Slow Burn: Cerutu, Gaya Hidup, dan Maskulinitas yang Disadari

Cerutu itu bukan sekadar asap atau gaya. Ini soal sikap. Dan Slow Burn menyajikan semua itu dalam satu paket: informasi, cerita, dan keheningan yang berkelas.

Ditulis oleh jurnalis senior yang telah malang melintang di dunia gaya hidup dan luxury living—buku ini bukan panduan teknis biasa. Ini adalah refleksi tajam, kontemplatif, dan sangat maskulin tentang bagaimana cerutu menjadi bagian dari gaya hidup pria modern yang tahu cara berhenti sejenak, berpikir dalam, dan menikmati waktu.

Di tengah dunia yang serba cepat, penuh notifikasi, dan obrolan kosong, Slow Burn hadir seperti lounge kulit klasik dengan pencahayaan redup dan segelas scotch di tangan kanan. Lewat tujuh babnya, buku ini membedah cerutu bukan hanya dari bentuk dan rasa, tapi dari makna. Dari kebun tembakau Jember, ruang fermentasi di Taru Martani, hingga klub-klub privat dan coffee shop berasap di Jakarta—semua diramu dengan elegan.

Yang menarik, buku ini menyelipkan kisah-kisah tokoh pria besar yang menyatu dengan cerutu: Che Guevara, Winston Churchill, hingga karakter fiksi seperti Don Corleone. Cerutu bukan tentang mengikuti tren, tapi tentang mempertahankan karakter.

Download di SINI ya.

Buku ini juga memperkenalkan kita pada brand lokal seperti BIN Cigar, yang semua produknya diekspor dan JT Royale milik Jeremy Thomas. Ada Benny Prasetyo pengggiat di komunitas cerutu via platformnya, Cigar Universe Asia. Semua menunjukkan bahwa cerutu Indonesia tak kalah dari Kuba, Dominika, atau Nikaragua. Malah, punya soul sendiri—dari tanah vulkanik dan tangan-tangan terampil anak bangsa.

Ada bab favorit: soal komunitas. Karena cerutu bukan konsumsi solo. Ini tentang pertemanan dan persaudaraan. Obrolan jujur. Percakapan yang pelan tapi dalam. Di lounge Borobudur, Merapi, Bintaro, hingga pojok bar tersembunyi di Bandung—ada semangat pertemanan, bisnis, dan hormat yang dibangun dari satu batang yang terbakar lambat.

Slow Burn adalah ajakan bagi pria untuk kembali menguasai ruang dan waktu. Bukan dengan tergesa, tapi dengan sadar. Bukan dengan pamer, tapi dengan kendali. (Ely Alvaro Gibran)

📘 Kalau kamu menghargai kualitas, tradisi, dan ritme hidup yang tak tergesa—buku ini untukmu.
Download sekarang di:
👉 Slow Burn, Cerita Cerutu dari Jember ke Havana

Related Stories

spot_img

Discover

AI Melaju, Pertahanan Bisnis Tertinggal

Perusahaan di Indonesia berlomba memanfaatkan kecerdasan buatan. Namun, fondasi keamanan, tata kelola, dan ketahanan...

Pasihan

Menyelami Jiwa Subak Melalui Pasihan, Film Dokumenter Baru dari SAKA Museum di AYANA Bali Di...

Luigis Enters a New Era—Without Losing Its Soul

Di tengah derasnya transformasi Canggu menjadi salah satu destinasi gaya hidup paling dinamis di...

Sebuah Sanctuary di Tengah Jakarta

Wajah Baru JimBARan Lounge AYANA Midplaza Merayakan Ketenangan dan Warisan Kuliner Nusantara Di kota yang...

Tantangan Berikutnya bagi Dunia Usaha Indonesia

Membuktikan Nilai AI bagi Bisnis Adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia terus meningkat. Namun,...

Saat Trisara Mengajarkan Arti Kemewahan yang Sesungguhnya

Phuket yang Tak Banyak Orang Kenal Di tengah tren slow travel yang semakin digemari...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here