. Religious (Islamic) books are now enjoying popularity.

At Gramedia bookstores, for example, the best sellers include not only Ayat Ayat Cinta but a book by Habiburrahman El Shirazy, Dalam Mihrab Cinta, and Andrea Herata’s Laskar Pelangi. While these are fiction books, non-fiction best sellers include Catatan Hati Seorang Istri (Asma Nadia), Quantum Ikhlas (Erbe Sentanu), La Tahzan (Dr Aidh Al-Qarni), La Tahzan for Girls (Najla Mahfuzh) and Menjadi Kekasih Allah (Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani).

This is found not only in Indonesia. Judo Suwidji, managing director of Periplus, a bookstore chain and importer of foreign books, said there is a big demand for Islamic books. “Perhaps, following the rumors on terror and bombings, people want to learn about the real Islam from the right source,” he said.

Indeed, it is not just books on Islam that are enjoying popularity due to their enlightening subject matter. Other books such as Re-Code Your Change DNA (sic) by Rhenald Kasali, 18 Wisdom & Success (sic) by Andrie Wongso and Wireless Kung Fu by Jasakom E. Learning.

If you are observant then you may see books that you never would have imagined as best sellers. For example, recipe, gardening and cattle breeding books. Then there are also comic books. Indeed, manga dominates the book market today. A local comic book titled Lagak Jakarta by Benny and Mice also has attracted a lot of fans.