Menuju Cult Branding

Setiap hari kita dibombardir dengan iklan, siang dan malam. Hanya pada saat tidur kita terbebas dari limpahan komunikasi para penjaja barang dagangan. Upayanya sangat beragam. Ada yang membual tentang product advantages, ada yang berusaha merebut simpati dengan menampilkan figure innocence, sampai berbuat slapstick konyol jika memilih sikap sok akrab.

Iklan hanyalah salah satu usaha yang pada intinya berebut tempat di otak kita untuk menanamkan merek. Iklan hanyalah wujud dari konsep besar yang disebut branding. Dalam ekonomi pasar modern yang semakin canggih ini, upaya branding melibatkan teknik-teknik canggih. Banyak orang jungkir balik, brand managers, product managers, biro iklan, biro riset memeras otak dan keringat untuk mem-back up suatu merek.

Keuntungan branding adalah kemungkinan untuk mengontrol upaya pemasaran suatu produk dalam dimensi yang terukur. Pemilik merek bisa menghitung market share, meningkatkannya dengan mendongkrak brand share. Serta kesempatan untuk mematok harga premium dan memperoleh sedapnya margin tinggi jika mereknya unggul.

Nokia tentunya suda melewati masa itu. Ponsel (telepon seluler) asal Finlandia itu justru sudah menjadi produk yang paling populer di dunia. PR (pekerjaan rumah) yang paling berat sekarang adalah bagaimana mempertahankan diri sebagai market leader. Beberapa tahun lalu, Nokia masih dikuntit dua merek lain, Ericsson dan Motorola, tapi kini boleh dibilang menang mutlak. Selain berhasil menjadi pemimpin pasar dengan posisi kuat di tingkat dunia, nilai pasar Nokia juga terus meningkat.

Sejak dilluncurkan tahun 1982, yakni telepon mobil Mobira pertama seberat 10 kg, Nokia telah membuktikan diri sebagai penguasa pasar di bisnis yang relatif baru ini. Produk berbasis teknologi ini mempunyai karakter yang khas, sehingga perusahaan dituntut untuk selalu melakukan inovasi baru kalau tidak ingin ditinggalkan konsumen.

Didukung oleh research and development (R & D) yang kuat, produk-produk inovatif pun lahir dari sini. Nokia Corp terus-menerus memperkenalkan ponsel dengan ukuran yang makin mengecil, tapi dengan kemampuan yang semakin tinggi. Nokialah yang menjadi produk ponsel pertama yang tak hanya mengandalkan fungsi tapi juga fashion, yang menjadikannya sebagai gadget favorit di dunia.

Memang, yang membuat ponsel dengan ukuran makin mini tapi kemampuan maksi, tidak hanya monopoli Nokia, tapi juga Ericsson dan Motorola, bahkan beberapa merek pendatang baru. Tapi yang serius memperhitungkan fungsi dan keindahan hanyalah Nokia. Tidak hanya itu, Nokia yang tercatat sebagai ponsel pertama yang dibekali kemampuan kemampuan browsing internet langsung dari ponsel tanpa alat tambahan, sehingga cocok untuk para eksekutif aktif dan mobile yang membutuhkan kemudahan berkomunikasi.

Ketika teknologi kamera yang bisa melengkapi ponsel ditemukan, Nokia pun tergolong pelopor, dengan meluncurkan ponsel kamera digital pertamanya seri 7650 pada Juni 2002. Pada saat launching pertamanya, Nokia berhasil menjual lebih dari 5 juta ponsel kamera digital di Eropa, di mana masyarakat kini keranjingan memotret, menyimpan, dan meng-e-mail gambar melalui peranti genggam. Demam serupa juga melanda ke seluruh dunia, dan lagi-lagi Nokia yang menjadi penguasa pasarnya.

Yang patut diacungi jempol, para pemegang keputusan sadar bahwa menjual Nokia bukanlah sekadar menjual produk, tapi juga menjual gaya hidup. Selain sebagai produk fashion yang sanggup mengekspresikan diri pemakainya, pengguna Nokia dimanjakan dengan adanya dukungan fitur-fitur tambahan yang bisa di-down load di internet, mulai dari ring tone, gambar, MMS, games, dan lain-lain. Nokia sebagai bagian dari gaya hidup diperkenalkan di kota-kota besar seluruh dunia, termasuk di Jakarta yang dirayakan di Taman Impian Jaya Ancol tahun 2002.

Pasar ponsel memang tidak homogen, itu sebabnya Nokia memutuskan untuk melakukan diversifikasi produk guna membidik konsumen berbeda – pengguna baru, trend setter, pengusaha, profesional bisnis, dan sebagainya. Perusahaan Finlandia itu membagi usahanya menjadi empat divisi besar: jaringan bergerak, ponsel umum, peranti hiburan nirkabel, dan produk bisnis bergerak, yang masing-masing ditujukan pada berbagai peluang pasar.

Related Stories

spot_img

Discover

Hennessy Menyambut Tahun Kuda dengan Koleksi Edisi Terbatas yang...

Ada merek yang merayakan Tahun Baru Imlek sekadar dengan mengganti kemasan. Ada pula yang...

Musim Baru di Amanpulo

Ketika Angin Amihan Kembali, dan Gaya Hidup Bergerak Lebih Tenang Ada tempat yang tak perlu...

Tempat Nongkrong Baru Buat Orang yang Nggak Cuma Mau...

Seminyak itu keras. Panas, cepat, penuh distraksi. Kalau lo ke sini cuma buat tidur...

KLEO Seminyak: Ruang Sosial Baru di Jantung Seminyak

Di Seminyak, hotel tak lagi sekadar tempat singgah. Ia menjadi ruang hidup—tempat ide, tubuh,...

Si Paling Tahu

Oleh Eileen Rachman dan Emilia Jakob Di setiap lingkar pertemanan—dan hampir pasti di setiap kantor—selalu...

Bulan Madu di Saudi: Romansa Kelas Sultan, Sensasi Kelas...

Lupakan sejenak Bali, Maldives, atau Paris yang itu-itu saja. Untuk pasangan Indonesia yang ingin...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here