Home Blog Page 96

Kantor Serasa dalam Genggaman

0

Bekerja ternyata tidak selalu harus berkantor, yang dalam pengertian konservatif adalah sebuah gedung atau ruang, di mana segala aktivitas bisnis dilakukan. Profesional zaman kiwari bisa mengerjakan tugasnya di mana pun, di kafe atau mal yang menjadi meeting points baru. Bagi mobile workers, bertemu klien, bernegosiasi, bahkan berhubungan dengan klien di seluruh dunia pun, bisa dilakukan di kedai kopi. Aha, bisnis dan kesenangan bahkan bisa dilakukan dalam waktu yang bersamaan. (Burhan Abe)

Sambil menyeruput secangkir kopi, mata Evi Puspa tertuju pada layar laptopnya. Pagi itu ia harus mengirim sebuah proposal ke klien, ia membaca sejenak materi yang akan dikirim, memeriksa kembali alamat yang dituju, dan klik! Dalam bilangan detik, proposal tersebut sudah sent out ke email klien.

Direktur PT Online Marketing Indonesia itu tidak melakukannya di kantor, tapi dari Wien Cafe di Plaza Senayan Jakarta. Dari rumah ia tidak perlu meluncur ke kantornya yang masih berada di bilangan segi tiga emas Jakarta, karena siangnya ia janji bertemu dengan klien yang lain di plaza tersebut.

“Tidak hanya hari ini, sebagian besar waktu saya berada di jalanan. Dengan laptop dan koneksi internet, serta ponsel, saya bisa mengendalikan perusahaan dari mana pun,” ujar Evi.

Begitulah, kemajuan teknologi informasi membuat segalanya menjadi mudah. Dengan fasilitas internet wi-fi ini Evi bisa melakukan kontak bisnis dengan mitranya secara online. Dengan tidak dibatasi oleh tempat, asal terdapat fasilitas hot spot, semua pekerjaan bisa dilakukan dengan mudah, mulai dari melobi sampai melakukan presentasi, termasuk menggunakan fasilitas email dan chatting, tentu saja. “Transfer dana pun bisa memanfaatkan fasilitas internet banking,” ujar mantan marketing manager detikcom itu. 

Jadi, kalau semuanya bisa dilakukan di mana pun, kenapa juga harus berkantor setiap hari. Pemilik pemilik situs perempuan.com itu justru mengangap bahwa kafe adalah tempat yang nyaman untuk bersantai sekaligus bekerja yang efektif. Kafe yang disebut pada ilustrasi di atas tersebut tidak hanya sebagai meeting point, tapi juga menjadi kantor kedua.

Tidak hanya Evi, banyak orang menjalani hidup sebagai mobile worker. Memang tidak semua bagian bisa melakukannya, yang kehadirannya masih dibutuhkan di kantor konvensional, seperti operator, sekretaris, dan clerical staff lainnya.

Yang paling banyak berkantor di jalanan biasanya orang marketing, konsultan manajemen, wartawan, penulis, dan yang berhubungan dengan pekerjaan kreatif. Dan tentu saja, para entrepreneur yang mengelola perusahaannya sendiri.

Pengamat pemasaran Rhenald Kasali, meski berkantor resmi di Program Pasca Sarjana, Fakultas Ekonmo, UI, Depok, boleh dibilang sebagai mobile worker. Banyak aktivitas yang dilakukan dilakukan di luar kantor, mulai dari konsultansi, ceramah, dan lain-lain. Bahkan untuk bertemu klien ia tidak sampai hati memaksa mereka datang ke Depok, tapi dijamu di Financial Club, Graha Niaga Jakarta, di mana ia menjadi salah seorang anggota kehormatannya.

Hendra adalah contoh yang lebih ekstrim. Profesional di bidang valas dan pasar modal ini bahkan melakukan hamori semua pekerjaannya dari kafe ke kafe. Pria 32 tahun ini kerap nongkrong di Starbucks yang saat ini hadir di banyak tempat. Dengan notebook dan PDA-nya, ia bebas berselancar di internet sambil memantau pergerakan indeks valas dan harga saham. Di kedai kopi dengan fasilitas internet nirkabel atau zona hot spot, ia pun bisa melakukan deal-deal bisnis dengan klien. 

Bisa terbayang, kegiatan para mobile worker ini kini lebih tertolong dengan kehadiran teknologi baru telepon seluler yang disebut sebagai 3G – atau generasi ketiga, bahkan 3,5G. Sebuah ilustrasi di Jepang mungkin bisa menggambarkan kedigdsyaan teknologi ini, yang di sana hadir melalui teknologi WCDMA.

Bulan Madu Kedua

0

Kau janjikan berbulan madu
Ke ujung dunia

Tapi janji tinggal janji
Bulan madu hanya mimpi

Seharusnya penyanyi Hetty Koes Endang tidak perlu menangis lewat tembang lawas ciptaan Rinto Harahap berjudul Dingin itu. Sebab, selalu ada kesempatan kedua, jika bulan madu yang pertama urung dilaksanakan. Sama dengan pengalaman Donna Agnesia yang begitu menikah dengan Darius Sinathrya, tidak sempat menikmati bulan madunya dengan nyaman, karena berbagai pekerjaan keburu menunggunya.

Itu sebabnya ketika pasangan selebriti tersebut mendapat kesempatan berbulan madu kedua, kegembiraan yang terpancar di wajah mereka tidak bisa disembunyikan. “Wow, ini memang sebuah pekerjaan juga, tapi sekaligus anugrah,” ujar Donna ketika mendapat tawaran dari rumah produksi Samuan dan Appetite Journey, membuat program TV “Honeymooner”, Maret lalu.

Dalam program life style documentary itu Donnna dan Darius memerankan diri mereka sendiri. Yang membedakan dengan bulan madu biasa, hampir sebagian besar kegiatan yang mereka lakukan on scene. Tidak menjadi soal, sebagai selebriti mereka tidak canggung di depan kamera.

Dalam reality show tersebut, mereka menikmati berbagai fasilitas mewah, mulai berangkat dari Jakarta hingga ke tujuan destinasinya, Bali.

Mereka naik pesawat (dari Jakata) dengan kelas bisnis, dan sesampai di bandara Ngurah Rai dijemput mobil mewah Mercy. Tujuannya adalah sebuah resor mewah yang sangat lekat dengan nuansa Bali di kawasan Ubud, sekitar 40 kilometer dari Denpasar, The Royal Pita Maha.

Meski dibangun tanpa blue print, sang pemilik resor ini yang tak lain adalah keluarga kerajaan Ubud, merasa tidak perlu merusak alam sekitar. Bahkan bangunan di lahan seluar 12 hektare itu sangat menyatu dengan alam sekitar yang asri. Vila-vila dibangun menghadap ke lembah yang di bawahnya mengalir Sungai Ayung, lengkap dengan air terjun alaminya. Berada di vila, dengan perpaduan eksotis kebun yang hijau, bukit dan lembah, membuat suasana rileks.

Di The Royal Pita Maha yang didesain dengan Balinese style yang memadukan nuansa modern dan alami, pasangan ini seperti back to nature. Bermalas-malasan di resor bukan pilihan yang salah, tapi Darius – Donna juga memilih menikmati beragam aktivitas, seperti menonton pertunjukan tari, musik, yoga, serta ikut kelas memasak. Tak lupa pehobi olah raga itu ikut rafting yang menaikkan adrenalin.

Bulan madu kurang lengkap jika tidak mencoba candle light dinner. Darius – Donna memilih makan malam dalam cahaya yang temaram di tepi sungai Tjampuhan yang melintasi resor tersebut. “Benar-benar bulan madu!” tukas Donna. Berbeda dengan bulan madu yang pertama, pasangan yang menikah pada 30 Desember 2006 itu kali ini membawa putra semata wayangnya, Lionel Nathan Sinathrya Kartoprawiro yang berusia 9 bulan.

Sama-sama bertajuk “bulan madu kedua”, pasangan Winky Wiryawan – Asmara Siswandari mempunyai cerita tersendiri. Pasangan selebriti ini sudah empat tahun menikan, tapi belum juga dikaruniai anak. Iu sebabnya, dalam rangka ingin lekas punya momongan, mereka pun berbulan madu kedua ke Eropa, akhir April lalu. “Dalam situasi yang santai dan romantis, mudah-mudahan bisa jadi (berhasil hamil),” ungkap Winky.

Dari Petualangan hingga Koleksi

0

Namanya Steve Fosset. Mungkin tidak banyak orang mengenalnya, tapi catatan tentang petualangannya itulah yang membuat pria kelahiran Tennessee, Amerika Serikat, 22 April 1944, ini populer. Bahkan di kalangan para petualang namanya pun sangat disegani. 

Betapa tidak, Fossett tak cuma tangguh menaklukkan ombang-ombak ganas di laut mana pun. Ia juga seorang pendaki gunung yang andal, meski tak pernah bisa menaiki puncak Everest. Dan kini, ia telah mencatatkan dirinya sebagai penerbang solo paling cepat yang mengitari bumi tanpa henti: 67 jam dengan jarak 37 ribu kilometer! ”Inilah obsesi terbesar saya,” katanya. 

Fosset mulanya dikenal sebagai petualang laut. Banyak perjalanannya di lautan menjadi parameter keberanian seorang petualang. Berbagai pengalaman sudah dikecapnya dalam petualangan laut. Terombang-ambing di lautan bisa jadi malah menyenangkan untuknya.

Dengan modal sebuah kapal bercadik dua bernama Chayenne, ia terabas hampir keseluruhan rute laut terganas di dunia. Mulai dari usaha memecahkan rekor tercepat dalam melintas Lautan Atlantik, Bermuda, Miami hingga New York, hingga lautan Mediterian menjadi santapan kegiatan perjalanan gilanya. 

Tidak hanya berpetualang di laut, ia juga mengarungi angkasa dengan menaiki balon udara keliling dunia. Laksana cerita Jules Verne dalam Around The World in 80 Days, ia tempuh perjalanan dua bulannya melintasi udara bumi. ”Saya tidak melakukan ini untuk kesenangan saja, tapi juga menciptakan sejarah,” ujarnya.

Kalau dikatakan petualangan gila mungkin tidak salah. Tapi bagi Fosset, semua yang dilakukannya adalah sebuah kesenangan, kegiatan rekreasi yang dilakukan pada waktu luang untuk menenangkan pikiran, tapi juga hampir menjadi profesi.

Mungkin tidak harus seperti Fosset, tapi berpetualang memang mulai menjadi hobi para eksekutif saat ini. Dari berpetualang, tepatnya soft adventure, mereka menuai pengalaman menarik dan berharga bagi kehidupan mereka. Dunia petualang bagi para pehobi menjadi tantangan tersendiri yang mengasyikkan. Sebuah perusahaan rokok global pun berani membentuk adventure team dalam program tahunannya.

Para peserta tidak harus seorang petualang beneran, tapi paling tidak harus lulus dari berbagai ujian, mulai dari mengemudikan motor trail, jeep terbuka di medan off road, triatlon, rafting, berenang, dan sebagainya. Cukup seru, selain peminatnya bejibun, kegiatan ini bisa membentuk brand image yang baik terhadap produk ini.

Kegiatan berpetualang tidak hanya menyenangkan, tapi melahirkan banyak cerita. Seperti pengalaman Amir Maulana yang hobi naik gunung. Berada di puncak gunung bagi lulusan Fakultas Ekonomi UI Jakarta ini menjadi kenikmatan tersendiri yang sulit dicari bandingannya. 

Profesional di bidang perbankan yang di masa mahasiswa menjadi pengurus klub pecinta alam ini merasa tenang saat melakukan pendakian gunung dan sensasinya ketika berhasil ke puncaknya. “Kita menjadi dekat dengan Tuhan,” kata Amir yang pernah menaklukkan Gunung Semeru dua kali itu.

Kartini di Era Digital

0

“Kartini adalah pengguna teknologi komunikasi informasi pada zamannya,” tulis Ventura Elisawati, blogger yang bekerja di XL (Kompas 28 April 2008).

Tidak salah, Kartini, wanita kelahiran Jepara 21 April 1879 itu pada zamannya adalah pelanggan koran terbitan Semarang, De Locomotief, yang boleh dikatakakan produk teknologi informasi pada saat itu. Dia juga membaca majalah wanita Belanda, De Hollandsche Lelie. Dia juga orang yang tak segan berinteraksi dengan berbagai pihak untuk berdiskusi dan bertukar pikiran tentang berbagai hal. Dia berkirim surat kepada para sahabat penanya, tentang kebudayaan, kehidupan perempuan, pendidikan, dan juga agama. Beberapa sahabat penanya, seperti Tuan dan Nyonya JH Abendanon, serta Estelle alias Stella Zeehandelaar, cukup intensif memberikan tanggapan atas pemikiran, keluhan, dan juga curhat Kartini.

Kumpulan surat-surat Kartini dengan JH Abendanon, setelah Kartini meninggal, diterbitkan menjadi buku Door Duisternis tot Licht yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini diterbitkan pada 1911 dan menjadi best seller saat itu karena dicetak sampai lima kali.

Menurut VE, apa yang dilakukan Kartini saat itu—menuangkan pemikiran, memanfaatkan teknologi komunikasi informasi untuk berinteraksi, melakukan transformasi dan memberikan inspirasi—sebenarnya tak jauh dari apa yang kini tengah populer di dunia teknologi komunikasi informasi sekarang ini. Salah satunya, ngeblog. Blogging secara positif adalah menuangkan berbagai pemikiran, dalam personal web site (blog) untuk kemudian mendapatkan tanggapan dalam diskusi interaktif yang positif tentunya. Yang pada akhirnya bisa ditransformasikan dan bisa menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal-hal yang positif.

Bila Kartini hidup di zaman sekarang, sudah pasti dia ngeblog, supaya lebih banyak orang berani berpendapat menyampaikan pikirannya. Dan buntutnya makin banyak orang pintar dan terjadi social networking yang positif.

Data dari APJII menyebut sampai akhir 2007 pengguna internet di Indonesia mencapai 25 juta dengan tingkat pertumbuhan sekitar 39 persen. Tahun 2012, jumlah pengguna internet di Indonesia akan sama besarnya dengan jumlah pengguna internet di Asia Tenggara. Itu menggambarkan bahwa pengguna internet Indonesia bertambah dengan sangat cepat.

Sementara jumlah blogger Indonesia yang memiliki situs di Blogspot sekitar 247.000, di WordPress 125.000, blog service lainnya sekitar 75.000 (data Internet World Stats December 2007 Report). Penambahan fitur bahasa Indonesia di WordPress dan Blogspot menunjukkan bahwa potensi blog besar dan terus tumbuh. Jika tarif internet maupun telekomunikasi makin murah, potensi pertumbuhannya akan makin tinggi, termasuk potensi pengguna mobile blogging, yang jumlahnya sebangun dengan penetrasi pengguna ponsel yang sudah mencapai lebih dari 100 juta orang.

Di era dunia tanpa batas dan kebebasan berpendapat yang dijamin undang-undang, mestinya Indonesia bisa memunculkan banyak kartini yang sesuai kompetensinya. Inilah makna sesungguhnya dari peringatan Hari Kartini di era digital, dan bukan sekadar lomba berkebaya. Setuju banget Mbak Lisa!

Darius Sinathrya – Donna Agnesia

0

Bagaimana memadukan dua selera makan yang berbeda? Tanyakan pada pasangan Darius Sinathrya dan Donna Agnesia. Memang, keduanya suka olah raga bahkan sampai sekarang menjadi presenter beberapa acara olah raga, tapi soal makan, masing-masing memiliki favorit tersendiri.

Donna, kelahiran Jakarta 8 Januari 1979 di Jakarta, suka masakan Sunda dan makanan tradisional Indonesia lainnya. Tapi Darius, sang suami, meski tinggal lama di Yogyakarta, selera makanannya cenderung bule. “Saya suka pasta, pizza, dan makanan-makanan Eropa,” ujar kelahiran Swiss 21 Mei 1985 itu.

Memang Darius tidak menolak makanan Indonesia, bahkan beberapa menjadi favoritnya, sebutlah gudeg, tongseng, sate padang, dan lain-lain.

Tapi pria yang pernah membintangi beberapa sinetron seperti Gatotkaca, Hantu Jatuh Cinta dan Bukan Salah Bunda Mengandung, serta berakting dalam film Naga Bonar (Jadi) 2, D’Bijis, Pocong 3, Akhir Cinta, dan Love ini, banyak daftar pantangannya. Di antaranya adalah ikan. “Saya tidak suka baunya yang amis,” tukas pemilik tubuh atletis yang suka masak itu.

Dan itulah menjadi PR Donna ketika harus jalan bareng mencari makanan. Meski Donna yang banyak inisiatif, ia harus pandai-pandai memilih restoran atau kafe yang sajiannya bisa untuk memenuhi selera mereka berdua. Tidak hanya berdua sebetulnya, sebab pasangan yang menikah pada 30 Desember 2006 sudah dikaruniai seorang putra (lahir 28 Juni 2007, dan diberi nama Lionel Nathan Sinathrya Kartoprawiro).

Bagi Donna, soal makan jelas bukan suatu kendala, justru berwisata kuliner menjadi rekreasi tersendiri di tengah-tengah kesibukannya bekerja. “Untungnya, saya orangnya ‘pemakan segala’, sehingga bisa menyesuaikan diri dengan selera keluarga,” ujar mantan model yang fasih berbicara soal tim-tim sepak bola dunia itu.

Selera yang berbeda juga bukan halangan untuk saling mendekatkan diri satu sama lain. Bahkan keduanya mempunyai kesukaan yang sama terhadap bberapa jenis makanan, di antaranya adalah vondue – makanan berbahan keju yang cara penyajiannya sangat unik.

“Bentuknya indah, dimakannya juga enak, ada sensasinya,” ujar Donna yang diamini oleh Darius. Bahkan itulah sebagian kenangan ketika mereka berbulan madu ke Swiss. (Burhan Abe)

Dunia Gemerlap Jakarta

0

Party with Royal Salute “The Ultimate Tribute” @ Sun City Luxury Club on Friday, April 04, 2008, start 9pm till late. Cheers!

Pesan pendek dari Edhi Sumadi, Country Manager Pernod Ricard, pemegang merek sekitar 30-an spirit dan wine, mampir ke ponsel saya. Ini adalah salah satu dari tiga SMS ajakan party minggu ini.

Begitu banyak undangan party di Jakarta, dengan konsep-konsep acara yang baru, bahkan crowd baru pula. Tempat-tempatnya pun selalu baru. Rasanya kalau kita meleng sedikit pasti ketinggalan.

Kapan Anda terakhir kali datang ke sebuah tempat hangout? Jangankan tahun lalu, bulan lalu pun, mungkin sekarang sudah basi. Tiap bulan selalu saja ada pembukaan bar-bar baru, klub-klub baru, atau kafe-kafe baru – minimal venue lama yang di-redesign, kalau perlu dengan nama baru. Kalau mereka tidak melakukan perubahan, pasti akan ditinggalkan para “jamaah” pesta selalu.

Anda tahu Sun City Luxury Club, seperti yang tertera di SMS di atas? Mungkin bukan nama yang asing bagi para partygoers Jakarta. Tapi kalau Anda tidak tahu tempat tersebut, tidak perlu berkecil hati, Anda bukan satu-satunya orang yang “kurang gaul”.

Begitu banyak klub di Jakarta, ada yang datang ada yang pergi, saya coba list beberapa: Score!, Blowfish, D’Light, 9Clouds, Bvlgary, 101 Lounge, Amor Club, X Lounge, Dragonfly, Vertigo, Mumm Champagne Lounge, Kama Sutra, Mojito, ADS Bar, Red & Whte, X2, Equinox, Black Cat, V2, Red Square, Embrio, Mistere, Between… Percayalah, hanya clubber sejati saja yang hapal tempat-tempat tersebut di luar kepala.

Yang terang (bukan gelap), dunia gemerlap (dugem) malam Jakarta memang kagak ade matinye. Kalau Anda suntuk dan butuh selingan, pasti tersedia hiburan yang sesuai dengan kebutuhan batin, mau pilih yang rave atau pun yang romantic, semua ada. Kondisi kantong juga bisa disesuaikan, ibaratnya mulai dari cuma cepek hingga ber-jut-jut, tinggal tunjuk.

Kalau Anda suka berdansa, khususnya Latin, The W9 Club di kawasan selatan, untuk menyebut salah satu contoh, patut dicoba. Inilah bar yang memadukan konsep dance club, bar, dan restoran. Kalau Anda suka ajepajep dengan irama musik dengan ketukan cepat, klub-klub di Kota menjadi pilihan yang tepat! Lupakan dress code, karena hiburan ala “Jakarta Barat” tidak memedulikan penampilan pengunjungnya, tidak perlu jaim seperti di kawasan selatan, yang penting berkocek tebal!

Oh ya, kalau membagi dunia berdasarkan ideologi, kita dulu mengenal Timur-Barat, kalau berdasarkan tingkat kemakmuran kita mafhum Utara-Selatan. Tapi kalau dunia malam Jakarta, kita membaginya menjadi Barat dan Selatan.

Barat mewakili klub-klub ala Kota – meski berlokasi di utara tapi kalau gaya hiburannya seperti di Kota, dia digolongkan sebagai “Barat”. Cirinya, klub-klub tersebut tidak terlalu stylist, hiburannya cenderung to the point, mengarah ke urusan syahwat, dan pendapatan setiap malam yang luar biasa – khususnya untuk venue yang populer dan banyak pengunjungnya.

Jurnalisme Kuliner

0

Tulisan tentang makanan di media apakah termasuk karya jurnalistik? Wacana ini pernah mengemuka dan sempat menjadi polemik serius. Teman saya, wartawan senior, berpendapat bahwa tulisan yang berkaitan dengan kuliner, khususnya review tentang makanan tertentu di sebuah warung atau restoran bukanlah karya jurnalistik, karena nadanya selalu positif.

Tidak ada kritik, yang ada adalah “enak” dan “enak sekali”. Pokoknya, maknyus! Atau, dalam terminologi jurnalisme, tulisan seperti itu cenderung “satu arah”, tidak ada unsur cover both side story yang menjadi jiwa tulisan jurnalistik. Benarkah?

Bondan Winarno, pembawa acara Wisata Kuliner di Trans TV, tentu mempunyai pendapat yang berbeda. Menurut mantan Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan ini, rumah makan yang akan dia review di acaranya, sudah melalui proses screening terlebih dulu. Sudah ada pra-penilaian, baik oleh Bondan pribadi maupun oleh Tim Jalansutra, komunitas pecinta kuliner di mana Bondan menjadi kepala sukunya. Dengan kata lain, restoran yang kurang OK sudah pasti dihindari, sehingga makanan yang dicicipi pun dijamin maknyus.

Bodan menepis bahwa tidak ada kritik sama sekali terhadap makanan yang dicicipinya. Meski tidak pernah mengatakan “tidak enak”, bukan berarti penilaian selalu positif. Dugaan bahwa media dibayar – yang merupakan pantangan terbesar dalam dunia jurnalistik – juga ditepis Bondan.

Sebagai pengelola majalah food & entertainment Appetite Journey tentu saya mengamini pendapat Bondan Winarno – yang secara personal menjadi inspirasi saya ketika memutuskan menjadi wartawan. Tapi saya tidak ingin larut dalam polemik ini dan berdebat tentang keberadaan jurnalisme kuliner – yang pijakannya menurut saya sama dengan jurnalisme pada umumnya, yakni: to inform, to educate, dan to entertaint.

Yang jelas, info seputar kliner saat ini makin dibutuhkan. Media-media umum, apalagi yang kusus, perlu memberitakannya. Bahkan majalah gaya hidup pendatang baru dari Grup Tempo, U, menjadikan topik kuliner sebagai cover story.

Ya, siapa yang bisa menyangkal bahwa gerai-gerai yang menjual makanan (baca: restoran, kafe, food court, coffeeshop, dan sejenisnya) sudah menjamur di Jakarta, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Kalau awal tahun 1990-an kita hanya mengenal beberapa kafe serta restoran yang kebanyakan berlokasi di hotel-hotel, kini sudah tidak terhitung jumlahnya. Di Jakarta saja tak kurang dari 10.000-an. Belum termasuk yang kelas kaki lima jumlahnya sudah tidak terbilang lagi.

Karena kebutuhan informasi tentang tempat makanan (untuk kelas menengah perkotaan yang bukan sekadar bertanya hari ini “makan apa” tapi “makan di mana”) itu pula, media yang menampilkan dunia kuliner juga makin marak. Tidak hanya hanya media cetak, stasiun TV pun pasti punya tayangan seputar kuliner.

Situ-situs atau pun blog-blog pribadi, pun tidak sedikit yang mengkhususkan diri kepada topik makanan. Sebutlah jalansutra.or.id, ada sendokgarpu.com, budiboga.blogspot.com, pennylanekitchen.blogsome.com, dan tentu saja appetitejourney.com.

Jadi, apakah jurnalisme kuliner itu juga jurnalisme? Gak penting-penting amat, gitu loh! Pokoknya, meminjam motto komunitas Jalan Sutra, sekali jalan-jalan terus makan-makan… (Burhan Abe)

Royal Legacy of Art & Tradition

0

Sebuah Mercy menjemput pasangan Darius Sinathrya – Donna Agnesia di bandara internasional Ngurah Rai, Denpasar. Inilah untuk pertama kalinya pasangan sejoli selebriti itu akan menghabiskan bulan madunya (yang kedua) di Bali.

Tempat yang dituju tidak tanggung-tanggung, sebuah resor mewah yang sangat lekat dengan nuansa Bali di kawasan Ubud, sekitar 40 kilometer dari Denpasar, The Royal Pita Maha. Ubud, dalam cerita rakyat setempat, adalah destinasi pilihan pendeta Maharsi Markandhya dari Jawa.

Sementara orang-orang asing generasi pertama yang “menemukan” Ubud sering menyebut bahwa desa ini sebagai surga dunia, dan The Royal Pita Maha adalah bagian penting dari keindahan desa ini, “is a captivating resort of refined Balinese villas that embrace the landscape of a serene river valley.”

Meski dibangun tanpa blue print, sang pemilik resor ini yang tak lain adalah keluarga kerajaan Ubud, merasa tidak perlu merusak alam sekitar. Bahkan bangunan di lahan seluar 12 hektare itu sangat menyatu dengan alam sekitar yang asri.

Vila-vila dibangun menghadap ke lembah yang di bawahnya mengalir Sungai Ayung, lengkap dengan air terjun alaminya. Berada di vila, dengan perpaduan eksotis kebun yang hijau, bukit dan lembah, membuat suasana rileks. “Wow, keindahan alamnya tidak ada duanya!” seru Donna tertahan.

Terdiri dari 52 villa, 41 buah Pool Villa, 10 buah Healing Villa dan 1 buah Royal House. Dirancang untuk kenyamanan Anda, king size bed serta private swimming pool dengan pemandangan alam yang hijau, menjadikan The Royal Pita Maha penuh dengan ketenangan dan kedamaian.

Didesain dengan Balinese style yang memadukan nuansa modern dan alami. Pastinya akan membuat Anda dan pasangan Anda dimanjakan dengan suasana seperti back to nature di sekelilingnya.

Tidak hanya alam memesona, The Royal Pita Maha terletak di daerah Ubud yang terkenal dengan kebudayaan khas dan tarian tradisional seperti tarian Legong, Kecak dan banyak lagi tarian lainnya. Tempat ini seringkali menarik perhatian para turis dari mancanegara dan menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi bila berlibur ke Bali.

Kalau Anda ingin bermalas-malasan tinggal di resor juga bukan pilihan yang salah. Atau, jika Anda ingin menikmati beragam aktivitas untuk Anda seperti pertunjukkan kelas tari, musik, lukisan, kelas memasak serta kelas memahat buah dan kayu, The Royal Pita Maha pun bisa menyediakannya. Selain itu, Anda juga dapat menikmati perjalanan dengan bersepeda atau arung jeram, untuk yang menyenangi tantangan.

Di tempat yang tenang seperti ini yoga adalah kegiatan yang tepat. Di sini tersedia Royal Wellness and Healing Yoga Programs yang dipandu instruktur yoga berpengalaman, Anda dapat menemukan ketenangan pribadi antara tubuh, pikiran dan jiwa.

Sementara jika Anda menyukai spa, cobalah ke Kirana Spa. Di The Royal Pita Maha – yang sering disebut juga A Tjampuhan Relaxation Resort, tersedia international luxury spa dengan produk dari Shiseido Co. dan private spa program, serasa Anda berdua dimanjakan layaknya seorang raja dan ratu.

Makanan Sehat vs Makanan Enak

0

Di tengah isu global warming, climate change, dan sejenisnya, sebuah proyek apartemen yang mempunyai konsep “go green” diluncurkan Januari lalu tahun ini. Tidak hanya itu, tempat peluncurannya pun di sebuah kafe yang menyediakan “healthy food” di bilangan Jakarta Selatan. Aha, strategi yang sangat brilian!

Hanya saja, ketika menikmati hidangan yang tersedia, sorry to say, kok tidak ada yang maknyus. Tampilannya memang menarik, tapi di lidah terasa hambar. Dibilang tidak enak sebenarnya juga tidak, tapi rasanya kurang nendang, gitu loh. “Makanan sehat tidak tidak selalu enak. Sebaliknya, makanan enak tidak beranding lurus dengan kesehatan,” ujar gastronom William Wongso.

Begitulah, rasa kadang-kadang harus dikalahkan kalau ingin hidup lebih sehat. Kesadaran seperti ini agaknya mulai menjadi tren dunia. Di Indonesia yang memang sedikit paradoks. Ketika orang-orang Amerika menghindari burger yang dianggap junk food, kita justru sedang tergila-gila dengan makanan yang satu itu. Bahkan, perusahaan besar di Indonesia yang mefokuskan diri kepada produk-produk life style, baru saja mendapatkan franchise untuk membuka gerai burgernya di sini.

Kasadaran akan hidup sehat memang belum merata di Indonesia. Atau, kalau tahu infonya, tidak semua orang berniat hidup sehat dengan berbagai alasan – misalnya dari segi biaya, hidup sehat ternyata tidak murah. Diet Coke, misalnya, harganya lebih mahal ketimbang kola biasa. Tapi asal tahu di AS volume penjualan Diet Coke sudah mengalahkan yang reguler. Sayur organik, selain tidak gampang mendapatkannya (dan tampilannya tidak kelihatan “segar”, seringkali berulat), harganya pun bisa dua kali lipat.

Apa boleh buat, hidup sehat – dengan mengonsumsi makananan sehat yang tidak digaransi lezat, memang masih eksklusif. Kita juga mafhum kalau restoran yang hadir dengan konsep menu sehat, baik dari pemilihan bahan maupun cara memasaknya, bisa dihitung dengan jari.

Tapi apa pun motivasinya, kita harus acungi jempol kepada para pengusaha yang menjadi pionir, mau terjun di bisnis “makanan diet” ini. Di tengah membanjirnya restoran-restoran yang hanya “menguja rasa”, masih ada yang peduli dengan kesehatan. Di tengah serbuan produk-produk makanan ber-MSG, mengandung kadar gula tinggi, mempunyai zat pengawet, masih ada produk yang sehat dan aman dikonsumsi.

Pola hidup dan pola makan kita sudah sudah terlampau biasa mengonsumsi produk-produk yang berbahaya bagi kesehatan. Healthy restaurant ibarat oase di tengah padang belantara makanan sampah, dan healthy food products ibarat “penawar rindu” orang-orang yang mendambakan kesehatan.

Memang, menurut seorang pakar nutrisi sehat, kalau ingin hidup sehat, tidak cukup dengan pemilikan rumah makan tertentu atau pun pemilihan produk-produk yang memenuhi standar kesehatan, tapi juga harus mengetahui olah masak yang sehat pula. “Mengukus, merebus, memanggang, dan membakar adalah metode yang lazim digunakan dalam menu diet atau menu sehat,” ujarnya.

Hidup sehat adalah pilihan, termasuk konsekwensinya meninggalkan makanan enak – paling tidak yang selama ini dianggap enak. Siapkah Anda mengganti nasi dengan beras merah, misalnya? Atau mengganti gula dengan madu, minimal dengan gula rendah kalori.

Garam pun harus jenis garam diet (nutrisalin), santan diganti susu rendah lemak, minyak sebaiknya canola oil atau bahkan minyak zaitun mengandung antioksidan tinggi. Roti tidak boleh mengandung bahan tambahan seperti aditif, preservatif, apalagi zat kimia, yang biasa terkandung di roti-roti modern saat ini. Dan siap-siaplah meninggalkan ayam goreng yang gurih dan lezat itu, karena yang disarankan dalam hidup sehat adalah ayam bakar atau ayam rebus, itu pun tanpa kulit dan garamnya tidak boleh berlebihan. Huh! (Burhan Abe)

Investment Worth ConsiderInveing

0

Do you have a lot of money? Then buy an apartment. Really. Many predict that after housing complexes, the apartment sub-sector has very high prospects.”Interest rates are going down. If I don’t take the chance now, when then? Obviously, there is a big opportunity for big gains now,” said a professional who had just purchased a two bedroom apartment in Permata Hijau, Jakarta.

It is true that there are predictions of a huge number of apartments entering the market this year. Several developers are offering unique and attractive products in order to compete in this increasingly competitive market. Their services include making available facilities that are linked to other property products, therefore leading to the emergence of what is referred to as mixed-use properties, to putting up environmentally friendly apartment towers.

According to property consultant PT Property Advisory Indonesia (Provis), condominium projects that were completed in the fourth quarter of 2007 are Capital Residence and Pacific Place in the SCBD, The 18th Rasuna in Kuningan and Tower C of Mediterania Marina in Ancaol. The total supply of strata title condominiums in Jakarta in the last quarter of 2007 stood at 58,553 units.

In addition, five other condominium projects have been launched, namely Condo House and The Premiere as part of the construction of Thamrin Residences in the Thamrin area, Lavender Tower of Royal Mediteranea Garden in Tanjung Duren, Tower B of Permata Hijau Residences in Permata Hijau and Kebagusan City in Kebagusan. These five projects will see an additional 28,614 condominiums on the market in coming years.

Jakarta has witnessed an extraordinary increase in the number of apartments. According to some property analysts, now is the right time to buy an apartment. Logically, when interest rates abroad drop, many people withdraw funds deposited offshore. When interest rates at home go down, investors eye apartments as an attractive investment option.

Whether an apartment is bought as a home or as an investment it is still worth living in given that the roads are become increasingly congested and commuting into the city from the suburbs usually takes a long time. “There is a trend among people living in landed houses in the suburbs to migrate downtown and live in apartments. They want to be close to their places of work or business,” said Albert Luhur, marketing manager of The Summit in Kelapa Gading.

Research conducted by Provis shows that apartments in the CBD areas in Jakarta are generally in the price range of Rp 12.9 million/m2, while upper- to middle-class apartments located outside a CBD area are about Rp 12 million/m2 in price.

Interestingly, although the market price of a house is more or less the same as that of an apartment, for long-term investment, rent on an apartment is higher than that on a house. The highest rate of return on a house is 3.5 percent while that on an apartment may be more than 10 percent, which is still less that the interest rate on a time deposit.

Indeed, there is no general formula for investment in apartments. One individual may differ from another in this respect. Therefore consideration must be made case by case. There are several tips, however, that can be used as reference when investing in an apartment.

First, just like choosing other forms of property, you must consider the location. Many people look for a location close to a business center. Likewise, an apartment should enjoy easy access to other facilities. Many expatriates stay in apartments. If you plan to rent out your apartment, study which areas are popular among expatriates. Expatriates from the U.S., Europe, Australia and Japan are usually willing to spend more on rent than those from Korea, Singapore and Hong Kong.