Home Blog Page 96

Wine Tasting, Wine Dinner, Wine Party

0

Beberapa hari terakhir di bulan November lalu undangan acara yang bertemakan wine datang bertubi-tubi. Mulai wine tasing, wine dinner, hingga wine party. Asal wine bisa dari Australia, Amerika, Spanyol, hingga Prancis – bahkan berasal dari wilayah Bordeaux, yang dianggap sebagai salah satu penghasil wine terbaik di dunia. 

Acara-acara tersebut bisa digelar di wine lounge – sebutlah di Vin+ di kawasan Kemang Jakarta, yang selalu mengadakan wine tasting setiap Kamis malam, atau di hotel berbintang seperti di Gran Melia Hotel Jakarta, di Klub Kelapa Gading, salah satu kawasan kuliner penting di Jakarta, bahkan di tempat distributornya langsung – seperti yang diadakan Grup Dima sewaktu memperkenalkan dua merek wine asal Australia: De Bortoli dan Picardy.

Dan yang patut juga dicatat adalah wine dinner di Four Seasons Hotel juga menjadi bagian penting dalam Jakarta Culinary Festival, yang digagas oleh Grup Ismaya, perusahaan yang bergerak dalam bidang F&B, November lalu.

Wine culture memang bukan budaya Indonesia asli. Tapi orang-orang Indonesia yang semakin terbuka menerima berbagai budaya kuliner dari berbagai negara, wine kini mulai menjadi gaya hidup yang tidak bisa diabaikan, terutama di kalangan kelas menengah ke atas. 

Tidak saja makin banyaknya wine lounge di Indonesia, baik yang berdiri sendiri maupun menjadi bagian dari restoran dan hotel, sejumlah perkumpulan wine lover pun banyak bermunculan. Sebut saja Jakarta Wine Society, Wine & Spirit Circle, sampai International Wine & Food Society Indonesia. Rata-rata anggotanya dulu hanya didominasi oleh ekspatriat saja, tapi kini orang domestiknya pun terus bertambah. 

Salah yang klub ekslusif yang semuanya orang lokal adalah Grand Cru. Disebut eksklusif karena jumlah anggotanya hanya 12 orang dan wine yang mereka konsumsi adalah yang khusus premium saja, yang harganya bisa Rp 80 juta per botol. 

Dan yang terbaru adalah klub pecinta wine asal Bordeaux yang disebut Sayang Bordeaux Indonesia Wine Club. Digagas oleh beberapa orang Indonesia, mereka tidak hanya mencintai winenya tapi juga orang-orangnya bahkan budaya yang datang dari salah satu wilayah penting penghasil wine di Prancis itu. Mereka menjalin kerja sama dengan chateau-chateau di sana, sebutlah Petrus, Haut Brion, Trotanoy, Angelus, dan lain-lain.

Klub itu diresmikan pertengah November lalu, ditandai dengan wine tasting dan wine dinner di Jakarta. Dihadiri oleh lima wine maker dan pemilik chateau asal Bordeaux: Alain Moueix (Chateau Mazeyrez), Pierre Blois (Chateau Moulin Du Cadet), Dominique Hebrard (Chateau Cheval Blanc, Bellefont Belcier, dan Trianon), Laurence Brun (Chateau Dassault), dan Vincent Priou (Chateau Beauregard). 

Begitulah, wine ternyata bukan sekadar minuman. Meski hanya cairan hasil fermentasi buah anggur, segelas wine bisa bercerita banyak. Setiap tetesnya mengandung muatan sejarah, geografi, pertanian, bahkan kebudayaan negara tersebut. Negara-negara lama penghasil dengan sejarah panjang menghasilkan wine yang disebut sebagai old world wine, dan negara-negara baru sesudahnya memproduksi new wolrd wine – Indonesia termasuk di dalamnya. Dari segi kualitas mereka tidak ada bedanya, tergantung ketrampilan tangan-tangan pembutanya, bahkan wine yang dikkasifikasikan sebagai new wolrd wine, sering mendapatkan penghargaan tertinggi di berbagai festival wine di dunia. 

Pinot Noir, The World’s Most Seductive Wine

0

Pinor Noir naik daun. Setidaknya, di Wine for Asia (WFA) 2009 di Singapura, misalnya, untuk pertama kalinya Pinot Noir Forum digelar bersamaan dengan penyelenggaraan event wine berkelas dunia tersebut.

Bertema “Pinot Noir Wine Styles – the Traditional and the Generation NEXT”, forum yang berlangsung pada 23 Oktober lalu membawa para peserta seminar, yang terdiri dari pebisnis, distributor wine, wine enthusiasts dan undangan-undangan VIP, ke sebuah sisi lain dari red wine. Forum ini bertujuan untuk memberikan para peserta seminar pandangan dan nuansa dari perkembangan Pinot Noir di dunia. Lebih dari 100 pebisnis wine dari negara-negara seperti Malaysia, India, Vietnam, Thailand, Indonesia, Cina dan Jepang turut berpartisipasi pada forum ini.

Adalah Pinot Noir, full-bodied red wine dengan rasa kompleks menjadi fokus para peserta seminar. Reputasi dari Pinot Noir memang selalu disejajarkan dengan wine dari Burgundy (Bourgogne), Perancis.

Must Read Book: Wine Not? Cerita, Rasa, dan Gaya Hidup di Balik Segelas Anggur

Hampir dari seluruh perjalanan sejarah wine mencatat sebuah landmark dari Pinot Noir. Sepanjang 50 km ke arah pegunungan Côte-d’or adalah di mana sejarah menjadi saksi dalam pembuatan vintage Pinot Noir yang telah dilakukan lebih dari 2.000 tahun silam.

Dalam forum elegan tersebut, sejajaran jenis dari kualitas teratas Pinot Noir asal wineries seluruh dunia difitur ke dalam sebuah vertical wine tasting, diskusi dan tanya-jawab yang menarik.

Sebagai moderator pada forum berkelas ini adalah Ch’ng Poh Tiong, seorang penulis wine ternama dari Wine Review.

Menurut Ch’ng, Pinot Noir sebagai full-bodied red wine sudah menjadi pilihan para wine lover ataupun wine aficionado terlepas dari kepopuleran tradisionalitas Cabernet, Merlot, and Shiraz.

Sering Burgundy menjadi ikon daerah asal untuk jenis red wine Pinot Noir, disusul oleh Selandia Baru. Meskipun demikian, popularitas Pinot Noir di dunia vintage telah membangunkan konsumen Asia untuk mengeksplorasi gaya dan jenis Pinot Noir ke negara lainnya seperti Chile, Afrika Selatan, dan Jerman.

Seorang ahli Burgundy asal Perancis, Jean Pierre Rénard, hadir dalam forum ini sebagai lead speaker menjelaskan bahwa produksi Pinot Noir membutuhkan cuaca malam dan suhu udara siang yang bervariasi. “Ditambah dengan kondisi dan kualitas dari lahan yang subur, ini akan dapat memproduksi wine dengan rasa citra yang berkualitas,” paparnya.

Pinot Noir adalah wine yang terbuat dari variasi anggur hitam pilihan. Sejarah wine itu sendiri bisa ditelusuri kembali ke masa abad keempat di daerah Burgundy. Kebanyakan wine jenis Pinot Noir memiliki rasa yang berkelas jika di-harvest dan dikultivikasi di region Burgundy, Perancis, terutama di area sekitar Côte-d’or. Akan tetapi banyak daerah sejuk di pelosok dunia yang memungkinkan memproduksi Pinot Noir dengan keunggulan sendiri pada rasa, tingkat keasaman, dan tentunya kualitas yang membedakkan satu jenis Pinot Noir ke jenis lainnya.

Beautiful and Healthy ala SPA

0

Feeling drained due to hard work that saps your mind and energy? Perhaps it’s time to pamper yourself with a spa treatment.

Spa is an abbreviation of solus per aqua, which means health by or through water. However, it has developed to include massage and other salon and body care treatments. While in 15th century Egypt the spa was part of the world of doctors and medicine, the modern spa is synonymous with the beauty parlor and provides body and health care in great comfort. Spas offer holistic treatments that cover body massages, body scrubs, whitening masks, aroma therapy, milk baths and music.

Spa treatments usually take between one and a half and two hours for massage, body scrub, bathing and soaking in refreshing spices. Spa treatments have a lot of benefi ts as they smoothen, tighten, whiten and nourish the skin, relax the muscles and detoxify the body.

The spa in modern times is an oasis for women and men who crave beauty and health. Spa treatments are not exclusively for high-income earners but are also coveted by many middle income earners, although most may fi nd them beyond their budget. Spa treatments have indeed become a new lifestyle.

Many spas have mushroomed in the country’s major cities, including one established by the Martha Tilaar Group, which operate many branches through a subsidiary, PT Cantika Puspa Pesona (CPP). The company now owns 68 spa centers both in Indonesia and abroad, such as in Greece, Japan and Ukraine, franchised or owned by the company under the name Salon & Day Spa.

To appear beautiful, attractive and fresh is the dream of every woman and this is the platform on which Martha Tilaar’s business is based. It is able to harmoniously unite physical and inner beauty using the ancient Javanese practice of combining physical treatment with meditation and bio energy, which encompasses aroma and other therapies.

The Martha Tilaar Group offers various spa treatments, such as body scrub malih warni (change of skin color), Dewi Sri Spa, Sekar Sari Spa and Dara Putih aromatic milk spa. “Apart from offering physical beauty, our spas also make the body fresh and more relaxed with aroma therapy,” said one of the therapists.

Personalized service and a comfortable atmosphere are also offered by Reggia Spa Sanctuary, which is located in Kebayoran Baru, South Jakarta. It understands the unique and different needs of every individual and strives to meet their demands.

It specializes in the medical spa. It is very similar to most spas except that the therapists have basic medical knowledge. It is a solution for physical care using a non-surgical method and the world’s premium brands, sophisticated technology and fi ve-star service to ensure customer satisfaction.

Unlike in the US and Europe, the medical spa concept is not very common in Indonesia. “Supervision by professional doctors is required to monitor a customer’s condition during and after treatment to see the progress of the treatment and to provide solutions should there be problems,” said one of the doctors at such a medical spa.

Wine for Asia

0

WINE bukan hanya milik Prancis tentu saja. Juga bukan monopoli negara-negara penghasil wine yang lain, baik oldworld yang diwakili oleh Prancis, Italia, Spanyol, Portugal, Austria, dan Yunani, atau pun newworld, seperti Amerika, Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan, Chile, Argentina, Kanada, dan lain-lain.  

Kawasan Asia yang selama ini dianggap jauh dari tradisi wine ternyata mempunyai fakta yang cukup mencengangkan. Dalam sebuah riset terungkap bahwa wine di Asia bisa tumbuh sekitar 10 – 20 persen per tahun. Kawasan tersebut diwakili oleh China, Hong Kong, Taiwan, Singapura, dan Korea sebagai pemimpinnya. Nilai konsumsi di Asia (tidak termasuk Jepang) mempunyai potensi meningkat hingga dua kali lipat, mencapai US$17 miliar pada 2012 dan melonjak menjadi US$ 27 miliar pada 2017.  

Fakta itulah yang menjadi keniscayaan bagi negara seperti Singapura untuk menjadi tuan rumah bagi sebuah event penting yang disebut “Wine for Asia” (WFA), yang tahun 2009 memasuki tahun ke tujuh. Acara yang bertempat di Suntec Singapura dan berlangsung pada 22-24 Oktober ini diselenggarakan oleh MP Wine Resources, gabungan kerjasama antara MP International dan Wine Resources.  

WFA memamerkan wine internasional paling komprehensif di kawasan regional dan mampu menghadirkan exhibitor baik dari 350 perusahaan lokal maupun internasional. Sekitar 5.000 pengunjung berdatangan dari negara-negara Asia dan Pasifik bergabung dalam acara ini, termasuk dari Indonesia.  

Menurut Chooi Yee Choong, Regional Director of ASEAN (Islands) and Oceania, Singapore Tourism Board, dalam beberapa tahun terakhir ini, industri wine di Asia telah tumbuh sangat cepat. “Event ini menawarkan one-stop platform untuk tetap berdampingan dengan penawaran-penawaran wine terbaru, melengkapi jumlah yang tak terhitung banyaknya di bisnis fisrt-class, edukasi, dan kesempatan networking serta pencinta gaya hidup,” katanya di Decanter, winelounge yang berlokasi di Kuningan, Jakarta, beberapa waktu yang lalu.  

Ini merupakan momentum yang sangat tepat bagi mereka yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai wine. Apalagi, tidak hanya pameran, dalam WFA juga ada sesi edukasi bagaimana cara menikmati wine secara benar. Misalnya, bagaimana cara menikmati wine Bordeaux dari chateaux-chateaux terkemuka. Winetasting bersama Penfolds Brand Ambassador, Jamie Sach, serta mengetahui mengapa Penfolds Grange adalah salah satu wine paling terkenal di dunia dalam cita rasa eksklusif.  

Ada juga sesi bertopik bisnis yang membagikan pengalaman para pemain di industri wine, juga bagaimana kiat bertahan dan berkembang di masa resesi seperti saat ini. Dalam kelas yang disebut International Wine Importer Course, melengkapi kemampuan bisnis wine-related untuk memberikan mutu terbaik bagi bisnis wine. Pendeknya, apa saja yang berhubungan dengan wine – baik gaya hidup maupun bisnisnya ada di event ini, termasuk Southeast Asia Best Sommelier Competition 2009.  

Asia sudah menjadi kawasan yang sangat potensial sebagai pasar wine dunia. Singapura agaknya telah memanfaatkan kesempatan ini, dan mengambil peluang bisnis dari pertumbuhan wine yang pesat ini di Asia. Bagaimana dengan Indonesia?  

Memang belum ada data yang akurat tentang pertumbuhan industri wine di Indonesia. Namun, meski dengan segala kendala yang ada, mulai dari kuota, cukai yang masih tinggi, hingga tata niaga yang masih “amburadul”, nilai konsumsi wine di Indonesia terus meningkat dalam lima tahun belakangan ini. Terbukti, winelounges terutama di kota-kota besar sebutlah Jakarta, terus bermunculan. Tidak hanya hanya melengkapi fasilitas hotel-hotel berbintang, tapi di mal-mal bahkan gedung perkantoran sudah gampang ditemui tempat minun wine.  

Sayangnya event-event yang berkaitan dengan wine masih sedikit, bahkan masih bisa dihitung dengan jari. Festival wine baru terselenggara dua kali di Jakarta, yakni yang disebut sebagai WineFest, yang dimotori salah satu distributor wine, Danisa Textindo. Memang ada beberapa event yang berkaitan dengan wine, tapi hanya tambahan dari acara yang lebih besar, sebutlah festival wine yang menjadi bagian dari Jakarta Fashion & Food Festival yang diselenggarakan Summarecon Group di Kelapa Gading Jakarta.  

Sementara kompetisi sommelier yang cukup representatif baru terselenggara tahun ini, oleh ISA (Indonesia Sommelier Association) – yang juga terbentuk tahun ini, bekerja sama dengan Sopexa, Ministere de l’Agriculture et de la Peche (Prancis), dan Wine for Asia (Singapura).  

Sudah saatnya Indonesia wine society memikirkan terobosan-terobosan baru untuk membuat event-event wine yang lebih kreatif, kalau perlu bertaraf internasional. Tidak hanya untuk sosialisasi dan edukasi soal wine, tapi juga menumbuhkan dan menata sektor industri yang masih tergolong baru ini. Cheers! (Burhan Abe)

50.000 Botol Wine dari 30 Negara

0

Industri wine di berbagai belahan bagian dunia dalam beberapa tahun terakhir ini telah tumbuh sangat cepat. Di wilayah ASEAN Singapura boleh jadi menjadi pelopor, minimal dalam menangkap peluang menyelenggarakan event yang berkaitan dengan dunia wine. “Wine for Asia” (WFA), itulah judul acara tersebut yang tahun ini memasuki tahun ke tujuh.

Event ini akan berlangsung dari 22 hingga 24 Oktober 2009 ini diselenggarakan oleh MP Wine Resources, gabungan kerjasama antara MP International dan Wine Resources. Di Suntec, yang makin populer sebagai gedung pameran di Singapura yang luas keseluruhan kini mencapai 5.800 meter persegi, hadir tak kurang dari eksibitor dari sekitar 376 perusahaan baik lokal maupun internasional. Atau ada sekitar 50.000 botol wine berbagai merek dari 30 negara.

“Kami bangga menjadi tuan rumah WFA 2009 dan kami menyambut baik seluruh pecinta wine, baik yang profesional, dari kalangan perdagangan wine serta para pelaku bisnis yang terkait di industri wine,” ujar Malcolm Tham, konsultan proyek WFA 2009.

Malcolm yang juga dosen di Science and Art of Wine dan International Wine Importer Course itu menambahkan bahwa event ini menyedot tak kurang dari 5.000 pengunjung dengan latar belakang trade dari Asia dan Pasifik, termasuk Indonesia tentu saja.

Banyak benefit yang bisa dicapat dari acara tersebut. Paling tidak seperti yang diakui Richard Lieu, Director – Trade Promotions California Wines, “Acara ini penting untuk mempertemukan penjual dan pembeli, dengan pasar Asia Pasifik.”

Hal senada diungkapkan oleh Eddy Sugiri, pemilik restoran The Peak di Bandung dan beberapa wine lounges di Bandung dan Jakarta. “Saya banyak belajar dari acara ini, baik dalam hal penyelenggaraan maupu ilmu tentang wine yang makin spesifik,” katanya.

Memang, WFA 2009 tidak hanya pameran. Lebih dari itu, acara ini menawarkan one-stop platform dengan penawaran-penawaran wine terbaru, kelas-kelas, dan tentu saja kesempatan networking bagi sesama pencinta gaya hidup, khususnya wine lovers.

Beberapa event khusus dalam WFA, antara lain “Penfolds Grange Vertical Tasting”, yakni mengenal Penfolds Grange lebih dalam, dan mengapa menjadi salah satu wine paling terkenal di dunia dalam cita rasa eksklusif. Pemandunya adalah Penfolds Brand Ambassador, Jamie Sach dan penerbit dari The Wine Review, Ch’ng Poh Tiong, yang telah mengadakan vertical tasting selama lebih dari 20 tahun meliputi periode 1983, 1990, 1991, 1998, 1999, 2002 dan yang baru saja dirilis, Spectacular 2004 Vintages. Inilah pengalaman sederhana, menikmati wine dari tujuh hasil panen terbaik yang pernah diproduksi, yang menyenangkan bagi pecinta wine!

Yang juga menarik adalah “Pinot Noir Forum”. Kelas ini berbicara tentang salah satu jenis wine yang populer di dunia, juga Asia tentu saja. Dalam beberapa tahun belakangan Pinot Noir telah meningkatkan penjualannya di Asia. Masyarakat Asia telah dipresentasikan dengan gaya yang berbeda dari Pinot Noir yang datang dari region yang berbeda di seluruh dunia, seperti Burgundy, Oregon, dan New Zealand. Pembicara utama dalam forum tersebut adalah ahli Burgundy, Jean Pierre Renard.

Juga, jangan lupa, sommeliers terbaik di Asia diadakan di WFA. Diselenggarakan oleh SOPEXA dan didukung oleh WFA tentu saja, kompetisi best sommeliers pertama di Asia Tenggara ini merupakan inaugurasi event landmark untuk sommelier lokal maupun internasional untuk berkompetisi di level internasional.

Savoring Food from the Land of Ginseng

0

All kinds of local and most foreign food are available in major Indonesian cities, especially in Jakarta. This includes Korean food, and restaurants serving this food are usually located in areas with a large Korean population, such as Kebayoran Baru, South Jakarta, and in Lippo Village, Tangerang.

Korean restaurants can also be found in malls, where people of all backgrounds can taste this delicious food from the land of ginseng, as Korea is popularly known here.

So, what is specific about Korean food? It includes food for kings that is complicated to prepare as well as traditional and modern culinary. These days, a lot of Korean dishes are well known in many parts of the world, such as kimchi, galbi, bulgogi, hoe, makchang and gobchang. Kimchi is pickled mustard greens and is more often than not served as an accompaniment to a meal.

Photo by Vicky Ng on Unsplash

The staples of Korean food are rice, noodles and tofu. Koreans also love to eat meat and vegetables (banchan) accompanied by soup. Korean food usually contains sesame oil, doenjang, soy sauce, salt, garlic, ginger and chili sauce (gochujang). The Koreans are the world’s largest consumers of garlic, and eat much more of it than the Chinese, Thais, Japanese, Spanish, Italians and Greeks.

Korean food differs according to the season. In winter, Koreans consume kimchi and various vegetables that are covered with salt and preserved in large earthenware bowls.

Meanwhile, traditional food that used to be served in the palace during the Joseon dynasty takes hours to prepare as it has to possess a harmony and a contrasting character between hot and cold, spicy and mild, hard and soft, solid and liquid as well as a balance in the colors.

Koreans eat their meal sitting cross legged on cushions at low tables. They use chopsticks and long spoons, both of which are called sujeo. Unlike chopstick users from other countries, the Koreans started using spoons in the fifth century.

When eating, unlike the Chinese or the Japanese, Koreans may not lift the soup or rice bowls from the table, and they eat using the spoons. Banchan, which is served in small bowls, is consumed with chopsticks. In public places, such as restaurants, Koreans drink water or barley tea. Another popular drink is soju, which is alcohol made from fermented rice or wheat or potatoes.

Of course, when eating a Korean meal, non-Koreans do not have to follow their eating customs rigidly. Some restaurants serve Korean food Western style, and some even sell fast food. In Muslim areas pork is not on the menu and beef is served instead. A very popular Korean dish is bibimbap, which is rice mixed with various vegetables, beef, egg and gochujang.

Another dish is yukhoe bibimbap, which is raw beef and raw egg bibimbap. There is another kind of bibimbap that is served on a hot stone griddle.

Data Package War

0

Agus Majidi sighed with relief when he finally got his own Internet connection. As a university student, he was pleased that he would no longer have to go to an internet kiosk (warnet) but could now use a CDMA modem, Venus VT-12, to surf the Net from his lodgings. By paying Rp 375,000, he was satisfied with the modem manufactured by Fren, which has a speed of 230.4 Kbps – faster than the cable modem and Wi-Fi (64 Kbps) or PSTN modem (56 Kbps).

Today, not only Fren but also other operators are involved in the data communication business. Although some companies do not find the business too profitable, it is growing at a rapid pace.

Smart Telecom, for example, sells cell phones that can also function as Internet modems with a subsidized subscription rate. However, Smart Telecom still finds it possible to make money with its subscription rate. “Our records show a significant increase in sales,” the West Java Regional Commercial head of PT Sinar Mas Telecommunication (Smart), Jabar Antony Pandapotan, told detikcom.

As a result, data usage has shown an increasing trend over the past year. However, he admits that at peak hours, such as lunch or dinner time, the network experiences some connection trouble or delays at several locations. That is the natural tendency of wireless connections, either CDMA or even GSM, in that the network becomes congested during peak hours when there are many users.

Information data communication is a process of sending and receiving data and information from two or more devices, such as computers, laptops, printers or other communication devices, which are connected within a network, both either on local or on a wider network, like the Internet.

Generally, there are two types of data communication: terrestrial infrastructure and satellite. Terrestrial infrastructure uses cable or wireless for access. This type involves a large investment. Some of the services included in terrestrial connection are: Direct Data Connection (SDL), Frame Relay, VPN Multi-Service and Data Package Communication Connection (SKDP).

Meanwhile, data communication via satellite usually covers a larger area and can cover areas where it is not possible to construct terrestrial infrastructure, although it takes longer for the communication process. The weakness of the satellite type is disturbance from sun radiation (sun outage). The worst disturbance occurs once every 11 years.

Photo by Rasheed Kemy on Unsplash

The main problem with both types of data communication is limited bandwidth, which of course can be expanded. Access through satellite usually experiences a propagation delays so terrestrial infrastructure has to be built to strengthen it.

With all the plus and minus points, all operators offer various attractive packages. Telkomsel, for instance, offers a package called Telkomsel Flash. Using a slogan offering unlimited use, customers are rushing to switch to the Telkomsel package, which has a daringly low rate, starting from Rp 125,000 with data access up to 256 kbps for the first 3 GB. The balance of the “unlimited” offer is up to 64 kbps.

Hotel Favorit – National Geographic Traveler

0

PERJALANAN wisata dan bisnis telah melahirkan sebuah kebutuhan mendasar bernama akomodasi komersial, yang diwadahi dalam bentuk resor dan hotel berbagai kelas. Terminologi berangkat dari tersedianya tempat hunian sementara dengan fasilitas tertentu sesuai stándar yang diinginkan. Dalam kamus para pejalan independen, keinginan itu dituangkan dalam kalimat pendek yang terdengar puitis; a home away from home.

Artinya, penyedia akomodasi perlu menyediakan tempat tinggal yang mampu membuat pengguna kerasan dan ingin kembali lagi karena berbagai faktor. Mulai lokasi, layanan, kelengkapan fasilitas sampai keramahan petugas atau hal-hal bersifat non-teknis.

Badan Pusat Statistik (BPS) sebagaimana dikutip Pusformas Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menyebut, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) atau okupansi hotel-hotel di 14 provinsi di Indonesia pada Desember 2008 mencapai rata-rata 49,69%. Angka ini mencakup hotel bintang satu sampai lima, dengan perolehan terbesar ada pada hotel bintang tiga (48,35%) pada kategori di bawah hotel bintang empat dan lima, dan hotel bintang empat (55,42%) pada kategori hotel bintang empat dan lima. Tingkat okupansinya sendiri berfokus di tiga provinsi: Bali (63,23%), DI Yogyakarta (57,38%) dan Sumatra Barat (55,40%).

Pergerakan angka yang menunjukkan grafik menaik ini merupakan hal yang patut disambut baik. Apalagi bila diiringi dengan pertimbuhan tingkat okupansi di berbagai provinsi lain di seluruh Indonesia, berangkat dari pemahaman bahwa pariwisata Tanah Air merupakan salah satu komoditi penting.

Lepas dari konteks pengertian hotel berbintang atau pun kelas melati seperti yang diklasifikasikan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), National Geographic Traveler menggelar sebuah serasehan untuk mengungkap kriteria dan sisik-melik kondisi sebuah tempat bermalam yang diinginkan para pejalan. Termasuk keputusan memberi predikat penyedia akomodasi lain mendapat predikat favorit atau terbaik, karena memiliki keunikan tertentu.

Kami mengundang beberapa public figure, pelaku seni, jurnalis serta pribadi-pribadi dari berbagai latar-belakang, dengan kekhususan kerap melakukan perjalanan dalam tataran wisata maupun bisnis agar dapat menggambarkan keinginan dan kebutuhan yang diperlukan pejalan.

Mereka adalah William Wongso (pakar kuliner), Jay Subyakto (seniman), Riyanni Djangkaru (presenter dan ibu rumah tangga), Burhan Abe (pemimpin redaksi dua media cetak, gaya hidup dan kuliner), Muhammad Gunawan ”Ogun” (pendaki gunung dan pemandu khusus), Ade Purnama (pengelola sebuah komunitas pejalan), Siti Kholifah (produser acara wisata sebuah stasiun televisi swasta), Amir Shidarta (kurator) dan Heryus Saputro (jurnalis).

Bersama National Geographic Traveler, mereka mengkaji nilai-nilai yang sebaiknya dimiliki oleh sebuah tempat menginap atau akomodasi komersial, dengan titik tolak selaras dengan wisata ramah lingkungan dan berkelanjutan atau sustainable tourism.

Dari sarasehan “Hotel Favorit” yang digelar National Geographic Traveler beserta para peserta panel diskusi dengan berbagai latar-belakang bidang kekhususan tadi, ada sederet penilaian yang bisa dituangkan untuk kategori sebuah tempat menginap. Dengan tidak mengadakan perbedaan berdasar klasifikasi daya tampung dan kategori hotel secara umum. Rumusan dari nilai-nilai yang diperbincangkan dalam sarasehan mencangkup:

Pengertian penginapan sebagai ’the place to stay in’ secara umum: Penginapan yang mengedepankan kekhususan tertentu: Sajian makanan khas; Gerai cendera mata unik dengan kepedulian terhadap lingkungan; Tidak mengedepankan hal yang dilarang, berkait pelestarian lingkungan hidup dan satwa langka; Keunikan dalam hal latar belakang, seperti nilai historis dan budaya; Hospitality atau keramahan yang dimiliki para petugasnya serta layanan, dengan tidak melakukan pembedaan berdasar ras, suku, golongan tertentu; Kelengkapan khusus yang dimiliki penginapan, seperti jasa pemandu atau pemesanan tiket dengan cepat; Kepedulian pihak pengelola penginapan untuk memberdayakan sumber daya manusia di kawasan sekitarnya serta mengajak para tamunya agar peduli terhadap isu lingkungan, meski dalam hal kecil sekalipun, dan; Penginapan dengan lokasi yang beda atau tidak biasa, semisal di atas sungai.

(National Geographic Traveler, September 2009)

The Place to Stay In

0

Kata ‘hotel’ yang selama ini digunakan untuk menyebut akomodasi komersial dirasa kurang tepat. Karena pada dasarnya, tempat menginap tak dapat di klasifikasikan rata atau standar begitu saja. Tapi mesti mengandung keunikan yang membuatnya berbeda, tetap disukai dan ingin dikunjungi atau diinapi kembali.

Penggunaan kata hotel yang saat ini di gunakan, rasanya kurang tepat. William Wongso mengungkapkan, ”Lebih pas adalah penginapan yang memiliki personalitas dan terkesan kita menginap di rumah teman.”

William Wongso mengungkapkan, ”Di masa depan, masyarakat ingin mendapatkan sesuatu yang pribadi. Hingga tempat menginap juga harus memiliki sebuah personality. Bukan sekadar untuk bermalam, juga bukan kategori the best.”

Menurutnya, mesti ada semacam kriteria dalam mengedukasi pengguna akomodasi komersial ini. Dan sebaiknya, nama juga bukan ’hotel’ tapi ’tempat menginap’. ”Yang diinginkan dari tempat menginap dengan personality itu, akan melahirkan rasa ’seperti menginap di rumah teman atau tetangga yang telah kita kenal’.”

Jadi dalam hal ini, sama sekali tidak ada batasan bahwa nilai eksklusif berbanding lurus dengan kamar harus dalam kondisi prima, serba bagus, serba kelas satu atau mewah. Tempat atau lokasipun tidak dibatasi berada dalam atau luar kota, tapi juga bisa di atas air, seperti pelayaran sungai dan live aboard.

Photo by Paolo Nicolello on Unsplash

Bagi Heryus Saputro, hal terpenting yang diinginkan pejalan saat menginap atau bermalam adalah keamanan dan kenyamanan. ”bila unsur ini sudah dipenuhi, maka nilai yang dibayarkan untuk harga hotel bisa ditekan, karena orang akan berpikir; mengapa harus bayar mahal, bila konsepnya manghabiskan waktu di luar hotel.”

Sedang Jay Subyakto menambahkan, beberapa pejalan atau pelaku wisata, terkesan masih takut keluar dari kenyamanan bila berada di luar rumah. ”Padahal, di luar Pulau Jawa, tak semua penginapan bisa menawarkan nilai mewah dan eksklusif. Bisa saja penginapan biasa, tapi atmosfernya menyatu dengan alam sekitar dan masyarakatnya. Model tempat bermalam seperti ini laik mendapat perhatian lebih.” (National Geographic Traveler, September 2009)

Lokasi yang Tidak Biasa

0

Soal pilihan tinggal di penginapan dengan konsep hijau dan dekat dengan alam sebagai rujukan, para peserta sarasehan mengungkapkan bahwa letak si hotel atau tempat tinggal sementara tidak harus berada di atas luasan tanah untuk mendapatkan predikat terbaik. Tempat menginap alternatif yang bukan berupa bangunan masih juga disukai, karena mendatangkan rasa kedekatan dengan alam dan lingkungan hidup. Dalam hal ini, tenda dan wahana terapung di atas sungai dan laut dimasukkan sebagai kategori khusus. Tetap bisa mendapatkan predikat terfavoit, khususnya untuk pencinta alam bebas dan kegiatan outdoor.

Heryus saputro mencontohkan live aboard untuk pariwisata bahari yang dikemas khusus. Contohnya yang ia alami saat berada di kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. ”Penginapan di atas laut ini bisa dikemas khusus atau ’dijahit’ sesuai keinginan Anda, termasuk dengan merancang sendiri makanan yang ingin disantap selama perjalanan. Lalu bahan-bahan dibawa ke atas kapal dan dimasak,” tukasnya merespon William Wongso selaku pakar kuliner. Hingga perjalanan bahari terasa makin bermakna dan sesuai dengan kemauan pejalan.

Untuk perairan sungai, Riyanni Djangkaru menyorot ekowisata Sungai Sekonyer di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah bisa dikemukakan sebagai salah satu kandidat untuk meraih predikat terobosan menggelar akomodasi. ”Pejalan diajak menyusuri sungai dengan perahu, bermalam pakai matras dan kelambu di bawah langit terbuka serta disuguhi masakan yang dibuat oleh awak perahu sendiri. Tentunya hal ini sebuah pengalaman menarik. Apalagi sesudahnya, bisa bertandang ke Camp Leakey menengok orangutan.”

Kembali ke panorama alam yang ada di daratan, tinggal di tenda merupakan bagian dari pertualangan mengasyikkan. Bila tolak ukurnya adalah resor atau jaringan perhotelan ternama, Amanwana di Pulau Moyo bisa dikemukakan sebagai contoh. Ada dua pilihan dari tenda eksklusif yang ditawarkan; menghadap laut Flores atau menghadap ke arah hutan.

Riyanni dengan antusias menambahkan, salah satu pilihan berkemah dengan fasilitas lima bintang bisa didapat di Rakarta, Tanakita Campground. Lainnya, menginap pakai tenda di camping ground yang disediakan Taman Safari Indonesia, Sukabumi. Tidur dengan matras dan sleeping bag, disuguhi bajigur dan aneka makanan tradisional, dengan kesempatan mengintip harimau sumatera terlelap. ”Mungkin terkesan tidur kita jadi kurang nyaman dengan peranti sederhana. Tapi hal ini bisa ditawarkan pada para keluarga yang ingin mengajak anak-anaknya lebih mengenal lingkungan hidup dan aneka satwa.” Dan hal ini, tentu saja sebuah nilai khusus bagi penyelenggara akomodasi itu. (National Geographic Traveler, September 2009)