Home Blog Page 102

Membangun Citra, Memperkuat Merek

0

Banyak orang terperangah ketika PT Philip Morris Indonesia mengakuisisi PT HM Sampoerna Tbk., yang antara lain memproduksi rokok merek Djie Sam Soe yang legendaris dan A Mild yang sangat populer, senilai US$ 5 miliar atau lima kali nilai aset yang tercantum dalam pembukuannya, Mei lalu. Sebelumnya, PT Unilever Indonesia Tbk. membeli hak atas merek Kecap Bango, dan Coca-Cola Company membeli merek air minum dalam kemasan AdeS dengan harga yang sangat menggiurkan.

Betapa digdayanya sebuah merek. Bahkan merek, para pakar pemasaran pasti sepakat, adalah sebuah kekuatan dalam strategi pemasaran. Tidak hanya barang mewah atau sekunder, tapi kebutuhan primer pun, seperti produk makanan dituntut memiliki merek. Konsumen ke mal tidak untuk mencari celana jins tapi Levi’s, mereka tidak membeli sepatu olah raga tapi Nike, bukan ponsel tapi Nokia. Mereka tidak membeli produk, tapi merek.

Merek memang bukan sekadar nama atau pun logo, tapi indikator value dari sebuah produk yang ditawarkan kepada konsumen. Merek, demikian Stephen King, CEO WPP Group, menjadi pembeda suatu produk dari produk lainnya di kerumunan komoditas, sekaligus menegaskan persepsi kualitasnya. Dengan kata lain, produk adalah barang yang dihasilkan pabrik, sementara merek adalah sesuatu yang dicari pembeli. Sesuatu ini bukan sekadar barang, melainkan juga persepsi akan kualitas dan gengsi yang diraih.

Keuntungan branding adalah kemungkinan untuk mengontrol upaya pemasaran suatu produk dalam dimensi yang terukur. Pemilik merek bisa menghitung market share, meningkatkannya dengan mendongkrak brand share, serta mempunyai kesempatan untuk mematok harga premium dan memperoleh sedapnya marjin tinggi jika mereknya unggul.

Membangun Ekuitas Merek

Membangun ekuitas merek hingga menjadi kuat memang bukan perkara mudah. Dalam ekonomi pasar modern yang semakin sophisticated, upaya branding melibatkan teknik-teknik yang sangat complicated. Kegiatan branding tentu bukan sekadar beriklan, apalagi hanya melakukan program diskon atau potongan harga buat distributor, dan sejenisnya, tapi semua langkah yang kita lakukan terhadap produk dan perusahaan. Ketika menentukan STP (segmentation-targeting-positioning) dan diferensiasi, serta mendukungnya dengan marketing mix (strategi 4P; product, price, placement, dan promotion) dan melakukan strategi pemasaran yang solid, sebenarnya kita sedang membangun dan mengembangkan sebuah merek.

Membangun merek sebenarnya adalah membangun persepsi. Bahkan, persepsi adalah realitas itu sendiri, demikian Sally Falkow dalam “Your Brand of Expansion”. Sama dengan yang ditawarkan Kevin Lane Keller bahwa pertama-tama yang harus diingat bahwa membangun merek adalah membangun identitas (brand identity). Dalam belantara produk, merek harus dirancang agar bisa menonjol, salah satunya harus memiliki identitas yang kuat.

Dalam membangun merek semuanya harus direncanakan dengan matang, mulai dari memilih nama, logo, simbol, tipografi, warna korporat, karakter – pria atau wanita, bahkan tagline, dan jingle iklannya. Pendeknya, semua elemen merek harus mencerminkan karakter produk itu sendiri.

Dalam “The 22 Immutable Laws of Branding” Al Ries dan Laura Ries melakukan pendekatan kepada soal ini, misalnya, bagaimana seharusnya memilih warna, bentuk, dan seterusnya. Jika sebuah merek memilih warna yang kurang kontras, katanya, tidak gampang diingat konsumen. Begitu pun dengan logo, akan mudah menancap di benak pelanggan kalau, bentuknya proporsional, dan seterusnya.

Kedua, membangun asosiasi merek, terkait dengan citra produk yang ditawarkan kepada konsumen, bisa berupa atribut merek, simbol, atau bahkan endosernya. Asosiasi adalah elemen yang menempel di benak konsumen pada saat melihat atau mendengar nama merek, sebagai akibat dari eksposur iklan dan pengalaman menggunakan produk tersebut. Asosiasi merek yang kuat akan membentuk citra merek yang kuat pula. Volvo, misalnya, tidak sekadar kendaraan, tapi diasosiasikan dengan safety dan kemewahan.

Sementara Nokia tidak hanya ponsel (functional benefit), tapi juga fashion (emotional benefit). Produk Conecting People dengan “teknologi yang mengerti Anda” itu terkenal mudah dioperasikan, user friendly.

Ketiga, mencapai respons positif terhadap merek. Setelah produk dilempar ke pasaran, dan konsumen mengonsumsi produk tersebut, harus segera dicari umpan baliknya, apa yang konsumen pikirkan (brand judgement) dan rasakan (brand feeling) terhadap merek tersebut. Reaksi konsumen yang positif terhadap merek tersebut tentu merupakan nilai plus yang harus dijaga, bahkan perlu dibangun customer relations agar konsumen tetap membeli. Contoh yang baik adalah yang dilakukan Matahari Department Store yang mengikat konsumennya dengan Matahari Customer Club.

Menuju Cult Branding

0

Setiap hari kita dibombardir dengan iklan, siang dan malam. Hanya pada saat tidur kita terbebas dari limpahan komunikasi para penjaja barang dagangan. Upayanya sangat beragam. Ada yang membual tentang product advantages, ada yang berusaha merebut simpati dengan menampilkan figure innocence, sampai berbuat slapstick konyol jika memilih sikap sok akrab.

Iklan hanyalah salah satu usaha yang pada intinya berebut tempat di otak kita untuk menanamkan merek. Iklan hanyalah wujud dari konsep besar yang disebut branding. Dalam ekonomi pasar modern yang semakin canggih ini, upaya branding melibatkan teknik-teknik canggih. Banyak orang jungkir balik, brand managers, product managers, biro iklan, biro riset memeras otak dan keringat untuk mem-back up suatu merek.

Keuntungan branding adalah kemungkinan untuk mengontrol upaya pemasaran suatu produk dalam dimensi yang terukur. Pemilik merek bisa menghitung market share, meningkatkannya dengan mendongkrak brand share. Serta kesempatan untuk mematok harga premium dan memperoleh sedapnya margin tinggi jika mereknya unggul.

Nokia tentunya suda melewati masa itu. Ponsel (telepon seluler) asal Finlandia itu justru sudah menjadi produk yang paling populer di dunia. PR (pekerjaan rumah) yang paling berat sekarang adalah bagaimana mempertahankan diri sebagai market leader. Beberapa tahun lalu, Nokia masih dikuntit dua merek lain, Ericsson dan Motorola, tapi kini boleh dibilang menang mutlak. Selain berhasil menjadi pemimpin pasar dengan posisi kuat di tingkat dunia, nilai pasar Nokia juga terus meningkat.

Sejak dilluncurkan tahun 1982, yakni telepon mobil Mobira pertama seberat 10 kg, Nokia telah membuktikan diri sebagai penguasa pasar di bisnis yang relatif baru ini. Produk berbasis teknologi ini mempunyai karakter yang khas, sehingga perusahaan dituntut untuk selalu melakukan inovasi baru kalau tidak ingin ditinggalkan konsumen.

Didukung oleh research and development (R & D) yang kuat, produk-produk inovatif pun lahir dari sini. Nokia Corp terus-menerus memperkenalkan ponsel dengan ukuran yang makin mengecil, tapi dengan kemampuan yang semakin tinggi. Nokialah yang menjadi produk ponsel pertama yang tak hanya mengandalkan fungsi tapi juga fashion, yang menjadikannya sebagai gadget favorit di dunia.

Memang, yang membuat ponsel dengan ukuran makin mini tapi kemampuan maksi, tidak hanya monopoli Nokia, tapi juga Ericsson dan Motorola, bahkan beberapa merek pendatang baru. Tapi yang serius memperhitungkan fungsi dan keindahan hanyalah Nokia. Tidak hanya itu, Nokia yang tercatat sebagai ponsel pertama yang dibekali kemampuan kemampuan browsing internet langsung dari ponsel tanpa alat tambahan, sehingga cocok untuk para eksekutif aktif dan mobile yang membutuhkan kemudahan berkomunikasi.

Ketika teknologi kamera yang bisa melengkapi ponsel ditemukan, Nokia pun tergolong pelopor, dengan meluncurkan ponsel kamera digital pertamanya seri 7650 pada Juni 2002. Pada saat launching pertamanya, Nokia berhasil menjual lebih dari 5 juta ponsel kamera digital di Eropa, di mana masyarakat kini keranjingan memotret, menyimpan, dan meng-e-mail gambar melalui peranti genggam. Demam serupa juga melanda ke seluruh dunia, dan lagi-lagi Nokia yang menjadi penguasa pasarnya.

Yang patut diacungi jempol, para pemegang keputusan sadar bahwa menjual Nokia bukanlah sekadar menjual produk, tapi juga menjual gaya hidup. Selain sebagai produk fashion yang sanggup mengekspresikan diri pemakainya, pengguna Nokia dimanjakan dengan adanya dukungan fitur-fitur tambahan yang bisa di-down load di internet, mulai dari ring tone, gambar, MMS, games, dan lain-lain. Nokia sebagai bagian dari gaya hidup diperkenalkan di kota-kota besar seluruh dunia, termasuk di Jakarta yang dirayakan di Taman Impian Jaya Ancol tahun 2002.

Pasar ponsel memang tidak homogen, itu sebabnya Nokia memutuskan untuk melakukan diversifikasi produk guna membidik konsumen berbeda – pengguna baru, trend setter, pengusaha, profesional bisnis, dan sebagainya. Perusahaan Finlandia itu membagi usahanya menjadi empat divisi besar: jaringan bergerak, ponsel umum, peranti hiburan nirkabel, dan produk bisnis bergerak, yang masing-masing ditujukan pada berbagai peluang pasar.

The Cocktail Party

0

Sewajarnya judul di atas sudah sangat diterima di kalangan para profesional muda. Siapa sih yang enggak pernah diundang dalam sebuah pesta ringan yang ditemani dengan beberapa minuman yang ringan, yang kadangkala juga digunakan sebagai alat untuk bersosialisasi?

An Indulgence. Pada tulisan ini, saya akan menghadirkan sebentuk pesta dalam benak Anda. Ya, tentu saja sesuai dengan judul di atas yang kemudian akan bersentuhan dengan beberapa menu yang populer di meja bar, pastinya.

Well, sebuah pesta ringan selepas jam kantor di sebuah rumah atau apartemen seorang teman, tidak lengkap apabila minus cocktail, sebuah sebutan untuk minuman beralkohol ringan yang biasanya memiliki rasa buah karena dicampur dengan perasa, jus, atau sirup. Satu lagi ciri khasnya adalah, cocktail biasanya disajikan dingin, kecuali flaming cocktails tentunya.

Tidak jarang juga, minuman ini merupakan penjelmaan dari campuran antara minuman beralkohol yang satu dengan lainnya, dan tidak mustahil pula terdiri lebih dari 3 jenis minuman. Selain resep, nama-nama yang diberikan pada satu minuman baru pun kemudian memiliki variasi yang tidak kalah banyaknya. Anda tentu tidak begitu asing dengan nama-nama seperti Illusion, Singapore Sling, Black Russian, Sangria, hingga Piña Colada.

Biasanya nama menilik pada efek yang dihasilkan, warna-warna, mewakili gambaran karakter minuman tersebut, atau malahan hanyalah sekedar sebuah sensasi. Tentu saja saya juga pesimis bahwa nama pasti mewakili karakter minuman.

Lha wong minum Screaming Orgasm tidak otomatis membuat saya ‘mengalaminya’ kok, hehehe, apalagi minum Kamikaze. Ah, saya sepertinya tidak senekad itulah.

Contoh lain yang cukup bombastis adalah B-52. Nama pesawat bomber made in USA yang maha dahsyat pada jamannya ini dipakai untuk sebuah hasil campuran dari 3 macam minuman yang memiliki tone manis, tidak diaduk tetapi disusun dalam lapisan yang tidak bercampur (karena alasan massa jenis) – dan menurut saya sih tidak begitu ‘ngebom’ kok. Bukan karena saya kuat, tetapi bahan-bahan yang digunakan ternyata tidak memiliki kandungan alkohol yang tinggi.

Lain halnya dengan Rainbow. Nama yang tidak berhubungan dengan sesuatu sifat yang keras, kehebatan, atau efek tertentu, tetapi menyimpan kekuatan yang cukup di dalamnya. Diberi nama pelangi karena memang tersusun atas 7 macam minuman dengan warna yang berbeda-beda, membentuk formasi warna pelangi.

Indah, tetapi cukup keras ternyata, karena kebanyakan minuman yang digunakan di sini memiliki kandungan alkohol yang cukup tinggi. Menariknya, minuman ini harus dihabiskan dari bawah, setelah atraksi visual dengan dibakarnya lapisan teratas.

Ngomong-ngomong tentang minuman yang dibakar, tentu saja bukanlah proses seperti membuat steik dengan grill atau potato gratin dengan salamander. Tetapi proses pemberian api di atas minuman sehingga api menyala pelan dengan bahan bakar’ alkohol yang terkandung di dalam minuman tersebut.

Boleh dibilang atraksi, karena api tersebut dibuat hanya untuk mempercantik saja, tanpa mengubah rasa. Hati-hati, bibir gelas pastinya akan cukup panas untuk membakar bibir Anda. (Marchel, Appetite Journey, 2007)

No Boundaries

0

Tentunya banyak sekali cocktail yang menjadi pilihan favorit setiap orang. Ada yang memilih campuran berbahan dasar vodka, ada pula yang memilih wujud yang fenomenal, sedangkan saya sendiri menyenangi campuran rasa yang harmonis. Bisa berbeda-beda sesuai dengan selera, kan? Nah, maka dari itu saya membahas beberapa minuman yang berbahan dasar tequila sebagai contoh.

Banyak orang bilang, mencampur minuman sama saja dengan mengotori ‘kemurnian’ rasa minuman itu sendiri. Dari sudut pandang yang lain menyebutkan hal tersebut adalah kreativitas tanpa batasan, yang memungkinkan variasi sebanyak yang kita mau dan akan terus berkembang. Di samping dua pendapat tersebut, ada beberapa orang yang ingin menikmati minuman tertentu tetapi tidak cukup kuat apabila menenggaknya secara langsung, maka ia mencoba mencampurnya dengan bahan lain yang rasanya tidak bertolak belakang.

Seperti dalam tulisan sebelumnya tentang tequila, nama tequila sunrise boleh jadi merupakan cocktail paling populer yang berbahan dasar minuman asal Meksiko ini. Dengan tambahan Grenadine, jus jeruk, dan es serut, sifat keras tequila seketika langsung melunak lalu seakan dapat mencocokkan diri dengan setiap orang yang berhadapan dengannya.

Campuran paling sederhana yang sangat mungkin dilakukan di mana saja adalah tequila slammer, di mana tequila hanya ditambahkan dengan air soda, ginger ale, 7up, sprite, atau bahkan champagne dengan perbandingan sama persis.

Photo by Amy Shamblen on Unsplash

Rasa dari bahan kedua tersebut tidaklah dominan, sedangkan ciri khasnya adalah tequila dan sensasi soda yang menyertainya dengan imbuhan sedikit rasa jeruk nipis yang lembut. Khusus untuk campuran champagne, biasanya namanya akan berubah sedikit lebih keren, menjadi slammer royale.

Saya sendiri punya campuran ciptaan sendiri, yang ternyata agak mirip dengan minuman yang bernama the cockroach. Sama-sama menggunakan Kahlúa sebagai bahan kedua, namun saya menggunakan bahan lain, yaitu Cointreau dan Scotch. Ketiga minuman pertama tersebut disusun dalam bentuk lapisan yang tidak bercampur, kemudian Scotch digunakan untuk ‘meluberi’ gelas yang kemudian dibiarkan tumpah ke dalam tatakannya. Api dinyalakan sehingga alkohol dari Scotch akan menyelimuti tatakan hingga puncak gelas. Minum dengan menggunakan sedotan, from bottom to top, and finish the rest on one sip.

Make your own tequila cocktail, and let’s have a party. (Marchel, Appetite Journey, 2007)

Spirits Unveiled

0

Spirit menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia minuman beralkohol. Proses destilasi yang dilaluinya, membawa jenis minuman ini pada satu tingkatan di mana ia menjadi sangat terkenal dengan berbagai bentuk, dari bourbon hingga brandy. Penyajiannya pun juga bermacam-macam, sesuai dengan selera. Apa sih yang termasuk dalam spirit, dan mengapa mereka berbeda?

Spirits, not Spirit

Ya, dua kata dengan perbedaan satu huruf ini memiliki perbedaan arti yang sangat jauh. Sudah dapat dipastikan kita tidak akan membahas sedikit pun kata yang kedua tersebut. Dulu sekali saya pernah berkesimpulan bahwa spirits dan spiritus itu sama, tentunya saya amat bersyukur ketika mengetahui dua benda itu sama sekali tidak berhubungan erat. Sedikit demi sedikit saya mencari tahu lebih jauh tentang spirits dengan mencoba mengenalnya langsung.

Pada awal mulanya, saya hanya dapat mengidentifikasi bahwa spirits itu adalah minuman beralkohol tinggi, yang memerlukan proses destilasi atau penyulingan untuk itu. Tapi, kemudian batas itu menjadi rancu kembali karena keterbatasan pengetahuan saya. Apakah warna? Rasa? Bahan? Atau kandungan alkohol? Syukurlah ‘riset’ saya menjadi mentah kembali, karena setelahnya saya menemukan fakta-fakta yang sahih.

Sebenarnya kita dapat membagi golongan minuman beralkohol pada beberapa kategori, dua di antaranya adalah spirits dan liqueur. Nama liqueur mewakili sebuah golongan minuman berkadar alkohol tinggi dan dimbuhi campuran rasa, dan biasanya adalah rasa manis dengan berbagai aroma. Dengan begitu, spirits adalah golongan yang masih mengusung rasa asli plus syarat umumnya, yaitu kandungan alkohol paling tidak berkisar di angka 35% per volume.

Photo by Josh Olalde on Unsplash

Nah, melihat syarat ini, tentunya banyak sekali yang dapat dimasukkan ke dalam kategori spirits bukan? Sebutlah vodka, whisky, bourbon, brandy, tequilla, rum, hingga absinthe. Tentunya nama-nama tersebut memiliki karakter tersendiri, yang tentunya berkaitan erat dengan bahan baku yang digunakan untuk proses penyulingan. Gandum, beras, kentang, jagung, hingga tebu. Marilah kita melihat satu persatu lebih dekat.

Absinthe, not Abstain!

Kok abstain? Well, kata ini muncul tidak berapa lama setelah seorang teman saya menenggak dua gelas kecil absinthe. Yes, dia salah sebut nama minuman ini sehingga kami pun tertawa terbahak-bahak sesudahnya. Memang, di tangan yang salah, minuman ini dapat berakibat fatal karena kandungan alkohol dalam jumlah yang sangat fantastis di dalamnya.

Setidaknya untuk saya, ini adalah minuman dengan kadar alkohol tertinggi! Tentu saja tidak disarankan untuk menenggaknya langsung begitu saja. Karena absinthe adalah minuman aperitif, maka tujuannya memang bukan untuk membuat mabuk orang yang meminumnya.

Absinthe adalah spirits dengan warna hijau tua bening dan memiliki rasa agak ‘pedas’. Tidak heran, karena minuman ini mengandung banyak sekali rempah-rempah. Sebutlah anise, wormwood, fennel, hingga nutmeg (pala) pun terdaftar pada bahan penyusunnya. Dengan tampilan yang cukup memikat dan terkesan jinak, ternyata absinthe menyimpan banyak kejutan.

Entah mengapa, banyak sekali saya menemui komentar, “Kayak obat batuk ya?” pada orang yang baru pertama kali mengendus aromanya. Mungkin, walau saya sendiri tidak begitu setuju, dan bukan karena obat batuk yang saya gunakan biasanya dalam bentuk kaplet tentunya.

Angka yang menunjukkan kandungan alkohol pada label absinthe mungkin dapat membuat mata Anda terbelalak. Bagaimana tidak? Sanggupkah Anda menghadapi besaran 68% atau bahkan lebih? Tapi nanti dulu, minuman ini sebenarnya memiliki fungsi seperti sirup yang tidak manis, karena harus ditambahkan dengan air es 4-5 bagian lebih banyak, plus gula.

Chivas Regal 12 Old

0

Ketika dua bersaudara, James dan John Chivas, pertama kali memulai membuat campuran minuman whiski, mereka sebenarnya sedang mencampur sebuah minuman yang memiliki ciri khas – kelembutan, gaya, kualitas yang tinggi. Minuman whiski berkelas, dari malta dari setiap wilayah di Skotlandia serta butir whiski dengan kualitas terbaik, dipilih dengan karakternya masing-masing. Semua kelebihan itu disempurnakan dengan terciptanya Chivas Regal tahun 1909.

Pada tahun 1950-an, saat Amerika mengalami kemajuan ekonomi yang sangat signifikan, Chivas Regal menjadi minuman favorit bagi para komunitas platinum. Saat ini Chivas Regal sudah terdistribusikan ke 150 negara. Pada tahun 2003, Chivas Regal berhasil mengalami peningkatan penjualan sebesar tujuh persen per tahun, atau setara dengan 30 juta botol setiap tahunnya.

Sebuah survei yang dilakukan oleh Synovate pada tahun 2002 terhadap 1.200 konsumen di Brazil, Kanada, Amerika, Rusia, Cina, Jepang, Singapura, Perancis, Spanyol, Jerman, dan Inggris menyatakan bahwa Chivas Regal merupakan minuman wiski asal Skotlandia yang paling bergengsi dan berdaya seni tinggi dengan kesimpulan Chivas Regal berada di urutan teratas di antara merek-merek yang menampilkan kemewahan dan citra rasa.

Synovate sendiri merupakan perusahan survey dan riset terbesar ke 10 di dunia, yang memfokuskan diri pada pasar konsumen internasional. (Abe)

The Story of Vodka

0

Pengetahuan penyulingan minuman beralkohol berasal dari Italia dan Perancis, kemudian menyebar ke seluruh daratan Eropa sepanjang masa abad ke-13 sampai ke-14. Catatan tertua mengenai penggunaan kata “vodka” di selatan Eropa ditemukan pada sebuah manuskrip Polandia berterakan tahun 1405. Didalamnya dibeberkan produksi minuman ini yang berlangsung di pelosok daerah perkebunan selama abad ke-14. Dari catatan sejarah ini, maka banyak yang meyakini bahwa minuman vodka berasal dari Polandia.

Sebagai minuman beralkohol, vodka sebelumnya dikenal dengan istilah “gorzalka” dan kemungkinan dibuat dengan bahan gandum hitam. Asal muasal mengapa orang menikmati minuman ini tidak begitu jelas. Kata “vodka” secara harfiah bermakna “sedikit air”, merupakan turunan dari kata “woda” pada bahasa Polandia yang berarti “air”. Orang Polandia kemudian menambahkan imbuhan “ka” di akhir kata sebagai pemanis. Jadi istilah “sedikit” bermaknakan keakraban atau suasana hangat.

Istilah “vodka” sendiri pada awalnya dimaksudkan untuk berbagai minuman kesehatan yang ada pada waktu itu seperti tonik, obat dan ramuan kesehatan. Minuman kesehatan ini biasanya memang mengandung sedikit alkohol dan dikonsumsi dalam jumlah kecil atau sekedar diusapkan pada bagian tubuh tertentu sebagai balsem. Secara berangsur istilah “vodka” mulai menggantikan kata “gorzalka” yang berarti minuman nikmat. Di abad ke-18 kedua istilah ini digunakan secara bersamaan.

Di tahun 1564 pengenaan pajak pertama kegiatan penyulingan diberlakukan yang menandai awal produksi massal industri ini. Masa abad ke-17, berbagai perkebunan, rumah besar dan biara memiliki mesin penyulingan sendiri untuk dapat menghasilkan vodka.

Saat ini vodka dihasilkan dari berbagai bahan yang memiliki kandungan tepung atau karbohidrat tinggi. Kentang dan bit seringkali jadi bahan utama minuman ini, namun biji gandum tetap dianggap sebagai bahan yang menghasilkan minuman bercita rasa terbaik. Sekarang vodka Polandia yang semakin harum namanya dikirim ke berbagai negara di Eropa seperti Belanda, Denmark, Inggris, Jerman, Austria, Hongaria, Moldavia, daerah Laut Hitam dan bahkan Rusia.

Abad ke-18 menandai perkembangan pesat industri penyulingan. Rumah-rumah penyulingan yang mengkhususkan diri untuk mengembangkan minuman-minuman baru serta teknik penambahan rasa sesuai resep daerahnya semakin berkibar namanya. Saat ini, sejumlah industri penyulingan di Polandia masih setia melestarikan tradisi produksi minuman ini. Industri penyulingan minuman di kota Poznan, tempat Wyborowa dihasilkan adalah salah satu yang dimaksud. (Abe)

Bir dan Iblis

0

Alkohol memang identik dengan perbuatan yang terlarang dan berhubungan dengan godaan dari iblis dan setan. Seperti lagu yang dinyanyikan oleh Oma Irama. Ternyata dari nama-nama bir di seluruh dunia banyak sekali yang diambil dari nama-nama yang berhubungan dengan iblis setan.

Belgia, yang merupakan negara yang terbanyak mempunyai merek-merek bir di dunia. dikenal sebagai land of beers, tapi bukan sebagai negara pengomsumsi bir terbanyak – saat ini masih dipegang oleh Jerman.

Duvel

Kata ini banyak yang mengira berasal dari bahasa Perancis, Duvelle. Tapi ternyata salah, Duvel sebenarnya berasal dari bahasa Flemish – yang berarti devil (iblis) dan dibaca “Doovul”. Didirikan tahun 1872 di Breendonk, sebelah utara kota Brussels oleh pabrik bir Moortgat, konon pada tahun 1923. Nama Duvel ini terungkap secara spontan oleh para pekerja pabrik bir sewaktu pertama kali mencicipinya, “This is a devil of beer”.

Sekarang Duvel menjadi salah satu merek bir terkenal di Belgia dan daratan Eropa lainnya. Kandungan kadar alkoholnya 8,5% dengan rasa strong golden ale dengan busa yang kental. Untuk meminum harus dalam keadaan dingin tanpa es batu dan memakai gelas khusus flared tulip. Disarankan untuk tidak dituang habis karena sisa kekeruhan birnya sangat kental sekali.

Lucifer

Bir ini menjadi saingan bagi Duvel, sama-sama bernama dari aliran sesat. Produksi dari pabrik bir Riva di Flanders, Belgia. Rasa Ale sangat kuat sekali, kadar alkoholnya 8%.

Blackened Voodo

Dimulai pada 1907 oleh pabrik bir Dixie – dari kota New Orleans – Lousiana. Bir ini ikon kota New Orleans – dengan tema berbau Halloween, sesuai dengan namanya Blackened Voodoo. Kadar alkoholnya 5%, cocok sekali sebagai minuman pendamping makanan khas New Orleans, Cajun. Pada tahun 1992 sempat dilarang beredar di Texas karena dianggap sebagai minuman iblis.

Black Magic

Bir dari Inggris dengan rasa bitter stour berkadar alkohol 4,5%.

Satan

Juga produksi Belgia, dibuat pabrik bir Block di Peizegem. Rasanya – red, gold and brown ale – dengan kadar alkohol 8%.

Dead Guy Ale

Dari namanya saja sudah menyeramkan. Berkadar alkohol 5%, bir ini baru dipopulerkan pada tahun 1988, dan mulai semakin terkenal dan sempat memenangkan beberapa kali penghargaan di Great American Beer Festival. Pabriknya di Oregon.

Old Nick

Dari lambangnya sudah mencerminkan bahwa bir ini juga berasal dari golongan para iblis. Berasal dari pabrik Young’s di bagian selatan kota London, dipoduksi sejak tahun 1831. Beraroma rasa anggur dengan kadar alkohol 7.25%.

Indiana Bones

Berasal dari pabrik bir Summerskills di South Devon, Inggris. Terasa malty-brew dengan kadar alkohol 4,5%.

Masih ada lagi nama-nama bir yang cukup menyeramkan seperti: Beast, berkadar alkohol 6.6% dan Gun Powder, berkadar alkohol 3,8%, dari Inggris; Granat, dari Czech & Slovakia; Rasputin Russian, berkadar alkohol 7,8%, dari Amerika; dan Devil’s Elbow dari Virgina, AS.

Jadi memang ternyata bir merupakan minumam para iblis dan setan. Terserah dengan Anda, apakah tetap terus untuk berbir-ria. (Tedjo Iskandar)

Jakarta, 6 February 2003

Small Office or Virtual Office

0

Bagi perusahaan yang established mempunyai kantor yang representatif dengan fasilitas canggih dan lokasi strategis bukan hal yang luar biasa. Tapi bagaimana dengan perusahaan yang baru beroperasi, tapi ingin fasilitas modern, di lokasi strategis, dengan organisasi yang solid sekaligus?

Kendala seperti ini seharusnya tidak perlu terjadi lagi. Kini, ada beberapa perusahaan yang menawarkan jasa penyediaan kantor instan, mulai dari sekadar virtual office yang menyediakan jasa pelayanan kesekretariatan dasar, hingga kantor mungil berukuran 12 m2 yang cukup untuk satu orang hingga ruangan 40 m2 yang menampung lima orang. Ibaratnya, tinggal bawa laptop saja, sudah bisa berkantor dan melakukan pekerjaan bisnis.

Dulu mungkin hanya CEO (nick name sebuah penyedia jasa perkantoran) yang bergerak dalam jasa penyewaan small office atau virtual office – Rhenald Kasali dan Hermawan Kartajaya pernah berkantor virtual di Gedung BEJ, bahkan konsultan Darwis Silalahi masih ber-small office di bilangan Sudirman Jakarta. Tapi kini sedikitnya lima perusahaan sejenis di Jakarta. Mereka punya afiliasi di kota-kota besar lain di dunia, yang semuanya berlokasi di CBD.

Kehadiran mereka ibarat memberi solusi kepada perusahaan-perusahaan baru di Indonesia, yang ingin memulai usahanya dari kecil, atau perusahaan-perusahaan yang memang membutuhkan space kecil. Juga perusahaan-perusahaan asing yang ingin membuka kantor cabangnya di Indonesia, tepatnya Jakarta.

Yang ditawarkan penyedia penyewaan kantor sebetulnya tidak hanya ruang, seperti yang dilakukan building management sebuah gedung perkantoran, tapi lebih dari itu; jasa penyelenggaraan operasional perkantoran itu sendiri. Fungsi tersebut mirip dengan yang dilakukan business centre di hotel-hotel berbintang lima, tapi dengan harga yang jauh lebih murah dengan kemewahan yang sama.

Harganya? Untuk jasa pelayanan virtual office berkisar dari Rp 500.000 hingga Rp 1 juta per bulan. Sementara kalau ingin mempunyai ruang kantor, harganya berkisar mulai Rp Rp 7,5 juta hingga Rp 15,5 juta per bulan, yang tarifnya dalam mata uang rupiah yang tentunya tidak memberatkan para penyewa di Indonesia. Meski kecil, jangan dikira fasilitasnya pun mini.

Selain fasilitas dasar, seperti kantor full furnished, listrik, AC, saluran telepon, mesin fax, fotokopi, juga tersedia resepsionis, jasa office boy yang siap menyediakan refreshment, serta sistem keamanan 24 jam. Ada lobi untuk menerima tamu, juga ada ruangan meeting yang bisa dipakai untuk rapat internal atau rapat dengan klien. (Burhan Abe)

Pelayanan Premium untuk Komunitas Platinum

0

Klinik-klinik perawatan tubuh eksklusif bermunculan – mulai dari perampingan badan, perawatan kulit, rambut, gigi, hingga terapi ozon. Sasarannya kaum platinum, pria dan wanita, yang sadar akan kesehatan dan penampilan diri. Uang bukan masalah benar kalau tujuannnya untuk menunjang citra diri. (Burhan Abe)

Tampil cantik dan menawan adalah idaman setiap orang. Dulu program perampingan hanya untuk perempuan. Paling tidak, perempuan yang cantik sering diidentikkan sebagai perempuan yang sehat dan langsing. Klinik-klinik pun yang menawarkan program pengurangan lemak tubuh bermunculan. Impressions Body Care Centre atau Metta Natural Slimming, untuk menyebut contoh.

Kini, apalagi setelah lahir generasi metroseksual, yakni lelaki jantan yang gemar berdandan, klinik untuk “mempercantik” diri tidak hanya monopoli kaum Hawa, tapi kaum Adam pun ikut menyatroninya. Jangan heran kalau ada iklan yang khusus ditujukan khusus untuk kaum pria eksekutif, bunyinya antara lain; “Perut yang buncit bukan saja tidak sedap dipandang, tapi rawan berbagai penyakit.”

Tidak hanya masalah kegemukan ternyata. Klinik yang lain pun menawarkan perawatan total, misalnya detoksifikasi, yang selain merampingkan perut buncit, juga membantu menghilangkan kelebihan lemak. Perawatan kesehatan dengan program lymphatic drainage, ultrasound, dan lain-lain, yang sangat efektif untuk membantu mengatasi segala problem kesehatan lelaki. Perawatan muka yang menjadikan kulit muka bersih, halus, dan berseri. Program face lift membantu penghilangan kerut-kerut dan keriput, menghilangkan kantung mata, gelambir, dan lipatan kerut di dagu.

Facial treatment biasa saja tidak cukup, setiap tiga bulan sekali saya melakukan treatment dengan laser untuk menghilangkan bintik-bintik hitam di wajah,” ungkap seorang artis sinetron yang sering ditulis berbagai media sebagai pria metroseksual.

Sementara Nia G. Indra, pemilik butik Socialite, di kawasan Jakarta Selatan, mengaku melakukan suntik botox enam bulan sekali agar mukanya kelihatan segar. “Meskipun saya belum tua-tua banget, tapi, saya pikir preventif lebih baik,” ujar ibu tiga anak berusia 36 tahun itu.

Pemilik tinggi 169 cm dan berat 54 kg lulusan Fakultas Ekonomi, Universitas Trisaksi, Jakarta itu juga rajin datang ke klinik Dokter Cut di Pondok Indah dan melakukan suntik akupuntur untuk menjaga kelangsingan tubuhnya. “Saya sangat concern dengan tubuh saya. Saya paling sedih kalau dibilang ‘Nia kok jelek banget ya’,” tukasnya.

Nia dan juga nara sumber yang disebut pertama, yang sadar dengan kesehatan dan penampilan diri, adalah sasaran klinik-klinik eksklusif yang sekarang marak di Jakarta. Seperti diakui Paula Micky Tanod, Public Relation Director Puan Jakarta Boutique Clinic, “Perawatan diri sudah menjadi bagian dari keseharian para pelaku bisnis saat ini. Dan kami menangkap tren itu.”

Hanya saja, Micky tidak setuju kalau Puan sekadar pusat perawatan tubuh, tapi klinik medis dengan perspektif perempuan, yang mempunyai banyak dokter spesialis – semacam klinik bersama. Kenapa memilih perspektif perempuan?

“Kami peduli dengan perempuan, yang mempunyai peran ganda, ya sebagai ibu rumah tangga, juga sebagai wanita karier. Perempuan di atas usia 35 tahun seharusnya melakukan pemeriksaan secara rutin, seperti pap smear (diagnosis untuk deteksi dini kanker leher rahim), atau mamografi (diagnosis untuk deteksi dini kanker payudara). Keduanya pembunuh terbesar bagi kaum perempuan,” jelasnya.

One stop female clinic pertama di Indonesia, yang berdiri pada Desember 2002 ini mempunyai 38 dokter ahli dari 12 disiplin ilmu. Semuanya dokter perempuan. Mulai dari dokter ahli kulit, kebidanan dan kandungan, radiology, penyakit dalam, bedah plastik, gizi, kebugaran, akupuntur, pskiatri, psikolog, neurology, urologi, dan gigi. Untuk yang urolog adalah dokter prempuan pertama di Asia Tenggara.

Tidak hanya kesehatan memang, tapi segala sesuatu yang berkaitan dengan penampilan ragawi. Bahkan Micky mengaku permintaan terbesar pasien (75%) justru perawatan kulit. Mulai dari peremajaan kulit dengan chemical piling, suntik botox (yakni membuat otot-otot di bagian-bagian tertentu agar tidak membentuk garis, misalnya di daerah dahi, samping mata), bedah plastik (mulai dari konversi bentuk hidung, operasi kantong mata, dan sebagainya), kulit muka (di-implant dengan filler guna konversi garis dekat hidung dan pipi agar tidak dalam, bibir agar kelihatan lebih tebal), dan perawatan gigi (mulai dari bleaching, karang igi, pasang kawat gigi, hingga pasang berlian buat aksesoris gigi).

Ada juga sedot lemak yang ditangani oleh dokter bedah plastik, serta body sculpting program, yakni program diet untuk mendapatkan tubuh yang ideal. (Reportase: Dwi Wulandari dan Lily G. Nababan)

Platinum Society No. 07, 2004