Home Blog Page 95

The Responsibility of Packaged Water Industry

0

ARE you aware that the packaged water that you drink causes water sources such as springs and wells to dry up? And that it also damages the environment?

The people of Cidahu and Cicurug villages in Sukabumi regency, West Java, have long complained that the level of water in their areas has decreased, causing paddy fields and wells to dry up. All this is due to excessive exploitation by packaged water companies.

Arif Miharja, a community supervisor from the Institute of Study for Development and Technology (ELSPPAT), said that between 2007 and 2008, one water company acquired Rp 3 billion per month from its packaged water business that sourced 1.5 billion liters of water per month and sold it in plastic cups and bottles.

Under regental regulation No. 22/2006, 10 percent of the water that a company sources from an area should go to the residents of the area. However, that is not the reality, Arif said, according to www.asiacalling.org.

Clean water is an irreplaceable vital requirement. That is the main message of World Water Day on March 22. Unfortunately, today with global warming and barren forests it is difficult to get clean water. Hence, the available alternative is packaged water although the impact on the environment is quite damaging.

The consumption of packaged water, especially in bottles, has increased by about 75 percent in the past decade or so with a total of at least 200 billion liters. Clearly this kind of consumption has impacts on the environment as well as the economic and social aspects of human lives. The increased consumption is also not efficient energy wise.

According to Peter Gleick and Heather Cooley, researchers at Pacific Institute, Oakland, California, in 2007 the consumption of bottled water in the United States reached 33 billion liters, or 110 liters per person, which means consumption absorbed energy equal to 32 to 54 million barrels of oil. So while packaged water companies help fulfill the need for clean water, on the other hand the energy required is too great.

For example, one-third of energy in the US is used to produce packaged water. On top of the irresponsible exploitation of water sources, such as springs, the environmental damage caused is quite serious. That is why a new set of rules is needed for a balanced result.

Indeed, a number of companies are becoming more aware of their social and environmental responsibilities. PT Danone Aqua, for example, through its Aqua Lestari campaign has launched a program called “Go Organic 2010”.

The company will facilitate a community development program toward a socio-economic business village in Karanglo, Polonharjo district, Klaten regency, Central Java, as announced on Feb. 17.

The program involves the Village Association of Farmers (Gapoktan) of Karanglo village and is an innovative social approach that encourages all parties to preserve the environment, especially water sources, as well as empowers the community.

Media Cetak Bersaing dengan Internet

0

Revolusi internet juga mengubah wajah media massa, mereka yang tidak menyesuaikan diri akan terlindas, namun masih juga ada yang berusaha menunggu sebelum masuk ke Internet.

“Media terbukti meskipun ada media baru selama berabad-abad tidak ada perubahan. Dulu radio tetap hidup, meski televisi lahir. Media cetak tetap hidup meski televisi lahir. Dulu banyak yang takut, tidak ada perubahan cuma bisnisnya jadi berbeda dan perilaku media berubah,” kata Nukman Lutfhie, Direktur Virtual Consulting, sebuah perusahaan konsultan media dan internet di Jakarta.

Tetapi kehadiran internet membuat perubahan yang betul-betul signifikan. “Kalau dengan televisi kita hanya bisa menjangkau wilayah tertentu, misalnya televisi di Indonesia tidak bisa ditonton di negara lain. Sementara dengan internet, arus informasi itu melewati batas-batas tradisional yang selama ini ada.” kata Nukman.

Hadirnya internet membuat akses untuk mendapatkan informasi menjadi lebih gampang, dan lebih cepat didapat dibandingkan media lain seperti televisi, radio, dan media cetak. Dicontohkan oleh Nukman, bila setiap hari, dalam 24 jam, mulai dari bangun pagi, sampai tidur, konsumen bisa bersentuhan dengan media seperti menonton televisi, membaca koran, mendengarkan radio, dan mengakses internet. “Dalam penelitian kami, sekarang ini di Indonesia, rata-rata orang menghabiskan waktu 2,3 jam perhari, internet 2 jam, sementara membaca koran hanya 34 menit,” tambah Nukman lagi.

Menurut Nukman, sekarang ini walau jumlah penjualan koran di Indonesia tidaklah menurun, tetapi pola baca menjadi berubah. “Pembaca tidak lagi mencari berita-berita utama karena dia sudah tahu bahwa itu kejadian kemarin. Yang dibaca adalah opini, tokoh, sosok. Jadi berita-berita utama tidak lagi dibaca.” kata Nukman lagi.

Oleh karena itu, menurut Nukman, media cetak yang tidak memanfaatkan internet sebagai outlet untuk menjual produknya akan tenggelam.

Contoh Jawa Pos

Namun salah satu kelompok media cetak terbesar di Indonesia, Kelompok Jawa Pos masih belum sepenuhnya menggunakan internet. Mereka masih mengandalkan media cetak untuk menjadi sarana bagi pembaca untuk mengetahui perkembangan terbaru setiap hari.

Jawa Pos sudah memiliki situs internet, tetapi berita-berita yang sudah muncul di koran, baru diperbarui di internet mulai jam 9 pagi. Diharapkan ketika itu, koran-koran mereka yang tersebar lewat anak-anak perusahaan dari Aceh sampai ke Papua, sudah berada di tangan pembaca.

Jawa Pos juga tidak memperbarui berita setiap saat, seperti banyak yang dilakukan oleh kelompok lain seperti Kompas, Media Indonesia, dan yang lainnya.

Mengapa mereka memilih kebijakan seperti itu? “Memang di koran lain tidak melakukan apa yang kita lakukan. Kita beranggapan bahwa bisnis kita yang utama adalah koran dan perlu perhatian khusus,” kata pemimpin redaksi Jawa Pos, Leak Kustiya.

The Unique Blending of Notebook and Mobile Phone

0

The notebook has enjoyed rapid growth in recent years, and early this year its worldwide sales exceeded that of PCs. Previously, notebooks were predominantly used in business circles as they were unaffordable for the middle income segment. However, along with its technological development, and as numerous manufacturers started producing notebooks, it has gradually become more affordable. Currently, some notebooks carry a price tag of only Rp 4 million.

Today it is not easy to choose a notebook as a wide range of brands and series are available on the market. However, lower-end notebooks also incorporate various useful features. What is certain is that notebooks have become an essential gadget for quite a number of people. Most interesting is the fact that wireless and 3G technology is also available for connection to the Internet.

In a report by the Gartner Group, analysts stated that in the near future content will be accessible anywhere, anytime and with almost any gadget, including PC and mobile phone. While some years back a mobile phone was unsightly and bulky, today it is small and sleek. Its technology has also developed rapidly. So, be prepared for the arrival of the smartbook after the notebook and netbook.

Perhaps in the not too distant future it will be hard to distinguish between a notebook and a mobile phone. Mobile phone manufacturers are enhancing their products to become mini computers, while computer-makers have entered mobile phone territory.

Apple, for example, did not stop its efforts after launching MacBook, but came up with the phenomenal iPhone. Acer, which used to produce only computers, has revolutionized the market with its Android system mobile phone. This smart mobile phone from Acer is called Liquid. At Acer’s annual conference in London recently Liquid was mentioned as the first Android 1.6 mobile phone on the market.

Meanwhile, German CPU mobile phone specialist Qualcomm SnapDragon claims on its website that it will manufacture a smartbook with the fastest processor like Google Android or Acer Base Liquid Android F1 Smartphone 765 Mhz.

It adds that the smartbook will operate efficiently at a faster speed than PCs. Nor will the smartbook depend on Windows OS as its operation system, but Qualcomm has not clearly specify the operation system to be used, whether an open source like Linux or another special operation system. The smartbook will have a slim, light and fashionable appearance.

According to Qualcomm, the smartbook will be no thicker than 2 centimeters and weigh less than 1 kilogram. It will have a long lasting battery and can be operated for between eight and 10 hours, and one week in standby mode.

For connectivity, Qualcomm’s smartbook will use 4G technology, while a number of cell phone brands are already available in 3.5 G. The smartbook will also have a GPS feature, which has already become a trend for smart phones. It seems Qualcomm’s smartbook will be a perfect blend of smartphone and notebook.

Sony Ericsson is also coming up with its own version of the smartbook, called Sony Vaio P or Xperia.

Cita Rasa Global

0

Cognac bisa menjadi campuran sebuah hidangan, tidak hanya temen makan, tapi masuk ke dalam makanan itu sendiri. Paling tidak Chef Fany Hermawan sanggup berkreasi dengan minuman asal Prancis itu, mulai dari appetizer, main course, hingga dessert, di Immigrant Jakarta, pertengahan Januari 2010 lalu, dalam sebuah gala dinner yang bertajuk Martell Party.

Tidak hanya spirit, saya tahu dari teman yang bekerja di sebuah distributor bir hitam, bahwa bir pun bisa dijadikan sebagai bahan campuran dalam sebuah hidangan, khususnya makanan ala Barat.

Di Indonesia, ini memang sesuatu yang baru, minimal bagi saya. Selama ini kita hanya tahu wine yang bisa dipakai untuk masak, bahkan ada kumpulan resepnya yang dibukukan dalam, antara lain “Work with Wine”, atau kalau situs yang cukup populer adalah eatingwell.com.

Beberapa saran pengolahan makanan dengan wine, misalnya untuk dressing salad untuk rasa lebih lezat dan tampilan yang lebih bagus. Tidak hanya itu, wine juga bisa menambah cita rasa ikan. Satu cara untuk memperkaya rasa dan melembutkan ikan tanpa menambah lemak adalah mengolahnya dengan wine.

Begitulah, betapa kreatifnya orang-orang bule, yang membuat makanan dari berbagai bahan, bahkan dari spirit, bir, dan wine. Mereka menyajikannya menjadi hidangan yang lezat yang bisa diterima oleh semua kalangan di seluruh dunia.

Paling tidak, ada kesan “pemaksaan selera”, yang kalau kita tidak bisa menerimannya akan dianggap udik, kampungan. Dulu, siapa yang kenal burger, french fries, pizza, spagheti, dan lain-lain. Tapi di pelosok-pelosok Indonesia kini sudah ada makanan-makanan tersebut, termasuk burger yang dijual dengan gerobak.

Tidak hanya makanan Barat sebenarnya yang sudah diterima secara global. Makanan Timur dari Jepang (sushi, sashimi, udon, dan lain-lain) atau China (bakmi, dim sum, dan lain-lain), misalnya, mulai disukai oleh berbagai etnis di dunia, bahkan di dunia Barat sekali pun.

Yang ingin disampaikan di sini adalah, the art of cooking atau kreativitas memasak orang-orang bule patut ditiru, bahkan menjadikannya selera global. Kuliner Indonesia sangat kaya, tapi yang bisa mengglobal bisa dihitung dengan jari. Kalau orang-orang bule di AS ingin memasak tom yam (Thailand), dengan mudahnya mereka mencari bahan-bahannya di supermarker terdekat. Tapi untuk memasak rawon (Indonesia), adakah yang menjual kluwek di swalayan Amerika sana?

Warung Padang memang ada di mana-mana, bahkan di beberapa belahan dunia. Tapi faktanya adalah, rendang yang bisa diterima lidah bule ternyata yang dari Malaysia.

Konon, gaya masak orang-orang Malaysia disesuaikan selera “global”, tidak overcooked sehingga bahan dasarnya masih dikenali. Daging rendang ala Malaysia masih terdeteksi sebagai daging sapi, bukan rendang ala Padang yang terus-menerus dimasak, kadang-kadang sudah menyerupai dendeng – meski rasanya untuk lidah orang Indonesia sangat “maknyus”.

Martell Dinner with Martell Creation

0

Martell identik dengan dunia gemerlap (dugem) malam. Clubbing dengan musik ajeb-ajeb. Itu sebabnya, keingintahuan segera timbul ketika ada undangan dinner party yang disponsori cognac asal Prancis tersebut, dress code-nya long suit. Tidak salah, Martell ternyata bisa menjadi teman makan malam yang elegan. Bahkan makanannya pun bisa dikreasikan dengan spirit premium tersebut. Itulah yang terjadi di Immigrant – klub paling hot di Jakarta, Kamis, 14 Januari 2010.

Ada empat macam course malam itu, yang setiap course-nya selalu ada Martell yang menemani. Di menu utama ada dua pilihan, wagyu atau lobster, wow, siapa pun pasti susah menentukannya, karena dua-duanya mengundang selera. Betul saja, makanan olahan Chef Fany Hermawan malam itu, sangat menggugah indera pengecap. Dan di akhir hidangan tersaji dessert yang unik, yaitu cake coklat yang jika digigit menimbulkan sensasi tersendiri, karena ada cognac yang langsung membasahi mulut. Ya, setiap makanan, mulai dari appetizer hingga dessert, selalu dikreasikan dengan cognac.

Makan malam yang nikmat dalam suasana yang elegan ini juga diadakan peluncuran salah satu produk dari Martell yaitu Martell Creation Grand Extra. Selain bentuk botolnya yang artistik dan menawan, rasanya menimbulkan sensasi tersendiri.

Dinner party ini memang tidak sekadar makan malam. Acara yang merupakan bagian dari rangkaian Martell Commando, yang berlangsung di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan itu, memberikan pengalaman yang tak terlupakan sebuah party.

Malam itu juga hadir secara khusus pimpinan-pimpinan Martell Co dari Prancis seperti Jacques Menier (Heritage Director Martell Co), Giraud Thierry (Brand Ambassador, Martell Co), Francois Plantecoste (Sales Director Cognac, Martell Co). Juga didukung oleh Xavier Beysecker (VP Marketing, Pernod Ricard Asia), Kevin Lee (MD, Pernod Ricard Asia) dan Edhi Sumadi (Country Manager Pernod Ricard Indonesia).

Tidak kurang dari 132 tamu yang hadir dalam acara tersebut. Mereka adalah para CEO, direktur dan profesional muda yang bergerak dalam industri food & beverage, dan juga beberapa wartawan tentu saja.

Sambil menikmati santap malam, grup Elfa’s Singer dan Maliq & D’Essential tampil membawakan lagu-lagu terbaiknya. Tidak ketinggalan para model seperti Indah Kalalo, Fabiola dan teman-teman tampil dengan fashion dance yang menawan. Acara yang dipandu Aline itu diakhiri dengan toast bersama seluruh yang hadir dalam Martell Dinner, sambil menikmati Martell Creation Grand Extra. (Abe)

Looking Forward to Healthy Banking Expansion

0

It would be safe to say that these days most Indonesians are familiar with banking. Just look at any ATM and you will find many people standing in line, either to withdraw cash or to make other transactions. Many banks have branches in small towns and they are currently offering creative and innovative products to customers. These include giveaways that lure many customers. However, the recent Bank Century scandal has shocked many and to a certain extent has made many customers wary as it shows that banks are not totally safe.

The scandal involves the ballooning price of saving the bank from liquidation that cost the state an extra Rp 4.72 trillion (US$513 million) from the initial estimated cost. This figure is the difference between the Rp 6.762 trillion injected into the bank by the Insurance Deposit Agency and the estimated stock value when the bank has to be divested in 2011.

The government and Bank Indonesia (BI) are being held responsible for the bailout. Apart from questioning the swelling cost of the bailout and the matter of financial transparency, the House of Representatives is also questioning the legality of saving the bank.

Of course we all appreciate the legislatives’ efforts in trying to unravel the mystery behind the Bank Century case so that the public can be fully informed and that such a case does not occur ever again even if there is political pressure.

Whether it has a direct correlation or not, clearly credit or loan provision in 2009 did not expand in a healthy way. This has created a pessimistic atmosphere for 2010.

The situation has been made worse by the impact of the global financial crisis. The crisis has indeed weakened many business sectors in the country. The reduction in investment applications and work capital has reduced banks’ provision of loans. Up until October 2009, BI indicated an annual growth of banking loan provision at a mere 5 percent. This is extremely lower than the 2008 figure, which grew 30 percent to Rp 1.307 trillion.

However, according to BI Deputy Governor Muliaman D. Hadad, the condition of the country’s bank in 2009 was solid enough as indicated by a number of financial indicators. Although there was pressure in the liquidity of the banks they were still able to get a significant amount of deposits. In October, third party funds grew by 11.3 percent, which was higher than the growth in the provision of loans. So, how about 2010? Muliaman predicts that national loan provision will grow by 15.42 percent or about Rp 268 trillion.

This is indeed an optimistic outlook. Banks, such as Bank Negara Indonesia (BNI), are not as optimistic. Gatot M. Suwondo, president director of BNI, says that banks can expand their loan provision by 15 percent this year, with loans mostly channeled to meet the needs of the infrastructure, electricity and manufacturing sectors.

Gatot said that the macro economy indicators were not normal yet. “We are not forcing a big expansion this year because the country’s economy has not fully recovered,” he said.

Many business players indeed need bank loans to expand their business amid optimism that the global economy is going to recover. Finance Minister Sri Mulyani Indrawati has also requested the banks expand their credits in order to support the country’s economic development for this year. She said a growth in loan provision would help Indonesia achieve the economic growth target set in the 2010 state budget, which is between 5 and 5.5 percent.

Penang: Pearl of the Orient

0

Malaysia is more than Kuala Lumpur. Take Penang, for instance, which is just as appealing and its development just as dynamic. The island is known not only as a city of education but also as the largest medical tourism destination in Southeast Asia.

Penang, which was the first British trade center in the Far East, is one of the most beautiful cities in the eastern region. Located northeast of the Malaysian peninsula, Penang is named after the pinang (betel nut) tree, which can be found all over the island.

Penang consists of Penang Island and Seberang Perai on the mainland peninsula. The two are connected by the 13.5 km Penang Bridge, which is the longest in Asia, and served by ferries.

Georgetown is a city on Penang Island that was named one of the best cities in Asia by AsiaWeek in 1998 and 2000. UNESCO has recognized it as a city with unique architecture. Georgetown has seen fast development over the last two centuries. Initially it was a swamp, but it was eventually transformed into a bustling trade center.

Downtown Georgetown has many old historical buildings. A British fortress was built in the city by Capt. Francis Light in 1786. Representing the British East India Company, Light accepted Penang in return for a pledge to protect Sultan Kedah from the Siamese. Light renamed it Prince of Wales Island and later established Georgetown in the eastern cape of the island, later known as Semenanjung Daratan.

In 1805, Penang became a dependent of Bengal and was later developed into the fourth Indian Presidency of British India. In 1828, Malacca and Singapore were included into Penang territory and residential areas were established. The economy in Penang developed fast and Georgetown founded the first English school in Southeast Asia in 1816. The Penang of today is a modern city that is considered the Silicon Valley of the East as many IT companies can be found on the island.

Shopping

Like Kuala Lumpur, Penang is also a shopping paradise with goods ranging from electronic gadgets and jewelry to clothes and antiques. Prangin Mall is a good place to start as it is the biggest mall on the island.

Chinatown is a must-see area, considering that the Chinese ethnic population in Penang constitutes the majority. Located in the heart of Georgetown, it is quite busy, particularly with various festivals. Lines of stores serving as the traditional business center, a Chinese temple, a Hindu temple and a mosque can be found here. 

Temples

If you love historical buildings, visit one of the many temples in the area, such as the landmark Kek Lok Si Temple. Built in 1886, it is one of the biggest Buddhist temples in Southeast Asia. It has a 30-meter high pagoda and a giant statue of the Goddess of Mercy, Kuan Yin. 

2010

0

Kita memasuki tahun baru lagi. Ah, rasanya kita baru saja memulai tahun 2009, tahu-tahu sudah masuk 2010. Apa boleh buat, kita membuat resolusi lagi yang akan menuntun langkah kita di tahun ini. Padahal resolusi yang kita buat pada awal tahun lalu belum sepenuhnya terpenuhi.

Tapi kehidupan memang harus berjalan, siap atau pun tidak siap. Tapakilah tahun yang berjalan dengan langkah pasti, songsonglah masa depan dengan optimistis, begitu nasehat orang bijak.

Nasehat yang tidak salah, dan sudah pasti benar. Meski, dalam kondisi yang karut-marut dan pemerintahan yang unpredictable seperti sekarang ini yang tidak mudah meneropong masa depan dengan jelas. Tapi, lagi-lagi kata orang bijak, optimisme adalah bagian dari pemecahan persoalan – sementara pesismisme merupakan dari problem itu sendiri.

”Saya berusaha berempati ke hal-hal yang positif,” begitulah resep yang diberikan oleh Oprah Winfrey dalam salah satu episodenya. Sehingga ketika Halle Berry menerima Oscar, tidak hanya aktris kulit hitam itu yang bangga, tapi Oprah pun ikut bahagia. Juga ketika Barack Obama berhasil menduduki kursi presiden di Amerika Serikat, ratu bincang-bincang itu tidak bisa menyembunyikan rasa harunya.

Positif thinking itu penting, kata yang lain, yang tak kalah bijaknya. Beberapa teman yang membaca status saya di Facebook merasa iri, seolah-olah hidup saya asyik-asyik saja. Jalan-jalan terus, dari party yang satu ke party lain. Padahal jujur saja, itulah cara saya menerapkan positif thinking, yang tidak sekadar pikiran positif, tapi juga melakukannya dengan suka cita – yang ”sebelas dua belas” atau beda-beda tipis dengan hedonisme, bahkan dengan perasaan bahagia, feel happy.

Tahun sudah berganti lagi, apa saja yang sudah kita lakukan untuk kehidupan ini – minimal untuk diri sendiri? Mungkin ada mengalami hal-hal yang menyenangkan sepanjang tahun 2009. Atau mencatat prestasi hebat berkat konsistensi dan kerja keras. Ata menjalaninya secara biasa, atau tidak ada yang istimewa, bahkan justru banyak frustrasinya karena beroleh kegagalan.

Apa pun, kita seharusnya mempertanyakan terus-menerus apa yang sudah kita perbuat, dan apa yang kan kita lakukan selanjutnya. Tidak sebatas pada akhir atau awal tahun saja. Kita pertanyakan diri kita, tidak sebatas analisis SWOT (strenght, weakness, opportunity, dan threat) saja, untuk mencapai yang lebih baik. Bukankah Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa orang yang paling celaka di dunia adalah orang tidak mau berubah – menjadi lebih baik dan lebih baik lagi dibandingkan hari sebelumnya.

Anyway (tanpa busway), tahun baru adalah tahun yang baik untuk kita kembali merenungi kembali perjalanan hidup ini, apa yang sudah dan akan kita jalani. Kita hanya berharap bahwa tahun 2010 yang telah kita mulai ini akan berlangsung lebih baik dibandingkan dengan tahun 2009. Selamat Tahun Baru! (Burhan Abe)

Sayang Bordeaux

0

Wine makin mendapat tempat di Indonesia. Paling tidak, jumlah wine lounge di Jakarta makin banyak saja. Bandingkan dengan klub yang itu-itu saja – tahun 2009 memang ada 2-3 new entry, tapi ada beberapa yang tutup juga, sehingga secara kuantitas sebenarnya tidak bertambah.

Selain wine lounge yang tumbuh bak cendawan di musim hujan, klub-klub pecinta wine juga bermunculan. Tidak sekadar wine lover, tapi lebih spesifik, wine kayak apa yang mereka sukai. Contohnya adalah Sayang Bordeaux Indonesia Wine Club.

Dari namanya jelas bahwa mereka adalah sekumpulan orang yang maniak terhadap wine asal Bordeaux, salah satu wilayah penting di Prancis yang menghasilkan wine – di sana banyak viniyard dan wineries yang tersohor di dunia. Selain kerap mengadakan wine tasting, wine dinner, atau wine party, mereka secara berkala juga mengunjungi chateau-chateau di sana, sebutlah Petrus, Haut Brion, Trotanoy, Angelus, dan lain-lain.

Klub itu diresmikan pertengahan November 2009, ditandai dengan wine tasting dan wine dinner di Jakarta. Dihadiri oleh lima wine maker dan pemilik chateau asal Bordeaux: Alain Moueix (Chateau Mazeyrez), Pierre Blois (Chateau Moulin Du Cadet), Dominique Hebrard (Chateau Cheval Blanc, Bellefont Belcier, dan Trianon), Laurence Brun (Chateau Dassault), dan Vincent Priou (Chateau Beauregard). 

Tapi mengapa harus Bordeaux? Apa kelebihannya dibandingkan dengan wine yang berasal Margaux, Medoc, atau Burgundy, misalnya? Kalau hal ini ditanyakan kepada pecinta wine Bordeaux, mereka pasti akan fasih menjawabnya. 

Bordeaux adalah sebuah wilayah barat daya Prancis, terletak di mulut Sungai Gironde. Wilayah ini dikenal sebagai penghasil wine yang sangat penting di dunia, “Banyak wine terbaik berasal dari daerah ini,” ujar Evander Njolito, salah seorang anggota Sayang Bordeaux. Bahkan menurut Hugh Johnson dan Jancis Robinson dalam “The World Atlas of Wine” (2003), Bordeaux adalah “the largest fine wines district in the world.”

Sejarah wine di Bordeaux dimulai sejak zaman Romawi. Tentara Romawi membawa pokok anggur yag ditanam di daerah St Emilion, yang ternyata tumbuh dan dalam waku singkat menjadi salah satu daerah penghasil anggur yang penting di Prancis. Hal ini dimungkinkan karena wilayah dengan sungai besar itu terkenal sebagai daerah subur, dengan kontur tanah serta iklim yang memungkinkan anggur tumbuh subur. Industri wine di sana berkembang pesat dan Bordeaux dikenal sebagai produsen wine berkualitas tinggi.

Inggris menguasai wilayah ini pada abad 12 – 15, dan membawa budaya wine yang memungkinkan Bordeaux menjadi lebih sebagai penghasil wine dunia. Bordeaux kini menghasilkan tak kurang dari 900 juta botol wine per tahun.

Red wine sangat mendominasi wine Bordeaux, meski masih ada beberapa jenis white wine. Varietas anggur yang digunakan untuk pembuatan red wine di sini adalah Merlot dan Cabernet Sauvignon, serta jenis anggur yang lain, seperti Cabernet Franc, Petit Verdot, dan Malbec. Tapi yang menarik, ciri wine asal Bordeaux ini adalah campuran dari beberapa jenis anggur, atau blend

Berpusing-pusing ke Negeri Jiran

0

Malaysia sudah pasti bukan negara yang tidak asing bagi warga negara Indonesia. Selain jaraknya yang hanya “selemparan batu”, bangsa Malaysia, khususnya ras Melayu, mempunyai rumpun yang sama dengan bangsa Indonesia. Itu sebabnya, ketika Malaysia Tourism Promotion Board (MTPB) mengundang Appetite Journey (lagi) untuk mengunjungi negeri jiran tersebut – kali ini dengan tema “Tourism Malaysia & KLM Year End Sale Famtrip”, 1 – 5 Desember 2009, tanpa berpikir dua kali, tawaran itu kami terima dengan senang hati.

Kami bertigabelas, dua orang di antaranya jurnalis (termasuk Appetite Journey), seorang dari KLM Royal Dutch Airlines, dan sisanya (mayoritas) dari agen perjalanan. Farmtrip ini memang diorganisasikan oleh MTPB, tapi pesawatnya disponsori KLM Jakarta. Ya, program ini memang semacam hadiah perjalanan untuk pemilik jasa wisata Indonesia yang berhasil menjual tiket KLM dalam jumlah besar dalam setahun terakhir ini.

Melihat jadwal yang diberikan panitia, berikut tempat-tempat yang akan kami kunjungi, sekilas mungkin tidak ada yang luar biasa. Beberapa tempat bahkan pernah saya sambangi. Namun, selalu saja ada rasa antusiasme yang tinggi mengingat Malaysia adalah negara yang mempunyai kehidupan dinamis, selalu mengejar ketertinggalan sebagai negara berkembang menuju ke negara industri baru.

Boleh saja Malaysia tidak memiliki Candi Borobudur, tapi negara seluas 329.847 km persegi dengan jumlah penduduk 27 juta jiwa itu mempunyai artefak modern, yakni Menara Kembar Petronas, bangunan 88-tingkat yang juga dikenali sebagai KLCC (Kuala Lumpur Convention Centre). Bangunan yang dibangun tahun 1988 merupakan bangunan kembar tertinggi di dunia – sebelum dikalahkan Taipei 101 yang dibangun 2003.

Tapi yang jelas, KLCC adalah salah satu daya tarik utama para turis manca negara untuk mengunjungi Malaysia, khususnya Kuala Lumpur. Menara kembar yang sekaligus ikon negara jiran ini dirancang oleh Cesar Pelli dengan desain yang merefleksikan budaya Islam yang mengakar di Malaysia.

Tidak melulu dua menara kembar tentu saja karena di sekitar kawasan itu pula terdapat berbagai atraksi wisata yang menarik, mulai dari Aquaria – seperti Sea World di Ancol Jakarta, hingga shopping mall, salah satu yang terkenal di kawasan itu adalah Suriah. Mal ini menjadi sasaran empuk para shopaholic dari berbagai negara, termasuk Indonesia tentu saja. 

Ya, Kuala Lumpur kini menjadi destinasi favorit bagi penggemar barang-barang bermerek. Selain di KLCC, Bukit Bintang juga dikenal sebagai kawasan wisata belanja. Tidak hanya toko-toko tradisional, tapi butik-butik modern juga ada di sini.

Jangan lupa, item yang banyak dicari orang Indonesia adalah sepatu merek Vincci – produk dalam negeri andalan Malaysia, yang mempunyai kualitas cukup bagus dengan harga yang relatif murah.

Tidak hanya di Kuala Lumpur sebenarnya, di Sunway Pyramid, Petaling Jaya, juga terdapat mal yang tidak kalah mewahnya. Menjelang akhir tahun mal ini menggelar berbagai acara, dan sejumlah merek menawarkan diskon yang menarik. Tidak hanya wisatawan lokal, banyak turis asing yang berkunjung ke sini. Selain banyak pengunjung asal Indonesia, daerah sekitar Sunway juga merupakan daerahnya mahasiswa Indonesia, tidak heran jika di sekitar mal ini banyak bertebaran restoran-restoran ala Indonesia.

Sebenarnya mal hanya salah satu fasilitas di area ini. Di sini ada Sunway Lagoon Theme Park yang merupakan taman bermain outdoor. Salah satu theme park yang menjadi favorit pengunjung adalah water park – ini mirip water boom di Lippo Cikarang atau taman air di Ancol Jakarta.

Ada juga extreme park, scream park, wildlife park dan amusement park seperti Dufan tapi dalam versi mini. Di daerah ini pula terdapat Sunway Resort, sehingga menjadi integrated destination yang menarik untuk keluarga.